cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
elharakahjurnal@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
El-HARAKAH : Jurnal Budaya Islam
ISSN : 18584357     EISSN : 23561734     DOI : -
Core Subject : Health,
EL HARAKAH (ISSN 1858-4357 and E-ISSN 2356-1734) is peer-reviewed journal published biannually by Maulana Malik Ibrahim State Islamic University (UIN) of Malang. The journal is accredited based on the decree No. 36a E. KPT 2016 on 23 May 2016 by the Directorate General of Higher Education of Indonesia, for the period August 2016 to August 2021 (SINTA 2). The journal emphasizes on aspects related to Islamic Culture in Indonesia and Southeast Asia. We welcome contributions from scholars in the field, papers maybe written in Bahasa Indonesia, English, or Arabic.
Arjuna Subject : -
Articles 789 Documents
Kekerasan dan Kekuasaan dalam Praksis Berbahasa: Memahami Kekerasan dalam Perspektif Galtung Rahardjo, Mudjia
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v2i2.5179

Abstract

As a social phenomenon, violence has attracted the interest of social scientists to further study, cultivate and explore its exploratory theorists. One of them is Johan Galtung. This paper explores Galtung's theory of violence in relation to language practice. According to Johan Galtung, violence occurs when humans are affected in such a way that actual physical and mental realizations are under their potential realization. Galtung will see something as violent if in the future the event can be overcome or prevented, but still left. As a symbolic reality, language can not be separated from the inner world of the wearer and the social setting that exists. These include social conflicts such as violence, murder, rape, looting, harassment, robbery, repression, and so on. Coinciding with the violent phenomenon that plagues this nation, modesty or ethical language is now experiencing erosion or extraordinary setbacks. To overcome this, ethics of language decency needs to be addressed in the context of language teaching in Indonesian cultural lands. Sebagai fenomena sosial, kekerasan telah menarik minat para ilmuwan sosial untuk lebih jauh mempelajari, menggeluti dan mencari  teoretis eksplanatorisnya. Salah satu di antaranya ialah Johan Galtung. Tulisan ini memaparan tentang teori kekerasan Galtung dalam hubunganya dengan praktik bahasa. Menurut Johan Galtung, kekerasan terjadi bila manusia dipengaruhi sedemikian rupa sehingga realisasi jasmani dan mental aktualnya berada di bawah realisasi potensialnya. Galtung akan melihat sesuatu sebagai kekerasan bila di masa mendatang peristiwa tersebut bisa diatasi atau dicegah, tetapi tetap dibiarkan. Sebagai realitas simbolik, bahasa tidak bisa lepas dari dunia batin pemakainya dan setting sosial yang ada. Termasuk di antaranya konflik-konflik sosial berupa kekerasan, pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, pelecehan, perampokan, penindasan, dan lain sebagainya. Berbarengan dengan fenomena kekerasan yang melanda bangsa ini, kesopanan atau etika berbahasa kini mengalami erosi atau kemunduran luar biasa. Untuk mengatasi itu, etika kesopanan berbahasa perlu disikapi dalam konteks pengajaran bahasa dalam lahan budaya Indonesia.  
Agama dan Mitos: Dari Imajinasi Kreatif menuju Realitas yang Dinamis Roibin, Roibin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.445

Abstract

Myth always comes to be a debatable discourse among the scholars and observers of Islam. Frequently, a scientific study of myth leads to an extreme ideological analysis. From the debates, the side that is in favor of religion is systematically typed into pro and contra. The pro-myth side always says that myth is spirit of life that can arouse the vitality in real life. While, the negative side says that myth merely abstracts the concrete things. In other words, the pro side says that myth concretizes the abstract things, while the contra side is the opposite. From the different perspective, this writing intentionally uncovers their academic-philosophical reasons and identifies the reason why they think so. The questions are expected to reveal the sociological background of each initiator of the concept and theory of myth. Mitos selalu menjadi wacana yang diperdebatkan di antara para ilmuwan dan pengamat Islam. Seringkali, sebuah studi ilmiah tentang mitologi mengarah pada analisis ideologis ekstrem. Dari perdebatan, sisi yang mendukung agama adalah sistem yang secara tipikal akan menjadi pro dan kontra. Sisi pro-mitos selalu mengatakan bahwa mitos adalah semangat hidup yang bisa membangkitkan vitalitas dalam kehidupan nyata. Sementara, sisi negatifnya mengatakan bahwa mitos hanya menggambarkan hal-hal konkret. Dengan kata lain, pihak pro mengatakan bahwa mitos mengkonsolidasikan hal-hal abstrak, sementara sisi kontra adalah kebalikannya. Dari perspektif yang berbeda, tulisan ini sengaja mengungkapkan alasan filosofis akademisnya dan mengidentifikasi alasan mengapa demikian. Pertanyaan tersebut diharapkan bisa mengungkapkan latar belakang sosiologis masing-masing pemrakarsa konsep dan teori mitos.
Islam di Sicilia: Asal-usul, Kemajuan dan Kehancuran Munawir, M. Fajrul
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.436

Abstract

Islam authority in Sicilia was being parts of history of Islamic civilization in Europe. The aim of this article is tried to explain background, progression and decline of Islam in Sicilia. Glory of Islam in Sicilia had started in Bani Aghlab period. Bani Aghlab period had already been shaping the important civilization of spreading Islam in Europe 184 H/800 M. Sicilia become center of science and Islamic culture in Europe. Great Land is epithet of prosperity in Sicilia. Decline of Sicilia had appeared when reformation authority from Aghlabiyah to Fatimiyah. Christian Romawi succeeded dominate Sicilia in 871 M until 1090 M. Finally, Sicilia had been formed golden history and spreading Islamic civilization in Europe. Islam authority in Sicilia was being parts of history of Islamic civilization in Europe. The aim of this article is to explain background, progression and decline of Islam in Sicilia. Glory of Islam in Sicilia had started in Bani Aghlab period. Bani Aghlab period had already been shaping the important civilization of spreading Islam in Europe 184 H/800 M. Sicilia become center of science and Islamic culture in Europe. Great Land is epithet of prosperity in Sicilia. Decline of Sicilia had appeared when reformation authority from Aghlabiyah to Fatimiyah. Christian Romawi succeeded to dominate Sicilia in 871 M until 1090 M. Finally, Sicilia had been formed golden history and spreading Islamic civilization in Europe.
Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia: Kajian Historis Dari Tradisional Menuju Kontemporer Asrori, Mohammad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v10i1.4597

Abstract

Observing Islamic education in Indonesia, historically, it was started from a religious boarding school called "Pesantren". It received an outstanding welcome from society, although it had not been called yet as a legal and formal education in Majapahit era. However, in Mataram era, education in pesantren had started crawling step by step to the direction of formalization. Moreover, at the same time, many social-religious organizations, education, discourses were established, such as Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, al-Irsyad, Jamyyatul Washliyah, and etc. Our Islamic education recently starts to develop rapidly in which developmental pattern is more modern and contemporary. Besides, there are some Islamic schools from high schools to state or private universities such as UIN, Islamic University of Indonesia (UII), Muhammadiyah University of Malang (UMM), Darul Ulum University of Jombang (UNDAR), and etc. The best solution of our Islamic education today can be seen from many opinions such as As-Saibany, Azyumardi Azra, A.Malik Fajar, M. Tholhah Hasan. Mengamati pendidikan Islam di Indonesia, secara historis, dimulai dari pesantren yang disebut "pesantren". Ini mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat, meski belum disebut sebagai pendidikan hukum dan formal di era Majapahit. Namun, di era Mataram, pendidikan di pesantren sudah mulai merangkak selangkah demi selangkah sampai ke arah formalisasi. Selain itu, pada saat bersamaan, banyak organisasi sosial keagamaan, pendidikan, wacana didirikan, seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, al-Irsyad, Jamyyatul Washliyah, dan lain-lain. Pendidikan Islam kita baru-baru ini mulai berkembang dengan cepat dimana pola perkembangannya lebih banyak. modern dan kontemporer. Selain itu, ada beberapa sekolah Islam dari sekolah menengah sampai universitas negeri atau swasta seperti UIN, Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Darul Ulum Jombang (UNDAR), dan lain-lain. Solusi terbaik Pendidikan Islam kita saat ini bisa dilihat dari banyak pendapat seperti As-Saibany, Azyumardi Azra, A.Malik Fajar, M. Tholhah Hasan.
Tipologi Pemikiran Cendekiawan Muslim Ridwan, Ridwan; Rosyidi, Abdul Wahab
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v8i2.4751

Abstract

In the process of the development of intellectualism, Moslem scholars were successful to make a dynamic atmosphere in Islamic thoughts to point out. Their popular and well-socialized thoughts develop and bring positive impact on the knowledge and the perception of religion in the society. The development of the scholar's Islamic thought has different characteristic and pattern which is interesting to analyse. The purpose of this paper is to explore the Islamic thought especially those which were written in daily newspaper  Jawa Pos  during the Ramadhan 1425 H. The essays written by some Moslem scholars have different characteristic as the understandings about fasting are varied. The scholars have different perception on it. The different point of view creates different way of thinking covering formalistic, transformatic, realistic, and Idealistic which all lead to sociocultural change. Dalam proses pengembangan intelektualisme, ulama muslim berhasil membuat suasana dinamis dalam pemikiran Islam untuk ditunjukkan. Pikiran mereka yang populer dan disosialisasikan dengan baik berkembang dan membawa dampak positif pada pengetahuan dan persepsi agama di masyarakat. Perkembangan pemikiran Islam cendekiawan memiliki karakteristik dan pola yang berbeda yang menarik untuk dianalisis. Tujuan makalah ini adalah untuk menggali pemikiran Islam terutama yang ditulis di surat kabar Jawa Pos selama bulan Ramadhan 1425 H. Esai yang ditulis oleh beberapa ilmuwan muslim memiliki karakteristik yang berbeda karena pemahaman tentang puasa bervariasi. Para ilmuwan memiliki persepsi yang berbeda mengenai hal itu. Sudut pandang yang berbeda menciptakan cara berpikir yang berbeda yang mencakup formalistik, transformasional, realistis, dan Idealistik yang semuanya mengarah pada perubahan sosiokultural.
Doa dalam Tradisi Jawa Rosyidi, Abdul Wahab
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.2199

Abstract

Doa etymologically means request something to God in certain ways. while some ulama define doa is a self statement presence to Allah the Almighty about our weakness, shortages, inabilities, and disgraces, then we ask Allah the Almighty in order the weaknesses, shortages, inabilities, and humiliations are removed and replaced with the strengths, capabilities and a high degree both in human sight and in Allah sight. In the theory needs said, that basically human beings need to feel safe (safety need), and the safety need leads to the two forms, namely: safety needs of life and safety needs of the property. Safety needs emerged as the most important requirement if psychology needs have been fullfilled. this behavior as reflected in the lives of Javanese who always do doa  in the form of slametan ceremony. Slametan aims to achieve slamet (safety), namely a condition in which the events will move smoothly to follow a predetermined path and will not happen misfortunes to just anyone. Doa secara etimologi artinya memohon sesuatu kepada Allah SWT dengan cara- cara tertentu. Sedangkan beberapa ulama mendefinisikan doa berarti pernyataan diri ke hadirat Allah SWT tentang kelemahan, kekurangan, ketidakmampuan serta kehinaan kita, kemudian kita memohon sesuatu kepada Allah SWT agar kelemahan, kekurangan, ketidakmampuan serta kehinaan ini diangkat dan digantikan dengan kelebihan, kemampuan serta derajat yang tinggi baik di sisi manusia maupun di sisi-Nya. Dalam teori kebutuhan dikatakan; bahwa pada dasarnya manusia membutuhkan rasa aman (safety need), dan rasa aman itu mengarah pada dua bentuk yakni kebutuhan keamanan jiwa dan keamanan harta. Kebutuhan rasa aman muncul sebagai kebutuhan yang paling penting kalau kebutuhan psikologis telah terpenuhi. Hal tersebut sebagaimana tercermin dalam perilaku hidup orang Jawa yang selalu melakukan Doa dalam bentuk upacara slametan. Slametan bertujuan untuk mencapai keadaan slamet, yaitu suatu keadaan dimana peristiwa-peristiwa akan bergerak mengikuti jalan yang telah ditetapkan dengan lancar dan tak akan terjadi kemalangan-kemalangan kepada sembarang orang.
At-Taghayyur An-Nutqiy fi Mufradat Al-Arabiyah Ad-Dakhilah fi Al-Lughah Al-Indunisiah Lubis, Torkis
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v9i3.4647

Abstract

One of language realities is that Indonesian is affected by Arabic. It is proven by many Arabic vocabulary items which are absorbed in Indonesian. However, after adopting the Arabic words into Indonesian, it has changed in Phonemics, Syntax, and Semantics. In Phonemics, the changing of Arabic to Indonesian can be seen in “ث” which becomes “s”; “ح” to “h”; “ذ” to “z”; “ص” to “s”; “ض” to “d”; “ط” to “t”; “ظ” to “z”; “ع” to “_’_”;  “غ” to “g”; and “ق” to “k”. Besides, there are still many changes in the Phonemics that is the change of alphabetic sound which has harakat becomes non-harakat and vice versa. For example, the sound of “a” becomes “e”, the lost of space and long sound, tasydid becomes non-tasydid, the unsounded of “ء” in the end of the word, and many more. Salah satu realitas bahasa adalah bahwa Bahasa Indonesia terpengaruh dengan Bahasa Arab. Hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya kosa kata Arab yang diserap Bahasa Indonesia. Tapi kosa kata Arab tersebut setelah diadopsi Bahasa Indonesia mengalami berbagai perubahan di dalam sistem bunyi, sintaksis, dan semantik. Di dalam sistem bunyi kosa kata Bahasa Arab yang diadopsi Bahasa Indonesia mengalami perubahan, seperti bunyi “ث” menjadi bunyi “s”; bunyi “ح” menjadi “h”; bunyi “ذ” beralih ke bunyi “z”; bunyi “ص” menjadi “s”; bunyi “ض” menjadi “d”; bunyi “ط” beralih menjadi “t”; bunyi “ظ” beralih ke bunyi “z”; bunyi “ع” beralih ke bunyi “_’_”;  bunyi “غ” menjadi “g”; dan bunyi “ق” menjadi “k”. Di samping itu, ada perubahan lain yang berkaitan dengan sistem bunyi, yaitu perubahan bunyi huruf yang berharakat menjadi tidak berharakat atau sebaliknya. Bunyi vokal “a” menjadi bunyi vokal “e”. Bunyi jeda lama menjadi biasa, bunyi tasydid beralih ke bunyi tanpa tasydid, dan tidak adanya bunyi “ء” yang ada di akhir kata dan lain sebagainya.
Pluralisme Budaya dalam Reformasi Hukum di Indonesia Herry, Musleh
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v5i1.5151

Abstract

Every product of legislation that has been issued or ratified, must be obeyed by the Indonesian people, both individually and in groups. In order for every regulation issued by the community to be obeyed by the community, it must meet several conditions, namely: the regulations to be and/or made must really accommodate what the culturally diverse community wants. However, the things that are accommodated must be those that do not interfere with the development of society, nation and state. After the regulation is issued or ratified, in order to run well in the sense of being obeyed by the wider community, it must be equipped with proportional law enforcers and really have an enforcement spirit so that the regulations that are followed can be implemented consistently and justice will be achieved, both according to the regulations. themselves and according to society. Setiap produk peraturan perundang-undangan yang telah dikeluarkan atau disahkan, seharus ditaati oleh masyarakat Indonesia baik secara individual maupun secara kelompok. Agar setiap peraturan yang dikeluarkan tersebut di taati oleh masyarakat maka harus memenuhi beberapa syarat, yaitu: peraturan yang akan dan/atau dibuat itu harus benar-benar mengakomudasi apa yang di inginkan oleh masyarakat yang beragam budaya tersebut. Akan tetapi hal-hal yang diakomodasi itupun harus yang tidak mengganggu perkembangan masyarakat, bangsa dan negara. Setelah dikeluarkan atau disahkan peraturan tersebut, agar dapat berjalan dengan baik dalam arti dipatuhi oleh masyarakat luas, harus dilengkapi dengan penegak hukum yang proporsional dan benar-benar mempunyai jiwa penegak sehingga peraturan yang dijalani dapat terlaksana secara konsekuen dan akan tercapai keadilan, baik menurut peraturan itu sendiri maupun menurut masyarakat.
Menyingkap Feminisme Perspektif Akuntansi Islam Alamsyah, Ahmad Fahrudin
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v3i1.4687

