cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 206 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 1 (2013): May" : 206 Documents clear
The Verb- Forming Affixation in Cempaga Dialect of Balinese: A Morphophonemic Analysis ., Ni Komang Yuli Arisma Dewi; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., Drs.Gede Batan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3320

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis imbuhan pembentuk kata kerja yang mengalami perubahan secara morfofonemik pada dialek Bahasa Bali Cempaga. Penelitian ini merupakan analisis bahasa deskriptif. Enam narasumber di pilih berdasarkan kriteria tertentu. Alat-alat yang digunakan yaitu: peneliti, 2 daftar kata yaitu: Swadesh dan Northofer, dan daftar kalimat. Data di kumpulkan melalui rekaman percakapan, daftar kata, dan daftar kalimat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Awalan {N-} memiliki 4 anggota morpheme yaitu: ŋ-|, |ñ-|, |n-| dan |m-|. Pembentukan kata kerja yang melibatkan prefix {ma-} menghasilkan perubahan secara morfofonemik ketika ditambahkan dengan kata yang berawalan dengan /u/, /i/, and /e/.Pembentukan kata kerja yang melibatkan suffix {-aŋ} menghasilkan perubahan secara morfofonemik. Phoneme /h/ dilesapkan, sementara kombinasi dari // dan /ʌ/ menghasilkan phoneme /ɔ/. Pembentukan kata kerja yang melibatkan suffix {-a} menghasilkan perubahan secara morfofonemik. Suffix {-a} membentuk kata kerja ketika ditambahkan dengan kata yang berakhiran /t/, /r/, /s/, kata yang berakhiran dengan /ʌ/ berubah menjadi /ɔ/. Pembentukan kata kerja oleh awalan dibentuk dengan penambahan kata kerja dan kata benda pada dialek Bahasa Bali Cempaga, sedangkan pembentukan kata kerja oleh akhiran dibentuk dengan penambahan kata kerja, kata benda, dan kata sifat. Makna dari awalan ketika ditambahkan dengan kata dasar tertentu yaitu: 1).mengerjakan sesuatu dengan menggunakan alat, 2).Menyatakan sebuah perbuatan yang berhubungan dengan kata dasar. Makna dari akhiran ketika ditambahkan dengan kata dasar tertentu yaitu: 1).menyatakan sebuah perbuatan yang dilakukan untuk orang lain, 2).Meminta untuk merubah posisi seseorang dan benda yang berhubungan dengan kata dasar. Kata Kunci : Afiksasi, Morfofonemik, Imbuhan, Kata kerja. This study aimed at finding out the verb- forming affixation that involves morphophonemic changes in Cempaga Dialect of Balinese. This study was designed in a descriptive qualitative research. There were six informants chosen based on a set of criteria. The instruments used were the researcher, two word lists namely: Swadesh and Northofer, and sentence lists. The data collected through the record of conversation, word lists, and sentence lists. Prefix {N-} has four allomorphs namely: |ŋ-|, |ñ-|, |n-| and |m-|. The verb- forming process that involves the prefix {ma-} results in a morphophonemic change when it is added to the bases which have the initial vowels /u/, /i/, and /e/. The verb- forming process that involves the suffix {-aŋ} results the morphophonemic changes. Phoneme /h/ was omitted, meanwhile the combination between // and /ʌ/ results /ɔ/. Suffix {-a} forms a verb when it is added to the bases ended by /t/, /r/, /s/, /ʌ/ in the base is changed into /ɔ/. The verb- forming process that involves the prefixes is formed by adding verbs and nouns. The verb- forming process that involves the suffixes is formed by adding verbs, nouns, and adjective. The semantic contents of the prefixes when they are added to the particular bases are: 1). doing something with some tools, 2). stating an action that is related to the bases. The semantic contents of suffixes when they are added to the particular bases are: 1). Stating an action that is done for others, 2). Asking to move the position of someone and things which is related to the bases. keyword : Affixation, Morphophonemic process, Affixes, verb.
