cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : 02160439     EISSN : 25409689     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 716 Documents
KOMBINASI PERMUDAAN ALAM Agathis dammara (Lambert) L.C. Rich. DENGAN TANAMAN Theobroma cacao Linn. PADA LAHAN KURANG PRODUKTIF DI MALILI, SULAWESI SELATAN Ruben Renden; Merryana Kiding Allo; Suhartati Suhartati
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.3.215-223

Abstract

Hutan  dijadikan  sebagui sumber pemuas kebutuhan dan penghasilan, karena itu  mereka memperlakuan hutan secara tidak bijak tanpa mempertimbangkan kemampuan  alarn yang ada. Selain itu  pula teknik pemukaan lahan dilakukan secara tebas habis lalu dibakar (slash and burn),sehingga kerusakan lapisan top soil  tanah sulit dihindarkan. Penyediaan paket teknologi sangat penting untuk rneningkatkan pertumbuhan jenis andalan setempat melalui penerapan teknik konservasi tanah berupa pemupukan dalam rangka rehabilitasi lahan kurang   produktif. Tujuan penelitian ini  adalah untuk rnendapatkan informasi tentang pertumhuhan perrnudaan alarn Agathis dammara (Lambert) L.C. Rich. yang dikombinasikan dengan tanaman Theobroma cacao  Linn. pada lahan kurang produktif di Malili. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan Rancangan Petek Terpisah atau Split Plot, dengan perlakuan utama adalah dosis pupuk NPK dan sub perlakuan adalah kombinasi antara pupuk kandang dengan kapur dolomit. Menurunnya kandungan bahan organik tanah pada bagian hutan yang telah berubah menjadi lahan HKM yaitu pada lapisan atas 5,93 dan pada lapisan bawah 5,43.  Sedangkan untuk  meningkatkan pertumbuhan permudaan alam agatis sebaiknya rnenggunakan cara penanaman campuran dengan tanaman coklat karena pemupukan akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman pokok pada  penarnbahan bahan organik pupuk NPK 100 gram+ pupuk kandang 2 kilogam + kapur dolomit 300 gram.
KANDUNGAN LOGAM BERAT DAN PLANKTON PADA EKOSISTEM TAMBAK BERMANGROVE DAN TAMBAK TANPA MANGROVE (Kasus di Tegal Tangkil, Cikiong, Poponcol, dan Kedung Peluk) N. M. Heriyanto; Sri Suharti
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2013.10.2.121-133

Abstract

Penelitian kualitas lingkungan tambak bermangrove dan tanpa mangrove serta kemampuannya menyerap polutan telah dilakukan dari bulan Juli-Desember 2011, bertujuan untuk memperoleh informasi tentang kandungan logam berat pada mangrove, air, tanah, dan ikan/udang. Lokasi penelitian ada empat, tiga di KPH Purwakarta Jawa Barat, yaitu Tegal Tangkil, Cikiong, Poponcol dan satu di Sidoarjo, Jawa Timur yaitu Kedung Peluk.Hasil penelitian menunjukkan akumulasi Pb (timah), Cu (tembaga), dan As (arsen) pada jenis Avicenia marina (Forsk.) Vierh. terbesar di bagian daun, Zn (seng) dan Hg (merkuri) pada bagian akar. Akumulasi kelima zat pencemar (Cu, Hg, Pb, Zn, dan As) terbesar pada substrat tambak yang tidak bermangrove, Cu dan Zn tertinggi sebesar 650,31 ppm di Tegal Tangkil dan 845,24 ppm di Poponcol. Umumnya kualitas perairan tambak bermangrove lebih baik bila dibandingkan dengan tambak tanpa mangrove, hal ini ditunjukkan oleh sifat kimia dan fisika air tersebut. Kandungan deterjen (MBAS) di Kedung Peluk dan Poponcol pada tambak tidak bermangrove di atas baku mutu yang diperbolehkan untuk budidaya ikan.  Kandungan zat pencemar Pb pada ikan bandeng (Chanos chanos (Forsskl, 1775) 6,60 ppm lebih besar tiga kali di atas ambang batas (2 ppm), pada udang sebesar 3,88 ppm di lokasi tambak Tegal Tangkil tanpa mangrove. Akumulasi Zn pada ikan bandeng dan ikan mujair (Oreochromis mossambicus (w.Peters) 1852, baik di tambak bermangrove maupun tidak bermangrove di Tegal Tangkil, Kedung Peluk, dan Poponcol melebihi ambang batas yang diperkenankan. Keragaman jenis plankton di lokasi penelitian bermangrove dan tidak bermangrove termasuk kategori miskin karena nilai indeks keragaman (H’) kurang dari dua. Indeks keseragaman (E) perairan mangrove Tegal Tangkil memiliki nilai yang relatif sama dengan perairan mangrove Kedung Peluk  (0,175 dan 0,172). Indeks dominansi plankton tertinggi  0,368 di Tegal Tangkil.
INOKULASI GANDA Glomus sp. DAN Pisolithus arrhizus MENINGKATKAN PERTUMBUHAN BIBIT Eucalyptus pellita F. Muell Ragil S. B. Irianto
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2009.6.2.159-167

Abstract

Tanaman Eucalyptus pellita F. Muell dapat berasosiasi dengan dua jenis mikoriza, yaitu fungi mikoriza arbuskula dan fungi ektomikoriza. Tanaman ini  mulai ditanam untuk bahan baku pulp dan kertas oleh beberapa perusahaan hutan tanaman industri terutama di lahan-lahan marjinal di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Dalam situasi yang marjinal tersebut, fungi mikoriza arbuskula dan fungi ektomikoriza mempunyai peranan yang sangat nyata dalam meningkatkan pertumbuahn bibit di nurseri dan lebih lanjut akan membantu bibit tumbuh pada lahan yang marjinal. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang besarnya pengaruh inokulasi fungi mikoriza arbuskula dan fungi ektomikoriza terhadap pertumbuhan bibit E. pellita umur tiga bulan di pesemaian. Penelitian ini dilakukan di pesemaian dengan  tanaman uji E. pellita yang diinokulasi dengan inokulan tunggal fungi mikoriza arbuskula jenis Glomus sp. dan inokulan ganda Glomus sp.  yang dicampur dengan fungi ektomikoriza jenis Pisolithus arrhizus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  inokulasi tunggal dapat  meningkatkan pertumbuhan tinggi,  diameter, berat  kering, serapan unsur N dan P  berturut-turut sebesar 13%, 13%,  40%, 32%, dan 82% dibandingkan dengan kontrol. Sedangkan perlakuan inokulasi ganda  antara Glomus sp. dan P. arrhizus dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi, diameter, berat kering, serapan unsur N dan P berturut-turut sebesar  41%, 41%, 80%, 64%, dan 155% dibandingkan dengan kontrol.
POTENSI SISA KAYU PADA HUTAN PRODUKSI BEKAS TEBANGAN DI KALIMANTAN TIMUR Ismayadi Samsoedin; I Wayan Susi Dharmawan
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.5.565-574

Abstract

Adanya sisa kayu besar pada hutan alam bekas tebangan adalah hal yang tidak bisa dihindari karena sisa kayu dihasilkan secara alami oleh adanya pohon yang mati dan sisa kayu penebangan yang tidak termanfaatkan.   Sisa kayu besar memiliki peran penting sebagai bahan nutrisi dan hara   dalam mempertahankan keanekaragaman hayati, tetapi ha ini juga  menunjukkarr kurang efektifnya pemanfaatan kayu dalam pemanenan  hutan. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan informasi mengenai  sisa kayu besar di hutan bekas tebangan dan hutan alam dalam rangka  memperbaiki pengelolaan hutan dan menjaga keragaman jenis.  Penelitian ini dilakukan pada hutan produksi bekas tebangan di hutan hujan tropik dataran rendah, Kalimantan Timur. Data  dikumpulkan  dari  16 petak berukuran masing-masing 1 ha, terdiri dari empat petak untuk tiap perlakuan yaitu petak bekas tebangan berumur 5, 10, dan 30 tahun  serta 4 petak pada hutan primer sebagai petak kontrol. Dari hasil   penelitian ini terbukti bahwa tidak terjadi perubahan yang nyata dalam hal jumlah batang untuk sisa kayu berdiri dan rebah, Juas bidang dasar, dan volume kayu antara hutan primer dengan hutan bekas tebangan 5, 10,  dan 30 tahun. Meskipun  tidak  berbeda nyata, sisa kayu pada hutan  primer  di lokasi penelitian  sebesar 67,3 m3 /ha atau 2 kali lebih besar  daripada hutan primer di Costa Rica.
APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK PERHITUNGAN KOEFISIEN ALIRAN PERMUKAAN DI SUB DAS NGUNUT I, JAWA TENGAH Nining Wahyuningrum; Irfan Budi Pramono
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2007.4.6.561-571

Abstract

Informasi tentang besarnya aliran permukaan sangat diperlukan dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS). Besarnya aliran permukaan dipengaruhi oleh jenis penutupan lahan, tanah, dan kelerengan. Bagian penting dari aliran permukaan adalah debit puncak (peak runoff), waktu konsentrasi, volume dan distribusinya. Parameter ini mencerminkan kondisi suatu DAS. Namun demikian, untuk mengetahui perubahan dalam suatu DAS, parameter ini harus diukur langsung sebelum dan sesudah suatu perlakuan diterapkan. Perubahan penutupan lahan adalah salah satu contoh dari perlakuan ini yang dapat merubah volume, distribusi, dan debit puncak. Tulisan ini akan membahas metode pengaplikasian Sitem Informasi Geografis (SIG) dan rumus rasional untuk mengestimasi koefisien aliran permukaan di Sub DAS Ngunut I dibandingkan dengan pengukuran langsung dengan AWLR dan perhitungan secara manual koefisien aliran permukaan dengan rumus rasional. SIG bekerja dengan cara menumpangsusunkan peta penutupan lahan, tanah,  dan  kelerengan untuk  mengestimasi koefisien aliran permukaan. Disimpulkan bahwa  SIG dapat diaplikasikan untuk mengestimasi koefisien aliran permukaan dengan penyimpangan sebesar -5,2% dan 3,3% dibandingkan dengan pengukuran langsung. Tidak hanya estimasi besarnya koefisien aliran permukaan, SIG  juga dapat  memperlihatkan  penyebaran  dan  pola  penyebaran  koefisien  aliran permukaan  serta mendeteksi faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam pengelolaan DAS informasi ini sangat penting dalam rangka untuk menentukan tindakan-tindakan yang tepat untuk mengendalikan aliran permukaan di unit lahan yang tepat pula.
POLA DAN NILAI LOKAL ETNIS DALAM PEMANFAATAN SATWA PADA ORANG RIMBA BUKIT DUABELAS PROVINSI JAMBI Novriyanti Novriyanti; Burhanuddin Masy’ud; M. Bismark
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2014.11.3.299-313

Abstract

Orang Rimba merupakan salah satu etnis yang tinggal di dalam dan di luar kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas, Provinsi Jambi. Untuk mendukung cara  hidup berpindah dan berkelompok, Orang Rimba memanfaatkan bermacam jenis satwa dan memiliki pola pemanfataan yang beragam. Penelitian etnozoologiini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang jenis satwa yang dimanfaatkan Orang Rimba, peruntukan,cara memanfaatkan dan nilai-nilai yang terkandung dalam upaya mendapatkan satwa tersebut. Penelitian dilakukan pada bulan September-Oktober 2013. Data dikumpulkan dengan cara wawancara terbuka padaOrang Rimba kelompok Makekal Tengah, Makekal Hilir, Air Hitam dan Terap. Hasil penelitianmenunjukkan ada 29 jenis satwa yang dimanfaatkan Orang Rimba sebagai sumber protein hewani(48,28%)bahan obat (20,69%), terlindungi adat (24,14%) dan dijual (6,90%). Daging merupakan bagian tubuh yang paling banyak dimanfaatkan (62%). Menurut aturan adat Orang Rimba, kegiatan berburu satwa bolehdilakukan di dalam hutan, kecuali di dalam hutan inti, yaitu zona inti Taman Nasional Bukit DuabelasProvinsi Jambi dan dilarang memburu satwa yang terlindungi adat
PENGARUH LEBAR JAUH BERSIH TERHADAP PERTUMBUHAN JENIS MERANTI MERAH PENGHASIL TENGKAWANG (Shorea stenoptera dan shorea mecistopteryx) DI HUTAN PENELITIAN HAURBENTES, BOGOR Nina Mindawati; Hesti Lestari Tata; Ika Heriansyah; Rina Bogidarmanti; Yetti Heryati; Acmad Syaffari
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2005.2.2.167-174

Abstract

Shorea stenoptera dan shorea mecistopteryx merupakan jenis yang populer dalam dunia perdagangan sebgai kayu tropis yang mempunyai kualitas baik dan juga dapat menghasilkan buah tengkawang. Penelitian yang dilakukan di Hutan Penelitian Haurbentes bertujuan untuk mencari pengaruh serbagai lebar jalur bersih terhadap pertumbuhan dan daya hidup jenis pohon penghasil tengkawang S.stenoptera dan S. mecitopteryx.Penelitian berdasarkan rancangan Split Plot, dengan dua jenis shores sebagai petakutama dan jalur bersih sebagai anak petak.Tiap perlakuan diulang dua kali, dengan lima perlakuan lebar jalur bersih dan jarak tanam 3mx4m. Hasilpenelitian menunjukan rata-rata persen tumbuh untuk S. stenoptera 68,31% dan S. mecistopteryx 41,34%. Tinggi untuk S. stenoptera berkisar 122,68cm-148,54cm dan berdiameter1,38cm -1,77cm sedangkan S.mecitopteryx tinggi sekitar 117,61cm-157,28cm dan diameter ,23cm-1,73cm.Perlakuan lebar jalur bersih dua meter berpengaruh sangat nyata terhadap pertumbuhan diameter S. stnoptera dan S.mecistopteryx . Kesuburan tanah diareal penanaman rendash Totalpopulasi fungsi dan bakteri masing-masing adalah 0,81 x 10 CFU/gr tanah dan 10,03 x 10 CFU/gr tanah.Prestasi kerja dari mulai penyiapan lahan,penanaman dan Pemeliharaan memerlukan 82 HOK/ha.
PENGARUH PERILAKU PENGUNJUNG TERHADAP JUMLAH KUNJUNGAN DI TAMAN WISATA ALAM PUNTI KAYU PALEMBANG B. Tejo Premono; Adi Kunarso
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2008.5.5.423-433

Abstract

ABSTRAK Rekreasi adalah suatu aktivitas untuk memberikan kesenangan dan sebagai sarana untuk   mengembalikan kesegaran pada  sikap  mental.Taman Wisata  Alam (TWA)  Punti  Kayu  merupakan satu-satunya tempat rekreasi bernuansa alam yang ada di kota Palembang dan primadona bagi masyarakat. Namun pada kenyataannya jumlah kunjungan TWA mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pengunjung dalam kunjungan ke TWA Punti Kayu. Untuk itu perlu diperoleh informasi mengenai perilaku pengunjung TWA Punti Kayu untuk meningkatkan jumlah pengunjung di masa mendatang. Pengumpulan dan pengolahan data menggunakan pengukuran Skala Likert kemudian dilakukan analisis dengan model regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor promosi, harga, produk, dan psikologis mempengaruhi perilaku pengunjung dan faktor psikologis merupakan faktor yang paling dominan. Faktor pendidikan dan pendapatan tidak mempengaruhi perilaku pengunjung.
PREDIKSl MUSIM PUNCAK BUAH EMPAT JENIS MANGROVE BERDASAR HASIL FENOLOGINYA Chairil Anwar
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2006.3.3.237-247

Abstract

Pengarnatan secara kontinyu  proses terbentuknya buah mangrove matang dilakukan terhadap sepuluh tangkai yang memiliki  bakal tunas  bunga dan setiap pohon contoh. Berdasar hasil pengamatan fenologi  ernpat jenis mangrove di kawasan mangrove Suwung,Tarnun Hutan  Raya Ngurah Rai, Bali, telah diketahui waktu-wuktu yang  diperlukan   pada masing-rnasing proses tahapan fenologi mangrove: munculnya     tunas  bunga, munculnya bakal bunga, bunga siap mekar, bunga pada keadaan mekar, terbentuknya bakal  buah, buah muda serta buah matang, Sonneratia alba J Smith mernerlukan waktu 15  rninggu untuk menjadi buah rnatang sejak munculnya tunas muda pada ketiak daun  di ujung ranting.  Rhizophora  apiculata  B.L. memerlukan waktu 61  minggu, Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk  36 minggu, serta R. mucronata  Larnk  60 minggu. Dengan  diketahuinya tahapan fenologi ini maka dapat  diprediksi  berapa lama lagi buah mangrove  akan matang, apabila  dijumpai salah  satu  tahapan fenologi  mangrove di  lapangan. Dengan mcngadakan studl lapangan guna mengetahui   tahapan fenologi   mangrove  yang paling  dominan pada  suatu  kawasan  tertentu serta pada suatu  saat tertentu,maka dapat diprediksi   kapan akan  terjadi  musim puncak  berbuah  mangrove, yang pada  gilirannya  akan  membantu dalam  rangka  perencanaan  pengunduhan   buah  serta penyediaan bibit mangrove.
POTENSI SEKUESTRASI KARBON ORGANIK TANAH PADA PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN Acacia mangium Willd Harris Herman Siringoringo
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphka.2013.10.2.193-213

Abstract

Pembangunan hutan tanaman dapat meningkatkan potensi sekuestrasi karbon organik tanah. Simpanan C organik tanah kumulatif pada hutan tanaman Acacia mangium Willd pada tipe tanah Acrisols dikuantifikasi dua kali, yaitu: pada awal setelah penyiapan lahan dan empat tahun setelah penanaman  dengan menggunakan pendekatan massa tanah setara. Penelitian dilaksanakandi Resort Polisi Hutan (RPH) Maribaya,  Kabupaten Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  kerapatan massa (BD) tanah pada kedalaman 0-10 cm menurun sangat nyata (p < 0,001)  setelah empat tahun penanaman, namun tidak berbeda nyata pada kedalaman tanah yang lebih bawah ( 10-100 cm). Kandungan karbon organik tanah meningkat sangat nyata (p< 0,001), namun tidak berbeda  pada kedalaman yang lebih bawah (30-100 cm). Simpanan karbon organik tanah kumulatif pada kedalaman 0-30 cm meningkat  8,8 ton C/ha dari 66,1 ton C/ha ke 74,9 ton C/ha, dengan potensi laju sekuestrasi karbon ke dalam tanah sebesar 2,30 ton C/ha/tahun (2,3% per tahun). Simpanan karbon organik tanah kumulatif pada kedalaman 0-100 cm tidak berbeda secara statistik di antara kedua seri waktu dalam periode yang sama. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pembangunan hutan tanaman A. mangium pada tipe tanah Acrisols di Maribaya dapat meningkatkan laju sekuestrasi karbon organik tanah.

Filter by Year

2004 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 19, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue