cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Teknik Enkapsulasi Sederhana untuk Konservasi In vitro Jangka Menengah Tanaman Nenas (Ananas comosus) [Simple Encapsulation Technique for Medium Term Pineapple (Ananas comosus) In vitro Conservation] Riry Prihatini; Sri Hadiati
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n1.2019.p1-8

Abstract

Konservasi in vitro tanaman nenas dilakukan untuk penyimpanan materi genetik sebelum dimanfaatkan. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengembangkan teknik enkapsulasi yang dapat memperpanjang daya simpan benih sintetik nenas melalui perlakuan konsentrasi natrium alginat, suhu, dan media penyimpanan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, mulai Januari hingga Desember 2017. Bahan yang digunakan adalah plantlet nenas aksesi 5X18(10). Penelitian dibagi menjadi dua subkegiatan. Metode yang digunakan pada subkegiatan pertama yaitu tunas mikro nenas dienkapulasi dengan metode tetes menggunakan natrium alginat 3% dan 4% serta penyimpanan dalam akuades steril dan tanpa media selama 30, 60, 120, dan 240 hari pada suhu 25oC. Penggunaan 4% natrium alginat dan media akuades steril dapat memperpanjang masa simpan benih sintetik nenas hingga 240 hari dengan daya regenerasi benih 100%. Pada subkegiatan kedua, perlakuan terbaik pada subkegiatan pertama dilanjutkan dengan perlakuan suhu penyimpanan 4oC. Benih sintetik nenas pada suhu penyimpanan tersebut hanya mampu bertahan hingga 60 hari, selebihnya tunas dalam benih menghitam dan tidak dapat ditumbuhkan kembali. Metode enkapsulasi untuk penyimpanan materi genetik yang dikembangkan dalam penelitian ini lebih sederhana dan efisien serta dapat diaplikasikan pada kegiatan konservasi in vitro jangka menengah tanaman nenas.KeywordsEnkapsulasi; Konservasi; In vitro;  Tanaman nenasAbstractIn vitro conservation of pineapple was conducted as preservation of genetic material before it was further utilized. This research was conducted to obtain encapsulation technique which expanded synthetic seeds shelf life by modifying concentration of sodium alginate, incubation media, and temperature. The research was conducted on Tissue Culture Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute on January to December 2017. The materials which were used included pineapple micro shoots accessions 5X18(10). The research was divided into subactivities. The method which was applied on the first subactivity included encapsulation of pineapple micro shoots using drop method with sodium alginate 3% and 4%,incubation media sterile aquades and without media for 30, 60, 120, and 240 days on 25oC temperature.The use of 4% sodium alginate and sterile aquades incubation media prolonged the pineapple shelf life up to 240 days with 100% regeneration capability. On the second subactivity, the best treatment on the first activity was combined with 4oC incubation temperature. The pineapple synthetic seeds on this incubation temperature only survive up to 60 days, became blackening, and could not be regrowth. Encapsulation method which was developed on this study was simpler, more efficient, and able to be applied for medium term pineapple in vitro conservation.
Keefektifan Entomopatogen Hirsutella citriformis (Deuteromycetes: Moniliales) pada Kutu Psyllid Diaphorina citri Kuw. Mutia Erti Dwiastuti; M Y Kurniawati
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 3 (2007): September 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n3.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Diaphorina citri Kuw. (Homoptera:Psylidae) adalah salah satu hama penting pada tanaman jeruk dan merupakan vektor penyakit CVPD. Diaphorina citri dapat dikendalikan dengan insektisida, predator, parasitoid, dan patogen serangga. Pengendalian dengan patogen serangga, khususnya dengan entomopatogen sedang dikembangkan, salah satu yang ditemukan menginfeksi D. citri adalah Hirsutella citriformis. Di lapang H. citriformis ditemukan pada serangga dewasa dan tidak pernah menyerang stadia nimfa. Tujuan penelitian adalah mengetahui stadia D. citri yang dapat terinfeksi oleh konidia jamur H. citriformis. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap faktorial 2 faktor, dengan 20 perlakuan kombinasi, masing-masing diulang 3 kali. Faktor pertama stadia D. citri, yaitu imago, nimfa instar 3, 4, dan 5. Faktor kedua, yaitu konsentrasi konidia jamur, yaitu kontrol, 105 konidia/ml, 106 konidia/ml, 107 konidia/ml, dan 108 konidia/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa H. citriformis lebih patogenik terhadap stadia imago daripada nimfa (instar 3, 4, dan 5) dengan konsentrasi 108 konidia/ml dengan median lethal time 11,72 hari. Patogenisitas H. citriformis pada D. citri dipengaruhi oleh konsentrasi dan stadia D. citri.ABSTRACT. Dwiastuti, M.E. and M. Y. Kurniawati. 2007. The Efectivity of Entomopathogen of Hirsutella citriformis (Deuteromycetes: Moniliales) on Psyllid Diaphorina citri Kuw. Diaphorina citri Kuw. (Homoptera Psyllidae) is one of the important pest in citrus, and the vector of CVPD disease. D. citri is normally controlled by using insectiside, parasitoid, predator, and insectpathogen. The control measured using insectpathogen, especially entomophatogen fungi has still being developed. The entomopathogen which was found attacking D. citri was H. citriformis. The research was intended to know which stadium of D. citri can be infected by H. citriformis. The study was designed in a complete randomize factorial with 2 factors. The first factor was D. citri stadium, i.e. adults, nymphs instar 3, instar 4, and instar 5. While the second factor was concentration of H. citriformis conidium, consisted of control (untreated), 105 conidia/ml, 106 conidia/ml, 107 conidia/ml, and 108 conidia/ml. The results showed that H. citriformis was more pathogenic on the adults of D. citri than the nymphs, and at 108 conidia/ml was the most effective concentration to kill D. citri with 11.72 days of median lethal time. The pathogenicity of H. citriformis on D. citri was affected by concentration of conidia rather than D. citri stadia.
Pertumbuhan serta Hasil Tanaman Kubis Putih dengan Aplikasi Pupuk NPK 15-15-15 dan Pupuk Pelengkap Benih Nutrifarm SD di Dataran Tinggi Lembang Ety Sumiati
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n1.2006.p%p

Abstract

Pertumbuhan dan hasil kubis dapat ditingkatkan antara lain dengan aplikasi pupuk pelengkap berupa serbuk nutrifarm SD sejak benih kubis disemai di pesemaian dan dikombinasikan dengan aplikasi pupuk NPK 15-15-15 dosis yang tepat di lapangan. Tujuan penelitian ini adalah  mendapatkan dosis optimum pupuk pelengkap nutrifarm SD dan NPK 15-15-15 yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil produksi bobot kubis putih kultivar Green Coronet. Rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan digunakan di lapangan. Petak utama: pupuk dasar NPK 15-15-15, yang  terdiri atas 2 level dosis, yaitu 0,5 dan 1,0 t/ha. Anak petak:  pupuk pelengkap nutrifarm SD, yang  terdiri atas 5 level dosis, yaitu: 0, 3, 6, 9, dan 12 g/kg benih kubis. Cara aplikasi nutrifarm SD dengan mencampurkan pada benih kubis secara merata, kemudian disemai di pesemaian. Pupuk NPK 15-15-15 diaplikasikan 2 kali, yaitu setengah dosis pada saat tanam, dan sisanya pada 4 minggu setelah tanam. Tanaman kubis dibudidayakan menggunakan mulsa plastik hitam perak. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa tidak terjadi gejala fitotoksisitas, klorosis, dan gejala abnormal lainnya pada tanaman kubis yang diberi perlakuan nutrifarm SD dosis 3-12 g/kg benih dan NPK 15-15-15 dosis 0,5-1,0 t/ha. Hasil bobot segar kubis nyata meningkat sebesar 37,11% oleh pemberian pupuk pelengkap nutrifarm SD dosis 6 g/kg benih dibandingkan dengan kontrol. Namun, dosis optimum nutrifarm SD yaitu 6,2  g/kg benih bila dikombinasikan dengan aplikasi NPK 15-15-15 dosis 0,5 t/ha, serta 6,5 g/kg benih bila dikombinasikan dengan aplikasi pupuk NPK 15-15-15 dosis 1,0 t/ha. Aplikasi hanya pupuk NPK 15-15-15 dosis 0,5-1,0 t/ha secara mandiri, tidak meningkatkan hasil bobot total kubis segar.Growth and yield of cabbage could be improved by application of seed fertilizer nutrifarm SD in the nursery combined with application of proper dosage of NPK 15-15-15 in the field. The goal of this experiment was to find out the proper dosage of nutrifarm SD in combination with NPK 15-15-15 to improve the growth and yield of cabbage variety of Green Coronet. A split plot design with three replications was set up in the field. The main plot was NPK 15-15-15, comprised of two level dosages, viz. 0.5 t/ha and 1.0 t/ha. The subplot was application of nutrifarm SD seed fertilizer, comprised of 5 levels, viz. 0, 3, 6, 9, and 12 g/kg seed. The nutrifarm SD was mixed  with cabbage seed and germinated in the nursery. NPK 15-15-15 was applied in the field twice, viz. half dosage at planting time and the rest was given at 4 weeks after planting. Cabbage plants were cultivated by using black silver plastic mulch. Research results revealed that there were no phytotoxicity, chlorosis, and other abnormalities symptoms appeared on cabbage plants treated with nutrifarm SD of 3-12 g/kg seed in combination with NPK 15-15-15 0.5 to 1.0 t/ha. Independently, cabbage yield was significantly increased by the application of nutrifarm SD 6 g/kg seed, with the yield increment of 37.11% compared to control. However, the optimum dosage of nutrifarm SD was 6.2 g/kg seed when it was combined with NPK 15-15-15 dosage of 0.5 t/ha, and 6.5 g/kg seed when it was combined with NPK 15-15-15 1 t/ha. Application of NPK 15-15-15 perse from 0.5 to 1.0 t/ha did not significantly increase cabbage yield.
Perbaikan Cara Ekstraksi untuk Meningkatkan Rendemen dan Mutu Minyak Melati Sulusi Prabawati; Endang D. A.; Dondy Anggono Setiabudi
Jurnal Hortikultura Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v12n4.2002.p%p

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi melalui ekstraksi bertahap denganmeningkatkan perbandingan bunga dan pelarut. Penelitian dikerjakan pada melati gambir (Jasminum officinale),diekstraksi dengan pelarut heksan selama 12 jam. Pelarut diuapkan untuk mendapatkan concrete. Concrete yangdiperoleh dilarutkan dengan etanol dan diuapkan sampai didapatkan minyak melati. Perlakuan yang diterapkanadalah perbandingan bunga dan pelarut (1 : 1,5 dan 1 : 2), tahapan ekstraksi (sekali, dua kali, dan tiga kali) denganpelarut heksan. Rancangan percobaan menggunakan acak lengkap pola faktorial 2 x 3 dengan tiga ulangan. Pa ram e teryang diamati adalah rendemen concrete dan minyak, jumlah penggunaan heksan, indeks bias, dan komponenpenyusun minyak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi bunga melati pada perbandingan bunga dan pelarut(1 : 2) pada tahap ekstraksi dua kali menghasilkan rendemen minyak tertinggi (0,1326%), dengan penggunaan pelarutpal ing sedikit (528,2933 ml) untuk menghasilkan 1 g minyak. Mutu minyak melati yang dihasilkan mempunyai indeksbias 1,4309 dan mengandung kadar komponen penyusun minyak atsiri tertinggi (34,3357%) dengan delapankomponen sudah diidentifikasi (linalol, linalil asetat, indol, fenol, bensil asetat, metil antranilat, bensil alkohol, dan cisjasmon). Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk pemilihan proses ekstraksi bunga melati agarmenghasilkan rendemen minyak yang tinggi dengan penggunaan pelarut min i mal.Kata kunci : Jasminum officinale; Ekstraksi minyak melati; Kualitas minyak melatiAB STRACT. Prabawati, S., Endang D. A., Suyanti, and Dondy ASB. 2002. Im prove ment of ex trac tion methodto in crease quan tity and qual ity of jas mine oil re cov ery. This re search was aimed to in crease the re cov ery of oil ex -trac tion ab so lute through in creas ing the flower-sol vent ra tio and multi-ex trac tion stages of red jas mine (Jasminumofficinale). Hex ane perfumary grade was used on sim ple ex trac tion method by dip ping the flow ers and man ual stir ringfre quently. Af ter 12 hours of ex trac tion, sol vent was evap o rated to pro duce con crete. Eth a nol 95% was added to dis -solve the con crete, and then the so lu tion was fil tered to sep a rate wax frac tions. The clear so lu tion was evap o rated topro duce ab so lute. The treat ments tested were flower-sol vent ra tio (1 : 1.5 and 1 : 2) and stages of ex trac tion (1, 2, and 3stage of ex trac tion), and fac to rial de sign 2 x 3 with three rep li ca tions was used. Ob ser va tions were done on the yield ofcon crete and ab so lute, to tal sol vent used on ex trac tion, re frac tion in dex of ab so lute, and the com po si tion of es sen tialoil. Re sults showed that, flower-sol vent ra tio (1 : 2) and two stage of ex trac tion had the high est per cent age of ab so lute(0.1326%) and the low est to tal sol vent used (528.2933 ml to get 1 g of ab so lute). Jas mine ab so lute was in good qual itywith re frac tion in dex of 1.4309 and con tained 34.3357% of es sen tial oil com po nent (linalool, linalil ac e tate, indole,phenole, benzil ac e tate, methyl antranilate, benzil al co hol, and cis jasmone) were indentified. Futhermore, the re sult ofthis study can be used an ap pro pri ated ef fec tive method of jas mine oil ex trac tion method.
Sistem Tanam Tumpang Sari Cabai Merah dengan Kentang, Bawang Merah, dan Buncis Tegak (Technical Assessment of Hot Pepper Intercropping System with Potato, Shallot, and Beans) Bina Beru Karo; Agustina Erlinda Marpaung; Darkam Musaddad
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p219-228

Abstract

Pola tanam tumpang sari merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan sekaligus meningkatkan pendapatan, melalui usaha penanaman beberapa jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama. Cabai merah merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai permintaan yang tinggi di masyarakat Indonesia, demikian juga dengan tanaman kentang, bawang merah, dan buncis. Penelitian bertujuan untuk mengkaji efisiensi penggunaan lahan sistem tanam monokultur dan tumpang sari dengan kentang, bawang merah, dan buncis tegak. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl dan jenis tanah Andisol. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni hingga Desember 2015. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri atas enam perlakuan dengan empat ulangan. Perlakuan yang diuji adalah : (a) sistem tanam tumpang sari cabai merah + (kentang + bawang merah); (b) sistem tanam tumpang sari cabai merah + buncis tegak; (c) sistem tanam tumpang sari cabai merah + kentang; (d) sistem tanam tumpang sari cabai merah + bawang merah, (e) sistem tanam tumpang sari cabai merah + (buncis tegak + bawang merah); dan (f) sistem tanam cabai monokultur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan vegetatif tanaman tumpang sari cabai merah tidak berbeda nyata dengan monokultur. Sistem tanam monokultur lebih tinggi dari tumpang sari, yaitu 21,53 kg/20 m2. Nilai kesetaraan lahan pola tanam tumpang sari cabai merah lebih besar dari 1 dan yang tertinggi adalah tumpang sari cabai merah dengan buncis tegak, yaitu 1,48. Tumpang sari cabai merah dengan bawang merah dan buncis menghasilkan keuntungan bersih yang lebih tinggi dari pola tanam monokultur dan tumpang sari lainnya, yaitu Rp191.408,00/20m2. Usahatani tumpang sari cabai dengan kentang dan bawang merah merupakan usahatani yang paling menguntungkan terutama apabila dibandingkan dengan monokultur.KeywordsCapsicum annum L; Tumpang sari; Solanum tuberosum L.; Allium cepa L; Phaseolus vulgaris LAbstractIntercropping system is one way to improve the efficiency of land use through the efforts of the planting of crops on the land and the same time. Hot pepper is a vegetable commodity that has value in high demand in Indonesian society, so we need to research that aims to assess the efficiency of land use with monoculture and intercropping system hot pepper with beans, potatoes and shallot. The study was conducted in Berastagi Experimental Garden with less altitude of 1,340 m above sea level and type of soil Andisol. The research was conducted from June to December 2015. The design used was a randomized block design (RAK) nonfactorial with four replications. The treatments tested were: (a) intercropping system hot pepper + (potato + shallot); (b) intercropping system hot pepper + beans; (c) intercropping system hot pepper + potato; (d) intercropping system hot pepper + shallot; (e) intercropping system hot pepper + (beans + shallot);( f) monoculture. The results showed that: Hot pepper intercropping plant vegetative growth was not significantly different with monoculture. Generative growth of hot pepper intercropping is significant different than monocultures, where the monoculture of hot pepper produce higher yields 21.53 kg / 20 m2. Land equivalent ratio of hot pepper intercropping system is greater than one and the highest intercropping hot pepper with beans, 1.48. Hot pepper intercropping with shallot produce a higher net profit than monoculture and another intercropping, Rp191 408,00 / 20m2. Intercropping hot pepper with potato and shallot is the most profitable farming, especially when compared to monoculture.
Kebutuhan Pupuk Npk Optimum Bawang Bombay di Dataran Tinggi Nani Sumarni; Rini Rosliani
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n1.2006.p%p

Abstract

Tanaman bawang Bombay membutuhkan ketersediaan unsur hara NPK di dalam tanah dalam jumlah yang cukup dan berimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk NPK yang optimum untuk 2 kultivar bawang Bombay introduksi di dataran tinggi. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, 1.250 m dpl dengan jenis tanah andisol. Rancangan percobaan menggunakan petak terpisah dengan 3 ulangan. Kultivar bawang bombay asal Australia yaitu E-515 dan Z-512 ditempatkan sebagai petak utama, sedangkan 14 kombinasi dosis N-P2O5-K2O ditempatkan sebagai anak petak. Kisaran dosis pupuk N, P, dan K adalah 75-375 kg/ha N, 75-375 kg/ha P2O5 dan 75-375 kg/ha K2O. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman dan hasil umbi bawang bombay kultivar E-515 dan Z-512 mempunyai respons yang tidak berbeda terhadap dosis pupuk N, P, dan K. Dosis pupuk N, P, dan K yang optimum untuk kedua kultivar bawang bombay introduksi adalah 137 kg/ha N, 160 kg/ha P2O5, dan 195 kg/ha K2O. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan hasil tanaman bawang bombay.Onion plants need balance of NPK nutrient supply in soil. This experiment was conducted at Experimental Garden of Indonesian Vegetables Research Institute Lembang, 1,250 m asl with andisol soil type, to find out the optimum dosage of NPK fertilizer application for 2 introduced onion cultivars in highland. A split plot design with 3 replications was used. Two introduced onion cultivars from Australia (E-515 and Z-512) were assigned to main plot, and 14 combination of NPK dosages were assigned to subplot. The range of N, P, K dosages were 75-375 kg/ha N, 75-375 kg/ha P2O5 and 75-375 kg/ha K2O. The results revealed that both onion cultivars No. E-515 and No. Z-512 did not give different respons to NPK fertilization, expressed in the vegetative growth and bulb yield. The optimum dosage of NPK for both cultivars was 137 kg/ha N, 160 kg/ha P2O5 and 195 kg/ha K2O. The results can be applied to increase the efficiency of NPK fertilization on the introduced short-day onion.
Pengaruh Inokulasi Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan Bibit Jeruk Varietas Japanche Citroen Muhamad Jawal Anwarudinsyah; - Jumjunidang; D Fatria; - Riska
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 3 (2005): September 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n3.2005.p%p

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh inokulasi cendawan mikoriza arbuskula terhadap pertumbuhan bibit batang bawah jeruk, mulai Oktober 2002 sampai Februari 2003 yang bertempat di rumahkasa Balai Penelitian Tanaman Buah Solok. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tiga ulangan dan 10 perlakuan jenis CMA yang meliputi Glomus manihotis, Scutellospora heterogama, Gigaspora margarita, Gigaspora roseae (FL-105), Glomus etunicatum, Acaulospora tuberculata. Gigaspora roseae (Giro-EC), CMA dari perakaran manggis asal Padang, CMA dari perakaran manggis asal Sijunjung, dan kontrol tanpa CMA. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah spora, dan infeksi CMA pada akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan CMA pada umumnya dapat memacu pertumbuhan bibit jeruk JC, kecuali CMA G. roseae (Giro-EC) dan CMA dari perakaran manggis asal Sijunjung. Cendawan mikoriza arbuskula G. manihotis merupakan CMA yang terbaik karena dapat memacu pertumbuhan bibit batang bawah jeruk secara nyata dibandingkan dengan kontrol. The influence of arbuscular mycorrhizae fungi (AMF) on the seedling growth of JC citrus cultivar. The experiments was conducted at a screenhouse of Indonesian Fruits Research Institute, Solok from October 2002 to February 2003. The experiment was arranged in a randomized block design with three replications and 10 kinds of AMF, i.e. Glomus manihotis, Scutellospora heterogama, Gigaspora margarita, Gigaspora roseae (FL-105), Glomus etunicatum, Acaulospora tuberculata, Gigaspora roseae (Giro-EC), AMF of mangosteen root system derived from Padang, AMF of mangosteen root system derived from Sijunjung, and without AMF as control. The parameters observed were plant height, leaves number, stem diameter, number of spores, and root infection percentage of AMF. The results indicated that all of AMF application could stimulate the growth of JC citrus seedling, except G. roseae (Giro-EC) and AMF of mangosteen root system derived from Sijunjung, Glomus manihotis was the best AMF to speed up the growth of citrus rootstock.
Penggunaan Rain Shelter dan Biopestisida Atecu Pada Budidaya Cabai di Luar Musim untuk Mengurangi Kehilangan Hasil dan Serangan OPT Wiwin Setiawati; Ahsol Hasyim; Abdi Hudayya
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n2.2018.p239-250

Abstract

(The Use of Rain Shelter and Biopesticide in off Season Chilli Cultivation to Reduce Yield Losses and Infestation of Pest and Diseases)Penggunaan rain shelter merupakan solusi untuk mengatasi permasalahan budidaya cabai di luar musim, yaitu kondisi musim hujan berkepanjangan. Peranan sumber daya hayati lokal termasuk tumbuhan sebagai biopestisida (Atecu) perlu ditingkatkan untuk mengatasi masalah mahalnya biaya produksi, namun mampu menekan kehilangan hasil akibat OPT dan menjaga mutu produk. Tujuan penelitian mendapatkan teknologi budidaya cabai off season yang dapat mengurangi kehilangan hasil dan serangan OPT ≥30%. Penelitian dilaksanakan di KP Margahayu Lembang, dari bulan Agustus 2016 sampai dengan bulan Maret 2017. Plot penelitian disusun berdasarkan rancangan acak kelompok (RAK) terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah bentuk rain shelter (bentuk datar dan melengkung) yang dipasang pada waktu tanam dan musim penghujan dikombinasikan dengan penggunaan Atecu 10 ml/l dan tanpa rain shelter + Atecu 10 ml/l serta teknologi konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pertumbuhan tanaman cabai (tinggi dan lebar kanopi) yang ditanam di bawah rain shelter berbeda nyata masing - masing sebesar (14,23 cm dan 3,17 cm) serta mempunyai jumlah cabang yang lebih banyak (12,5) dibandingkan dengan tanaman cabai yang ditanam di lahan terbuka, (2) kombinasi penggunaan shelter dan Atecu 10 ml/l efektif mengendalikan OPT penting pada tanaman cabai merah dengan tingkat efikasi berkisar antara 33,56–75,0% serta dapat mengurangi penggunaan pestisida sebesar 50% bila dibandingkan dengan teknologi konvensional, dan (3) bentuk rain shelter yang paling baik adalah bentuk melengkung yang dipasang pada musim penghujan dan mampu meningkatkan hasil panen sebesar 26,32% atau sebesar 20,59 ton/ha. Dari hasil tersebut dapat direkomendasikan bahwa penggunaan rain shelter sebagai salah satu teknologi budidaya cabai off season.KeywordsCapsicum annuum L; Rain shelter; Biopestisida Atecu; Budidaya di luar musim; Hama dan penyakitAbstractThe use of rain shelter is solution to solve chilli cultivation problems during rainy season which has long period rainy season. Biological control agent (BCA) included biopesticide (Atecu) also plays important role for solving the problems on chilli cultivation. The aim of the research was to obtain chilli cultivation technology in the off season which is effective to reduce yield losses due to incidence of pests and diseases on chilli ≥30%. The research was conducted in Margahayu Station from August 2016 to March 2017. Randomized block design with six treatments and four replications were used in this. The applications of rain shelter at planting time and rainy season (four treatments) and chilli planting at open field (two treatments) were used. The result showed that: (1) plant height and canopy width grown inside rain shelter were significantly longer (14.23 cm and 3.17 cm), had more branches (12.5) than those grown under open field condition, (2) the combination of rain shelter and biopesticide (Atecu) could reduce the risk of pest and disease, mainly in the rainy season with % of efficacy 33,56 – 75,0% and reduced used of pesticide up to 50% compared with conventional technology, and (3) the highest yields was found at Rain Shelter with curved shape applied at rainy season 20.59 ton/ha (26.32%). According to the results, the use of rain shelter can be recommended as one of technology for chilli cultivation during rainy season.
Pengelolaan Air dan Mulsa pada Tanaman Bawang Merah di Lahan Kering (Water Management and Mulch on Shalot in Dry Land) Zainal Arifin; Moh. Saeri
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n2.2019.p159-168

Abstract

Budidaya bawang merah di lahan kering mempunyai ketersediaan air terbatas sehingga diperlukan pengelolaan air secara efisien. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh interval waktu pemberian air yang efisien dan jenis mulsa yang dapat meningkatkan produksi dan pendapatan usahatani bawang merah. Penelitian pengelolaan air dengan interval pengairan dan mulsa pada bawang merah varietas Monjung dilaksanakan pada MK II 2016 dalam luasan 2.500 m2 (ukuran petak 15 m x 6 m) di Desa Bunbarat, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, disusun secara acak kelompok faktorial dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: faktor I (mulsa): (a) mulsa plastik, (b) mulsa jerami, dan (c) tanpa mulsa, sedangkan faktor II (pengairan): (a) 1 hari sekali, (b) 2 hari sekali, dan (c) 3 hari sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan mulsa jerami disertai pengairan 2 hari sekali memberikan bobot umbi 7,89 ton/ha dan penggunaan air selama pertumbuhan tanaman sebesar 1.230 m3/ha sehingga untuk menghasilkan 1 kg umbi dibutuhkan 156 liter air. Berdasarkan hasil analisis usahatani bawang merah yang diberi mulsa jerami disertai pengairan 2 hari sekali dapat meningkatkan efisiensi penggunaan air dan biaya produksi serta mempunyai B/C ratio tertinggi (2,27) sehingga layak secara ekonomi.KeywordsPengelolaan air; Bawang merah; Mulsa; Lahan keringAbstractShallot cultivation in dry land has limited water availability so needed to efficient water management. This study aims to obtain an efficient water time interval and mulch type that can increase production and farming income of shallot. Research on water management with irrigation interval and mulch on shallot of Monjung variety was implemented at dry season year 2016 in the area of 2,500 m2 (the size of plot 15 m long to 6 m width) at Bunbarat Village, Rubaru Subdistrict, Sumenep Regency were arranged of randomized block design by factorial with nine treatments and three replications : I (mulch): (a) plastic mulch, (b) straw mulch, and (c) without mulch, while factor II (irrigation): (a) irrigation every 1 day, (b) irrigation every 2 days, and (c) irrigation every 3 days. The results showed that straw mulch treatment with irrigation every 2 days gave a tuber weight of 7.89 ton/ha and the use of water during plant growth was 1,230 m3/ha so that to produce 1 kg of tubers required 156 liters of water. The analysis of shallot farming that is given mulch straw accompanied by irrigation every 2 days can increase the efficiency of water use and production costs and has the highest B/C ratio (2.27) so that it is economically feasible.
Pengendalian Lalat Pengorok Daun pada Tanaman Kentang Menggunakan Pestisida Biorasional Dirotasi dengan Pestisida Sintetik secara Bergiliran Euis Suryaningsih
Jurnal Hortikultura Vol 16, No 3 (2006): September 2006
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v16n3.2006.p%p

Abstract

ABSTRAK. Percobaan lapang telah dikerjakan di kebun percobaan Margahayu (elevasi 1250 m dpl.), Lembang, Bandung, Jawa Barat dari bulan Agustus sampai November 2002, dengan tujuan mencari metode pengendalian alternatif terhadap lalat pengorok daun Liriomyza huidobrensis pada tanaman kentang. Percobaan digelar menggunakan rancangan acak kelompok dengan 7 perlakuan, ulangan 4 kali. Pestisida biorasional Phrogonal (866) diaplikasikan baik secara tunggal maupun diselang-seling (digilir) dengan pestisida sintetik Pyrethroid 2,5 EC 0,2% dengan skema rotasi yang bervariasi untuk mengendalikan L. huidobrensis pada kentang. Phrogonal (866) adalah campuran ekstrak kasar dari Tephrosia candida 8 bagian berat (bb) + Andropogon nardus 6 bb + Alpinia galanga 6 bb. Hasil percobaan memberi indikasi bahwa pestisida biorasional Phrogonal (866) diaplikasikan secara tunggal 8 kali berkesinambungan selama periode budidaya kentang terbukti paling efektif mengendalikan lalat pengorok daun L. huidobrensis. Meskipun begitu, apabila Phrogonal tersebut diaplikasikan berselang-seling dengan pestisida sintetik Pyrethroid 2.5 EC 0.2% dengan skema yang bervariasi, efikasi dari perlakuan tersebut sama efektifnya dengan aplikasi Pyrethroid 2.5 EC 0,2% tunggal 8 kali berkesinambungan. Hasil penelitian ini sangat mendukung penemuan sebelumnya bahwa pestisida biorasional Phrogonal (866) adalah pestisida yang sangat efektif dan dapat menggantikan pestisida sintetik dalam upaya mengurangi aplikasi berlebihan dari barang beracun tersebut.ABSTRACT. Suryaningsih, E. 2006. The control of leafminer fly on potato using biorational pesticide rotated with synthetic pesticide alternately. In order to determine an alternative control method of leafminer fly Liriomyza huidobrensis on potatoes, a field experiment was carried out at Margahayu research station (elevation 1,250 m), Lembang, Bandung, West Java from August to November 2002. The experiment was set up in a randomized block design with 7 treatments, and 4 replications. Biorational pesticide Phrogonal (866) was applied singly or alternated with synthetic pesticide Pyrethroid 2.5 EC 0.2%, with varied rotation to control L. huidobrensis on potato. Phrogonal (866) was simply crude extract mixture of Tephrosia candida 8 weight parts (wp) + Andropoghon nardus 6 wp + Alpinia galanga 6 wp respectively. Detail explanation of the treatments were presented elsewhere. The results of the experiment indicated that biorational pesticide Phrogonal (866) when applied singly eight times continuously during the periode of potato cultivation was found to be the most effective to control leafminer fly L. huidobrensis. However, when Phrogonal (866) was applied alternately with synthetic pesticide Pyrethroid 2.5 EC in varied schemes, the efficacy of those treatments were as effective as Pyrethroid 2.5 EC 0.2% applied singly eight times continuously as well. The results of this experiment strongly support previous findings that biorational Phrogonal (866) is a very effective pesticide and was able to replace synthetic pesticides in order to reduce the excessive application of this toxic material.

Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue