cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
KERAGAMAN GENETIK BANTENG (Bos javanicus d’Alton) DARI BERBAGAI LEMBAGA KONSERVASI DAN TAMAN NASIONAL MERU BETIRI Reny Sawitri; M. S. A. Zein; Mariana Takandjandji; Anita Rianti
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2014.11.2.155-159

Abstract

Banteng (Bos javanicus d’Alton)  dikonservasi  serta didomestikasi sebagai sapi bali (Bos taurus Linnaeus) sejak 3.500 SM. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh informasi hasil analisis morfometrik banteng dankeragaman genetik populasi banteng di dalam kawasan konservasi dan lembaga konservasi serta hubungan kekerabatan antara populasi banteng dengan sapi bali melalui jarak genetik antar populasi dan jarak genetikantar individu dengan metode multiple alignment sekuen dari program Clustal X 1.83 serta analisis filogenetik menggunakan metode neighbor-joining. Morfometrik banteng di Kebun Binatang Surabaya dan Kebun Binatang Ragunan telah mengalami perubahan secara fisik dan biologis, hal ini terjadi karena jarak genetik di dalam populasi sebesar 0,000. Di kawasan konservasi, morfometrik banteng paling besar dari Taman Nasional Baluran dilihat dari ukuran telapak kaki dan jarak kaki.  Hasil multiple alignment 657 urutan basa fragmen D-loop DNA mitokondria, terdiri dari enam haplotipe yaitu banteng 3 macam haplotipe dan sapi bali 5 macam haplotipe, dengan demikian sapi bali memiliki keragaman genetik lebih tinggi. Jarak genetik antar haplotipe sangat kecil (0,000-0,009), sehingga hubungan kekerabatan antara banteng dan sapibali sangat dekat. Dengan demikian untuk program pemuliaan, sapi bali dapat dilakukan perkawinan silang dengan banteng dari taman nasional.
SERANGAN PENYAKIT EMBUN TEPUNG DAN KARAT DAUN PADA Acacia auriculiformis A. Cunn. Ex Benth. DI KEDIRI, JAWA TIMUR Illa Anggraeni; Ari Wibowo
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.1.45-53

Abstract

Acacia  auriculiformis  A. Cunn  Ex Benth. merupakan  jenis  pohon cepat tumbuh untuk  penghijauan  yang tanaman  mudanya  mudah  diserang penyakit. Penelitian  yang dilakukan di  RPH  Pandantoyo, BKPH  Pare. KPH Kediri, Jawa Timur bertujuan untuk  mengetahui gejala makroskopis dan mikroskopis dari penyebab penyakit yang menyerang tanaman Acacia  auriculifomus A. Cunn Ex Benth  berumur dua tahun serta akibat yang  ditimbulkannya. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan  bahwa tanaman Acacia  auriculiformts  A. Cunn Ex Benth. terserang oleh dua jenis penyakit yaitu karat daun dan embun tepung Persentase  serangan penyakit  karat daun rata-rata  sebesar 91,44 %, yang terserang embun  tepung saja tidak ada sedangkan yang terserang kedua penyakit  tersebut  sebesar  8,55%.  Hasil  identifkasi dan determinasi penyebab  penyakit embun tepung adalah  fungi Oidium sp. pada fase aseksual (Deuteromycetes) atau disebut pula Erysiphe sp, pada  fase seksual (Ascomycetes), penyakit  karat daun disebabkan oleh Atetocauda  digitata  G.  Wint. Akibat kedua penyakit  tersebut tanaman pertumbuhannya  menjadi terharnbat, bagian pucuk bentuknya tidak normal (keriting, membengkak, dan mernbelok), dan dapat menyebabkan pohon  menjadi  kering  dan terselimuti embun tepung.
KAJIAN INFILTRASI TANAH PADA BERBAGAI TEGAKAN JATI (Tectona grandis L.) DI CEPU, JAWA TENGAH Agung B. Supangat; Pamungkas B. Putra
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.2.149-159

Abstract

Salah satu sifat fisik tanah yang penting untuk diketahui adalah laju infiltrasi tanah, yaitu kecepatan maksimum masuknya air secara vertikal ke dalam profil suatu tanah. Informasi infiltrasi tanah dapat dipergunakan untuk menghitung limpasan permukaan (run-off) dalam pengelolaan irigasi serta dalam perencanaan konservasi tanah dan air. Kapasitas infiltrasi tanah di lahan hutan dipengaruhi oleh umur tanaman hutan yang membentuk komposisi komunitas hutan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas infiltrasi tanah di kawasan tegakan jati (Tectona grandis L.) pada berbagai kelas umur. Pengukuran infiltrasi tanah dilakukan menggunakan peralatan double ring infiltrometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas infiltrasi tanah pada lahan hutan tanaman jati cenderung semakin meningkat dengan bertambahnya umur tanaman jati. Semakin tua kelas umur (KU) tanaman jati kandungan bahan organik tanah semakin besar serta porositas tanah semakin tinggi. Hal ini berperan baik dalam memantapkan struktur dan tekstur tanah serta perkembangan biota tanah permukaan, sehingga menyebabkan perbaikan sifat sifik tanah termasuk peningkatan kapasitas infiltrasinya. Pengaruh penjarangan pada KU 5 dan teresan pada KU 8 menyebabkan kondisi vegetasi lebih terbuka sehingga akan berdampak negatif yaitu terjadi pemadatan tanah yang menyebabkan menurunnya kapasitas infiltrasi tanah
POTENSI BIOMASA KARBON HUTAN ALAM DAN HUTAN BEKAS TEBANGAN SETELAH 30 TAHUN DI HUTAN PENELITIAN MALINAU, KALIMANTAN TIMUR Ismayadi Samsoedin; I Wayan Susi Dharmawan; Chairil Anwar Siregar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2009.6.1.47-56

Abstract

Hutan alam memiliki fungsi ekologis yang sangat vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Salah satu di antaranya adalah fungsi hutan alam dalam menjaga iklim di dalam kawasan hutan maupun di luar hutan. Hal ini terkait dengan kemampuan tegakan hutan untuk menyerap karbondioksida dan melepaskan oksigen dalam proses fotosintesis. Semakin banyak karbondioksida yang diserap oleh tanaman dalam bentuk biomasa karbon maka semakin besar pengaruh buruk efek gas rumah kaca dapat ditekan. Dalam tulisan ini, akan dibahas tentang potensi biomasa karbon hutan alam dan hutan bekas tebangan setelah 30 tahun di Hutan Penelitian Malinau, Kalimantan Timur. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan membuat lima titik sampling tanah secara  acak  dengan kedalaman 20  cm  masing-masing di hutan alam  dan  hutan bekas tebangan setelah 30 tahun. Pengukuran biomasa karbon di atas permukaan tanah, dilakukan dengan membuat empat plot dan masing-masing plot dibuat subplot sebanyak 25 dengan ukuran 20 m x 20 m pada masing- masing hutan alam dan hutan bekas tebangan setelah 30 tahun. Pohon dengan diameter setinggi dada  ≥ 10 cm diukur dan dicatat diameter dan tingginya. Biomas diukur dengan menggunakan metode Brown dan Chave. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan karbon tanah sedalam 20 cm di hutan alam dan hutan bekas tebangan setelah 30 tahun masing-masing adalah sebesar 37,86 tonC/ha dan 30,58 tonC/ha. Kandungan karbon di atas permukaan tanah pada hutan alam dan hutan bekas tebangan setelah 30 tahun masing-masing adalah sebesar  264,70  tonC/ha dan 249,10   tonC/ha. Dengan demikian, serapan karbondioksida pada hutan alam dan hutan bekas tebangan setelah 30 tahun masing-masing adalah sebesar 970,57 tonCO2 /ha dan 913,37 tonCO2 /ha. Potensi hutan alam dalam menyerap karbondioksida di Hutan Penelitian Malinau sangat tinggi dan apabila hutan alam ini ditebang dengan memperhatikan asas-asas pengelolaan hutan lestari, maka setelah 30 tahun ternyata memiliki potensi biomasa karbon yang mendekati potensi biomasa karbon di hutan alam.
PREFERENSI DAN KONSUMSI PAKAN ANAK BURUNG MALEO (Macrocephalon maleo Sal. Muller) DALAM MASA PENYAPIHAN Hendra Gunawan
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2004.1.1.58-66

Abstract

Burubg maleo (Macrocephalon maleo Sal.Muller) merupakan salah satu satwa endemik Sulawesi yang sedang terancam kepunahan akibat eksploitasi belebihan terhadap telurnya. Untuk mengantisipasi penurunan populasi, di beberapa habitat telah dibuat penetasan buatan secara in-situ. Meskipun demikian, sejauh ini usaha tersebut kurang berhasil. Di satu sisi hampir 50% telur gagal menetas, di sisi lain banyak anak maleo yang telah menetas tidak siap dilepaskan ke alam. Anak - anak maleo tersebut memerlukan waktu satu atau dua hari untuk memulihkan diri dan mengumpulkan tenaga agar siap bertahan hidup di habitat alaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari preferensi dan konsumsi pakan anak maleo selama dalam masa penyapihan. Enam anak maleo diteliti di kandang penetasan di Tanjung Bakiriang (Sulawesi Tengah) untuk mengetahui preferensinya terhadap pakan yang akan diberikan. Penelitian ini merupakan Rancangan Acak Lengkap. Nilai - nilai tengah dibandingkan denga Uji Beda Nyata Terkecil. Neu's index digunakan untuk merengking urutan preferensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam lima hari pertama setelah menetas anak maleo memiliki preferensi terhadap jenis pakan tertentu. Urutan pakan paling disukai adalah padi (Oryza sarifa)_diikuti _ oleh kacang tanah (Arachis hypogaea), jagung kuning (Zea mays), Kacang ijo (Phaseolus radiatus), kedelai (Glycine max), dan daging kelapa (Cocos nucifera). Berat rata - rata pakan harian yang dikosumsi adalah 88,81 g per individu, Komposisi berat yang dikonsumsi dari kelima jenis pakan tersebut adalah 38,5% beras, 16,3% kacang tanah, 14,3 jagung kuning, 12,8% kacang ijo, dan 6,0% daging kelapa. Energi metabolik yang dikosumsi oleh seekor anak maleo dalam masa lima hari pertama setelah menetas adalah 345,04 kal/hari.
KERAGAMAN SIMPANAN KARBON DALAM TIPE TANAH NITISOLS DAN FERRALSOLS DI KAWASAN HUTAN TANAMAN Pinus merkusii Jungh et. de Vriest DAN Shorea leprosula Miq. DI KABUPATEN BOGOR, PROVINSI JAWA BARAT Harris Herman Siringoringo
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.5.441-456

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keragaman kondisi lahan yang dicirikan oleh besarnya simpanan karbon pada tanah Nitisols dan Ferralsols di kawasan hutan tanaman Pinus merkusii Jungh. et de Vriest dan Shorea leprosula Miq. yang baru ditanam, termasuk vegetasi awalnya, secara berurutan. Penelitian dilaksanakan di RPH Ngasuh dan RPH Cianten, keduanya merupakan lingkup  wilayah kerja KPH Bogor, Unit III Perum Perhutani, Provinsi Jawa Barat dan Banten. Kondisi iklim di Ngasuh termasuk tipe B, sedangkan di Cianten tipe iklim A dengan rata-rata curah hujan tahunan berturut-turut sebesar 3.148 mm dan 4.561 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan tanah Nitisols lebih rendah daripada tanah Ferralsols dan berbeda nyata hingga kedalaman tanah 70 cm, dengan rata-rata total untuk kedalaman 0-100 cm berkisar antara 0,38-0,70 g/cc untuk Nitisols dan 0,53-0,86 g/cc untuk Ferralsols. Sebaliknya, kandungan karbon pada tanah Nitisols lebih tinggi daripada tipe Ferralsols dan berbeda nyata hingga pada kedalaman 50 cm, dengan rata-rata total untuk kedalaman 0-100 cm berkisar antara  0,58-11,84%  untuk Nitisols dan 1,18-6,07 %  untuk Ferralsols. Sementara, kadar liat  tanah Nitisols lebih rendah dibanding dengan tanah Ferralsols, dengan rata-rata total untuk kedalaman 0-100 cm berkisar antara 39,30-53,30 % untuk Nitisols dan 78,60-87,60 % untuk Ferralsols. Simpanan karbon tanah kumulatif pada tanah Nitisols lebih besar daripada tanah Ferralsols dan berbeda nyata hingga kedalaman 50 cm, yaitu sebesar 127,13 ton/ha untuk Nitisols dan 98,66 ton/ha untuk Ferralsols. Sedangkan koefisien keragaman simpanan karbon kumulatif pada tanah Nitisols lebih tinggi daripada tanah Ferralsols, berkisar antara 20,29-43,91 % dan 8,56-10,55 %, secara berurutan. Jumlah contoh tanah yang dibutuhkan untuk memperkirakan simpanan karbon dengan menghasilkan 5 % kesalahan pada tingkat kepercayaan 95 % pada kedalaman 0-30 cm adalah sebanyak   14 contoh untuk tanah Ferralsols dan setidaknya 206 contoh untuk tanah Nitisols. Dapat disimpulkan bahwa  keragaman kondisi  lahan  yang  berbeda  pada  masing-masing tipe  tanah  cenderung konsisten dengan tingkat pelapukan tanah. Di samping itu, pengaruh topografi yang curam mungkin menjadi salah satu faktor yang menyebabkan lebih tingginya heterogenitas pada tanah Nitisols.
PENGARUH PUPUK LAMBAT LARUT DAN DAUN TANAMAN MURBEI BERMIKORIZA TERHADAP KUALITAS KOKON ULAT SUTERA Lincah Andadari; Ragil S.B. Irianto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2011.8.2.119-127