THE EFFECT OF DIARY WRITING TECHNIQUE TOWARD THE STUDENTS’ WRITING COMPETENCY ., I Made Ekki Pramana Supardi; ., Prof. Dr.I Nyoman Adi Jaya Putra, MA; ., I G A Lokita P Utami, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3321

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah implementasi teknik diary writing mempunyai efek yang signifikan terhadap kompetensi menulis siswa. Penelitian ini berjenis experimental yang menggunakan Posttest Only Control Group Design. Dalam penelitian ini, populasinya adalah seluruh siswa kelas VIII di SMP LAB UNDIKSHA Singaraja, Buleleng-Bali pada tahun akademik 2013/2014. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas VIII-3 sebagai kelas eksperimen dan kelas VIII-4 sebagai kelas kontrol yang ditentukan melalui Random Sampling Technique. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah hasil dari posttest menulis yang dilaksanakan setelah perlakuanselesai dilakukan.Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif diperoleh hasil bahwa nilai rata-rata kelas eksperimen adalah 84,19 dan nilai rata-rata kelas kontrol adalah 76,11. Ini mengindikasikan bahwa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol dalam menulis karena memperoleh nilai rata-rata yang lebih tinggi. Sementara, hasil dari analisis statistik inferensial menunjukkan bahwa nilai to adalah 2,247, yang lebih tinggi daripada nilai tcv pada 2,00 (level signifikansi 5%). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa implementasi teknik diary writing mempunyai efek yang signifikan terhadap kompetensi menulis siswa. Kata Kunci : diary writing, kemampuan menulis siswa This study aimed to investigate whether the implementation of diary writing technique had significant effect toward the students’ writing competency. This study was an experimental research which used Posttest Only Control Group Design. In this study, the population was all the grade VIII students at SMP LAB UNDIKSHA Singaraja in the academic year 2013/2014. The samples of this study were class VIII-3 as the experimental group and class VIII-4 as the control group which were determined by using Random Sampling Technique. The data of this study were obtained from the result of writing posttest conducted after the treatments were finished. Based on the result of descriptive statistic analysis, it showed that the mean score of Experimental group was 84.19 and the mean score of control group was 76.11. This indicated that the experimental group performed better than the control group due to the higher mean score. Meanwhile, the result of inferential statistic analysis through independent sample t-test showed that the value of to was 2.247, which was higher than the value of tcv at 2.00 (significance level 5%). Thus, it can be concluded that the implementation of diary writing technique had the significant effect toward the students’ writing competency.keyword : diary writing, writing competency
COMMUNICATION STRATEGIES USED BY BILINGUAL CHILDREN OF INTERRACIAL MARRIAGE FAMILY (A CASE STUDY) ., Putu Setia Budi Erawan; ., Prof. Dr. Ni Nyoman Padmadewi,MA; ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3322

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi komunikasi yang digunakan oleh anak-anak dwi bahasa dari keluarga perkawinan campuran dalam melakukan interaksi dengan keluarga mereka di desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Subyek penelitian ini adalah dua anak dwi bahasa dari keluarga perkawinan campuran. Penyelidikan difokuskan pada jenis strategi komunikasi yang mereka gunakan dalam melakukan interaksi dengan keluarga mereka, strategi komunikasi yang paling sering mereka terapkan ketika mereka melakukan interaksi, dan alasan mereka dalam menggunakan strategi komunikasi. Penelitian ini merupakan studi kasus yang dikombinasikan dengan analisis kualitatif dan kuantitatif di mana teknik triangulasi digunakan . Hasil analisis data menunjukkan bahwa anak-anak dwi bahasa menggunakan tujuh strategi komunikasi yang meliputi: topic avoidance, approximation, circumlocution, clarification request, paralanguage, menggunakan gambar atau objek untuk membantu menyampaikan pesan, dan berbicara perlahan. Strategi komunikasi yang paling sering digunakan oleh anak-anak bilingual adalah paralanguage. Ada tiga alasan utama mereka menggunakan strategi komunikasi, yang pertama adalah untuk membuat keluarga mereka mengerti apa yang ingin mereka sampaikan, kedua karena strategi komunikasi mudah dan