cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
Mindfulness-Based Cognitive Therapy untuk Menurunkan Kecemasan dalam Masa Quarter Life Setiawan, Yuan Yovita; Pramadi, Andrian
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 15, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v15i1.40545

Abstract

Quarter life crisis merupakan sebuah keadaan ketika individu berada di usia dewasa awal dan mengalami banyak ketidakstabilan dalam hidup. Banyak individu yang terdampak quarter life crisis ini, ditunjukkan dari beberapa penelitian baru yang membahas hal ini. Salah satu dampak yang ditimbulkan dari quarter life crisis adalah kecemasan. Kecemasan yang intens membuat individu semakin tidak produktif dan mengganggu pencapaian hasil. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Mindfulness-based Cognitive Therapy dalam menurunkan kecemasan individu yang sedang mengalami quarter life crisis. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif single-case experimental design. Partisipan penelitian ini berjumlah 2 orang dengan jenis kelamin perempuan, memiliki usia dalam masa emerging adulthood dan keduanya sedang mengalami quarter life crisis, dibuktikan dengan pengukuran menggunakan Quarter Life Crisis Scale (Agustin, 2012). Pengukuran dalam penelitian ini menggunakan observasi sebagai metode asesmen utama. Data observasi akan dianalisis menggunakan analisis tren. Selain itu, data juga diambil dari skala Beck Anxiety Inventory (BAI) (Toledano-Toledano et al., 2020) untuk pengukuran kecemasan dan Five Facets Mindfulness Questionnaire (FFMQ) (Gu et al., 2016) untuk pengukuran mindfulness, guna melengkapi hasil observasi. Intervensi dilakukan 5 sesi pertemuan selama 5 minggu dan setiap sesinya memiliki durasi 60 menit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Mindfulness-based Cognitive Therapy efektif menurunkan kecemasan partisipan penelitian, ditinjau dari analisis tren yang dilakukan. Mindfulness-based Cognitive Therapy memperbaiki penilaian ulang individu terhadap situasi kecemasan dan kemampuan individu untuk menyelesaikan masalah. Penurunan kecemasan yang dialami partisipan diharapkan mampu membentuk persepsi yang baru terhadap quarter life crisis dan meningkatkan optimism.Quarter life crisis is a phase where emerging adults experience a lot of instability in life. Many individuals are affected by quarter life crisis, marked by the emergence of new studies that discuss this topic. One of the effects of a quarter life crisis is anxiety. High level of anxiety makes individual less productive and interferes with their achievement. Therefore, this study aims to determine the effect of Mindfulness-based Cognitive Therapy in reducing the anxiety of individuals who are experiencing a quarter life crisis. This research was conducted using a quantitative single-case experimental design method. There were two female emerging adulthood participants in this study and both were experiencing a quarter life crisis, as proven by assesment using the Quarter Life Crisis Scale (Agustin, 2012). Measurement in this study uses observation as the main assessment method. Observational data will be analyzed using trend analysis. In addition, data was also taken using Beck Anxiety Inventory (BAI) scale (Toledano-Toledano et al., 2020) for measuring anxiety and Five Facets Mindfulness Questionnaire (FFMQ) (Gu et al., 2016) for measuring mindfulness, to complement the results observation. The intervention was carried out in 5 meeting sessions for 5 weeks and each session had a duration of 60 minutes. The results of this study indicate that Mindfulness-based Cognitive Therapy is effective in reducing the anxiety of research’s participants, based on the trend analysis. Mindfulness-based Cognitive Therapy improves the individual's reappraisal of situations that evoke anxiety and the individual's ability to solve problems. Hopefully, the degression in anxiety experienced by participants will be able to form new perceptions of quarter life crisis and increase optimism.
Unveiling Online Self-Disclosure: A Comparative Study of Adolescents and Young Adults in The Digital Age Pangayuninggalih, Sesty Arum; Helmi, Avin Fadilla
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 15, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v15i1.38986

Abstract

Tingginya penggunaan media sosial mendorong pergeseran aktivitas pengungkapan diri dari offline ke online. Padahal, perilaku pengungkapan diri online memiliki beragam risiko yang rentan dialami pengguna yang mayoritas berada di tahap perkembangan remaja dan dewasa awal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan tingkat pengungkapan diri online di media sosial antara pengguna remaja dengan dewasa awal. Desain penelitian survei kuantitatif digunakan dengan convenience sampling sebagai teknik pengambilan sampel. Sebanyak 532 pengguna media sosial remaja dan dewasa awal, baik dari Pulau Jawa maupun dari luar Pulau Jawa terlibat dalam penelitian ini. Hasil analisis independent t-test menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada pengungkapan diri online remaja dan dewasa awal. Akan tetapi, ditemukan perbedaan pengungkapan diri online ditinjau dari wilayah domisili dan durasi akses media sosial. Pengguna dari Pulau Jawa dan pengguna yang mengakses media sosial selama 6-8 jam perhari memiliki tingkat pengungkapan diri online yang lebih tinggi. Temuan ini memperkaya pemahaman mengenai perilaku pengguna media sosial di Indonesia. Masyarakat perlu berkolaborasi untuk mengelola perilaku bermedia sosial guna menghindari risiko penggunaan media sosial yang tidak terkontrol. The high use of social media encourages a shift in offline and online self-disclosure activities. Whereas online self-disclosure behavior has various risks that are prone to be experienced by users, most of whom are in the developmental stages of adolescence and early adulthood. This study aims to determine whether there is a difference in the level of online self-disclosure on social media between adolescent and early adult users. The quantitative survey research design was used with convenience sampling as the sampling technique. This research has 532 adolescent and early adult social media users, both from Java and outside Java, who were involved in this study. The results of the independent t-test analysis showed that there was no significant difference in online self-disclosure of adolescents and early adults. However, differences in online self-disclosure were found regarding the domicile area and duration of social media access. Users from Java and users accessing social media for 6-8 hours daily have higher online self-disclosure levels. These findings enrich the understanding of the behavior of social media users in Indonesia. Communities need to collaborate to manage social media behavior to avoid the risks of uncontrolled use of social media.
Dampak Psikologis pada Remaja Korban Pemerkosaan di Kabupaten Temanggung Sari, Kausar Rafika; Deliana, Sri Maryati; Hendriyani, Rulita
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48749

Abstract

Penelitian ini berusaha menggambarkan secara lebih jelas dan mendalam tentang bagaimana dampak psikologis pada remaja korban pemerkosaan di Kabupaten Temanggung . Penelitian ini menggunakan metode wawancara (interview) dan observasi. Subjek pada penelitian ini yaitu satu orang remaja putri yang telah diperkosa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek mengalami pemerkosaan di Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa subjek mengalami pemerkosaan di latar belakangi oleh ketidakharmonisan keluarga, hubungan yang buruk antar peer group nya dan kurangnya perhatian orang tua. Terdapat temuan baru pada faktor yang mempengaruhi timbulnya dampak psikologis pemerkosaan yaitu pengalaman traumatik masa lampau yaitu pernah mengalami pelecehan seksual, dinamika keluarga, hubungan sosial dan perilaku negatif orang tua. Sedangkan dampak psikologis yang dialami oleh subjek adalah subjek mengalami kejadian traumatic yang dialami kembali oleh subjek, subjek menghindari hal yang berhubungan dengan trauma, Subjek mengalami peningkatan kesadaran dan dampak psikososial pasca pemerkosaan subjek memisahkan diri dari lingkungan This research trying to describe more clearly and deeply about how psychology impact on teen rape victims in Temanggung regency. This research uses interview method and observation. Subject in this observation is a girl teenager who has been raped. Research result shows that subject has been raped and it caused by not harmonic family, bad relationship between peer group and lack of parent attention. There is a new factor which influence impact rape psychologist, that is traumatic experience in the past and ever has sexual harassment, family dynamic, social relationship and bad treatment from parent. While psychologist impact that experienced by the subject is subject gets traumatic experience and experienced again by the subject, subject avoids something that has relationship with trauma. Subject has increasing realize and psychosocialimpact after rape subject separate herself from the environment.
Adaptasi Alat Ukur Interpersonal Mindfulness Scale (IMS) Versi Indonesia Meldi, Nadia Amanda; Susanto, Hery
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 15, No 1 (2023): Mei 2023
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v15i1.40528