Abstract

Daun murbei merupakan satu-satunya pakan bagi ulat sutera Bombyx mori L. Jumlah dan mutu daun yang diberikan akan  menentukan pertumbuhan, kesehatan ulat, dan mutu kokon. Produktivitas daun murbei  dapat ditingkatkan dengan pemupukan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produktivitas dan kualitas kokon yang dihasilkan dari dua hibrid ulat sutera (BS 08 dan BS 09) yang diberi pakan daun murbei dari tanaman yang diinokulasi Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) dan dipupuk dengan pupuk lambat larut (SRF). Hasil  penelitian menunjukkan jenis ulat BS 09 memiliki kualitas kokon yang lebih baik dibandingkan jenis BS 08. Ulat sutera yang diberi pakan Morus alba var Kanva2 + Glomus sp1. + SRF 8 g dan M. cathayana + Glomus sp2  + SRF 8 g menunjukkan kualitas kokon yang tinggi.
KUALITAS BIBIT ULAT SUTERA (Bombyx mori L.) PADA BEBERAPA WAKTU PENGUPASAN KOKON Nurhaedah M.
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.2.177-184

Abstract

Bibit ulat sutera yang berkualitas akan diperoleh jika pemeliharaan ulat induk  rnenghasilkan kokon yang baik. Untuk mewujudkan hal  tersebut diperlukan penanganan khusus  seperti  pemberian pakan, penanganan ulat dan kokon serta  pencegahan  penyakit. Penelitian ini  dilakukan   di  Balai  Persuteraan Alam Bili-Bili, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.  Penelitian bertujuan untuk  mengetahui  waktu pengupasan kokon yang tepat sebagai bahan pembibitan ulat  sutera. Penelitian dilakukan  di laboratorium dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri  3 perlakuan waktu pengupasan kokon yaitu 8 hari setelah mengokon, 7 hari  setelah  mengokon dan 6 hari setelah mengokon  serta kontrol (0 hari). Berdasarkan  penelitian yang dilaksanakan waktu pengupasan kokon yang baik untuk penetasan dan rendemen ulat kecil adalah 8 hari sedangkan untuk keperidian  dan jumlah pupa jadi ngengat adalah 7 hari, di samping itu waktu  pengupasan kokon yang  terlalu cepat dan tidak  terseleksi (kontrol)  menyebabkan waktu keluarnya ngengat lebih beragam.
Pengaruh Medium Sapih Terhadap Pertumbuhan Bibit Shorea selanica BI Di Persemaian A. Syaffari Kosasih; Yetti Heryati
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.2.147-155

Abstract

Medium  sapih adalah  salah satu faktor yang sangat penting untuk rnernperoleh  bibit  yang berkualitas dalam waktu singkat.  Oleh  karena itu  dalam mempersiapkan medium  sapih  perlu diperhatikan  unsur hara yang tersedia dalam medium tersebut sehingga  pertumbuhan bibit dapat berlangsung  dengan optimal.  Penelitian dilakukan  di persemaian Hutan Penelitian  Carita, Provinsi Banten dengan metode rancangan acak lengkap dengan tujuh perlakuan medium.  Setiap  perlakuan terdiri dari  tiga ulangan,  setiap ulangan terdiri  dari  50 bibit.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaaan medium sapih campuran tanah dan kompos dengan volume   4 :1  memberikan  respon yang terbaik  pada persen jadi,  pertumbuhan  tinggi dan diameter  bibit Shoreaselanica Bl. sampai  umur enam bulan di persemaian.
PENDUGAAN POPULASI ORANGUTAN (Pongo abelii Lesson 1827) BERDASARKAN SARANG DI CAGAR ALAM SIPIROK, SUMATERA UTARA Wanda Kuswanda
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2013.10.1.19-31

Abstract

Populasi orangutan (Pongo abelii Lesson 1827)yang tersisa pada habitat alaminya terus terancam  dan diambang kepunahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik sarang dan pendugaan populasi orangutan di Cagar Alam Sipirok, Sumatera Utara.  Penelitian dilakukan selama empat bulan, dari April sampai Juli 2010. Pengamatan dilakukan menggunakan kombinasi metode transek garis dan penghitungan jumlah sarang dengan panjang total  29 km (1 km per transek).  Analisis kepadatan orangutan diduga berdasarkan karakteristik sarang.  Panjang sarang berkisar antara 60-150 cm dengan klas umur secara umum termasuk klas C (42%) dan klas D (31%). Karakteristik sarang sangat sulit digunakan untuk mengetahui struktur umur orangutan. Kepadatan rata-rata orangutan sebesar 0,47 individu/km2 atau jumlah populasi antara 22-40 individu.  Program untuk meningkatkan populasi di antaranya dapat dilakukan melalui restorasi terutama di sekitar enklave Rambassiasur.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue