cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
VISIKES
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 465 Documents
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN NYERI PINGGANG PADA TENAGA KERJA BAGIAN PENGEMASAN INDUSTRI FARMASI TAMBAKAJI SEMARANG Hafni Farahwati; Eni Mahawati; MG Catur Yuantari
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 2 (2012): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.287 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v11i2.670

Abstract

Latar Belakang : Keluhan nyeri punggung merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal yang disebabkan oleh aktivitas tubuh yang salah . Dari hasil studi, hampir semua pekerja sering mengeluhkan nyeri pinggang dengan berbagai macam intersitasnya dari yang ringan hingga berat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis hubungan antara usia, masa kerja, posisi dan fasilitas dengan keluhan nyeri pinggang pada pekerja industri kemasan farmasi di Tambakaji Semarang.Metode : Data dikumpulkan dengan Metode Survey dan Cross Sectional Study Design. 36 pekerja kemasan sebagai sampel diwawancarai dan diukur tingkat keluhan nyeri pinggangdengan pemeriksanaan klinis.Hasil : Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat hubungan antara umur ( p value: 0,000; r: 0,699 ) , masa kerja ( p value: 0,000 ; r : 0647 ) , posisi kerja ( p value : 0,11 ), fasilitas kerja ( p value: 0,013 ) dengan ringan kasus nyeri punggung bawah 13 responden (36,1 %) , 20 (55,6%) responden mengeluhkan nyeri pinggang dengan kategori sedang dan 3 (8,3%) responden dalam kategori berat.Kesimpulan : Penelitian ini terdapat hubungan antara usia, masa kerja, posisi kerja dan fasilitas kerja dengan keluhan nyeri pinggang pada pekerja industri kemasan farmasi diTambakaji Semarang.Kesimpulan: Saran bagi perusahaan, pekerja disediakan kursi dengan sandaran untuk memberikan kenyamanan selama duduk dan untuk menghindari kram otot, meja kerja harusmemenuhi kualifikasi ergonomis untuk membuat pekerja lebih mudah bekerja dan keranjang harus di tersusun rapi sehingga itu tidak mengganggu mobilitas kerja.Kata kunci : Keluhan nyeri pinggang, posisi kerja, fasilitas kerja
HUBUNGAN ANTARA SPESIFITAS PENULISAN DIAGNOSIS TERHADAP AKURASI KODE PADA RM 1 DOKUMEN RAWAT INAP RUMAH SAKIT BHAYANGKARA SEMARANG Maulana Tomy Abiyasa; Dyah Ernawati; Lily Kresnowati
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 2 (2012): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.896 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v11i2.671

Abstract

Rumah sakit Bhayangkara Semarang merupakan rumah sakit tipe C yang telah menggunakan ICD-10 sebagai pedoman koding, di rumah sakit tersebut belum pernah diadakan penelitian untuk mengetahui adanya hubungan antara spesifisitas penulisandiagnosis utama terhadap akurasi kode diagnosis utama pada lembar RM 1 dokumen rekam medis rawat inap di rumah sakit Bhayangkara Semarang periode 2011.Penelitian ini menggunakan metode observasi dengan pendekatan crossectional dan jenis penelitian analitik, sedangkan populasi dari penelitian ini adalah 3.833 berkas rekam medis rawat inap periode 2011 sehingga diperoleh sampel sebanyak 98 berkas yang diambil dengan menggunakan tekhnik sampel random sampling sedangkan untuk pengolahan data menggunakan rumus Chi-Square (x²).Hasil pengamatan jumlah penulisan diagnosis utama yang spesifik pada dokumen rekammedis rawat inap sebanyak 78,57 % dokumen rekam medis rawat inap, sedangkanakurasi kode penyakit pada diagnosis utama yang spesifik sebanyak 94,80 % dokumen, dan akurasi kode penyakit pada diagnosis utama yang tidak spesifik sebanyak 28,57 %dokumen rekam medis rawat inap. Dari hasil pengolahan data diperoleh hasil X² tabel = 2,71 dan X2 hitung = 46,31 jadi X2 hitung > X2 tabel maka maka Ho ditolak dan Ha diterima yangartinya ada hubungan antara spesifisitas diagnosis utama dan akurasi kode penyakit. Maka kesimpulan yang diperoleh yaitu, bahwa untuk mendapatkan akurasi kode penyakit, tidak hanya dipengaruhi oleh penulisan diagnosis utama yang spesifik saja tetapi dipengaruhi juga oleh ketelitian petugas koding serta factor-faktor lain yang mempengaruhi.oleh karena itu petugas koding sebaiknya aktif dalam mencari informasi jika menemukan diagnosis utama yang tidak spesifik serta perlu adanya peningkatan pengetahuan petugas koding dengan diikutkan dalam pelatihan koding ICD-10.Kata kunci : spesifitas diagnosis utama, akurasi kode penyakit menurut ICD-10
PERAN STATUS GIZI TERHADAP KECERDASAN KOGNITIF PADA MASA GOLDEN AGE PERIOD Vilda Ana Veria Setyawati
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 2 (2012): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.794 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v11i2.672

