cover
Contact Name
Nur Arifin
Contact Email
diskursus@uin-alauddin.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
diskursus@uin-alauddin.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Diskursus Islam
ISSN : 23385537     EISSN : 26227223     DOI : -
Jurnal Diskursus Islam adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Pascasarjana UIN Alauddin Makassar yang merefleksikan diri sebagai wadah akademik untuk publikasi artikel ilmiah. Jurnal ini menfokuskan pada kajian/studi islam dalam berbagai aspeknya yang diharapkan dapat memberi referensi bagi pembaca dalam pengembangan wawasan akademik dan keilmuan.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 2 (2018): August" : 9 Documents clear
HADIS-HADIS TENTANG PUASA ‘ASYURA (Suatu Kajian Living Sunnah di Kecamatan Bola Kabupaten Wajo) Darmiati Darmiati; Muhammad Yahya; Andi Darussalam
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6555

Abstract

Pokok masalah penelitian ini adalah bagaimana hadis-hadis tentang hari ‘asyura (studi kajian living sunnah di Kecamatan Bola Kabupaten Wajo)? Adapun masalah yang dipecahkan dalam penelitian ini adalah: 1) Bagaimana gambaran hadis-hadis hari ‘asyura; 2) Bagaimana bentuk-bentuk tradisi di Kecamatan Bola Kabupaten Wajo pada hari ‘asyura; dan 3) Bagaimana pengamalan hadis hari‘asyura di Kecamatan Bola Kabupaten Wajo. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian lapangan yang bersifat kualitatif dengan menggunakan tiga  pendekatan yaitu: 1) Pendekatan historis; 2) Pendekatan sosiologis; dan 3) Pendekatan Fenomenalogis. Sumber data terdiri atas dua sumber data, yaitu data primer dan data sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang diperoleh dari observasi dan wawancara, sedangkan sumber data sekunder adalah sumber data yang diperoleh dari dokumen. Kemudian metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik pengolahan dan analisis data melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  pertama, gambaran hadis-hadis hari ‘asyura, banyak hadis yang menunjukkan kepada kita sebagai umat Nabi Muhammad saw. perintah untuk melaksanakan ibadah puasa pada hari ‘asyura; kedua, bentuk-bentuk tradisi di Kecamatan Bola Kabupaten Wajo yang terkait dengan hari ‘asyura ada dua yaitu bubur tujuh macam dan pembelian perabot rumah tangga. Bubur tujuh macam tesebut terbuat dari tujuh macam bahan makanan adalah beras ketan, kacang ijo, labu, kacang tanah, pisang, nangka dan ubi jalar. Sedangkan pembelian perabot rumah tangga dengan awalan huruf  “p” (dalam bahasa bugis). Seperti, pattapi, passero, dan passering; ketiga, pengamalan hadis ‘asyura di Kecamatan Bola Kabupaten Wajo bukan dengan cara berpuasa saja, akan tetapi juga melalui berbagai macam cara, seperti zikir  mengaji, bersedekah bersedekah.
METODOLOGI PENAFSIRAN SAID NURSI DALAM KITAB ISYARAT AL-I’JAZ FI MAZANN AL-IJAZ M Iqbal Nasir; Muhammad Galib; Firdaus Firdaus
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6556

Abstract

Subject matter in this research is how the methodology of interpretation of Said Nursi in Scripture Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-Ijaz The purpose of this research is to 1) to know the method of interpretation of Said Nursi in Scripture Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-Ijaz, 2) to know the approach to and interpretation of Said Nursi in Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-Ijaz, 3) to know the techniques of interpretation of Said Nursi in Scripture Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-Ijaz, 4) to know the advantages and limitations of the interpretation of Said Nursi in Scripture Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-Ijaz. This type of research is the research library research. Research approach in this research is the approach of science of tafseer. As for the data sources used are primary and secondary sources. The next method of data collection was done by affirming the theme data is searchable, affirmed the source data, do data coding or classification to facilitate the researchers in this study. And techniques of processing and data analysis is performed using data reduction system, data and cereal drawdown conclusion. The results showed that: 1) method of interpretation used Said Nursi in Scripture Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-Ijaz is a method of tahlili or analysis, 2) approach is Said Nursi use in Scripture Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-Ijaz is the theological approach. And the pattern is the pattern of Isyari,  3) Said Nursi interpretation techniques apply in the book Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-Ijaz textual interpretation and technique is contextual, 4) the advantages of book Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-Ijaz are: a) the sentence that concisely, b) use three stages in interpreting the Qur'an, verse by verse previous relationships, relationship verse in the form of phrases, the texts in each relationship, c) reveal the secrets and wisdom which contained in every verse of the Qur'an, d) forms of questioning in its interpretation, e) proposes nazm al-Qur'an, f) independently thinking israiliyyat, g) combines several disciplines in interpreting the Qur'an. As for the limitations that are owned are: a) interpreted the surah al-Fatihah and surah al-Baqarah, b) the language used is very elusive, c) understanding book of Isyarat al-I’jaz fi Mazann al-Ijaz limited to people who had the insight a vast, d) does not mention the asbab al-nuzul ayah, e) are not listed the sources reference. The implications of research in this research study is expected to contribute to the academic community in reviewing the methodology of interpretation of which has a significant role in helping understand the Systematics of the scholars in the interpret the verses of the Qur'an.
IMPLEMENTASI ASAS DISPENSASI KAWIN DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI AGAMA PALU PERSPEKTIF MASLAHAH Massadi Massadi; Abd. Qadir Gassing; Usman Jafar; Kasjim Salenda
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6552

Abstract

The results of the study revealed that the degree of election of marriage dispensation in the jurisdiction of the Religious High Court of Palu was motivated by several factors, namely the pregnancy occurrence, parents' concerns, economic, matchmaking, and culture when  was about to get married and still under-age so it had to firstly apply for dispensation of marriage to the religious court in accordance with Act No. 1 of 1974, Article 7 Paragraph (1) and (2) Concerning Marriage jo Compilation of Islamic Law Article 15 Paragraphs (1) and (2). The application of marriage dispensation was submitted to the court, then will be on trial and judge’s consideration in granting marriage dispensation which was not bound by the single positive law yet it was a consideration of justice, legal sociology and benefits that emphasized the implementation of maslahah principle as well.
HIBAH SEBAGAI ALTERNATIF PEMBAGIAN HARTA PADA MASYARAKAT SUKU PATTAE (TELAAH ATAS HUKUM ISLAM) Aminuddin Aminuddin; Usman Jafar; Supardin Supardin
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6553

Abstract

Artikel ini membahas tentang “Hibah sebagai Alternatif Pembagian Harta pada Masyarakat Suku Pattae (Telaah atas Hukum Islam).” Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field reseach) dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Yaitu suatu jenis penelitian yang dimaksudkan untuk mengelola data yang terkumpul melalui wawancara terstruktur. Pendekatan analisis yang digunakan adalah descriptif analisis (analisis deskriptif). Sementara pendekatan penelitiannya adalah teologis normatif, yaitu suatu pendekatan yang mencoba memaparkan pemahaman dari sudut pandang hukum Islam untuk menjelaskan persoalan hibah orang tua sebagai alternatif pembagian harta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep hibah yang berlaku pada masyarakat suku Pattae dilakukan dengan cara berimbang, yaitu membagi rata tanah milik orang tua kepada seluruh anak yang ada melalui musyawara antara orang tua dan anak, baik ia anak laki-laki maupun anak perempuan. Namun perlu dicatat, bahwa harta milik orang tua yang telah diberikan kepada anak sewaktu-waktu bisa ditarik kembali oleh orang tua apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Implikasi Penelitian; Keseimbangan antara hak dan kewajiban akan selalu hadir dari setiap keputusan yang bijaksana dan arif, tidak terkecuali dalam masalah pembagian harta. Al-Qur’an sebelum diturunkan di tanah Arab hak seorang perempuan dalam mendapatkan harta tidak dimungkinkan karena posisi dan derajat yang bangsa Arab anggap tidak ada nilainya. Namun setelah ke-Islam telah datang, maka hak seorang perempuan mulai tumbuh selayaknya hak seorang laki-laki pada umumnya. Islam tidak melihat hak seseorang dari sisi subjeknya tetapi melihat dari sisi kebutuhan dan tanggungjawabnya, maka setiap hak seorang laki-laki atau perempuan dalam mendapatkan harta haruslah berbanding lurus dengan kebutuhan dan tanggungjawab yang ia emban demi suatu keseimbangan dalam kehidupan yang lebih tentram.
INDAHNYA KEBERSAMAAN [Sebuah Ikhtiar dalam Membangun Kampus Bertaqwa Untuk Membawa Berkah (BERUBAH) dalam Perspektif Hadis] La Ode Ismail Ahmad
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6554

Abstract

Islam adalah agama kebersamaan. Ajakan agama untuk hidup bersama dilandasi oleh posisi, kedudukan dan kapasitas manusia sebagai makhluk sosial. Salah satu upaya yang efektif dalam memperkukuh kebersamaan adalah kesadaran untuk mengembangkan dialog secara intensif di kalangan anggota masyarakat, baik antara satu individu dan individu lain, maupun antara satu kelompok dan kelompok lain dalam suatu masyarakat. Kebersamaan dalam Islam disebut dengan al-jama’ah. Makna al-jama’ah dalam hadis dari 171 kali penyebutannya, dapat dikategorisasikan –untuk sementara sebagai kajian awal—dalam empat hal, yakni kebersamaan dalam ibadah, kebersamaan merupakan sumber rahmat, kebersamaan merupakan sumber berkah dan kebersamaan melahirkan ‘tangan’ [kekuasaan dan pertolongan] Allah. Kebersamaan merupakan sumber rahmat dari Allah swt., karena rahmat-Nya hanya terdapat pada mereka yang menyebarkan rahmat di muka bumi. Mereka dapat membangun hidup dengan kebersamaan jika tidak ada kebencian dan kecemburuan dalam dada mereka, yang ada hanyalah kasih sayang di antara mereka. Kebersamaan akan melahirkan kebaikan-kebaikan sebagai implikasi dari saling menghormati, saling membantu, saling merasakan dan saling menghargai di antara anggota masyarakat. Prinsip dan karakter seperti ini harus dimiliki oleh setiap orang agar tercipta sebuah kerukunan dalam berinteraksi secara horizontal. Kebersamaan dapat dibangun jika masing-masing individu memiliki sikap untuk saling memberi pertolongan. Pertolongan kepada sesama manusia akan melahirkan pertolongan dari Allah swt. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah, Nabi bersabda, ‘Allah akan selalu memberi pertolongan kepada seseorang selama ia memberi pertolongan kepada saudaranya [sesamanya]. Ungkapan Nabi di atas menunjukkan bahwa pertolongan Allah akan datang melalui kerjasama antara manusia. Sebagai makhluk sosial, seseorang harus sadar bahwa ia tergantung kepada pihak lain, di mana kebutuhannya tidak dapat terpenuhi melalui usahanya, usaha kelompoknya bahkan usaha bangsanya sendiri. Hidup hanya mungkin dan nyaman apabila dibagi dengan orang lain, sehingga masing-masing berperan serta dalam menyediakan kebutuhan bersama.
SISTEM SANKSI PERDAGANGAN ANAK MENURUT HUKUM ISLAM Sukirno Sukirno; Sitti Aisyah Kara; Jumadi Jumadi
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6738

Abstract

Sistem sanksi terhadap tindak pidana perdagangan anak di Indonesia dan hukum Islam, yaitu di Indonesia di atur dalam Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Sedangkan dalam hukum Islam, hukuman bagi pelaku perdagangan orang bisa termasuk jarimah hudud, qishahsh, dan ta’zir tergantung kepada akibat yang ditimbulkan terhadap korban. Kejahatan perdagangan manusia terutama perempuan dana anak berkembang karena adanya berbagai faktor pendorong, satu diantaranya yaitu faktor kemiskinan. Masyarakat miskin yang berada di daerah-daerah terpencil dijanjikan pekerjaan yang gajinya besar mendorong anak-anak tersebut terdorong untuk mengikuti ajakan dari para pelaku. Kondisi tingkat kemiskinan tersebut semakin mudah untuk dipengaruhi dika dibarengi dengan tingkat pendidikan yang rendah. Masyarakat tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk menganalisis ajakan dari para pelaku yang menawarkan gaji yang besar jika tingkat pendidikan yang dimiliki oleh seseorang tersebut tidak ada.
SUMBER MIMPI DALAM PERSPEKTIF HADIS M. Yusuf Assagaf; M. Galib; M. Abduh Wahid
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6788

Abstract

Tulisan ini mengelaborasi tentang sumber mimpi dalam perspektif hadis Nabi. Metode yang digunakan dalam pengumpulan hadis adalah metode takhrij yang meng-analisis (tahlili) kandungan hadis dengan menggunakan pendekatan Ilmu Hadis dan Ilmu Psikolog. Hasil penelitian ini menunjukkan mimpi adalah sebuah peristiwa yang terlihat ketika seseorang tertidur, di mana mimpi itu terkadang mengandung kebenaran dan terkadang pula hanya sekedar bunga tidur yang tidak terdapat unsur kebenaran di dalamnya. Sementara hadis al-ru’ya salasah terdapat 13 riwayat melalui 2 sahabat dari 7 Mukharij. Sanad dan matan hadis yang diteliti berkualitas sahih. Sanadnya dinilai sahih karena periwayatannya bersambung, periwayatnya ‘adil dan dabit, serta tidak ditemukan syaz dan ‘illah pada matannya. Meskipun matan hadis al-ru’ya salasah terdapat banyak perbedaan dalam periwayatannya karena mengalami penambahan (ziyadah), pengurangan (nuqsan), pemutar balikkan lafal (inqilab), perubahan (tagyir), dan sisipan (idraj), akan tetapi semua itu tidak merusak makna hadis sehingga terhindar dari ‘illah. Matan hadis al-ru’ya salasah juga selaras dengan al-Qur’an, hadis sahih, sejarah dan logika sehingga terhindar dari syaz. Secara teks mimpi terdapat 3 macam: yakni 1. Kabar gembira dari Allah, 2. Omongan diri sendiri dan 3. Kekhawatiran dari syaitan. Namun jika dilihat dari segi kandungan hadis al-ru’ya salasah, terdapat 3 kandungan yaitu 1. Sumber datangnya mimpi, 2. Materi mimpi dan 3. Adab-adab ketika bermimpi. Tulisan ini diharapkan menambah pemahaman kepada masyarakat bahwa mimpi bukanlah semata-mata sekedar bungan tidur, melainkan mimpi itu terkadang mengandung unsur kebenaran yang dapat berupa kabar gembira, petunjuk, peringatan dan sebagainya yang berasal dari Allah, dan terkadang pula mimpi itu hanyalah gangguan dari syaitan yang bertujuan untuk membuat seseorang khawatir, berseduh hati, takut bahkan sampai membuatnya sakit.
EKSISTENSI HUKUM WARIS ADAT DALAM MASYARAKAT MUSLIM DI KOTA GORONTALO DALAM PERSPEKTIF SEJARAH Hamid Pongoliu; Usman Jafar; Mawardi Djalaluddin; Nur Taufiq Sanusi
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6866

Abstract

Tulisan ini menguraikan tentang eksistensi hukum waris adat dalam masyarakat muslim di Kota Gorontalo. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan bercorak deskriptif kualitatif, dianalisis dengan alur pikir prosedur deduktif yang bersumber dari data primer dan data sekunder dengan menggunakan beberapa pendekatan, yaitu: pendekatan syar’i, yuridis, antropologis, sosiologis, historis, dan filosofis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hukum waris adat yang eksis dalam masyarakat muslim di Kota Gorontalo pada awalnya berasal dari nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Namun dengan masuknya Islam dan menjadi agama seluruh masyarakat Gorontalo, hukum waris adat tersebut berubah menjadi Islami yang ditandai dengan hidupnya hukum Islam tercermin pada pelaksanaan hukum dalam masyarakat pada saat itu selalu mengacu pada tiga prinsip hukum adat Gorontalo, yaitu: (1) adati hula-hula’a to syara’a (hukum adat bertumpuk pada hukum syarak); (2) adati hula-hula’a to syara’a, syara’a hula-hula’a to adati (hukum adat bertumpuk pada hukum syarak dan hukum syarak bertumpuk pada hukum adat); (3) adati hula-hula’a to syara’a, syara’a hula-hula’a to Kitabi (hukum adat bertumpuk hukum syarak dan hukum syarak bertumpuk pada al-Qur’an dan hadis Nabi saw). Tiga macam prinsip ini merupakan pijakan masyarakat Gorontalo dalam menyelesaikan persoalan hukum, tetapi kemudian hal ini berubah disebabkan kebijakan politik hukum Belanda dengan teori hukumnya (teori resceptie in complexu dan teori receptie), berhasil mengeluarkan hukum adat dari pengaruh hukum Islam yang hingga sekarang masih dirasakan. Inilah sebabnya munculnya praktik pewarisan yang tidak sejalan dengan prinsip hukum Islam dalam masyarakat.
TINJAUAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM NASIONAL TERHADAP PEMBERIAN DISPENSASI NIKAH PADA PENGADILAN AGAMA MAROS Try Sa’adurrahman HM. Kafrawi; Kurniati Kurniati; Nur Taufiq Sanusi
Jurnal Diskursus Islam Vol 6 No 2 (2018): August
Publisher : Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jdi.v6i2.6786

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tinjauan hukum Islam dan hukum nasional terhadap dispensasi nikah pada Pengadilan Agama Maros.  Jenis penelitian ini tergolong kualitatif lapangan (field research kualitatif) dan pendekatan penelitian yang digunakan; yuridis-empiris. Adapun sumber data penelitian ini adalah data primer yang diambil enam orang Hakim Pengadilan Agama Maros dan data skunder sebanyak tiga orang sebagai pendukung dalam penelitian ini, selanjutnya metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan penulusuran referensi. Lalu, teknik pengolahan dan analisis data dilakukuan melalui empat tahap, yaitu; reduksi data, display data, verifikasi data dan penarikan kesimpulan. Perspektif hukum Islam, tidak adanya ketegasan nas dalam perkawinan di bawah umur, namun bukan berarti hukum Islam tidak mengatur lebih lanjut tentang batasan itu. Untuk menjembatani pernikahan di bawah umur ini yang terus berkembang, maka perlu sebuah usaha terus menerus dalam upaya menggali hukum Islam yang disebut dengan ijtihad. Sedangkan dalam hukum nasional mengatur umur ideal untuk menikah yakni 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan. Pernikahan di bawah umur, merupakan salah satu hak setiap orang dalam menentukan kehidupannya, namun perlu adanya pertimbangan-pertimbangan sebelum menentukan pilihan. Salah satu cara untuk menindak lanjuti pernikahan di bawah umur, Pengadilan Agama bukanlah satu-satunya alat dalam perkara ini karena peran yang lebih utama dalam memperhatikan dan menjaga adalah orang tua, keluarga, masyarakat dan beberapa badan hukum lainnya seperti: Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia (PPPAI), dan sebagainya. Sehingga tujuan pernikahan untuk mewujudkan sakinah mawaddah warahmah tercapai dengan aman dan tentram.

Page 1 of 1 | Total Record : 9