cover
Contact Name
febrialismanto
Contact Email
febrialisman@gmail.com
Phone
+6281365060583
Journal Mail Official
educhild.journal@gmail.com
Editorial Address
Prodi PD PAUD FKIP UNRI Kampus Bina Widya Simpang Baru - Pekanbaru - Riau
Location
Kota pekanbaru,
Riau
INDONESIA
Jurnal Educhild : Pendidikan dan Sosial
Published by Universitas Riau
ISSN : 20897510     EISSN : 27219909     DOI : http://dx.doi.org/10.33578/jpsbe.v1i1
Core Subject : Education, Social,
The Educhild Journal accepts articles about the following studies: 1. Social science education 2. Mathematics education in 3. Language education 4. Science education 5. Arts and culture education 6. Citizenship education 7. Religious education 8. Sports education 9. Learning and teaching 10. Psychology Education 11. Learning media 12. Management of education 13. Learning media and educational technology 14. Music education 15. Dance and drama education 16. Environment education 17. Early Childhood Education
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2023)" : 11 Documents clear
PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (PBL) UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN ABAD 21 linda feni haryati; Muhammad Nur Wangid
Jurnal Educhild : Pendidikan dan Sosial Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jpsbe.v12i1.7838

Abstract

The Problem-Based Learning Approach (PBL) is a learning model that focuses on solving problems through problem solving and critical thinking. This model enables students to use 21st century skills such as collaboration, communication, creativity, and technological capabilities necessary to deal with the problems of the modern world. PBL is a flexible method that can be adapted to certain classes and even certain study programs. With this model, students can be directed to solve problems in different ways, including by combining information and using technology. This article also reviews the competencies and characteristics of 21st century teachers as well as a problem-based learning approach (PBL) to improve 21st century skills. The data source is in the form of results: research results that have been published in journals, conference proceedings, relevant theories, and other relevant sources. According to a review of the literature, the problem-based learning (PBL) approach has several important benefits for students, particularly in preparing them to face challenges as they mature. Students can develop the ability to think critically, cooperate with others, think creatively, and make the right decisions. In addition, the problem-based learning approach (PBL) can also help students develop 21st century skills such as the ability to communicate, think critically, solve problems, adapt well, and learn continuouslyPendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) adalah model pembelajaran yang memusatkan pada memecahkan masalah melalui pemecahan masalah dan berfikir kritis. Model ini memungkinkan siswa untuk menggunakan keterampilan abad 21 seperti kolaborasi, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan teknologi yang diperlukan untuk menghadapi masalah dunia modern. PBL merupakan metode yang fleksibel yang dapat disesuaikan dengan kelas tertentu dan bahkan program studi tertentu. Dengan model ini, siswa dapat diarahkan untuk memecahkan masalah dengan cara yang berbeda, termasuk mengkombinasikan informasi dan menggunakan teknologi Artikel ini juga mengulas tentang Kompetensi dan Karakteristik Guru Abad 21 Serta Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (PBL) untuk meningkatkan keterampilan abad 21. Sumber data berupa hasil-hasil penelitianyang telah dipublikasikan dalam jurnal, conferen prosiding, teori-teori yang relevan, dan sumber lain yang relevan.Berdasarkan kajian berbagai literatur tersebut Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) memiliki beberapa manfaat penting bagi siswa, khususnya untuk mempersiapkan mereka menghadapi tantangan di kehidupan dewasa. Siswa dapat mengembangkan kemampuan untuk berpikir kritis, bekerja sama dengan orang lain, berpikir kreatif, dan membuat keputusan yang tepat. Selain itu, Pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) juga dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan abad 21 seperti kemampuan berkomunikasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, beradaptasi dengan baik, dan belajar secara berkelanjutan.
ANALISIS PENERAPAN PEMBELAJARAN OUTDOOR LEARNING MENURUT TEORI FROEBEL PADA ANAK USIA DINI Nurhusna Kamil; Hibana Hibana
Jurnal Educhild : Pendidikan dan Sosial Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jpsbe.v12i1.7833