Abstract

Kualitas mindfulness yang terdapat dalam hubungan interpersonal membutuhkan cakupan perhatian yang lebih luas dibandingkan dengan yang biasanya diukur dalam sebagian besar alat ukur mindfulness. Interpersonal mindfulness tidak hanya melibatkan kesadaran akan diri sendiri, namun juga kesadaran akan orang lain yang menjadi lawan dalam interaksi. Oleh karena itu, dibutuhkan alat ukur yang secara spesifik mengukur mindfulness dalam konteks hubungan interpersonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi Interpersonal Mindfulness Scale (IMS) ke bahasa Indonesia serta mengkaji reliabilitas dan validitas dari adaptasi tersebut. Adaptasi alat ukur ini melewati proses penerjemahan forward-backward, tinjauan dari para ahli, dan wawancara kognitif sebelum diadministrasikan pada 208 responden yang dipilih dengan teknik convenience sampling. Alat ukur secara keseluruhan memiliki reliabilitas yang sangat tinggi (α = 0,843) dan memiliki daya diskriminasi yang baik. Alat ukur juga memiliki validitas isi (Aiken’s V) yang cukup baik namun uji analisis faktor konfirmatori menunjukkan bahwa model tidak fit (p 0,001, RMSEA = 0,079, TLI = 0,711, CFI = 0,736, SRMR = 0,111, dan Hoelter’s Critical N = 109,233). Setelah 10 itemdihapus, model menunjukkan model yang fit (p 0,001, RMSEA = 0,055, TLI = 0,911, CFI = 0,927, SRMR = 0,064, dan Hoelter’s Critical N = 157,253) dengan reliabilitas yang tinggi (α = 0,783). Adaptasi alat ukur ini dapat digunakan untuk mengukur konstruk interpersonal mindfulness dengan menghapus 10 item. Untuk penelitian selanjutnya, peneliti disarankan untuk memperbaiki atau menambahkan item baru pada dimensi presence. Mindfulness in interpersonal relationships includes a bigger scope than the ones usually measured in many mindfulness measurements tools. Interpersonal mindfulness doesn’t only involve the awareness of oneself, but also other people in interpersonal interactions. For this purpose, a measurement tool that specifically measures mindfulness in interpersonal relationships is needed. This study adapted Interpersonal Mindfulness Scale (IMS) to Indonesian and gathered reliability and validity evidence for the adaptation. This IMS adaptation went through the process of forward-backward translation, expert reviews, and cognitive interview before being administered to 208 respondents. The respondents are sampled by the convenience sampling technique. IMS adaptation is found to be a highly reliable measurement tool (α = 0.843) and most items has good discrimination index.    IMS adaptation is also found to have sufficient content validity (Aiken’s V), but Confirmatory Factor Analysis shows that the adaptation doesn’t have good model fit (p 0.001, RMSEA = 0.079, TLI = 0.711, CFI = 0.736, SRMR = 0.111, and Hoelter’s Critical N = 109.233). After 10 items were deleted, the IMS adaptation shows acceptable model fit (p 0.001, RMSEA = 0.055, TLI = 0.911, CFI = 0.927, SRMR = 0.064, and Hoelter’s Critical N = 157.253) with a good reliability (α = 0.783). IMS in Indonesian version can be used to measure interpersonal mindfulness after deleting 10 items. For the next study, researchers are suggested to revise or add new items in the presence aspect.
Hubungan Antara Dukungan Sosial dan Kesejahteraan Psikologis Guru Sekolah Luar Biasa Muttaqinah, Asyiah Ummul; Novitasari, Resnia
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48727

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis guru sekolah luar biasa. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara dukungan sosial dan kesejahteraan psikologis guru sekolah luar biasa. Responden dalam penelitian ini berjumlah 105 orang guru sekolah luar biasa. Pada penelitian ini menggunakan 2 skala, yakni: (a) Skala Dukungan Sosial berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Zimet, Dahlem, Zimet Farley (1988) yang memiliki nilai α= 0,868 terdiri dari 11 aitem, dan (b) Skala Kesejahteraan Psikologis mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Ryff dan Keyes (1995) dengan nilai α= 0,818 berjumlah 13 aitem. Hasil analisis data dengan menggunakan korelasi product moment dari Spearman diketahui bahwa dukungan sosial berkorelasi dengan kesejahteraan psikologis guru Sekolah Luar Biasa r= 0,359 dan p= 0,001 (p 0,05). Dengan demikian, hipotesis yang diajukan diterima. This study was aimed to test empirically the relationship between social support with psychological well being for children with special needs’s teachers. The hypothesis of this study is there’s a relationship between social support with psychological well being for children with special needs’s teachers. Respondents in this study were 105 male and female teachers. This study has 2 measurments (a) Social Support scales which refers to Zimet, Dahlem, dan Farley (1988) α= 0,868 with 11 item. (b)  psychological well being from Ryff and Keyes (1995) α= 0,818 with 13 item. Based on the analysis with Product Moment Correlation from Spearman, researchers can concluded that there is a relationship between social support with psychological well being for children with special needs’s teachersr= 0,359 and p= 0,001 (p 0,05) and the hypothesis is accepted. The result of this study will discuss leter.
Perbedaan Resiliensi Pada Wanita Bercerai Ditinjau Dari Lamanya Menikah Saragih, Erianson; Stanislaus, Sugiyarta
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48743

Abstract

Berumah tangga dan menjadi orang tua merupakan proses yang penuh tantangan dan dibutuhkan kesiapan besar. Tidak sedikit permasalahan bisa menerpa sebuah pernikahan. Ketidakmampuan pasangan dalam melalui permasalahan itulah yang sering menjadi pemicu perceraian dalam berumah tangga. Manusia pada dasarnya telah memiliki insting tersendiri dalam menghadapi dan menyelesaikan cobaan-cobaan dalam hidup, namun tingkatan kemampuan itu berbeda-beda. Hal itu lah yang disebut Resiliensi. Perceraian pada umumnya memberikan tekanan psikologis, namun kedewasaan dan pengalaman dalam menghadapi masalah hidup memberikan keunggulan dalam menghadapi situasi kehilangan pasangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tingkat resiliensi wanita bercerai dengan masa menikah 10 tahun dan wanita bercerai dengan masa menikah ≥20 tahun. Populasi pada penelitian ini adalah wanita bercerai di Ungaran Barat yang berjumlah 154 orang.  Untuk pengambilan sampel dalam penelitian ini digunakan teknik purposive sampling sebanyak 60 orang, masing-masing 30 dari wanita bercerai dengan masa menikah 10 tahun dengan wanita bercerai dengan masa menikah ≥20 tahun. Setelah dilakukan analisis statistik, hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan resiliensi wanita bercerai dengan masa menikah 10 tahun dan wanita bercerai dengan masa menikah ≥20 tahun. Dimana tingkat resiliensi wanita bercerai yang menikah ≥20 tahun lebih tinggi dibanding wanita bercerai yang menikah 10 tahun. Become a parent is a challenging process and it takes a great readiness. The inability of the pair in through the problems that are often the trigger for a divorce in a marriage. Humans are basically already have their own instincts in the face and finish trials in life, but the skill levels vary. It is what is called resilience. Divorce in general provide psychological pressure. They are more mature maturity and experience in dealing with life's problems gives them an advantage in a situation loss of a spouse. This research aims to determine whether there are differences in the level of resilience to duration married divorced women 10 years old and divorced with a period of married women ≥20 years. The population in this study were women divorced in West Ungaran totaling 154 people. For sampling used in this research using purposive sampling of 60 people, each of the 30 married women divorcing period 10 years with a divorced woman with a period of ≥20 years married. After statistical analysis, the results of this reseach showed a difference of resilience to future married divorced women 10 years old and divorced with a period of married women ≥20 years. Where in the level of resilience divorced women who married ≥20 years higher than divorced women who married 10 years.
Gambaran Psychological Well-Being Keluarga Miskin Kampung Nelayan Tegal Sari Kota Tegal Wijaya, Mario Indrianto; Deliana, Sri Maryati; Hendriyani, Rulita
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48745

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran psychological well-being keluarga miskin kampung nelayan RW 06 dan RW 10 Tegal Sari, Kota Tegal. Subjek penelitian berjumlah 65 orang yang merupakan keluarga miskin kampung nelayan Tegal Sari, Kota Tegal. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian simple random sampling. Metode penelitan yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar atau 78,46 persen (51 orang) menyatakan dirinya memiliki psychological well-being berada pada tingkat sedang. Sedangkan yang termasuk dalam kriteria tinggi hanya sebesar 15,38 persen (10 orang) dan 6,15 persen (4 orang) berada pada kategori rendah. Dari enam dimensi yang diteliti yaitu dimensi penerimaan diri, hubungan positif dengan orang lain, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi, berada tingkat sedang,  dimensi yang paling besar proporsinya dalam terbentuknya psychological well-being pada keluarga miskin kampung nelayan Tegal Sari, Kota Tegal adalah dimensi pertumbuhan pribadi, sedangkan  dimensi yang paling kecil hubungan positif dengan orang lain. Gambaran secara umum masyarakat kampung nelayan RW 06 dan RW 10 Tegal Sari, Kota Tegal mempunyai psychological well-being yang berada pada kategori sedang. Berarti setengah dari masyarakat kampung nelayan berada pada tingkat ekonomi yang tergolong berkecukupan, karena mereka masih dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dapat menyekolahkan anak mereka walau mereka berpenghasilan sangat rendah. The purpose of this study was to determine how the image of psychological well-being of poverty families fishing village Tegal Sari, Tegal. Subject numbered 65 people who are poor fishing village . This research uses simple random sampling study. Research method used is descriptive quantitative method. The results showed that most or 78.46 percent (51 people) claimed have psychological well-being was at a moderate level . While the criteria are included in the height of only 15.38 percent (10 people) and 6.15 percent (4 people) are in the low category. Of the six dimensions studied were the dimensions of self acceptance, positive relations with others, autonomy, environmental mastery, purpose in life, and personal growth, to be moderate, the dimensions of the greatest proportion in the formation of psychological well-being for the poverty fisher village of Tegalsari, Tegal is the dimension of personal growth, while the smallest dimension of positive relationships with others. Picture of the general public fisher village Tegal Sari has psychological well-being that are in the medium category. Means half of the public fisher village is at a level that is relatively affluent economies, because they are still able to meet their daily needs and can send their children even though they income very low.
Intimacy Pasangan Suami Istri yang Menjalani Hubungan Jarak Jauh Arifah, Nur; Purwanto, Edy
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.48748

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran intimacy dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi baik atau tidaknya intimacy pada pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam bentuk studi fenomenologi dengan menggunakan alat pengumpul data wawancara dan observasi. Subjek dalam penelitian ini adalah pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh. Hasil penelitian ini terdapat intimacy yang baik pada pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh karena dari sepuluh aspek intimacy Stemberg subjek memiliki sembilan aspek intimacy. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi baik  atau tidaknya intimacy pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh yaitu: komunikasi yang terbuka, mampu mengungkapkan dan mengekspresikan segala jenis emosi termasuk yang tidak menyenangkan, memberikan perhatian satu sama lain, komitmen dan empati dan prilaku menjaga. Implikasi dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi serta masukan bagi para calon ataupun pasangan suami istri serta para konsultan pernikahan mengenai intimacy pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh, sehingga informasi atau masukan tentang intimacy pasangan suami istri yang menjalani hubungan jarak jauh ini dapat dijadikan pertimbangan ketika pasangan suami istri akan ataupun sedang menjalani hubungan jarak jauh. The objective of this study is to find out descriptions about intimacy and factors influencing good or bad intimacy of long distance relationship spouses. The research uses qualitative approach in form of phenomenological study using interview sheets and observations. The subject of this study is a couple of married who is in a long distance relationship. The result of the study involves a good intimacy of spouses who are in long distance relationships for the subject has nine out of ten of Stemberg’s intimacy aspects. Intimacy has many factors influencing whether it is a good or bad intimacy, among of them are: communication especially deep self-disclosure; expression of genuine emotions, even unpleasant ones; paying attention to each other; commitment; and empathic and nurturing behaviors. The study can be implied as a source of information and also as an input for them who are going to be in a long distance relationship and for marriage consultants in case of long distance spouses’ intimacy so that information and input of this kind of intimacy can be a consideration for spouses whether they will or are going to be in a long distance relationship.
Efektivitas Dialectical Behavior Therapy (DBT) Meningkatkan Regulasi Emosi: Studi Meta-Analisis Pertiwi, Lucia Citra; Yudiarso, Ananta
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 15, No 2 (2023): November 2023
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v15i2.36111

Abstract

Tujuan penelitian meta-analisis ini untuk menjelaskan efektivitas intervensi Dialectical Behavior Therapy (DBT) untuk meningkatkan regulasi emosi pada penderita gangguan psikologis. Metode penelitian ini merupakan studi meta-analisis dengan kajian literatur pada 11 jurnal internasional. Penelitian ini melibatkan 507 partisipan dari seluruh penelitian yang telah dilakukan. Intervensi yang diberikan pada partisipan merupakan DBT, namun ada pula yang hanya menggunakan DBT-skill training program. Peneliti menggunakan The Cochrane Collaboration’s tool for assessing risk of bias in randomised trials untuk menilai resiko bias penelitian. Berdasarkan hasil pengolahan data mean, standard deviation, dan jumlah sampel dari kelompok kontrol maupun kelompok intervensi melalui software Jamovi 2 dan didapatkan nilai effect size hedge’s g yaitu -,983 (95% CI –2,161 – ,259) dansebesar 97.15%. Selain itu, ditunjukkan pula egger’s bias P sebesar ,009 (P ,05) sehingga terdapat bias publikasi. Hasil analisis data, nilai effect size hedge’s g menunjukkan bahwa DBT memiliki large effect size, maka DBT efektif dalam meningkatkan regulasi emosi pada individu dengan gangguan psikologis. Keterbatasan penelitian ini adalah kurangnya penelitian yang menunjukkan negative findings, sehingga perlu dilakukan penelitian meta-analisis lain yang melibatkan penelitian dengan negative finding.The purpose of this study was to identify the efficacy of Dialectical Behavior Therapy (DBT) to improve emotion regulation for individuals with psychological disorders. The study method was a meta-analysis study with 11 international research articles. This research involved 507 participants from all of the previous studies. DBT intervention was given to the participants yet there were some studies used DBT-skill training programs. Researchers used The Cochrane Collaboration's tool for assessing the risk of bias in randomized trials to evaluate risk of bias. Data analysis of mean, standard deviation, and a total sample of control groups and intervention groups, using Jamovi 2 software and shows effect size hedge’s g values -,983 (95% CI –2,161 – ,259) and heterogeneity value I2 =  97,15%. Also, it showed egger’s bias P-value ,009 (P ,05), which explained a study bias. Results of the study emphasize that this study had a large effect size in which DBT is effective in improving emotion regulation for individuals with psychological disorders. This meta-analysis study had the lack of negative findings research and thus further meta-analysis research is necessary because it is also found an inconsistent finding.
Efektivitas Pelatihan Kepercayaan Diri dalam Public Speaking untuk Mengurangi Kecemasan Berbicara di Depan Umum Dwisatoto, Singgih Agung; Muhammad, Amri Hana
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 2 (2015): Juli 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i2.49410

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan pelatihan public speaking untuk mengurangi kecemasan berbicara di depan umum. Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa program studi kependidikan UNNES yang berjumlah 15 orang. Penelitian ini menggunakan desain eksperimen one group pretest posttest design; dengan pretest dilakukan sebanyak 2 kali. Perlakuan yang diberikan adalah pelatihan kepercayaan diri dalam public speaking yang terbagi dalam 3 sesi dan kegiatan pelatihan berupa pemberian materi, diskusi kelompok, menumbuhkan keyakinan, dan simulasi berbicara di depan umum. Hasil analisis data yang diperoleh dengan menggunakan uji Wilcoxon signed ranks test diperoleh nilai Z = -3,241 dengan  probabilitas 0,0005 (p 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini terdapat perbedaan secara signifikan tingkat kecemasan berbicara di depan umum sebelum dan sesudah diberikan pelatihan kepercayaan diri dalam public speaking. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa pelatihan kepercayaan diri dalam public speaking efektif untuk mengurangi tingkat kecemasan berbicara di depan umum pada mahasiswa program studi kependidikan, hal ini terbukti dengan adanya perbedaan tingkat kecemasan berbicara di depan umum yang signifikan antara sebelum (pretest 1 dan pretest 2) dengan sesudah (posttest) pelatihan kepercayaan diri dalam public speaking. This study aims to determine effectiveness of public speaking training to reduce the anxiety of public speaking. Subjects in this study were students UNNES education courses (15 people). This research uses experimental design one group pretest posttest design; with pretest was done 2 times. The treatments were training in public speaking confidence which is divided into 3 sessions and training activities for the provision of material, group discussions, to gain confidence, and simulation of public speaking. The results of analysis of data obtained using the Wilcoxon signed ranks test obtained by value Z = -3.241 with probability 0.0005 (p 0.05), it can be concluded that in this study there were significant differences in the level of anxiety of public speaking before and after the training given confidence in public speaking. Based on the results of the study, self-confidence training in public speaking effectively to reduce the level of anxiety, it is proved by differences in the level of anxiety of public speaking were between before (pretest 1 and pretest 2) with after (posttest) training of confidence in public speaking.