cover
Contact Name
Suharto
Contact Email
suharto@mail.unnes.ac.id
Phone
+628122853530
Journal Mail Official
suharto@mail.unnes.ac.id
Editorial Address
Gedung B2 Lt.1 Kampus Sekarang Gunungpati Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Harmonia: Journal of Research and Education
ISSN : 25412426     EISSN : -     DOI : 10.15294
Core Subject : Education, Art,
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles 1,219 Documents
KEMAMPUAN MENYUSUN KOMPOSISI MUSIK TARI PADA  MAHASISWA JUR. TARI UNJ (The ability to Compose Music Dance at Dance Departemen Students,  Jakarta University) Supriadi, Didin
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 4, No 2 (2003)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v4i2.712

Abstract

Penelitian   ini   untuk   data   kemampuan   menyusun   nada,   membuat komposisi musik mahasswa tari sebagai iringan koreografi tarinya. Sampelpenelitian   adalah   para   mahasiswa   Jurusan   Seni   Tari   FBS­UNJ   yang mengikuti mata kuliah iringan tari berjumlah 20 orang mahasiswa.Penelitian   in   menggunakan   metode   analisis kualitatif   menyangkut kemampuan menyusun nada­nada, membuat komposisi musik sekaligus mengadaptasikan   musik   iringan   pada   koreografi   tarinya   secara   selaras dan memiliki kesesuaian dengan penampilannya.Identifikasi kesesuaian musik dan koreografi tari mahasiswa melalui verifikai   penyesuaian   garapan   menentukan   nada­nada   kromatisasi, instrumen   yang   dipakai,   hingga   membuat   partitur   iringan   untuk disesuaikan kedalam koreografi tariannya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk dan pola musik yang digarap   mahasiswa   sangat   beragam.   Penyesuaian isntrumen ditekankanpada alat perkusi yang memiliki fungsi sama digunakan seperti Demung,   Saron,   untuk   pola   musik   Lancaran,   Ladrang,   dan   Ketawang. Pengembangan   pola   musik   garapan   seperti   unsur   vokal,   senggakan menjadi   variasi   penguat     untuk   memadukan   pola   lancarsan,   pola   ritmik musik   secara   dinamis.   Unsur   luk   dan   mebas   dipertunjukkan sebagai wujud   tekanan   suara   agar   mampu   menimbulkan   suara   bebas dikumandangkan secara teratur dan bervariasi.Kesimpulan bahwa hasill penyusunan musik koreografi mahasiswa lebih   menekankan   pada   bentuk   dan   pola   I   tipe   umum   dalam   karawitan biasa. Bentuk dan pola II pada akumulasi jenis sengakan dan virtualisasi vokal   secara   variatif,  dan   bentuk   dan   pola   III yang   lebih   mengandalkan variasi bervariasi sesuai penata musik yang dapat dihembuskan sebagai feeling semata.Kata   Kunci :   Pola­pola   Garap/Penyusunan   Musik   Koreografi,   koreografi untuk mahasiswa tari UNJ.
PENDIDIKAN ESTETIKA MELALUI SENI BUDAYA DI FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Malarsih, -; Wadiyo, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v9i1.662

Abstract

This research is aimed to give an image of aesthetic education implementation through art inLanguages and Arts Faculty in Semarang State University. Applied method in this research isqualitative method. Data collection technique are done by observation, inter view, anddocumentation. Analyzing data is done by using interactive analysis. Technique of checkingrelevance data done by using triangulation. The result of this research shows that aestheticeducation implementation through art in Languages and Arts Faculty are done in form of formaland non-formal aesthetics. Formal aesthetic education are done by all of students in languagesand arts faculty through art materials. Non-formal aesthetics education are done by academicconsists of students, lecturers, employees, as well as the head of faculty. Non-formal estheticseducation mainly are done as a coordinating institution of students’ activity unit. Aestheticseducation for lecturers, employees, as well as the head of faculty mainly done through artappreciation and creation by watching art exhibition, watching art performances, doing artactivities which held by faculties and majors events.Kata kunci : seni budaya, estetika, pendidikan, apresiasi, kreasi
KONSEP KEPESINDENAN DAN ELEMEN-ELEMEN DASARNYA Budiarti, Muriah
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 13, No 2 (2013): December 2013
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v13i2.2781

