cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Geografi Indonesia
ISSN : 02151790     EISSN : 2540945X     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 411 Documents
Pemetaan cepat batimetri perairan dangkal menggunakan citra Sentinel-2 dan Google Earth Engine di Perairan Tanjung Kelayang – Pulau Belitung Munawaroh Munawaroh; Pramaditya Wicaksono; AW Rudiastuti
Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.80414

Abstract

Abstrak Peta batimetri perairan dangkal dapat membantu pengelolaan, pemantauan, dan perlindungan bagi ekosistem di dalamnya. Namun, ketersediaan peta batimetri di wilayah perairan dangkal di Indonesia masih terbatas. Untuk itu, diperlukan sebuah metode pemetaan cepat estimasi batimetri di perairan dangkal di Indonesia. Penelitian ini mencoba mengaplikasikan metode otomatisasi pemetaan batimetri perairan dangkal di Tanjung Kelayang menggunakan band biru dan hijau dari mosaik clean-coastal-water citra Sentinel-2, klorofil-a dari aqua-MODIS pada platform Google Earth Engine (GEE). Tujuan dari penelitian ini adalah menguji keandalan metode pemetaan cepat batimetri dengan menggunakan data mosaik citra satelit Sentinel-2, klorofil-a dan algoritma band-ratio pada platform GEE di wilayah penelitian. Hasil penelitian menunjukkan model SDB (Satellite Derived Bathymetry) memiliki R2 sebesar 0,62, mean absolute erorr (MAE) sebesar 1,77 meter dan RMSE sebesar 2,02 meter dengan estimasi nilai kedalaman optimum 5 meter dan maksimum 10 mter. Dengan demikian, model SDB yang dihasilkan dapat diandalkan sebagai alternatif untuk pemetaan cepat batimetri di perairan dangkal, meskipun harus berkompromi dengan akurasi peta batimetri yang dihasilkan. Abstract Bathymetric maps of shallow waters can aid in managing, monitoring, and protecting ecosystems within them. However, the availability of bathymetric maps for shallow water regions in Indonesia still needs to be improved. Therefore, a method of rapid mapping for bathymetry in shallow waters in Indonesia is needed. This study attempts to apply an automated method for mapping shallow water bathymetry in Tanjung Kelayang using the blue and green bands of the clean-coastal-water mosaic of Sentinel-2 images, chlorophyll-a data from aqua-MODIS, and the Google Earth Engine (GEE) platform. This research aims to test the reliability of the rapid bathymetry mapping method using Sentinel-2 image mosaics, chlorophyll-a data, and band-ratio algorithms on the GEE platform in the study area. The results of the study show that the Satellite Derived Bathymetry (SDB) model has an R2 value of 0,62, a mean absolute error (MAE) of 1,77 meters, and a root mean square error (RMSE) of 2,02 meters, with an estimated optimal depth value of 5 meters and a maximum depth value of 10 meters. Thus, the generated SDB model can be considered a reliable alternative for rapid bathymetry mapping in shallow waters, although it may compromise the accuracy of the resulting bathymetric maps. 
Determinan kesenjangan kemiskinan desa-kota di Indonesia Dominicus Savio Priyarsono; Miryam BLSK Wijaya; Ely Elprida Sigiro
Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.80932

