cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi Fakultas Teknik
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 1,333 Documents
STUDI DESAIN KONSEPTUAL SISTEM BALANCE OF PLANT (BOP) PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU) SKALA KECIL Hariyotejo Pujowidodo
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini merupakan kegiatan untuk mendukung pelaksanaan program Pengembangan Pembangkit Listrik Skala Kecil kapasitas 2x7 MegaWatt (MW), sebagai tahap awal studi pendahuluan untuk mengumpulkan data dan informasi perancangan system Balance of Plant (BOP). Studi berisi tentang kajian filosofi desain dan penetapan model acuan yang akan digunakan dalam perancangan (desain) yang dilaksanakan berdasarkan eksplorasi data dan dan tinjauan pada beberapa standar referensi Heat Exchanger Institute (HEI), TEMA (Tubular Exchanger Manufacturer) dan ASME (American Society Mechanical Engineer) section VIII untuk komponen condenser, feedwater heater dan deaerator.yang terdapat dalam system BOP. Hasil studi yang diperoleh adalah berupa hasil analisa berupa sebuah desain konseptual sistem BOP untuk PLTU 2x7 MW yang meliputi data dan informasi parameter persyaratan, kerangka utama filosofi desain dan penetapan model/acuan yang akan digunakan.Kata-kata kunci : BOP, PLTU, filosofi desain, model/acuanKeywords : BOP, Steam Power Plant, Design Philosophy, Reference
PENGARUH TEMPERATUR TUANG DAN KETEBALAN BENDA TERHADAP KEKERASAN BESI COR KELABU DENGAN PENGECORAN LOST FOAM . Sutiyoko; . Suyitno
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Temperatur tuang cairan logam memegang peranan penting dalam produksi benda dengan metode pengecoran. Perbedaan ketebalan benda cor akan menghasilkan karakteristik produk yang berbeda walaupun dituang pada suhu dan cetakan yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur tuang dan ketebalan benda cor terhadap kekerasan besi cor kelabu yang diproduksi dengan metode pengecoran lost foam. Temperatur tuang berkisar antara 1300 – 1400 oC sedangkan ketebalan benda bervariasi dari 2 – 6,5 mm. Pola menggunakan styrofoam dengan massa jenis 9 kg/m3. Kekerasan benda cor berkurang dengan kenaikan temperatur tuang cairan logam. Ketebalan benda cor semakin besar juga menurunkan nilai kekerasan benda cor. Kekerasan besi cor kelabu sangat dipengaruhi oleh grafit yang terbentuk. Grafit memiliki sifat lunak sehingga semakin banyak grafit yang terbentuk maka besi cor kelabu tersebut semakin lunak.Kata kunci: temperatur tuang, kekerasan, pengecoran lost foam
STUDI ANALISIS PENGARUH VARIASI BEBAN DAN KECEPATAN TERHADAP LAJU KEAUSAN DIES PADA PROSES COLD UPSET FORGING ALUMINIUM DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE BERBASIS FEM Norman Iskandar; . Rusnaldy; Ismoyo Haryanto
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam proses micro forming perambatan dan pertumbuhan panas di pandang sebagai sebuahfenomena yang signifikan karena panas ini akan mempengaruhi proses pelumasan, tool life,microstruktur serta tentunya adalah sifat akhir dari produk yang dihasilkan. Energi mekanisdalam proses forging sebagian akan dirubah menjadi panas dimana panas ini timbul akibatadanya deformasi plastis serta gesekan dengan diesnya. Dalam proses forging yangmenggunakan sistem drop hammer, kombinasi dari variasi beban dan kecepatan tumbukanadalah variabel yang harus dikontrol untuk menciptakan energi yang optimum danmeminimalkan efek samping kerusakan pada die. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihatpengaruh variasi beban dan kecepatan jatuh terhadap kualitas dimensi produk yangdihasilkan dan efek wear yang muncul pada dies. Metode yang digunakan adalah denganmenggunakan Software Deform untuk melakukan simulasi prosesnya. Kondisi yang dimasukanadalah set up temperatur 20oC, variasi beban 75N, 85N, 95N, 105N, 115N, 125N denganketinggian jatuh beban adalah 25, 50, dan 75 mm. Material yang digunakan adalahAluminium murni dalam kategori jenis komersil berdimensi diameter 1,5mm dan panjang 5mm.Kata kunci: upset forging, aluminium, FEM, dies, wear
PENGARUH BENDING RADIUS PADA LIGHTENING HOLES PROCESS TERHADAP KERETAKAN AL 2024 T3 SHEET . Yurianto; Ardian Budi W; Eko Boedisoesetyo
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan bahan yang ringan dan kuat sangat diperlukan dalam pembuatan pesawat terbang, proses ligtening holes adalah salah satu cara efektif untuk mendapatkan konstruksi ringan tetapi mempunyai kekuatan dan kekakuan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bending radius yang tepat pada Al 2024 T3 sheet tanpa adanya retak. Adapun metode penelitian ini adalah mempersiapkan benda uji untuk bending radius pada proses lightening holes CAN 16070, dan melakukan penekanan menggunakan mesin eccentric press dengan variasi radius die bending yaitu BT 20, BT 30 dan BT 40. Kemudian melakukan uji tarik, uji keras mikro dan metalografi untuk melihat fenomena retak. Bending radius yang dapat diterima Al 2024 T3 sheet dalam proses lightening holes tanpa terjadi retak adalah dengan menggunakan die BT 20, yaitu dengan radius 3 mm dan diameter lobang 20 mm. Angka kekerasan rata-rata Al 2024 T3 sheet sebelum proses lightening holes adalah 149,64 HV. Sementara kekerasan setelah proses lightening holes meningkat sebesar 217,712 HV (dengan BT 20), 186,2 HV (dengan BT 30) dan 212,356 HV (dengan BT 40). Bending radius pada Al 2024 T3 sheet tanpa adanya retak die BT 20.Kata kunci: Al 2024 T3 sheet, lightening holes, bending radius, getas, retak
PENGARUH KUAT ARUS PADA PELAPISAN NICKEL DAN NICKEL-HARD CHROMIUM PLATING TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS PERMUKAAN BAJA AISI 410 Noor Setyo; Viktor Malau Viktor Malau
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh variasi kuat arus pada proses nickel dan nickel-hard chrome plating terhadap sifat fisis dan mekanis permukaan baja martensitik 410. Nickel-hard chrome plating diperoleh pada spesimen yang terlebih dahulu dilapisi dengan nickel plating, kemudian dilanjutkan dengan hard chrome plating. Sifat fisis dan mekanis yang dipelajari meliputi struktur mikro, tebal lapisan, kekerasan, laju korosi dan keausan sesudah diberi lapisan. Variasi kuat arus yang digunakan adalah 1,25; 1,5 dan 1,75 Amper pada tegangan dan lama pelapisan (30 menit) konstan. Nickel plating dilakukan dalam larutan elektrolit berupa watt’s bath dengan campuran 150 gr/l NiSO4, 30 gr/l NH4Cl, 30 gr/l H3BO3 pada temperatur 25 – 35 oC, pH sekitar 4 -6, agitasi udara dan anoda berupa batang nikel. Proses chromium plating menggunakan anoda batang Pb (lead) dan Sn (antimony) dan larutan elektrolit 300 gr/l CrO3, 3gr/l H2SO4 pada temperatur kerja 40–55 oC, pH sekitar 0,4 – 0,5 dan agitasi udara. Tebal lapisan dapat diketahui dengan mikroskop optik, kekerasan permukaan dengan uji mikro Vickers pada beban 25 gr, laju korosi dicari dengan alat sel tiga elektroda potensiostat dalam larutan 0,9 % NaCl, dan keausan diketahui dengan mesin Ogoshi High Speed Universal Wear Testing Machine. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tebal lapisan dan kekerasan meningkat bila kuat arus meningkat. Tebal lapisan nikel yang didapat lebih besar dari lapisan khromium untuk setiap lama pelapisan dan kuat arus sama. Kekerasan tertinggi pada kuat arus 1,75 A dengan lama pelapisan 30 menit untuk lapisan nikel, lapisan khromium, dan lapisan nickel-hard chrome secara berurutan adalah 335, 464 dan 534 VHN dengan tebal lapisan secara berurutan sebesar 52,01; 39,34 dan 69,63 mm. Laju korosi terendah pada kuat arus 1,75 A yang dihasilkan oleh lapisan nikel, lapisan khromium, dan lapisan nickel-hard chrome secara berurutan adalah sebesar 0,0172; 0,0078 dan 0,0231 mm/tahun. Sementara laju keausan terendah dari lapisan nikel, lapisan khromium, dan lapisan nickel-hard chrome secara berurutan adalah sebesar 2,150E-08; 1,053E-08 dan 7,453E-09 mm3/kgm.Kata kunci: nickel-hard chrome plating,tebal lapisan, kekerasan, korosi, keausan
PENGARUH KUAT ARUS PADA PELAPISAN NICKEL DAN NICKEL-HARD CHROMIUM PLATING TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS PERMUKAAN BAJA AISI 410 Noor Setyo; Viktor Malau
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh variasi kuat arus pada proses nickel dan nickel-hard chrome plating terhadap sifat fisis dan mekanis permukaan baja martensitik 410. Nickel-hard chrome plating diperoleh pada spesimen yang terlebih dahulu dilapisi dengan nickel plating, kemudian dilanjutkan dengan hard chrome plating. Sifat fisis dan mekanis yang dipelajari meliputi struktur mikro, tebal lapisan, kekerasan, laju korosi dan keausan sesudah diberi lapisan. Variasi kuat arus yang digunakan adalah 1,25; 1,5 dan 1,75 Amper pada tegangan dan lama pelapisan (30 menit) konstan.  Nickel plating dilakukan dalam larutan elektrolit berupa watt’s bath dengan campuran 150 gr/l NiSO4, 30 gr/l NH4Cl, 30 gr/l H3BO3 pada temperatur 25 – 35 oC, pH sekitar 4  -6, agitasi udara dan anoda berupa batang nikel. Proses chromium plating menggunakan anoda batang Pb (lead) dan Sn (antimony)  dan larutan elektrolit 300 gr/l CrO3, 3gr/l H2SO4 pada temperatur kerja 40–55 oC, pH sekitar 0,4 – 0,5 dan agitasi udara. Tebal lapisan dapat diketahui dengan mikroskop optik, kekerasan permukaan dengan uji mikro Vickers pada beban 25 gr, laju korosi dicari dengan alat sel tiga elektroda potensiostat dalam larutan 0,9 % NaCl, dan keausan diketahui dengan mesin Ogoshi High Speed Universal Wear Testing Machine.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tebal lapisan dan kekerasan meningkat bila kuat arus meningkat. Tebal lapisan nikel yang didapat lebih besar dari lapisan khromium untuk setiap lama pelapisan dan kuat arus sama. Kekerasan tertinggi pada kuat arus 1,75 A dengan lama pelapisan 30 menit untuk lapisan nikel,  lapisan khromium, dan lapisan nickel-hard chrome secara berurutan adalah 335, 464 dan 534 VHN dengan tebal lapisan secara berurutan sebesar 52,01; 39,34 dan 69,63 mm. Laju korosi terendah pada kuat arus 1,75 A yang dihasilkan oleh lapisan nikel, lapisan khromium, dan lapisan nickel-hard chrome secara berurutan adalah sebesar 0,0172; 0,0078 dan 0,0231 mm/tahun. Sementara laju keausan terendah dari lapisan nikel, lapisan khromium, dan lapisan nickel-hard chrome secara berurutan adalah sebesar  2,150E-08; 1,053E-08  dan  7,453E-09 mm3/kgm. Kata kunci: nickel-hard chrome plating,tebal lapisan, kekerasan, korosi, keausan
KARAKTERISTIK AISI 304 SEBAGAI MATERIAL FRICTION WELDING Moh Fawaid; Rifky Ismail; . Jamari; Sri Nugroho
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stainless steel tipe austenitic dipilih sebagai material untuk sebuah produk   karena sifat tahan korosi,  non magnetic dan weldability yang baik.  Beberapa peneliti menggunakan AISI 304 sebagai material riset yang disambung dengan material lain seperti alumunium dan copper dengan metode friction welding. Pengelasan gesek menggunakan parameter seperti friction time, friction pressure, upset time, upset pressure dan putaran spindle.  Untuk memudahkan analisa struktur mikro, Sathiya membagi spesimen menjadi 3 region, sedangkan Ozdemir membagi zona  menjadi fully plastic deformed zone (FPDZ), partial deformed zone (PDZ) dan deformed zone (DZ). Nilai kekerasan daerah sekitar sambungan AISI 304 menurut Paventhan adalah 490HV, Mumin Sahin nilai Hardness 225-250HV. Nilai kekerasan AISI 304-AISI 202 yang disambung dengan  friction time 30 dan 40 detik mempunya nilai kekerasan pada AISI 304 kekerasan HAZ sebesar  686 HV dan 567 HV. Nilai kekerasan yang berbeda didipengaruhi oleh friction time serta prosentase Cr didalam komposisi kimia material Kata kunci: friction welding, austenitic, hardness
PENGARUH PARAMETER LAS DAN KETEBALAN PELAT PADA PENGELASAN TITIK BAJA KARBON RENDAH TERHADAP KEKUATAN GESER . Sisworo; . Bayuseno; Sri Nugroho
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produk industri karoseri mobil, box dan bak angkut motor roda tiga kebanyakan menggunakan pelat baja karbon rendah. Perakitan komponen ini menggunakan las titik dengan parameter – parameter yang mempengaruhi kualitas pengelasan dianataranya : arus, waktu, gaya penekanan dan tebal pelat. Penelitian ini bertujuan mengetahui kombinasi variabel lasan terbaik terhadap kekuatan geser. Dalam melakukan eksperimen menggunakan desain Taguchi dengan 4 faktor sebagai variable bebas yaitu : waktu las (WT), arus las (WC), gaya penekanan (WF), tebal pelat (ST) dan 3 level untuk setiap factor sebagai variable terikat yaitu : level 1 terdiri dari 9 cycles; 7,8 kA; 1,8 kN; 0,9 mm, level 2 terdiri dari 10 cycles; 8,8 kA; 2,2 kN; 1 mm, level 3 terdiri dari 11 cycles; 9,8 kA; 2,6 kN; 1,1 mm, sehingga dipilih matriks orthogonal L9(34). Hasil pengujian tarik geser memperlihatkan bahwa untuk pengelasan pelat 0,9 mm dengan arus 9,8 kA, waktu 11 cycles, gaya penekanan 2,2 kN dicapai kekuatan geser terbesar 348 N/mm2 dan untuk pelat 1 mm dengan arus 9,8 kA, waktu 10 cycles, gaya penekanan 1,8 kN dicapai kekuatan geser terbesar 349 N/mm2 serta untuk 1,1 mm dengan arus 9,8 kA, waktu 9 cycles, gaya penekanan 2,6 kN dicapai kekuatan geser terbesar 351 N/mm2. Kondisi patahan geser terbesar ketiganya terjadi pada daerah pengaruh panas HAZ menjalar ke pelat induk, hal ini akibat pengaruh peningkatan arus las sedangkan pemakaian arus dibawah 9,8 kA yaitu 8,8 kA kondisi patahan geser pada HAZ dan 7,8 kA kondisi patahan geser pada manik las (nugget). Ranking pengaruh faktor yang signifikan adalah parameter : 1) arus las, 2) tebal pelat, 3) gaya penekanan, 4) waktu  las  dengan prediksi kuat geser pada kondisi optimal 351 N/mm2.
KAJIAN KOMPREHENSIF STRUKTUR MIKRO DAN KEKERASAN TERHADAP PADUAN Al-7,1Si-1,5Cu HASIL PENGECORAN DENGAN METODE EVAPORATIVE . Wijoyo; Achmad Nurhidayat; Osep Sulammunajat
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pengecoran masih banyak menjadi pilihan utama pada proses produksi di industri. Pilihan pada pengecoran ini disebabkan karena proses pengerjaan lain sangat tidak mungkin dilakukan, misalnya pada pembuatan komponen-komponen otomotif, rumah pompa, poros, baling-baling dan lain-lain. Metode pengecoran dengan menggunakan polystyrene foam sebagai pola cetakan yang ditimbun dalam pasir cetak merupakan metode pengecoran evaporative. Metode ini akan menghasilkan coran yang sesuai dengan pola cetakan yang dibentuk. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji struktur mikro dan kekerasan paduan Al-7,1Si-1,5Cu hasil coran yang dilakukan dengan metode evaporative. Bahan utama penelitian ini adalah paduan Al-7,1Si-1,5Cu, polystyrene foam sebagai pola cetakan dan pasir cetak. Pengecoran paduan Al-7,1Si-1,5Cu dilakukan dengan cara proses peleburan pada dapur krusibel dan  dituang pada variasi temperatur tuang 670, 700 dan 730oC. Pengujian hasil coran meliputi pengujian foto struktur mikro dan uji kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur mikro hasil pengecoran berubah dari  eutektik silikon yang berupa serpihan-serpihan panjang dan tebal pada temperatur tuang rendah, menjadi serpihan-serpihan pendek dan tipis diantara dendrite pada temperatur tuang tinggi. Nilai kekerasan semakin menurun seiring dengan meningkatnya temperatur tuang pada temperatur tuang 670, 700 dan 730oC, yaitu berturut-turut adalah 124,2 HB, 102 HB dan  96 HB. Kata kunci : paduan Al-7,1Si-1,5Cu, struktur mikro, kekerasan, evaporative, polystyrene foam
PENGARUH ARAH SERAT GELAS DAN BAHAN MATRIKS TERHADAP KEKUATAN KOMPOSIT AIRFOIL PROFILE FAN BLADES . Carli; . Widyanto; Ismoyo Haryanto
Prosiding SNST Fakultas Teknik Vol 1, No 1 (2012): PROSIDING SEMINAR NASIONAL SAINS DAN TEKNOLOGI 3 2012
Publisher : Prosiding SNST Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas tentang analisis pengaruh arah serat gelas dan bahan  matriks terhadap kekuatan mekanik pada komposit  airfoil profile fan blade. Spesimen penelitian menggunakan  serat gelas / epoxy dan serat gelas / polyester. Serat gelas yang digunakan jenis woven Roving, dengan jumlah lapisan serat  sebanyak 6 lembar, arah serat 0/90˚ dan ± 45˚ dan  fraksi volume serat masing-masing 20%. Serat gelas dipilih karena memiliki kekuatan, kekakuan, ringan, tahan terhadap korosi,  serta tahan temperatur tinggi sehingga cocok untuk pembuatan elemen mesin seperti dalam pembuatan automobile, pesawat terbang maupun maritim. Pemilihan metode dalam pembuatan sampel airfoil profile fan blade adalah dengan metode Hand Lay-Up, metode ini merupakan metode yang paling sederhana dan tidak memerlukan banyak biaya. Alat untuk menguji spesimen adalah mesin uji bending, dengan standar uji ASTM D 6272, dengan metode Four-Point Bending, sedangkan untuk uji tarik menggunakan mesin uji tarik (selvopulser) dengan standar uji ASTM D 3039. Hasil pengujian tarik dan bending menunjukkan bahwa airfoil profile fan blade dengan bahan serat gelas  / epoxy tegangan tarik maksimum dan tegangan bending lebih tinggi bila dibandingkan dengan komposit serat gelas / polyester. Sedangkan untuk arah serat menunjukkan bahwa komposit serat gelas dengan orientasi serat 0/90˚memiliki kekuatan tarik maksimum dan Modulus Elastisitas lebih tinggi bila dibandingkan dengan orientasi serat ±45˚. sebaliknya dilihat dari kelenturannya komposit orientasi serat ±45˚ nilai defleksinya lebih tinggi (lebih lentur). Kata kunci: Komposit, metode Hand Lay-Up, serat gelas / epoxy, serat gelas / polyester

Page 4 of 134 | Total Record : 1333