cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
KEANEKARAGAMAN JENIS POHON YANG BERPOTENSI OBAT DI TAMAN NASIONAL MERU BETiRI, JAWA TIMUR Nur Muhammad Heriyanto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.1.55-64

Abstract

Penelitian   bertujuan  untuk   mendapatkan   informasi  tentang keragarnan  jenis  pohon yang berpotensi   sebagai obat.  Pengumpulan   data  dilakukan  dengan menggunakan   rnetode  pengukuran  jalur    berpetak  dengan   lebar jalur 20 m dan panjang jalur  1.000  m yang  diletakkan  memotong   lereng,  jumlah jalur pengamatan 3 jalur,  Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa  jerus  pohon  tumbuhan obat  yang dijurnpai   di  Taman   Nasional  Meru   Betiri berjumlah  28 jenis,   d1  antaranya   yaitu   besule (Chydenanrhu.r excelsus  Miers.)   dengan   kerapatan  15,5   pohon per  hektar.   jabon  (Anthocephallus  cadamba   M1q  )  dcngan   kerapatan    12.3    pohon   per hektar    dan  wining (Pterocybtum javanicum  R   Br)  dengan kerapatan I0   pohon per  hektar  indeks   keanekaragarnan   jenis  pohon tumbuhan   obat  tertinggi    dimiliki    oleh  besule  (Chydenanrhu.r  excelsus Miers.)  dengan   nilai   keanekaragaman sebesar  0, 10  kemudian  disusul olch jenrs  jabon  (A111hocephallus   cadamba   M1q.}  nrlat   keanekaragaman   jerus 0,08,  dan  wining (Ptcrocybiwn javanicum  R.  Br.}   mlai keanckaragaman  jenis 0.07.  Bagi an lumbuhan   yang digunakan   sebagai   obat  yaitu   daun,  buah,   b1ji.   batang,   kulit  batang,   kulit    buah,  kccambah    btJI,   akar,   dan gctah.   Sedangkan   tumbuhan  yang paling   ban yak digunakan   yauu  bagian kuht batang ( 10  jenis),  bagian  biji  (8 jenis). dan bagian   daun  (6 jcnis).  Jonis   penyakn yang dapat diobati   atau  dicegah   yaitu  pcnyakit    kcwanitaan, dcrnam,  batuk,  malaria,   dan sakit perut.
PENGARUH PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN HUTAN TERHADAP HASIL AIR DI BATURADEN A. Pudjiharta
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.2.119-126

Abstract

Gagasan Gubernur Jawa Tengah untuk membangun Kebun Raya di Wana Wisata Baturaden Jawa Tengah disetujui oleh Megawati Soekarnoputri sebagai Wakil Presiden RI pada waktu itu.  Untuk itu Menteri Kehutanan melepaskan lahan yang dicadangkan untuk kebun raya dengan Keputusan No. 117/MenhutII/2004 tanggal 19 April 2004, tentang kawasan hutan seluas 150 ha di wilayah hutan produksi di lereng Gunung Slamet sebelah selatan. Lahan tersebut ditentukan sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) untuk penelitian dan pengembangan serta pendidikan lingkungan dalam bentuk Kebun Raya Baturaden, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah. Keberadaan hutan sebagai salah satu bentuk penggunaan lahan dan sebagai penutup permukaan lahan pada lereng gunung dan atau hulu suatu sungai (DAS) mempunyai peranan penting dalam mempengaruhi karakteristik hidrologi DAS/sub DAS bersangkutan. Keberadaan hutan merupakan faktor pengendali aliran yang terjadi pada DAS/sub DAS bersangkutan. Keberadaan kawasan hutan di daerah hulu DAS yang umumnya merupakan gunung/pegunungan, berfungsi sebagai “recharge area” atau “head water catchment” sangat diperlukan.Informasi mengenai pengaruh perubahan penggunaan kawasan/hutan khususnya pada hasil air akan memberikan bekal pengetahuan bagi para pengambil kebijakan dalam pertimbangan-pertimbangan yang berkaitan dengan nilai jasa hutan secara ekologis, seperti dalam luaran air. Hasil sementara tinggi air di atas bendungan adalah 0-10 cm pada bulan Agustus dan September, pada bulan-bulan lainnya kisaran tinggi air adalah 19-268 cm. Curah hujan pada bulan Agustus-September 40-111 mm, curah hujan pada bulan-bulan llainnya sebesar 149-832 mm. Permeabilitas tanah sedang sampai sangat cepat (4,46-54,54 cm/jam). Informasi pengaruh perubahan penggunaan kawasan hutan oleh adanya perubahan pengelolaan atau perubahan peruntukan dari hutan ke kebun raya terhadap hasil air sangat kurang di Indonesia. Penelitian ini dimaksudkan untuk penyediaan informasi hasil air oleh adanya perubahan penggunaan lahan hutan.
STUDI POTENSI PAKAN RUSA (Cervus timorensis rusa de Blainville) DI PENANGKARAN RANCA UPAS , CIWIDEY BANDUNG JAWA BARAT R. Garsetiasih; N. M. Herryanto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.6.547-553

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pakan rusa melalui penentuan daya dukungan. Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai November 2004 di penangkaran rusa Ranca Upas, Ciwidey Bandung Jawa Barat. Pengumpulan data vegetasi pakan rusa menggunkan metode plot bujur sangkar berukuran 1 m x 1m. penentuan plot pertama dilakukan secara acak yang selanjutnya sistematik, jumlah plot yang digunakan sebanyak 20 plot, jarak antara plot 10 m. Dari penelitian ditemukan beberapa rumput sebagai pakan rusa. jenis rumput tersebut yang paling disukai secara berurutan adalah bayondah (isachane globosa 0.K.), lamp uyang (Panicum repens Linn.),lameta(Leersia hexandra Swartz.), dan kipahit (Anastropus compressus Sehleehtd.). Nilai gizi hujauan pakan rusa di tunjuan pekan rusa ditunjukan oleh kadar protein yang di kandung hujauan pekan. Kandungan protein pekan tertinggi secara berturut-turut yang jenis bayondah sebesar 15,53% lampuyangan 10,66%, dan lemata sebesar 9,64%. Daya dukung habitat pekan di penangkaran rusa Rasa Upas dengan luas 4,5ha sebanyak 21 individu untuk musim kemarau dan 40 individu pada saat musim hujan.
PENGARUH DOSIS PUPUK ORGANIK TERHADAP PERTUMBUHAN MAHONI (Swietenia macrophylla King) PADA LAHAN ALANG-ALANG DI SAMBOJA, KALIMANTAN TIMUR Ishak Yassir; R. Mulyana Omon
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.4.377-384

Abstract

Penelitian pengaruh pemberian pupuk organik terhadap pertumbuhan tanaman mahoni (Swietenia macrophylla King) telah dilakukan di Kawasan Rehabilitasi Hutan Samboja Lestari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi dosis pupuk organik optimal terhadap pertumbuhan mahoni pada lahan kritis yang ditumbuhi alang-alang. Empat dosis pupuk organik (1 kg, 2 kg, 3 kg, dan 4 kg) yang dicoba dalam percobaan ini. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap berblok yang diulang sebanyak lima kali. Setiap perlakuan ditanam sebanyak lima tanaman. Jumlah tanaman yang diamati sebanyak 125 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk organik tidak berbeda nyata terhadap persen  hidup  dan  pertumbuhan  tinggi.  Tetapi,  pemberian  dosis  lebih  dari  satu  kg  pupuk  organik menyebabkan banyak tanaman yang mati hingga sebesar 35 % dibandingkan dengan kontrol. Namun,  untuk pertumbuhan tinggi perlakuan dosis sebanyak dua kg telah memberikan pertumbuhan yang optimal.
KOMUNITAS HABITAT BEKANTAN (Nasalis larvatus Wurmb) PADA AREAL TERISOLASI DI KUALA SAMBOJA, KALIMANTAN TIMUR Tri Atmoko; Ani Mardiastuti; Entang Iskandar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2014.11.2.127-141

