cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Nadwa : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 19791739     EISSN : 25028057     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 522 Documents
The Madrasa Resistance Against Radicalism Salim, Ahmad
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 13, No 2 (2019): Islamic Education and Trancendence
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2019.13.2.5173

Abstract

The background of this article is based on madrasa resistance to radicalism. The purpose of this study is to see how madrasa resistance to face radicalism. The type of this research is qualitative research and data collection methods with observation and in-depth interviews with selected respondents. This study uses Peter L Berger's theory of the fundamental dialectics of society-externalization, objectification, and internalization. The results showed that madrasa resistance to radicalism with social empowerment through the process of social construction (externalization, objectification, and internalization). The tolerant attitude of the community which is manifested in social humanitarian activities such as genduri, sambatan and kerja bakti is contracted by the madrasa as a subjective reality into objective reality, so that the anti-radicalism attitude in this society can become the norm for the madrasas to be deprived and implemented in the daily life of the madrasa. Abstrak Latar belakang artikel ini didasarkan pada resistensi madrasah terhadap radikalisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana cara madrasah menghadapi radikalisme. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan metode pengumpulan data dengan observasi dan wawancara mendalam kepada responden terpilih. Penelitian ini menggunakan teori Peter L.Berger tentang dialektika fundamental masyarakat-eksternalisasi, objektifikasi dan internalisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa madrasah menolak radikalisme dengan pemberdayaan sosial melalui proses konstruksi sosial (eksternalisasi, objektifikasi dan internalisasi). Sikap toleran dari masyarakat yang dimanifestasikan dalam kegiatan sosial kemanusiaan seperti genduri, sambatan dan kerja bakti dikontrak oleh madrasah sebagai realitas subjektif ke dalam realitas objektif, sehingga sikap anti-radikalisme dalam masyarakat ini dapat menjadi norma bagi madrasah untuk dicabut dan diimplementasikan di kehidupan sehari-hari madrasah.
Desain Model Manajemen Pemasaran Berbasis Layanan Jasa Pendidikan pada MTs Swasta Se-Kota Semarang oji, Fatkuroji
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 9, No 1 (2015): Kualitas dan Pemasaran Pendidikan
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2015.9.1.522

Abstract

Abstract This study aimed to develop a management model based marketing services pro-per education to increase the services of Private MTs in Semarang. The results showed the implementation of the model design management development based marketing services consist of three functions: (1) planning consists of: (a) analysis of consumer needs, b) education outreach programs MTs, c) a SWOT analysis of MTs, d) Vision-Mission destination MTs, e) service policy MTs; (2) The imple-mentation consists of: a) the implementation of MTs service program, b) a policy strategy 7P + 1, c) Target MTs market segment, d) consumer satisfaction, e) the relevance of the needs and services; (3) The evaluation consists of: a) customer loyalty, b) the interest of student enrollment to MTs.AbstrakPenelitian ini dimaksudkan untuk mengembangkan model manajemen pemasaran berbasis layanan pendidikan yang layak untuk meningkatkan layanan jasa MTs Swasta di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan desain mo-del pengembangan manajemen pemasaran berbasis layanan jasa terdiri atas tiga fungsi yaitu: (1) perencanaan terdiri atas: (a) analisis kebutuhan konsumen, b) pro-gram layanan pendidikan MTs, c) analisis Swot MTs, d) Visi-misi tujuan MTs, e) kebijakan layanan MTs; (2) pelaksanaan terdiri atas: a) implementasi program layanan MTs, b) kebijakan strategi 7P+1, c) Target segment pasar MTs, d) ke-puasan konsumen, e) relevansi kebutuhan dan layanan; (3) evaluasi terdiri atas: a) loyalitas konsumen, b) animo pendaftaran siswa ke MTs. 
Teori Pendidikan Keluarga dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini Jailani, M. Syahran
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8, No 2 (2014): Pendidikan Berbasis Masyarakat
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2014.8.2.580