Abstract

Playing while learning is commonly known as outdoor learning. This learning was previously initiated by Froebel as the father of kindergarten. In its application to PAUD institutions, there are many benefits to children's development if this type of learning is applied, such as increasing cognitive, social-emotional, language, artistic, religious and moral values and physical motor development. There have been many previous studies discussing this learning. This study will analyze related to previous research that has discussed outdoor learning in the learning process. For research methods using library research by collecting data from books, journals from previous research results which are then processed in several stages so as to get conclusions according to research needs. Data analysis techniques in research began with identifying problems, collecting library data, filtering library sources and tabulating data and analysis. The purpose of the research was conducted to analyze the extent to which the linkages to outdoor learning can improve every aspect of child developmentBermain sambil belajar biasa dikenal dengan istilah pembelajaran outdoor learning. Pembelajaran ini telah dicetuskan sebelumnya oleh Froebel sebagai bapak kindergarten. Dalam penerapannya pada lembaga PAUD, banyak manfaat yang diperoleh terhadap perkembangan anak jika jenis pembelajaran ini diterpakan seperti meningkatkan perkembangan kognitif, sosial emosional, bahasa, seni, nilai gama dan moral serta peningkatan dalam fisik motorik. Telah banyak penelitian sebelumnya membahas tentang pembelajaran ini. Penelitian ini akan menganalisis terkait penelitian sebelumnya yang telah membahas pembelajaran outdoor learning pada proses pembelajaran. Untuk metode penelitian menggunakan library research dengan menghimpun data dari buku, jurnal hasil penelitian sebelumnya yang kemudian diolah dalam beberapa tahapan sehingga mendapatkan kesimpulan sesuai dengan kebutuhan penelitian. Teknik analisis data pada penelitian dimulai dengan identifikasi masalah, pengumpulan data pustaka, penyaringan sumber pustaka serta tabulasi data dan analisis. Tujuan penelitian dilakukan untuk menganalisis sejauh mana keterkaitan pembelajaran outdoor learning dapat meningkatkan setiap aspek perkembangan anak
INTERAKSI SOSIAL SAAT PEMBELAJARAN ONLINE PADA MAHASISWA/I TADRIS IPS 3 UIN SUMATERA UTARA Rian Rifki Eliandy; Amini Amini; Muhammad Heriadi; En Riskinta Tumanggor; Etti Aini Hasibuan
Jurnal Educhild : Pendidikan dan Sosial Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jpsbe.v12i1.7837

Abstract

This article was created with the title Social Interaction During Online Learning in Tadris IPS 3 Students at UIN North Sumatra. This article was created with the aim that all of us and all related parties can find out how the feelings and conditions are felt by the students of Tadris IPS 3 Stambuk 2019 Uin North Sumatra, which with this article can be material for consideration and thoughts for related parties. in taking policy. This happens because online learning is not just a day or two, but has been happening for about 2 years. Because such a long time has disrupted the teaching and learning process or lectures at Tadris IPS 3 Stambuk 2019. It is appropriate to say this because during this online lecture process, there are many materials that are difficult to understand, changing lecture hours, ongoing assignments and so on. This article was created using qualitative research methods. Various responses have been given in response to online learning or lectures so far. However, social interaction is important and a necessity in our lives. Artikel ini dibuat dengan judul Interaksi Sosial Saat Pemebelajaran Online Pada Mahasiswa/I Tadris IPS 3 UIN Sumatera Utara. Artikel ini dibuat dengan tujuan agar kita semua dan seluruh pihak terkait bisa mengetahui bagaimana perasaan dan keadaan yang dirasakan oleh para Mahasiswa/I Tadris IPS 3 Stambuk 2019 Uin Sumatera Utara, yang mana dengan adanya artikel ini bisa menjadi bahan pertimbangan dan pemikiran bagi para pihak terkait dalam mengambil kebijakan. Hal ini terjadi kerena pembelajaran online ini bukan sehari-dua hari saja, teteapi sudah terjadi kurang lebih selam 2 tahun. Karena waktu yang begitu lama tersebutlah menjadikan proses belajar mengajar atau perkuliahan di Tadris IPS 3 Stambuk 2019 menjadi terganggung. Hal pantas dikatakan demikian karena selama proses perkuliahan secara online ini, banyak mataeri-materi yang sulit untuk dipahami, jam kuliah yang berganti, tugas yang terus ada dan lain sebagainya. Artikel ini dibuat dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Beragam respon yang diberikan dalam menanggapi pemebelajaran atau pekuliah online selama ini. Bagaimanapun juga, interaksi sosial meruapakan yang penting dan menjadi kebutuhan dalam hidup kita. 
Aplikasi Teori Belajar Konstruktivisme Untuk Menciptakan Siswa Sekolah Dasar Yang Aktif lalu muhammad alditia; Iva Nurwanti
Jurnal Educhild : Pendidikan dan Sosial Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jpsbe.v12i1.7840

Abstract

The purpose of this study is to reveal how to apply and implement constructivism learning theory in the learning process in elementary schools to increase student learning activity. The researcher uses the library study method, where the data source is in the form of research results that have been published in journals, conference proceedings, relevant theories, ministerial regulations, and other relevant sources. Constructivism is a theory that focuses on learning and teaching through a process of understanding gained from experience. This theory focuses on an active learning approach rather than a passive learning approach. The goal is to help students develop concepts and build competencies through a participatory learning process. The use of this theory in learning allows teachers to be able to create a conducive learning environment for students. This can be done by giving assignments that allow students to explore on their own, discuss, and share information and ideas. Teachers must also provide guidance to students while they are learning, understand individual needs and create a pleasant atmosphere. Thus, constructivism theory can be an effective way to create active learning in elementary schools.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan bagaimana pengaplikasian dan pengimplementasian teori belajar konstruktivisme dalam proses pembelajarn di sekolah dasar untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa. Peneliti menggunakan metode studi kepustakaan, dimana sumber data berupa hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal, conference prosiding, teori-teori yang relevan, peraturan kementrian, dan sumber lain yang relevan. Konstruktivisme adalah suatu teori yang berfokus pada pembelajaran dan pengajaran melalui proses pemahaman yang diperoleh dari pengalaman. Teori ini menitikberatkan pada pendekatan pembelajaran aktif daripada pendekatan pembelajaran pasif. Tujuannya adalah untuk membantu siswa mengembangkan konsep dan membangun kompetensi melalui proses pembelajaran partisipatif. Penggunaan teori ini dalam pembelajaran memungkinkan  guru untuk dapat membuat lingkungan belajar yang kondusif bagi siswa”.Hali ini dapat dilakukan dengan pemberian tugas yang memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi sendiri, berdiskusi, dan berbagi informasi dan ide. Guru juga harus memberi bimbingan kepada siswa saat mereka sedang belajar, memahami kebutuhan individu dan menciptakan suasana yang menyenangkan. Dengan demikian, teori konstruktivisme dapat menjadi cara efektif untuk menciptakan pembelajaran di sekolah dasar yang aktif.
ANALISIS CAPAIAN HIGHER ORDER THINKING SKILLS (HOTS) ANAK USIA DINI MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS PROJEK Trivena Dyah Wijayanti
Jurnal Educhild : Pendidikan dan Sosial Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jpsbe.v12i1.7844

Abstract

This study aims to analyze the achievement of Higher Order Order Thinking Skills (HOTS) in early childhood through project-based learning. This research is a qualitative descriptive study. Collecting data using interviews, observation, and documentation. The subjects of this study were class teachers and students at Alam Efata Bersinar Kindergarten, Salatiga City. Data analysis techniques used interactive analysis of the Miles and Huberman models with data reduction steps, data presentation, and drawing conclusions. The results showed that the percentage of children's HOTS achievements while participating in project-based learning was 63.7%. The achievement of skills includes the skills of choosing, organizing, combining, proving, choosing, differentiating, analyzing, creating, combining, finding, collecting, concluding, and categorizing. Furthermore, the application of the guidelines for implementing project learning in early childhood education, as well as teachers' readiness and maturity in preparing project-based learning, supported the HOTS achievements of early childhood in this studyPPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis capaian Higher Order Thinking Skills (HOTS) anak usia dini melalui pembelajaran berbasis projek. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi. Subjek penelitian ini diantara yaitu guru kelas serta peserta didik di TK Alam Efata Bersinar, Kota Salatiga. Teknik analisis data menggunakan analisis interaktif model Miles dan Huberman dengan langkah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan persentase capaian HOTS anak selama mengikuti pembelajaran berbasis proyek sebesar 63,7%. Capaian keterampilan meliputi keterampilan memilih, mengatur, memadukan, membuktikan, memilih, membedakan, menganalisis, mengkreasikan, menggabungkan, menemukan, mengumpulkan, menyimpulkan dan mengkategorikan. Selain itu capaian HOTS anak usia dini dalam penelitian ini juga juga didukung dengan penerapan metode projek yang sesuai pedoman panduan penyelenggaraan pembelajaran projek di PAUD serta kesiapan dan kematangan guru dalam mempersiapkan pembelajaran berbasis projek
ANALISIS KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PADA TAMAN PENITIPAN ANAK Eunike Milasari Listyaningrum
Jurnal Educhild : Pendidikan dan Sosial Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jpsbe.v12i1.7847

Abstract

The reseacrh was to analyze teacher professional competence of daycare. The study is a qualitative descriptive study using data-collecting techniques using interviews, observation, and documentation. The subject of this study is teacher at the daycare Taman Belia Candi Semarang. The data analysis techinique in this study uses the interactive model analysis developed by Miles and Huberman. The steps in Miles and Huberman analysis model include data reduction, data presentation, and deduction. The result of this study suggest that the teacher’s professional competence with daycare was looking well. Teacher understand and master the materials presented to learners, teacher use media and visual tools, and teacher also actualize themselves into growing personages by developing professional competence through competency support activities conducted by various parties.Keyword: Professional competence, Teacher, DaycarePenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetensi profesional guru pada taman penitipan anak. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian ini adalah guru pengasuh pada TPA Taman Belia Candi Semarang. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif yang dikembangkan oleh Miles and Huberman. Langkah-langkah dalam model analisis Miles and Huberman antara lain reduksi data, penyajian data, da penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru pada taman penitipan anak terlihat dengan baik. Guru memahami dan menguasai materi yang disampaikan kepada peserta didik, guru menggunakan media dan alat peraga serta guru juga mengaktualisasikan diri menjadi pribadi yang terus berkembang dengan mengembangkan kompetensi keprofesionalan melalui kegiatan penunjang kompetensi yang diadakan oleh berbagai pihak. Kata Kunci: Kompetensi profesional, Guru, Taman Penitipan Anak
ANALISIS METODE SCAFFOLDING PADA PEMBELAJARAN DI PAUD Nurhusni Kamil; Hibana Hibana
Jurnal Educhild : Pendidikan dan Sosial Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jpsbe.v12i1.7842

Abstract

Scaffolding is a method given by adults either from parents or teachers to children who can help children solve problems that are being faced during learning. Providing assistance will stop to the child if the child has been able to complete the task being completed. This means that in this case parents and teachers will still give children freedom and responsibility for the tasks given. In PAUD units the application of the scaffolding method needs to be carried out so that when children experience difficulties they do not give up and continue to do the assignments given through the help of the teacher. The research method used is in a qualitative form by using a library research. The purpose of this research is to find out the scaffolding method in learning in PAUD. The new finding in this study is information for all parents and teachers as practitioners in PAUDScaffolding merupakan suatu metode yang diberikan oleh orang dewasa baik dariorang tua ataupun guru kepada anak yang dapat membantu anak menyelesaikan permasalahan yang sedang di hadapi selama pembelajaran. Pemberian bantuan akan dihentikan kepada anak jika anak telah mampu menyelesaikan tugas yang sedang diselesaikan. Artinya dalam hal ini orang tua dan guru tetap akan memberikan anak kebebasan dan tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Dalam satuan PAUD penerapan metode scaffolding perlu dilakukan agar ketika anak mengalami kesulitan anak tida menyerah dan tetap mau mengerjakan tugas yang diberikan melalui bantuan-bantuan dari guru. Metode penelitian yang digunakan dalam bentuk kualitatif dengan menggunakan tinjauan Pustaka (library research). Adapun tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui metide scaffolding pada pembelajaran di PAUD. Temuan baru dalam penelitian ini adalah informasi kepada semua orang tua dan guru sebagai praktisi di PAUD
PERAN ORANG TUA DALAM MENGATASI ANAK HIPERAKTIF MELALUI TERAPI BERMAIN MENYUSUN BALOK DAN PUZZLE Zuri Astari; Nindia Kasih Putri Lestari
Jurnal Educhild : Pendidikan dan Sosial Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jpsbe.v12i1.7845

Abstract

This research aims to find out; 1) the steps of parents in dealing with hyperactive children through play therapy assembling blocks and puzzles, namely: parents preparing game tools, parents giving examples so that children can follow and focus, parents always supervise when children are playing assembling blocks and puzzles , parents are the place to ask when children start to lose focus during therapy assembling blocks and puzzles. 2) It is implied that play therapy is compiling blocks and puzzles on the development of hyperactive children, namely to train focus and control the level of aggressiveness of children and help control excessive activity so that children are calmer. This study uses a qualitative approach with a case study type of research. Data analysis techniques include data collection, data reduction, data display, and drawing conclusions. The results of the research findings indicate that in the implementation of therapy children can arrange blocks even though they are in abstract form. Children can complete puzzles very well until the pictures are arranged according to the example. The results of the study show that the effect of play therapy assembling blocks and puzzles can train focus and reduce hyperactivity in children. The child's cognitive development is getting better, the child's focus is increasing and there is a sense of responsibility in completing the tasks given during therapy. It can be seen from the children's success in completing puzzles and being able to produce various works of art from blocksPenelitian ini bertujuan mengetahui; 1) langkah – langkah orang tua dalam mengatasi anak hiperaktif melalui terapi bermain menyusun balok dan puzzle, yaitu: orang tua menyiapkan alat permainan, orang tua memberikan contoh agar anak dapat mengikuti dan fokus, orang tua selalu mengawasi ketika anak sedang bermain menyusun balok dan puzzle, orang tua menjadi tempat bertanya ketika anak mulai hilang fokus saat terapi menyusun balok dan puzzle. 2) implikasi terapi bermain menyusun balok dan puzzle terhadap perkembangan anak hiperaktif yaitu untuk melatih fokus dan mengendalikan tingkat agresivitas anak serta membantu mengendalikan aktivitas yang berlebihan agar anak lebih tenang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik analisis data diantaranya pengumpulan data, reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Adapun hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan terapi anak dapat menyusun balok meskipun berbentuk abstrak. Anak dapat menyelesaikan puzzle  dengan sangat baik hingga tersusun gambar sesuai contoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak terapi bermain menyusun balok dan puzzle dapat melatih fokus dan mengurangi hiperaktif pada anak. Perkembangan kognitif anak menjadi semakin baik, fokus anak meningkat serta adanya rasa tanggung jawab menyelesaikan tugas yang diberikan saat terapi. Dapat dilihat dari keberhasilan anak menyelesaikan puzzle serta mampu menghasilkan bermacam-macam hasil karya dari balok 
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR KONSEP DASAR IPS SD BERORIENTASI PROBLEM BASED LEARNING Arif Widodo; Muhammad Sobri; Dyah Indraswati; Setiani Novitasari
Jurnal Educhild : Pendidikan dan Sosial Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jpsbe.v12i1.7848

Abstract

This study aims to determine the feasibility of developing basic social studies concept-oriented problem-based learning materials in the PGSD study program at the University of Mataram. The research method used is the development research method. The development model used is the ADDIE model. The steps for developing the ADDIE model consist of analysis, design, development, and evaluation—data collection using questionnaires and interviews. The study results show that the social studies basic concept teaching materials oriented towards Problem-based learning have met the eligibility elements, both in terms of content feasibility, presentation feasibility, and language eligibility. The average score obtained on the content eligibility aspect is 3.5, the presentation eligibility aspect is 3.4, and the language eligibility aspect is 3.6, with a maximum score of 4.00. Student responses to the teaching materials developed are included in the good category. The aspect of ease of use gets a score of 3.3, the aspect of conformity with needs gets a score of 3.8, and the display aspect gets a score of 3.5 out of a maximum score of 4.00. Based on the results of expert validation tests and user responses, it can be concluded that the developed teaching materials are suitable for use as teaching materials in Elementary Social Science Basic Concepts courses. This teaching material is recommended as the main teaching material in the lecture process so that students get real learning experience, have a good mastery of IPS concepts, and are skilled in solving social problems in the regional and global scope.Bahan ajar memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung kegiatan perkuliahan. Tanpa adanya bahan ajar maka proses perkuliahan dipastikan tidak akan berjalan efektif. Bahan ajar yang digunakan harus disesuaikan dengan model pembelajaran yang terbaru. Salah satu model pembelajaran terbaru yang sedang trend adalah model pembelajaran problem based learning. Pembaharuan bahan ajar menggunakan model pembelajaran terbaru diharapkan dapat memfasilitasi mahasiswa agar dapat belajar sesuai dengan zamannya. Salah satu mata kuliah yang perlu dikembangkan bahan ajarnya adalah mata kuliah Konsep Dasar IPS SD. Mata kuliah ini berisi tentang materi pokok pendidikan IPS yang akan menjadi bekal bagi mahasiswa ketika menjadi guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Bahan Ajar Konsep Dasar IPS SD Berorientasi Problem Based Learning untuk mahasiswa PGSD. Objek kajian dalam penelitian ini adalah mahasiswa PGSD. Lokasi penelitian di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan. Pengumpulan data menggunakan angket dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar Konsep dasar IPS yang berorientasi pada Problem based learning telah memenuhi unsur kelayakan, baik dari kelayakan isi, kelayakan penyajian, dan kelayakan dalam aspek bahasa. Bahan ajar ini disarankan untuk digunakan sebagai bahan ajar utama dalam proses perkuliahan agar mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang nyata, memiliki penguasaan konsep IPS yang baik, dan terampil dalam menyelesaikan permasalahan sosial dalam lingkup regional maupun global
DIAGNOSTIK KESULITAN BELAJAR DENGAN THREE TIER MULTIPLE CHOICE UNTUK MENGIDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA KELAS V SDN 4 LENDANG LANGKA Dyah Indraswati; Prayogi Dwina Angga
Jurnal Educhild : Pendidikan dan Sosial Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru PAUD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33578/jpsbe.v12i1.7849

Abstract

This study aimed to develop a learning difficulties diagnostic test instrument with three-tier multiple choice to identify misconceptions in fifth-grade elementary school students. This research uses Borg and Gall development research, which is divided into ten stages. However, in this study, it only reached stage 4. The research location was at SDN 4 Lendang Langka, Masbagik, East Lombok. The research subjects were fifth-grade students. Data collection techniques used questionnaires, observation and documentation. Test the test items using validity, reliability, and difficulty level tests. The results showed that there were two items where all students had a full understanding, and there were eight items where the majority of students experienced category misconceptions (false negatives). Misconceptions are often found in science and social studies content. Full understanding is a condition where students must have mastered the material and concepts provided well. Positive misconceptions (positive false) are conditions where the student's response is correct on the question but cannot provide the right reasons to strengthen the answer choices. Students know the correct answer without knowing why the concept is correct. Negative misconceptions (false negatives) are conditions where students put forward the right reasons for the wrong concept. The results of this study can be used as a guide for teachers to improve learning, especially in science and social studies content.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan instrumen tes diagnostik kesulitan belajar dengan three tier multiple choice untuk mengidentifikasi miskonsepsi pada siswa kelas V SD. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian pengembangan Borg and Gall yang dibagi menjadi 10 tahap. Namun, dalam penelitian ini hanya sampai di tahap 4.  Lokasi penelitian di SDN 4 Lendang Langka, Masbagik, Lombok Timur. Subyek penelitian adalah siswa kelas V. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, observasi dan dokumentasi. Uji butir soal tes menggunakan uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 2 butir soal dimana keseluruhan siswa memiliki pemahaman penuh, dan terdapat 8 butir soal dimana mayoritas siswa mengalami miskonsepsi kategori (false negative). Miskonsepsi banyak ditemui pada muatan IPA dan IPS. Pemahaman penuh merupakan kondisi dimana siswa dianggap telah menguasai materi dan konsep yang diberikan dengan baik. Miskonsepsi positif (positive false) adalah kondisi dimana respon siswa benar pada soal tetapi tidak dapat memberikan alasan yang tepat untuk menguatkan pilihan jawabannya. Siswa mengetahui jawaban yang benar tanpa mengetahui alasan kenapa konsep tersebut benar. Miskonsespsi negartif (false negative) adalah kondisi dimana siswa mengemukakan alasan yang tepat pada konsep yang salah. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman bagi guru untuk melakukan perbaikan dalam pembelajaran khususnya pada muatan IPA dan IPS.

Page 1 of 2 | Total Record : 11