cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Asy-Syekh Adam Abdullah Al-Ilwari Wa Manhajuhu fi I'dad Asy-Syu'ara' Hamid, M. Abdul; Ibraheem, Lateef Onireti
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v9i1.4666

Abstract

The development and spread of Arabic literary works cannot be separated from the founder and its figures both from Arabic spoken-country and non-Arabic one. Syaikh Adam Abdullah al Ilori is one of the figures in Nigeria that has significant role in spreading Arabic literary works and at once educating the next generation as litterateur and the expert of Arabic literature in Nigeria. In line with the aim, there are five strategies developed by Syaikh Adam al Ilori; 1) memorization, b) direct teaching of Arabic literary works, c) teaching the principles of aruud, d) training to create the Arabic poems, and e) holding competition to encourage young poets. These five strategies are effective to be applied in Nigeria in aiming for spreading Arabic literature and creating the expert of it so that many writers were born in Nigeria such as Abu Bakar Umar, Roji Suliman, Abdul Baqi Syuaib, and many more. Perkembangan dan penyebaran karya sastra Arab tidak bisa dilepaskan dari para pelopor dan para tokohnya baik dari negara Arab sendiri maupun dari negara non Arab. Syaikh Adam Abdullah al Ilori adalah salah satu tokoh sastra Arab di Nigeria yang punya peran signifikan dalam penyebaran karya sastra Arab dan sekaligus mencetak generasi penerus sebagai sastrawan dan ahli di bidang sastra Arab di Nigeria. Dalam membentuk generasi sastrawan di bidang sastra Arab (syair), ada lima startegi yang dikembangkan Syaikh Adam al Ilori, yaitu a) dengan cara hafalan, b) mengajarkan karya-karya sastra Arab, c) mengajarkan kaidah-kaidah aruud, d) melatih membuat syair-syair Arab, e) mengadakan kontes-kontes pada momen-momen penting sebagai ajang kreativitas para penyair muda. Lima strategi ini sangat efektif digunakan di Nigeria dalam menyebarkan karya sastra Arab dan membentuk generasi yang ahli di bidang sastra Arab sehingga telah banyak melahirkan sastrawan-sastrawan di Nigeria yang ahli di bidang sastra Arab seperti: Abu Bakar Umar, Roji Suliman, Abdul Baqi Syuaib, dan lain sebagainya.
MEMAKNAI TRADISI UPACARA LABUHAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP MASYARAKAT PARANGTRITIS Jalil, Abdul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v17i1.3088

Abstract

This article discusses the meaning of the “Labuhan Ceremony” and the effects on Parangtritis society. The research is based on the writer’s experience as students’ field project supervisor of Madrasah Aliyah Wahid Hasyim. The methodology used for this research is qualitative descriptive. Interviews, literature, brochures and media information were analyzed. It is concluded that according to Parangtritis people, the context of Labuhan ceremony is not only the myth of Queen of the South (Ratu Kidul), but they also believe that the most important context of the “Labuhan Ceremony” is grateful towards the God who was supreme over the devolution of grace. Labuhan has effects on their belief, economis, and safety. Tulisan ini mendiskusikan makna tradisi upacara labuhan dan pengaruhnya bagi masyarakat Parangtritis. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pendampingan penulis kepada siswa-siswi Madrasah Aliyah Wahid Hasyim sebagai tugas akhir berupa karya ilmiah berbasis field trip. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data diperoleh dari hasil wawancara, literatur, leaflet, dan brosur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut masyarakat Parangtritis, Labuhan tidak semata-mata hanya mitos dari nenek moyangnya agar terhindar dari kesialan, tetapi Labuhan dilestarikan sematamata sebagai rasa syukur terhadap Dzat yang maha agung atas pelimpahan anugerah yang diterima. Selain itu, Labuhan memiliki pengaruh terhadap kepercayaan kepercayaan/agama, ekonomi,dan keamanan.
Signifikansi Proses Pencarian Makna terhadap Teks Agama: Menyibak Pemikiran Nasr Hamid Abu Zaid Muzakki, Akhmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i2.4718

Abstract

Basically, according to Gadamer, words belong to and are based on the reality. Human beings look for the appropriate words to express the reality. Ontologically; human beings do not create language as a means of communication and thinking, but it was created more as the representation of reality while they articulated the language. Therefore, the meaning of words exists in the thought. According to Saksitri’s theory, a word is considered as sign related to signifiant (something signifying) and signifie (something signified). Signifiant explains the form or expression, and signifie explains the thought or meaning. The relation, brtween signifiant and signifie based on the social convention is called significance or maghza according to Nasr Hamid. On the other words, significance is an effort to give meaning to sign (language). According to linguists,such as Jacques Derrida, the last signifie is not"always recognized. For Derrida; meaning appears from the metaphor exchange, and meaning will change ,when the speakers change, or; as stated by Nasr Hamid, the meaning of religious texts are not determined when the texts appeared for the first time, but they are dynamic, relational, and moveable depending on the socio-cultural condition of the readers. Pada dasarnya, menurut Gadamer, kata - kata dimiliki dan didasarkan pada realitas. Manusia mencari kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan realita. Secara onologis; Manusia tidak menciptakan bahasa sebagai sarana komunikasi dan pemikiran, namun diciptakan lebih sebagai representasi realitas saat mereka mengartikulasikan bahasa Oleh karena itu, makna kata ada dalam pemikiran. Menurut teori Saksitri, sebuah kata dianggap sebagai tanda yang terkait dengan signifiant (sesuatu yang menandakan) dan menandakan (sesuatu yang ditandai). Signifiant menjelaskan bentuk atau ungkapan, dan signifie menjelaskan pemikiran atau makna. Hubungannya, brtween signifiant dan signifie berdasarkan konvensi sosial disebut signifikansi atau maghza menurut Nasr Hamid. Dengan kata lain, signifikansi adalah sebuah usaha memberi arti tanda (bahasa). Menurut ahli bahasa, seperti Jacques Derrida, Tanda terakhir tidak "selalu dikenali, karena Derrida, yang berarti muncul dari pertukaran metafora, dan makna akan berubah, ketika pembicara berubah, atau, seperti yang dinyatakan oleh Nasr Hamid, makna teks agama tidak ditentukan saat teks muncul untuk Pertama kali, tapi dinamis, relasional, dan mudah bergerak tergantung kondisi sosio-kultural pembaca.
Spiritual Education through Ziarah Tradition in Syaikh Syamsuddin Al-Wasil Kediri Mahzumi, M. Al-Qodhi Abi Saidil; Fuad, A. Jauhar
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v21i2.7030

Abstract

This paper aims to examine the development of spirituality that is traversed through the grave pilgrimage tradition by utilizing symbolic interactionist theory, religious and cultural theory, and spiritual intelligence theory. This study wanted to reveal the process and impact of a person’s spiritual change after carrying out the tradition of pilgrimage in the Tomb of Shaykh Syamsuddin al-Wasil, Kediri city. The results of this study show that first, spiritual process of pilgrims starts from the reason for making the tomb of Shaykh Syamsuddin Al-Wasil, Kediri city as an object of spiritual education, namely a media reminder for pilgrims, efforts to approach pilgrims to Allah, and as a place of prayer. The spiritual process itself is divided into three stages, namely; (1) pre-pilgrimage by purifying with ablution, (2) the stage of pilgrimage begins with tawasul on special people, reading the Qur’an, reading tahlil and finally reading the do’a, (3) after the pilgrimage by doing shodaqoh. Second, in terms of spiritual changes in the pilgrim’s self, namely; (1) inner changes such as calmness of heart and feeling holy heart, (2) changes in the end like feeling in living life more diligently and zealously, feeling lazy disappears, and pilgrims can control emotions. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji pengembangan spiritualitas yang dilalui dengan cara tradisi ziarah kubur dengan memanfaatkan teori interaksionis simbolis, teori agama dan budaya, serta teori kecerdasan spiritual. Penelitian ini mengungkap proses dan dampak perubahan spiritual sesorang setelah melakukan tradisi ziarah di Makam Syaikh Syamsuddin al-Wasil kota Kediri. Hasil penelitian ini menemukan bahwa; pertama proses spiritual peziarah bermula dari alasan menjadikan makam Syaikh Syamsuddin Al-Wasil Kota Kediri sebagai objek pendidikan spiritual yakni, media pengingat bagi peziarah, upaya mendekatan peziarah pada Allah, dan sebagai tempat berdo’a. Proses spiritual sendiri dibagi menjadi tiga tahap yakni; (1) pra ziarah dengan melakukan penyucian dengan berwudhu, (2) tahap ziarah dimulai dengan bertawasul pada orang-orang khusus, membaca al-Qur’an, membaca tahlil dan terakhir membaca do’a, (3) pasca ziarah dengan melakukan shodaqoh. Kedua, segi perubahan spiritual yang terjadi pada diri peziarah yakni; (1) perubahan secara batin seperti ketenangan hati dan merasa hati menjadi bersih, (2) perubahan secara dhohir seperti merasa dalam menjalani hidup semakin rajin dan bersemangat, rasa malas menghilang, dan peziarah dapat mengontrol emosi.
Nyadran and Paguyuban Budiluhur in Caring for Inter-Religious Harmony Harnianti, Anif Musyafa’ah; Maqfiroh, Fina Farikhatun Nurul; Mabruroh, Khozinatul; Najib, Abdul; Alawy, Muhammad Syihabuddin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/eh.v26i2.26934

Abstract

This research aims to explore how Nyadran and Paguyuban Budiluhur serve as mediums for maintaining inter-religious harmony in Kapas Village, using Max Weber's social action theory. This qualitative study employs descriptive methods, including observation, semi-structured interviews, and field documentation of the Nyadran tradition and the activities of Paguyuban Budiluhur. The findings indicate that social actions lean towards instrumental rationality, as the Nyadran tradition has been institutionalized in the village's annual agenda, and Paguyuban Budiluhur has become an established foundation. Phenomenological analysis reveals that hybrid social spaces, social interaction, nationalism (driven by motive), and the protection of human rights (in order to motive) are key factors supporting inter-religious harmony in Kapas Village. These factors align with the religious moderation vision of the Indonesian Ministry of Religious Affairs. This paper proposes a recommendation that efforts to maintain religious harmony can be strengthened by creating and institutionalizing social spaces, such as annual traditions or inter-religious organizations. This institutionalization is important, as modern society tends to approach all actions, including social actions, in a rational manner. Rationality can also encourage broader segments of society to participate in efforts to sustain religious harmony and peace. Penelitian ini bertujuan untuk memahami latar belakang yang menjadikan Nyadran dan paguyuban Budiluhur, menjadi media merawat kerukunan antar umat beragama di Desa Kapas melalui perspektif teori tindakan sosial Max Weber. Penelitian kualitatif ini dijalankan dengan mengaplikasikan metode deskriptif untuk mengungkapkan peristiwa melalui observasi berkala, wawancara bebas terpimpin, serta dokumentasi penelitian lapangan pada pelaksanaan tradisi Nyadran dan kegiatan Paguyuban Budiluhur di Desa Kapas. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa tindakan sosial di Desa Kapas lebih cenderung kepada tindakan rasional instrumental sebab pelembagaan tradisi Nyadran ke dalam agenda tahunan desa dan Paguyuban Budiluhur dalam sebuah yayasan sebagai instrumen sosial yang mengurusi perawatan jenazah warga non-muslim. Kemudian, dalam analisis fenomenologi, ditemukan bahwa ruang sosial hybrid, interaksi sosial dan sikap nasionalisme serta penjaminan hak asasi manusia menjadi faktor-faktor yang mendorong keberhasilan upaya merawat kerukunan antar umat beragama di Desa Kapas. Lebih lanjut, faktor-faktor tersebut sejalan dengan visi sikap moderasi beragama yang dirumuskan oleh Kementerian Agama RI. Makalah ini mengusulkan rekomendasi bahwa upaya menjaga keharmonisan antaragama dapat diperkuat dengan menciptakan dan melembagakan ruang sosial, seperti tradisi tahunan atau organisasi lintas agama. Pelembagaan ini penting, karena masyarakat modern cenderung mendekati semua tindakan, termasuk tindakan sosial, secara rasional. Pendekatan rasional juga dapat mendorong lebih banyak elemen masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya menjaga keharmonisan dan perdamaian antaragama.
Ritual Alo pada Masyarakat Cia-Cia Burangasi Kabupaten Buton Janu, La
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v14i2.2319

Abstract

This research examined alo ritual in Cia-Cia community Burangasi Buton, South East Celebes Province. This research is conducted to identify answers for the concerning problems described of its present the importance of alo ritual in even the whole community. This study used a qualitative research method with participal observation and in depth interview as data collecting method. While data analysis, was done through ethnographic analysis technique. Alo ritual was carried out by reason of mental pressure or mental crisis caused by the death in family member. They concern about safety of spirit of the death given that the spirit has to experience a long and dangerous passage. They believe that this spiritually dangerous crisis time is not about the death only but covering up the whole family and even the whole community. In general, alo ritual had a purpose to normalize the unstable life condition of the family because of a death through deconstructing the existing life condition and reconstructing it into the brand new one at the same time. In such condition of brand new life, daily activities seem harmonious and normal without any fears, distress, depressed and so on. Penelitian ini fokus pada upacara alo yang terjadi di masyarakat Cia-Cia Burangasi Buton, Propinsi Celebes Tenggara. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi jawaban-jawaban atas problematika penting terkait upacara alo dalam sebuah komunitas. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan observasi partisipatoris dan wawancara mendalam sebagai teknik pengumpulan data. Data yang telah terkumpul kemudian dianalisa dengan teknik analisis etnografi. Upacara alo dilakukan dengan alasan ketertekanan jiwa dan krisis mental yang disebabkan karena kematian salah satu anggota keluarganya. Mereka berkonsentrasi terhadap keselamatan arwah dari sang mayat yang akan melalui lintasan panjang berbahaya. Mereka berkeyakinan bahwa saat yang membahayakan bagi arwah ini tidak hanya menimpa si mayat saja, melainkan juga seluruh anggota keluarga bahkan seluruh masyarakat. Secara umum, upacara alo bertujuan untuk menormalkan keadaan hidup yang tidak stabil akibat kematian si mayat. Dalam keadaan hidup yang baru ini, kegiatan sehari-hari nampak harmoni dan stabil tanpa ketakutan, penderitaan, tekanan, dan seterusnya.
Kajian atas Relasi Islam dan Demokrasi Huda, Miftahul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v7i2.4657

Abstract

There is a relation between democratic development in Indonesia with Islamic sharia. If we want to include military aspect, it can also depend on Islamic movement. Thus, Islamic concepts have to be the promoter for democratic struggle. However, this role will not be effective if Islam does not hold a dialogue with other forces of politic. Hence, Islam is required to be the democratic religion. Politics in Islam will be discussed in this article along with the explanation about democracy as the equality in Politics. The principles of Islamic democratic are also presented as a part of the realization of humans’ harmony life. It is called harmony life since it has the practices of democratic such as doing discussion, teamwork, and freedom to choose. Perkembangan demokrasi di Indonesia ada relasinya dengan syariat Islam. Kalaupun dimasukkan juga unsur militer, militer pun akan bergantung pada gerak Islam. Dengan demikian, konsep-konsep Islam harus menjadi promotor bagi perjuangan demokrasi. Akan tetapi, peran ini tidak akan efektif selama Islam tidak membuka dialog dengan kekuatan politik lainnya. Karena itu, Islam tetap dituntut menjadi Islam yang demokratis. Islam politik akan menjadi bahasan dalam artikel ini, juga penjelasan tentang demokrasi sebagai kesetaraan politik. Kaidah demokrasi Islam juga dibahas sebagai bentuk realisasi kehidupan harmonis manusia. Disebut hidup harmonis karena menganut praktik demokrasi seperti msuyawarah, kerja sama, dan kebebasan memilih.
Akulturasi dan Kearifan Lokal dalam Tradisi Baayun Maulid pada Masyarakat Banjar Jamalie, Zulfa
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v16i2.2778

Abstract

This research examines the acculturation and transformation of traditional values of Banjarese Baayun Maulud . It used religious anthropology approach as an effort to understand the deepest meaning of the research object. The result shows that this tradition was historically started from swinging child ceremony of Dayakese Tribe in Kalimantan, in order to give blessing, give name, pray for safety, and to thank for the child birth. A long with the incoming and development of Islam in this region, the ceremony which was inherited by the ancestors experienced changes. The Islamic preachers have changed and acculturated this ceremony so it is full of Islamic values. The ceremony once called swinging child ceremony, then after the acculturation it became Baayun Maulud. The venue is centralized at the mosque and is combined with the celebration of Muhammad’s birthday. The children are swung with qur’an recitation, rhyme quatrains of maulud, and prayers. The local wisdoms and the religious thoughts has been unified in harmony in the tradition, which becomes the sign of gratitude expressions  for the child birth, as well as for celebrating and honoring the birth of the Greatest Prophet Muhammad. Penelitian ini mengkaji akulturasi dan transformasi nilai dalam tradisi Baayun Maulid masyarakat Banjar. Penelitian ini menggunakan pendekatan antropologis keagamaan sebagai upaya memahami makna mendalam dari objek penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejarah munculnya tradisi ini bermula dari upacara maayun anak masyarakat Dayak Kalimantan untuk memberikan keberkahan, memberi nama, menyampaikan doa keselamatan, dan tanda syukur atas kelahiran anak. Seiring dengan masuk dan berkembangnya Islam di kawasan ini, upacara yang diwariskan oleh nenek moyang ini pun mengalami perubahan. Ulama penyebar Islam telah merubah dan mengakulturasi upacara ini menjadi sarat dengan nilai-nilai keislaman. Apabila semula upacara ini dinamakan Baayun Anak, maka sesudah diakulturasi berubah menjadi Baayun Maulid. Tempat pelaksanaan dipusatkan di masjid dan disandingkan dengan peringatan maulid Nabi. Anak diayun dan dibacakan al Quran, syairsyair maulid, serta doa. Tradisi lokal dan ajaran agama telah bersatu secara harmonis dalam kegiatan Baayun Maulid, yang menjadi penanda kesyukuran atas kelahiran anak sekaligus peringatan dan penghormatan atas kelahiran Nabi Muhammad.
Dinamika Hukum Islam dalam Konteks Perubahan Sosial Mubaligh, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i1.4904

Abstract

Social alteration is the one of features for society's dynamic life.· It is considered as a social law, occurs in life. Social alteration also raises any social problems, which need arrangement and solving as Islam certainties. Therefore, Islam law is conveyed as law system, based on divine revelation and valid universally, which must be able to accommodate any social alterations without losing the basic principles.  On the other hand, Islam law can be a constant function which is needed. However, renewal's efforts of Islam law must be taken place by Islam humanity. In its implementation, the renewal movement is done by ijtihad (individual interpretation and judgment). Perubahan sosial adalah salah satu ciri kehidupan dinamika masyarakat. · Hal ini dianggap sebagai hukum sosial yang  terjadi dalam kehidupan. Perubahan sosial juga menimbulkan masalah sosial, yang membutuhkan pengaturan dan pemecahan sebagai ketentuan Islam. Oleh karena itu, hukum Islam disampaikan sebagai sistem hukum, berdasarkan wahyu ilahi dan berlaku secara universal, yang dituntut untuk dapat mengakomodasi perubahan sosial  tanpa menyimpang dari prinsip-prinsip dasar. Di lain piha,  hukum Islam dapat menjadi fungsi dan kebutuhan konstan. Namun, upaya pembaharuan hukum Islam harus dilakukan oleh umat Islamindahinda. Dalam pelaksanaannya, pembaharuan gerakan dilakukan dengan ijtihad (interpretasi dan penghakiman individu).
Iman dalam Pribadi Muslim: Sebuah Telaah Aksiologi Djumransjah, M.
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v1i3.4699

Abstract

Talking about the issue of faith is the same as entering things that lie beyond the reach of reason. Faith is actually also a spiritual problem and develops with the power of ikhtiari. It touches the conscience and determines the quality in the value of taqwa. In human life and life, faith is priceless. Its value is expensive above all that is expensive, because it is a gift of God that is only accomplished through obedience. Obedience to God's rules is spiritual reflections to encourage people to love and obey the laws of God and His Messenger. The rules of God obeyed by man through the process of consciousness and freedom to assume responsibility are not entirely left to human freedom. To carry out the responsibilities well, God sent the Apostles to set an example and guide men to the right path, safe and secure. By observing human behavior in following orders and away from God's prohibitions will give the sense that humans are cultural beings. Because formed and developed into a personality occurs in the culture of society. In society human ethical values are the basis and size of which are the source of the orientation of norms. Membicarakan masalah iman sama halnya dengan memasuki hal-hal yang terletak diluar jangkauan akal. Iman sebenarnya juga masalah rohaniah dan berkembang dengan daya ikhtiari. Dia menyentuh hati nurani dan menentukan kualitas dalam nilai taqwa. Dalam hidup dan kehidupan manusia, iman tidak ternilai harganya. Nilainya mahal di atas segala yang mahal, karena dia pemberian Allah yang hanya dicapai melalui ketaatan. Ketaatan kepada aturan-aturan Allah merupakan pantulan-patulan ruhani untuk mendorong orang mencintai dan mematuhi hukum-hukum Allah dan Rasul-Nya. Aturan-aturan Allah yang dipatuhi manusia melalui proses kesadaran dan kebebasan untuk memikul tanggung jawab, tidak sepenuhnya diserahkan kepada kebebasan manusia. Untuk melaksanakan tanggung jawab dengan baik, maka Allah mengutus para Rasul untuk memberi contoh dan menuntun manusia ke jalan yang benar, aman dan selamat. Dengan mengamati prilaku manusia dalam mengikuti perintah dan menjauhi larangan Tuhan akan memberikan pengertian bahwa manusia itu adalah makhluk budaya. Karena dibentuk dan berkembang menjadi seorang yang berkepribadian terjadi dalam kebudayaan masyarakat. Di masyarakat nilai-nilai etis manusia adalah menjadi dasar dan ukurannya yang merupakan sumber orientasi norma-norma.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue