cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Abdimas
ISSN : 14102765     EISSN : 25031252     DOI : -
Jurnal Abdimas diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Negeri Semarang sebagai wahana komunikasi penerapan ilmu pengetahuan teknologi, olahraga, budaya dan seni dalam memberdayakan masyarakat.
Arjuna Subject : -
Articles 734 Documents
PENGELOLAAN SAMPAH ORGANIK PADA PASAR PEDURUNGAN KOTA SEMARANG Rahayu Astuti; Erma Handarsari; Ana Hidayati; Purnomo Purnomo; Fatmasari Sukesti
Jurnal Abdimas Vol 18, No 1 (2014): June 2014
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v18i1.5723

Abstract

Sampah merupakan problem yang belum terpecahkan di kota-kota besar termasuk kota Semarang. Penanggulangan untuk mencegah timbunan sampah dan melakukan pengolahan sampah secara tepat perlu dilakukan. Salah satu cara untuk menangani sampah khususnya sampah organik adalah menerapkan teknologi, dengan mengolah sampah menjadi kompos. Dengan bantuan mesin pengolah sampah, pembuatan sampah organik menjadi kompos dapat dilakukan dalam jumlah yang besar yang tidak saja bermanfaat bagi tanaman tetapi juga dapat dijual untuk menambah ekonomi masyarakat. Metode dalam kegiatan Ipteks bagi Masyarakat ini adalah penerapan alat pencacah sampah untuk membantu dalam mencacah sampah organik di pasar Pedurungan dalam kaitannya dengan pengelolaan sampah organik pasar menjadi kompos. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil kegiatan adalah terlaksananya kegiatan pendidikan dan pelatihan kepada pengepul sampah untuk memilah sampah organik dan non organik, juga tentang cara membuat kompos, serta manajemen usaha. Alat pencacah sampah digunakan untuk mencacah sampah dalam skala besar. Hasil lainnya adalah telah diproduksinya kompos dan sudah di packing dalam kemasan yang menarik serta telah dipasarkan di sekitar wilayah pasar termasuk di perumahan sekitar wilayah Pedurungan. Terbentuk pula tim manajemen usaha yang terdiri dari unsur UPTD Pasar Pedurungan Kota Semarang dan pengepul sampah.
PENDAMPINGAN TELEKONFERENSI DALAM PEMBELAJARAN DI KELAS BERSAMA JARINGAN 1000 GURU Triyoga Dharma Utami; Seful Bahri
Jurnal Abdimas Vol 15, No 1 (2011): June 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v15i1.2874

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan memberdayakan potensi sumber daya SMAN 12 Semarang dengan memanfaatkan fasilitas jaringan internet untuk menunjang proses pembelajaran di kelas. Sebagai satu-satunya SMA negeri di Kecamatan Gunungpati, SMAN 12 Semarang dapat menjadi contoh sekolah dengan kategori berlokasi di daerah pinggiran, yang relatif masih terkendala oleh akses. Perkembangan teknologi sekiranya mampu menjadi solusi untuk meminimalisir kendala tersebut untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran di kelas. Dalam upaya memanfaatkan fasilitas internet untuk kegiatan pembelajaran, gerakan nirlaba Jaringan 1000 Guru mencoba untuk menyiasati pemanfaatan internet melalui jejaringan sekolah di tanah air. 1000 Guru terdiri dari putra-putri bangsa yang tengah melanjutkan pendidikan dan bekerja sebagai peneliti di negara-negara maju yang siap berperan sebagai guru relawan/wati melalui telekonferensi. Cara yang ditempuh dalam kegiatan Pengabdian ini adalah mengkoordinasi pihak SMAN 12 (Kepala Sekolah, guru bidang TIK dan guru-guru pengampu bidang studi) dengan pihak 1000 Guru. Prosedur teknis telekonferensi memanfaatkan fasilitas video-conference yang tersedia di internet, yakni Yahoo Messenger, Skype dan Teamviewer, serta projektor LCD dan pelantang suara. Dalam lima bulan masa pengabdian, tiga telekonferensi berhasil diselenggarakan. Sebagai sebuah kegiatan berjejaring dan nirlaba, diharapkan kegiatan telekonferensi antara SMAN 12 dan 1000 Guru tetap berlanjut. Antusiasme siswa dan siswi dalam mengikuti kegiatan telekonferensi ini sangat positif.
UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PENGADUK OTOMATIS PADA USAHA DONAT KENTANG DI SEMARANG Ulfah Mediaty Arief; Dyah Nurani Setyaningsih; Sugeng Purbawanto
Jurnal Abdimas Vol 22, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v22i1.15637

Abstract

Donat  merupakan  suatu  jenis  olahan  bahan  makanan  yang  terbuat  dari  bahan dasar terigu dan bentuknya bulat, olahan makanan ini sangat dikenal dimasyarakat baik untuk dikomsumsi anak-anak maupun dewasa. Salah satu kreatifitas dalam mengolah donat yang bahan dasarnya dari terigu dapat dikembangkan pengolahannya dengan menggunakan bahan dasar kentang. Donat Kentang bukan hanya dijual di toko-toko tetapi juga banyak dijual di rumahan (UKM). Harga jual donat kentang di UKM relatif murah dibanding dengan di toko- toko modern. Donat Kentang yang dijual di toko modern harganya di atas Rp 3000,-/per buah dan  di  UKM  relatif  murah ±  Rp  1.000,-/per  buah.  Permasalahan  pada  UKM donat disebabkan oleh beberapa aspek yaitu aspek produksi, teknologi, aspek kualitas produk, kemasan, manajemen pemasaran. Pada pelaksanaan program IbM ini akan memberikan solusi permasalahan yang ada, yaitu meningkatkan kapasitas produksi serta kualitas produk donat kentang dengan memberikan alat pencampur adonan   yang  otomatis.   Metode   atau tahapan   yang   dilakukan   pada kegiatan IbM ini adalah  melakukan sosialisasi ke UKM tentang kegiatan IbM, mengumpulkan dan menganalisa  data  yang  diperlukan  untuk  alat mekanisasi yang akan dirancang sesuai kebutuhan UKM , dan melakukan uji coba peralatan yang akan diberikan. Alat mekanisasi yang diberikan ini, membutuhkan daya listrik 450 watt yang sesuai dengan data kebutuhan UKM tersebut. Alat ini mampu mengaduk adonan donat kentang sebanyak 2 kg sekali. Waktu yang dibutuhkan untuk mencampur adonan yaitu selama 20 menit.   Adanya alat pengaduk otomatis ini,   maka UKM dapat meningkatkan kapasitas produksinya dari 4 kg sehari menjadi 15 kg dan hasil kualitas produk adonan donat kentang lebih homogen, tekstur yang lembut dan higienisitas.
PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN DENGAN MENERAPKAN KONSEP KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI Sophia Dwiratna N.P.; Asri Widyasanti; Devi Maulida Rahmah
Jurnal Abdimas Vol 21, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v21i1.10984

Abstract

Permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat Desa Rawa dan Desa Lumbungsari Kecamatan Lumbung Kabupaten Ciamis dalam mengembangkan konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari melalui pemanfaatan lahan pekarangan adalah kurangnya pengetahuan dan pelatihan mengenai penyiapan media tanam dalam pot, penyediaan pupuk organik dan pot atau wadah tanaman dari bahan sekitar. Tujuan dari program pengabdian masyarakat ini adalah (1) Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan, kesadaran serta memotivasi masyarakat khususnya kelompok ibu-ibu rumah tangga dalam pemanfaatan lahan kosong/ pekarangan sebagai sumber pangan/ketahanan pangan dan pendapatan keluarga; (2) Menerapkan beberapa teknik sederhana penanaman lahan pekarangan dan pemeliharaannya yang dapat diimplementasikan secara mudah oleh masyarakat. Metode kegiatan yang dilakukan adalah penyuluhan, diskusi dan demonstrasi praktek langsung di lapangan yang didasari oleh evaluasi awal sebagai landasan untuk menentukan posisi pengetahuan kelompok sasaran mengenai pemanfaatan lahan pekarangan melalui penerapan konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari. Dari hasil kegiatan yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa : (1) Pada dasarnya warga masyarakat khususnya ibu-ibu rumah tangga di Desa Rawa dan Desa Lumbungsari telah menerapkan pemanfaatan lahan pekarangan, sehingga kegiatan pengabdian difokuskan pada peningkatan ketrampilan ibuibu dalam menyiapkan media tanam untuk budidaya sayuran dalam pot, serta pemanfaatan bahan-bahan sekitar untuk pembuatan pot/wadah dan pupuk organic cair; (2) Kegiatan pengabdian ini dapat menambah pengetahuan warga tentang pentingnya pemanfaatan lahan pekarangan melalui penerapan konsep rumah pangan lestari untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT KECAMATAN GUNUNGPATI MELALUI PENINGKATAN PRODUKTIVITAS, KUALITAS, DAN DIVERSIFIKASI PRODUK PASCA PANEN Rosidah Rosidah; Henry Ananta; Sunyoto Sunyoto
Jurnal Abdimas Vol 19, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v19i2.4715

Abstract

Kegiatan KKN-PPM ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat melalui peningkatan produktivitas, kualitas, dan diversifikasi produk pasca panen. Sasaran kegiatan adalah masyarakat di empat kelurahan di kecamatan Gunungpati, yaitu Sukorejo, Kalisegoro, Mangunsari, dan Ngijo. Kegiatan ini melibatkan 68 mahasiswa dari berbagai program studi dan dibimbing oleh tiga dosen pembimbing lapangan (DPL). Kegiatan dimulai pada bulan Agustus hingga Desember 2014. Hasil kegiatan KKN-PPM antara lain adalah1) dihasilkan produk unggulan pada empat kelurahan yang menjadi sasaran kegiatan, yaitu brownies singkong di Kel. Sukorejo, sirup jahe di Kel. Kalisegoro, abon lele di Kel. Mangunsari, dan telur asin di Kel. Ngijo, 2) Pada semua produk yang dihasilkan telah diberi kemasan dan telah dilakukan promosi dan pemasaran, 3) Telah berhasil dibentuk lima Kelompok Pelaku Usaha Mikro (KPUM), yaitu “Sukma” di Kel. Sukorejo, “Sembodo” di. Kel Kalisegoro, “Mangunsari Mandiri” di Kel. Mangunsari, dan “Ngijo Sejahtera” dan “Ngijo Sentosa” di Kel. Ngijo, 4) Produk makanan/minuman yang dibuat telah diajukan/didaftarkan untuk mendapatkan No. P-IRT dari dinas Kesehatan Kota Semarang, dan 5) Kepada semua Kelompok PUM telah diberikan bantuan mesin/peralatan produksi untuk mendukung kelancaran usaha serta telah diajukan bantuan mesin/peralatan ke Bapermas yang akan direalisasikan tahun 2015.Kata kunci: pemberdayaan, produktivitas, kualitas, diversifikasi, pasca panen
SOSIALISASI UU NO. 15 TAHUN 2001 TENTANG HAK MEREK BAGI PENGUSAHA KECIL DAN MENENGAH DI KOTA SEMARANG Arif Widagdo; Sugito Sugito; Pujiono Pujiono
Jurnal Abdimas Vol 14, No 2 (2010): December 2010
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v14i2.33

