cover
Contact Name
Muhtarom
Contact Email
taromfu@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalteologia@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Theologia
ISSN : 08533857     EISSN : 2540847X     DOI : -
Jurnal THEOLOGIA, ISSN 0853-3857 (print); 2540-847X (online) is an academic journal published biannually by Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. It specializes in Islamic Studies (Ushuluddin) which particularly includes: Islamic Philosophy and Theology, Al-Quran (Tafsir) and Hadith, Study of Religions, Sufism and Islamic Ethics.
Arjuna Subject : -
Articles 493 Documents
NEO-SKEPTISISME MICHAEL COOK DAN NORMAN CALDER TERHADAP HADIS NABI MUHAMMAD Masrur, Ali
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 1 (2017): TAFSIR DAN HADIS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1188

Abstract

Abstract: This writing studies the ideas of renewed skepticism of Michael Cook and of Norman Calder to the prophetic hadith and to the validity of common link theory. By using the method of comparative analysis, it is found that Cook and Calder are highly skeptical to the prophetic hadith and to the validity of common link theory. Cook and Calder's skepticism even exceed Goldziher's and Schacht's skepticism. Cook and Calder say that common link phenomenon did not indicate that a certain hadith is originated from a key or a common transmitter, but it is the result of a different scenario of the spread of isnād and the result of competition of isnād criticism in the schools of Islamic law (madzāhib) in early Islamic society. Both Cook and Calder hesitate the truth and the validity of common link theory. Therefore, according to them, common link method cannot be used to trace the origin, provenance, and authorship of early hadith.Abstrak: Tulisan ini mengkaji ide-ide neo skeptisisme Michael Cook dan Norman Calder terhadap hadis Muhammad. dan terhadap validitas teori common link. Dengan menggunakan metode analisa komparatif, ditemukan bahwa Cook dan Calder sangat skeptis terhadap hadis Nabi Muhammad. Terhadap validitas teori common link. Skeptisisme Cook dan Calder bahkan melebihi skeptisisme Goldziher dan Schacht. Cook dan Calder berpendapat bahwa fenomena common link tidak menunjukkan bahwa sebuah hadis tertentu itu bersumber dari seorang periwayat kunci atau periwayat bersama, tetapi ia merupakan akibat dari skenario yang berbeda mengenai penyebaran isnād dan akibat dari kompetisi isnād di berbagai aliran fikih Islam (madhāhib) dalam masyarakat Islam awal. Baik Cook dan Calder sama-sama meragukan kebenaran dan validitas teori common link. Oleh karena itu, menurut mereka, metode common link tidak dapat digunakan untuk menelusuri asal mula, sumber dan ke­pengarangan hadis di masa awal.
KRITIK ATAS CORAK PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM KH. SIRADJUDDIN ABAS Baharudin, M.
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 2 (2016): TEOLOGI ISLAM DAN ISU-ISU KEBANGSAAN
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1070

Abstract

Abstract: The article aims to elaborate patterns of theological thought of KH Siradjuddin Abbas (1905-1980). In the midst of mainstream theological schools established in the Islamic world: traditionalists (Sunni) and rationalists (Mu'tazila), Abbas turns out consistently defend traditional theology. In theological thinking, Abbas positioned parallel to al-Ash'arite classical theology (Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah). He stressed all a round of God, revelation paced and use the reason is very little. He put God as absolute ruler, do as His Will. Therefore, theology of Siradjuddin Abbas is very strong hold on revelation and theocentric pattern, and everything begins and centered on God, good or bad all determined by God. Thus theology Siradjuddin Abbas less in line with modern thinking, which is progressive and forward the reason. In other words, theology of Siradjuddin Abbas less actual and contextual for the purposes of contemporary social reality if that expected from such thinking is an applicative conceptual thinking.Abstrak: Artikel ini bertujuan mengelaborasi corak pemikiran teologi K.H. Siradjuddin Abbas (1905-1980). Di tengah mainstream aliran teologi yang sudah mapan di dunia Islam: tradisionalis (Sunni) dan rasionalis (Mu’tazilah), Abbas ternyata konsisten membela teologi tradisional. Dalam pemikiran teologinya, Siradjuddin Abbas sejalan dengan pemikiran teologi klasik al-Asy’ariyah (Ahl al-Sunnah wa ’l-Jamā’ah). Ia menekankan segala suatu serba Tuhan, serba wahyu dan sangat sedikit menggunakan akal pikiran. Ia menempatkan Tuhan sebagai berkuasa mutlak semutlak-mutlaknya, berbuat sehendak-Nya. Karena itu, teologi Siradjuddin Abbas sangat kuat berpegang pada wahyu dan bercorak teosentris, dan segalanya bermula dan memusat pada Tuhan, baik atau buruk semua ditentukan oleh Tuhan. Dengan demikian teologi Siradjuddin Abbas yang ber­corak tradisional ini kurang sejalan dengan pemikiran modern, yang bersifat progresif dan lebih mengedepankan akal. Dengan kata lain, teologi Siradjuddin Abbas yang bercorak tradisional kurang aktual dan kontekstual untuk keperluan realitas sosial kontemporer jika yang diharapkan dari pemikiran tersebut adalah sebuah pemikiran yang bersifat konseptual aplikatif.
ISLAM RADIKAL VS ISLAM RAHMAH KASUS INDONESIA Syukur, Suparman
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1761

Abstract

Momentum kebebasan demokrasi memberi angin segar bagi kelompok fundamentalis-radi­kal merangsek ke tengah publik untuk menyua­ra­kan aspirasi politis-ideologisnya. Sialnya, cara, gaya, karakter atau pendekatan yang digunakan kerap berseberangan dengan iden­ti­tas dan bangunan budaya bangsa ini. Kekerasan kerap menjadi menu tidak asing lagi yang melekat dalam tubuh kelompok fundamentalis-radikal. Dengan berjubahkan agama dan atas nama agama, Islam sebagai agama  rahmah dan toleran menjadi kabur dibumi Indonesia ini, tertutupi oleh merebaknya fenomena radikali­tas dan ekstrimitas kelompok-kelompok funda­men­talis-radikal. Bukan hanya itu, logika radi­kalitas kelompok fundamentalis-radikal pun berjalan diatas logika demokrasi dan kebebasan menyuarakan pendapat, walau harus mengor­ban­kan keadaban dan keluhuran agama dan bangsa ini
FILSAFAT SEJARAH HAMKA: Refleksi Islam dalam Perjalanan Sejarah Jambak, Fabian Fadhly
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 2 (2017): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.2.1877

Abstract

Abstract: Understanding of the historiography of HAMKA cannot be separated from the understanding of the three elements that underlies his historical philosophy of the history of Muslims of the 13th century AD. The three elements that form the basis of the historical philosophy of HAMKA are tawheed (tawḥīd), moral (akhlāq) and intelligence (‘aql). This paper intends to reveal the historical philosophy of HAMKA and its underlying elements. The method used in this paper is a normative method with an analytical approach. Normative is used to describe and narrate the views of the historical philosophy of HAMKA, which is influenced by various views of his life reflected through his literature (sastra), tafsir, and history (historiography). Analytical is used to provide views or responses related to the points of thought within the scope of historical philosophy. This study finds that Historical Philosophy of HAMKA affirms that tawheed, moral, and intelligence are inseparable part of seeing an event which became known as history. Tawheed is shown by the human resignation as God's creature that the events that happen to him are the proper circumstances. Intelligence shows the character of man as a being who can contemplate every event that occurs in his life. Moral leads man to understand that an event is not only determined by the side of Tawheed and Intelligence, but also by the Morals who have a function to regulate human behavior how it should behave in every historical event, with the intention to acquire ibrah (lesson).Abstrak: Pemahaman terhadap historiografi HAMKA tidak dapat dilepaskan dari pemahaman tiga unsur yang mendasari filsafat sejarahnya tentang sejarah umat Islam abad 13-20 Masehi. Tiga unsur yang menjadi dasar filsafat sejarah HAMKA yaitu tauhid, akhlak dan akal. Tulisan ini bermaksud untuk mengungkap filsafat sejarah HAMKA beserta unsur-unsur yang mendasarinya. Metode yang di­gunakan dalam tulisan ini adalah metode normatif dengan pendekatan analitis. Nor­matif digunakan untuk memberikan gambaran dan menarasikan pandangan-pandangan filsafat sejarah HAMKA, yang dipengaruhi oleh berbagai macam pandangan hidupnya yang tercermin melalui karya satra, tafsir dan sejarahnya (historiografi). Analitis digunakan untuk memberikan pandangan atau tanggapan terkait pokok-pokok pikirannya dalam ruang lingkup filsafat sejarah. Kajian ini menemukan bahwa filsafat sejarah HAMKA meneguhkan bahwa tauhid, akhlak, dan akal merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam melihat suatu peristiwa yang kemudian dikenal dengan sejarah. Tauhid ditunjuk­kan dengan keberserahan manusia sebagai makhluk Allah bahwa peristiwa yang ter­jadi kepadanya merupakan keadaan yang semestinya terjadi. Akal me­nunjuk­kan ciri manusia sebagai mahkluk yang dapat merenungi setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya. Akhlak mengarahkan manusia untuk me­mahami bahwa suatu peristiwa tidak hanya ditentukan oleh sisi Tauhid dan Akal, melainkan juga oleh Akhlak yang memiliki fungsi untuk mengatur perilaku manusia bagaimana seharusnya bersikap dalam setiap peristiwa sejarah, dengan maksud untuk memeperoleh ibrah (pelajaran). 
PLURALISME AGAMA SEBAGAI RAHMATAN LI AL-‘ALAMIN Safii, Safii
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 2 (2012): ISLAM DAN RESOLUSI KONFLIK
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.2.1677

Abstract

Pluralism or diversity is something that is inevitable. The religious text in this case al-Qur'an, clearly explain it. The creation of human beings regardless of color, ethnicity, and religion are among the plurality contained in the holy book of Muslims. A plurality of the Qur'an is meant for man to know each other, complementary, and harmonious cooperation between each other. Because, in fact, the plurality is part of a God’s effort to show that Islam is a religion of rahmatan lil 'alamin. The religion that is able to protect mankind. Pluralisme atau kemajemukan adalah sesuatu yang niscaya. Teks agama, dalam hal ini al-Qur’an, secara jelas menerangkan hal tersebut. Penciptaan manusia yang beragam warna kulit, suku bangsa, dan agama adalah di antara pluralitas yang termaktub dalam kitab suci umat Islam itu. Pluralitas ini dimaksudkan al-Qur’an supaya manusia saling mengenal, melengkapi, dan menjalin kerjasama yang harmonis antara satu dengan yang lainnya. Sebab sejatinya, pluralitas adalah bagian dari upaya Tuhan untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang rahmatan li al’alamin. Agama yang mampu mengayomi segenap umat manusia
KONTEKSTUALITAS DAN HISTORISITAS MATAN HADIS-HADIS PEPERANGAN TERHADAP NON-MUSLIM Nasrulloh, Nasrulloh
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 1 (2017): TAFSIR DAN HADIS
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.1.1322

Abstract

Abstract: Some hadiths of warfare against non-Muslims often used as a reference by radical groups in carrying out their jihad actions.They do not read hadiths thoroughly and just focus on the text, regardless of the historicity and aspects of the language. Moreover, they also did not read hadiths of religious tolerance and attitudes of Rasulullah PBUH while interacting with non-Muslims. This study aims to answer the question of what is the contextual understanding of hadiths of hostility towards non-Muslim? It is library research. It uses hadiths of hostility towards non-Muslims from al-kutub al-tis’ah as a primary source and uses criticism of matan hadith as the research approach. By using content analysis method, it finds that hadiths of hostility towards non-Muslims broadly have a meaning that Rasulullah PBUH commanded to fight the polytheists who were hostile until they are willing to say two sentences creed. Thus, the hadiths intended only for non-Muslims who fight against Muslims, which they have chosen to start a fight and did not accept the way of peace. Therefore, not all of non-Muslims are worthy/ appropriate to be hostile or to be fought either. Furthermore, fighting any non-Muslims who do not fight Muslims is contrary to the texts and scholarly consensus.Abstrak: Beberapa hadis tentang perang melawan non-Muslim sering diguna­kan sebagai acuan oleh kelompok-kelompok radikal dalam melakukan tindakan jihad mereka. Mereka tidak membaca hadis secara menyeluruh dan hanya fokus pada teksnya, terlepas dari historisitas dan aspek bahasa. Selain itu, mereka juga tidak membaca hadis tentang toleransi dan sikap Rasulullah saat berinteraksi dengan non-Muslim. Penelitian ini bermaksud untuk menjawab pertanyaan; bagaimana pemahaman kontekstual hadis-hadis tentang per­musuh­an terhadap non-Muslim? Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan, yang mengguna­kan hadis tentang  permusuhan terhadap non-Muslim dalam al-kutub al-tis'ah se­bagai sumber utama, dan menggunakan kritik matan hadis sebagai pendekatan penelitian. Dengan menggunakan analisis konten, Penelitian ini menemukan; hadis tentang permusuhan terhadap non-Muslim secara luas memiliki makna bahwa Rasulullah diperintahkan untuk memerangi kaum kafir yang me­musuhi sampai mereka bersedia untuk mengatakan dua kalimat syahadat. Dengan demikian, obyek  hadis tersebut ditujukan hanya untuk non-Muslim yang me­merangi umat Islam, yang mereka telah memilih untuk memulai perkelahian dan tidak menerima jalan damai. Oleh karena itu, tidak semua non-Muslim layak/ tepat untuk dimusuhi, bahkan harus diperlakukan secara baik. Di samping itu, memerangi setiap non-Muslim yang tidak memerangi umat Islam bertentangan dengan teks dan konsensus ilmiah.
IDEOLOGI, KEYAKINAN, DOKTRIN DAN BID’AH KHAWARIJ: Kajian Teologi Khawarij Zaman Modern Sukring, Sukring
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 2 (2016): TEOLOGI ISLAM DAN ISU-ISU KEBANGSAAN
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1076

Abstract

Islam is a religion of balance and moderation, Muslim are supposedly the people of the middle or the neutral people. But in fact, this word means not to be excessive (moderate). Its modesty appears in doctrine and morals. That is the main characteristic of Islam. Those who are far away from moderation have indeed moved away from the spirit of Islam. Throughout ages there have been always extreme groups. Consequently, they will be shunned by people, although they outwardly practice good deeds and are devout. In this case, the most obviously extreme group was the Khawarij. Killing Muslims deemed valid by the Khawarij. Even today Khawarij still uses the name of Islam and raised slogans to establish a divine order. However, all of their actions and steps actually violate the teachings of Islam. Khawarij passed through indelible traces in the history. Nevertheless, Nowadays, there are groups showing up again in the world and in the new paradigm of Khawarij by murder,rebellion in a legitimate government, and terrorism. The scholars indicate they are modern Khawarij.Islam adalah agama seimbang dan moderat, sebagai umat pertengahan, perantara, atau bangsa yang netral. Namun faktanya, kata ini bermakna tidak berlebih-lebihan (moderat). Kesederhanannya tampak dalam doktrin dan akhlak. Itulah ciri utama dari Islam. Mereka yang menjauhkan diri dari sikap moderat telah menjauh dari semangat Islam yang sebernarnya. Sepanjang zaman akan selalu muncu kelompok-kelompok yang berhaluan ekstrim. Sebagai konsekwensi, mereka akan dijauhi umat, meski secara lahiriah me­nampilkan amalan Islam dan taat dalam beragama. Dalam hal ini kelompok yang paling kentara adalah Khawarij. Membunuh orang Muslim dianggap sah oleh Khawarij. Bahkan hari ini Khawarij menggunakan nama Islam dan mengangkat slogan-slogan untuk membangun tatanan Ilahi. Akan tetapi, semua tindakan dan langkah mereka sejatinya merupakan pelanggaran terhadap ajaran Islam. Ketika para pendukung Khawarij tidak memiliki dalil yang sah untuk tindakan mereka. Aliran Khawarij telah berlalu dengan jejak yang tak terhapuskan dalam sejarah. Namun dalam perkembangan zaman, kelompok ini mulai kembali dalam pentas dunia, dalam paradigma baru dengan melakukan pembunuhan, pem­berontakan pada pemerintah yang sah, dan terorisme. Para ulama meng­indikasikan mereka adalah kelompok Khawarij zaman modern
JIHAD DALAM LITERATUR PESANTREN SALAF IBRAHIM, RUSTAM
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1799

Abstract

Artikel ini menyoroti peran pesantren dalam memahami jihad, yang lebih diprioritaskan pada dunia pendidikan, karena pendidikan diang­gap lebih efektif dan menjanjikan dalam mem­per­siapkan generasi masa depan dalam menye­bar­kan agama Islam. Terbukti, sejak zaman penjajahan sampai sekarang, kiprah pesantren sangat besar dalam sejarah pen­didikan di Indonesia. Banyak alumni-alumni pesantren yang telah berhasil menyebarluaskan ajaran Islam melalui pendidikan, disamping juga berhasil mempertahankan eksistensi akidah Islam dari rongrongan para penjajah.
PEMIKIRAN PEMBARUAN TEOLOGI ISLAM SYAH WALI ALLAH AD-DAHLAWI Munir, Ghazali
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1757

Abstract

Pemikiran pembaruan teologi Islam Syah Wali Allah ad-Dahlawi tidak hanya berfokus terhadap ajaran Islam tertentu belaka, tetapi bersifat komprehensif. Baik terhadap aspek politik, pemahaman terhadap ajaran Islam, dan lainnya. Serta menyeru untuk kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, dan mayoritas sahabat dan tabi’in. Aspek politik, ia mengajak kembali pada sistem khulafa’urrasyidin, mendamaikan perbedaan paham yang ada pada mazhab, membersihkan kepercayaan dari non Islam, ijtihad disesuaikan dengan tuntutan zaman
DISKURSUS MUNĀSABAH: Problem Tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān Affani, Syukron
Jurnal THEOLOGIA Vol 28, No 2 (2017): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2017.28.2.1443

Abstract

Abstract: Munāsabah al-Qur’ān is a part of ‘Ulūm al-Qur’ān which presents pros and contrast. The pros ulama makes munāsabah as a method to reveal enigma system of Quran verses and chapter. The structure of the Quran’s verses and chapters seems to leap and are not connected each other. But for ulama who are contra to munāsabah, this success considered as a subjective product which did not put munāsabah tafsīr as ḥujja tafsīr automatically. As a questionious Quran’s knowl­edge, munāsabah has become a tafsīr method al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān (textual relations in the Quran) which is in the highest position in the hierarchy of tafsīr bi ’l-ma’thūr with the highest ḥujja (a binding proof) status. Quranic exegesis is called ma’thūr if it is based upon the traditions of the Prophet, his Companions, and the immediate Successors of the Companions. The active subject as athīr in the tafsīr bi ’l-ma’thūr is the prophet in the tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Ḥadīth; Com­panions in the tafsīr al-Qur’ān bi aqwāl al-ṣahāba; and tābi’īn ‘the immediate Successors of the Companions’ in the tafsīr al-Qur’ān bi aqwāl al-tābi’īn which the explanation or behavior is athar which is made as the base (ma’thūr) of the interpretation. But what about the exegesis of al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān: is Allah as the active subject or a Quranic naṣ? If Allah, of course, he delivers it through the prophet and it belongs to tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Ḥadīth category. If Allah analogically through al-Qur’ān naṣ truly, so does this al-Qur’ān naṣ automatically become the base of another al-Qur’ān naṣ or it still needs the help of an interpreter? This question becomes an epistemological problem of tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān through the helping knowledge, it is munā­sabah al-Qur'an. The formulation of the problem in this paper, firstly, how the method of munāsabah operates in the al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān interpretation. Secondly, what is the impact of the munāsabah method works on the status of the al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān interpretation. The result, firstly, the method of munāsabah used to explain one verse against another, is ijtihādy; and secondly, it affects to the ma’thūr and ḥujja status of the al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān interpretation which has been getting the top spot in the hierarchy of inter­pretation bi ’l-ma'thūr so that necessary reformulation Quranic inter­pretation bi ’l-ma'thūr.Abstrak: Munāsabah al-Qur’ān termasuk bagian dari ‘Ulūm al-Qur’ān yang mengundang pro dan kontra. Ulama yang pro menjadikan munāsabah sebagai metode untuk mengungkap enigma sistematika ayat dan surat al-Qur’ān. Sepintas susunan ayat dan surat melompat-lompat dan dirasakan tidak saling terhubung. Tetapi bagi ulama yang kontra munāsabah, keberhasilan tersebut merupakan produk subjektif yang tidak serta merta menempatkan tafsir-tafsir munāsabah sebagai tafsir ḥujjah. Sebagai ilmu al-Qur’ān yang dipersoalkan, munāsabah telah menjadi metode tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān yang secara hirarkis menempati posisi teratas tafsīr bi ’l-ma’thūr dengan status kehujjahan tertinggi. Suatu penafsiran disebut ma’thūr bila disandarkan kepada al-Qur'an sendiri, hadits atau sunnah Nabi, qaul Sahabat, dan Tabi’in. Subjek aktif sebagai athīr pada tafsīr bi ’l-ma’thūr adalah Nabi pada tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Ḥadīth; Sahabat pada tafsīr al-Qur’ān bi aqwāl al-ṣahābah; dan tābi’īn pada tafsir al-Qur’ān bi aqwāl al-tabi’īn yang keterangan atau tindak perilakunya adalah atsar yang dijadikan dasar (ma’thūr) penafsiran. Tetapi bagaimana dengan tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur'ān: apakah Allah sebagai subjek aktifnya atau naṣ al-Qur'an? Kalau Allah, tentu melalui Nabi dan itu berarti masuk kategori tafsīr al-Qur’ān bi ’l-ḥadīth. Kalau Allah (secara majāzī) melalui naṣ al-Qur’an secara haqīqī, maka apakah naṣ al-Qur’an ini menjadi dasar penafsiran naṣ al-Qur’an yang lain dengan sendirinya atau dengan bantuan penafsir? Pertanyaan ini menjadi problem episte­mologis tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān melalui ilmu bantu­nya yaitu munāsabah al-Qur'an. Rumusan masalah dalam tulisan ini pertama, bagaimanakah metode munāsabah beroperasi dalam tafsir al-Qur'an dengan al-Qur'an. Kedua, apa dampak cara kerja metode munāsabah terhadap status tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān. Hasilnya, pertama, metode munāsabah yang dimanfaatkan untuk menjelaskan satu ayat terhadap ayat yang lain, bersifat ijtihādī; dan kedua, karena itu berpengaruh terhadap status kema’tsuran dan kehujjahan tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān yang selama ini mendapatkan tempat teratas dalam hirarki tafsir bi ’l-ma’thūr sehingga diperlukan reformulasi tafsir bi ’l-ma’thūr.