cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal KALAM
ISSN : 08539510     EISSN : 25407759     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
KALAM (ISSN 0853-9510; E-ISSN: 2540-7759) is a journal published by the Ushuluddin Faculty, Raden Intan State Islamic University of Lampung, INDONESIA. KALAM published twice a year. KALAM focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Theology, and Mysticism. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by Kalam will review by two peer review through a double-blind review process. KALAM has been accredited by The Ministry of Research, Technology, and Higher Education, the Republic of Indonesia as an academic journal (SK Dirjen PRP Kemenristekdikti No. 1/E/KPT/2015).
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
Sacred Science vs. Secular Science: Carut Marut Hubungan Agama dan Sains Hidayat, Samsul
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.169

Abstract

Tulisan ini berupaya mengetahui pergumulan yang terjadi antara Agama dan Sains. Hipotesis yang diajukan adalah: Hubungan antara Agama dan Sains mengalami ketegangan dan variasi didalamnya. Ketegangan yang terjadi antara Sains dan Agama disebabkan karena perbedaan perspektif yang digunakan untuk memahami realitas sebagai sumber pengetahuan manusia. Kalau sains mendekati persoalan eksistensi melalui observasi dan eksperimen, sedangkan agama membangun landasan epistemologinya berdasarkan wahyu. Pada abad 19 dan sebagian besar abad 20, gagasan yang dominan adalah sains dianggap mampu memecahkan seluruh persoalan manusia, namun faktanya sains juga telah melahirkan senjata-senjata pemusnah massal dan polusi lingkungan, termasuk merusak keseimbangan aspek spiritual dan material dalam kehidupan manusia. Belakangan muncul para ilmuwan teolog dari beberapa agama yang berupaya mencari jalan tengah untuk menyelesaikan problematika kemanusiaan dan alam dengan menjembatani carut marut hubungan sains dan agama yang tampaknya belum berakhir.
Epistemologi yang Menghermeneutika Menurut Richard Rorty el-Munir, M. Ied
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.171

Abstract

Tulisan ini memiliki tujuan untuk memberikan deskripsi atas penolakan Rorty terhadap epistemologi dan kemudian menggantikannya dengan hermeneutika. Penolakan Rorty dimaksud sebenarnya adalah sebuah bentuk kritikan Rorty atas epistemologi fondasional yang berakar pada pemikiran-pemikiran Descartes, Locke, dan Kant. Epistemologi tidak harus dimengerti secara sempit dalam pengertian epistemologi fondasional menurut Rorty. Dan Rorty sendiri sesungguhnya sedang berepistemologi ketika menolak epistemologi fondasional, karena Rosty berkecimpung dalam dunia pengetahuan.
METODOLOGI PEMAHAMAN KONTEKSTUAL HADIS IBN QUTAIBAH DALAM TA’WI>L MUKHTALAF AL-HADI>S| Ghozali, Abdul Malik
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.173

Abstract

Dalam pemahaman hadis ada dua metode yang diakui, yakni metode tekstual dan metode kontekstual. Tradisi atau hadis nabi yang dikenal sebagai sumber hukum Islam yang kedua memiliki posisi yang sangat penting, baik sebagai penguat, penjelas al-Qur’an atau pencipta beberapa hukum yang sebelumnya tidak dijelaskan al-Qur’an. Namun dalam kenyataannya, ditemukan ada beberapa hadis yang bertentangan dengan al-Qur’an, atau dengan hadis lain, atau dengan logika, sejarah, atau fakta sosial. Ini berarti bahwa pembahasan tentang hadis mukhtalif merupakan suatu kajian yang penting dalam hukum Islam. Sejalan dengan itu beberapa ulama hadis berupaya untuk menemukan solusi dari kasus ini, dengan keyakinan, bahwa hadis hampir sama kedudukannya dengan al-Qur’an karena ia diwahyukan oleh Allah kepada nabi sehingga mustahil jika ditemukan kontradiktif antara hadis dan lain-lain selama hadis itu shahih. Ibnu Qutaibah adalah salah satu ulama terkenal yang berupaya keras untuk memahami hadis mukhtalif.
Membangun Identitas Peradaban di Era Global: Telaah Pemikiran Amartya Sen Rosadisastra, Andi
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.185

Abstract

Teori “Benturan Peradaban” karya Samuel Huntington memiliki kebenarannya sendiri jika dilihat dari perspektif esensialis atau ajaran agama yang bernuansa eksklusif dan dipahami secara literalis radikal. Dalam konsepsi muslim eksklusif atau literalis radikal, term “jihad” dapat menjadi senjata ampuh untuk melakukan benturan peradaban ini. Oleh karena itu diperlukan upaya: Pertama, penggabungan spritualitas agama dengan keutamaan paham kebebasan. Kedua, dialektika simbiosis antar peradaban. Demikian juga argumen dan kritik Amartya Sen terhadap teori Benturan Peradaban, juga memiliki kebenarannya jika dilihat dari ajaran agama yang bertujuan teraplikasikannya nilai-nilai perdamaian. Karena menurutnya, setiap pemeluk agama memiliki keragaman identitas yang tidak hanya dibatasi oleh nilai-nilai agama, tetapi juga identitas lainnya berdasarkan nilai-nilai sosial, ekonomi, atau budaya. Oleh karena itu diperlukan analisis berdasarkan teori-teori sosial yang bersifat empirik dalam menghadapi atau mengantisipasi adanya konflik, baik konflik disebabkan oleh pemahaman keliru atau tidak utuh tentang agama atau aspek lainnya dari konflik peradaban.
KHAZANAH INTELEKTUAL TEOLOGI MATURIDIYAH Masturin, Masturin
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.187

Abstract

Persoalan teologis berkisar pada issue tentang status dan pelaku dosa besar, perbuatan manusia, dan hakikat sifat Tuhan pada umumnya muncul sebagai akibat dari perbedaan visi politik. Issu teologis ini telah melahirkan golongan Khawarij, Murjiah dan Mu’tazilah. Seiring dengan itu muncul issu mengenai bebas/ tidaknya perbuatan manusia yang kemudian melahirkan golongan Jabariyah dan Qadariyah. Persoalan muncul karena dipengaruhi oleh budaya Helinisme yang rasional seiring dengan proses futuhat (ekspansi Islam). Persentuhan umat Islam dengan budaya Helinisme semakin memperkuat penggunaan akal dalam kajian teologis, khususnya oleh Mu’tazilah. Dengan demikian ada tiga issu besar yang berkembang dalam teologi Islam saat itu yaitu dosa besar, kehendak bebas tidaknya manusia dan penggunaan akal. Mu’tazilah memberikan penekanan yang tinggi kepada akal dengan segala implikasinya karena arus pemikiran rasional yang berkembang pada waktu itu. Al-Maturiddi membahas tentang penciptaan alam yang lebih banyak mengajukan argumen rasional dan perseptual dari pada argumen tradisional. Hal ini tidak lain karena perhatian utamanya untuk mempertahankan ajaran Islam dari serangan Indo-Iranian dan Yahudi-Kristen serta filsafat Yunani.
TRANSFORMASI GERAKAN TAREKAT SYAFAWIYAH DARI TEOLOGIS KE POLITIS Syukur, Abdul
KALAM Vol 8 No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i1.189

Abstract

Gerakan tarekat Syafawi di Iran semula bertujuan untuk membentuk kesalehan pengikutnya dan memerangi ahli bid’ah. Namun pada gilirannya tarekat ini menjadi gerakan sosial yang mengkritisi penguasa yang hidup dalam kemewahan dan jauh dari kesalehan. Selain dari itu, Kondisi sosial-politik di Iran juga mendorong tarekat Syafawi yang semula merupakan gerakan keagamaan-politik menjadi gerakan politik - keagamaan. Doktrin Mahdiisme dan doktrin Imamah dalam ajaran Syi’ah Dua belas dijadikan landasan legitimasi oleh para pemimpin Tarekat Syafawi untuk mewujudkan ambisi kekuasaan dan cita-cita politik-keagamaan mereka. Hasilnya, gerakan politik-keagamaan kaum Tarekat Syafawi memiliki pengaruhnya yang cukup luas di Iran, dan puncaknya membentuk pasukan Qizilbaṣ serta mendirikan Dinasti Safawi di Iran sejak tahun 1501-1736. Setelah berdirinya Republik Islam Iran tahun 1979, Syi’ah Dua belas masih dipertahankan sebagai mazhab negara dalam sistem religio-politik yang diwadahi oleh Wilayat al-Faqih.
KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA Isnaini, Ahmad
KALAM Vol 8 No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i2.221

Abstract

Agama merupakan tuntunan bagi kehidupan manusia di dunia. Tuntunan ini memuat aturan, tata cara pengabdian dan tata laku pergaulan antar sesama. Tata laku pergaulan di dalam kehidupan mendatangkan kebaikan manakala benar-benar berdasar nilai-nilai agama. Agama tidak pernah mengajarkan dan menuntun pemeluknya untuk merugikan diri sendiri, orang lain, atau pun makhluk Tuhan lainnya. Perilaku buruk apapun yang mengatasnamakan perintah agama, sebenarnya perlu dikaji ulang. Sehingga agama tidak selalu dijadikan dalih dan alasan untuk menjadikan pihak lain menderita. Kekerasan dalam perilaku dan tindakan mencerminkan keyakinan dan watak pelakunya. Hal ini muncul didasarkan pemahaman atas doktrin dan keyakinan dalam diri. Upaya memberangus pihak lain atas alasan kesalahan dan kemaksiatan, bukan cara yang mesti dilalui. Kesalahan dan kemaksiatan mestinya didekati melalui cara hikmah dan toleransi. Perbedaan cara pandang terhadap sesuatu tidak boleh menjadi dasar perilaku kekerasan.
Analisis Dekonstruktif Terhadap Radikalisme Islam: Dari Nalar Islam Pusat Menuju Identitas Islam Pribumi Lutfi, Ahmad
KALAM Vol 8 No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i2.222

Abstract

Arus modernitas bangsa Barat ke berbagai belahan dunia, memicu reaksi dari tubuh umat Islam. Reaksi tersebut terpola menjadi tiga model pergulatan wacana pemikiran. Pertama, merujuk teks-teks dasar al-Qur’an. Kedua, merujuk seluruh tradisi yang muncul pada era kenabian sebagai bentuk aplikasi yang pertama. Ketiga, merujuk pada keseluruhan produk dari interaksi tripartit antara umat Islam, teks-teks keagamaan dan situasi yang melingkupinya. Kelompok yang pertama yang menjadikan teks-teks dasar al-Qur’an sebagai satu-satunya otoritas epistemologis disebut Islam fundamentalis. Kelompok kedua yang mencakupkan tradisi sebagai bentuk aplikasi yang pertama disebut Islam tradisionalis. Dan kelompok yang ketiga dengan pendekatan tripartitnya selanjutnya disebut Islam liberal. Makalah ini akan memberikan suatu koreksi terhadap desain pemikiran yang sudah mengglobal pada diri Islam fundemantalis dengan proyek universalisme Islamnya dan akan menggunakan model pendekatan studi postkolonialis. Pembahasan dalam studi postkolonial ini akan dibagi menjadi lima sub pembahasan. Pertama, mengenali akar-akar hegemonik Islam fundamentalis. Kedua, penerapan travelling theory tahap pertama. Ketiga, penerapan travelling theory tahap kedua. Keempat menggambarkan bentuk identitas etnis pada Islam tradisional. Dan kelima, faktor problematika dari Islam fundamentalis dan Islam tradisionalis.
Radikalisme Agama: Dekonstruksi Tafsir Ayat-Ayat “Kekerasan” Dalam Al-Qur’an Abdillah, Junaidi
KALAM Vol 8 No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i2.224

Abstract

Berbagai aksi radikalisme atas nama agama dalam dunia Islam memberikan kesan seakan-akan mewajibkan pemeluknya untuk melakukan kekerasan dalam menyelesaikan setiap persoalan sehingga memunculkan opini bahwa agama Islam identik dengan kekerasan. Di dalam al-Qur’an, pengertian jihad fi sabilillah sebenarnya lebih menekankan pada upaya atau perjuangan meningkatkan ibadah semata-mata karena Allah dan bukan untuk kepentingan yang lain. Al-Qur’an memang memperbolehkan tindak kekerasan tetapi pada saat tertentu dan dengan persyaratan yang sangat ketat sekali serta sangat dipengaruhi aspek kesejerahan ketika ayat-ayat tersebut diturunkan. Al-Qur’an sama sekali tidak mengijinkan tindakan kekerasan apalagi terorisme atas nama Tuhan. Tulisan ini bermaksud melakukan dekonstruksi tafsir ayat-ayat yang ditengarai memicu aksi radikalisme dengan menggunakan paradigma kualitatif eksploratif berupaya mengeksplorasi, memahami dan menafsirkan ayat-ayat tersebut.
Front Pembela Islam: Antara Kekerasan dan Kematangan Beragama Faiz, Fachrudin
KALAM Vol 8 No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/klm.v8i2.226

Abstract

Meskipun mengandung kontradiksi dan paradok secara logis, namun kekerasan atas nama agama tidak sukar untuk ditemukan sepanjang sejarah peradaban manusia. Paradok yang dimaksud tampak dalam pertentangan antara idealitas agama sebagai yang mengajarkan nilai-nilai luhur, dengan adanya beberapa kelompok atau individu di tengah masyarakat yang dengan mengatasnamakan agama malah berbuat kekerasan dan kerusakan. FPI (Front Pembela Islam) yang berkembang di Indonesia banyak dikategorikan sebagai contoh dalam kasus ini. Di luar faktor komitmen beragama dan pengaruh sosial-budaya-politik-ekonomi, kesediaan seseorang untuk melakukan kekerasan hakikatnya berhubungan dengan dimensi psikologisnya, yaitu kematangan spiritual atau kematangan beragamanya. Tulisan ini mencoba mengurai sejauhmana perilaku kekerasan sebagaimana sering diperagakan oleh FPI memiliki korelasi dengan tingkat kematangan beragama.