Abstract

Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb) adalah primata endemik Borneo dan termasuk dalam endengered species menurut IUCN.  Habitat bekantan sebanyak 40% telah berubah fungsi dan hanya sekitar empat persen yangada di kawasan konservasi. Tujuan penelitian adalah memperoleh informasi tentang komunitas habitat dankondisi isolasinya di Kuala Samboja, Kalimantan Timur. Penelitian dilakukan dengan analisis vegetasimetode garis berpetak dan penggambaran profil habitat. Habitat dibagi tiga, yaitu komunitas rambai,komunitas rambai-riparian, dan komunitas riparian.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat terisolasi dan terfragmentasi oleh pemukiman, jalan raya, kebun, areal penggembalaan ternak, kanal air, jembatan,bekas tambak, dan penambangan pasir. Tumbuhan penyusun habitat meliputi 79 jenis yang termasuk dalam71 marga dan 45 suku.  Komunitas rambai didominasi rambai laut. (Sonneratia caseolaris (L.) Engl.) pada semua tingkat vegetasi.  Komunitas rambai-riparian didominasi S. caseolaris pada tingkat pohon, sedangkanArdisia elliptica Thunb. dominan pada tingkat pancang dan semai. Komunitas riparian tingkat pohondidominasi Vitex pinnata L. sedangkan tingkat pancang dan semai didominasi Elaeocarpus stipularis Blume.Tumbuhan pakan utama bekantan adalah S. caseolaris dan V. pinnata, tapi sistem permudaan alaminyaberjalan tidak normal. Tajuk pohon pada komunitas riparian kontinyu sedangkan komunitas rambai danrambai-riparian diskontinyu.  Pembinaan habitat dapat dilakukan dengan rehabilitasi di tepi sungai dan lahantidur milik masyarakat.
PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYIMPANAN TABLET MIKORIZA TERHADAP PERTUMBUHAN STEK Shorea johorensis Foxw. DI RUMAH KACA R. Mulyana Omon
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.1.83-93

Abstract

Penelitian  pengaruh  suhu  dan  lama  penyimpanan  tablet  mikoriza     terhadap  pertumbuhan  stek  Shorea johorensis  Foxw.  telah dilaksanakan di laboratorium  dan rumah  kaca  loka Litbang  Satwa Prirnata, Samboja Kalimantan Timur.  Tujuan  dari  percobaan  101   adalah  untuk  mendapatkan  informasi  suhu dan lama penyimpanan   optimal  tablet   mikoriza  untuk  produksi   penyediaan  tanarnan  stek yang  berkualitas  di persemaian.  Perlakuan  dalarn percobaan  itu terdiri  dari  dua  tingkat   suhu  dan  tujuh  periode  lama penyimpanan.    Rancangan  percobaan  yang digunakan   adalah  faktonal  dalam  pola acak  lengkap  dengan ulangan  sebanyak  tiga  kali. Tiap  unit  perlakuan terdiri   dari    10   bibit.  Hasil    memperlihatkan  bahwa penyimpanan tablet  selama tiga bulan di kedua suhu  yang berbeda (4°C dan 20°C) telah  memberikan pengaruh  yang nyata lebih baik terhadap persen hidup  (86,67%), pertumbuhan   tinggi  (4,32 cm), jumlah  daun (4 helai), dan persentase  kolonisasi  akar  (81,84%) dibandingkan dengan  hama penyimpanan lainnya setelah 6 bulan  pengamatan. Sedangkan suhu dan interaksi  antara suhu  dan  lama penyimpanan  tidak  memberikan pengaruh yang  nyata terhadap persentase  hidup, pertumbuhan   tinggi,  jumlah   daun, dan persentase kolonisasi akar.  Dengan demikian untuk  rencana dan strategi penyediaan  stek Shorea johorensis Foxw. yang  berkualitas di  persemaian  direkomendasikan   tablet   mikoriza   dapat disimpan    optimal   selama 3 bulan  pada  suhu  4°C atau  20°C untuk  diinokulasikan pada stek Shorea johorensis Foxw.
STRUKTUR DAN KOMPOSISI JENIS TUMBUHAN HUTAN PAMAH DI KAWASAN HUTAN DENGAN TUJUAN KHUSUS (KHDTK) CARITA, PROVINSI BANTEN Ismayadi Samsoedin; N. M. Heriyanto; Endro Subiandono
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.2.139-148

Abstract

Penelitian struktur dan komposisi jenis tumbuhan hutan pamah di kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus dalam hutan primer, hutan primer terganggu, dan hutan sekunder tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman tumbuhan dari tingkat semai ke tingkat pohon, di hutan primer ditemukan 95 jenis yang tercakup dalam 43 suku, di hutan primer terganggu ditemukan 116 jenis tumbuhan yang tercakup dalam 61 suku, dan di hutan sekunder tua ditemukan 66 jenis tumbuhan yang tercakup dalam 44 suku. Jenis yang mendominasi regenerasi lengkap pada setiap strata terdapat di hutan primer. Untuk tingkat pohon didominasi oleh Schima wallichii (DC.) Korth. dengan indeks nilai penting (INP) 10,03%, tingkat belta dan tingkat semai didominasi (KHDTK) Carita, Banten, dilakukan pada bulan Agustus 2007. Plot dibuat masing-masing seluas 200 m oleh jenis Dysoxylum densiflorum (Blume) Miq. dengan INP masing-masing sebesar 35,00% dan 37,27%. Jenis tumbuhan dominan pada hutan primer terganggu adalah Castanopsis acuminatissima (Blume) A. DC. dengan INP 19,88% untuk tingkat pohon, Vitex pinnata L. untuk tingkat belta (INP 20,46%), dan Glochidion rubrum Bl untuk tingkat semai (INP 13,10%). Pada hutan sekunder tua, jenis yang mendominasi pada tingkat pohon adalah Vernonia arborea Buch.-Ham. dengan INP 5,10%, tingkat belta adalah jenis Lithocarpus elegans (Blume) Hatus ex Soepadmo dengan INP sebesar 20,46%, dan untuk tingkat semai adalah jenis Archidendron jiringa (Jack) Nielsen. dengan INP sebesar 13,10%
UJI TOKSISITAS DAN SKRINING FITOKIMIA EKSTRAK TUMBUHAN SUMBER PAKAN ORANGUTAN TERHADAP LARVA Tri Atmoko; Amir Ma’ruf
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2009.6.1.37-45

Abstract

Uji toksisitas dan skrining fitokimia ekstrak tumbuhan sumber pakan orangutan dilakukan terhadap jenis Dacryodes rugosa (Blume) H.J.Lam., Durio acutifolius (Mast.) Kosterm., Madhuca sericea H.J. Lam., Triomma malaccensis Hook. F., Sandoricum koetjape (Burm. f.) Merrill, dan Scaphium macropodum (Miquel) Beumee ex Heyne. Uji toksisitas dilakukan dengan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).  Sampel daun tumbuhan sumber pakan orangutan yang diambil dari Hutan Lindung Gunung Beratus diekstraksi dengan methanol berulangkali. Sampel kemudian dipekatkan dengan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kasar. Masing-masing ekstrak diuji toksisitasnya terhadap larva Artemia salina L. Uji toksisitas dilakukan dengan konsentrasi 1.000 ppm, 500 ppm, 250 ppm, 125 ppm, 62,5 ppm, 31,2 ppm, dan 15,6 ppm.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak D. rugosa memiliki toksisitas tertinggi di antara ekstrak perlakuan. Nilai LC50  terkecil, yaitu 125,57 ppm, ditunjukkan oleh A. salina pada konsentrasi 1.000 ppm dengan tingkat kematian 87%.
DAMPAK KEGIATAN PENYARADAN DALAM SISTEM TPTI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH DI HUTAN PRODUKSI ALAM DI KALIMANTAN TIMUR Eulis Retnowati
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2004.1.1.34-44

Abstract

Sistem  tebang  pilih yang dilanjutkan dengan  kegiatan penanaman kembali di indonesia, yang dikenal dengan nama Sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), telah digunakan di sebagian besar hutan produksi ala di indonesia, Penyaradan sebagai bagian dari sistem ini, merupakan kegiatan yang berupa penerikan kayu gelondongan di tempat penerbangan ke tempat pengumpulan. Penyaradan dengan menggunakan alat-alat mekanik mekenik seperti traktor, dapat menyebabkan dampak-dampa negetif terhadap sifat-sifat tanah, seperti meningkatnya kerapatan isi tanah, aliran permukaan, dan menurunya infiltrasi tanah. Di areal penebangan pada kenyataannya, traktor tidak hanya digunakan menarik kayu gelandongan saja, tetapi digunakan juga untuk membuat jalan sarad. Penelitian ini menunjukan bahwa akibat penyaradan dengan mengunkan alat-alat mekanik (traktor jenis caterpillar D7G), terjadi perubahan yang relatif kecil pada sifat-sifat tana dijalan sarad dibandingkan dengan sfat-sifat tanah di tanah lantai hutan, pada areal hutan bekas tebang yang berumur 1 (satu), 2 (dua), 3 (tiga), dan 5 (lima) tahu, atau ET+1, ET + 3 ET + 5. Kandungan karbon organik di jalan sarad cenderung menurun. Tetapi jika jalan sarad untuk seterusnya tidak digunakan untuk penyaradan kembali, kondisi sifat-sifat tanah akan berangsur-angsur membaik seiring dengan waktu, seperti yang terjadi pada jalan sarad di ET 5 +. Penanaman kembali dan pengayaan, harus dilakikan di jalan sarad untuk memelihara produksi yang berkelanjutan serta stabilitas ekologi, karena bibit-bibit yang tumbuh secara alami tidak di temukan pada jalan sarad ET+1, ET + 3 ET + 5 (walaupun perubahan sifat-sifat tanah yang terjadi dijalan sarad relatif kecil).
STATUS EKOLOGIS SILVOFISHERY POLA EMPANG PARIT DI BAGIAN PEMANGKUAN HUTAN CIASEM-PAMANUKAN, KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN PURWAKARTA Hendra Gunawan; Chairil Anwar Siregar; Reny Sawitri; Endang Karlina
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.4.429-439

Abstract

Silvofishery diterapkan untuk meredam laju konversi illegal hutan mangrove menjadi tambak.  Di satu sisi silvofishery diyakini mampu mengkombinasikan antara kepentingan konservasi mangrove dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.  Di sisi lain dengan perubahan struktur, komposisi, dan luas vegetasi mangrove dikhawatirkan mengganggu fungsi ekologisnya.   Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi dari perubahan ekologis hutan mangrove yang telah dikonversi menjadi tambak dengan  pola  silvofishery (empang  parit)  dan  tanpa  silvofishery (tambak  biasa).    Analisis  laboratorium dilakukan terhadap contoh substrat, air, plankton, dan benthos dari tiga lokasi penelitian (mangrove, empang parit, dan tambak biasa) untuk mengetahui sifat fisik, kimia, dan biologis.  Pengamatan burung dilakukan dengan metode IPA (Indices Ponctuels d’Abundance).   Hasil penelitian ini menemukan bahwa parameter kualitas air di tiga lokasi contoh (mangrove, empang parit, dan tambak biasa) relatif tidak berbeda mencolok, hanya air perairan mangrove lebih keruh.  Substrat mangrove memiliki kandungan N, P, K yang lebih tinggi daripada empang parit ataupun tambak biasa.    Sebaliknya tambak biasa  mengandung bahan pencemar berbahaya merkuri (Hg) 16 kali lebih tinggi dari mangrove dan 14 kali lebih tinggi daripada empang parit. Pembukaan hutan mangrove menjadi empang parit telah mengubah struktur komunitas phytoplankton dan benthos.  Sementara struktur komunitas zooplankton tidak banyak berubah.  Struktur komunitas ikan liar di ketiga lokasi contoh sangat berbeda yang ditunjukkan oleh rendahnya nilai similarity index.  Pada mangrove di empang parit dijumpai 13 jenis burung dengan nilai indeks keanekaragaman jenis Shannon (H’) 2,038, dan indeks keseragaman (e) 0,7944.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue