cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Nadwa : Jurnal Pendidikan Islam
ISSN : 19791739     EISSN : 25028057     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 522 Documents
Teori Pendidikan Keluarga dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini M. Syahran Jailani
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8, No 2 (2014): Pendidikan Berbasis Masyarakat
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2014.8.2.580

Abstract

This paper describes the responsibilities of parents in early childhood education. From the review of the literature it is known that the family environment be-comes a major place of a child to education. Father and mother in the family becomes the first educators in the process of development of a child's life. Par-ents do not just build a relationship and do various family for reproductive pur-poses, continue descent, and establish affection. The main task of the family is to create buildings and atmosphere of family education process so that the next generation of intelligent and noble generation as a solid footing in the tread life and the journey of human children. The fact is supported by the findings of the theories that support the importance of family education as the first basic educa-tion of children. AbstrakMakalah ini menjelaskan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak usia dini. Dari kajian literatur diketahui bahwa lingkungan keluarga menjadi tempat yang utama seorang anak memperoleh pendidikan. Ayah dan ibu dalam keluarga menjadi pendidik pertama dalam proses perkembangan kehidupan anak. Orang tua tidak sekedar membangun silaturahmi dan melakukan berbagai tujuan berkeluarga untuk reproduksi, meneruskan keturunan, dan menjalin kasih sayang. Tugas utama keluarga adalah menciptakan bangunan dan suasana proses pendidikan keluarga sehingga melahirkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia sebagai pijakan yang kokoh dalam menapaki kehidupan dan perjalanan anak manusia. Kenyataan tersebut ditopang temuan teori-teori yang mendukung pentingnya pendidikan keluarga sebagai dasar pertama pendidikan anak-anak.
Budaya Sekolah Islami (BUSI): Studi Kasus di SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang Mustopa Mustopa
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 11, No 2 (2017): Pendidikan Islam Progresif
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2017.11.2.1880

Abstract

The value crisis has affected the Indonesian people in all areas of life including education. These conditions lead to the importance of intensive value education in schools. This paper aims to find out the concept of Islamic School Culture (Busi) and its implementation pattern in SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang. The type of this research is descriptive qualitative. The result of the research shows that Busi in Sultan Agung 1 Semarang Islamic High School includes iqra 'culture, congregational prayer culture, thaharah culture, social interaction culture, and exemplary culture. The implementation pattern has been using top down with three step: socialization, habituation and monitoring. This pattern has succeeded in applying these Islamic values to unite in other school cultural activities in accordance with the vision, mission and objectives of the institution. AbstrakKrisis nilai telah menimpa bangsa Indonesia pada semua bidang kehidupan  termasuk dunia pendidikan. Kondisi seperti ini menyebabkan pentingnya pendidikan nilai secara intensif di sekolah-sekolah. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui konsep Budaya Sekolah Islami (Busi) dan pola pelaksanaannya di SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Busi di SMA Islam Sultan Agung 1 Semarang meliputi budaya iqra, budaya shalat berjamaah, budaya thaharah, budaya pergaulan islami, dan budaya keteladanan.  Pola Pelaksanaan Busi dilaksanakan secara top down dengan tahapan sosialisasi, pembiasaan dan monitoring. Pola ini telah berhasil menerapkan nilai-nilai Islam tersebut menyatu dalam aktifitas budaya sekolah yang lain sesuai dengan visi, misi dan tujuan lembaga
Basic Theory of Islamic Education Management Danusiri Danusiri
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 13, No 1 (2019): Islamic Education and Liberation
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2019.1.1.4195

Abstract

The purpose of this research is to find the principles  science about the management of Islamic education. The realization of this principles are collection of various concepts, propositions, and theoretical theory (basic  theory) on tahlili interpretation of a number of verses of the Qur'an or the syarah hadith tahlili to find the compound between the interpretation of verses or syarah hadiths with nomenclatures in concept, proposition, and theory of science of management of Islamic education. The result found 13 main principles of content and basic  theory of Islamic education management namely : first, Islamic Education Planning is long-term planning until hereafter; Second, Manager responsibility that each action is asked accountability ; ThirdThe organizing principle is every functionary in an institution must be loyal to the top leader in the implementation of the task, etc.Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan prinsip sains tentang manajemen pendidikan Islam. Realisasi prinsip-prinsip ini adalah kumpulan berbagai konsep, dalil, dan teori teoritis (teori dasar) tentang tafsir tahlili sejumlah ayat Al-Qur'an atau hadits syarah tahlili untuk menemukan senyawa antara tafsir ayat atau hadis syarah. dengan nomenklatur dalam konsep, proposisi, dan teori sains manajemen pendidikan Islam. Hasilnya menemukan 13 prinsip utama isi dan teori dasar manajemen pendidikan Islam yaitu: pertama, Perencanaan Pendidikan Islam adalah perencanaan jangka panjang sampai akhirat; Kedua, tanggung jawab Manajer bahwa setiap tindakan diminta pertanggungjawaban; Ketiga. Prinsip pengorganisasian adalah setiap pejabat dalam suatu institusi harus loyal kepada pemimpin puncak dalam pelaksanaan tugas, dll.
PEMBIASAAN SEBAGAI BASIS PENANAMAN NILAI-NILAI AKHLAK REMAJA Abdul Rohman
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 6, No 1 (2012): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2012.6.1.462

Abstract

Untuk membentuk manusia yang memiliki moral baik (good moral person) bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Ia memerlukan suatu proses panjang yang memerlukan tahap-tahap, ia membutuhkan suatu kondisi yang memungkinkan seorang individu berperilaku sebagai sosok yang memiliki moral yang diharapkan (moral action). Karenanya, ia memerlukan suatu pembiasaan (habituation) yang dalam pembiasaan itu secara implisit terdapat adanya keteladanan (modelling). Karena itu diperlukan kerjasama secara integratif dari semua komponen baik di sekolah, keluarga maupun masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mampu membiasakan perilaku anak. Secara formal, dalam proses pembelajaran bisa dipertimbangkan beberapa model pembelajaran yang bisa dipilih sesuai dengan situasi yang melingkupinya, yaitu: model konsiderasi, pembentukan rasional, klarifikasi nilai, pengembangan moral kognitif, model non-direktif.
Online Learning amid the COVID-19 Pandemic: A Case Study of the State Islamic University of Mataram Azhar Azhar
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2020.14.2.6639

Abstract

This research aims to investigate the challenges and opportunities of the use of information technology in an online learning at the State Islamic University of Mataram (UIN Mataram) during the COVID-19 pandemic. This research incorporates a survey to identify the use of information technology among students. The sample used in this research was the first semester students of the State Islamic University of Mataram (UIN Mataram). The research results indicate that 27.3% of students did not have laptops, 61.8% of students experienced difficulties accessing the telecommunication signal in their home town, and 10.9% experienced electricity problems during online learning. The use of Google Classroom and WhatsApp group media is prevalent at the university during the 2020 COVID-19 pandemic.
Proses Pengambilan Keputusan untuk Mengembangkan Mutu Madrasah Herson Anwar
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 8, No 1 (2014): Kepribadian Anak
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2014.8.1.569

Abstract

The main meaning of decision-making by the headmaster is an act issuing a decision that is both tactical and operational such as planning programs to be achieved, implementation strategies and problem-solving strategies, through a decision based on the election results of several solution alternatives decided to achieve madrasah goals. The decision-making activities includeproblem identification, problem formulation, and alternative selection decisions based on calculations and the various impacts that may arise. In the stage of decision making implementation, the headmaster of the madrasah as a leader must make many routine decisions in order to control activities in accordance with the plans. While in control stage that includes monitoring,inspection, and assessment of the implementation results was performed to evaluate the implementation of the decisions.AbstrakHakikat pengambilan keputusan oleh kepala madrasah adalah tindakan dalam mengeluarkan keputusan yang bersifat taktis maupun operasional seperti memuat program yang ingin dicapai, strategi pelaksanaannya dan strategi pe-mecahan masalah, melalui suatu keputusan yang didasarkan pada hasil pemilihan beberapa alternatif masalah yang telah ditetapkan untuk pencapaiantujuan madrasah. Pembuatan keputusan tersebut mencakup kegiatan identifikasi masalah, perumusan masalah, dan pemilihan alternatif keputusan berdasarkan perhitungan dan berbagai dampak yang mungkin timbul. Dalam tahapimplementasi atau operasionalnya, kepala madrasah sebagai pimpinan harus membuat banyak keputusan rutin dalam rangka mengendalikan kegiatan sesuai dengan rencana dan kondisi yang berlaku. Sedangkan dalam tahap pengawasan yang mencakup pemantauan, pemeriksaan, dan penilaian terhadaphasil pelaksanaan dilakukan untuk mengevaluasi pelaksanaan dari pembuatan keputusan yang telah dilakukan.
Pengembangan Sumber Belajar Berbasis Karakter Peserta Didik (Ikhtiar optimalisasi Proses Pembelajaran Pendidi-kan Agama Islam (PAI)) m sahran jailani
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 10, No 2 (2016): Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2016.10.2.1284

Abstract

This article aims to reveal the theoretical academic studies in the context of learning resources as epicentrum valuable information for each individual study. This paper uses descriptive analytical method. The results of this study indicate that the source of learning was instrumental in providing a range of information and knowledge required to develop skills and compe-tencies. The way to develop learning resources of Islamic education in order to optimally conducted by 1) analyzing the needs and characteristics of stu-dents' learning, 2) formulate learning objectives, 3) the development of learning material, 4) developing tools to measure the progress, 5) selection of learning resources and 6) hold evaluation. AbstrakArtikel ini bertujuan mengungkap secara teoritis kajian akademik dalam konteks sumber belajar sebagai epicentrum informasi yang berharga bagi setiap manusia yang belajar. Penulisan ini menggunakan metode deskriptif analitis. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa sumber belajar sangat berperan dalam menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan yang diperlukan dalam mengembangkan berbagai kompetensi yang diinginkan. Adapun cara mengembangkan sumber belajar Pendidikan Agama Islam agar optimal dilakukan dengan 1) menganalisis kebutuhan dan karakteristik belajar siswa, 2) merumuskan tujuan pembelajaran, 3) pengembangan materi pembelajaran, 4) mengembangkan alat ukur keberhasilan, 5) pemilihan jenis sumber belajar dan 6) mengadakan evaluasi.
Model of Religious Culture Education and Humanity Muhammad Luthfi Abdullah; Akhmad Syahri
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 12, No 2 (2018): Islamic Education and Humanization
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2018.12.2.2756

Abstract

This study aims to find out how the model of religious cultural education to create human character. This study uses a qualitative method. The research subjects were students at the Darut Tauhid Islamic boarding school in Bandung. The results of the study show that there are 8 (eight) religious cultures implemented in education and become a spirit to form human values, namely TSP (Resistant to littering, storing garbage in its place, picking up garbage insha Allah blessing); Bebaskomiba (Messing, Wet-Drying, Dirty-Cleaning, Leaning, Dangerous)); three M, five K, profit concept, five S, five don't, seven B.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana model pendidikan budaya berbasis agama untuk membentuk nilai-nilai kemanusiaan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Subjek penelitiannya adalah mahasiswa di pesantren Darut Tauhid Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 8 (delapan) budaya agama yang diimplementasikan dalam pendidikan dan menjadi semangat untuk membentuk nilai-nilai kemanusiaan yaitu TSP (Tahan dari buang sampah sembarangan, Simpan sampah pada tempatnya,Pungut sampah insya Allah berkah); Bebaskomiba (Berantakan-rapikan, Basah-keringkan, Kotor-bersihkan, Miring-luruskan, Bahaya-amankan); tiga M, lima K, konsep untung, lima S, lima jangan, tujuh B.  Kata Kunci: Model Pendidikan; Budaya Agama; Nilai Kemanusiaan Islam; Program Pesantren Mahasiswa; Daarut Tauhiid
The Relevance of Self-efficacy, Perception, ICT Ability and Teacher Performance (Study on Islamic Teachers in Semarang, Indonesia) ikhrom ikhrom
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14, No 1 (2020): Islamic Education and Radicalism
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2020.14.1.5146

Abstract

The paper aimed to investigate the influence of teacher's self-efficacy and perception on his or her job to performance through ICT ability. The research is a quantitative description using path analysis methods. The population is 1500. They are the Islamic religious teachers in Semarang, Central Java. The researcher used Isaac Michael's table to determine the number of samples. Based on the table, the samples are 290. The Findings are the teachers’ self-efficacy and perception greatly affect to their performance, while perception is also being the critical factor influences teachers to use ICT in the classroom, but self-efficacy is not the vital thing for teachers' ability to use ICT. The finding recommends that self-efficacy and perception of Islamic teachers are vital aspects of the quality of performance. The use of ICT in the classroom is the critical variable for the quality of  teacher performance. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-efficacy dan persepsi guru pada pekerjaannya terhadap kinerja melalui kemampuan TIK. Jenis penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan metode analisis jalur (path analysis). Populasinya 1500 orang. Mereka adalah para guru Pendidikan Agama Islam di Semarang, Indonesia. Peneliti menggunakan tabel Isaac Michael untuk menentukan jumlah sampel. Berdasarkan tabel tersebut, sampelnya adalah 290. Temuannya adalah self-efficacy dan persepsi guru sangat berpengaruh terhadap kinerja mereka, sedangkan persepsi juga menjadi faktor kritis yang mempengaruhi guru untuk menggunakan TIK di kelas, tetapi self-efficacy bukan hal yang vital bagi kemampuan guru menggunakan TIK. Temuan ini merekomendasikan bahwa self-efficacy dan persepsi guru Islam merupakan aspek penting dari kualitas kinerja. Penggunaan TIK di kelas merupakan variabel penting untuk kualitas kinerja guru. 
Pendidikan Karakter: Konsep dan Aktualisasinya dalam Sistem Pendidikan Islam Ali Mudlofir
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam Vol 7, No 2 (2013): Inovasi Pendidikan
Publisher : FITK UIN Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/nw.2013.7.2.560

Abstract

Islam highly emphasizes character that becomes the substance of the religi on. The character used as the basis of the education system in Islam. Character education is an attempt to make influence the soul of the students to inculcate morals, to shape the human personality and virtuous in accordance with the teachings of Islam. Character education becomes essential forlife. Characters are formed by at least covers: religious, honest, tolerant, disciplined, hard-working, creative, independent spirit of nationalism, patriotism, recognize excellence, friendship/communicative, love peace, love reading, environmental care, social care and responsibility. These valuesare a form of social piety which must be actualized in the education system so that they can ward off the crisis and stem the multidimensional towards the formation of personal morality. The characters must be actualized in the education system so as to form a virtuous man.AbstrakIslam sangat mengedepankan karakter sehingga menjadi substansi ajaran agamanya. Karakter dijadikan dasar sistem pendidikan dalam Islam. Pendidikan karakter merupakan usaha mempengaruhi jiwa anak didik untuk menanamkan akhlak sehingga terbentuklah manusia yang berkepribadian dan berbudi luhur sesuai dengan ajaran Islam. Pendidikan karakter menjadi penting bagi kehidupan. Karakter yang dibentuk minimal mencakup: religius, jujur,toleran,disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, Semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai Prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab. Nilai-nilai ini merupakan bentuk kesalehan sosial yang harus diaktualisasikan dalam sistem pendidikansehingga mampu menepis dan membendung krisis multidimensi menuju terbentuknya pribadi yang berakhlak mulia. Karakter harus diaktualisasikan dalam sistem pendidikan sehingga terbentuk manusia yang berbudi luhur.

Filter by Year

2012 2025