cover
Contact Name
Laila Puspita
Contact Email
lailapuspita@radenintan.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalbiosfer@radenintan.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
ISSN : 20865945     EISSN : 25804960     DOI : -
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi is a Scientific Journal managed by Biology Education UIN Raden Intan Lampung with registered numbers p-ISSN: 2086-5945 (print) and e-ISSN: 2580-4960 (online). The Purpose of the Journal of the Biosphere is a vehicle or vessel for pouring the latest theories, disseminating information on recent findings related to Biology and Biological Sciences, research results and development of educational materials, educational evaluation, media and learning models achieved in the field of Biology education.
Arjuna Subject : -
Articles 213 Documents
Potential Antagonistic Interaction of Methanol Leaf Extract of Impatiens balsamina L. with Five Antibiotics against Staphylococcus aureus ATCC 29213 Ramanda, Putri; Mawakhid, Oki Rokhim; Sinaga, Samuel Billie Tua; Shari, Winda; Avidlyandi, Avidlyandi; Wiradimafan, Khafit; Yudha S, Sal Prima; Wibowo, Risky Hadi; Erliana, Dina; Adfa, Morina
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 16 No 2 (2025): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosfer.v16i2.30025

Abstract

Impatiens balsamina L. has traditionally been used in Indonesia for treating skin infections and is considered a potential source of antibacterial compounds. However, the interaction between crude plant extracts and antibiotics may not always result in synergistic effects and may instead reduce antibacterial efficacy. This study evaluated the antibacterial activity and potential interaction of methanol leaf extract of I. balsamina with five antibiotics against Staphylococcus aureus ATCC 29213. The antibacterial activity was assessed using well diffusion and paper strip methods. The treatments consisted of 15% I. balsamina leaf methanol extract, 0.025% of each antibiotic, including clindamycin, chloramphenicol, cotrimoxazole, ciprofloxacin, and tetracycline, and their 1:1 combination. The extract alone produced a mean inhibition zone of 10.27±0.216 mm. Clindamycin, chloramphenicol, ciprofloxacin, and tetracycline showed inhibition zones ranging from 19.46±1.732 mm to 22.34±3.021 mm, while cotrimoxazole showed no inhibition zone. The combinations of the extract with clindamycin, tetracycline, chloramphenicol, ciprofloxacin, and cotrimoxazole produced inhibition zones of 19.54±0.155 mm, 18.57±0.422 mm, 16.37±0.879 mm, 13.28±0.257 mm, and 9.76±0.103 mm, respectively. The diffusion-based assays indicated a potential antagonistic interaction between the extract and the tested antibiotics, characterized by combined inhibitory diameters smaller than the additive sum of the individual agents. These findings suggest that the concurrent use of I. balsamina extract and antibiotics should be further evaluated using MIC-based checkerboard assays and Fractional Inhibitory Concentration Index analysis. Potensi Interaksi Antagonis Ekstrak Daun Metanol Impatiens balsamina L. dengan Lima Antibiotik terhadap Staphylococcus aureus ATCC 29213 ABSTRAK: Impatiens balsamina L. secara tradisional digunakan di Indonesia untuk mengobati infeksi kulit dan diketahui memiliki potensi sebagai sumber senyawa antibakteri. Namun, kombinasi antara ekstrak tanaman dan antibiotik tidak selalu menghasilkan efek sinergis, tetapi juga dapat menurunkan efektivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri dan potensi interaksi antara ekstrak metanol daun I. balsamina dengan lima antibiotik terhadap Staphylococcus aureus ATCC 29213. Aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi sumuran dan paper strip. Perlakuan terdiri atas ekstrak metanol daun I. balsamina 15%, masing-masing antibiotik 0,025%, yaitu klindamisin, kloramfenikol, kotrimoksazol, siprofloksasin, dan tetrasiklin, serta kombinasi ekstrak dan antibiotik dengan rasio 1:1. Ekstrak tunggal menghasilkan rata-rata zona hambat sebesar 10,27±0,216 mm. Klindamisin, kloramfenikol, siprofloksasin, dan tetrasiklin menghasilkan zona hambat sebesar 19,46±1,732 mm hingga 22,34±3,021 mm, sedangkan kotrimoksazol tidak menunjukkan zona hambat. Kombinasi ekstrak dengan klindamisin, tetrasiklin, kloramfenikol, siprofloksasin, dan kotrimoksazol menghasilkan zona hambat masing-masing sebesar 19,54±0,155 mm, 18,57±0,422 mm, 16,37±0,879 mm, 13,28±0,257 mm, dan 9,76±0,103 mm. Hasil uji berbasis difusi menunjukkan adanya indikasi interaksi antagonis antara ekstrak dan antibiotik yang diuji, ditandai dengan diameter hambat kombinasi lebih kecil daripada jumlah aditif dari masing-masing agen secara individu. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak I. balsamina bersamaan dengan antibiotik perlu dikaji lebih lanjut melalui uji MIC, checkerboard assay, dan Fractional Inhibitory Concentration Index
Exploring Morphological Traits and Phytochemical Profiles of Natural Dye Plants in Gringsing Fabric: A Contextual Approach to Biology Education Ayu Rai, I Gusti; Suanda, I.W.; Mirah, A.A.I.; Triyanti, N.K; Putu Rahayu Artini, Ni
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 17 No 1 (2026): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosfer.v17i1.30894

Abstract

Natural dyes are increasingly considered sustainable alternatives to synthetic textiles dyes, yet their use is often based on tradition rather than scientific understanding. This study explores the morphological traits and phytochemical profiles of plants used in Gringsing fabric and considers their relevance for biology education. A qualitative descriptive approach was applied to four species through field observation, interviews, and phytochemical screening of selected plant parts. The findings show that phenolics, tannins, and flavonoids are consistently present and play key roles in color formation and binding. Observable plant characteristics were closely linked to the distribution of these compounds, suggesting a clear scientific basis behind traditional practices. Integrating these findings into learning materials offers a meaningful way to connect biological concepts with local knowledge in classroom contexts. Eksplorasi Karakter Morfologi dan Profil Fitokimia Tanaman Pewarna Alami pada Kain Gringsing: Pendekatan Kontekstual dalam Pendidikan Biologi ABSTRAK: Pewarna alami semakin dipandang sebagai alternatif ramah lingkungan, namun penggunaannya masih banyak didasarkan pada pengalaman tradisional tanpa pemahaman ilmiah yang memadai. Penelitian ini mengeksplorasi karakter morfologi dan profil fitokimia tumbuhan pewarna pada kain Gringsing serta kaitannya dengan pembelajaran biologi. Pendekatan deskriptif kualitatif dilakukan terhadap empat spesies melalui observasi lapangan, wawancara, dan skrining fitokimia pada bagian tumbuhan tertentu. Hasil menunjukkan bahwa senyawa fenolik, tanin, dan flavonoid berperan penting dalam pembentukan dan pengikatan warna. Karakter morfologi yang tampak berkaitan dengan sebaran senyawa tersebut, menunjukkan adanya dasar ilmiah dalam praktik tradisional. Temuan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran kontekstual yang menghubungkan konsep biologi dengan kearifan lokal.
A Quantitative Ethnobotanical Analysis of Medicinal Plant Use in the Treatment of Skin Diseases among the Amanuban Community, Indonesia O.F.I Tefu, Meti; I. Leo, Marince; J. Takaeb, Matheo; Rafael, Andriani
Biosfer: Jurnal Tadris Biologi Vol 17 No 1 (2026): Biosfer: Jurnal Tadris Biologi
Publisher : UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/biosfer.v17i1.30931

Abstract

Traditional medicinal knowledge represents an important biocultural resource for community-based healthcare and biodiversity conservation. This study quantitatively analyzed the use of medicinal plants for treating skin diseases among the Dawan (Amanuban) community in South Central Timor, Indonesia. A descriptive quantitative ethnobotanical design was applied through semi-structured interviews, field observations, and plant documentation involving 40 purposively and snowball-selected informants. Plant importance and knowledge consensus were assessed using Use Value (UV), Relative Frequency of Citation (RFC), Fidelity Level (FL), and Informant Consensus Factor (ICF). The study recorded 17 medicinal plant species used to treat seven categories of skin diseases, including dermatitis, boils, scabies, acne, itching, chickenpox, and cracked heels. A total of 276 use reports were documented, with leaves being the dominant plant part used. High ICF values (0.93–1.00) indicated strong consensus among informants. These findings demonstrate a structured traditional knowledge system and suggest priority species for future phytochemical, pharmacological, and conservation studies. Analisis Etnobotani Kuantitatif Penggunaan Tumbuhan Obat dalam Pengobatan Penyakit Kulit pada Masyarakat Amanuban, Indonesia ABSTRAK: Pengetahuan pengobatan tradisional merupakan sumber daya biokultural penting bagi kesehatan berbasis masyarakat dan konservasi keanekaragaman hayati. Penelitian ini menganalisis secara kuantitatif pemanfaatan tumbuhan obat untuk pengobatan penyakit kulit pada masyarakat Dawan (Amanuban) di Timor Tengah Selatan, Indonesia. Penelitian menggunakan desain etnobotani deskriptif kuantitatif melalui wawancara semi-terstruktur, observasi lapangan, dan dokumentasi tumbuhan terhadap 40 informan yang dipilih secara purposive dan snowball sampling. Tingkat kepentingan tumbuhan dan konsensus pengetahuan dianalisis menggunakan Use Value (UV), Relative Frequency of Citation (RFC), Fidelity Level (FL), dan Informant Consensus Factor (ICF). Hasil penelitian mencatat 17 spesies tumbuhan obat yang digunakan untuk mengobati tujuh kategori penyakit kulit, yaitu dermatitis, bisul, kudis, jerawat, gatal, cacar air, dan tumit pecah-pecah. Sebanyak 276 laporan penggunaan terdokumentasi, dengan daun sebagai bagian tumbuhan yang dominan digunakan. Nilai ICF tinggi (0,93–1,00) menunjukkan konsensus kuat antar informan. Temuan ini menunjukkan sistem pengetahuan tradisional yang terstruktur dan penting untuk penelitian lanjutan.