cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian
ISSN : 25493078     EISSN : 25493094     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian welcomes high-quality, original and well-written manuscripts on any of the following topics: 1. Geomorphology 2. Climatology 3. Biogeography 4. Soils Geography 5. Population Geography 6. Behavioral Geography 7. Economic Geography 8. Political Geography 9. Historical Geography 10. Geographic Information Systems 11. Cartography 12. Quantification Methods in Geography 13. Remote Sensing 14. Regional development and planning 15. Disaster
Arjuna Subject : -
Articles 555 Documents
KEBUTUHAN RUANG FASILITAS PELAYANAN MEMASUKI ERA BONUS DEMOGRAFI DI KECAMATAN PURBALINGGA shalihati, sakinah fathrunnadi
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v15i2.13624

Abstract

Pemusatan kepadatan penduduk tertinggi di Kabupeten Purbalingga berada di Kecamatan Purbalingga dengan rata-rata 4.011 jiwa/km2 pada Tahun 2015, melonjak drastis dibandingkan pada satu tahun sebelumnya, dimana kepadatan penduduknya pada angka 3.968 jiwa/km2. Pertambahan penduduk yang mencapai 631 jiwa dalam kurun waktu satu tahun tersebut, tentunya mengakibatkan komposisi jumlah penduduk terus meningkat dan memberikan efek pada permasalahan akan kebutuhan dan ketersediaan fasilitas pelayanan, diantaranya seperti fasilitas pelayanan pendidikan, kesehatan, ekonomi, umum dan pelayanan publik. Adapun jumlah penduduk saat ini dapat digunakan untuk memprediksi jumlah penduduk pada masa puncak bonus demografi, yang diperkirakan terjadi 15 tahun yang akan datang.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan ruang fasilitas pelayanan 15 tahun yang akan datang di Kecamatan Purbalingga. Metode yang digunakan adalah analisis data primer dan sekunder, dengan teknik analisis diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan fasilitas pelayanan pendidikan memasuki 15 tahun yang akan datang masih membutuhkan kebutuhan ruang, sedangkan untuk fasilitas pelayanan kesehatan, ekonomi, umum dan pelayanan publik belum diperlukan urgensi penambahan kebutuhan ruang, dikarenakan ruang yang ada saat ini masih dapat mencukupi kebutuhan dimasa yang akan datang.
KAJIAN VARIASI PEMODELAN PETA KLASIFIKASI CURAH HUJAN PADA ANALISIS KEKERINGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS : KABUPATEN BLORA) Suprayogi, Andri; Yuwono, Bambang Darmo
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v15i2.15453

Abstract

Menurut Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI), terlihat bahwa dari sekitar 1.800 kejadian bencana periode tahun 2005 hingga 2015 lebih dari 78% (11.648) merupakan bencana hydro meteorology dan sisanya  merupakan bencana geologi (BNPB, 2016). Curah hujan termasuk salah satu aspek fisik alami disamping kelerengan, jenis tanah dan batuan. Persebaran curah hujan pada umumnya  dihitung dengan pemodelan berbasis poligon thiessen dan pemodelan grid yang berbasis diantaranya inverse distance  weighting (IDW) dan Kriging dari curah hujan di stasiun  pemantauan hujan  (NWS, 2005). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan sebaran, klasifikasi, dan hasil analisis kekeringan secara kuantitatif dari data  curah hujan yang diolah dengan  model poligon thiessen atau   pemodelan grid berbasis (IDW) kriging pada area studi Kabupaten Blora. Dalam penelitian ini data hasil klasifikasi curah hujan ditumpangsusunkankan dengan parameter lain yang  bobotnya diperoleh dengan pendekatan Analytical Hierarchihcal Process (AHP). Kabupaten Blora merupakan salah satu kabupaten yang ada di Jawa Tengah, yang  14 dari  16 kecamatan diantaranya memiliki kerawanan bencana kekeringan pada tahun 2016 (Pemerintah Kabupaten Blora, 2017).  Hasil dari penelitian ini adalah klasifikasi curah hujan dan klasifikasi kekeringan antar metode penentuan kelas curah hujan yang digunakan pada Kabupaten Blora. Curah hujan yang masuk kelas rendah luas terbesarnya diperoleh dengan metoda thiessen (60.294,36 ha) dan luas terkecilnya diperoleh dengan metode IDW(6.697,59 ha). luas kelas kekeringan Sangat Berat yang curah hujannya diolah dengan pemodelan poligon thiessen memiliki nilai luasan paling besar (96.199,68 ha) dan paling rendah dari pemodelan IDW (53.542,46 ha).).
MODEL CELULLAR AUTOMATA UNTUK PENGEMBANGAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA PEKALONGAN Sidiq, Wahid Akhsin Budi Nur; Hanafi, Fahrudin
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v15i2.15451

Abstract

Penelitian  ini  bertujuan  untuk mengetahui pola distibusi  Ruang  Terbuka Hijau  (RTH) dari tahun 2005, tahun 2010, tahun 2015 dan menyusun model distribusi spasial RTH tahun 2025 di Kota Pekalongan. Distribusi spasial RTH dan perubahan penggunaan lahan diperoleh dari hasil pengolahan data citra Digital Globe tahun 2005 dan tahun 2010 serta citra SPOT 5 (tahun 2015). penyusunan model distribusi spasial RTH pada tahun 2025 mempertimbangkan RTRW Kota  Pekalongan  yang  terdiri  dari  ruas  jalan  (jalan  eksisting  dan  rencana  pengembangan jalan) dan rencana pengembangan kawasan.Penelitian ini menggunakan pemodelan berbasis raster dengan menggunakan pendekatan cellular automata yang memanfaatkan LanduseSim 2.0  sebagai  software  pengolahannya  selain  Arc.GIS  10.5    Berdasarkan  hasil  penelitian, menunjukan  bahwa  penggunaan  lahan  di  Kota  Pekalongan  dalam  kurun  waktu  10  tahun terakhir  sangat  dinamis.  Permukiman  merupakan  kelas  penggunaan  lahan  dengan peningkatan luas terbesar sebesar 313,17 hektar. Sedangkan penurunan luas terbesar terjadi pada  lahan  pertanian  yang  berkurang  sebesar  392,58  hektar.  Luas  RTH  eksisting  sebesar 614,51 hektar atau sekitar 13,17%  dengan trend tren perkembangan yang meningkat dalam kurun  waktu  10  tahun  terakhir  (201,63  hektar). Hasil  model  yang  disusun  dengan  tren perkembangan yang terus meningkat maka RTH di Kota Pekalongan diprediksi memiliki luas 816,14 hectar pada tahun 2025. RTH di Kota Pekalongan sebagian besar didominasi oleh jenis RTH  sepadan  jalan  dan  sepadan  sungai  dengan  pola  memanjang.  Prediksi  yang  telah dilakukan  maka  dapat  digambarkan  akan  terjadi  penambahan  luas  RTH  dengan  pola memanjang  sepanjang  jalan  dan  sungai.  Kedepannya  pemerintah  daerah  perlu  melakukan terobosan-terobosan  dalam  pengembangan  RTH  di  Kota  Pekalongan  dengan  alokasi  dana yang memadahi yang dapat diaplikasikan dalam bentuk hutan kota, taman dan sabuk pantai mangrove 
KELAYAKAN TEKNIS PENAMBANGAN PASIR PADA WILAYAH PERTAMBANGAN RAKYAT DI SUNGAI PROGO, KABUPATEN KULON PROGO Santoso, Dian Hudawan; Gomareuzzaman, Muammar
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v15i2.15454

Abstract

Kegiatan penambangan oleh masyarakat di Kabupaten Kulonprogo dilakukan tanpa didahului kajian kelayakan teknis sehingga berpotensi mengakibatkan kerusakan lahan dan kecelakaan bagi penambang dan masyarakat. Kegiatan penambangan pasir di Kabupten Kulon Progo banyak dilakukan di Sungai Progo.Tujuan utama dari penelitian ini adalah mengetahui kelayakan teknis penambangan rakyat material pasir. Penelitian yang dilakukan merupakan jenis penelitian survei dan pemetaan. Analisis kelayakan teknis pertambangan rakyat pasir dilakukan dengan metode pengharkatan (rating). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan evaluasi analisis kelayakan teknis, dari 4 lokasi penambangan pasir aktif yang dinyatakan “layak” secara teknis adalah Dusun Dlaban dan Dusun Nepi, sedangkan lokasi yang “kurang layak” secara teknis adalah Dusun Karang Wetan dan Dusun Sapon.
PEMANTAUAN SEDIMENTASI TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DI WADUK KEDUNGOMBO PERIODE 2014-2018 BERBASIS CITRA LANDSAT 8 Sukmono, Abdi; Rajagukguk, Trevi Austin; Subiyanto, Sawitri; Bashit, Nurhadi
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v15i2.15457

Abstract

Sedimentation is a problem that often occurs in reservoirs in Indonesia. One reservoir that has the potential to be affected by sedimentation is the Kedungombo Reservoir. The water volume of the Kedungombo dam is estimated to shrink 40% of the planned water volume due to the sedimentation problem. The condition of the reservoir water needs to be monitored periodically to determine the development of sedimentation in the reservoir area. The large reservoir area of 6,000 ha requires considerable energy and cost if monitoring is done conventionally. Remote sensing technology with Landsat-8 satellite imagery can be used as an alternative technology that is more efficient in reservoir sedimentation monitoring. Reservoir sedimentation monitoring can be observed from the development of the value of total suspended solid (TSS).. The results of multitemporal TSS processing for the period 2014-2018 showed that the quality of the Kedongombo Reservoir TSS generally began to improve despite high sedimentation in some areas. The class of heavily polluted / sedimentated TSS decreased from 380, 97 Ha in 2014 to 353.61 Ha in 2014 and continued to improve to an area of 120.96 Ha in 2018. But at the estuary of Laban Sub-watershed and Ivory Sub-watershed TSS remained has a high concentration.
PREDIKSI DEBIT JANGKA PANJANG UNTUK SUNGAI BENGAWAN SOLO Widyastuti, Marliana Tri; Taufik, Muh; Santikayasa, I Putu
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v15i2.15387

Abstract

Sungai Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa dimana daerah alirannya telah diklasifikasikan sebagai salah satu Daerah Aliran Sungai (DAS) kritis di Indonesia. Penelitian ini mencoba memprediksi debit jangka panjang Sungai Bengawan Solo, dengan tujuan khusus untuk (i) melakukan kalibrasi dan validasi model Soil and Water Assessment Tool (SWAT) dalam mengestimasi debit skala bulanan, dan (ii) mensimulasikan debit bulanan untuk periode 1901 – 2016. Penelitian ini, model SWAT menggunakan input data iklim bulanan, penggunaan lahan, dan karakteristik tanah. Berdasarkan hasil evaluasi, secara statistik model mampu mensimulasikan debit bulanan dengan baik ditunjukkan dengan nilai yang rendah dari percent bias (PBIAS: -2.30%) dan RMSE standard ratio (RSR: 0.44), dan nilai Kling-Gupta Efficiency yang tinggi (KGE: 0.87). Berdasarkan debit hasil simulasi, kami menemukan bahwa debit maksimum terjadi pada bulan Maret, sedangkan debit minimum terjadi pada bulan Agustus. Karakteristik debit bulanan Sungai Bengawan Solo untuk aliran tinggi (Q5) sebesar 198.00 mm/bulan, sedangkan aliran rendah (Q90) sebesar 13.00 mm/bulan. Informasi tentang karakteristik hidrologi sungai sangat penting untuk pengelolaan DAS terpadu, terutama untuk mengantisipasi iklim yang sering berubah.
Assesmen indek kerentanan pantai Kabupaten Rembang, Jawa Tengah Iryanthony, Sigit Bayhu; Santoso, Budi; Hartanto, Pungki
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 15, No 2 (2018): July 2018
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v15i2.14908

Abstract

Indonesia is an archipelago country that has the longest coastline after Canada (UNCLOS). Rembang District is a coastal area in Northern Java, which has a very dynamic development because of its location of the capital city that located along the coastal area. The purpose of this study is to assess the degree of coastal vulnerability in Rembang District with the higher level of development. The CVI method (Coastal Vulnerability Index) of evisien sting is used to assess vulnerability. The coastal vulnerability is very low over 8 km, with a 15.4% of coastal length of Rembang District. Low vulnerability occurs in areas that are located in areas close to settlements area, with beaches already experiencing human intervention. The low category is about 12 km long, reaching 23.3% of the existing coastal length in Rembang District. The middle category is about 16 km, equivalent to 30.8% of shoreline. While the high category is about 10 km, equivalent to 19.2% of coastal length. The highest category has a length of 6 km, equivalent to 11.5% of the coastal area of Rembang district.
POTENSI LAPANGAN PANASBUMI GEDONGSONGO SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF DAN PENUNJANG PEREKONOMIAN DAERAH Setyaningsing, Wahyu
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 8, No 1 (2011): January 2011
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v8i1.1652

Abstract

Indonesia sebagai negara dengan penduduk mencapai 300 juta jiwa membutuhkan sumber energi alternatifuntuk mengatasi krisis energi pada masa mendatang. Berdasarkan kondisi tektoniknya Indonesia merupakan Negarayang kaya akan sumber panasbumi yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif terutama untukpembangkit tenaga listrik dan sebagai sarana penunjang bagi pengembangan sektor industri, pertanian, perikanandan potensi daerah yang lainnya. Kabupaten Semarang mempunyai potensi panasbumi yang cukup memadai untukdikembangkan, seperti lapangan panasbumi Gedongsongo. Temperatur yang didapatkan dengan menggunakan metodegas geothermometer pada fumarole di Gedongsongo adalah sebesar 223oC sehingga daerah Panasbumi Gedongsongomempunyai potensi untuk digunakan untuk tenaga listrik dan kegiatan perekonomian lainnya. pada masa mendatangpotensi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
TRACER STUDY MAHASISWA LULUSAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI Sriyono, -
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 6, No 2 (2009): July 2009
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v6i2.96

Abstract

Untuk mendeteksi kualitas lulusan yang dihasilkan tidak cukup hanya melihat output-nya saja, yang hanya dilihat dari kemampuan penguasaan pengetahuan, ketrampilan dan sikap formal yang diwujudkan dalam Indeks Prestasi yang dicapai. Tetapi harus pula dideteksi dari outcome-nya, yaitu seberapa besar lulusannya dapat terserap dalam dunia kerja. Tingkat terserapnya lulusan di dunia kerja merupakan indikator keberhasilan program studi dalam mencetak lulusan (output). Oleh karenanya, Jurusan Geografi Universitas negeri Semarang bermaksud untuk  melakukan tracer study terhadap alumninya yang lulus sejak tahun 2004 s/d 2008. Subyek penelitian ini adalah  para alumnus Program Studi Pendidikan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang selama lima tahun terakhir, yaitu lulusan tahun 2004 sampai dengan 2008, namun yang dijadikan responden ada sejumlah 15 % dengan cara proporsional random sampling berdasarkan tahun kelulusannya. Variabel penelitian ini meliputi : (1) keterserapan alumni di pasar kerja bidang pendidikan maupun non bidang pendidikan, (2) waktu tunggu untuk memperoleh pekerjaan, dan (3) bidang pekerjaan yang dimasuki, dan (4) tanggapan lulusan tentang materi perkuliahan dan saran/masukan guna perbaikan kurikulum prodi Pendidikan geografi. Metode pengumpulan data dilakukan melalui berbagai teknik, yaitu : dokumentasi dan wawancara. Berdasarkan data penelitian, ternyata masa tunggu lulusan prodi Pendidikan Geografi sampai dengan mereka memperoleh pekerjaan di lapangan kerja memiliki rerata masa tunggu 0,5 tahun, tingkat keterserapan lulusan pada pekerjaan pertama mereka sebesar 96 % dan mereka yang bekerja telah menerima rerata gaji pada pekerjaan pertama, sebesar Rp. 600.000,- / bulan serta setelah bekerja pada pekerjaan kedua reratanya sebesar Rp. 900.000,-. Jenis pekerjaan yang dapat menampung sebagian besar (96 %) adalah sebagai tenaga pengajar. sebagian besar (64 %) dari para lulusan (responden) menyatakan bahwa materi perkuliahan yang dikembangkan oleh prodi Pendidikan Geografi masih .relevan. dengan bidang keahlian yang dibutuhkan di lapangan kerja atau dunia kerja dan dipertegas dengan pernyataan bahwa materi perkuliahan yang ada di dalam kurikulum masih .baik. (75 %) dalam mendukung pengetahuan dan keterampilan mereka bekerja (sinergi dengan kurikulum di lapangan kerja). Ada beberapa simpulan yang dapat diungkap antara lain: 1) waktu tunggu para lulusan prodi Pendidikan Geografi dalam memperoleh pekerjaan setelah lulus, reratanya 0,5 tahun (6 bulan), 2) tingkat keterserapan lulusan di lapangan kerja sebesar 96 %, 3) sebaran atau distribusi jenis pekerjaan yang diperoleh para lulusan sebagian besar jenis pekerjaan yang berkaitan dengan bidang pendidikan yakni tenaga pendidik, 4) materi perkuliahan yang diberikan kepada mahasiswa yang termaktub di dalam kurikulum prodi dirasakan oleh para lulusan masih relevan dengan bidang keahlian di lapangan kerja mereka dan masih sinergi dengan kurikulum di sekolah sebagai lapangan kerja. Meskipun demikian masukan dan saran dari para alumnus untuk pengembangan kurikulum di prodi maupun jurusan sangat diperhatikan untuk bahan revisi dan/ penyesuaian kurikulum di lembaga LPTK ini. Hal yang perlu disarankan bahwa lembaga jurusan harus selalu melakukan pemantauan perkembangan lapangan baik yang terkait dengan eksistensi lulusan (sebagai alumni) maupun perkembangan dan tuntutan dunia kerja di lapangan (lembaga maupun masyarakat pengguna). Kata kunci : tracer study, lulusan, program studi geografi
Penilaian Pengurangan Risiko Bencana Erupsi Gunung Merapi Berdasarkan Aspek Kapasitas Masyarakat di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali Hayati, Rahma; Benardi, Andi Irwan; Zulfa, Alfiatus; kahfi, ashabul
Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Vol 16, No 2 (2019): July
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jg.v16i2.20406

Abstract

Penelitian yang dilaksanakan merupakan jenis penelitian deskriptif. Data yang diambil berupa hasil penelitian yang dilakukan dengan teknik pengumpulan data berupa instrumen dan wawancara  yang dilakukan dengan mengambil sampel di Kecamatan Selo, data tersebut kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari beberapa dusun pada masing-masing desa yang paling dekat dengan lereng Gunung Merapi. Penilaian kapasitas masyarakat di ukur berdasarkan empat variabel, yaitu: sosial, fisik, ekonomi dan lingkungan, sedangkan variabel untuk kapasitas pemerintah adalah legislasi, perencanaan, kelembagaan, pendanaan, pengembangan kapasitas dan penyelenggaraan penanggulangan bencana. Hasil penelitian menyatakan bahwa, kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana erupsi sebagian besar termasuk dalam kategori rendah. Kapasitas pemerintah dalam upaya pengurangan risiko bencana juga masih tergolong rendah, sebagian besar indikator masih dalam tahap perencanaan. Mitigasi struktural dan non struktural bencana erupsi masih belum tersusun dengan baik. Belum ada upaya nyata secara fisik dalam upaya pengurangan risiko bencana. Sebagian besar masyarakat juga belum pernah mendapatkan sosialisasi tentang kebencanaan. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa tingkat kapasitas masyarakat dan kapasitas pemerintah dalam menghadapi bencana erupsi termasuk dalam kategori rendah, maka sebaiknya pemerintah setempat dapat bekerjasama dengan masyarakat untuk dapat meningkatkan kapasitas melalui sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat secara menyeluruh.Research carried out is a type of descriptive research. Data taken in the form of results of research conducted by data collection techniques in the form of instruments and interviews conducted by taking samples in the District of Selo, the data is then analyzed descriptively quantitative. The sample used in this study was taken from several hamlets in each village closest to the slopes of Mount Merapi. Community capacity assessment is measured based on four variables, namely: social, physical, economic and environmental, while the variables for government capacity are legislation, planning, institutional, funding, capacity building and disaster management. The results of the study stated that, the capacity of the community in facing eruption disaster was mostly included in the low category. The capacity of the government in disaster risk reduction efforts is also still relatively low, most indicators are still in the planning stage. Structural and non-structural mitigation of eruption disaster is still not well structured. There has not been any real physical effort in disaster risk reduction efforts. Most of the people have never received any information about disaster. Based on the results of the study concluded that the level of community capacity and government capacity in dealing with eruption disasters is included in the low category, then the local government should be able to work with the community to be able to increase capacity through disaster socialization dissemination to the community as a whole.

Filter by Year

2007 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 20, No 2 (2023) Vol 20, No 1 (2023) Vol 19, No 2 (2022) Vol 19, No 1 (2022) Vol 18, No 2 (2021): In progress [July 2021] Vol 18, No 2 (2021) Vol 18, No 1 (2021) Vol 18, No 1 (2021): January Vol 17, No 2 (2020): July Vol 17, No 2 (2020) Vol 17, No 1 (2020): January Vol 17, No 1 (2020) Vol 16, No 2 (2019): July Vol 16, No 2 (2019) Vol 16, No 1 (2019): January Vol 16, No 1 (2019) Vol 15, No 2 (2018): July 2018 Vol 15, No 1 (2018): January 2018 Vol 15, No 2 (2018) Vol 15, No 1 (2018) Vol 14, No 2 (2017): July 2017 Vol 14, No 1 (2017): January 2017 Vol 14, No 1 (2017): January 2017 Vol 14, No 2 (2017) Vol 14, No 1 (2017) Vol 13, No 2 (2016): July 2016 Vol 13, No 2 (2016): July 2016 Vol 13, No 1 (2016): January 2016 Vol 13, No 1 (2016): January 2016 Vol 13, No 2 (2016) Vol 13, No 1 (2016) Vol 12, No 2 (2015): July 2015 Vol 12, No 2 (2015): July 2015 Vol 12, No 1 (2015): January 2015 Vol 12, No 1 (2015): January 2015 Vol 12, No 2 (2015) Vol 12, No 1 (2015) Vol 11, No 2 (2014): July 2014 Vol 11, No 2 (2014): July 2014 Vol 11, No 1 (2014): January 2014 Vol 11, No 1 (2014): January 2014 Vol 11, No 2 (2014) Vol 11, No 1 (2014) Vol 10, No 2 (2013): July 2013 Vol 10, No 2 (2013): July 2013 Vol 10, No 2 (2013) Vol 8, No 2 (2011): July 2011 Vol 8, No 2 (2011): July 2011 Vol 8, No 1 (2011): January 2011 Vol 8, No 1 (2011): January 2011 Vol 8, No 2 (2011) Vol 8, No 1 (2011) Vol 7, No 2 (2010): July 2010 Vol 7, No 2 (2010): July 2010 Vol 7, No 1 (2010): January 2010 Vol 7, No 1 (2010): January 2010 Vol 7, No 2 (2010) Vol 7, No 1 (2010) Vol 6, No 2 (2009): July 2009 Vol 6, No 2 (2009): July 2009 Vol 6, No 2 (2009) Vol 4, No 2 (2007): July 2007 Vol 4, No 2 (2007): July 2007 Vol 4, No 1 (2007): January 2007 Vol 4, No 1 (2007): January 2007 Vol 4, No 2 (2007) Vol 4, No 1 (2007) More Issue