Abstract

Latar Belakang : Pendidikan anak usia dini terdiri dari gizi, kesehatan, dan pendidikan. Kecerdasan kognitif adalah komponen penting dalam perkembangan anak karena mencerminkan kematangan berpikir. Hasil dari penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi pihak-pihak terkait untuk menekankan kemajuan perkembangan anak usia dini juga dengan fokus pada mengoptimalkan aspek gizi dalam hal makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran status gizi pada fungsi kognitif pada periode keemasan denganmenganalisis hubungan antara status gizi dan fungsi kognitif .Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah subjek sebanyak 37 anak. Variabel bebas adalah status gizi dengan z - skor dikelompokkan menjadi 3 sangat pendek ( < -3 ) , pendek ( d -3,0 s / d Z -score < -2,0 ) , dan normal ( e -2 , 0 ). Sedangkan variabel dependen dihitung berdasarkan fungsi kognitif kuesioner yang dibuat oleh departemen pendidikan nasional, dan dikategorikan menjadi 3 dengan kurang ( < 60 % ) , sedang ( 60-80 % ) , dan baik ( > 80 % ) Analisis data disajikan dalam statistik deskriptif dan bivariat. Analisis status gizi hubungan dengan fungsi kognitif dilakukan dengan menggunakan chi -squarekarena data tidak terdistribusi secara normal .Hasil: Jumlah subjek dalam penelitian ini berjumlah 37 anak yang terdiri dari 51,4 % laki-laki dan 48,6 % perempuan. Sebagian besar responden memiliki status gizi yang baik menurut indeks W / A ( 70,3 % ). Sebagian besar responden memiliki kategori kecerdasan kognitif kurang ( 83,8 % ) seperti yang ditunjukkan oleh rata-rata z -score 45,01 ± 13,2 . Fisher test digunakan untuk sel tabulasi silang yang nilainya < 20 % dengan p = 0,022 .Kata Kunci : status gizi, kecerdasan kognitif
PENGEMBANGAN MODEL REKAM MEDIS TERINTEGRSI SEBAGAI ALAT BANTU PENDUKUNG PRAKTIKUM REKAM MEDIS DI FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Jaka Prasetya; Arif Kurniadi
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 2 (2012): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.282 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v11i2.673

Abstract

Selama ini, praktikum Rekam Medis (RM) di program studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan DIII (RMIK) Fakultas Kesehatan UDINUS masih menggunakan catatan medis manual. Permasalahan yang dihadapi saat ini, sudah banyak Rumah Sakit atau lembaga kesehatan lainnya yang sudah terkomputerisasi. Artinya catatan medis sudah disimpan dalambentuk database standard dan terintegrasi dengan database lainnya. Apabila mahasiswa RMIK saat ini masih menggunakan catatan manual, maka dikawatirkan akan memerlukan banyak penyesuaian apabila setelah lulus dan bekerja di tempat tersebut. Kegiatan yang rutin dilakukan hampir semuanya sudah terkomputerisasi, termasuk berkas yang berisikancatatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. Penyelenggaraan RM standardmeliputi penerimaan pasien sampai pelaporan. Penelitian ini dimaksudkan untukmembuat sistem informasi rekam medis yang dapat memenuhi kebutuhan Instalasi RekamMedis secara standard yang dapat dipergunakan secara universal dan memiliki kelebihan dalam hal kemudahan pembuatan laporan dan validitas laporan yang dihasilkan.Penelitian ini menghasilkan sistem informasi atau software Medical Record Integrated System (Medirecs)yang merupakan buatan asli UDINUS dapat dipergunakan sebagai alat bantu pendukung praktikum rekam medis pada Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan FakultasKesehatan Universitas Dian Nuswantorosesuai dengan buku Sistem Pelaporan Rumah Sakit Revisi V.Kata Kunci : software, praktikum, medical record integrated system
TINJAUAN LAMA DIRAWAT PASIEN RI JAMKESMAS DENGAN KASUS BENIGNA HYPERPLASIA OF PROSTATE (BPH) BERDASARKAN SISTEM INA-DRG DI BANGSAL BEDAH A3 RSUP DR. KARIADI SEMARANG Isninda Laily Diyastuti
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 2 (2012): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.916 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v11i2.674

Abstract

Latar Belakang. Rumah sakit merupakan salah satu lembaga kesehatan yang memberikan perawatan kesehatan didukung oleh tenaga dan peralatan yang khusus. Banyak indikator yang dapat digunakan untuk menilai rumah sakit, yang paling sering digunakan adalah BOR (Bed Occupation Rate) , AvLOS (Average Length of Stay) , BTO (Bed Turn Over) , TOI (TurnOver internal), NDR (Net Death Rate), GDR (Gross Death Rate). Dari survey awal pada 9 kasus BPH di RSUP Dr.Kariadi Semarang, prostatic hyperplasia atau penyakit BPH diklasifikasikan dalam daftar 10 penyakit terbanyak di bangsal bedah rawat inap. Dalam hal lama dirawat/ LOS menurut tingkat keparahan, 66,67 % memiliki lama dirawat yang melebihi standar INA - DRG. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui lama dirawat pasien Jamkesmas kasus hiperplasia prostat jinak di bangsal bedah RSUP Dr Kariadi Semarang tahun 2011.Metode. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional menggunakan data retrospektif berdasarkan dokumen rekam medis pasien. Data dikumpulkan melaluimetode survei dan observasi. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah check list . Data dianalisis secara deskriptif.Hasil. Sebagian besar pasien Jamkesmas dalam kasus BPH di RSUP Dr Kariadi pada tahun 2011 pada usia 65-74 tahun (47,37 %). LOS minimum adalah 5 hari dan maksimaladalah 76 hari. Persentase tertinggi LOS adalah 21-30 hari (28,95 %). Sebagian besar pasien adalah pada tingkat keparahan kedua (50 %) . Sebagian besar pasien BPH (97,34 %) menerima tindakan medis. Persentase LOS yang tidak sesuai dengan LOG DRG pada setiap tingkat keparahan hampir sebanding. Kebanyakan tingkat keparahan ditemukan di tingkat pertama yang persentasenya sebanding dengan tingkat ketiga (84,62 %), sedikit lebih tinggi dari tingkat kedua (81,58 %) .Simpulan. Perlu penelitian lebih lanjut untuk membuktikan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keparahan penyakit BPH. Aspek analisis kualitatif dan kuantitatif Dokumen RekamMedis diperlukan untuk mempelajari riwayat medis pasien, penilaian kualitas pelayanan medis tentang penyakit BPH perlu dievaluasi.Kata kunci : Lama Dirawat( LOS ) , Benign Prostat Hiperplasia ( BPH )
ADIKSI ROKOK MILD/LIGHT PADA MAHASISWA Ria Laily Pradania; Eti Rimawati; Nurjanah Nurjanah
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 2 (2012): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.134 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v11i2.675

Abstract

Merokok adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dari mengambil rokok dari pak, meletakkannya di antara bibirnya, menyulut dan mengisapnya. Persepsi merupakanproses yang kompleks yang melibatkan faktor struktural atau efek dari stimulasi fisik dan faktor fungsional atau efek psikologis organism. Ketergantungan didefinisikan penggunaan zat psikoaktif atau substansi berulang kali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi terhadap biaya dan manfaat dari merokok dengan tingkat adiksi rokok mild/light pada mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro.Penelitian ini merupakan penelitian penjelasan dengan metode survei dengan pendekatan cross sectional. Sampel adalah 100 mahasiswa yang terdiri dari 50 mild/light mahasiswa perokok dan 50 mahasiswa non perokok mild/light. Teknik pengambilan sampel adalah Accidental Sampling dan analisis data yang digunakan adalah uji Rank Spearman.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia antara 20-24 tahun (84%), duduk di tingkat 3 dan 4 (50%), tidak memiliki pekerjaan sampingan (64%), uang sakuantara Rp.100.000 - Rp. 400.000 (45%), mulai merokok pada usia 15-19 tahun (62%), jenis rokok yang pertama kali dikonsumsi adalah non mild/light (65%), dan persepsi perilaku orang tua yang baik (56%). Hasil analisis univariat menunjukkan sebagian besar responden menganggap bahwa merokok memberikan cukup manfaat (71%), memiliki cukup uang untuk membeli rokok (48%), memiliki tingkat adiksi rendah (60%). Hasil uji Rank Spearman menunjukkan bahwa ada hubungan antara persepsi manfaat dan tingkat adiksi (p-value 0,022) dan tidak ada hubungan antara persepsi biaya dengan tingkat adiksi (p-value 0,757). Peningkatan pemahaman siswa tentang bahaya kecanduan rokok pada kesehatan diharapkan dapat mengurangi perilaku merokok siswa.Kata kunci: mahasiswa, merokok, adiksi
BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS FISIK AIR SUMUR DI PERKOTAAN Margaretha Katrin Widagdo; Eko Hartini
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 11, No 2 (2012): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.948 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v11i2.676

Abstract

Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk keperluan minum, memasak, mandi, mencuci dan sebagainya. Persyaratan kualitas air diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Kelurahan Brumbungan merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Semarang Tengah memiliki kondisi sarana penyediaan air bersih kurang baik atau belum memenuhipersyaratan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui beberapa faktor yang berhubungan dengan pencemaran air sumur secara fisik.Penelitian ini adalah explanatory research dengan desain cross sectional study. Populasi sebesar 90 unit sumur gali yang dilengkapi pompa dengan sampel sebanyak 47 unit sumur gali yang dilengkapi dengan pompa. Teknik sampling yang digunakan adalah Simple Random Sampling. Analisa statistik menggunakan uji X2 atau Chi Square dengan derajat kemaknaan 5%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata dari parameter kualitas fisik yaitu warna (22,8 TCU), kekeruhan (0,042 NTU) dan TDS (487 mg/L) masih jauh dibawah nilai ambang batas yang diperbolehkan yaitu, 50 TCU, 25 NTU dan 1.500 mg/L. Tetapi nilai tertinggi untuk warna yaitu 76 TCU melebihi nilai ambang batas dengan selisih 26 TCU. Kondisi sumur yang buruk 25,5% dan yang sedang 40,4%, kondisi septic tank yang buruk 31,9% dan kondisi SPAL yang buruk 48,9%.Analisa statistik menunjukan bahwa ada hubungan antara kondisi sumur dan kondisi SPAL dengan kualitas fisik air sumur yang ditunjukkan dengan p value masing-masing 0,031 dan0,025 dan tidak ada hubungan antara kondisi septic tank dengan kualitas fisik air sumur dengan p value 0,696.Kata Kunci : sumur gali, kualitas fisik, septic tank, saluran pembuangan air limbah
AKURASI KODE DIAGNOSIS UTAMA PADA RM 1 DOKUMEN REKAM MEDIS RUANG KARMEL DAN KARAKTERISTIK PETUGAS KODING RAWAT INAP RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS PERIODE DESEMBER 2009 Hetty Rahayu; Dyah Ernawati; Lily Kresnowati
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 10, No 1 (2011): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.917 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v10i1.679

Abstract

Background: Coding is one of the Medical Record services to support quality services in Hospital. Writing code disease was useful for getting information about group of disease and for an input to decision making for hospital management and getting reimbursement equal for provider health care services. Skill of staff in coding could determine accurate disease code. The aim of research is to examine accuracy main code diagnosis and characteristic of coding’s staff in Mardi Rahayu Hospital, Kudus. Base on result survey on May, 2009, found code diagnosis was not accurate amount 10 % from 30 DRM (document of medical record).Method: Kind research is descriptive by using observation method and interview by cross sectional approach. Populations in research are all of code main diagnosis document medical record in Karmel room pe riod treatment December, 2009. The instrument is used check list, ICD-10 volume 1 and 3. Analysis of data used descriptive in narrative and tabulation form.Result: Base on result observation to main code diagnosis on 148 DRM showed 69.59% data was accurate and 30.41% was not accurate. Staff of coding has been work in coding part in one years ago, has education background Diploma III medical record and health information but they all have not ever follow training coding medical record. Training for coding and give advice to doctors by medical committee was recommended.Keywords: coding, accuracy
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU BERBAHAYA (UNSAFE ACTION) PADA BAGIAN UNIT INTAKE PT.INDONESIA POWER UNIT BISNIS PEMBANGKITAN (UBP) SEMARANG 2011 Dwi Noor Maulidhasari; MG Catur Yuantari; Nurjanah Nurjanah
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 10, No 1 (2011): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.022 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v10i1.680

Abstract

Background: The main causes of workplace accidents are unsafe action 80% and the rest is unsafe condition. There are three phases that can lead to unsafe action namely management phase, working environment phase, and individual phase from the workers themselves. The result to unsafe action in workplace is the occurrence of workplace accidents that could effect the company and the workers themselves. The aim of this research is to examine some factors related to unsafe action on intake unit in PT. Indonesia Power UBP Semarang.Method: This is an analytical research by using survey method and cross sectional study approach. The numbers of samples are 30 employees at the Intake Unit. The statistic analysis used Pearson Product Moment and Rank Spearmen, to examine correlation between independent variables and dependent variables.Result: Statistical analysis result found that there are no relations between age (p value 0,135), education degree (p value 0,051), convenience in wearing personal protective equipment (p value 0,416) and experience of working accidents (p value 0,559) with unsafe action and there are relations between occupational health and safety knowledge (p value 0,000), attitude toward personal protective equipments (p value 0,001) and working group norm (p value 0,025) with unsafe action. The company should to prevent unsafe action by provide counseling and training on occupational accidents, safe behavior in the workplace and the importance of the use of personal protective equipment in the workplace.Keywords : unsafe action, workplace
NEED ASSESSTMENT KURIKULUM KESEHATAN REPRODUKSI DI SMA KOTA SEMARANG Agung Febri Nugroho; Eti Rimawati; Sri Andarini Indreswari
VISIKES: Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol 10, No 1 (2011): Visikes
Publisher : Dian Nuswantoro Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.965 KB) | DOI: 10.33633/visikes.v10i1.682

Abstract

Background:The high demand of adolescents to information about sexual and reproductive health can be seen from the data in PILAR IPPA Central Java to March 2008 which recorded the 7810 partners have been consulted, with the demand for reproductive health information as much as 1335 with the percentage of high school level are 42.9%. School is an institution that conveys information about sex and reproductive health is good and right. Therefore important to describe how the needs of reproductive curriculum in senior high school level in Semarang City.Method: This type of research is a qualitative research by using case study approach. The tecnical sampling used purposive sampling which the respondent is headmaster of senior high school, while data collection is done through in-depth interviews with the variables based on the theory of Health Belief Model.Results: The number of respondents was obtained as many as 3 people and 3 informants crosscheck, namely students, parents, and the curriculum staff in nasional educationdepartement. All respondents are male. All the respondents held that the students as adolescents are vulnerable to reproductive health problems due to the condition of students who are still in transition (perceived susceptibility), and argues that the problem of unwanted pregnancy, abortion, STDs, and drugs as a form of adolescent reproductive health issues of concern andrequire attention (perceived seriousness). The benefits of reproductive health curriculum are considered to broaden the horizon of students and half of the respondents view to reduce reproductive health-related cases (perceived benefits). However, the provision of reproductivehealth materials in the schools hindered by the lack of policy from the national Education Department related to this issue, in addition to school still considers that the provision of reproductive health materials should be performed by experts (perceived barrier). The existence ofthe mass media can provide unlimited information and can be easily accessed by students need to require the attention of all parties, including parents and this is a factor driving the need for provision of reproductive health materials in schools (cues).The recommended advice is the formulation of policies governing the provision of reproductive health materials in senior high school needed and courage cooperation between government and private agencies in the provision of reproductive health materials at school.Keywords: Reproductive Health, Curriculum

Page 4 of 47 | Total Record : 465