Jurnal KALAM
KALAM (ISSN 0853-9510; E-ISSN: 2540-7759) is a journal published by the Ushuluddin Faculty, Raden Intan State Islamic University of Lampung, INDONESIA. KALAM published twice a year. KALAM focused on the Islamic studies, especially the basic sciences of Islam, including the study of the Qur’an, Hadith, Islamic Philosophy, Theology, and Mysticism. It is intended to communicate original research and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. Every article submitted and will be published by Kalam will review by two peer review through a double-blind review process.
KALAM has been accredited by The Ministry of Research, Technology, and Higher Education, the Republic of Indonesia as an academic journal (SK Dirjen PRP Kemenristekdikti No. 1/E/KPT/2015).
Articles
200 Documents
Harmoni Sosial Dalam Keberagaman Dan Keberagamaan Masyarakat Minoritas Muslim Papua Barat
Wekke, Ismail Suardi
KALAM Vol 10 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v10i2.3
AbstrakPapua Barat menjadi wilayah dimana keberagamaan dan keberagaman mengalami perjumpaan dengan etnisitas. Untuk itu, diperlukan sebuah eksplorasi untuk mengidentifikasi tentang keberadaan agama sebagai aspek yang mempersatukan. Dengan demikian, artikel ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan agama yang menjadi pilihan pribadi masyarakat Papua Barat. Pada saat yang sama, justru agama juga menjadi perekat kehidupan masyarakat. Penelitian ini dilaksanakan di Sorong Raya, Papua Barat. Wawancara mendalam dan pengamatan tidak berpartisipasi digunakan untuk mengumpulkan data. Untuk kepentingan triangulasi data dilakukan diskusi terarah, termasuk penyajian hasil penelitian awal melalui forum diskusi sebanyak dua kali. Artikel ini mendiskusikan perjumpaan agama-agama melahirkan harmoni dan kebersamaan. Keberadaan agama justru menjadi bagian yang tidak menjadi pembeda. Bahkan dalam beberapa hal, kegiatan keagamaan dijadikan sebagai kegiatan bersama walaupun berbeda-beda agama. Akhirnya, artikel ini mendiskusikan beberapa hal berkaitan dengan budaya yang juga tetap memberikan ruang bagi perbedaan-perbedaan dalam memilih keyakinan masing-masing.AbstractWest Papua is region where diversity and religiosity encounter with ethnicity. Therefore, it is a need to explore to identify on religion existence as an aspect to unite. In addition, this article will analyses religious variety which private choose of West Papua community. In the same time, religion is a adhesive of community life. This research was conducted in great area of Sorong, West Papua. In-depth interview and non-participant observation were employed to collect data. Triangulation technique was conducted through focus group discussion twice. This article discusses religions encounters in order to strengthen harmony and togetherness. Agama existence is a part of unity which not a difference. Moreover, in some cases, religious activities are activity together even thought they choose different religion. Finally, this article discusses some subjects in line with culture to provide space for difference in choosing each faith.
Cina Benteng: Pembauran Dalam Masyarakat Majemuk di Banten
Ayubi, Sholahuddin Al
KALAM Vol 10 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v10i2.4
Artikel ini mendiskusikan tentang pembauran dan intetegritas etnis Tionghoa di wilayah Benteng (Sebutan untuk Tangerang). Tulisan ini berangkat dari sebuah asumsi bahwa dalam pola-pola pembauran di tingkat lokal seringkali ditemukan nilai positif yang bisa dikembangkan. Dengan demikian tulisan ini bertujuan untuk menawarkan contoh kasus sebagai alternatif solusi dalam menangani konflik-konflik etnisitas dengan berbagai dinamikanya, baik dalam perspektif politik, ekonomi, maupun dimensi sosial-kemasyarakatan secara simultan. Dengan pendekatan yang holistik, tulisan ini melihat konsep pembauran, agama dan integritas, sebagai suatu keseluruhan (holistik) dalam sistim sosial dan sistim budaya. Data-data dalam tulisan ini kemudian di analisis secara kualitatif dengan menggunakan teori-teori yang ada. Sebagai hasil analisis, ditemukan adanya dua kelompok besar pembauran etnis Cina Benteng ini: yaitu kelompok Asimilasi dan kelompok Integrasi. Kelompok asimilasi menginginkan pembauran etnis Cina Benteng dalam masyarakat dengan menghilangkan identitas dan budaya asal menjadi satu masyarakat yang satu dan seragam (melting pot). Sedangkan kelompok integrasi menginginkan pembauran etnis Cina Benteng dalam masyarakat tanpa harus menghilangkan identitas atau budaya asalnya.
Save Maryam: Islam, Toleration and Religious-Exclusivism in Social Media
Saputro, M. Endy;
Mayasari, Nuki;
Widiyanta, Paulus
KALAM Vol 10 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v10i2.5
Munginkan eksklusivisme agama bisa dihadapi di media sosial? Revolusi media yang sedemikian rupa telah membuka kemungkinan bagi lembaga-lembaga keagamaan untuk menjangkau pengikutnya dalam kisaran yang lebih luas. Makalah ini akan mengamati gagasan menghadapi eksklusivisme agama ini di media sosial dengan mempertimbangkan re-konseptualisasi gagasan konvensional toleransi di era media sosial. Untuk menilai argumen ini, secara hati-hati diuji tanggapan pemuda Indonesia terhadap video bermain pendek, berjudul bintang Maryam yang dapat didownload di media sosial, seperti Facebook, YouTube, Twitter, dan blog terkait lainnya. Dengan analisis semca ini, kami berpendapat bahwa toleransi dapat didefinisikan sebagai upaya budaya untuk menghadapi eksklusivisme agama.
Islam Toleran: Membangun Toleransi dengan Jalan Spiritual
Putra, Andi Eka
KALAM Vol 10 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v10i2.6
Banyak jalan yang pernah dicoba dan ditempuh dalam rangka membangun Islam toleran di Indonesia. Berbagai jalan yang pernah dicoba itu adalah jalan dialog dengan berbagai modelnya, komunikasi etnik, kerukunan umat beragama, hingga kerjasama. Secara teoritik, beberapa pendekatan pernah ditempuh dan dijalankan dalam rangka membangun toleransi yang sungguh-sungguh. Salah satu pendekatan teoritik yang cukup signifikan dan kontekstual dalam membangun Islam toleran di Indonesia adalah melalui pendekatan tasawuf atau jalan spiritual Islam. Ekspresi spiritual lebih mengedepankan keharmonisan, keterbukaan dan penerimaan akan yang lain yang sejati, tanpa basa-basi atau toleransi yang semu. Spiritualitas adalah inti keberagamaan di Indonesia yang dapat ditawarkan kepada dunia.
Toleransi Beragama di Era “Bandung Juara”
Safei, Agus Ahmad
KALAM Vol 10 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v10i2.7
Pergantian kepemimpinan di Kota Bandung dari Walikota sebelumnya, Dada Rosada, ke Walikota sekarang, Ridwan Kamil, menghadirkan nuansa yang berbeda, meski dalam beberapa hal ditemukan sejumlah titik yang sama. Hal demikian dipandang sebagai sesuatu yang normal saja, karena setiap pemimpin memiliki gaya, selera dan visi-misi masing-masing. Jika Dada Rosada tampil memimpin Bandung dengan semangat menjadikan Bandung sebagai Kota Agamis, dengan menekankan pentingnya toleransi antarumat beragama, maka Ridwan Kamil lebih memilih spirit Bandung Juara sebagai tagline utama kepemimpinannya, dengan tetap menekankan Bandung sebagai ‘rumah bersama’ semua umat beragama. Ridwan Kamil secara sadar tidak memakai bahasa agama di ruang publik sebagaimana halnya yang dilakukan Walikota sebelumnya, Dada Rosada. Dalam pendekatan esensialisme yang diusung Walikota sekarang, yang terpenting bukanlah membawa-bawa agama dalam setiap program yang diusung ke ruang publik, terpenting adalah justru mengimplementasikan nilai-nilai yang dikandung agama itu sendiri melalui berbagai program yang nyata-nyata memberikan manfaat kepada warga kota.
Abdurrahman Wahid: Universalisme Islam dan Toleransi
Naim, Ngainun
KALAM Vol 10 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v10i2.8
Artikel ini membahas pemikiran Abdurrahman Wahid tentang universalisme Islam dan toleransi. Pemikiran tentang universalisme Islam dan toleransi penting dibahas di tengah menguatnya gerakan Islam radikal di Indonesia. Eksistensi dan aksi kelompok Islam radikal membahayakan terhadap keharmonisan masyarakat Indonesia yang multikultural. Hal ini disebabkan karena cara pandang mereka yang monolitik dan sikap mereka yang intoleran. Respon kreatif dan konstruktif penting dilakukan untuk membendung laju pertumbuhan Islam radikal. Pada perspektif ini, pemikiran Abdurrahman Wahid menemukan relevansinya untuk diangkat dan direkonstruksi. Data untuk penulisan artikel ini adalah buku, jurnal, dan sumber-sumber tulisan lain yang relevan. Data-data yang ada kemudian dianalisis sesuai dengan topik tulisan. Tulisan ini menemukan bahwa pemikiran Abdurrahman Wahid tentang universalisme Islam berkontribusi terhadap terbangunnya toleransi dalam masyarakat Indonesia yang multikultural. Rekonstruksi pemikiran Abdurrahman Wahid ini penting dilakukan sebagai ikhtiar kreatif menghadirkan Islam yang ramah.
Inklusivitas Pemikiran Keagamaan Abdurrahman Wahid
Rosidi, Rosidi
KALAM Vol 10 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v10i2.9
Makalah ini akan membahas pemikiran-pemikiran inklusiv Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Diantaranya tentang kehidupan keberagamaan Gus Dur, Pribumisasi ajaran Islam dan Islam sebagai etika sosial. Sumber data penulisan ini dari tulisan-tulisan Abdurrahman Wahid sendiri seperti dalam bukunya yang berjudul : Islamku Islam Anda Islam Kita Agama Masyarakat Negara Demokrasi (2006), Islam Kosmopolitan, dan sumber lain yang terkait dengan pokok bahasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutic dan analisis data historis kritis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kehidupan keberagamaan yang dicita-citakan Gus Dur adalah beragama yang damai, ramah. Masing-masing umat beragama meyakini kebenaran agama yang mereka anut. Sebab hanya dengan keberagamaan yang tulus terletak makna keberagamaan yang hakiki. Gus Dur juga menginginkan agar dalam memahami Islam dikaitkan dengan masalah-masalah di negeri ini. Atau dengan kata lain Islam perlu dipribumisasikan. Meskipun Islam berasal dari Arab yang tentu saja tidak bisa dipisahkan dengan tradisinya, tetapi ketika masuk ke Indonesia dan berdialog dengan budaya Nusantara, maka harus mengubah budaya yang ada. Intinya, bagaimana memasukkan budaya lokal ke dalam Islam.
Dinamika Relasi Muhammadiyah dan NU Dalam Perspektif Teori Konflik Fungsional Lewis A. Coser
Rofiah, Khusniati
KALAM Vol 10 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v10i2.10
Konflik atau perselisihan yang terjadi dalam masyarakat, seringkali dianggap sebagai suatu masalah yang negatif (disfungsional ), yang dapat merusak perdamaian. Hal ini berbeda dengan Lewis A. Coser, yang justru mempunyai pandangan lain terhadap konflik. Baginya konflik justru memiliki “fungsionalitas” positif dalam masyarakat. Konflik yang terjadi antara Muhammadiyah dan NU tersebut sebagaimana teori konflik dari Coser tidak hanya bersifat disfungsional tetapi lebih banyak bersifat fungsional yaitu bersaing dalam hal kebaikan (Fastabiqul Khoirot). Dengan adanya konflik, pemahaman kesadaran pluralisme dan pikiran terbuka tertanam kuat pada setiap anggota Muhammadiyah dan NU. Penyelesaian konflik diantara keduanya dapat dilakukan melalui lembaga katup penyelamat (safety valve), misalnya kegiatan-kegiatan sosial dan intelektual yang melibatkan kedua belah pihak sebagaimana yang dilakukan oleh angkatan muda Muhammadiyah dan NU.
Hubungan Antar Umat Beragama Dalam Perpektif Hadits
Noorhidayati, Salamah
KALAM Vol 10 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v10i2.11
Dalam beberapa hal, Islam sering dituduh sebagai agama yang diskriminatif, khususnya terkait dengan relasi antar umat beragama. Tuduhan ini didasarkan pada banyaknya hadis yang secara redaksional menunjukkan sikap yang demikian. Artikel ini mengelaborasi tipologi hadis-hadis tentang relasi umat beragama, konteks sosio-historis yang melatari kemunculannya dan model pembacaan yang konstruktif untuk konteks kekinian. Penelitian ini menemukan bahwa: Pertama, ada dua sikap hadis terhadap umat non muslim, yaitu apresiatif-akomodatif dan kritis-konfrontatif. Kedua, kedua kategori itu lahir dalam konteks relasi sosial umat beragama yang dinamis-fluktuatif yaitu harmonis dan disharmonis. Ketiga, pembacaan yang konstruktif dilakukan dengan menggunakan pendekatan humanis-kontekstual.
Membangun Toleransi Dalam Perspektif Pendidikan Spiritual Sufistik
Akmansyah, M.
KALAM Vol 10 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Study, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24042/klm.v10i2.12
Despiritualisasi merupakan proyek modern yang menyerbu hampir ke semua lini penting kehidupan, tanpa kecuali mengenai toleransi. Toleransi sangat dibutuhkan karena beragam macam perbedaan yang tak terhindarkan secara empiris ternyata rentan mengalami disintegrasi, dan berubah menjadi malapetaka intoleran. Manusia secara individual membutuhkan toleransi sejati atau toleransi spiritual itu. Demikian pula masyarakat pluralis dan multikulturalis, karena kesejatian toleransi sekaligus berarti intensifikasi pengalaman spiritual. Toleransi spiritual yang dikembangkan oleh pendidikan spiritual sufistik akan menambahkan karakteristik lain. Sebab, tasawuf membimbing manusia menuju keharmonian dan keseimbangan secara total; mengajarkan toleransi, moderasi, hidup berdampingan secara damai dan nilai-nilai kemanusiaan. Artikel ini mencoba membuktikan, setidak-tidaknya secara konseptual, bahwa dalam pendidikan spiritual sufistik Islam dapat mengambil perannya untuk menjawab tantangan-tantangan toleransi mutakhir.