Articles
519 Documents
Ujian Nasional, Dulu, Kini dan yang Akan Datang: Tinjauan Normatif
Muntholi’ah, Muntholi’ah
Nadwa Vol 7, No 1 (2013): Pendidikan Islam Unggul
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2013.7.1.557
The policy of the National Examination (UN) continues to get criticism from education experts, practitioners, as well as various elements of society. With the problems happen in the implementation of National Examination, it can be af-firmed that the impacts of its implementation are more harmful than the objec-tives to be achieved. Considering the imbalances and disadvantages of the Na-tional Examination implementation, the government through the Ministry of Education should have to be more thoughtful and immediately review the policy comprehensively. Thus, the purpose of education should be tailored to the interests of Indonesia, which is stated and defined in the the National Education Law No. 20/ 2003 on National Education System Chapter II, Article 3. AbstrakKebijakan Ujian Nasional (UN) terus menuai kritik dari para pakar dan praktisi pendidikan serta berbagai kalangan masyarakat. Melihat banyaknya permasalahan dan carut-marut dalam pelaksanaan Ujian Nasional dapat ditegaskan bahwa dampak dari penyelenggaraan UN lebih banyak mudaratnya dari pada tujuan yang ingin dicapai. Menilik berbagai ketimpangan dan kemudaratan yang ditim bulkan akibat pelaksanaan UN, maka seyogianya pemerintah melalui Kemendiknas harus bersikap lebih bijaksana dan segera mengkaji ulang kebijakan UN secara komprehensif. Dengan demikian maka tujuan pendidikan yang hendak dicapaipun disesuaikan dengan kepentingan bangsa Indonesia, yang sekarang initujuan pendidikan tersebut dirumuskan dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU sisdiknas) BAB II pasal 3.Â
Sekolah Alam: Paradigma Baru Pendidikan Islam Humanis
Rohinah, Rohinah
Nadwa Vol 8, No 2 (2014): Pendidikan Berbasis Masyarakat
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2014.8.2.582
This paper describes a new paradigm of Islamic education in the perspective of humanism based on nature school model. This school model has three specific aspects, namely: natural as learning space, nature as media and teaching mate-rials, and natural as learning objects. It is a creativity in building a humanist paradigm of Islamic education. The education system emphasizes awareness to encourage the process of dialogue between teachers and students. Dialogical process can bring an attitude of humility and affection that is open to criticism from the learners. Learners are required critical and questioned again about the unknown by the teacher. This kind of learning led to a harmonious communica-tion between all parties. School of Natural allow the emergence of awareness. This school gives the freedom to create, explore and discover potential, and find the knowledge based on experiences from the world of reality. AbstrakMakalah ini menjelaskan paradigma baru pendidikan Islam dalam perspektif humanisme dengan bertolak pada model sekolah alam. Model sekolah ini memiliki tiga aspek khusus, yakni: alam sebagai ruang belajar, alam sebagai media dan bahan mengajar, serta alam sebagai objek pembelajaran. Pendidikan seperti ini merupakan sebuah kreativitas dalam membangun paradigma pendidikan Islam yang humanis. Sistem pendidikan ini menekankan penyadaran untuk mendorong adanya proses dialog antara guru dan anak didik. Proses dialogis dapat memunculkan sikap rendah hati dan kasih sayang sehingga terbuka terhadap kritik dari peserta didik. Peserta didik dituntut kritis dan mempertanyakan kembali tentang hal yang belum diketahui oleh sang guru. Pembelajaran semacam ini memunculkan kesadaran siswa dan komunikasi yang harmonis antara semua pihak. Sekolah ini memberikan kebebasan untuk berkreasi, menggali dan menemukan potensi, serta menemukan pengetahuan berbasis pada pengalaman-pengalaman dari dunia realitas.
Kurikulum Madrasah: Studi Perbandingan Madrasah di Asia
Nasir, Muhammad
Nadwa Vol 9, No 2 (2015): Pendidikan Inovatif dan Pendidikan Karakter
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2015.9.2.524
Madrasah is one of the oldest Islamic education institution. At first, the school only develop curriculum with Islamic competences are the main objectives .. Madrasah today has been integrating the Islamic knowledge and sciences. Several countries in Asia both predominantly Muslim and minority seems that they have developed madrasa education institutions as one attractive option for people. Every country has the madrassa who coined according to the characteristics typi-cal of a country, There are significant similarities, all madrassas in various countries have a curriculum that combines religious education in the form of Aquran, Hadith, Fiqh, Tawhid, historical and moral theology and general edu-cation based on demands of each country AbstrakMadrasah merupakan salah lembaga pendidikan Islam tertua. Pada mulanya, ma-drasah hanya mengembangan kurikulum dengan kompetensi keislaman yang menjadi tujuan utama. Madrasah masa kini telah memadukan antara ilmu-ilmu kesilaman, ilmu-ilmu umum dan teknoogi. Beberapa negara di Asia baik yang penduduknya mayoritas muslim maupun yang minoritas telah memgembangkan lembaga pendidikan madrasah sebagai salah satu pilihan menarik buat masyara-katnya. Setiap negara memiliki madrasah yang memiiki ciri khas sesuai dengan karakteristik negara di mana madrasah itu berada, Terdapat persamaan yang penting, semua madrasah di berbagai negara memiliki kurikulum yang mema-dukan antara pendidikan keagamaan berupa Aquran, Hadis, Fiqh, Tauhid, sejarah dan akidah akhlak dan pendidian umum yang menjadi tuntutan negara masing-masing
Madrasah: dari Nizamiyah hingga Pesisiran Jawa
Junaedi, Mahfud
Nadwa Vol 8, No 1 (2014): Kepribadian Anak
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2014.8.1.572
Growth and development in the Coastal Java madrasah in the early twentieth century until now generally spearheaded by scholars/religious leaders who graduated in Islamic centers in the Middle East. At first they established the boarding school, followed by the establishment of madrasah to the coast of Javacan be regarded as children of a boarding school. The educational institutions have bonding formation of madrasah was first built by Niz{am al-Mulk in Baghdad in 1057, later known as madrasah Nizamiyah . This school is an educational institution that aims to teach Fiqh Sunni schools. Institutions of higher education has become one of the eleventh century and became the blueprint for the development of similar madrasah in the Islamic world. Historically, madrasah in Java can not be separated from the Middle East, especially the relationshipHaramayn scholars of al-Azhar and Cairo with the students in Java, Indonesia.AbstrakPertumbuhan dan perkembangan madrasah di Pesisir Jawa pada awal abad ke XX hingga kini, umumnya dipelopori oleh para kiai atau tokoh agama yang menamatkan pendidikan di pusat-pusat Islam tersebut. Pada awalnya mereka mendirikan pondok pesantren, lalu diikuti dengan pendirian madrasah, sehinggamadrasah di pesisir Jawa bisa dikatakan sebagai anak-anak pesantren. Lembaga pendidikan ini memiliki ikatan dengan madrasah pertama kali dibangun oleh Niz{am al-Mulk di Baghdad pada tahun 1057, kemudian dikenal dengan madrasahNiz{amiyah. Madrasah ini merupakan lembaga pendidikan yang bertujuan untuk mengajarkan fikih mazhab Sunni. Lembaga pendidikan tinggi ini ada pada abad kesebelas dan menjadi cetak biru bagi pengembangan madrasah-madrasah serupadi dunia Islam. Secara historis, keberadaan madrasah di Jawa tidak dapat dipisahkan dari hubungan ulama Timur Tengah, khususnya Haramayn dan al- Azhar Kairo dengan para murid di Jawa, Indonesia.Â
PENGUATAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PADA MADRASAH ALIYAH DI KUDUS
Ihsan, Ihsan
Nadwa Vol 6, No 1 (2012): Manajemen Pendidikan Islam
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2012.6.1.464
Secara politis dan yuridis eksistensi madrasah sebagai lembaga pen-didikan semakin kokoh dengan keluarnya Undang-Undang No. 2 Tahun 1989 dan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 beserta berbagai regulasi turunannya. Satu sisi regulasi tersebut telah menghantarkan madrasah pada posisi setara dan sederajat bahkan sama dengan sekolah umum. Na-mun pada sisi lain kedudukan tersebut menghadapkan madrasah pada tantangan dan dilema yang sulit terutama bila dikaitkan dengan kondisi objektifnya. Dampak secara umum dari status baru tersebut, setidaknya menurut beberapa kalangan tertentu, adalah menurunnya kemampuan/ penguasaan ilmu agama para lulusan madrasah. Fakta ini sulit untuk di-hindarkan karena disamping harus tetap mengajarkan ilmu-ilmu agama, madrasah dituntut juga harus mengajarkan ilmu-ilmu umum sama den-gan sekolah umum. Secara jujur harus diakui, madrasah adalah model pendidikan alternatif karena memiliki nilai plus dibandingkan dengan sekolah, yaitu pendidikan agama Islam yang relatif memadai. Namun keunggulan komperatif tersebut berpeluang hilang manakala problem dan dilema tersebut tidak dicarikan solusi yang tepat.
Tantangan Pengembangan Pendidikan Keguruan di Era Global
Oviyanti, Fitri
Nadwa Vol 7, No 2 (2013): Inovasi Pendidikan
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2013.7.2.562
Globalization barrage pass major changes to the world order as a whole. This era is characterized by the process of life worldwide, the advancement of science and technology, especially in the field of communication as well as the transformation and cross-cultural. Changes brought about by globalization are also experienced by the world of education with teachers as practitioners. Challenges faced by teachers in the global era, such as the development of science and technology are so rapid and fundamental; moral crisis that swept the nation and thestate, social crisis and a crisis of identity as a nation. All that obviously requires prospective teachers and qualified professionals. Teacher education programs must be able to provide excellent service to the students so that they can esta-blish qualified teacher. Improving the quality of education will foster public confidence that still exist in the future? AbstrakGlobalisasi mewariskan rentetan perubahan besar pada tatanan dunia secara menyeluruh. Era ini ditandai dengan proses kehidupan mendunia, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam bidang transformasi dan komunikasiserta terjadinya lintas budaya. Perubahan yang dibawa oleh globalisasi ini juga dialami oleh dunia pendidikan dengan guru sebagai praktisinya. Tantangan yang dihadapi guru di era global, seperti perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno-logi yang begitu cepat dan mendasar; krisis moral yang melanda bangsa dan negara, krisis sosial dan krisis identitas sebagai bangsa. Semua itu jelas menuntut calon guru yang profesional dan bermutu. Program pendidikan guru harusmampu memberikan pelayanan prima kepada mahasiswa sehingga mampu mencetak guru yang berkualitas. Peningkatan mutu pendidikan ini akan menumbuhkan kepercayaan masyarakat sehingga tetap eksis di masa datang.
Konsep Pendidikan Islam dengan Paradigma Humanis
Subaidi, Subaidi
Nadwa Vol 10, No 1 (2016): Pendidikan Islam dan Humanisme
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2016.10.1.900
Education is a rehumanisme, that was oriented to form individuals who able to understand the reality itself and the surrounding communities. The aim of education is to create significant social change in the life of mankind. One of the contents of the national education goals is to appreciate the reality of humanity and the potential that owned learners (human). Islam in its victorius was a center of the study of various discipline. It was proved by the emergence of Muslim scientists. But over time, the Islamic intellectualism began to decline along with cultural understanding and taqlid, whereas al-Qur`an have many signaled to examines all disciplines, not limited to the religious sciences. It can be seen from the verses of al-Qur`an that ordered to examine the verses kauniyah. Thus Islamic comprehensive assessment is a paradigm of Humanist Islamic Education or in other words, humanize human accordance with the primary task of man as a khalifah on earth.Abstrak:Pendidikan merupakan pemanusiaan kembali manusia (humanisasi) yang berorientasi pada bentuknya individu yang mampu memahami realitas dirinya dan masyarakat sekitarnya serta bertujuan untuk menciptakan perubahan sosial secara signifikan dalam kehidupan umat manusia. Salah satu isi dari tujuan pendidikan nasional adalah menghargai realitas kemanusiaan dan berbagai potensi yang dimilki peserta didik (manusia). Islam pada masa kejayaannya menjadi pusat kajian berbagai disiplin ilmu, hal ini terbukti dengan bermunculannya para ilmuwan muslim. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, intelektualisme Islam itu mulai redup seiring dengan pemahaman dan budaya taqlid, padahal al-Qur`an banyak memberikan isyarat agar mengkaji semua disiplin ilmu, tidak terbatas ilmu-ilmu agama saja. Hal ini bisa dilihat dari ayat-ayat al-Qur`an yang memerintahkan untuk mengkaji ayat-ayat kauniyah. Dengan demikian Pengkajian Islam secara komprehenshif baik ilmu agama maupun umum adalah sebagai Paradigma Pendidikan Islam Humanis atau dengan kata lain memanusiakan manusia sesuai dengan tugas utama manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Signifikansi Paradigma Pendidikan Kritis dalam Dunia Posrealitas
Gianto, Gianto
Nadwa Vol 6, No 2 (2012): Signifikansi Pendidikan Profetis
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2012.6.2.588
New world as a result of the development of science and technology mutakhir makes sign no longer reflect reality. Representation is no longer associated with the truth. The new world was built by various forms of distortion of reality, free game mark, meaning irregularities and artificiality meaning. The new world was built by many reality distortions, the free sign game, the deviation and appear-ance of meaning. A new reality world draws a metamorphosis which is got by human, from what mentioned as a reality condition, turn to post-reality. The post-reality will not effect at all to human if the critical awareness of human is kept on. Yet, if the critical awareness of human has been eroded, the human has artificial awareness. Actually, the post-reality is not a threat for human’s life if the critical awareness is kept on. Yet, if the critical awareness of human is erod-ed, human will be pressed and dominated by post-reality world.AbstrakDunia baru akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir menjadikan tanda tidak lagi merefleksikan realitas. Representasi tidak lagi berkaitan dengan kebenaran. Dunia baru itu dibangun oleh berbagai bentuk dis-torsi realitas, permainan bebas tanda, penyimpangan makna dan kesemuan mak-na. Dunia realitas baru tersebut melukiskan sebuah metamorfosis yang dialami oleh manusia, dari apa yang disebut sebagai kondisi realitas, ke arah apa yang disebut sebagai kondisi posrealitas (post-reality). Realitas dunia posrealitas ter-sebut tidak akan berdampak apa-apa terhadap manusia jika fakultas kesadaran kritis manusia tetap terjaga, akan tetapi jika fakultas kritis manusia telah terde-gradasi maka yang akan terjadi adalah manusia yang berkesadaran artifisial. Sebenarnya posrealitas bukanlah sebuah ancaman bagi kehidupan manusia se-jauh fakultas kritis manusia masih terjaga dengan baik, akan tetapi jika fakultas kritis manusia telah terdegradasi maka yang terjadi adalah manusia yang tertin-das dan terdominasi oleh dunia posrealitas.
Pengembangan Standarisasi Pondok Pesantren
Sidiq, Umar
Nadwa Vol 7, No 1 (2013): Pendidikan Islam Unggul
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2013.7.1.544
Pesantren as a forerunner to the original Indonesian educational institution just legally recognized in 2003 through the National Education Law No. 20/ 2003. The pesantren educations that were initially oriented only on deepen-ing religious knowledge have begun to include general subjects. The inclu-sion of these subjects is expected to expand the horizons of students’ thought in which they will also take the national examination held by the govern-ment. The informal education outcomes are appreciated to be equivalent to formal education after passing the assessment of equivalency process con-ducted by agencies appointed by the government or local authorities by ref-erence to national education standards. The pesantren has a special place and position in the national education system. Therefore, the pesantren should always make improvements and increase its education quality.AbstrakPesantren sebagai cikal bakal lembaga pendidikan yang asli Indonesia baru mendapat pengakuan secara yuridis pada tahun 2003 melalui UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003. Pendidikan pesantren yang pada mulanya hanya berorientasi pada pendalaman ilmu agama semata-mata mulai memasukkan mata pelajaran umum. Masuknya mata pelajaran ini diharapkan untuk memperluas cakrawala berpikir para santri dan biasanya pula para santri mengikuti ujian negara yang diadakan oleh pemerintah. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Posisi pesantren dalam sistem pendidikan nasional memiliki tempat dan posisi yang istimewa. Karena itu, sudah sepantasnya jika kalangan pesantren terus berupaya mela-kukan berbagai perbaikan dan meningkatkan kualitas serta mutu pendidikan di pesantren.
Revolusi Gaya Belajar untuk Fungsi Otak
Waluyo, M. Edy
Nadwa Vol 8, No 2 (2014): Pendidikan Berbasis Masyarakat
Publisher : FITK UIN Walisongo
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21580/nw.2014.8.2.577
This paper elaborate on an attempt to maximize the function of brain as a form of learning revolution. Learn properly is not an issue of whether or not a student pass the test. The meaning of learn is broader than a success of passing the ex-ams. This is certainly related to the fun learning during the process of maximiz-ing the ability to achieve success. Each student has a different learning styles depending on his/her character. There are four different models of learning that has been known today, ie sketch, sound, tactics, and movement. Students who have studied the model using the sketch tends to be easier to understand the in-formation that they see. While those who have learned how to use the sound tends to be easier to capture verbal information from the teacher. Students who have a tendency to learn with tactics models require a touch of emotion. The kinesthetic learning models require movement in the learning process so that children learn more successfully.AbstrakTulisan ini menguraikan upaya memaksimalkan kerja sebagai bentuk revolusi belajar. Belajar dengan benar bukan permasalahan tentang lulus atau tidaknya seorang siswa dalam ujian. Makna belajar lebih luas daripada sekedar dapat lulus ujian. Hal ini tentu berhubungan dengan pembelajaran yang menyenangkan selama proses memaksimalkan kemampuan untuk meraih kesuksesan. Setiap siswa mempunyai cara belajar yang berbeda-beda tergantung karakter masing-masing siswa. Ada empat macam model belajar yang telah dikenal saat ini, yaitu gambar, suara, taktik, dan gerakan. Siswa yang mempunyai model belajar menggunakan gambar cenderung akan mudah memahami informasi yang telah dilihat. Sementara mereka yang mempunyai cara belajar menggunakan suara cenderung akan mudah menangkap informasi verbal dari guru. Siswa yang mempunyai kecenderungan belajar dengan model taktik memerlukan sentuhan emosi. Adapun model belajar kinestetik menuntut gerakan dalam proses pembelajaran sehingga belajar anak lebih berhasil.