Abstract

Modern culture is actually dominated by masculine traits, such as material life, expansive rational, exploitative, competitive, egoistic, quantitative, and so on. Femininity will give a place to masculinity to power while femininity is behind. This is evident from the existence of a comparative study between mainstream accounting and Shari'ah accounting, in an attempt to expose the Ah-Shari'ah feminism that has been marginalized. This paper discusses Islamic accounting perspective as a new paradigm. The essence of Islamic accounting is essentially an attempt to deconstruct modern accounting into a more humanist and value-packed form. Shari'ah accounting is a new technology that shows that social, moral, and spiritual values are an important concern in determining the principles to be developed. Therefore, the concept of accountability in shari'a accounting is more emphasis on two mutually balanced sides of the concept of responsibility in the context of Hamblum minallah and Hamblum minannas. In the first concept is a form of manifestation of worship, which relates between human beings as being with Al-lah as-the Creator. While the second refers more to the existence of human beings as social beings. This form of accountability is manifested in the objectives of shari'ah accounting. Budaya modern sebetulnya didominasi oleh sifat maskulin, seperti kehidupan yang material, rasional ekspansif, eksploitatif, kompetitif, egois, kuantitatif, dan sebagainya. Femininitas akan memberikan tempat kepada maskulinitas untuk berkuasa sementara femininitas berada di belakang. Hal ini tampak dari adanya suatu studi komparatif antara akuntansi mainstream dengan akuntansi Syari’ah, sebagai upaya untuk menyingkap feminisme Ah-Syari’ah yang selama ini terpinggirkan. Tulisan ini membahas perspektif akuntansi Islam sebagai paradigma baru. Esensi dari akuntansi Islam pada dasarnya merupakan sebuah upaya mendekonstruksi akuntansi modem ke dalam bentuk yang lebih humanis dan sarat nilai. Akuntansi syari’ah merupakan suatu teknologi baru yang menunjukkan bahwa nilai sosial, moral, dan spiritual menjadi suatu perhatian penting dalam penetapan prinsip-prinsip yang akan dikembangkan. Oleh karena itu konsep akuntabilitas pada akuntansi syari’ah lebih menekankan pada dua sisi yang saling berimbang yakni konsep pertanggunggungjawaban dalam konteks Hamblum minallah dan Hamblum minannas. Pada konsep pertama merupakan bentuk manifestasi dari ibadah, yang berhubungan antara manusia sebagai mahluk dengan Al­lah sebagai-Sang Pencipta. Sedangkan yang kedua lebih mengacu pada eksistensi manusia sebagai mahluk sosial. Bentuk akuntabilitas tersebut dimanifestasikan dalam tujuan akuntansi syari’ah.
Acculturation of Islam and Javanese Culture in Public Servant Ethics Mu’adi, Sholih; Sofwani, Ahmad
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v20i2.5355

Abstract

The acculturation of Islam and Javanese culture has occurred since the golden age of Islamic kingdoms in Java. Islamic boarding school (pesantren) has been developing widely during the age of Demak and Mataram kingdoms. This development is a product of acculturation between Islamic and Hindu education systems. Islamic boarding school during the heyday of Islamic kingdoms is the institution of education designed to develop and produce royal bureaucrats or nobility officials who understand both Islam ethic and Javanese culture. In recent days, Islamic boarding school has successfully produced leaders who are not only religious as Moslem but also fostering Javanese culture. The leader is a role-model for the followers. Leader behavior is the most central issue in the eye of followers. Therefore, the leader is always required to show good attitudes and positive values, and both virtues can be evolved from the understanding of religion and culture (especially Javanese culture). In accord with Javanese philosophy, human life perfection is understood in term of a totality involving creation (cipta), sense (rasa), and wish (karsa). This totality gives a description that public servant ethics cannot escape from the effect of Islam religion and Javanese culture. Akulturasi budaya Islam dan Jawa telah terjadi sejak zaman keemasan kerajaan Islam di Jawa. Pesantren telah berkembang secara luas pada zaman kerajaan Demak dan Mataram. Perkembangan ini merupakan produk akulturasi antara sistem pendidikan Islam dan Hindu. Pondok pesantren selama masa kejayaan kerajaan Islam menjadi lembaga pendidikan yang dirancang untuk mengembangkan dan menghasilkan birokrat kerajaan atau pejabat bangsawan yang memahami etika Islam dan budaya Jawa. Kini pesantren telah berhasil menghasilkan pemimpin yang tidak hanya beragama Islam tetapi juga membina budaya Jawa. Pemimpin adalah teladan bagi para pengikut. Perilaku pemimpin termasuk hal utama di mata pengikut. Oleh karena itu, pemimpin selalu dituntut untuk menunjukkan sikap yang baik dan nilai-nilai positif, dan kedua kebajikan tersebut dapat berevolusi dari pemahaman agama dan budaya (khususnya budaya Jawa). Sesuai dengan filsafat Jawa, kesempurnaan hidup manusia dipahami dalam arti totalitas yang melibatkan penciptaan (cipta), rasa (rasa), dan harapan (karsa). Totalitas ini memberikan gambaran bahwa etika pegawai negeri tidak bisa lepas dari pengaruh agama Islam dan budaya Jawa.

Filter by Year

1999 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2025): EL HARAKAH Vol 27, No 1 (2025): EL HARAKAH Vol 26, No 2 (2024): EL HARAKAH Vol 26, No 1 (2024): EL HARAKAH Vol 25, No 2 (2023): EL HARAKAH Vol 25, No 1 (2023): EL HARAKAH Vol 24, No 2 (2022): EL HARAKAH Vol 24, No 1 (2022): EL HARAKAH Vol 23, No 2 (2021): EL HARAKAH Vol 23, No 1 (2021): EL HARAKAH Vol 22, No 2 (2020): EL HARAKAH Vol 22, No 1 (2020): EL HARAKAH Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH Vol 21, No 1 (2019): EL HARAKAH Vol 20, No 2 (2018): EL HARAKAH Vol 20, No 1 (2018): EL HARAKAH Vol 19, No 2 (2017): EL HARAKAH Vol 19, No 1 (2017): EL HARAKAH Vol 18, No 2 (2016): EL HARAKAH Vol 18, No 1 (2016): EL HARAKAH Vol 17, No 2 (2015): EL HARAKAH Vol 17, No 1 (2015): EL HARAKAH Vol 16, No 2 (2014): EL HARAKAH Vol 16, No 1 (2014): EL HARAKAH Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH Vol 15, No 1 (2013): EL HARAKAH Vol 14, No 2 (2012): EL HARAKAH Vol 14, No 1 (2012): EL HARAKAH E-Harakah (Vol 14, No 2 Vol 13, No 2 (2011): EL HARAKAH Vol 13, No 1 (2011): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 13, No 1 Vol 12, No 3 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 2 (2010): EL HARAKAH Vol 12, No 1 (2010): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 12, No 3 el-Harakah (Vol 12, No 2 el-Harakah (Vol 12, No 1 Vol 11, No 3 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 2 (2009): EL HARAKAH Vol 11, No 1 (2009): EL HARAKAH el-Harakah (Vol 11, No 2 el-Harakah (Vol 11, No 1 Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 2 (2008): EL HARAKAH Vol 10, No 1 (2008): EL HARAKAH Vol 9, No 3 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 2 (2007): EL HARAKAH Vol 9, No 1 (2007): EL HARAKAH Vol 8, No 3 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 2 (2006): EL HARAKAH Vol 8, No 1 (2006): EL HARAKAH Vol 7, No 1 (2005): EL HARAKAH Vol 6, No 2 (2004): EL HARAKAH Vol 5, No 2 (2003): EL HARAKAH Vol 5, No 1 (2003): EL HARAKAH Vol 4, No 3 (2002): EL HARAKAH Vol 4, No 2 (2002): EL HARAKAH Vol 3, No 1 (2001): EL HARAKAH Vol 2, No 2 (2000): EL HARAKAH Vol 2, No 1 (2000): EL HARAKAH Vol 1, No 3 (1999): EL HARAKAH More Issue