cover
Contact Name
Ayusia Sabhita Kusuma
Contact Email
ayusia.kusuma@unsoed.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
insignia.hi@unsoed.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Insignia: Journal of International Relations
ISSN : 20891962     EISSN : 25979868     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Insignia Journal of International Relations is published biannually (April & November) by Laboratorium of International Relations, Faculty of Social and Political Sciences, Jenderal Soedirman University. This journal contains articles or publications from all issues of International Relations such as: International Politics, Foreign Policy, Security Studies, International Political Economy, Transnational Studies, Area Studies & Non-traditional Issues.
Arjuna Subject : -
Articles 206 Documents
The Compatibility of International Law and Islamic Law (Shari'a): A Case Study of Indonesia Nuriyeni Kartika Bintarsari
Insignia: Journal of International Relations Vol 1 No 01 (2014): November 2014
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.143 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2014.1.01.428

Abstract

Tulisan ini menganalisa apakah ada persamaan antara hukum internasional yang bersumber dari Barat dan hukum Islam (Syariah) yang banyak diterapkan di negara-negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam antara lain Negara-negara di Timur Tengah, sebagian Afrika (NegaranegaraMagribi), dan sebagian negara di Asia Tenggara antara lain Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Hukum internasional dan Hukum Islam (Shari’a) memiliki persamaan mendasar dalam hal hak asasi manusia terutama jika dikaitkan dengan perlakuan yang sama apapun jenis kelaminnya. Tulisan ini mencoba menganalisa persamaan antara hukum internasional dan hukum Islam terkait hak-hak perempuan dalam pernikahan. Propinsi Aceh, Propinsi Sulawesi Selatan dan Propinsi Jawa Barat adalah 3 (tiga) propinsi di Indonesia yang menjadi studi kasus dari tulisan ini. Kata-kata kunci: Indonesia, Hukum Internasional, Hukum Islam (Syariah), Hak -hak perempuan
Donald Trump, America First, dan Deglobalisasi: Bagaimana Kelanjutannya? Helsi Eka Putri; Aspin Nur Arifin Rivai
Insignia: Journal of International Relations Vol 6 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1383.331 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2019.6.1.1318

Abstract

Abstrak Terpilihnya Donald Trump di satu sisi menjadi primadona bagi basis politik ultra kanan atau kadang disebut the looser of globalization, di sisi lain sebagai ancaman bagi pendukung globalisasi khususnya mereka (baik negara, kelompok pebisnis, dan masyarakat transnasional) yang khawatir atas menguatnya fenomena deglobalisasi. Fenomena Trump dan deglobalisasi menjadi perhatian artikel ini, dengan mengajukan pertanyaan kunci yaitu: mengapa di tengah globalisasi yang berlangsung, kebijakan luar negeri Trump justru menempuh pendekatan ekonomi politik proteksionis? Tulisan ini pada dasarnya menguji kembali relasi antar negara dan globalisasi dengan temuan bahwa keterpilihan Trump merupakan perluasan tren deglobalisasi yang sebelumnya berlangsung pasca Krisis Finansial Global 2008. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pola deduktif deskriptif. Data akan berbentuk data sekunder dan data primer. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kebijakan Trump yang cenderung tertutup dalam kerjasama ekonomi-politik merupakan strategi rebalancing terhadap lawan utamanya yaitu China. Tulisan ini kemudian memprediksikan bahwa kebijakan ekonomi Trump dapat berkonstribusi pada AS sebagai negara superior yang semakin defisit. China lantas menjadi penyeimbang poros globalisasi (multilateral approach) disaat AS memilih proteksionis. Kata kunci: America First, Deglobalisasi, Globalisasi , Krisis Finansial Global (KFG) Abstract The election of Donald Trump on the one hand is a prima donna for the ultra right political base or sometimes called the looser of globalization, on the other hand as a threat to supporters of globalization especially those who are concerned about the strengthening of the deglobalisation phenomenon (countries, business groups and transnational communities). Trump's phenomenon and deglobalisation are of concern to this article, by asking key questions, namely: why in the midst of the ongoing globalization, Trump's foreign policy has taken the approach of a protectionist political economy? This paper basically reexamines relations between countries and globalization with the finding that Trump's electability is an expansion of the previous globalization trend after the 2008 Global Financial Crisis. This paper uses qualitative methods with descriptive-deductive pattern. Data will be presented as secondary and primer. The results of this research show that Trump's policy which tends leaning to isolationism from political-economic cooperation is a rebalancing strategy towards its main opponents namely China. This paper then predicts that Trump's economic policies can contribute to the US as a superior country that is increasingly deficit. China then became the axis of balancing globalization (multilateral approach) when the US chose protectionism. Keywords: America First, Deglobalisation, Globalization, Global Financial Crisis (GFC)
Peningkatan Kapasitas Organisasi Kepemudaan Kabupaten Banyumas Dalam Menghadapi ASEAN Community 2015 Elpeni Fitrah
Insignia: Journal of International Relations Vol 3 No 01 (2016): April 2016
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.425 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2016.3.01.462

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mencari formula yang tepat untuk memperkuat kapasitas organisasi kepemudaan diKabupaten Banyumas dalam menghadapi ASEAN Community 2015. Organisasi kepemudaan yang dilibatkan dalamkegiatan ini diharapkan nantinya dapat berperan dan berkontribusi bagi komunitasnya untuk mempersiapkan diridalam menghadapi diberlakukannya ASEAN Community 2015. Penelitian ini menggunakan metode kualititatifdengan pendekatan action research. Peneliti membangun kesimpulan berdasarkan pengamatan dan observasi padaorganisasi kepemudaan dibawah koordinasi Komite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Banyumas. PemilihanKNPI Kabupaten Banyumas sebagai mitra kegiatan karena organisasi ini adalah induk dari banyak organisasikepemudaan dengan berbagai macam platform. Organisasi-organisasi kepemudaan adalah instrumen potensial sebagaiagen sosialisasi ASEAN Community sekaligus yang paling mampu untuk mem-breakdown rencana aksipemberdayaan masyarakat agar siap menghadapi ASEAN Community 2015Kata-kata Kunci: AC 2015, Organisasi Kepemudaan, KNPI, ASEAN, Regionalisme AbstrakThis research aims to find the right formula to strengthen the capacity of youth organization in the Banyumas districtto face ASEAN community. Youth organization who were involved in this activity is hoped can participate andcontribute to their communities to prepare themselves in the face of 2015 ASEAN Community. This research usingqualitative methods by action research approach. Researchers build conclusions based on observations on youthorganization under coordination of (KNPI) Indonesian Youth National Committee of Banyumas district. The selectionof KNPI as a partner because the activities of this organization is the umbrella of numerous youth organizations withdifferent kinds of a platform in Banyumas. The youth organizations is a potential tool as an agent of the socializationof ASEAN Community to breakdown a plan of action of community empowerment to be ready for 2015 ASEANCommunity.Keywords: AC 2015, Youth Community, KNPI, ASEAN, Regionalism
Analisis Pendekatan Trust Politic Korea Selatan dalam Penyelesaian Hambatan Reunifikasi di Semenanjung Korea Elpeni Fitrah; Zakie Andiko Ramadhani
Insignia: Journal of International Relations Vol 5 No 2 (2018): November 2018
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.853 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2018.5.2.1222

Abstract

This research investigates on South Korea trust politic approach under Park Geun Hye administration to handle the challenges of Korean reunification in Korean Peninsula based constructivism perspective. There are third challenges that faced by South Korea within Korean reunification which is international community believed on these challenges. Those challenges are the differences of ideology and system between South and North Korea, South Korea and United States of America military provocation, and North Korea’s nuclear weapon program. The type of this research is qualitative research that used secondary data by desk research approach and also using explanation methods to analyse the topic. Based on the result of this research, by using constructivism perspective those problems are not relevan more as barrier for Korean reunification in Korean peninsula. Today, the main problem to Korean reunification is what researcher called with “trust deficit” and identity changed. So that’s why South Korea used this kind approach where a structure of mistrust and confrontation is replaced by that of trust and cooperation. This structure changing is hoped to increase the possibility of reunification in Korean Peninsula between South and North Korea in the future.
Upaya Diplomasi Indonesia dalam Forum G20 untuk Mewujudkan Framework for Strong, Sustainable and Balanced Growth 2008-2012 Arum Tri Utami; Renny Miryanti; Tundjung Linggarwati
Insignia: Journal of International Relations Vol 2 No 02 (2015): November 2015
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1092.091 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2015.2.02.455

Abstract

AbstractThe aim of this article is to give an information about the effort of Indonesia’s diplomacy in G20 tomake Framework for Strong Sustainable and Balanced Growth. Indonesia’s diplomacy in G20 is toreach the national interest. This national interest is make by the foreign policy. Diplomacy is the wayto reach the national interest. Indonesia has take a lot of effort in G20 particullary to creatFramework for Strong, Sustainable and Balanced Growth. G20 is significant multilateral forum inthe world. Therefore, Indonesia should maximise Indonesia’s dipomacy to reach the national interest. Keywords: Indonesia’s diplomacy, G20, Framework for Strong Sustainable and Balanced Growth AbstrakPenelitian ini berusaha menganalisis terkait dengan kepentingan, politik luar negeri dan upayadiplomasi Indonesia dalam forum G20. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis bagaimanaupaya diplomasi Indonesia dan apa saja kebijakan forum G20 yang dihasilkan dari upaya diplomasiIndonesia yang berkaitan dengan kepentingan nasional Indonesia khsusnya pada Framework forStrong, Sustainable and Balanced Growth . Fokus Penelitian ini ada pada periode 2008-2012. Tahun2008 diambil karena pada tahun tersebut forum G20 pertama kalinya dirubah menjadi pertemuantingkat tinggi kepala negara/pemerintahan. Tahun 2012 dipilih karena pada tahun tersebut terjadikrisis Eurozone dan hal ini berakibat pada peningkatan peran G20 dalam dunia internasional Keywords: diplomasi Indonesia , G20, Framework for Strong Sustainable and Balanced Growth
Pengaruh ASEAN Disability Forum Terhadap Pengembangan Ekonomi Penyandang Disabilitas di Indonesia Demeiati Nur Kusumaningrum; Olivia Afina; Riska Amalia Agustin; Mega Herwiandini
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 01 (2017): April 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.317 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.01.480

Abstract

AbstractDisabilities is a person who has a physical defect that affects their activity in society. Their problems like as discrimination, social imbalance, less of infrastructur, and the lack of employment opportunities is the assignment of the government to completion of that injustice. Indonesian became one of the country that haven’t be able to solve the problems of disability. It’s also be a serious discussion in ASEAN. So, in 2011 the ASEAN leaders agreed on the establishment of ASEAN Disability Forum as a container to accommodate the aspirations of ther disabilities in order to their justice. ASEAN Disability Forum expected to solve the problems of disability in other ASEAN countries, especially in Indonesia. The main problem is expected to be resolved is employment opportunities for the disabled so as to improve their lives.Keywords: Disabilities, ASEAN Disabiliy Forum, IndonesianAbstrakPenyandang disabilitas merupakan seseorang yang memiliki keterbatasan fisik sehingga mempengaruhi segala aktivitasnya di masyarakat. Permasalahan mereka seperti diskriminasi, ketimpangan sosial, keterbatasan infrastruktur, serta minim nya peluang kerja menjadi tugas pemerintah dalam penyelesaian ketidakadilan tersebut. Indonesia menjadi salah satu negara yang masih belum mampu menangani permasalahan penyandang disabilitas. Hal ini juga menjadi pembahasan serius di ASEAN. Sehingga, pada tahun 2011 para pemimpin ASEAN menyepakati dibentuknya ASEAN Disability Forum sebagai bentuk wadah untuk menampung aspirasi para disabilitas agar memperoleh keadilan mereka. ASEAN Disability Forum diharapkan mampu menyelesaikan permasalahan para disabilitas di negara ASEAN, terutama di Indonesia. Permasalahan utama yang diharapkan bisa terselesaikan yaitu kesempatan kerja bagi para penyandang disabilitas sehingga mampu meningkatan taraf hidup mereka.Kata-kata Kunci : Disabilitas, ASEAN Disability Forum, Indonesia
Konseptualisasi dalam Gastro Diplomasi: Sebuah Diskusi Kontemporer dalam Hubungan Internasional Riski M. Baskoro
Insignia: Journal of International Relations Vol 4 No 02 (2017): November 2017
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.358 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2017.4.02.666

Abstract

AbstractFood has a story and people are the sole object constructing the story. Food also has meaning for a community group,where tradition, customs, values, and geographical location will determine what kind of dish is placed in a servingdevice. In other words, food can not be separated from the cultural aspects of a community group, because of courseevery community or a nation has a distinctive style to the food and in the end can set the identity. The concept ofgastronomy is certainly not a rare and peculiar thing, but when it is combined with diplomacy, the story may bedifferent. A decade and a half ago, a leading weekly magazine raised the news about gastro diplomacy activities andmade International Relations scholars captivated to further interpret this concept. This paper will elaborate theconcepts, practices, and debates surrounding gastro diplomacy regarding disparities to similar concepts. In addition,this paper also tries to analyze the affiliation of gastro diplomacy with nation branding. The purpose of this paper isto provide a comprehensive overview of the concept of gastro diplomacy.Keywords: gastro diplomacy, cultural diplomacy, public diplomacy, nation branding AbstrakMakanan memiliki sebuah kisah dan manusia merupakan objek tunggal yang mengkonstruksi kisah itu. Makanan jugamemiliki makna bagi suatu kelompok masyarakat, dimana tradisi, adat istiadat, nilai-nilai sampai letak geografisakan menentukan hidangan jenis apa yang diletakan dalam sebuah peranti saji. Dengan kata lain, makanan tidak bisaterlepas dari aspek budaya suatu kelompok masyarakat, karena tentunya setiap kelompok masyarakat ataupun suatubangsa memiliki corak yang khas terhadap makanannya dan pada akhirnya dapat menata identitas. Konsep tentanggastronomi sudah tentu bukan hal langka dan ganjil, namun ketika ini dipadukan dengan diplomasi, ceritanya bisalain. Satu setengah dekade lalu, sebuah majalah mingguan terkemuka mengangkat berita tentang aktivitas gastrodiplomasi dan membuat para akademisi Hubungan Internasional terpikat untuk menginterpretasi lebih jauh konsepini. Tulisan ini akan mengelaborasi konsep, praktik, dan perdebatan seputar gastro diplomasi mengenai disparitasterhadap konsep-konsep yang serupa. Selain itu, tulisan ini juga mencoba menganalisis afiliasi gastro diplomasidengan nation branding. Tujuan dari tulisan ini untuk memberikan gambaran secara menyeluruh mengenai konsepgastro diplomasi.Kata-kata Kunci: Gastro Diplomasi, Diplomasi Kebudayaan, Diplomasi Publik, Nation Branding
Gagasan Human Security Dan Kebijakan Keamanan Nasional Indonesia Elpeni Fitrah
Insignia: Journal of International Relations Vol 2 No 01 (2015): April 2015
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.873 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2015.2.01.434

Abstract

AbstractThis paper discusses the application of human security concept in national security policy inIndonesia. Societal change towards democratization after reform and the ongoing security sectorreform process in Indonesia has impacted on the changing security paradigm from highly state centeredsecurity into the paradigms that are more concern to non-traditional issues such as humansecurity (people-centered security). Regardless of the pros and cons as well as the breadth of themeaning of the human security concept, the concept of human security is viewed in this paper as apoint of view (perspective) or the government guidelines for setting national security policy. Thispaper argues that Indonesia has put the idea of human security in its national security policy, butits implementation has not been so good. Individuals or human beings or citizens in the concept ofhuman security in Indonesia are defined as social beings who are bound with their community. Keywords: security, human security, National Security Act Draft, National Security Policy. AbstrakTulisan ini membahas penerapan konsep human security dalam kebijakan keamanan nasionalIndonesia. Perubahan sosial menuju demokratisasi setelah melewati era reformasi serta prosesreformasi sector keamanan yang tengah berlangsung di Indonesia berdampak pada berubahnyaparadigmn keamanan- dari konsep keamanan yang sangat terpusat pada keamanan Negara kedalam isu-isu yang lebih bersifat non-tradisional seperti human security (keamanan yang terpusatpada manusia). Terdapat banyak pro dan kontra serta pengertian yang luas dari konsep humansecurity, namun di tulisan ini human security akan dilihat sebagai perspektif atau acuan bagipemerintah untuk mengatur kebijakan mengenai keamanan nasional. Tulisan ini berargumenbahwa Indonesia telah meletakkan ide human security dalam kebijakan keamanan nasional, namunimplementasinya masih belum sempurna. Individu atau manusia atau warga negara dalam konsephuman security di Indonesia didefinisikan sebagai makhluk sosial yang terikat dengankomunitasnya. Kata-kata kunci: keamanan, human security, rancangan UU Keamanan Nasional, kebijakankeamanan nasional.
Analysis of Samyang Instant Noodle’s Market in Indonesia Using The Impact of Uncertainty Avoidance by Hofstede's Cultural Dimensions Septyanto Galan Prakoso; Randhi Satria; Nesya Cesari Kinanti; Retnaningtyas Puspitasari
Insignia: Journal of International Relations Vol 6 No 2 (2019): November 2019
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.437 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2019.6.2.1557

Abstract

Abstract Indonesia as the second-largest country in consuming instant noodles in the world surely enacts it to become a lucrative market for instant noodle manufacturers, including Samyang Foods from South Korea. The emerging popularity of the Korean Wave or Hallyu Wave has further encouraged the penetration of Samyang Foods products into the palate of Indonesia people. However, the issue of the halal logo on Samyang instant noodles began to arise in 2016 and this affected the sale of Samyang Foods products in Indonesia, bearing in mind 85% of Indonesians are Muslim. The issue of a halal label on Samyang instant noodle is indeed a worthy event to be researched and discussed. This article will talk about the impact of uncertainty avoidance in the acceptance of Samyang instant noodles by Indonesian people and the potential market of Indonesian instant noodle for Samyang Foods. The subject that the author examines is through journals article, books, official sites, and internet articles. A qualitative descriptive method is used by the author to analyze the case. The result of this study is expected to provide an overview of the uncertainty avoidance’s contribution to the acceptance of Samyang instant noodles by Indonesian people. Indonesian instant noodle market will be elaborated with the consideration of uncertainty avoidance aspects, such as trust and loyalty. In conclusion, this article shows that uncertainty avoidance has a significant impact on Samyang instant noodle consumption in Indonesia and serves the analysis of the huge potential for the market expansion of Samyang Foods. Keywords: halal label, Indonesia, Samyang instant noodle, Samyang Foods. Abstrak Indonesia sebagai negara kedua terbesar dalam konsumsi mi instan di dunia, menjadikannya sebagai pasar yang menggiurkan bagi produsen mi instan, tak terkecuali Samyang Foods dari Korea Selatan. Meningkatnya popularitas budaya Korea Selatan atau yang dikenal sebagai gelombang Hallyu, semakin mendorong penetrasi masuknya produk Samyang Foods ke dalam selera masyarakat Indonesia. Namun isu logo halal pada produk mi instan Samyang mulai mencuat di masyarakat pada tahun 2016 dan hal tersebut berpengaruh pada penjualan produk Samyang Foods di Indonesia, mengingat 85% penduduk Indonesia menganut agama Islam. Permasalahan mengenai label halal pada mie instan Samyang adalah salah satu topik yang layak untuk diteliti dan didiskusika lebih lanjut. Artikel ini akan membahas mengenai dampak dari uncertainty avoidance terhadap konsumsi mie instan Samyang oleh masyarakat Indonesia dan potensi yang dimiliki pasar mie instan Indonesia bagi Samyang Foods. Topik dalam artikel ini diteliti berdasarkan data dan informasi dari berbagai artikel jurnal, buku, laman resmi, dan artikel internet. Sedangkan dalam analisis penelitian, penulis menggunakan deskriptif-kualitatif untuk menganalisis permasalahan yang diangkat. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kontribusi konsep uncertainty avoidance terhadap keputusan konsumsi mie instan Samyang masyarakat Indonesia. Potensi pasar mie instan di Indonesia tersebut disajikan dengan mempertimbangkan aspek-aspek yang terkandung dalam konsep uncertainty avoidance, seperti kepercayaan dan loyalitas. Dengan demikian, artikel ini menyimpulkan bahwa uncertainty avoidance memiliki dampak yang signifikan terhadap keputusan konsumsi mie instan Samyang oleh masyarakat Indonesia dan adanya potensi besar atas pasar mie instan di Indonesia bagi Samyang Foods. Kata kunci: label halal, Indonesia, mie instan Samyang, Samyang Foods
Jalan Terjal Menuju ASEAN Economic Community: Kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas di Sektor UMKM Ayusia Sabhita Kusuma
Insignia: Journal of International Relations Vol 3 No 02 (2016): November 2016
Publisher : Laboratorium Hubungan Internasional, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.613 KB) | DOI: 10.20884/1.ins.2016.3.02.469

Abstract

AbstrakASEAN Economic Community 2015 menuntut liberalisasi perdagangan di tingkat nasional dan daerah untuk menjadi basis produksi dan pasar tunggal ASEAN. Untuk menghadapi ini, pembangunan daerah sebagai basis pembangunan nasional mesti mempersiapkan diri untuk memanfaatkan peluang dan meningkatkan daya saing ekonomi lokal. Kabupaten Banyumas adalah kabupaten yang potensial di Provinsi Jawa Tengah. Data menunjukkan bahwa sektor UMKM di Kab. Banyumas mengalami peningkatan baik dari segi jumlah usaha, penyerapan tenaga kerja, maupun nilai dari produk. Namun, permasalahan yang ditemui adalah kurang optimalnya akses pembiayaan atau modal UMKM, permasalahan di bidang pemasaran, serta kurangnya kualitas Sumber Daya Manusia. Perumusan kebijakan yang tepat guna untuk menghadapi permasalahan-permasalahan di sektor UMKM tersebut, adalah syarat utama yang menunjukkan dukungan Pemerintah Daerah terhadap UMKM. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektifitas kebijakan pemerintah daerah Kab. Banyumas di sektor UMKM dalam menghadapi ASEAN Community 2015.Kata-Kata Kunci: ASEAN Economic Community, Kebijakan, UMKM, Pembangunan DaerahAbstractASEAN Economic Community in 2015 demanding the liberalization of trade at national and local levels to be the basis of production and single market of ASEAN. To face this, local development as the basis foundation for national development should prepare to optimize the opportunities and increase the competitiveness of the local economic. Banyumas district is a potential district in Central Java Province. Data shows that SMEs sector in Banyumas district has escalated its development both in terms of the number of SMEs, absorption of work forces, and the increasing value of the products. Nevertheless, the problems are less deficient access of financing or SMEs capital, marketing, and the lack of the quality of human resources. The needed of formulating right policy to face problems in SMEs sector is the main requirement which shows support form local government. This study aims to assess the effectiveness of local government policy of Banyumas district in SMEs sector in the face of ASEAN Community 2015.Keywords: ASEAN Economic Community, Policy, Small Medium Enterprises, Local Development

Page 10 of 21 | Total Record : 206