Media Wisata
Media Wisata (ISSN: 1693-5969) (EISSN: 2685-8436) published twice a year on May and November by Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta, Indonesia. Media Wisata has been accredited by the Ministry of Technology Research and Higher Education of the Republic of Indonesia. The publication of this journal is a scientific journal in the field of tourism studies. The manuscript can be research papers, review articles, and conceptual, technical and methodological papers on all aspects, including research findings, experimental design, analysis, and recent application in tour and travel studies. The scope of these areas includes tourism; Community Based Tourism (CBT); hospitality; hotels; tourism marketing; tourism management; travel industry; rural tourism; culture and heritage tourism
Articles
527 Documents
Sikap Mahasiswa dalam Memilih Tempat Kos
Santosa
Media Wisata Vol. 2 No. 1 (2003): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3238.604 KB)
|
DOI: 10.36276/mws.v2i1.32
Fenomena tempat tinggal sementara bagi mahasiswa (rumah kost/kontra) di Yogyakarta telah menjadi kajian yang sangat menarik, karena semakin banyaknya jumlah mahasiswa luar Yogyakarta yang melakukan studi lanjut di Yogyakarta. Fenomena ini telah membawa pengaruh dengan semakin suburnya usaha jasa tempat tinggal sementara. Layaknya sebuah produk yang memiliki nilai jual yang cukup menjanjikan, maka semakin tahun semakin banyak pengusaha rumah tinggal sementara baik orang asli Yogyakarta maupun orang luar Yogyakarta. Mahasiswa sebagai konsumen yang berdaya beli potensial memiliki berbagai alternatif penilaian terhadap berbagai atribut yang melekat pada produk jasa rumah tinggal tersebut. Banyaknya atribut yang melekat tersebut akan berpengaruh pada sikap mahasiswa dalam menentukan pilihan rumah tinggal sementara. Karena sikap merupakan faktor utama dalam menentukan pilihan pembelian. Sikap akan dipengaruhi oleh banyak faktor di antaranya adalah jenis Perguruan Tinggi. Pada mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri relatif lebih sederhana dalam memilih tempat tinggal sementara, sedangkan kebanyakan mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta relatif lebih teliti dalam melakukan tindakan pembelian jasa rumah tinggal sementara. Kenyataan ini akan berimplikasi pada penyediaan berbagai macam produk rumah tinggal sementara yang disesuaikan dengan atribut yang dipilih oleh mahasiswa.
Legenda Ratu Kidul, Merapi, Krapyak
Gatut Murnianto
Media Wisata Vol. 2 No. 2 (2004): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5174.744 KB)
|
DOI: 10.36276/mws.v2i2.33
Legenda Ratu Kidul - Tugu - Merapi - Krapyak menggambarkan alam pikir orang Jawa yang sederhana. Menurut alam pikir orang Jawa, realitas tidak dapat dibagi dalam berbagai bidang yang terpisah-pisah dan tanpa hubungan satu kesatuan yang menyeluruh. Dunia, masyarakat dan alam adikodrati (supranatural) bagai orang Jawa merupakan satu kesatuan pengalaman. Jadi masing-masing tidak berdiri sendiri. Dalam alam pikir sederhana, alam (semesta) itu dianggap mempunyai kekuatan adikodrati atau supranatural. Dengan kekuatan ini alam (semesta) dianggap keramat atau sakral. Sikap manusia terhadap alam adikodrati ini diwujudkan dengan nilai yang praktis untuk mencapai suatu keadaan yang psikis tertentu, yaitu ketenangan, ketentraman, dan keseimbangan batin, ini akan membawa pada hidup sejahtera bagi anggota masyarakat. Ratu Kidul - Merapi adalah wujud personifikasi dari supranatural. Ratu Kidul adalah sosok yang diakui sebagai penguasa Laut Kidul yang diyakini oleh penduduk memiliki kekuatan supranatural. Merapi atau Gunung Merapi dalam Kosmologi Jawa dikatakan sebagai wujud Bathara Siwa yakni alam semesta, yang banyak menyimpan kekuatan supranatural dan bila lebih diperluas adalah manusia, dalam hal ini Poerbatjaraka (1952) menyebutkan : Bathara Siwa = Suwung; Sipatipun ingkang alus, inggih puniko aluso dhonyo; Yen karingkes, dados aluse meru; Yen karingkes malih, dados alusing manungso; (Bathara Siwa = Kosong = Alam semesta sifatnya yang halus dunia apabila diringkas adalah GununBila diringkas lagi adalah manusia). Dalam konsep Hindu, Gunung atau Meru itu tempat para Dewa. Karena itu Gunung atau Meru ini menyimpan kekuatan supranatural. Tugu yang lalu dikatakan golong-gilig adalah wujud kemanunggaling kawula dengan Gusti atau Penguasa (Pemimpin Negara). Tugu ini juga merupakan gambaran kedekatan manusia dengan Tuhan. Karena itu Sri Sultan sebagai pengayom kawula meletakkan tugu yang lurus dengan singgasana tempat duduk Sri Sultan. Krapyak dibuat sebagai lambang awal dari hidup manusia, sangkaning dumadi. Jadi bila diurutkan letak Krapyak - Tugu - Merapi - sampai Laut Kidul, menggambarkan tentang : Sangkan Paraning Dumadi. "Laut Kidul merupakan sumber kekuatan manusia. Ingat cerita "Dewa Ruci" ini satu hal yang menarik bila dikaji lebih mendalam. Dari ini Yogyakarta membuktikan bahwa tidak saja kaya obyek wisata secara fisik tetapi juga isi dari obyek wisata itu.
Pentingnya Housekeeping bagi Suatu Hotel
Parsidi
Media Wisata Vol. 2 No. 2 (2004): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3078.107 KB)
|
DOI: 10.36276/mws.v2i2.34
The general public tends to think of Housekeeping as the Department that: makes the head, empties the ashtray and waste basked, tidies up the bathroom and leaves fresh towels. The truth of the matter is of course that it takes more manpower to accomplish. Housekeeping's almost countless function than those of any other Department in the lodging industry. Housekeeping's responsibility may begin with fabrics, and progress to the selection and purchase of all furniture and furnishings; it encompasses not only their cleaning but their maintenance, repair, refurbishment and eventual replacement. Areas of concern include: sleeping rooms, meeting rooms, halls and elevator, all considered "front of the house" The designation also includes all other public areas from lobbies to washrooms to restaurant and cocktail lounges. Outdoor areas such as pools and patios. Housekeeping also oversees almost the entire "back of the house", from locker rooms to employee dining, virtually everything.
Persiapan Dinas Pariwisata Daerah Tingkat II Sleman dalam Menyambut Pariwisata 2005 dan Otonomi Daerah
Sri Larasati
Media Wisata Vol. 2 No. 2 (2004): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5608.962 KB)
|
DOI: 10.36276/mws.v2i2.35
In the next 2005, RIPPNAS and WTO report that either foreign or domestic tourist is still coming to Indonesia, even move than 8,4 to 10 millions at the end of 2010. The declaration of municipal authority written in UU No. 22, 1999 conduct Yogyakarta tourism development, especially Sleman district. This research is done not only to know how far Sleman as the whole prepares in future but found that the government has already developed the tourism sector as well, such as putting down in RIPPDA, without neglecting the national, regional and economic life. Tourism's growing supported by natural, human resources and other side involve such as culture and business.
Manajemen Pelayanan Industri Jasa
Santosa
Media Wisata Vol. 2 No. 2 (2004): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5325.36 KB)
|
DOI: 10.36276/mws.v2i2.36
Perkembangan sektor jasa seiring dengan perkembangan perekonomian dunia. Di negara maju perkembangan sektor jasa justru melebihi sektor manufaktur dan industri barang. Hal ini menunjukkan bahwa sektor jasa semakin diperlukan oleh manusia. Pengelolaan industri jasa memiliki spesifikasi yaitu lebih menekankan dalam keterlibatan sumber daya manusia, artinya dalam industri jasa manusia berperan sangat penting dibanding faktor produksi yang lain (modal, teknologi). Kepentingan faktor tenaga kerja ini mengandung arti bahwa pelanggan lebih banyak mengharapkan adanya kontak langsung (direct contact) dalam proses pertukaran. Dengan demikian pelanggan dapat langsung memberikan penilaian tentang kinerja produk jasa memuaskan atau tidak memuaskan. konsekuensi terjadinya kontak langsung antara pembeli dan penjual itulah yang dinilai sebagai faktor pelayanan, oleh karenanya pelayanan telah menjadikan produk jasa bernilai tinggi dan rendah. Untuk menjamin kepuasan pelanggan maka penyelenggara jasa harus siap setiap waktu dalam keadaan prima (service excellent). Berkaitan denga hal diatas sebab itu pengelolaan organisasi jasa baik dalam hal pemasaran maupun dalam hal penyelenggaraan jasa bersifat sangat labil artinya sangat sulit untuk bisa diukur. Oleh sebab itu produk jasa sangat sulit distandarkan. Memasarkan dan mengelola produk jasa tidak sekedar janji tetapi harus bukti, memasarkan produk jasa diawali dari penyampaian tentang informasi produk, proses produk dan pelayanan pasca pembelian produk (after sales service).
Dasar Pemikiran Filsafati Pengambangan Daerah Pariwisata
Saryani
Media Wisata Vol. 2 No. 2 (2004): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2617.658 KB)
|
DOI: 10.36276/mws.v2i2.37
Speaking about tourism it needs to look at the global correlation that the object and tourist. Infrastructure is needed for both. The negative and positive effect found in tourism development. That is why they do have to pay more attention in constructing between tourism and human surrounding and the creative.
Menyikapi Bisnis Jasa Pariwisata melalui Bauran Pemasaran
Santosa
Media Wisata Vol. 2 No. 2 (2004): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3417.269 KB)
|
DOI: 10.36276/mws.v2i2.38
Salah satu aktivitas dari sebuah industri adalah menciptakan barang dan atau jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen, sedangkan salah satu aktivitas marketing adalah melakukan penjualan. Dalam aktivitas ini pemasar (marketer) meletakkan berbagai indikator agar barang dan atau jasa bisa tepat pada sasaran (target market). Indikator-indikator tersebut lebih sering dikenal dengan bauran pemasaran (marketing mix) yang oleh Mc. Carthy dikenal dengan 4 P (product, price, place and promotion). Dalam industri jasa indikator 4 P tersebut tentunya kurang lengkap karena produk jasa memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk industri fisik (barang murni). Kenyataan ini menunjukkan perlunya pebisnis mengadakan pengkajian tentang bauran pemasaran pada produk jasa.
Total Quality Management sebagai Alat Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia pada Industri Jasa Pariwisata
Teguh Suripto
Media Wisata Vol. 3 No. 1 (2005): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (7852.116 KB)
|
DOI: 10.36276/mws.v3i1.40
Manajemen mutu pada dasarnya adalah suatu instrumen penting bagi suatu perusahaan. Perusahaan tidak terikat oleh kapasitas dan umurnya, akan memerlukan Manajemen Mutu untuk memenangkan kompetisi dengan kompetitor lainnya. Perusahaan akan terus dituntut untuk berinovasi didalam menghasilkan produk-produk yang bermutu. Setiap pelaku bisnis (seluruh karyawan, dari basic level sampai top management), harus memenangkan kompetisi, dengan cara memberikan perhatian dan melaksanakan komitmen secara penuh kepada mutu. Konsekuensi dari pelaksanaan Total Quality Management oleh perusahaan adalah akan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia yang kita miliki, peningkatan ketrampilan dan kemampuan karyawan untuk menguasai bidang pekerjaannya, kemampuan karyawan untuk menganalisa gap yang menyebabkan kegagalan penyampaian jasa kepada tamu atau konsumen, dan pada akhirnya keberhasilan pelaksanaan Total Quality Management ini akan bergantung kepada komitmen seluruh karyawan untuk melaksanakannya dengan baik (Optimism and Positive Thinking)
Visi Birokrasi Menuju Pasar Global Pariwisata
Mona Erythrea
Media Wisata Vol. 3 No. 1 (2005): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (6308.581 KB)
|
DOI: 10.36276/mws.v3i1.41
Sebagai bagian dari negara dunia, perubahan-perubahan global terhadap aspek dan sendi-sendi kehidupan tak mungkin terelakkan. Kekuatan globalisasi telah mampu menggeser pola dan gaya hidup masyarakat dunia, tak terkecuali dalam industri pariwisata. Proses globalisasi telah merubah bentuk dan struktur industri pariwisata. Fenomena tersebut menuntut negara-negara di dunia untuk berevolusi dalam sistem pemerintahan yang baru yang adaptif, inovatif dan peka terhadap perubahan. Birokrat sebagai ujung tombak pengelola negara mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk melakukan perubahan (agent of change), termasuk dalam bidang pariwisata yang menjadi salah satu andalan penghasil sumber devisa bagi Indonesia. Birokrasi yang semula identik dengan kekuatan, kelambanan, dan berorientasi pada status quo, harus mampu merubah diri menjadi birokrasi yang organis adaptif.
Cara Praktis Untuk mewujudkan Kepuasan Pelanggan
Prihatno
Media Wisata Vol. 3 No. 1 (2005): Media Wisata
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3674.997 KB)
|
DOI: 10.36276/mws.v3i1.42
Kepuasan pelanggan ditentukan oleh persepsi pelanggan atas performance produk atau jasa alam memenuhi harapan pelanggan. Pelanggan merasa puas apabila harapannya terpenuhi atau akan sangat puas jika harapan pelanggan terlampaui. Pertanyaan yang fundamental adalah apa sebenarnya yang membuat pelanggan puas? Perusahaan harus menyusun strategi program peningkatan kepuasan pelanggan melalui 5 driver kepuasan pelanggan yaitu kualitas produk, harga, kualitas palayanan, emotional factor, dan yang kelima adalah berhubungan dengan biaya dan kemudahan untuk mendapatkan produk dan jasa. Setelah itu harus ditetapkan bobot tertinggi diantara kelima driver itu dalam menciptakan kepuasan pelanggan. Penentuan bobot harus mempertimbangkan produk yang dihasilkan dengan memperhatikan dinamisasi waktu. Besarnya bobot setiap driver dapat diketahui melalui survei pasar.