alami, dan alasan terakhir karena strategi cepat untuk digunakan .Kata Kunci : strategi komunikasi, anak-anak dari keluarga perkawinan campuran This study aimed at describing the communication strategies used by bilingual children of interracial marriage family in doing interaction with their family at Singapadu village, Sukawati distric, Gianyar regency, Bali province. The subjects of this study were two bilingual children of interracial marriage family. The investigation focused on the types of communication strategies that they used in doing interaction with their family, the most frequently communication strategy that they applied when they were doing the interaction, and their reasons in using the communication strategies. This research was a case study which combined qualitative and quantitative analysis in which a triangulation technique was used. The results of the data analysis show that the bilingual children used seven communication strategies which included: topic avoidance, approximation, circumlocution, clarification request, paralanguage, using pictures or objects to help conveying message, and speaking slowly. The most frequently used communication strategy used by the bilingual children was paralanguage. There were three main reasons that they stated in using the strategies, the first to make the family understand of what they expected, the second because the strategies were easy and natural, and the last reason because the strategies were quick to be used. keyword : communication strategies, children of interracial marriage family
An Analysis of Indonesian-English Code Mixing Used in Gaul Tabloid ., Ni Putu Risma Listyariani; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., Drs. Asril Marjohan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3324

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis jenis-jenis code mixing yang digunakan pada tabloid Gaul berdasarkan teori Ho (2007) dan Kannaovakun (2003), faktor-faktor penyebab penggunaan code mixing di artikel dan apakah penggunaan code mixing tersebut dapat dimengerti oleh pembaca atau tidak. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumen. Penelitian ini menganalisis tiga rubrik, yaitu, “Sampul Gaul”, “Gaul Ilmiah”, dan “Ada Apa” pada tiga edisi tabloid Gaul. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tujuh jenis code mixing yang digunakan dalam tabloid Gaul berdasarkan teori Ho. Sementara itu, hanya ditemukan empat jenis code mixing yang digunakan dalam tabloid berdasarkan teori Kannaovakun. Faktor penyebab penggunaan code mixing pada tabloid Gaul antara lain psycholinguistic motivation yaitu relative ease of accessibility, dan sociopragmatic motivation yang mencakup specificity, bilingual punning, dan the principle of economy. Setelah dianalisis, dapat disimpulkan bahwa penggunaan code mixing pada tabloid tidak menimbulkan hambatan kepada para pembaca dalam memahami informasi yang terdapat di dalam teks. Selain itu, penggunaan code mixing dapat menambah perbendaharaan kata bahasa Inggris pembaca.Kata Kunci : Indonesian-English code mixing, Gaul tabloid. This study was a descriptive qualitative research. The aims of this study were analyzing the types of English code mixing used in Gaul tabloid based on Ho’s (2007) and Kannaovakun’s (2003) classifications framework, the factors that cause the use of code mixing in the articles, and whether or not code mixing can be understood by the readers. The data were collected through documents. This study analyzed three rubrics such as “Sampul Gaul”, “Gaul Ilmiah”, and “Ada Apa” in the three editions of Gaul tabloid. The data obtained were analyzed descriptively. The result of this study showed that there were seven types of code mixing which were used in the tabloid based on Ho’s classifications framework. Meanwhile, based on Kannaovakun’s classifications framework, there were only four types occurring from six types stated by Kannaovakun. The factors that caused the use of code mixing in Gaul tabloid were psycholinguistic motivation which covered relative ease of accessibility, and sociopragmatic motivation which covered specificity, bilingual punning, and the principle of economy. After being analyzed it can be concluded that the use of code mixing in the tabloid does not cause any obstacles to the readers in understanding the information contained in the text and it can enrich vocabulary bank of the readers.keyword : Indonesian-English code mixing, Gaul tabloid.
MANIFESTATION OF SCIENTIFIC APPROACH IN LESSON PLAN BASED ON CURRICULUM 2013 IN SMPN 1 SINGARAJA ., Ni Putu Novita Sari; ., Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih, MA; ., Putu Eka Dambayana S., S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3325

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa manifestasi pendekatan saintifik dan menemukan masalah yang dihadapi dalam memanifestasikan pendekatan saintifik di Rencana Pelaksanaan Pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 yang dirancang oleh guru Bahasa Inggris kelas 7 di SMPN 1 Singaraja. Subjek dari penelitian ini adalah 2 orang guru Bahasa Inggris kelas 7 di SMPN 1 Singaraja. Penelitian ini dilaksanakan pada 3 Januari 2014 sampai dengan 2 Mei 2014. Desain penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut; (1) manifestasi pendekatan saintiik pada 8 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sudah menggunakan langkah meneliti, menanya, mencoba/mengeksplorasi, mengasosiasi/menganalisis, dan mengkomunikasikan, (2) Ada beberapa penyimpangan pada langkah meneliti, mencoba/mengeksplorasi, dan mengasosiasi/menganalisis, (3) kedua guru Bahasa Inggris kelas 7 di SMPN 1 Singaraja menghadapi masalah dalam memilih aktivitas yang tepat untuk setiap langkah pada pendekatan saintifik, memanifestasikan langkah menanya, dan membedakan langkah mencoba/mengeksplorasi dan mengasosiasi/menganalisis.Kata Kunci : Pendekatan saintifik, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Kurikulum 2013 This study aimed to analyze the manifestation of scientific approach and find out the problem faced in manifesting the scientific approach in lesson plan based on curriculum 2013 designed by English teachers of the seventh grade students in SMPN 1 Singaraja. The subjects of this study were two English teachers of seventh grade students in SMPN 1 Singaraja. This study was conducted on January 3rd, 2014 – May 2nd, 2014. The design of this study was descriptive qualitative research. There were four lesson plans from each teacher being analyzed in the study. The result of this study was concluded as follows; (1) the manifestation of scientific approach in eight lesson plans had used the steps of observing, questioning, experimenting/exploring, associating/analyzing, and communicating, (2) there were deviations in the step of observing, experimenting/exploring, and associating/analyzing, (3) English teachers of the seventh grade students in SMPN 1 Singaraja faced problem in choosing the appropriate activity for each step in scientific approach, manifesting questioning step, and differentiating the step of experimenting/exploring and associating/analyzing.keyword : Scientific Approach, Lesson Plan, Curriculum 2013
AN ANALYSIS OF CONVERSATIONAL MAXIMS IMPLEMENTATION ON FACEBOOK AMONG THE GROUP MEMBERS OF BULELENG JENGAH ., Ridho Ananda Kusumonegoro; ., Drs. Asril Marjohan,MA; ., Luh Diah Surya Adnyani, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3326

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti maksim percakapan yang digunakan pada Facebook oleh anggota grup Buleleng Jengah. Masalah pertama adalah untuk mengungkapkan jenis maksim yang diungkapkan oleh anggota kelompok selama percakapan mereka di Facebook atas dasar maksim percakapan yang dikemukakan oleh Grice dan masalah kedua adalah konteks yang mungkin memengaruhi percakapan anggota kelompok Buleleng Jengah selama percakapan mereka di Facebook. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan penelitian kualitatif. Data diambil dari Facebook.com. Data yang diambil dalam bentuk percakapan. Data diidentifikasi dan dianalisis untuk mengetahui maksim-maksim yang digunakan dalam percakapan. Analisis dilanjutkan dengan mengidentifikasi dan menganalisis konteks yang mungkin memengaruhi percakapan di Facebook. Ditemukan bahwa jenis maksim yang digunakan oleh anggota kelompok Buleleng Jengah selama percakapan mereka di Facebook adalah maksim kuantitas, kualitas, relevansi, dan cara. Ada juga kondisi di mana anggota kelompok melanggar maksim selama percakapan mereka di Facebook. Konteks yang memengaruhi percakapan mereka di Facebook antara lain untuk membuat hubungan yang lebih dekat, menunjukkan rasa terima kasih, dan mengkritik orang lain. Kata Kunci : Conversational Maxims, Konteks, Facebook This study was aimed ay investigating the Conversational Maxims expressed on Facebook by the group member of Buleleng Jengah. The first problem was to reveal the kinds of maxims expressed by the group member during their conversation on Facebook on the basis of Grice’s Conversational Maxims and the second problem was the context that might affect the conversation by the group member of Buleleng Jengah. The research was designed by using qualitative research. The data were taken from Facebook.com. The data were taken in form of conversations. The data were identified and analyzed to know the maxims expressed in the conversation. The analysis was continued by identifying and analyzing the context that might affect the conversation on Facebook. It was found that the kinds of maxims that was used by the group member of Buleleng Jengah during their conversation on Facebook were Maxim of Quantity, Quality, Relation, and Manner. There were also conditions in which the maxim is flouted and infringed. The context affected their conversation on Facebook in order to make a closer relationship, showing gratitude, and criticize others. keyword : Conversational Maxims, Context, Facebook
IMPROVING WRITING COMPETENCY OF THE TENTH GRADE STUDENTS IN SLB/B NEGERI SINGARAJA BY QUANTUM LEARNING INTEGRATED WITH MIND MAPPING TECHNIQUE ., Made Yunita Parmawati; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., Dewa Ayu Eka Agustini, S.Pd., M.S.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3328

Abstract

Tujuan dari penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mendeskripsikan aplikasi dari metode Quantum Learning yang diintegrasikan dengan Mind Mapping teknik dalam meningkatkan kompetensi menulis siswa kelas X Sekolah Luar Biasa Bagian B Negeri Singaraja (SLB/B Negeri Singaraja). Tindakan dilakukan dalam 2 tahapan siklus dimana setiap siklus terdiri dari 3 pertemuan, dua pertemuan untuk proses pengajaran dan satu pertemuan untuk pelaksanaan post-test dan kuisioner. Peneliti, tes, dan kuisioner adalah instrumen pengumpulan data pada penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode Quantum Learning yang diintegrasikan dengan Mind Mapping teknik dapat meningkatkan kompetensi menulis siswa secara signifikan. Hal ini terbukti dari adanya peningkatan jumlah siswa yang lulus dari indikator ketercapaian dimana semula tidak ada siswa yang lulus (0%) pada pre-observasi, lalu pada siklus 1 terdapat 3 siswa (60%) yang lulus dan pada siklus 2 seluruh siswa ( 5 siswa/ 100%) lulus dari indikator ketercapaian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode yang diterapkan merupakan solusi yang bagus untuk menangani masalah menulis siswa tunarungu di SLB/B Negeri Singaraja utamanya dalam menulis kalimat Simple Present Tense. Kata Kunci : Quantum Learning, Mind Mapping, Kompetensi Menulis, SLB/B Negeri Singaraja The purpose of this classroom action-based research was to describe the applicability of quantum learning integrated with mind mapping technique in improving the writing competency of the tenth grade students of Sekolah Luar Biasa Bagian B Singaraja (SLB/B Negeri Singaraja). The action was done in 2 cycles in which each cycle consisted of 3 sessions, two sessions for teaching process and one session for administering post test and questionnaire. The researcher, tests and teaching questionnaire were the instrument used to gather the data for this study. The findings indicated that quantum learning implementation in students’ writing activity could significantly improve the students’ writing skill. It was proven that the percentage of students who passed the success indicator from 0% in the preliminary observation was increased from 60% in Cycle 1 to 100% in cycle 2. Therefore, it could be concluded that quantum learning implementation integrated with mind mapping technique was a good method to solve the deaf students’ problems in writing Simple Present Tense sentences.keyword : Quantum Learning, Mind Mapping, Writing Competency, SLB/B Negeri Singaraja
The Teachers and Students’ Perception about Demotivating Factors on the Students’ Speaking Skill of 2nd grade of Senior High School in SMA Negeri 1 Seririt ., Ida Ayu Kade Putri Pradnyani; ., Dra.Ni Made Ratminingsih, MA; ., Dra. Luh Putu Artini, MA., Ph.D.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3329

