cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Geografi Indonesia
ISSN : 02151790     EISSN : 2540945X     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 421 Documents
Pemodelan spasial alternatif tempat evakuasi sementara dan jalur evakuasi bencana tsunami di pesisir Desa Watukarung, Kabupaten Pacitan Wibawa, Faiza Fikri; Prabawa, Bayu Argadyanto
Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.111048

Abstract

Abstrak. Pesisir Desa Watukarung menjadi salah satu kawasan rawan bencana tsunami yang memiliki nilai strategis sebagai destinasi wisata geopark sekaligus direncanakan sebagai Pangkalan Pendaratan Ikan di Kabupaten Pacitan, sehingga upaya mitigasi bencana tsunami perlu dilakukan sebagai bagian perencanaan penataan ruang yang memperhatikan aspek kebencanaan dan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan rute evakuasi optimal dan menentukan alternatif tempat evakuasi sementara (TES) bencana tsunami dengan mempertimbangkan area aman terdekat, kapasitas, serta distribusi populasi di pesisir Desa Watukarung. Pemodelan spasial dilakukan dengan skenario run-up 29,2 meter untuk mengidentifikasi area bahaya dan area aman. Metode Least Cost Distance (LCD) digunakan untuk membuat jalur evakuasi optimal dan menghitung kebutuhan waktu atau waktu tempuh evakuasi, sementara distribusi populasi dihitung berdasarkan sensus kapasitas bangunan pelayanan umum dan observasi lapangan. Hasil pemodelan bahaya tsunami menunjukkan jarak genangan hingga 900 meter dari garis pantai seluas 170,66 Ha. Pemodelan area aman tsunami menunjukkan 2 lokasi TES dari Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Pacitan belum memenuhi kriteria area aman yang digunakan. Berdasarkan distribusi populasi dan jarak aman terhadap area bahaya tsunami, diusulkan sebanyak 8 lokasi TES alternatif menggantikan 2 lokasi dalam RTRW. Hasil pemodelan jalur evakuasi membentuk 16 jalur evakuasi, 5 di antaranya memenuhi waktu tempuh ≤11 menit, dan sebagian melintasi lahan pertanian untuk efisiensi waktu. Disarankan pengadaan early warning system, pembangunan akses evakuasi, diseminasi rencana mitigasi, dan simulasi rutin untuk meningkatkan keberhasilan evakuasi bencana tsunami di pesisir Desa Watukarung.Abstract The coastal area of Watukarung Village is a region prone to tsunami disasters with strategic value as a geopark tourist destination and a planned Fish Landing Base in Pacitan Regency. Therefore, tsunami mitigation efforts are essential as part of spatial planning that considers disaster risk and sustainability. This study aimed to plan optimal evacuation routes and determine alternative temporary evacuation shelters (TES) for a tsunami disaster by considering the nearest safe areas, capacity, and population distribution along the coast of Watukarung Village. Spatial modeling was conducted using a 29.2-meter run-up scenario to identify hazard and safe zones. The Least Cost Distance (LCD) method was applied to generate optimal evacuation routes and calculate the required evacuation travel time, while population distribution was calculated based on a census of public service building capacity and field observations. The tsunami hazard modeling results showed an inundation distance of up to 900 meters from the coastline, covering an area of 170.66 hectares. The safe area modeling revealed that two TES locations from the Pacitan Regency Spatial Plan (RTRW) did not meet the safe area criteria used in this study. Based on population distribution and a safe distance from the tsunami hazard zone, eight alternative TES locations were proposed to replace the two locations in the RTRW. The evacuation route modeling resulted in 16 evacuation paths, five of which achieved a travel time of ≤11 minutes. Some of these paths traverse agricultural land for time efficiency. The study suggests that providing an early warning system, constructing evacuation access, disseminating the mitigation plan, and conducting regular simulations are necessary to enhance the success of tsunami disaster evacuations on the coast of Watukarung Village. Submitted: 2025-09-08 Revisions:  2025-09-18 Accepted: 2025-09-25 Published: 2025-09-25
Analisis Faktor Meteorologi terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan di Pulau Kalimantan Periode 2019-2023 Oktaviani, Malinda Budi; Nurjani, Emilya; Suarma, Utia; Sekaranom, Andung Bayu
Majalah Geografi Indonesia Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.109314

Abstract

Abstrak. Pulau Kalimantan merupakan wilayah dengan tingkat kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tinggi, terutama pada kawasan bergambut yang luas. Penelitian ini bertujuan: (1) Mengidentifikasi distribusi spasial dan frekuensi temporal hotspot Pulau Kalimantan khususnya pada lahan gambut dan non-gambut, (2) Menganalisis variasi spasial dan temporal bulanan dari curah hujan, suhu udara, serta kelembapan tanah di lahan gambut dan non-gambut, (3) Menganalisis variabel yang paling berpengaruh terhadap jumlah hotspot di lahan gambut dan non-gambut. Data hotspot diperoleh dari citra MODIS beresolusi 1 km, sedangkan data curah hujan dan temperatur udara 2 m berasal dari ERA5 (resolusi 0,25°), dan data kelembapan tanah diambil dari SMAP L4 Global 9-km Surface and Root Zone Soil Moisture. Analisis regresi binomial negatif digunakan untuk menilai pengaruh faktor meteorologis terhadap intensitas hotspot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hotspot lebih terkonsentrasi pada lahan gambut (6.184 titik) dibandingkan non-gambut (4.848 titik). Kelembapan tanah terbukti sebagai faktor paling signifikan yang memengaruhi peningkatan jumlah hotspot, diikuti oleh curah hujan. Sebagian besar hotspot terjadi pada wilayah dengan curah hujan <100 mm/bulan, suhu >25°C, dan kelembapan tanah 10–30%. Secara keseluruhan, kenaikan suhu tidak selalu diikuti oleh lonjakan jumlah hotspot yang signifikan. Akan tetapi, apabila dilihat secara spasial suhu tetap memiliki peran karena hotspot lebih banyak terdistribusi pada wilayah-wilayah dengan suhu yang relatif tinggi. Temuan ini memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan sistem peringatan dini karhutla berbasis parameter meteorologis serta mendukung pengelolaan adaptif lahan gambut untuk mengurangi risiko kebakaran di Pulau Kalimantan.Abstract Kalimantan Island is a region with a high frequency of forest and land fires (known as karhutla), particularly in its extensive peatland areas. This study aims to: (1) identify the spatial distribution and temporal frequency of hotspots across Kalimantan Island, particularly on peatland and non-peatland areas; (2) analyze the monthly spatial and temporal variations of rainfall, air temperature, and soil moisture on peatland and non-peatland; and (3) determine the meteorological variables that most influence the number of hotspots in peatland and non-peatland areas. Hotspot data were obtained from MODIS imagery with a 1 km resolution, while rainfall and 2 m air temperature data were derived from ERA5 (0.25° resolution), and soil moisture data were obtained from SMAP L4 Global 9-km Surface and Root Zone Soil Moisture. A negative binomial regression analysis was used to assess the influence of meteorological factors on hotspot intensity. The results show that hotspots were more concentrated on peatland (6,184 points) than on non-peatland (4,848 points). Soil moisture was found to be the most significant factor influencing the increase in hotspot numbers, followed by rainfall. Most hotspots occurred in areas with rainfall <100 mm/month, temperature >25°C, and soil moisture ranging from 10–30%. Overall, temperature increases were not always followed by significant rises in hotspot numbers; however, spatially, temperature still played a role, as hotspots were more frequently distributed in areas with relatively high temperatures. These findings provide a scientific basis for developing an early warning system for forest and land fires based on meteorological parameters and support adaptive peatland management to reduce fire risks in Kalimantan Island.Submitted: 2025-07-16 Revisions: 2025-09-21 Accepted: 2024-09-11 Published: 2025-11-07
Pengaruh kerapatan vegetasi dan bangunan terhadap Fenomena Urban Heat Island (UHI) di Kota Banjarmasin (2019 – 2024) Tambun, Kevin Anugrah Immanuel; Arisanty, Deasy; Saputra, Aswin Nur; Angriani, Parida; Muhaimin, Muhammad
Majalah Geografi Indonesia Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.110076

Abstract

Abstrak. Fenomena Urban Heat Island (UHI) menjadi isu penting dalam pengelolaan kota, seperti di Kota Banjarmasin. Kajian ini terjadi akibat berkurangnya tutupan vegetasi dan meningkatnya kerapatan bangunan, yang berdampak terhadap peningkatan suhu permukaan tanah. Tujuan penelitian ini menganalisis bagaimana pengaruh kerapatan vegetasi dan kerapatan bangunan terhadap fenomena UHI di Kota Banjarmasin. Analisis yang digunakan adalah analisis keruangan dan analisis statistik, pada analisis keruangan mengolah tingkat kerapatan vegetasi dan bangunan, dan distribusi suhu permukaan di Kota Banjarmasin, analisis statistik menggunakan regresi linear berganda. Data diperoleh dari citra satelit Landsat 8 OLI-TIRS pada musim kemarau, data diambil pada tanggal berbeda tiap tahun: 29 (2019), 17 September (2020), 31 Mei (2021), 21 Juli (2022), 2 September (2023), dan 20 September (2024). Kemudian diolah menjadi tiga indeks: LST sebagai variabel dependen, serta SAVI dan NDBI sebagai variabel independent. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan bangunan memiliki pengaruh signifikan terhadap kenaikan suhu permukaan, sedangkan kerapatan vegetasi berpengaruh negatif dalam menurunkan suhu. Nilai R Square dalam lima tahun sebesar 0,555 menunjukkan seberapa besar suhu permukaan dipengaruhi SAVI dan NDBI. Persamaan regresi dalam lima tahun adalah Y = 25,938 – 3,973X₁ + 11,874X₂, menunjukkan bahwa setiap peningkatan kerapatan bangunan satuan indeks dapat meningkatkan suhu permukaan sebesar 11,87°C. Peningkatan kerapatan bangunan terbukti menaikkan suhu permukaan sebesar 11,87°C, sedangkan peningkatan vegetasi menurunkannya sebesar 3,97°C. Nilai koefisien perlu disesuaikan dengan skala indeks agar hasil lebih valid dan representatif. Temuan ini menegaskan peran vegetasi sebagai elemen utama mitigasi efek pulau panas perkotaan. Penelitian lanjutan disarankan memasukkan variabel spasial seperti kelembapan tanah, topografi, dan orientasi bangunan. Hasil ini menjadi dasar ilmiah bagi perencanaan kota berkelanjutan yang adaptif terhadap perubahan iklim.Abstract.. The Urban Heat Island phenomenon has become an important issue in urban management, such as in Banjarmasin City. This phenomenon occurs due to the reduction of vegetation cover and the increase in building density, which affects the rise of land surface temperature. The purpose of this study is to analyze how vegetation density and building density influence the UHI phenomenon in Banjarmasin City. The analyses used are spatial analysis and statistical analysis. The spatial analysis processes the levels of vegetation and building density as well as the distribution of surface temperature in Banjarmasin City, while the statistical analysis employs multiple linear regression. Data were obtained from Landsat 8 OLI-TIRS satellite imagery during the dry season, collected on different dates each year: 29 (2019), September 17 (2020), May 31 (2021), July 21 (2022), September 2 (2023), and September 20 (2024). The data were then processed into three indices: LST as the dependent variable, and SAVI and NDBI as the independent variables. The results show that building density has a significant positive effect on the increase of surface temperature, while vegetation density has a negative effect in reducing temperature. The R Square value over five years, amounting to 0.555, indicates the extent to which surface temperature is influenced by SAVI and NDBI. The five-year regression equation is Y = 25.938 – 3.973X₁ + 11.874X₂, showing that every unit increase in building density index can raise the surface temperature by 11.87°C. Increased building density has been proven to elevate surface temperature by 11.87°C, while increased vegetation density reduces it by 3.97°C. The coefficient values need to be adjusted according to the index scale to ensure more valid and representative results. These findings reaffirm the role of vegetation as a key element in mitigating the urban heat island effect. Further research is recommended to include spatial variables such as soil moisture, topography, and building orientation. These results serve as a scientific basis for sustainable urban planning that is adaptive to climate change.Submitted: 2025-08-05 Revisions:  2025-10-24  Accepted: 2026-02-01 Published: 2026-02-05
Karakteristik Hidrogeokimia dan Genesa Air Tanah di Kabupaten Nganjuk dan Sekitarnya, Provinsi Jawa Timur, Indonesia Rachmansyah, Arief; Aprilia, Faridha; Kusnaeni, Lili Retno
Majalah Geografi Indonesia Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.110424

Abstract

Abstrak. Salah satu dampak penting dari perubahan iklim adalah pengelolaan air permukaan menjadi semakin sulit akibat pola hujan yang berubah, sehingga banyak pihak memanfaatkan air tanah sebagai sumber air baku. Selain kuantitas, pemanfaatan air tanah juga tergantung pada kualitasnya yang ditentukan oleh sejarah pembentukannya, jenis batuan yang dilewati, serta pencemaran. Di Kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur yang menjadi salah satu lumbung padi nasional banyak petani memanfaatkan air tanah untuk menutup kekurangan air irigasi, namun di beberapa tempat mengalami penggaraman. Penyelidikan dilakukan pada 61 air sumur dan mata air untuk mengetahui sifat fisik dan kimia, selanjutnya dianalisis sebaran dan karakteristiknya, serta membuat model konseptualnya. Makalah ini menyajikan hasil studi karakterisasi geokimia, dan asal usul proses penggaraman air tanah. Berdasarkan karakteristik geokimianya air tanah di daerah penelitian dapat diklasifikasikan menjadi 5 fasies, yaitu fasies kalsium-magnesium-klorida (Ca2+-Mg2+-HCO32-), percampuran kalsium-natrium bikarbonat (Ca2+-Na+- HCO32-), percampuran kalsium-magnesium-klorida (Ca2+-Mg2+-Cl-), kalsium-magnesium-klorida-sulfat (Ca2+-Mg2+-Cl--SO42-), dan alkali-klorida sulfat (Na+-K+-Cl--SO42-). Hasil kajian menunjukkan, bahwa air tanah payau hanya dijumpai di bagian utara daerah penelitian yang masuk dalam Zona Perbukitan Kendeng, khususnya di Formasi Kalibeng yang merupakan sedimen asal laut. Dengan demikian penggaraman air tanah di utara daerah penelitain bukan karena intrusi air laut.Abstract. One of the significant impacts of climate change is the surface water management is becoming increasingly difficult due to changing rainfall patterns, making groundwater the primary choice for raw water. In addition to quantity, groundwater utilization also depends on its quality, which is determined by its genesis, the type of rocks it passes through, and pollution. In Nganjuk Regency, East Java Province, which is one of the nation's rice granaries, many farmers use groundwater for irrigation to cover raw water shortages. In this regency and its surrounding areas, several water sources have been salinized. An investigation was conducted by taking 61 well and spring water samples to determine their cation and anion content, then analyzing their distribution and characteristics. This paper presents the results of a groundwater characterization study and the origins of the groundwater salinization process. Based on groundwater geochemical characteristics, five groundwater facies have been identified within the study area: calcium–magnesium–bicarbonate (Ca²⁺–Mg²⁺–HCO₃⁻), Mixed calcium–sodium–bicarbonate (Ca²⁺–Na⁺–HCO₃⁻), Mixed calcium–magnesium–chloride (Ca²⁺–Mg²⁺–Cl⁻), Calcium–magnesium–chloride–sulfate (Ca²⁺–Mg²⁺–Cl⁻–SO₄²⁻), and Alkali–chloride–sulfate (Na⁺–K⁺–Cl⁻–SO₄²⁻). These facies reflect the diversity of hydrogeochemical processes and lithological influences present across the study area. The results of the study also indicate that brackish groundwater is found exclusively in the northern part of the study area, specifically within the Kendeng Hills Zone, and is primarily associated with the Kalibeng Formation which consists of marine-origin sedimentary rocks.Submitted: 2025-08-14 Revisions:  2025-10-24 Accepted: 2026-02-01 Published: 2026-02-05
Analisis Indeks Desa Membangun Berbasis GIS di Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa Siradjuddin, Irsyadi; Anshar, Muhammad; Idham AP, Andi; Fitriani, Fitriani
Majalah Geografi Indonesia Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.111335

Abstract

Abstrak. Pembangunan desa merupakan salah satu kunci utama dalam mendorong pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah perdesaan. Namun, perbedaan tingkat perkembangan antar desa masih menjadi tantangan bagi pemerintah daerah, termasuk di Kecamatan Tombolo Pao, Kabupaten Gowa. Kondisi tersebut mendorong perlunya suatu kajian yang mampu memetakan status pembangunan desa secara lebih terukur dan terarah, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengambilan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi status perkembangan desa berdasarkan Indeks Desa Membangun (IDM) serta menyajikannya dalam bentuk pemetaan spasial. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif dengan pemanfaatan indikator IDM yang dikeluarkan oleh Kementerian Desa. Data dianalisis dan kemudian divisualisasikan menggunakan aplikasi Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk menghasilkan peta status pembangunan desa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Kecamatan Tombolo Pao terdapat dua desa yang termasuk kategori maju, yaitu Desa Kanrepia dan Desa Pao, sedangkan enam desa lainnya masih berada pada kategori berkembang. Tidak terdapat desa yang mencapai kategori mandiri maupun yang tertinggal, sehingga kondisi ini mencerminkan adanya peluang percepatan pembangunan jika intervensi dilakukan secara tepat. Temuan ini menegaskan bahwa pemetaan IDM berbasis GIS tidak hanya memberikan gambaran spasial tentang status pembangunan desa, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen strategis dalam perencanaan pembangunan wilayah. Kesimpulannya, pemanfaatan IDM melalui pemetaan spasial mampu membantu pemerintah daerah dalam menentukan prioritas pembangunan, mengarahkan alokasi sumber daya secara lebih efektif, serta mendukung tercapainya tujuan pembangunan desa berkelanjutan.Abstract. Village development is one of the key drivers in promoting equitable growth and improving the welfare of rural communities. However, disparities in development levels among villages remain a challenge for local governments, including those in Tombolo Pao District, Gowa Regency. This condition highlights the need for a study capable of mapping village development status in a more measurable and systematic way, providing a solid basis for targeted policy-making. The objective of this research is to identify the development status of villages based on the Village Development Index (Indeks Desa Membangun/IDM) and to present the results through spatial mapping. The study applies a descriptive quantitative and qualitative approach using IDM indicators issued by the Ministry of Villages. Data were analyzed and then visualized using Geographic Information System (GIS) applications to produce maps of village development status. The findings reveal that in Tombolo Pao District, two villages Kanrepia and Pao fall into the advanced category, while six other villages remain in the developing category. No villages were classified as independent or underdeveloped, indicating that there is potential for accelerated development if proper interventions are implemented. These results emphasize that IDM-based GIS mapping not only provides a spatial representation of village development status but also serves as a strategic instrument in regional development planning. In conclusion, the utilization of IDM through spatial mapping can assist local governments in setting development priorities, directing resource allocation more effectively, and supporting the achievement of sustainable village development goals.Submitted: 2025-09-19 Revisions:   2025-12-03  Accepted:  2026-02-01 Published: 2026-02-06
Analisis Kerawanan Erosi Dengan Metode Clustering dan Pembobotan Berbasis Google Earth Engine di Kecamatan Toba, Kalimantan Barat Septi, Firli Nisa; Sampurno, Joko; Faryuni, Irfana Diah
Majalah Geografi Indonesia Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.111478

Abstract

Abstact. Erosi tanah merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang signifikan dan perlu mendapat perhatian serius, khususnya di daerah dengan intensitas curah hujan tinggi serta perubahan tata guna lahan akibat aktivitas pertambangan, perkebunan, maupun aktivitas manusia lainnya, seperti yang terjadi di Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kondisi ini tidak hanya dapat mengancam kelestarian dan fungsi lahan, tetapi juga berpotensi menurunkan kesuburan tanah, mengurangi produktivitas pertanian, serta mengakibatkan degradasi lingkungan yang berdampak langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat serta ekosistem sekitarnya. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kerawanan erosi di Kecamatan Toba dengan memanfaatkan metode clustering dan pembobotan berbasis platform Google Earth Engine (GEE). Analisis dilakukan dengan lima parameter utama, yaitu kemiringan lereng, tekstur tanah, curah hujan, Indeks vegetasi (NDVI), dan tutupan lahan pada periode 2019–2024. Parameter-parameter ini diklasifikasi ke dalam lima kelas, kemudian dikombinasikan dengan pembobotan untuk menghasilkan peta tingkat kerawanan erosi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar wilayah Kecamatan Toba berada pada tingkat kerawanan sedang hingga tinggi, dengan luasan masing-masing sebesar 55.898 ha (49,6%) dan 11.950 ha (10,6%). Area dengan kerawanan rendah tercatat seluas 42.331 ha (37,5%) dan area sangat rawan seluas 2.583 ha (2,3%), sedangkan kelas tidak rawan tidak ditemukan. Model peta kerawanan erosi divalidasi menggunakan data titik kejadian longsor sebagai proxy tingkat kerawanan erosi dan menghasilkan tingkat akurasi 98,61%. Dengan demikian, penelitian ini dapat memberikan informasi penting mengenai distribusi spasial tingkat kerawanan erosi dan menjadi acuan strategis bagi pemerintah daerah, peneliti, maupun pihak terkait lainnya dalam perencanaan pengelolaan lahan, penyusunan strategi konservasi tanah, serta upaya mitigasi risiko erosi secara tepat.Abstract.Soil erosion poses a major threat to environmental sustainability in humid tropical regions that are undergoing rapid land-use changes. The Toba District, Sanggau Regency, West Kalimantan, is particularly vulnerable because of the high rainfall intensity combined with extensive mining activities, plantation expansion, and other anthropogenic disturbances. These pressures accelerate land degradation, reduce soil fertility and agricultural productivity, and threaten the ecosystem services and local livelihoods. This study aimed to spatially assess and map soil erosion vulnerability in the Toba District, supporting sustainable land management and spatial planning efforts. The analysis was conducted using the cloud-based Google Earth Engine (GEE) platform, applying an integrated clustering and weighted overlay approach. Five key erosion-controlling parameters were incorporated: slope gradient, soil texture, rainfall intensity, vegetation condition represented by the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), and land cover dynamics from 2019 to 2024. Each parameter was classified and weighted according to its relative influence on erosion processes to produce a comprehensive erosion vulnerability map. The results indicate a widespread vulnerability to erosion across the study area. Medium-vulnerability zones dominated, covering 55,898 ha (49.6%), followed by low-vulnerability regions, which accounted for 42,331 ha (37.5%). High- and very-high-vulnerability classes accounted for 11,950 ha (10.6%) and 2,583 ha (2.3%), respectively, with no non-vulnerable areas identified. Validation against historical landslide data as a proxy for erosion vulnerability yielded an overall accuracy of 98.61%. The resulting map provides a robust decision-support tool for prioritizing soil conservation measures and strategies to mitigate erosion risk.Submitted: 2025-09-25 Revisions:  2025-11-19 Accepted: 2026-02-01 Published: 2024-02-06
Mengungkap Distribusi dan Pola Spasial Diabetes Melitus di Kabupaten Sleman Alfana, Muhammad Arif Fahrudin; Pitoyo, Agus Joko; Listyaningsih, Umi
Majalah Geografi Indonesia Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.114166

Abstract

Abstrak. Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit tidak menular yang prevalensinya terus meningkat, termasuk di Kabupaten Sleman, sehingga diperlukan bukti ilmiah mengenai bagaimana penyakit ini terdistribusi secara spasial dalam kaitannya dengan struktur ruang dan dinamika kependudukan wilayah. Pemahaman terhadap distribusi dan pola spasial diabetes melitus menjadi penting karena penyakit kronis sering kali tidak tersebar secara acak, melainkan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, demografi, serta karakteristik sosial yang melekat pada ruang. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi distribusi dan pola spasial kasus diabetes melitus di Kabupaten Sleman pada tahun 2019 dan 2021 dengan menerapkan analisis kuantitatif spasial. Data kasus diperoleh dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dan dianalisis menggunakan Global Moran’s I untuk mengetahui autokorelasi spasial secara keseluruhan serta Local Indicators of Spatial Association (LISA) untuk mengidentifikasi klaster lokal pada tingkat kapanewon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Global Moran’s I pada kedua tahun pengamatan berada pada kisaran yang relatif rendah, menandakan lemahnya autokorelasi spasial secara global. Meskipun demikian, analisis LISA berhasil mengungkap adanya klaster signifikan bertipe High–High, terutama di wilayah urban seperti Kapanewon Mlati dan Depok, yang menunjukkan konsentrasi kasus tinggi yang dikelilingi oleh wilayah dengan kasus tinggi pula. Temuan ini menegaskan bahwa meskipun pola global tampak lemah, pola spasial lokal tetap terbentuk dan memberikan informasi penting bagi penentuan prioritas intervensi. Analisis spasial lokal terbukti lebih sensitif dalam menangkap dinamika wilayah dan variasi risiko kesehatan berbasis ruang, sehingga relevan mendukung perencanaan kesehatan daerah yang lebih terarah. Ke depan, penelitian dapat dikembangkan dengan memasukkan variabel sosial-ekonomi-lingkungan untuk memperdalam pemahaman terhadap mekanisme pembentukan klaster diabetes melitus.Abstract. Diabetes mellitus is a major non-communicable disease with a continuously increasing prevalence, including in Sleman Regency, thus requiring scientific evidence on its spatial distribution in relation to regional spatial structure and population dynamics. Understanding the spatial distribution and patterns of diabetes mellitus is essential, as chronic diseases are rarely randomly distributed but are influenced by environmental, demographic, and social characteristics embedded in space. This study aims to identify the spatial distribution and spatial patterns of diabetes mellitus cases in Sleman Regency in 2019 and 2021 using quantitative spatial analysis. Case data were obtained from the Sleman District Health Office and analyzed using Global Moran’s I to assess overall spatial autocorrelation and Local Indicators of Spatial Association (LISA) to identify local clusters at the kapanewon level. The results indicate that Global Moran’s I values in both observation years were relatively low, suggesting weak global spatial autocorrelation. Nevertheless, LISA analysis revealed significant High–High clusters, particularly in urban areas such as Mlati and Depok, indicating concentrations of high case numbers surrounded by neighboring areas with similarly high values. These findings confirm that although global spatial patterns appear weak, local spatial patterns remain evident and provide important insights for prioritizing health interventions. Local spatial analysis proves more sensitive in capturing regional dynamics and space-based variations in health risk, thereby supporting more targeted local health planning. Future research may incorporate socio-economic and environmental variables to further elucidate the mechanisms underlying diabetes mellitus clustering.Submitted: 2025-12-11 Revisions:  2026-01-21 Accepted: 2026-02-01 Published: 2024-02-06
Sebaran Kekeringan Meteorologis dan Implikasinya di Kabupaten Jember Apsari, Bitania Sekar; Fitriani, Vivi; Yuristiawan, Septian Tegar
Majalah Geografi Indonesia Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.108615

Abstract

Abstrak Kekeringan meteorologis merupakan indikator awal yang krusial dalam mendeteksi tekanan iklim yang berpotensi memicu gangguan pada sektor pertanian dan sumber daya air. Kabupaten Jember sebagai wilayah dengan dominasi lahan pertanian tadah hujan memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap fluktuasi curah hujan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola temporal dan sebaran spasial kekeringan meteorologis di Kabupaten Jember selama periode 2004–2023 menggunakan Standardized Precipitation Index (SPI) multiskala (1, 3, 6, 9, dan 12 bulan). Data curah hujan dari 77 stasiun diuji homogenitasnya menggunakan Buishand Range Test, dengan 71 stasiun dinyatakan layak analisis. Pemetaan dilakukan menggunakan metode interpolasi Inverse Distance Weighted (IDW) dalam Sistem Informasi Geografis. Hasil menunjukkan bahwa kekeringan terjadi berulang hampir setiap tahun dengan cakupan spasial yang luas dan intensitas berbeda pada tiap skala waktu. Luasan kekeringan tertinggi tercatat pada SPI 6 bulan sebesar 329.100 ha (Mei), menunjukkan tekanan akumulatif terhadap sistem irigasi dan cadangan air. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan SPI multiskala efektif sebagai dasar sistem peringatan dini dan perencanaan adaptasi berbasis wilayah, khususnya untuk pengelolaan pertanian dan sumber daya air di tingkat kabupaten. Abstract.Meteorological drought serves as a critical early indicator of climate stress that can disrupt agricultural systems and water resources. Jember Regency, characterized by extensive rainfed agricultural land, is highly vulnerable to rainfall variability. This study aims to analyze the temporal patterns and spatial distribution of meteorological drought in Jember Regency during the 2004–2023 period using the multi-timescale Standardized Precipitation Index (SPI) at 1-, 3-, 6-, 9-, and 12-month intervals. Monthly rainfall data from 77 stations were tested for homogeneity using the Buishand Range Test, with 71 stations deemed suitable for further analysis. Spatial mapping was conducted using the Inverse Distance Weighted (IDW) interpolation method within a Geographic Information System framework. The results indicate that drought events occurred recurrently almost every year, with varying spatial extent and intensity across timescales. The most extensive drought area was identified under the 6-month SPI in May, covering 329,100 ha, reflecting cumulative stress on irrigation systems and water reserves. These findings demonstrate that the multi-timescale SPI approach provides a robust basis for early warning systems and spatially informed adaptation planning, particularly for agricultural and water resource management at the regency level. Submitted:2025-07-01 Revisions: 2025-11-07 Accepted:2026-03-02 Published:2026-03-10
Zona Perlindungan Sumber Banyuning untuk Menjaga Keberlanjutan Air Tanah Kota Batu. Solikh, Mochammad Wildanun; Hendrayana, Heru; Budianta, Wawan
Majalah Geografi Indonesia Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.114478

Abstract

Abstrak Air tanah merupakan sumber daya penting yang menopang kebutuhan domestik, pertanian, dan aktivitas ekonomi, namun tekanan terhadap keberlanjutannya semakin meningkat akibat perubahan penggunaan lahan dan pertumbuhan penduduk. Kota Batu sebagai wilayah hulu Daerah Aliran Sungai Brantas memiliki banyak mata air yang bergantung pada sistem akuifer vulkanik, salah satunya Sumber Banyuning yang dimanfaatkan secara intensif oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi geologi dan hidrogeologi serta menentukan zona perlindungan Mata Air Sumber Banyuning sebagai dasar pengelolaan sumber daya air tanah yang berkelanjutan. Penentuan zona perlindungan dilakukan melalui metode zonasi mata air yaitu hidrogeologi, manual, solusi analitik, serta kombinasi ketiga metode tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah penelitian tersusun atas tiga satuan litologi utama yaitu andesit Anjasmoro, andesit Arjuno Welirang, dan breksi gunung api Arjuno Welirang. Aliran air tanah bergerak dari barat laut menuju tenggara mengikuti kemiringan topografi sehingga daerah imbuhan berada di bagian barat laut. Berdasarkan analisis tersebut ditetapkan empat zona perlindungan, yaitu Zona I dengan radius 10 m dan luas 121 m2, Zona II dengan radius sekitar 336 m dan luas 0,136 km2, Zona III dengan radius sekitar 2,56 km dan luas 4,24 km2, serta Zona Imbuhan dengan luas minimal 5,63 km2 yang terletak hingga sekitar 4,32 km dari mata air. Analisis penggunaan lahan menunjukkan bahwa zona perlindungan didominasi oleh hutan, lahan perkebunan, dan sebagian permukiman yang berpotensi memengaruhi proses infiltrasi dan kualitas air tanah. Oleh karena itu, pengelolaan dilakukan melalui pengaturan aktivitas pada setiap zona, yaitu perlindungan ketat di Zona I, pembatasan penggunaan bahan kimia dan penanaman vegetasi pada Zona II, pengendalian aktivitas pencemar pada Zona III, serta pelestarian tutupan hutan pada zona imbuhan. Penetapan zonasi ini diharapkan dapat mendukung konservasi air tanah dan menjaga keberlanjutan Mata Air Sumber Banyuning di Kota Batu.Abstract Groundwater is an important resource that supports domestic, agricultural, and economic activities; however, increasing pressure on its sustainability has emerged due to land use change and population growth. Batu City, located in the upstream area of the Brantas River Basin, contains numerous springs associated with volcanic aquifer systems, one of which is Banyuning Spring that is intensively utilized by local communities. This study aims to examine the geological and hydrogeological conditions and to determine the protection zones of Banyuning Spring as a basis for sustainable groundwater resource management. The delineation of spring protection zones was conducted using a spring zoning approach including hydrogeological analysis, manual methods, analytical solutions, and a combination of these approaches. The results show that the study area consists of three main lithological units, namely Anjasmoro andesite, Arjuno–Welirang andesite, and Arjuno–Welirang volcanic breccia. Groundwater flow moves from northwest to southeast following the regional topographic gradient, indicating that the recharge area is located in the northwestern part of the study area. Based on this analysis, four protection zones were established, namely Zone I with a radius of 10 m and an area of 121 m2, Zone II with a radius of approximately 336 m and an area of 0.136 km2, Zone III extending about 2.56 km with an area of 4.24 km2, and a recharge zone with a minimum area of 5.63 km2 located up to approximately 4.32 km from the spring. Land use analysis indicates that the protection zones are dominated by forest, plantation areas, and limited settlements that may influence infiltration processes and groundwater quality. Therefore, management strategies are implemented by regulating activities in each zone, including strict protection in Zone I, restriction of chemical use and vegetation planting in Zone II, control of potential contaminating activities in Zone III, and preservation of forest cover within the recharge zone. The delineation of these zones is expected to support groundwater conservation and maintain the sustainability of Banyuning Spring in Batu City.Submitted:2025-12-17 Revisions:2026-03-02 Accepted:2026-03-09 Published:2026-03-10
Greenomic di Hulu DAS Ciliwung: Distribusi Spasial Landcover Menuju Nol Emisi Karbon Kautsar, Lady Hafidaty Rahma; Martono, Dwi Nowo; Supriatna, Supriatna; Suyud, Suyud
Majalah Geografi Indonesia Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.115487

Abstract

Abstrak Penurunan stok karbon ekologis pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengalami tekanan urbanisasi menjadi tantangan besar dalam mencapai Net Zero Emission (NZE), yaitu kondisi ketika emisi gas rumah kaca yang dilepaskan seimbang dengan yang diserap. Hulu DAS Ciliwung, wilayah strategis yang menopang stabilitas hidrologi dan ekologis kawasan hilir, mengalami dinamika perubahan tutupan lahan yang intensif. Penelitian ini dilandasi oleh pertanyaan utama: Bagaimana distribusi perubahan tutupan lahan di Hulu DAS Ciliwung dari perspektif lingkungan? Penelitian dilakukan di Hulu DAS Ciliwung menggunakan citra Landsat periode 2000–2023 untuk menganalisis perubahan tutupan lahan dan distribusi stok karbon melalui konversi Above Ground Biomass (AGB) menjadi Above Ground Carbon (AGC) menggunakan faktor konversi 0,47. Analisis spasial digunakan untuk menilai dinamika tutupan lahan, tingkat fragmentasi vegetasi, serta mengidentifikasi area potensial sebagai zona prioritas karbon (Greenomic Carbon Zones). Hasil pemetaan menunjukkan pergeseran signifikan dari tutupan vegetasi menuju kawasan terbangun, mencakup penurunan luas tutupan hutan dan vegetasi campuran serta ekspansi permukiman. Fragmentasi vegetasi paling intens ditemukan pada koridor riparian dan zona ekspansi perkotaan. Estimasi stok karbon mengonfirmasi melemahnya kapasitas penyimpanan karbon ekologis akibat konversi lahan, meskipun peningkatan hutan lahan kering sekunder pada periode 2020–2023 memberikan tambahan stok karbon yang substansial. Temuan spasial menjadi dasar bagi penetapan Greenomic Carbon Zones sebagai wilayah prioritas konservasi dan restorasi vegetasi berbasis stok karbon. Hasil penelitian mendukung dua tujuan utama: (1) menganalisis distribusi spasial dan dinamika tutupan lahan Hulu DAS Ciliwung periode 2000–2023; dan (2) menetapkan dasar spasial pembentukan Greenomic Carbon Zones sebagai strategi dekarbonisasi berbasis ruang di tingkat DAS. Kerangka ini memperkuat perencanaan tata ruang rendah karbon dan pengembangan ekonomi hijau di kawasan hulu DAS.Abstract. The decline of ecological carbon stocks in watersheds undergoing urbanization pressure poses a major challenge in achieving Net Zero Emission (NZE) targets. The Upper Ciliwung Watershed, an ecologically strategic region supporting the hydrological and environmental stability of downstream areas, has experienced intensive land-cover transformation. This study is guided by the central research question: How is the spatial distribution of land-cover change in the Upper Ciliwung Watershed from an environmental perspective? The study was conducted in the Upper Ciliwung Watershed using Landsat imagery from 2000–2023 to analyze land-cover changes and carbon stock distribution through AGB–AGC conversion. Spatial analysis was applied to assess land-cover dynamics, vegetation fragmentation levels, and identify potential priority carbon zones (Greenomic Carbon Zones). The mapping results indicate a significant shift from vegetated land covers to built-up areas, including a reduction in forest and mixed vegetation as well as an expansion of settlements. Vegetation fragmentation was most intense along riparian corridors and urban expansion zones. Carbon stock estimation confirms a decline in ecological carbon storage capacity due to land conversion, although the expansion of secondary dryland forest in 2020–2023 contributed substantially to additional carbon stock. The spatial findings form the basis for establishing Greenomic Carbon Zones as priority areas for carbon-based vegetation conservation and restoration. The results support two main objectives: (1) analyzing the spatial distribution and dynamics of land-cover change in the Upper Ciliwung Watershed during 2000–2023; and (2) establishing a spatial foundation for the development of Greenomic Carbon Zones as a watershed-level, space-based decarbonization strategy. This framework strengthens low-carbon spatial planning and green economy development in the upstream region of the watershed.Submitted:2026-01-12 Revisions: 2026-02-18 Accepted:2026-03-02 Published:2026-03-11

Filter by Year

1988 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 1 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 2 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia Vol 37, No 1 (2023): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 2 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 1 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 2 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 1 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 2 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 1 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 2 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 1 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 2 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 1 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 2 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 1 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000) Vol 14, No 1 (2000): Majalah Geografi Indonesia Vol 10, No 17 (1996): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992) Vol 6, No 9 (1992): Majalah Geografi Indonesia Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia Vol 2, No 3 (1989) Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988) Vol 1, No 1 (1988) Vol 1, No 1 (1988): Majalah Geografi Indonesia More Issue