cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
PREFERENSI HABITAT TRENGGILING (Manis Javanica Desmarest, 1822) DI SEKITAR SUAKA MARGASATWA SIRANGGAS, SUMATERA UTARA Wanda Kuswanda; Titik Setyawati
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2016.13.1.43-56

Abstract

ABSTRACTSunda Pangolin population in the wild has been continuously decreasing and requires serious conservation effort to increase their condition. Habitat preference is one among ecological information needed to develop its conservation techniques. In 2012, data on habitat types and resources preferred by pangolin were collected during 10 months field survey to gain adequate information on factors affecting their occurrence in and around Siranggas Wildlife Reserve, North Sumatra. A total number of 28 plots of 50 m x 50 m for observing types of habitat and 20 m x 20 m for habitat resources were established in four types of forest, i.e. primary forest, secondary forest, mixed-forest and cultivation forest. A descriptive statistical analysis, MANOVA (multivariate of variant), normality and correlation test, and regression equationwere used to analyze data for all habitat components. Results indicate that pangolin does not prefer certain habitat types feeding and nesting behavior, but in general, the most preferred habitat is the secondary forest. Resources selection function model showed that pangolin’s feeding and nesting were strongly affected by the number of seedling/undergrowth species (X1) and soil pH (X13) with Nagelkerke R2 about 83.5%.Key words: Habitat, pangolin, preference, regression, Siranggas.ABSTRAKPopulasi trenggiling terus menurun, sehingga diperlukan upaya konservasinya. Informasi yang penting diketahui untuk menyusun teknik konservasi trenggiling diantaranya adalah tentang habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tipe habitat dan sumberdaya habitat yang paling disukai yang mempengaruhi terhadap kehadiran trenggiling di sekitar Suaka Margasatwa (SM) Siranggas, Sumatera Utara. Penelitian dilakukan selama 10 bulan, dari Maret sampai dengan Desember 2012. Plot penelitian tipe habitat dibuat berukuran 50 m x 50 m (28 plot) dan untuk sumberdaya habitat 20 m x 20 m (42 plot) yang disebar pada 4 tipe habitat, yaitu hutan primer, hutan sekunder, hutan campuran dan tipe habitat lahan budidaya/perkebunan masyarakat. Analisis data yang digunakan diantaranya adalah analisis deskriptif statistik untuk semua variabel komponen habitat, analisis MANOVA (multivariate of varian), uji normalitas data, uji korelasi dan persamaan regresi. Trenggiling tidak memilih habitat tertentu untuk mencari makan atau menempatkan sarang dengan habitat yang paling disukai adalah hutan sekunder. Sumberdaya habitat yang paling mempengaruhi trenggiling untuk mencari makan dan bersarang adalah jumlah jenis vegetasi tingkat semai dan tumbuhan bawah (X1) dan pH tanah (X13) sedangkan variabel pakan (X14) tidak berpengaruh secara signifikan. Model resources selection function (RSF) trenggiling berdasarkan persamaan regresi logistik menghasilkan nilai Nagelkerke R2 sebesar 83,5%.Kata kunci: Habitat, preferensi, regresi, Siranggas, trenggiling.
SEBARAN POPULASI DAN SELEKSI HABITAT MACAN TUTUL JAWA, Panthera pardus melas Cuvier 1809 DI PROVINSI JAWA TENGAH Hendra Gunawan; Lilik B. Prasetyo; Ani Mardiastuti; Agus P. Kartono
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.4.323-339

Abstract

Lebih dari dua dekade sebaran macan tutul jawa di Jawa Tengah tidak termonitor.  Dengan laju deforestasi yang cukup tinggi dikhawatirkan sebaran populasi macan tutul jawa di provinsi ini telah banyak berkurang dan terjadi kepunahan di beberapa lokasi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran populasi dan seleksi habitat macan tutul jawa di Provinsi Jawa Tengah.   Pengumpulan data keberadaan macan tutul dilakukan melalui kuesioner, wawancara, dan pengecekan lapangan untuk mencatat pposisi GPS macan tutul. Titik-titik GPS lokasi macan tutul diplotkan ke peta kawasan hutan Provinsi Jawa Tengah.  Penghitungan indeks seleksi habitat menggunakan rumus indeks Neu.  Penelitian ini menemukan 48 titik lokasi macan tutul yang tersebar di lima tipe hutan yaitu di hutan pinus (43,8%), hutan jati (27,1%), hutan  alam pegunungan (14,5%), hutan tanaman campuran (8,3%), dan hutan alam dataran rendah (6,3%). Daerah sebaran macan tutul jawa meliputi ketinggian 0 m hingga lebih dari 1.000 m di atas permukaan laut.  Terdapat 15 lokasi macan tutul yang diduga sudah mengalami kepunahan lokal.   Macan tutul melakukan seleksi terhadap habitatnya  (P = 0,01).  Hutan alam dataran rendah memiliki nilai indeks seleksi tertinggi (8,5560) diikuti oleh hutan tanaman campuran (5,8911), hutan alam pegunungan (2,9795), hutan tanaman pinus (1,1758), dan hutan jati (0,4769).
STUDI SEBARAN ALAM Pinus Merkusii Jungh et de Vrise TAPANULI SUMATRA UTARA DENGAN METODE CLUSTER DAN PEMETAAN DIGITAL Titi Kalima; Uhaedi Sutisna; Rusli Harahap
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.5.497-505

Abstract

Pinus adalah salah satu marga yang terdiri atas 100 jenis diseluruh dunia dan populasi jenis P.merkusii Jungh et de vris yang tumbuh di indonesia mempunyai nilai ekonomi tinggi, baik dari kayunya maupun getahnya .Salah satu hal paling penting dari jenis tersebut karena tumbuh secara alam dan akademik di Sumatera. Studi yang dilakukan bertujuan untuk memperoleh informasi tentang sebaran alam P.Merkusii Junght et de Vrise diwilayah hutan Tapanuli, Sumatera Utara Metode yang digunakan adalah metode kluster (Cluster Method) yang terdiri empat plot bentuk lingkaran setiap klusternya dengan jari-jari 17,95 m setiap plotnya. Studi menunjukan bahwa sebaran alam P.merkusii Jungh et de Vrise terdapat diwilayah Bukit Barisan daerah Habinsaran dan Geroga meliputi daerah-daerah Dolok Tusam, Dolok Saut , Dolok Sipirok, Dolok Soanon Situnggaling dan Suaka Margasatwa Baruman.Populasi P.merkusii Jungh et de Vrise tersebut tumbuh berkelompok secara terpencar pada ketinggian antara 1.000 m sampai dengan 2.000 m di atas permukaan laut dengan kemiringan lahan antara 45-80 persen. Dibawah tegakan hutan alam P.merkusii Jungh et de Vrise di Dolok tusam dijumpai tanaman menyan (Styrax benzoin Dryand) dengan kerapatan berkisar antara 19-28 pohon per klauternya. Adapun komposisinya jenis tumbuhan dibawah P.merkusii Jungh et de Vrise adalah Melastoma malabathricum Symplocos sp. Scheffa sp. Calophyllum soullatri, Castanopsis acuminatissima, Knema conferta dan Pandanus sp. 
SERANGGA PENYERBUK PADA TEGAKAN SENGON (Paraserianthes falcutaria) (MIMOSACEAE) Sri Esti Intari
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.6.539-545

Abstract

Peneltiian terhadap serangga-serangga penyerbuk bunga sengon, Paraserianthes falcataria dilakukan di kebun sengon Rancamaya Bogor sebanyak 11 jenis serangga diperoleh dari bunga sengon, terdiri dari Lepidoptera (2 jenis), Hypmenoptera (8 jenis) dab Diptera (1 jenis). Dan pengamatan adanya serbuk sari pada badan serangga pengunjung bunga sengon, selain Apis Indica, berdasarkan waktu kehadirannya menunjukan bahwa jenis Xylocopa latipes dan X confusa penyerbuk utama bunga sengon
PERTUMBUHAN ANAKAN MANGROVE PADA BERBAGAI JARAK TANAM DAN TINGKAT PENGGENANGAN AIR LAUT DI PEMALANG, JAWA TENGAH Chairil Anwar Siregar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.4.353-364

Abstract

Salah satu faktor penyebab kegagalan dalam penanaman mangrove adalah kurang sesuainya pemilihan jenis mangrove, yang ada kaitannya dengan frekuensi penggenangan oleh air laut.   Penelitian penanaman ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang pengaruh berbagai tingkat penggenangan dan jarak tanam terhadap parameter pertumbuhan anakan Rhizophora mucronata Lamk. dan Avicennia marina (Forsk.) Vierh. yang ditanam di desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang.   Perlakuan tingkat penggenangan terdiri atas penanaman pada tapak sedalam 0,4 m; 0,6 m; 0,8 m; dan 1,0 m dari batas air pasang maksimum, sedangkan perlakuan jarak tanam terdiri atas 1 m x 1 m; 1 m x 0,5 m; 1 m x 1 m berseling; dan 1 m x 0,5 m berseling.   Hasil penelitian setelah 2,5 tahun penanaman menunjukkan bahwa tingkat penggenangan berpengaruh nyata terhadap persen tumbuh dan pertambahan tinggi kedua jenis mangrove serta terhadap diameter batang anakan untuk A. marina. Tingkat penggenangan tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah akar penunjang pada R. mucronata.  Persen tumbuh cenderung mengecil dengan makin dalam atau tingginya frekuensi penggenangan. Walaupun demikian, R. mucronata masih dapat tumbuh baik pada kedalaman 1,0 m, sedangkan A. marina hanya sampai kedalaman 0,6 m. Perbedaan jarak tanam hanya berpengaruh nyata terhadap persen tumbuh anakan R. mucronata dengan kecenderungan meningkat dengan makin rapatnya jarak tanam.
HUMIFIKASI PADA TANAH DI BEBERAPA TIPE TEGAKAN HUTAN PAPUA BARAT DENGAN PENDEKATAN SPEKTROFOTOMETRIK David Seran
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2011.8.1.87-94

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di daerah Anggori, Distrik Manokwari Timur dari bulan Mei sampai Desember 2009. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang karakteristik kimia humus tanah di bawah empat tipe tegakan hutan di daerah Anggori, Distrik Manokwari Timur, Provinsi Papua Barat. Keempat tegakan hutan tersebut adalah matoa (Pometia pinnata Forst.), jati (Tectona grandis Linn.f.), araukaria (Araucaria cunninghami Sweet.), dan tegakan hutan alam. Metodenya dengan cara contoh tanah diambil pada kedalaman 0-30 cm (D1) dan 30-50 cm (D2). Hasil ekstraksi dan fraksionasi dengan NaOH 0,5 N dan konsentrasi HCL menunjukkan tingkat serapan spektrofotometer asam humik dan asam fulfik yang tertinggi dari substansi humus terlihat pada panjang gelombang 400 nm dan 800 nm. Serapan asam humik rata-rata tinggi pada tegakan araukaria (Araucaria cunninghamii Sweet.) dan tegakan matoa (Pometia pinnata Forst.) dibandingkan dengan tegakan jati (Tectona grandis Linn.f.) dan hutan alam. Rasio asam humik dan asam fulfik tanah lebih tinggi pada tegakan matoa (Pometia pinnata Forst.) sebesar 4,44 pada tanah tingkat atas dan 2,18 pada tingkat bawah. Nilai terendah terdapat pada hutan alam sebesar 1,51 pada tanah tingkat atas dan 1,40 pada tanah bagian bawah. Berdasarkan rasio warna tanah (Q4/6), asam humik hutan alam lebih tinggi dengan nilai 8,97 pada tingkat tanah atas dan 8,91 pada tanah bagian bawah, sedangkan nilai terendah berada di bawah tegakan araukaria dengan nilai 2,18 pada tanah tingkat atas dan 5,33 pada tingkat bawah. Karakteristik kimia humus tanah pada empat tegakan hutan menunjukkan bahwa hutan alam memiliki tingkat humifikasi yang paling rendah sehingga kemungkinan memiliki substansi toksik yang tinggi. Di samping itu tegakan matoa (Pometia pinnata Forst.) memiliki tingkat humifikasi yang paling tinggi dibandingkan dengan tegakan lainnya dan kecil kemungkinan memiliki substansi toksik.
MODEL PENDUGAAN BIOMASSA POHON MAHONI (Swietenia macrophylla King) DI ATAS PERMUKAAN TANAH Wahyu Catur Adinugroho; Kade Sidiyasa
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.1.103-117

Abstract

Protokol Kyoto meliputi mekanisme pembangunan  bersih dalam rangka mengontrol karbon yang dihasilkan oleh negara-negara   di dunia. Hutan menyerap C02   dari udara melalui proses  fotosintesis dan menyimpannya sebagai biomassa hutan.   Untuk menduga jumlah biomassa di   dalam hutan,  pendekatan  secara tidak   langsung rnelalui model alometrik  dan metode biomass expansion factor (BEF) dapat digunakan.  Tujuan penelitian  ini  adalah untuk memperoleh besarnya nilai BEF dan membuat model alometrik dalam menduga besarnya biomassa pada pohon mahoni.  Untuk mencapai tujuan penelitian  tersebut maka ditentukan sebanyak 30 pohon contoh  yang ditetapkan secara purposif, yang selanjutnya  dilakukan penghitungan  biomassa.  Biomassa  batang dan cabang yang  beraturan dihitung  dengan  menggunakan  pendekatan  volume  sedangkan biomassa  bagian  lainnya   dihitung  dengan penimbangan langsung. Model pendugaan biomassa dihasilkan   dengan  menganalisa   hubungan antara nilai biomassa dengan dimensi pohon. Hasil penelitian  memperlihatkan   bahwa jumlah biomassa  tertinggi  terdapat pada bagian batang yakni mencapai 73% dari biomassa keseluruhan  pohon di atas permukaan tanah,  kemudian diikuti oleh biomassa cabang (17%),  tunggak (5%), daun (3%),  dan ranting (2%).  Model alometrik  yang dihasilkan untuk menduga  biomassa pada pohon mahoni adalah B = aDb dimana B = biomassa  (kg);  0 =  diameter  (cm);  a, b = konstanta. Persamaan regresi yang dihasilkan tersebut adalah biomassa  batang (Bbtg)  = 0,044  D2'61 (R2 = 94,7 %) biomassa  cabang (Bcab)  = 0,00059  D3.46 (R2 =   83,5%), biomassa ranting (Branting) =  0,0027  D2.42   (R2 = 65,6%), biomassa tunggak (Btunggak) = 0,022  D1·96  (R2 = 65,6%),  biomassa daun (Bdaun) = 0,0138  D193(R2 = 70%), biomassa  pohon di atas permukaan tanah (Btotal) =  0,048   D2·68 (R2 = 95,8%).  Sedangkan nilai "BEF" rata-rata untuk pohon mahoni adalah 1,36  (biomassa batang keseluruhan)  dan 2, 16 (biomassa  batang bebas cabang).
PENGARUH KOMPOS DAN PUPUK NPK TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS BIBIT CABUTAN Shorea leprosula Miq. Ahmad Junaedi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2012.9.4.373-383

Abstract

Pemanfaatan cabutan alam untuk tujuan produksi bibit mempunyai kelemahan, karena pertumbuhannya lebih lambat  dibandingkan dengan bibit  yang  berasal  dari  benih  yang  dikecambahkan langsung.  Untuk itu, tambahan perlakuan seperti pemupukan diperlukan untuk meningkatkna pertumbuhan dan kualitas bibit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi kompos dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan  mutu  bibit  meranti  tembaga (Shorea  leprosula Miq.) asal  cabutan  alam.  Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok faktorial (3 x 3). Dua faktor perlakuan yang diujicobakan adalah faktor kompos (M) dan pupuk NPK (F). Faktor M meliputi : M 1  = tanpa kompos (top soil 100%) , M 2 = kompos ½ bagian dari media (kompos : top soil = 1 : 1, v/v), dan M 3 = kompos 2/3 bagian dari media (kompos : top soil = 2:1 , v/v); sedangkan faktor F meliputi F = tanpa pupuk, F2   =1 gr NPK/bibit, dan F3  = 2 gr NPK/bibit. Tiap kombinas perlakuan diulang 3 kali dengan jumlah bibit pada tiap unit pengamatan adalah 5 bibit sehingga terdapat 135 bibit yang diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan terbaik diperoleh pada M2 F3  dan M3 F3 . Masing-masing perlakuan tersebut dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter bibit sebesar 47% dan 47% pada M2 F3 serta 48% dan 38% pada M 3 F3 . Kombinasi perlakuan keduanya pun dapat meningkatkan satu tingkat mutu bibit dari mutu ketiga ke mutu kedua.
POPULASI DAN DAYA DUKUNG HABITAT RUSA DAN BIAWAK DI TAMAN NASIONAL UJUNG KULON Abdullah Syarief Mukhtar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2004.1.1.1-13

Abstract

Tujuan penelitian  ini adalah mendapatkan  data dan informasi populasi  dan daya dukung habitat  rusa ( Cervus timorensis Blainville) dan biawak (Varanus salvatori Cumingi) di Pulau Peucang Taman Nasional (TN) Ujung Kulon Provinsi  Banten.  Metode yang digunakan   adalah metode Transek  Garis  dengan Iebar transek yaitu kiri kanan garis 50 m.  Hasil penelitian menunjukkan populasi  rusa di P. Peucang berkisar  antara 271 ekor (tahun 2001) -  308 ekor (tahun 2000). Fluktuasi ini disebabkan  dua faktor yaitu pertama : emigrasi yaitu selama pengamatan dijumpai beberapa kelompok rusa dewasa menyeberang ke pantai Ujung Kulon  daratan P. Jawa,  dan kedua :  faktor kematian  akibat usia yang terlalu tua dari kelompok  rusa dewasa dan penyakit dari kelompok kelas umur bayi/anak.  Populasi rusa tahun 200 t sebanyak 271 ekor terdiri dari kelas umur dewasa 131 ekor (betina 104 ekor dan jantan 27 ekor), kelas umur remaja 63 ekor (betina 46 ekor dan jantan  17 ekor) dan kelas umur anak/bayi 77 ekor (betina 56 ekor dan jantan  21 ekor). Habitat rusa di P. Peucang dari dua tipe komunitas (mangrove,  pantai,  dan dataran rendah) berupa padang rumput, hutan mangrove, hutan pantai, dan hutan dataran rendah (I 0-30 m dpl).  Daya dukung habitat rusa ~· Peucang pada musim huja~ 337 ekor, dan pada musim ini populasi rusa dalam dua kali ~e~gamata~ yaitu antara 2~ 1-308 ekor, ma~t~ dal~m kondisi di bawah daya dukung maksimum. Populasi biawak di P. Peucang sekitar 55 ekor terdiri dari kelompok umur dewasa  46 ekor (betina 36 ekor dan jantan  10 ekor), remaja 7 ekor (betina 5 ekor dan jantan  2 ekor) dan anak 2 ekor (betina). Daya dukung biawak setara dengan kerapatan  populasi optimum yaitu O, 13 ekor per ha.
RASIONALISASI ZONASI TAMAN NASIONAL BUKIT TIGAPULUH: PENERAPAN KRITERIA DAN INDIKATOR ZONASI SERTA TINGKAT SENSITIVITAS EKOLOGI Rozza Tri Kwatrina; Bambang Setyo Antoko
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.4.391-407

Abstract

Penelitian yang dilakukan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) ini bertujuan untuk mendapatkan alternatif rasionalisasi batas dan zonasi kawasan TNBT yang sebelumnya telah ditetapkan sesuai Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam No. 17/Kpts/DJ-V/2001, tanggal 6 Pebruari 2001, seluas 127.698 hektar. Metode penentuan zonasi berdasarkan pada kriteria penetapan zonasi taman nasional yang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Selain itu digunakan juga indikator penetapan zonasi dan tingkat sensitivitas ekologi TNBT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan TNBT perlu dirasionalisasi, yang meliputi perubahan batas dan zonasi kawasan di Provinsi Riau dan Provinsi Jambi menjadi 180.279 hektar. Usulan   perubahan zonasi meliputi perubahan batas dan luasan zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan intensif, zona pemanfaatan tradisional, zona rehabilitasi, dan enclave.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue