cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 1,394 Documents
PENGERINGAN JAGUNG DENGAN METODE MIXED-ADSORPTION DRYING MENGGUNAKAN ZEOLITE PADA UNGGUN TERFLUIDISASI M Djaeni; A. Agusniar; D. Setyani; Hargono .
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman yang penting, sebagai sumber makanan dan obat. Penanganan pasca panen jagung yaitu pengeringan sangat menentukan kualitas jagung untuk penggunaan selanjutnya. Proses pengeringan dengan cara adsorpsi menjadi suatu pilihan untuk menggantikan sistim pengering jagung konvensional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu udara masuk, jenis zeolite, dan rasio berat jagung dan zeolite terhadap kecepatan pengeringan dan menghitung harga konstanta laju pengeringan. Pada penelitian ini, zeolite sebagai adsorben dicampur dengan jagung dengan rasio perbandingan tertentu dalam suatu unggun, kemudian difluidisasi dengan udara dengan suhu 30oC-50oC.  Udara akan menguapkan air dari jagung, dan pada saat yang sama, zeolite akan menyerap air dari udara ini, sehingga kelembaban udara akan terjaga rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pengeringan paling cepat ditandai oleh penurunan kadar air yang paling besar, yang terjadi pada suhu 50oC, dengan menggunakan zeolite sintetis, dan dengan rasio berat jagung dan zeolite adalah 25% : 75%. Harga konstanta laju pengeringan pada variabel ini adalah 0,0303. Hasil menunjukkan bahwa semakin meningkatnya suhu udara pengering maka penurunan kadar air semakin besar sehingga laju pengeringan semakin cepat. Kata kunci: adsorpsi; jagung; pengeringan; zeolite.
TOKSISITAS PEMBERIAN BERULANG INFUSA PEGAGAN (Centella asiatica (L.) Urb.) PADA TIKUS JANTAN GALUR Sprague-Dawley TINJAUAN TERHADAP PARAMETER HEMATOLOGIS Nurul Huda Oktriana1; Nurlaela .
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pegagan (Centella asiatica [L] Urb.) merupakan salah satu herba yang amat dikenal oleh masyarakat Indonesia. Banyaknya manfaat yang dimiliki, seperti antiinflamasi, imunostimulasi serta mudahnya mendapatkan herba ini merupakan faktor yang menyebabkan herba ini banyak digunakan masyarakat. Penelitian mengenai toksisitas pegagan masih sangat sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala toksik, spektrum efek toksik, dan hubungan antara dosis dengan spektrum efek toksik yang ditimbulkan oleh pemberian infusa pegagan selama 14 hari pada hewan uji dengan parameter hematologis (RBC, WBC, HCT, HGB, MCV, MCH, MCHC, dan PLT). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan acak pola searah dengan menggunakan 40 ekor tikus jantan galur Sprague-Dawley yang dibagi dalam  4 kelompok dosis perlakuan. Hewan uji kelompok I (kontrol) dipejani akuades 10 ml/kgBB, kelompok II-IV dipejani sediaan uji berturut-turut dengan dosis 450, 900, dan 1800mg/kgBB selama 14 hari. Sediaan uji yang dipakai dalam penelitian ini adalah infusa pegagan konsentrasi 10% (untuk dosis 450 dan 900 mg/kgBB) dan 15% (untuk dosis 1800 mg/kgBB). Parameter yang diamati meliputi: gejala klinik, perubahan berat badan, asupan makanan dan minuman serta pemeriksaan hematologis RBC, WBC, HGB, HCT, MCV, MCH, MCHC, dan PLT. Data kuantitatif dianalisis secara statistik dengan menggunakan ANAVA satu arah dilanjutkan dengan uji t-LSD dengan taraf kepercayaan 95%, sedangkan gejala toksik dianalisis secara kualitatif. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan analisis seluruh data kualitatif dan kuantitatif diketahui bahwa pemejanan infusa pegagan per oral menyebabkan ketoksikan pada hewan uji berupa berkurangnya asupan minuman pada hewan uji kelompok dosis 1800 mg/kgBB secara bermakna. Infusa pegagan dapat menurunkan kadar HGB, HCT, dan nilai MCV secara bermakna serta meningkatkan kadar PLT, nilai MCH, dan MCHC secara bermakna. Infusa pegagan tidak mempengaruhi kadar WBC dalam darah secara bermakna. Kata kunci: toksisitas pemberian berulang, Centella asiatica [L] Urb., hematologis
PENGARUH PEMODELAN TEKANAN KONTAK RATA-RATA TERHADAP MODEL KEAUSAN KONTAK SLIDING ANTARA SILINDER DENGAN BIDANG DATAR I. Syafa’at; S.A. Widyanto; . Jamari; R. Ismail
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian tentang keausan yang terjadi akibat kontak dari dua buah benda telah banyak dilakukan. Terdapat banyak studi untuk menganalisa keausan secara akurat dalam komponen permesinan, baik secara analitik maupun numerik. Paper ini membahas tentang pengaruh tekanan kontak rata-rata (average contact pressure) terhadap pemodelan keausan kontak sliding antara silinder dengan bidang datar. Model dibuat dengan menggunakan simulasi elemen hingga. Tekanan kontak rata-rata diperoleh dengan dua cara, yaitu dari hasil simulasi FEA dan dari model Hertz. Hasil studi ini menunjukkan bahwa model memiliki hasil yang bagus. Kata kunci: tekanan kontak rata-rata, kontak sliding, keausan, silinder
KARAKTERISTIK PENGECORAN LOST FOAM PADA BESI COR KELABU DENGAN VARIASI KETEBALAN BENDA . Sutiyoko; . Suyitno
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pengecoran lost foam pada besi cor kelabu dengan variasi ketebalan benda. Karakteristik yang diamati meliputi fluiditas cairan dalam cetakan, porositas, akurasi ukuran, kekerasan, struktur mikro dan kekasaran permukaan. Cetakan menggunakan pola styrofoam ketebalan 2 mm, 3,5 mm, 5 mm dan 6,5 mm ditanam dalam pasir silika kemudian dipadatkan dengan cara digetarkan. Cairan logam dituang ke dalam cetakan pada suhu sekitar 13500 C -13750 C.Fluiditas besi cor kelabu pada ketebalan 2 mm dapat mencapai panjang 83 mm dan semakin meningkat dengan meningkatnya ketebalan benda yakni 148 mm, 283 mm dan 352 mm. Porositas benda semakin meningkat dengan meningkatnya ketebalan benda dengan indikasi massa jenis aktualnya semakin menurun yakni 7,508 gr/cm3, 7,290 gr/cm3, 7,156 gr/cm3 dan 7,109 gr/cm3. Nilai rata-rata kekasaran permukaan semakin besar dengan bertambahnya ketebalan benda yakni 4,56 μm, 5,93 μm, 7,90 μm dan 8,44 μm.Akurasi ukuran benda mengalami peningkatan ukuran dari pola berturut-turut 16,11%, 10,65%, 10,59% dan 12,57%. Hal ini menunjukkan bahwa benda yang dibuat dengan pola styrofoam akan mengalami pembesaran ukuran dari pola yang dibuat. Kekerasan benda hasil cor semakin meningkat (Brinell Hardness Number berturut-turut 233, 274, 421, 551) dengan menurunnya ketebalan benda karena pendinginan yang lebih cepat sehingga terbentuk ledeburit lebih banyak.Kata kunci: lost foam casting, styrofoam, fluiditas, porositas
PENGOLAHAN LIMBAH CAIR TAHU MENJADI BIOGAS SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF Sri Subekti
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tahu merupakan makanan tradisional sebagian besar masyarakat di Indonesia, yang digemari hampir seluruh lapisan masyarakat. Selain mengandung gizi yang baik, pembuatan tahu juga relatif murah dan sederhana. Rasanya enak serta harganya terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Industri tahu dalam proses pengolahannya menghasilkan limbah, baik limbah padat maupun cair. Limbah padat dihasilkan dari proses penyaringan dan penggumpalan, limbah ini kebanyakan oleh pengrajin dijual dan diolah menjadi tempe gembus, kerupuk ampas tahu, pakan ternak, dan diolah menjadi tepung ampas tahu yang akan dijadikan bahan dasar pembuatan roti kering dan cake. Sedangkan limbah cairnya dihasilkan dari proses pencucian, perebusan, pengepresan dan pencetakan tahu, oleh karena itu limbah cair yang dihasilkan sangat tinggi. Limbah cair tahu dengan karakteristik mengandung bahan organik tinggi dan kadar BOD, COD yang cukup tinggi pula, jika langsung dibuang ke badan air, jelas sekali akan menurunkan daya dukung lingkungan. Sehingga industri tahu memerlukan suatu pengolahan limbah yang bertujuan untuk mengurangi resiko beban pencemaran yang ada. Mengingat industri tahu merupakan industri dengan skala kecil, maka membutuhkan instalasi pengolahan limbah yang alat-alatnya sederhana, biaya operasionalnya murah, memiliki nilai ekonomis dan ramah lingkungan. Pengolahan limbah tahu harus dikelola dengan baik dan dipelihara secara rutin. Dari berbagai teknologi pengolahan limbah yang sudah ada, maka akan dilakukan kajian untuk mengetahui teknologi pengolahan limbah tahu yang efektif dan efisien beserta kelebihan dan kekurangannya, dan dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan. Indonesia memiliki potensi kekayaan alam yang sangat melimpah untuk menghasilkan sumber energi alternatif. Oleh karena itu, pemanfaatan sumber-sumber energi alternatif yang terbaharukan dan ramah lingkungan menjadi pilihan. Salah satu energi terbaharukan adalah biogas, biogas memiliki peluang yang besar dalam pengembangannya. Kata kunci: Tahu, Limbah Cair Tahu,  Biogas, Bahan Bakar Alternatif
PENGARUH VARIASI KADAR AMILUM BIJI DURIAN (Durio zibethinus, Murr) SEBAGAI BAHAN PENGIKAT TERHADAP SIFAT FISIK DAN KIMIA TABLET PARASETAMOL . Sugiyono
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biji durian selama ini masih dianggap sebagai limbah oleh sebagian masyarakat, padahal biji durian mengandung amilum yang terdiri dari amilosa dan amilopektin yang dapat digunakan sebagai bahan pengikat tablet. Parasetamol memiliki sifat alir dan kompaktibilitas yang buruk, maka perlu dibuat granul dengan metode granulasi basah (Voigt, 1984).  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi kadar amilum biji durian sebagai bahan pengikat terhadap sifat fisik tablet parasetamol. Penelitian dilakukan dengan mencampur parasetamol dan mucilago amily biji durian (FI: 5%, FII: 7,5%, FIII: 10%, FIV: 12,5%, dan FV: 15%) lalu diberi laktosa, diayak, dan dikeringkan. Granul diayak kembali, ditambah primogel dan magnesium stearat. Campuran granul diuji waktu alir, sudut diam dan indeks pengetapan. Granul ditablet kemudian diperiksa sifat fisik tablet meliputi keseragaman bobot, kekerasan, kerapuhan, dan waktu hancur. Penetapan kadar zat aktif dilakukan sesuai dengan Farmakope Indonesia Edisi III. Data yang diperoleh dianalisis secara teoritis dengan membandingkan terhadap pustaka dan secara statistic ANAVA satu jalan dengan taraf kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan uji tuckey. Hasil yang diperoleh bahwa amilum yang terkandung dalam biji durian dapat digunakan sebagai bahan pengikat tablet parasetamol. Tablet dari semua formula memenuhi persyaratan sifat fisik tablet yang baik. Kekerasan dan waktu hancur tablet meningkat dengan meningkatnya kadar amilum biji durian sebagai bahan pengikat, sedangkan kerapuhan tablet semakin menurun. Kata kunci : amilum biji durian, bahan pengikat, tablet parasetamol
PENGARUH MEDIA KAPUR PADA PROSES TEMPERING TERHADAP SIFAT MEKANIK POROS S45C Tofik Hidayat; . Lagiyono; Bambang Suswoyo
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kab/Kota Tegal banyak berdiri industri kecil dan menengah (UKM) yang bergerak dalam bidang permesinan dan per -logam. Dalam pembentukan /penempaan logam banyak UKM yang menggunakan kapur sebagai media pendinginan/tempering. Kebiasaan tersebut berlangsung sampai sekarang atau generasi ketiga pemilik UKM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temper dengan media Kapur terhadap sifat mekanik Poros S45C yang telah menjadi kebiasaan para UKM.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan menggunakan material uji Baja Poros S45C. Proses quenching pada suhu 8700C dengan penahanan 30 menit dan temper dilakukan dengan suhu 3000C dengan penahanan 60 menitHasil uji komposisi menunjukkan material dasar termasuk dalam golongan medium carbon steel dengan kandungan karbon 0,51%,kekuatan tarik Baja S45C. Hasil uji Qunching-Temper dengan media pendingian udara bebas dan media kapur dihasilkan kekuatan tarik dari tempering kapur 1,164,43 N/mm2 dari tempering udara sebesar 1.096 N/mm2, demikian juga perpanjangan sebesar 3,62 % untuk pendinginan media udara dan 5,16 % untuk pendinginan media kapur , dengan kontraksi sebesar 32,39 % untuk udara dan 23,58 % untuk pendinginan kapur , kekerasan material lebih tinggi ( keras ) dengan tempering udara yaitu sebesar 233 HB dibandingkan dengan pendinginan media kapur sebesar 185,33 HB.Kata kunci :Qunching, Tempering, Poros S45C
SURFACE TOPOGRAPHICAL CHANGE DUE TO SLIDING CONTACT . Jamari; E. Saputra; R. Ismail; M. Taviqirrahman; D.J. Schipper
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2010): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 1 2010
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Many engineering applications often involve contacting surfaces. The contact can be either in the form of sliding, rolling or a combination of sliding and rolling. Sliding contact between mechanical components such as gears and cam and followers will result in wear. Wear is caused by mechanical or chemical interactions, and is a highly complex phenomenon. The mechanical engineers who faced the immediate problem of wear control in machinery had however to respond to the situation by formulating first order models based on purely mechanical concepts. This paper presents a model to predict the change of surface topography due to sliding contact or wear. The surface topography is represented by an asperity. The general Archard’s wear equation is employed in combination with finite element analysis for constructing the model. The development of contact pressure distribution and geometrical change are investigated as a function of sliding distance. Results show that for the same contact condition the wear depth of the asperity is affected dominantly by the sliding distance. Keywords: asperity, sliding contact, wear, elastic-plastic contact, finite element analysis.
PENGARUH VARIASI WAKTU DAN KONSENTRASI LARUTAN NaCl TERHADAP KEKERASAN DAN LAJU KOROSI DARI LAPISAN NIKEL ELEKTROPLATING PADA PERMUKAAN BAJA KARBON SEDANG Viktor Malau; Nelson Seleman Luppa
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan baja karbon sedang pada berbagai konstruksi termasuk kapal laut dan bangunan dalam air laut banyak ditemui di lapangan. Baja karbon sedang rentan terhadap korosi dalam media korosif air laut. Sifat tahan korosi baja dapat ditingkatkan dengan memberi lapisan nikel elektroplating pada permukaan baja tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi lama elektroplating (0, 5, 10, 15 menit) dan konsentrasi larutan NaCl (0,2; 0,4; 0,6; 0,8; 1,0 %) terhadap kekerasan dan laju korosi baja karbon sedang. Logam dasar (baja karbon sedang) yang dilapisi memiliki komposisi kimia (dalam % berat) 98,7 Fe; 0,313 C; 0,177 Si; 0,425 Mn; 0,011 P; 0,076 S; 0,038 Ni; 0,165 Cr; 0,007 V; 0,005 Al; 0,002 Ti dan 0,006 W.Spesimen yang digunakan berbentuk silinder dengan diameter 12 mm dan tebal 4 mm. Proses nikel elektroplating dilakukan dalam larutan elektrolit yang mengandung nikel dengan variasi lama elektroplating (0, 5, 10, 15 menit) pada tegangan 12 volt, suhu 40 oC dan kuat arus 3 A/dm2. Pengujian kekerasan dilakukan dengan indentasi Vickers pada beban 10 gram dan lama pembebanan 10 detik, sedang pengujian laju korosi dilaksanakan dengan metode polarisasi dengan sel tiga elektroda dalam larutan NaCl dengan konsentrasi larutan: 0,2; 0,4; 0,6; 0,8 dan 1,0 %.Hasil penelitian menunjukkan bahwa logam dasar (baja karbon sedang) mempunyai kekerasan sebesar 205,4 VHN0,01 dan laju korosi sebesar 90,76 mpy. Lapisan nikel meningkatkan kekerasan dan menurunkan laju korosi secara signifikan. Kekerasan meningkat, tetapi laju korosi menurun seiring dengan naiknya lama elektroplating. Laju korosi meningkat jika konsentrasi larutan NaCl naik. Lapisan mempunyai kekerasan tertinggi sebesar 329,6 VHN0,01 dengan laju korosi terendah sebesar 8,08 mpy untuk lama elektroplating 15 menit dan konsentrasi larutan NaCl sebesar 0,2 %. Lama elektroplating yang diperlukan adalah minimum 10 menit agar dihasilkan laju korosi relatif rendah untuk berbagai konsentrasi larutan NaCl.Kata kunci: lapisan nikel elektroplating, kekerasan dan laju korosi
PENGANEKARAGAMAN PRODUK GULA KELAPA MENJADI GULA SEMUT DENGAN PENGEMASAN SEBAGAI PRODUK PARIWISATA DALAM UPAYA MENINGKATKAN PENDAPATAN PENGRAJIN Deddy Kurniawan Wikanta
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2011): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 2 2011
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Industri gula kelapa  di desa Borobudur, merupakan industri yang telah diusahakan sejak lama,  akan tetapi sampai saat ini belum ada pengembangan produk, sehingga orang mengkonsumsi hanya sebatas  kebutuhan dapur, dan hanya dipasarkan di sekitar Borobudur pada pasar-pasar tradisional. Pemasaran di sekitar Borobudur ramai pada saat-saat tertentu yakni pada musim libur, namun hanya sedikit pelancong yang membeli gula kelapa sebagai buah tangan, disebabkan bentuk yang masih tradisional serta cara pemasaran yang kurang menarik konsumen. Permintaan gula kristal yang cukup potensial adalah dari hote-hotel disekitar Borobudur, kedai jamu, dan pusat oleh-oleh, selama ini hanya bisa memenuhi permintaan 30% nya, disebabkan peralatan yang masih tradisional (mengaduk dengan kayu dan menggerus dengan tempurung kelapa) untuk produksi gula semut, hal ini yang menyebabkan pengrajin gula kelapa hanya senang membuat gula cetak, karena prosesnya lebih mudah, walaupun harga jual gula kelapa lebih rendah dibanding gula semut.  Gula semut yang dihasilkan kualitasnya tidak stabil bahkan sering terjadi kegagalan proses produksi, hal ini disebabkan teknologi yang masih tradisional dan tidak terukur. Harga gula kelapa  di desa Borobudur  saat ini lebih murah dibandingkan di daerah lain tetapi sering mengalami kerugian karena kemasan yang tidak baik, yakni gula menjadi lembek karena sifat higroskopisnya. Maka dilakukan inovasi produk menjadi gula semut. Gula semut yang diproduksi harganya jauh lebih murah, kemasan menarik dan kualitas gulanya jauh bagus dibanding gula kelapa. Apabila produk dalam bentuk gula semut penjualan tidak tergantung hari pasaran, karena setiap saat hotel-hotel, kedai jamu sebagai konsumen, pusat penjualan buah tangan, mau menerima produk gula semut, sehingga relatif tidak ada penurunan harga jual, karena kerusakan produk. Mengingat hal diatas, diperlukan  alat pengkristal untuk  menghasilkan gula kelapa dalam bentuk kristal kecil-kecil (gula semut) yang mudah dioperasikan secara kontinyu dan produknya mudah dikonsumsi serta dikemas secara artistik dan menarik,  mempunyai umur simpan panjang, dapat dipasarkan  menjadi produk pariwisata, diharapkan dapat memperluas konsumen dan akan menaikkan harga jual produk. Kata kunci: gula semut-kristaliser-meningkatkan pendapatan

Page 17 of 140 | Total Record : 1394