Abstract

Sindhenan merupakan bagian kesatuan dengan karawitan dalam rangka meningkatkan rasa estetik. Sindhenan adalah olah vokal mengikuti  irama musik gamelan dengan teknik penyuaraan yang khas  yang didasarkan konsep  estetika  Jawa. Teknik penyuaraan meliputi,  teknik luk, wiled, gregel, angkatan, seleh dan teknik pernafasan. Konsep sindhenan  yang berkualitas dikenal dengan sebutan nggendingi, mencakup mungguh, ngledheki, lelewa, pas, ngenongi, nggandhul, selingan, dan andhegan. Olah vokal yang dilakukan pesinden melalui pelatihan yang lama berulang-ulang menyesuaikan dengan laras gamelan yang dibunyikan. Beberapa pesinden adakalanya melakukan gerak serta sikap yang menarik. Pesinden untuk asambel dan  iringan pakeliran lazimnya mengutamakan warna suara, teknik penyuaraan dan vokabuler penguasaan kalimat lagu. Pesinden dituntut selalu dalam kondisi prima dalam penampilan oleh karena  menjadi perhatian penikmat. Fungsi utama sindhenan  adalah memperkaya nilai estetik dalam pertunjukan. Sindhenan is a part of karawitan in order to enhance the sense of aesthetics. It is a voice of pesinden following the rhythm of gamelan music with a distinctive voicing technique according to aesthetic concepts of Java. The voicing technique includes luk technique, wiled, gregel, angkatan, seleh, and respiratory techniques. The concept of qualified sindhenan is known as nggendingi, including mungguh, ngledheki, lelewa, pas, ngenongi, nggandhul, andhegan, and selingan. The vocal training has been through a long process of training adjust with the rhythm of gamelan music. Some of the pesindens sometimes do some interesting motions. Pesinden for ansambel and pakeliran performances often give priority to the accompaniment of voice colors, voicing techniques, pronuncing technique of song lyrics. Pesinden is demanded in good condition in their performances as they are the main attention of the audience. The main function of sindhenan is to enrich the value of aesthetics in the show.
ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM LAGU-LAGU DAERAH BETAWI (An Analysis of Educational Values in Songs of the BetawiArea) Tarwiyah, Tuti
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 5, No 1 (2004)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v5i1.831

Abstract

Penelitian ini berujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan dalam lagu-lagu daerah Betawi. Has// penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bag/:(1) Mahasiswa program studi sera musik sebagai calon guru musik di sekolahformal. (2) Guru-guru musik yang mengajar di sekolah formal pada umumnya. (3)Referensi bag/ mahasiswa sen/ isik khususnya di Universitas Negeri Jakata. (4)Para praktisi Musik. (5) Pemda OKI, khususnya dalam upaya mengembangkandan melestarikan budaya Beawi. Masalah penelitian ini berkaitan dengan lagu-lagudaerah Betawi rumusan masalah adalah: apakah lagu-lagu daerah Betawimengandung nilai-nilai pendidikan bag/ anak ?. bertolak dari masalah tersebutmaka penelitian ini berujuan untuk mendeskripsikan nilai-nilai pendidikan dalamlagu-lagu daerah Betawi. Adapun nilai-nilai pendidikan yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional, meliputi: aspek logika, aspek etika, aspek estetika,aspek praktika.Keabsahan data meliputi (1) kredibilitas, (2) keteralihan, (3)kebergantungan, (4) kepastian (kepastian, perencanaan, proses, has/7akhir, Iharus ada auditor dan auditif sebagai peneliti). Dalam penelitian ini ke empat /criteria tersebut semaksimal mungkin dirujuk. Pengujian validitas dengan menggunakan cross-recheck dan melaluii pertimbangan ahli. Analisis data dilakukan, baik ketika mengumpulkan data maupun setelah pengumpulan data meliputi kegiatan mengumpulkan data, reduksi, penyajian, dan verifikasi. Temuandalam penelitian ini, aspek logika menjelaskan tentang benar salah, aspek etika,aspek estetika, aspek praktika, adalah tercermin pada lagu cik abang, sirih_kuning,surilang, jali-jali, lenggang kangkung, kicir-kicir, cik abang, dan ronggeng.Kata kunci: nilai-nilai, pendidikan, lagu daerah Betawi
MOTIVASI MASUKNYA CAMPURSARI KE DALAM PERTUNJUKAN JARAN KEPANG Wiyoso, Joko
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v12i1.2217

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi yang mendorong para pendukug Kesenian Jaran Kepang Turonggosari memasukan campursari kedalam pertunjukannya serta dampak yang dirasakan oleh para pendukungnya. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif diskriptif. Hasil Penelitian menunjukkan bahawa Motifasi yang mendorong para pendukung kesenian Jaran Kepang Turonggosari, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal untuk memadukan atau mengkolaborasikan dengan campursari didorong oleh  rasa tanggung jawab untuk tetap menjaga kesenian warisan nenek moyang tersebut tetap hidup dan digemari masyarakat sehingga tidak ditinggalkan masyarakat. Usaha para pendukung kesenian jaran kepang tersebut diatas masuk dalam kategori kebutuhan penghargaan, motif intrinsik, ekstrinsik, motif sadar, dan sosiogenetis. Masuknya campursari ke dalam pertunukan jaran kepang membawa dampak psikologis dan ekonomi kepada para pendukung jaran kepang  baik penari maupun pengrawit. This research is aimed to find out the motivation that encouraged the participants of Jaran Kepang Turonggosari Performing Arts to blend campursari into the performance as well as the impacts on the participants. The research used descriptive-qualitative method. The research finding shows that the motivation of the participants in blending and collaborating with campursari is encouraged by sense of responsibility to keep preserving ancestral arts and familiarizing the society with the arts. The efforts of the participants are categorized into the need for reward, intrinsic and extrinsic motives, conscious and sociogenetic motives. The blending of campursari into Jaran Kepang performance brings psychological and economic impacts on the participants, either on the dancers or pengrawit (the music players).
Peningkatan Kualitas Pendidikan Seni melalui Pengembangan Kurikulum Pendidikan Seni Berbasis Kompetensi di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Rapi, Muhammad
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 8, No 1 (2007)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v8i1.800

Abstract

Pendidikan seni khususnya Pendidikan Tinggi Seni, diharapkan dapat menjadi wadahpengkajian, pengembangan dan pelestarian seni Indonesia secara berimbang dan terus-menerus,baik dalam tataran praktis maupun epistomologi. PendidikanTinggi Seni memiliki peluangsangat strategis untuk menyiapkan individu-individu yang kreatif dan inovatif jika dirancangdan dilaksanakan berdasarkan pendekatan akademik yang menoleransi lingkungan belajar yangfleksibel, proses pembelajaran yang unik, serta aktivitas dan metode instruksional yang sahih.Perjalanan panjang pendidikan tinggi seni di Indonesia sejauh ini menunjukkan bahwapemenuhan fungsi edukasional dan kultural oleh pendidikan tinggi masih belum optimal.Sementara itu perubahan sosial yang telah terjadi telah membawa pengaruh yang tidakterhindarkan, baik bagi kehidupan pada umumnya maupun bagi dunia seni itu sendiri, dalamberbagai aspek seperti; makna, proses kreatif, cita rasa, konsep, komunikasi, fungsi dan lainsebagainya. Dalam kondisi tersebut, hasil pendidikan seni belum dinikmati oleh seluruh lapisanmasyarakat Indonesia, dan belum mampu meningkatkan daya saing bangsa Indonesia.Kata kunci: paradigma baru, kurikulum , dan pendidikan seni
KEBANGKITAN TARI RAKYAT DI DAERAH BANYUMAS (The Resurgence of Folk Dances in Banyumas) Indriyanto, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 2, No 2 (2001)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v2i2.853

Abstract

Tradisi Banyumas mulai tmapak kemajuannya pada tahun 1980-an. Haltersebut ditandai dengan popularitas yang semakin meningkat padaproduk-produk budaya Banyumas, seperti penciptaan seni yangbanyak bermunculan diantaranya gending-gending Banyumasan,kemudian disusul dengan tari Banyumasan. Kesadaran masyarakatBanyumas mendorong tradisi Banyumas mampu berdiri sejajardengan tradisi lain dalam skala nasional maupun internasional.Kata Kunci : Tari, Tradisi, Banyumas, Pertunjukan, Rakyat, Istana
Pengaruh Portugis pada Musik Keroncong (Portuguese Influence to Kroncong Music) Ganap, Victor
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 7, No 2 (2006)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v7i2.753

Abstract

Keroncong diyakini berasal dari Portugis, berdasarkan fakta sejarah: (1)sejarah pada abad ke-16 para pelaut Portugis pernah singgah di kepulauanNusantara; (2) ’cavaquiho’ adalah instrumen tradisional Potugis, di manadi Indonesia disebut dengan ukulele atau secara sederahana disebutkeroncong; (3) repertoar keroncong seperti, Moresco, Cafrinho, Proungaadalah nyanyian fado orang-orang Portugis abad ke-16 di mana di Indonesiadikenal sebagai Kr. Moritsko, Kaparinyo; (4) istilah Potugis ‘coração’(dalam hati) merupakan ekspresi khusus yang juga ditemui dalammenyanyikan keroncong, seperti cengkok ; (5) Kertoncong Toegoe sudahdianggap sebagai genre pertama aliran musik keroncong di Indonesia.Kata Kunci : Genre, Repertoar, Waditra, Ekspresi
Aesthetic Learning by Implementing Systemic Approach to Achieve Educationional Values in Performing Arts Kusumawardani, Dwi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 19, No 2 (2019): December 2019
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v19i2.20472

Abstract

This study is aiming at developing aesthetic learning design with a systemic approach to achieve educational value in performing arts. The study was conducted by employing research & development approach, consisting of stages, i.e. (1) identifying learning objectives, preceding by need assessments, (2) doing learning analysis, (3) analyzing students’ behavior and characteristics, (4) identifying specific learning objectives, (5) developing learning outcomes assessment tool, (6) developing learning strategy, (7) selecting and developing learning material, (8) designing and evaluating formative learning design, and (9) designing and conducting summative evaluations. The results of this study are a set of aesthetic learning implementation plan with a systemic approach that meets the development criteria. The aesthetic learning design has been tested and tried out; and is effectively able to achieve the learning objectives of the aesthetic course in university; namely, students are able to find the value of education in performing arts and foster aesthetic sensitivity.
The Essence of Siganjua Lalai Values in Dance Movements of Minangkabau Women Astuti, Fuji
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 19, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/harmonia.v19i1.23622

Abstract

Customary and cultural values are an important part which may be found not only in daily routines, but also reflected in all actions, particularly in art. Women’s smooth characteristic in Minangkabau tradition is called siganjua lalai. This research needs to be conducted since some choreographers make princess dance using masculine movements. This research aims at studying and finding the basic concept of women’s dance movements according to the concept of siganjua lalai. This research employs qualitative and experimental methods with social approach of Minangkabau culture. Analyzed using interpretive qualitative techniques, the data are in the form of siganjua lalai dance movement concept, including the design of 1) space, 2) time and 3) energy. The experiment was conducted with students of Sendratasik Study Program, Faculty of Languages and Arts, Padang State University. Based on the research results, the basic patterns of siganjua lalai cover attitudes, leg and arm movements. The philosophy also considers the space, time, and energy. Therefore, the pattern design refers to the philosophy of siganjua lalai. The dance may be expressed in accordance with Minangkabau women’s characteristics in reflecting their cultural identity.

Page 65 of 122 | Total Record : 1219


Filter by Year

2000 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2024): June 2024 Vol 23, No 2 (2023): December 2023 Vol 23, No 1 (2023): June 2023 Vol 22, No 2 (2022): December 2022 Vol 22, No 1 (2022): June 2022 Vol 21, No 2 (2021): December 2021 Vol 21, No 1 (2021): June 2021 Vol 20, No 2 (2020): December 2020 Vol 20, No 1 (2020): June 2020 Vol 19, No 2 (2019): December 2019 Vol 19, No 1 (2019): June 2019 Vol 18, No 2 (2018): December 2018 Vol 18, No 1 (2018): June 2018 Vol 17, No 2 (2017): December 2017 Vol 17, No 1 (2017): June 2017 Vol 16, No 2 (2016): December 2016 Vol 16, No 2 (2016): (Nationally Accredited, December 2016) Vol 16, No 1 (2016): June 2016 Vol 16, No 1 (2016): (Nationally Accredited, June 2016) Vol 15, No 2 (2015): December 2015 Vol 15, No 2 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2015) Vol 15, No 1 (2015): June 2015 Vol 15, No 1 (2015): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, June 2015) Vol 14, No 2 (2014): (EBSCO, DOAJ & DOI Indexed, December 2014) Vol 14, No 2 (2014): December 2014 Vol 14, No 1 (2014): June 2014 Vol 14, No 1 (2014): (DOI & DOAJ Indexed, June 2014) Vol 13, No 2 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, December 2013) Vol 13, No 2 (2013): December 2013 Vol 13, No 1 (2013): June 2013 Vol 13, No 1 (2013): (DOI & DOAJ Indexed, June 2013) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 3 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 2 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 8, No 1 (2007) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 3 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 2 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 7, No 1 (2006) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 3 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 6, No 2 (2005) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 3 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 5, No 1 (2004) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 3 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 2 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 4, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2002) Vol 3, No 2 (2002) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 3 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 2, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 2 (2000) Vol 1, No 1 (2000) Vol 1, No 1 (2000) More Issue