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor penyebab menurunnya motivasi pada keterampilan berbicara siswa kelas 2 di SMA Negeri 1 Seririt berdasarkan persepsi siswa dan guru. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Metode penelitian ini adalah survei. Untuk mengumpulkan data, instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Kuesioner tersebut disebar kepada siswa maupun guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengidentifikasi tiga dari sembilan faktor yang direkomendasikan oleh Dornyei (2001) yang dikutip dari Jomairi (2011). Selain itu, siswa mengidentifikasi sembilan faktor tambahan berdasarkan persepsi mereka sendiri. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa guru mengidentifikasi dua dari sembilan faktor yang direkomendasikan oleh Dornyei (2001) yang dikutip dari Jomairi (2011). Lebih lanjut, guru mengidentifikasi empat faktor tambahan berdasarkan pengalaman mengajar mereka di kelas. Kata Kunci : persepsi, faktor penyebab menurunnya motivasi, keterampilan berbicara. The purpose of the study was finding out the demotivating factors on the 2nd grade students’ speaking skill based on the students and teachers’ perception in SMA Negeri 1 Seririt. The study was a descriptive research. The method of the study was survey. In order to collect the data required, questionnaire was used as a means of collecting data both from the students and teachers. Therefore, the questionnaire was differentiated into student’ questionnaire and teacher’ questionnaire. As a result, the study showed that the students identified three out of nine factors suggested by Dornyei (2001) cited in Jomairi (2011) as demotivating factors on their speaking skill. In addition, the students conveyed nine additional demotivating factors based on their own perception. Besides that, the study showed that the teachers identified two out of nine factors suggested by Dornyei (2001) cited in Jomairi (2011) as demotivating factors on the students’ speaking skill. Furthermore, the teachers conveyed four additional demotivating factors based on their experiences in the classroom. keyword : perception, demotivating factors, speaking skill.
A COMPARATIVE STUDY ON MORPHOLOGICAL PROCESS OF TAMBAKAN AND PELAGA DIALECTS ., I Putu Edi Sutrisna; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Drs. Asril Marjohan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3331

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk membandingkan proses morfologi dari dialek Desa Tambakan dan Desa Pelaga. Fokus dari penelitian ini pada proses penambahan awalan dan akhiran kepada kata dasar yang terjadi pada dialek Desa Tambakan dan Pelaga. Data didapatkan melalui interaksi langsung dengan informan dari kedua desa. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara secara langsung, perekaman percakapan, dan observasi. Instrumen yang digunakan adalah alat perekam, daftar kata Swadesh, dan daftar kata Budasi. Hasil dari peneltian ini menunjukan bahwa awalan yang terdapat di dialek Tambakan adalah {si-}, {pa-}, {ma-}, {N-}, {ka-}, dan {ba-}; akhiran yang terdapat di dialek Tambakan adalah {-ne}, {-ang}, {-an}, {-a}, {-in}, dan, {-n}; awalan yang terdapat di dialek Pelaga adalah {si-}, {pa-}, {ma-}, {N-}, dan {ka-}; dan akhiran yang terdapat di dialek Pelaga adalah {-ne}, {-ang}, {-an}, {-a}, {-in}, dan {-n}. Awalan {ba-} hanya ditemukan di dialek Tambakan saja. Imbuhan dari kedua dialek yang mengalami proses derivasi adalah {si-}, {ma-}, {N-}, {ka-}, {pa-}, {-in}, {-ang}, dan {-an}. Perbedaan proses derivasi kedua dialek tersebut terdapat pada awalan {ba-} yang hanya ditemukan di dialek Tambakan. Awalan dari kedua dialek yang mengalami proses infleksi adalah {ma-}, {N-}, {pa-}, {-in}, {-ne}, {-ang}, {-a}, {-n} and {-an}. Perbedaan dari dua dialek tersebut terdapat pada awalan {ka-} dan {ba-} yang hanya ditemukan mengalami proses infleksi di dialek Tambakan saja. Walaupun Desa Tambakan dan Pelaga tergolong dialek Bali Dataran, dapat disimpulkan bahwa kedua dialek tersebut memiliki perbedaan dalam proses morfologi yang mencangkup proses penambahan imbuhan pada kata