Abstract

Abstrak.  Artikel ini bertujuan mengidentifikasi beberapa faktor yang diperkirakan menentukan kesenjangan kemiskinan desa-kota di Indonesia. Data antar-provinsi tahun 2000-2020 dianalisis dengan teknik regresi data panel. Kesenjangan kemiskinan desa-kota (variabel dependen) diukur dengan dua cara, yakni selisih dan rasio angka kemiskinan desa-kota.  Variabel-variabel independen yang dianalisis adalah produk domestik regional bruto per kapita, produktivitas sektor pertanian, transformasi perdesaan, indeks kapasitas fiskal, dan rata-rata jumlah tahun bersekolah penduduk perdesaan.  Kedua model itu memberikan hasil estimasi tanda parameter yang konsisten searah. Variabel independen yang secara signifikan berbanding terbalik dengan kedua variabel dependen adalah produktivitas sektor pertanian dan rata-rata jumlah tahun bersekolah penduduk perdesaan, sedangkan yang berbanding lurus adalah PDRB/Kapita dan indeks kapasitas fiskal.  Dengan kata lain, dua variabel independen yang pertama itu mengurangi angka kemiskinan perdesaan sedemikian efektif sehingga mampu memperkecil kesenjangan kemiskinan desa-kota.  Kebijakan pertumbuhan ekonomi dan kebijakan fiskal daerah terbukti mengurangi kemiskinan di kota lebih efektif daripada di desa, akibatnya justru berdampak memperlebar kesenjangan tersebut.  Temuan lain menunjukkan bahwa transformasi perdesaan yang diukur dengan kesempatan kerja non-pertanian di perdesaan tidak cukup efektif mengurangi angka kemiskinan di pedesaan, sehingga tidak berdampak signifikan pada kesenjangan kemiskinan desa-kota. Abstract. This article analyzes some factors which might have determined rural-urban poverty gap in Indonesia.  Provincial data for the years of 2000-2020 are analyzed by using panel data regression techniques.  The gap between rural-urban poverty rates (dependent variable) is measured by two methods, i.e. rural-urban poverty difference and ratio. Gross regional product per capita, agriculture sector productivity, rural transformation, fiscal capacity index, and rural mean years of schooling are regressed on each of the gap measures. The two models give consistently equivalent signs of the estimated parameters.  The independent variables that negatively and significantly affect the dependent variables are productivity of agriculture sector and rural mean years of schooling, whereas those that are positive and significant areGDP/Capita and fiscal capacity index. In other words, the first two independent variables decrease the rural poverty rates so effectively that they can reduce the rural-urban poverty gap.  Economic growth policy and regional fiscal policy decrease poverty more effectively in urban than they do in rural areas, and hence they widen the poverty gap. Another finding shows that rural transformation that is measured by non-agriculture employment in rural areas is not so effective to reduce rural poverty, that it does not significantly effect on the poverty gap.
Come to be stranded: the dynamics of refugee influx in three Indonesian government regimes Bagas Aditya; Agus Joko Pitoyo
Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.81436

Abstract

Abstrak. Indonesia telah menjadi salah satu negara transit pengungsi sejak abad ke-20. Namun, hanya beberapa sarjana yang mempelajari dinamikanya. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan dinamika pengungsi internasional di Indonesia dari tahun 1978 hingga 2022 dengan menggunakan pendekatan geografi sejarah dan desktop research. Studi ini menemukan bahwa pengungsi yang masuk ke Indonesia pada masa Orde Baru dan masa Transisi mayoritas berasal dari Asia Tenggara. Krisis besar yang terjadi pada masa itu antara lain krisis manusia perahu, krisis pengungsi Kamboja, pengusiran warga Timor Timur, dan krisis pengungsi MENA. Pada era reformasi hingga saat ini, jumlah pengungsi dan sebaran negara asal semakin meningkat dengan krisis utama adalah krisis laut Andaman dan krisis Rohingya. Faktor-faktor yang mendasari para pengungsi internasional memilih Indonesia sebagai negara suaka adalah kedekatan geografis, konflik regional, kedekatan sosial, sejarah, dan budaya, serta kebijakan anti pengungsi dari negara penerima.  Sementara itu, kebijakan internal terkait pengungsi antar pemerintahan tidak terlalu berpengaruh pada dinamika pengungsi sebab indonesia konstan pada posisinya sebagai non penerima pengungsi.  Abstract. Since the twentieth century, Indonesia has been a refugee transit country. However, only a few academics have investigated its dynamics. This study uses historical geography and desktop research methods to explain the dynamics of international refugees in Indonesia from 1978 to 2022. According to this study, most refugees who arrived in Indonesia during the New Order era and the crisis transition period were from Southeast Asia. The boat people crisis, the Cambodian refugee crisis, the East Timorese refugees, and the MENA refugee crisis were all major crises at the time. The number of refugees and the distribution of countries of origin have increased during the reform era, with the main crises being the Andaman Sea and the Syrian refugee crises. Geographic proximity, regional conflicts, social, historical, and cultural proximity, as well as the receiving country's anti-refugee policies, all contribute to international refugees choosing Indonesia as a country of asylum. Meanwhile, internal refugee policies have little impact on the dynamics of refugees because Indonesia continues to be a non-recipient of refugees. 
Kesiapsiagaan masyarakat desa tangguh bencana terhadap ancaman tsunami di Kabupaten Cilacap Novian Andri Akhirianto; Sri Rum Giyarsih; Djati Mardiatno
Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.82871

Abstract

Abstrak Wilayah pesisir Kabupaten Cilacap memiliki potensi ancaman tsunami yang dapat terjadi setiap saat, sehingga masyarakat yang tinggal di dalamnya dituntut memiliki kesiapsiagaan yang baik. Adanya intervensi program “Desa Tangguh Bencana” (Destana), tidak serta-merta menjamin kesiapsiagaan masyarakat selalu dalam kondisi baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat kesiapsiagaan masyarakat Destana tsunami, menggunakan empat parameter kesiapsiagaan masyarakat (pengetahuan risiko bencana, rencana tanggap darurat, sistem peringatan bencana, dan mobilisasi sumberdaya). Penelitian ini dilakukan dengan metode survei menggunakan kuesioner, terhadap 100 responden rumah tangga yang ada di 8 desa yang sudah ditetapkan menjadi Destana di Kabupaten Cilacap. Analisis data dilakukan dengan analisis indeks untuk mengetahui tingkat kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman tsunami. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesiapsiagaan masyarakat Destana tsunami di Kabupaten Cilacap berada pada kategori hampir siap, dengan indeks kesiapsiagaan masyarakat 55. Adanya intervensi program Destana belum mampu menjadikan tingkat kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman tsunami pada level siap ataupun sangat siap. Hal tersebut disebabkan karena keempat parameter kesiapsiagan belum optimal, dimana mobilisasi sumberdaya menjadi parameter yang paling belum optimal. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman tsunami di Kabupaten Cilacap. Abstract The coastal area of Cilacap Regency has the potential for a tsunami hazard that can occur at any time, so that the community who live in it are required to have good preparedness. The program intervention of Disaster Resilient Village (Destana) does not necessarily guarantee that community preparedness is always in good condition. This research aims to assess the level of preparedness of the tsunami village community, using four parameters of community preparedness (disaster risk knowledge, emergency response plans, disaster warning systems, and resource mobilization). This research was conducted using a survey method using a questionnaire, to 100 household respondents in 8 villages that had been designated as the Destana. Data analysis was carried out using index analysis to determine the level of community preparedness against the threat of a tsunami. The results showed that the community preparedness level of the Destana tsunami was in the almost ready category, with a community preparedness index of 55. The four parameters of preparedness are not optimal, with resource mobilization being the least optimal parameter. Support from various parties is urgently needed to increase community preparedness against the tsunami hazard in Cilacap Regency.  
Studi Komparasi Teknik Klasifikasi berbasis Objek terhadap Citra Resolusi Spasial Menengah dan Tinggi untuk Pemetaan Tutupan Lahan di Sebagian Kabupaten Kulonprogo Putri, Erisa Ayu Waspadi; Danoedoro, Projo; Farda, Nur Mohammad
Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.81374

Abstract

Abstrak Tingginya kebutuhan informasi tutupan lahan dalam berbagai sektor perencanaan dapat disediakan secara time-and-cost effective melalui analisa citra penginderaan jauh, diantaranya menggunakan OBIA (object based image analysis). Teknik tersebut banyak diterapkan pada berbagai macam citra, baik resolusi spasial tinggi maupun menengah. Namun studi komparasi pada citra resolusi spasial yang berbeda masih belum banyak dilakukan secara comparable, dimana umumnya terdapat banyak perbedaan variable komparasinya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan secara langsung penerapan OBIA terhadap resolusi spasial citra yang berbeda dengan membatasi variable berpengaruh terhadap akurasi, diantaranya: klasifikasi jenis tutupan lahan, saluran masukan citra, dan kriteria serta teknik klasifikasi OBIA. Berdasarkan studi komparasi, diketahui bahwa penggunaan Pleaides memberikan akurasi yang lebih tinggi dibanding Landsat-8 OLI namun memerlukan strategi klasifikasi yang lebih rumit. Sedangkan ditinjau dari overall accuracy dan indeks kappa, disimpulkan bahwa OBIA mampu memberikan akurasi hasil yang termasuk dalam acceptable thresholds untuk derivasi tutupan lahan menggunakan citra resolusi spasial tinggi ataupun menengah.Abstract The high demand for land cover information for vast planning sectors could be provided in time-and-cost-effective techniques using remote sensing image analysis, including employing OBIA (object based image analysis). The technique is widely applied to various kinds of imageries, for high and medium spatial resolution as well. However, comparative studies on the usage of different spatial resolution imageries have not been carried out in a comparable condition, where several variables could be in different terms. The study aims is to straightly compare OBIA’s application in diverse spatial resolution of imagery by limiting the affecting variables to its accuracy, including classification of land cover schemes, imagery channels input, and OBIA’s criteria and techniques. The comparative study reveals the usage of Pleaides provides higher accuracy than Landsat-8 OLI but requires a more complicated classification strategy. Meanwhile, the overall accuracy and kappa index of both maps exposes that OBIA could provide scientifically acceptable accurate land cover maps derived from both high and medium spatial resolution imagery.
Distribusi dan Karakteristik Penderita Hipertensi di Daerah Istimewa Yogyakarta Alfana, Muhammad Arif Fahrudin; Pitoyo, Agus Joko; Listyaningsih, Umi; Yaseva, Yosi; Yushafira, Mirza
Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.84531

Abstract

Salah satu isu kesehatan yang menjadi perhatian dunia adalah masalah hipertensi. Hipertensi merupakan kondisi tekanan darah tidak normal yang mampu memicu masalah kesehatan lainnya seperti jantung, ginjal, masalah otak dan lainnya. Kasus di Indonesia, lebih dari sepertiga penduduk di Indonesia mengidap hipertensi. Artinya bahwa kasus hipertensi memerlukan perhatian lebih melihat kondisi tersebut. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan provinsi tertinggi keempat untuk kasus hipertensi di Indonesia. Berdasarkan hasil pengukuran dalam data Riskesdas 2019, prevalensi penderita hipertensi DIY di atas 30 persen. Sedangkan berdasarkan diagosis dokter/obat prevalensinya sebesar 10,68 persen. Oleh karenanya hipertensi menjadi salah satu masalah utama kesehatan penduduk di DIY. Meskipun begitu penting, publikasi dasar mengenai distribusi dan karakteristik penderita hipertensi di DIY belum dibahas secara komperehensif. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan distribusi dan karakteristik pada penderita hipertensi di DIY. Temuan hasil ini diharapkan dapat digunakan sebagai dasar perencanaan kebijakan utamanya dalam pengendalian dan pengobatan hipertensi di DIY. Desain penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif. Data dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif dan komparatif. Data utama yang digunakan adalah profil penderita hipertensi berdasarkan hasil pengukuran dari data Riskesdas 2019. Akurasi data-data tersebut memiliki tingkat interval kepercayaan (confidence interval) 95 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi prevalensi penderita hipertensi di DIY terbanyak berada di Kabupaten Gunungkidul. Sedangkan berdasarkan jumlahnya, terbanyak di Kabupaten Sleman. Penderita hipertensi di DIY memiliki karakteristik dominan di usia lansia (65 tahun ke atas), berjenis kelamin perempuan, berpendidikan rendah, tinggal di perdesaan serta dominan bekerja di sektor pertanian. Profil tersebut menjelaskan bahwa selain rentan karena kesehatannya, profil penderita hipertensi di DIY juga rentan dari sisi kondisi sosial ekonominya. Oleh karenanya penanganan yang tepat diperlukan agar masalah hipertensi di DIY dapat tertangani dengan baik.
Dampak Redistribusi Tanah Terhadap Penghidupan Masyarakat di Kawasan Fora 2 (Ternate) Maluku Utara Gafuraningtyas, Dewi; Setiatin, Nurasih; Anggrivianto, Tommy
Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.84620

Abstract

Abstrak Reforma agraria, atau land reform plus, adalah konsep yang bertujuan untuk mengubah struktur kepemilikan dan penggunaan tanah demi mengurangi ketimpangan kepemilikan dan ketidakadilan di sektor pertanian. Di Kelurahan Foramadiahi, Ternate, Provinsi Maluku Utara sudah dilakukan bagian dari reforma agraria yakni redistribusi tanah hasil pelepasan kawasan hutan berdasarkan Surat Keputusan Pelepasan Kawasan Hutan Nomor 1001/MENLHK/SEKJEN/PLA.2/11/2019 di tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak reforma agraria, khususnya redistribusi tanah, terhadap kehidupan masyarakat di Kawasan Fora 2, Kelurahan Foramadiahi setelah 2 (dua) tahun pelaksanaan program tersebut. Melalui pendekatan kualitatif dengan mewawancarai 42 subjek penerima Tanah Objek Reforma Agraria (TORA), penelitian ini mengungkapkan bahwa pemberian kepastian hukum terhadap tanah yang sebelumnya tidak dimiliki telah memberikan kepuasan kepada masyarakat. Meskipun demikian, dampak ekonominya belum signifikan dirasakan oleh masyarakat. Pengakuan hukum atas kepemilikan tanah secara efektif telah mencegah praktik penyerobotan lahan, munculnya mafia tanah, dan mengurangi masalah-masalah pertanahan lainnya di lokasi penelitian. Namun, kendala utama terletak pada kurangnya pendampingan dalam pengelolaan hasil pertanian, yang menjadi faktor penghambat peningkatan nilai tambah produk pertanian. Diharapkan bahwa rencana pemberian penataan akses di tahun 2023, serta pendampingan dalam pengelolaan pertanian, akan memberikan dampak positif pada perekonomian masyarakat Kawasan Fora 2 di masa mendatang. Abstract Agrarian reform, or land reform plus, is a concept that aims to change the structure of land ownership and use in order to reduce ownership inequality and injustice in the agricultural sector. In Foramadiahi Village, Ternate, North Maluku Province, part of agrarian reform has been carried out, namely, the redistribution of land resulting from the release of forest areas based on Forest Area Release Decree Number 1001/MENLHK/ SEKJEN/PLA.2/11/2019 in 2021. This study aims to analyze the impact of agrarian reform, especially land redistribution, on the lives of people in Fora 2 Area, Foramadiahi Village, after two years of program implementation. Through a qualitative approach, interviewing 42 subjects who received Land for Agrarian Reform Objects (TORA), this study reveals that providing legal certainty over previously unowned land has satisfied the community. However, the economic impact has not been significantly felt by the community. Legal recognition of land ownership has effectively prevented land- grabbing practices, the emergence of land mafias, and reduced other land problems in the research locations. However, the main obstacle lies in the lack of assistance in the management of agricultural products, which is an inhibiting factor in increasing the added value of agricultural products. It is expected that the plan to provide access arrangements in 2023, as well as assistance in agricultural management, will have a positive impact on the economy of the Fora 2 community in the future.
Paradigma Filsafat Geografi Kontemporer: Kajian Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan Keterampilan Sainstik Ikhsan, Fahrudi Ahwan; Utaya, Sugeng; Bachri, Syamsul; Sugiarto, Agus; Sejati, Andri Estining
Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.85222

Abstract

Abstrak Paradigma filsafat geografi mengalami dinamika perkembangan ilmu pengetahuan secara teori, metodelogi, dan aplikasi. Perkembangan keilmuan geografi dipengaruhi isu global, metode penelitian, statistik, komputer, internet, big data, lingkungan, manusia, dan kebijakan. Tantangan kontemporer kajian filsafat geografi harus mampu menunjukkan perkembangan ilmu geografi secara dimensi sejarah dan waktu yang terjadi sampai dengan saat ini. Artikel ini bertujuan memberikan gambaran perkembangan filsafat ilmu geografi dengan kajian ontologi, epistemologi, aksiologi, dan keterampilan sainstifik secara kontenporer. Kajian ontologi mendefinisikan geografi aspek ruang konkrit dan abstrak berdasarkan makna material fenomena geosfer. Aspek epistemologi menekankan proses metode penelitian berbasis lapangan dan online sesuai perkembangan teknologi menggunakan pendekatan deduktif atau induktif fokus pada teori maupun pengetahuan. Aspek aksiologi memberikan kebermanfaatan ilmu geografi secara online dan kehidupan manusia. Kajian filsafat geografi kontemporer menekankan penguatan konten ruang lingkup geografi berdasarkan hasil penelitian dan diaplikasikan melalui pendidikan sehingga terjadi proses hilirisasi paradigma pengetahuan. Hubungan filsafat geografi kontemporer sesuai hasil pemikiran filosofis merujuk teori dan temuan penelitian yang meningkatkan muatan esensi ilmu geografi. Penafsiran filosofis menunjukkan hakikat bidang pemikiran tentang ruang alam dan manusia. Studi perkembangan filsafat geografi kontemporer untuk menemukan pembenaran rasional secara konteks generalisasi dan sistematika faktual dengan mencermati kesenjangan pengetahuan geografi melalui proses metodelogi ilmiah. Aspek konseptual dan terminologi filsafat geografi kontemporer ditentukan tren pendekatan metodelogi ilmiah yang digunakan untuk studi geografi. Ciri khusus analisis paradigma filsafat geografi kontemporer pada saat ini hasil kombinasi harmonis landasan ilmiah dan filosofis yang konkret secara obyektif menunjukkan hubungan sains dan filsafat. Proses eksplorasi filosofis dan geografis menjadi contoh konkret berbagai riset geografi modern secara inter disiplin atau multidiplin ilmu. Pendekatan terpadu kajian analisis ruang geografi menjadi entitas dialektika metodelogi dari model tradisional menuju pendekatan integrasi menjadi identitas geografi kontemporer.Abstract The paradigm of philosophy geography experiences the dynamics scientific development in theory, methodology and application. The scientific development geography is influenced by global issues, research methods, statistics, computers, internet, big data, environment, people, and policies. The contemporary challenge of studying philosophy geography is to be able to show development of geography in terms history and time that has occurred up to now. This article aims to provide an overview development of the philosophy geography with a contemporary study ontology, epistemology, axiology, and scientific skills. The study of ontology defines geography concrete and abstract aspects space based on the material meaning geosphere phenomena. The epistemological aspect emphasizes process field-based and online research methods according to technological developments using a deductive or inductive approach focusing on theory and knowledge. The axiological aspect provides the benefit of online geography and human life. Contemporary geographical philosophy studies emphasize the strengthening of geographic scope content based on research results and applied through education so that a knowledge paradigm downstreaming process occurs. The relationship between contemporary geographical philosophy and results of philosophical thought refer to theories and research findings that increase the essence of geographic science. Philosophical interpretation shows the nature of the field thinking about natural and human space. Study of the development contemporary geographical philosophy to find rational justification the context of factual generalizations and systematics by examining gaps in geographical knowledge through process scientific methodology. Conceptual aspects and terminology contemporary geographical philosophy determine trends in scientific methodological approaches used for study of geography. The special characteristic analysis of contemporary geographical philosophical paradigms time is the result of a harmonious combination concrete scientific and philosophical foundations that objectively shows relationship between science and philosophy. The process of philosophical and geographical exploration is a concrete example various modern geographical research in an interdisciplinary or multidisciplinary manner. An integrated approach study geographic become metodhological analysis dialectical from traditional models to contemporary geographic identity.
Analisis Rencana Pemekaran Kelurahan Mangunsari dan Dukuh Kota Salatiga sebagai Upaya Perwujudan Good Governance Azizah, Nur Rahmatul; Romadhoni, Ahmad Ilham; Nurhaliza, Arum Baktiani; Rahmawati, Dyah Rizky; Putri, Febrina Ananda; Putri, Puspita Melati; Wahyu Ramadhani, Putri Salsabilla; Nugroho Mukti, Raden Abhimanyu; Izati, Uswarini Noor; Amal, Yusron Ikhlassul; Saputra, Erlis; Hadiwijoyo, Suryo Sakti
Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.86252

Abstract

Abstract  The expansion plan of Mangunsari and Dukuh Sub-districts in Sidomukti District arises from the dynamics of the community. These sub-districts are crucial to expand due to their extensive territories and high population density, which hampers the government's efforts to distribute development programs equitably. This study aims to (1) understand community perceptions of the expansion plan; (2) determine policy stakeholders' views on the plan; (3) identify stakeholders’ roles in the expansion; and (4) analyze the technical feasibility of the expansion plan, including proposing alternative government center locations. Qualitative descriptive analysis and triangulation processed primary data, while quantitative analysis determined expansion feasibility based on community satisfaction surveys, technical viability, and centrality index. Findings indicate support from both the community and the government for the sub-district expansion plan. The territorial expansion involves stakeholders from the government, community, and academia. Feasibility analysis shows both sub-districts fall short in area but exceed minimum population and infrastructure requirements. Researchers propose Dusun Jangkungan and Ngawen in Mangunsari, also Dusun Kembangarum and Krajan in Dukuh as central service locations post-expansion.  Abstrak Rencana pemekaran Kelurahan Mangunsari dan Dukuh di Kecamatan Sidomukti merupakan isu yang muncul akibat dinamika kondisi masyarakat. Kedua kelurahan tersebut penting dimekarkan karena cakupan wilayah yang luas dengan kepadatan penduduk yang tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan pemerintah terkendala dalam melakukan pemerataan program pembangunan. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk (1) mengetahui persepsi masyarakat tentang rencana pemekaran;  (2) menganalisis persepsi dan peran stakeholders dalam rencana pemekaran; dan (3) menganalisis kelayakan teknis rencana pemekaran dan lokasi alternatif pusat pemerintahan. Metode analisis deskriptif kualitatif dan triangulasi digunakan untuk mengolah data primer, analisis deskriptif kuantitatif untuk menentukan kelayakan pemekaran, dan indeks sentralitas digunakan untuk menentukan lokasi alternatif pusat pemerintahan. Hasil kajian ini diperoleh bahwa rencana pemekaran kelurahan didukung oleh masyarakat maupun pemerintah. Proses pemekaran wilayah ini melibatkan peran tiap stakeholders yang berasal dari pemerintah, masyarakat, dan akademisi. Analisis kelayakan indikator pemekaran menunjukkan bahwa kedua kelurahan belum memenuhi syarat luas wilayah tetapi telah melampaui jumlah minimal penduduk kelurahan serta ketersediaan sarana dan prasarana. Peneliti menyarankan Dusun Jangkungan dan Dusun Ngawen di Kelurahan Mangunsari serta Dusun Ngemplak dan Dusun Krajan di Kelurahan Dukuh sebagai lokasi pusat pemerintahan pada kelurahan baru. 
Kajian Kearifan Lokal Masyarakat Pesisir Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Menghadapi Potensi Multi-Bencana Saiddinullah, Adji; Saputra, Erlis
Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.86914

Abstract

Abstrak Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki kompleksitas potensi multi-bencana. Dalam menghadapi kondisi ini, maka identifikasi respons masyarakat dalam wujud kearifan lokal menjadi penting. Penelitian ini bertujuan untuk memahami potensi multi-bencana di wilayah pesisir DIY pada geographical settings yang berbeda, mengeskplorasi kearifan lokal masyarakat pesisir DIY dalam menghadapi potensi multi-bencana, serta menganalisis tingkat pengaplikasian kearifan lokal tersebut pada geographical settings yang berbeda. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi data yaitu wawancara (wawancara semi terstruktur dan mendalam), observasi lapangan, dan studi literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan geographical settings wilayah kepesisiran DIY telah memengaruhi keberagaman potensi multi-bencana di wilayah ini. Masyarakat pesisir DIY memiliki kearifan lokal yang sangat beragam dalam menghadapi potensi multi-bencana. Kearifan lokal ini tumbuh secara intrinsik, ekstrinsik, dan intrinsik-ekstrinsik. Pengaplikasian kearifan lokal secara intrinsik dalam menghadapi potensi multi-bencana di wilayah pesisir DIY dominan memiliki tingkat klasifikasi sedang, sedangkan pengaplikasian kearifan lokal secara ekstrinsik dominan memiliki tingkat klasifikasi tinggi. Abstract The Special Region of Yogyakarta (DIY) has the complexity of multi-disaster potentials. In facing this condition, the identification of community responses in the form of local wisdom becomes crucial. This research aims to understand the multi-disaster potentials in the coastal areas of DIY in different geographical settings, explore the local wisdom of coastal communities in DIY in dealing with multi-disaster potentials, and analyze the level of application of this local wisdom in different geographical settings. Data collection in this research uses data triangulation, namely interviews (semi-structured and in-depth interviews), field observations, and literature studies. The results of this research indicate that the differences in geographical settings in the coastal areas of DIY have influenced the diversity of multi-disaster potentials in this region. Coastal communities in DIY have a highly diverse local wisdom in dealing with multi-disaster potentials. This local wisdom grows intrinsically, extrinsically, and intrinsically-extrinsically. The intrinsic application of local wisdom in dealing with multi-disaster potentials in the coastal areas of DIY predominantly has a moderate classification level, while the extrinsic application of local wisdom predominantly has a high classification level.

Filter by Year

1988 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 1 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 2 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia Vol 37, No 1 (2023): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 2 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 1 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 2 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 1 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 2 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 1 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 2 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 1 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 2 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 1 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 2 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 1 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000) Vol 10, No 17 (1996): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992) Vol 2, No 3 (1989) Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988) Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 1 (1988) Vol 1, No 1 (1988): Majalah Geografi Indonesia More Issue