Abstract

Permasalahan tentang perlindungan hak merek pada masyarakat Kota Semarang merupakan permasalahan yang penting bagi para pengusaha baik pengusaha kecil maupun menengah. Arti pentingnya perlindungan hak merek bagi produk maupun jasa usaha para pengusaha akan sangat terasa apabila para pengusaha memahami secara benar pentingnya dari hak merek tersebut. Merek bagi sebuah produk jasa maupun barang merupakan hal penting. Awalnya merek berasal dari dunia perdagangan dan hukum kebiasaan yang berlaku dalam perdagangan. Merek dari produk dilakukan dengan memberi suatu ciri khas khusus pada produk tersebut agar berbeda dengan produk lainnya yang sejenis. Merek juga merupakan salah satu cara untuk menembus pasar perdagangan. Tidak hanya untuk menjual produknya kepada konsumen saja, tetapi juga untuk menjalin ikatan psikologis dengan konsumen pemakai produk tersebut. Ketika ikatan dan kepercayaan itu terjadi, hal ini menjadi suatu mesin uang bagi produsen karena dengan sendirinya produknya akan laku dipasaran dengan lebih mudah dan memiliki pasar konsumen yang loyal. Adapun Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah: 1). mmberikan pemahaman dan pengetahuan praktis kepada masyarakat, khususnya para pengusaha kecil dan menengah tentang arti pentingnya hak merek dalam dunia perdagangan, 2). mmberikan pendampingan di bidang hukum, khususnya yang terkait dengan masalah hak merek bagi pengusaha kecil dan menengah. Guna mencapai tujuan yang diharapkan maka dalam kegiatan ini dilakukan dalam upaya pendidikan dan penyadaran di bidang hukum. Pendidikan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat khususnya pada masyarakat Kota Semarang yang merupakan bagian dari para pengusaha, akan arti pentingnya perlindungan hak merek. Selain itu kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan bentuk kegiatan berupa penyuluhan dan dialog interaktif. Model ini digunakan agar masyarakat tidak merasa digurui sehingga hasilnya diharapkan efektif. Berdasarkan pengamatan selama melakukan tahapan-tahapan kegiatan pengabdian ini, maka tim pengabdian mengambil kesimpulan bahwa para peserta kegiatan pengabdian menaruh perhatian yang cukup besar terhadap kegiatan sosialisasi penanggulangan kekerasan terhadap anak di sekolah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya peserta yang mengajukan pertanyan seputar materi yang disampaikan dalam kegiatan sosialisasi. Atas dasar kesimpulan diatas, maka tim pengabdian memberikan saran agar kegiatan sosialisasi ini dilaksanakan secara terus menerus dan konsisten serta melibatkan peserta yang lebih banyak dan luas lagi. Kata kunci : Sosialisasi, HKI, Hak Merek
REVITALISASI TUNGKU API SEDERHANA UNTUK PENGERJAAN DAN PEMBENTUKAN LOGAM DI INDUSTRI PANDE BESI Seno Darmanto; Didik Purwadi; Hartono Hartono; Mohd. Ridwan
Jurnal Abdimas Vol 22, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v22i1.13381

Abstract

Kegiatan pengabdian bagi Kelompok Industri Pande Besi dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk pande besi. Ada puluhan industri pande besi baik skala menengah dan kecil di Rejosari Pakis Magelang Jawa Tengah dan salah satunya tergabung di kelompok Mijil Karya. Pengembangan kelengkapan sarana anggota industri pande besi pada pelaksanaan kegiatan diarahkan pada peningkatan kapasitas/produktitas dan kualitas produk pande besi. Dan untuk mencapai tujuan tersebut, tim pengabdian menyusun langkah kerja atau kegiatan pengabdian meliputi desain tungku, perbaikan tungku, pelaksanaan di industri mitra. Industri pande besi mempunyai beberapa produksi rutin (selain pesanan) yakni perabot rumah tangga (dandang, panci, tempat lampu, hiasan dinding panci bermotif), senjata (sangkur, pedang, keris, tombak), alat pertanian (pacul, alat bajak), alat industri (pisau masak, sabit, parang dan alat potong lain), kerajinan (lampu, kapal, lambu hias, dan hiasan dinding). Pengerjaan tungku di industri pande besi diawali dengan identifikasi tungku perapian dan renovasi (modifikasi) untuk meningkatkan efisiensi dan keselamatan kerja pegawai. Realisasi renovasi tungku dikerjakan dengan satu lubang nyala api, perbaikan dinding luar dan perbaikan cerobong. Selanjutnya realisasi peralatan tangan untuk pengerjaan di pande besi dilengkapi beberapa peralatan meliputi klem  bangku /catok  /ragum, penggores, penitik, mata bor dan mesin bor, gergaji tangan, gunting plat, kikir, palu, mistar baja, tang dan alat solder. Selanjutnya beberapa peralatan digerakkan dengan tenaga mesin meliputi gergaji, bor baik bor tangan dan bor duduk, gerinda potong, gerinda penghalus.
HARMONISASI UU NO. 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DALAM UPAYA PELESTARIAN BENDA CAGAR BUDAYA KOTA SEMARANG Andry Setiawan; Dewi Sulistianingsih
Jurnal Abdimas Vol 17, No 2 (2013): December
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v17i2.9907

Abstract

Pemerintah kota Semarang mendapat kritik dari masyarakat jika dinilai “membiarkan” pembongkaran bangunan-bangunan kuno dan bersejarah untuk kemudian diganti dengan bangunan baru yang secara ekonomis lebih menguntungkan. Kota ini memiliki bangunan-bangunan kuno bernilai historis dan arsitektural tinggi, terutama di kawasan cagar budaya Kota Lama. Gereja Blenduk, misalnya, yang dibangun pada tahun 1742, merupakan landmark Kota Lama. Oleh karena itu, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : (1) Bagaimanakah eksistensi benda-benda Cagar Budaya yang ada di Kota Semarang?, (2) Bagaimana UU No. 11 Tahun 2010 dalam memberikan perlindungan Benda Cagar Budaya Kota Semarang?, (3) Hambatan-hambatan apa saja yang ada dalam pelaksanaan pelestarian benda Cagar Budaya di Kota Semarang ? Metode yang digunakan dalam kegiatan sosialisasi dan diseminasi hukum tentang UU No.11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya yang dilakukan pada peserta kegiatan yaitu model ceramah, tanya jawab, dan diskusi. Model ini dipilih karena berdasarkan pertimbangan bahwa model ini ini lebih efektif dan murah dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi dibandingkan dengan menggunakan model lainnya. Hasil kegiatan pengabdian menunjukkan data adanya peningkatan pemahaman dan pengetahuan dari peserta kegiatan pengabdian, dimana hal ini ditunjukkan dengan hsil test yang dilakukan oleh tim pengabdian. Dari hasil pengabdian ini, maka dapat disimpulkan bahwa eksistensi benda cagar budaya di Kota Semarang masih dapat dipertahankan, dengan membuat zona-zona cagar budaya, serta Perlindungan terhadap benda cagar budaya selain mempergunakan undang-undang, akan lebih efektif bila menggunakan peraturan daerah serta melakukan pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi. Kemudian saran yang diberikan adalah Hendaknya pemerintah Kota Semarang membuat kebijakan yang melindungi benda cagar budaya dari kepentingan bisnis. Disamping itu, perlu melakukan sosialisasi mengenai arti pentingya benda cagar budaya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN PADA PENGUSAHA TIWUL AYU BERBAHAN DASAR TEPUNG KETELA POHON DALAM RANGKA KETAHANAN PANGAN KABUPATEN WONOGIRI Murni Sulistyowati; Winarna Winarna; Aris Tri Haryanto
Jurnal Abdimas Vol 20, No 2 (2016): December 2016
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v20i2.8954

Abstract

Latar belakang pengabdian ini adalah Kabupaten Wonogiri merupakan lahan yang potensial untuk pengembangan ketela pohon dan hampir tersebar diseluruh wilayah kecamatan dengan luas lahan lebih dari 70.681 hektare. Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai lembaga pertanian ketela pohon tidak hanya dapat dapat menghasilkan tepung tapioka saja melainkan dapat dijadikan tepung mokav yang merupakan alternatif pengganti tepung terigu yang bisa digunakan sebagai bahan dasar pambuatan mie, Cace, roti dan lain sebagainya. Dalam perkembangannya makanan ini juga dapat dikembangkan menjadi sebuah kue atau jajanan tradisional khas Wonogiri yang digemari karena enak, sudah banyak dikenal dan harganya sangat terjangkau. Ada perbedaan antara tiwul tradisional dengan Cake Tiwul ini yaitu selain bentuknya, makanan ini juga menggunakan bahan- bahan lain yang banyak mengandung Zat Gizi seperti telur. dan tepung terigu. Sehingga diharapkan dengan produk ini nilai ekonomis dari tiwul menjadi meningkat.Target luaran dalam pengabdian ini adalah Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan Warga yang menjadi Anggota Koperasi mengenai Produksi Tiwul Ayu, tercapainya ketahanan pangan di wilayah Wonogiri, menambah guna suatu barang, dari barang imferior menjadi barang normal, mendidik masyarakat untuk belajar disiplin berwirausaha, menambah income keluarga, terlaksananya pelatihan dan pendampingan teknik produksi dan manajemen, masyarakat memperoleh pendapatan yang rutin dari hasil kegiatan, dapat mengikuti expo, pameran atau sejenisnya baik skala lokal dan regional maupun nasional.
PENANAMAN NILAI-NILAI KEJUJURAN MELALUI PENDIDIKAN ANTI KORUPSI DI SMA 6 KOTA SEMARANG Eko Handoyo; Subagyo Subagyo; Martien Herna Susanti; Andi Suhardiyanto
Jurnal Abdimas Vol 14, No 2 (2010): December 2010
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/abdimas.v14i2.24

Abstract

Abstrak. Korupsi di Indonesia bagaikan suatu “penyakit” yang sukar disembuhkan dan merupakan suatu fenomena yang kompleks. Untuk memberantas korupsi di Indonesia tidak cukup hanya dengan melakukan suatu tindakan represif, namun yang lebih mendasar lagi adalah melakukan tindakan preventif atau pencegahan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui tindakan preventif ini adalah dengan menumbuhkan kepedulian untuk melawan berbagai tindakan korupsi, dan sekaligus juga mendidik generasi muda dengan menanamkan nilai-nilai etika dan moral yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat. Banyak hal yang dapat dilakukan, misalnya melalui kampanye publik, maupun melalui penanaman nilai-nilai moral dan etika yang dapat dimasukkan dalam kurikulum pada berbagai level terutama pada level pendidikan awal seperti SD, SMP dan SMA. Dengan upaya ini diharapkan mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang “bersih” dan “anti korupsi” sekaligus menjadi contoh bagi generasi sesudahnya dan sebelumnya. Kesadaran dan kepedulian masyarakat perlu ditumbuhkan melalui berbagai cara, antara lain dengan mencanangkan ”Gerakan Anti Korupsi”, yang menandai komitmen berbagai elemen masyarakat dalam memberantas korupsi. Kata kunci: korupsi, penanaman nilai, pendidikan anti korupsi

Filter by Year

2010 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 2 (2023): December 2023 Vol 27, No 1 (2023): June 2023 Vol 26, No 2 (2022): December 2022 Vol 26, No 1 (2022): June 2022 Vol 25, No 2 (2021): December 2021 Vol 25, No 1 (2021): June 2021 Vol 24, No 3 (2020): December 2020 Vol 24, No 2 (2020): September 2020 Vol 24, No 1 (2020): June 2020 Vol 24, No 3 (2020): December Vol 24, No 2 (2020): September Vol 24, No 1 (2020): June Vol 23, No 2 (2019): December 2019 Vol 23, No 1 (2019): June 2019 Vol 23, No 1 (2019): Juni 2019 (ASAP) Vol 23, No 2 (2019): December Vol 23, No 1 (2019): June Vol 22, No 2 (2018): December 2018 Vol 22, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 22, No 1 (2018): June 2018 Vol 22, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 21, No 2 (2017): December 2017 Vol 21, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 21, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 21, No 1 (2017): June 2017 Vol 20, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 20, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 20, No 2 (2016): December 2016 Vol 20, No 1 (2016): June 2016 Vol 20, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 20, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 19, No 2 (2015): December 2015 Vol 19, No 1 (2015): June 2015 Vol 19, No 2 (2015) Vol 19, No 2 (2015) Vol 19, No 1 (2015) Vol 19, No 1 (2015) Vol 18, No 2 (2014): December 2014 Vol 18, No 1 (2014): June 2014 Vol 18, No 2 (2014) Vol 18, No 2 (2014) Vol 18, No 1 (2014) Vol 18, No 1 (2014) Vol 17, No 1 (2013): June 2013 Vol 17, No 2 (2013) Vol 17, No 2 (2013) Vol 17, No 2 (2013): December Vol 17, No 1 (2013) Vol 17, No 1 (2013) Vol 15, No 2 (2011): December 2011 Vol 15, No 1 (2011): June 2011 Vol 15, No 2 (2011) Vol 15, No 2 (2011) Vol 15, No 1 (2011) Vol 15, No 1 (2011) Vol 14, No 2 (2010): December 2010 Vol 14, No 1 (2010): June 2010 Vol 14, No 2 (2010) Vol 14, No 2 (2010) Vol 14, No 1 (2010) Vol 14, No 1 (2010) More Issue