dasarnya.Kata Kunci : dialek Bahasa Bali, imbuhan, penelitian deskriptif komparatif, proses morfologi This study was a descriptive qualitative study, which aimed at comparing the morphological process of Tambakan and Pelaga Dialects qualitatively. The focus on this study was the process of adding prefix and suffix to the word base of those dialects. Data were collected through direct encounter with the informants of two dialects. It was done through interviews, recording, and observation. The instruments used in obtaining data were recorder, Swadesh wordlist, and Budasi wordlist. The result of the study shows that the prefixes of Tambakan Dialect were {si-}, {pa-}, {ma-}, {N-}, {ka-}, and {ba-}; the suffixes of Tambakan Dialect were {-ne}, {-ang}, {-an}, {-a}, {-in}, and, {-n}; the prefixes of Pelaga Dialect were {si-}, {pa-}, {ma-}, {N-}, and {ka-}; and the suffixes of Pelaga Dialect were {-ne}, {-ang}, {-an}, {-a}, {-in}, and {-n}. Prefix {ba-} was only found on Tambakan Dialect only and it was not found on Pelaga Dialect. The same prefixes and suffixes of two dialects undergoing derivational process were {si-}, {ma-}, {N-}, {ka-}, {pa-}, {-in}, {-ang}, and {-an}. The difference was on Prefix {ba-}, which was found on Tambakan Dialect only. The same prefixes and suffixes of the two dialects undergoing inflectional process were {ma-}, {N-}, {pa-}, {-in}, {-ne}, {-ang}, {-a}, {-n} and {-an}. The difference was on Prefix {ka-} and {ba-}, which underwent inflectional process on Tambakan Dialect only. Although Tambakan and Pelaga Dialects belong to Bali Dataran Dialect, it can be concluded that they had differences in their morphological process, especially in adding prefixes and suffixes.keyword : affixation, Balinese Dialect, descriptive comparative study, morphological process
Instructional and assessment Strategies Used by the English Teachers in English Language Teaching at Aura Sukma Insani Kindergarten School in Academic Year 2013/2014 ., Desak Putu Ayu Arsarianti; ., Prof. Dr. Anak Agung Istri Ngr. Marha; ., Ni LP. Eka Sulistia Dewi, S.Pd. M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3332

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui jenis strategi pembelajaran dan strategi evaluasi yang digunakan oleh guru Bahasa Inggris dalam pengajaran Bahasa Inggris di TK Aura Sukma Insani pada tahun ajaran 2013/2014. Dalam penelitian ini, penulis mengobservasi proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru Bahasa Inggris di empat kelas yang berbeda, yaitu A1, A2, B1, dan B2. Data dikumpulkan menggunakan check list observasi dan wawancara yang dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga belas jenis strategi pembelajaran yang diaplikasikan oleh guru Bahasa Inggris anatara lain, TPR, TPR songs and finger-plays, syllable clapping, minimal pairs, drill, dialogue, sticking picture, look and say, connecting vocabulary to young learners’ lives through personalization, what’s missing?, bingo, guessing game, dan song. Sedangkan untuk strategi evaluasi, ada satu jenis yang muncul. Strategi itu adalah nonverbal responses.Kata Kunci : pengajaran Bahasa Inggris, strategi evaluasi, strategi pembelajaran. This study is descriptive qualitative study which aims at finding out kinds of instructional and assessment strategies used by the English teachers in English language teaching at Aura Sukma Insani Kindergarten School in the academic year 2013/2014. In this study, the researcher observed teaching learning process done by the English teachers in four different classes, such as A1, A2, B1, and B2. The data were obtained using observation check list and interview guide and were analyzed descriptively. The result of this study showed that there were thirteen instructional strategies conducted by the teachers, such as TPR, TPR songs and finger-plays, syllable clapping, minimal pairs, drill, dialogue, sticking picture, look and say, connecting vocabulary to young learners’ lives through personalization, what’s missing?, bingo, guessing game, and song. Meanwhile for assessment strategy, there was one strategy which was observable. That strategy was nonverbal responses.keyword : assessment strategy, English language teaching, instructional strategy.

Page 3 of 21 | Total Record : 206