Abstract

This paper describes the responsibilities of parents in early childhood education. From the review of the literature it is known that the family environment be-comes a major place of a child to education. Father and mother in the family becomes the first educators in the process of development of a child's life. Par-ents do not just build a relationship and do various family for reproductive pur-poses, continue descent, and establish affection. The main task of the family is to create buildings and atmosphere of family education process so that the next generation of intelligent and noble generation as a solid footing in the tread life and the journey of human children. The fact is supported by the findings of the theories that support the importance of family education as the first basic educa-tion of children. AbstrakMakalah ini menjelaskan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak usia dini. Dari kajian literatur diketahui bahwa lingkungan keluarga menjadi tempat yang utama seorang anak memperoleh pendidikan. Ayah dan ibu dalam keluarga menjadi pendidik pertama dalam proses perkembangan kehidupan anak. Orang tua tidak sekedar membangun silaturahmi dan melakukan berbagai tujuan berkeluarga untuk reproduksi, meneruskan keturunan, dan menjalin kasih sayang. Tugas utama keluarga adalah menciptakan bangunan dan suasana proses pendidikan keluarga sehingga melahirkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia sebagai pijakan yang kokoh dalam menapaki kehidupan dan perjalanan anak manusia. Kenyataan tersebut ditopang temuan teori-teori yang mendukung pentingnya pendidikan keluarga sebagai dasar pertama pendidikan anak-anak.
Budaya Sekolah Islami (BUSI): Studi Kasus di SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang Mustopa, Mustopa
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 11, No 2 (2017): Pendidikan Islam Progresif
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2017.11.2.1880

Abstract

The value crisis has affected the Indonesian people in all areas of life including education. These conditions lead to the importance of intensive value education in schools. This paper aims to find out the concept of Islamic School Culture (Busi) and its implementation pattern in SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang. The type of this research is descriptive qualitative. The result of the research shows that Busi in Sultan Agung 1 Semarang Islamic High School includes iqra 'culture, congregational prayer culture, thaharah culture, social interaction culture, and exemplary culture. The implementation pattern has been using top down with three step: socialization, habituation and monitoring. This pattern has succeeded in applying these Islamic values to unite in other school cultural activities in accordance with the vision, mission and objectives of the institution. AbstrakKrisis nilai telah menimpa bangsa Indonesia pada semua bidang kehidupan  termasuk dunia pendidikan. Kondisi seperti ini menyebabkan pentingnya pendidikan nilai secara intensif di sekolah-sekolah. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui konsep Budaya Sekolah Islami (Busi) dan pola pelaksanaannya di SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Busi di SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang meliputi budaya iqra, budaya shalat berjamaah, budaya thaharah, budaya pergaulan islami, dan budaya keteladanan.  Pola Pelaksanaan Busi dilaksanakan secara top down dengan tahapan sosialisasi, pembiasaan dan monitoring. Pola ini telah berhasil menerapkan nilai-nilai Islam tersebut menyatu dalam aktifitas budaya sekolah yang lain sesuai dengan visi, misi dan tujuan lembaga
Spiritualistic Humanistic Communication Strategy on Learning Aqidah Akhlaq at Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Yogyakarta, Indonesia Prastowo, Andi; Latief, Muhammad Jamroh
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 13, No 1 (2019): Islamic Education and Liberation
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2019.1.1.2592

Abstract

This study discusses the communication strategy in learning Aqidah Akhlaq to foster humanistic values and spiritualistic intelligence of learners in religious Elementary School  Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Yogyakarta. This study used a qualitative approach with case study method. Data were collected by in-depth interview, observation, and documentation, then analysed by interactive model. The results of this study revealed that communication strategy to cultivate the values of humanistic spirituality in MIN 1 Yogyakarta includes 3 three kinds: teachers as a compelling speaker, teachers as less effective preachers, and teachers as moderators.AbstrakPenelitian ini membahas strategi komunikasi dalam pembelajaran Aqidah Akhlaq untuk menumbuhkan nilai-nilai humanistik dan kecerdasan spiritualistik peserta didik di Sekolah Dasar Agama Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis dengan model interaktif. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa strategi komunikasi untuk menumbuhkan nilai-nilai spiritualitas humanistik di MIN 1 Yogyakarta meliputi 3 tiga jenis: guru sebagai pembicara yang meyakinkan, guru sebagai pengkhotbah yang kurang efektif, dan guru sebagai moderator. 
Proses Pengambilan Keputusan untuk Mengembangkan Mutu Madrasah Anwar, Herson
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8, No 1 (2014): Kepribadian Anak
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2014.8.1.569

Abstract

The main meaning of decision-making by the headmaster is an act issuing a decision that is both tactical and operational such as planning programs to be achieved, implementation strategies and problem-solving strategies, through a decision based on the election results of several solution alternatives decided to achieve madrasah goals. The decision-making activities includeproblem identification, problem formulation, and alternative selection decisions based on calculations and the various impacts that may arise. In the stage of decision making implementation, the headmaster of the madrasah as a leader must make many routine decisions in order to control activities in accordance with the plans. While in control stage that includes monitoring,inspection, and assessment of the implementation results was performed to evaluate the implementation of the decisions.AbstrakHakikat pengambilan keputusan oleh kepala madrasah adalah tindakan dalam mengeluarkan keputusan yang bersifat taktis maupun operasional seperti memuat program yang ingin dicapai, strategi pelaksanaannya dan strategi pe-mecahan masalah, melalui suatu keputusan yang didasarkan pada hasil pemilihan beberapa alternatif masalah yang telah ditetapkan untuk pencapaiantujuan madrasah. Pembuatan keputusan tersebut mencakup kegiatan identifikasi masalah, perumusan masalah, dan pemilihan alternatif keputusan berdasarkan perhitungan dan berbagai dampak yang mungkin timbul. Dalam tahapimplementasi atau operasionalnya, kepala madrasah sebagai pimpinan harus membuat banyak keputusan rutin dalam rangka mengendalikan kegiatan sesuai dengan rencana dan kondisi yang berlaku. Sedangkan dalam tahap pengawasan yang mencakup pemantauan, pemeriksaan, dan penilaian terhadaphasil pelaksanaan dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan dari pembuatan keputusan yang telah dilakukan.
Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakter Peserta Didik (Ikhtiar optimalisasi Proses Pembelajaran Pendidi-kan Agama Islam (PAI)) jailani, m sahran
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 10, No 2 (2016): Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2016.10.2.1284

Abstract

This article aims to reveal the theoretical academic studies in the context of learning resources as epicentrum valuable information for each individual study. This paper uses descriptive analytical method. The results of this study indicate that the source of learning was instrumental in providing a range of information and knowledge required to develop skills and compe-tencies. The way to develop learning resources of Islamic education in order to optimally conducted by 1) analyzing the needs and characteristics of stu-dents' learning, 2) formulate learning objectives, 3) the development of learning material, 4) developing tools to measure the progress, 5) selection of learning resources and 6) hold evaluation. AbstrakArtikel ini bertujuan mengungkap secara teoritis kajian akademik dalam konteks sumber belajar sebagai epicentrum informasi yang berharga bagi setiap manusia yang belajar. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif analitis. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa sumber belajar sangat berperan dalam menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan berbagai kompetensi yang diinginkan. Adapun cara mengembangkan sumber belajar Pendidikan Agama Islam agar optimal dilakukan dengan 1) menganalisis kebutuhan dan karakteristik belajar siswa, 2) merumuskan tujuan pembelajaran, 3) pengembangan materi pembelajaran, 4) mengembangkan alat ukur keberhasilan, 5) pemilihan jenis sumber belajar dan 6) mengadakan evaluasi.
Qur’anic-Based Educational Leadership: An Inquiry Into Surah Al-Fatihah Dakir, Dakir; Fauzi, Ahmad
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2020.14.2.6203

Abstract

The study of leadership has become an important part amid a multidimensional crisis and a decline in morality in various leadership settings; the significance of this leadership influences the organizational system's sustainability. Thus, this research study aims to build a portrait of Islamic education leadership as an ideal leadership model through the internalization of al-Fatihah's values. This study aims to unpack Islamic school leadership values and principles from al Fatihah verses as an ideal leadership model by internalizing al-Fatihah's values. The findings suggest a) Surah al Fatihah contains Islamic school leadership value derived from rabbaniyah value (monotheism) and Insaniyah value (relationship with others). b) changing Islamic school leadership paradigm from indoctrination to active participation. This study demonstrates that all Islamic education organizations should act by inspiring without indoctrination, awakening without hurting, and arousing without forcing.
Pendidikan Karakter: Konsep dan Aktualisasinya dalam Sistem Pendidikan Islam Mudlofir, Ali
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7, No 2 (2013): Inovasi Pendidikan
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2013.7.2.560

Abstract

Islam highly emphasizes character that becomes the substance of the religi on. The character used as the basis of the education system in Islam. Character education is an attempt to make influence the soul of the students to inculcate morals, to shape the human personality and virtuous in accordance with the teachings of Islam. Character education becomes essential forlife. Characters are formed by at least covers: religious, honest, tolerant, disciplined, hard-working, creative, independent spirit of nationalism, patriotism, recognize excellence, friendship/communicative, love peace, love reading, environmental care, social care and responsibility. These valuesare a form of social piety which must be actualized in the education system so that they can ward off the crisis and stem the multidimensional towards the formation of personal morality. The characters must be actualized in the education system so as to form a virtuous man.AbstrakIslam sangat mengedepankan karakter sehingga menjadi substansi ajaran agamanya. Karakter dijadikan dasar sistem pendidikan dalam Islam. Pendidikan karakter merupakan usaha mempengaruhi jiwa anak didik untuk menanamkan akhlak sehingga terbentuklah manusia yang berkepribadian dan berbudi luhur sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan karakter menjadi penting bagi kehidupan. Karakter yang dibentuk minimal mencakup: religius, jujur,toleran,disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, Semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai Prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab. Nilai-nilai ini merupakan bentuk kesalehan sosial yang harus diaktualisasikan dalam sistem pendidikansehingga mampu menepis dan membendung krisis multidimensi menuju terbentuknya pribadi yang berakhlak mulia. Karakter harus diaktualisasikan dalam sistem pendidikan sehingga terbentuk manusia yang berbudi luhur.
Pengembangan Model Perencanaan Himpunan Data dan Aplikasi Instrumentasi Berbasis Pola Tujuh Belas Plus Kusuma, Indra
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8, No 2 (2014): Pendidikan Berbasis Masyarakat
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2014.8.2.595

Abstract

This paper describes the development of a set of data and planning models based instrumentation applications seventeen plus patterns in BK teachers SMP / MTs in Bondowoso. The results of this study indicate that counselling activity planning model using the approach pattern seventeen plus becomes very necessary. B.K. teachers in SMP/MTs of Bondowoso still do not have a wide range of data that should be held for the provision of counselling services. The teachers feel it is important to have variety of data sets and instrumentation applications for the smooth running of counselling services (score = 3.23). The evaluation of the implementation of set of data and applications instrument was still very low (score = 1.14). The planning model development activities and application instrumentation data set found that B.K. teachers desperately need (score = 4.28). The assessment model development planning activities data set and instrumentation applications that are promoted rated excellent (score = 4.47). Abstrak Makalah ini menjelaskan pengembangan model perencanaan himpunan data dan aplikasi instrumentasi berbasis pola tujuh belas plus pada guru B.K. SMP/MTs di Bondowoso. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model perencanaan kegiatan konseling dengan menggunakan pendekatan pola tujuh belas plus menjadi sangat perlu dilakukan agar implementasinya sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru BK SMP/MTs di Bondowoso masih banyak yang belum memiliki berbagai data untuk penyelenggaraan layanan konseling. Guru-guru tersebut sangat memerlukan himpunan data dan aplikasi instrumentasi untuk kelancaran menjalankan tugasnya (rerata = 3,23). Sementara evaluasi pelaksanaan himpunan data dan aplikasi instrumennya ternyata masih sangat rendah (rerata = 1,14. Guru-guru BK juga sangat membutuhkan (rerata = 4,28). Penilaian pengembangan model perencanaan kegiatan himpunan data dan aplikasi instrumentasi yang dipromosikan dinilai sangat baik (rata = 4,47) 

Filter by Year

2012 2025