cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Perilaku Petani Sayuran dalam Menggunakan Pestisida Kimia M Ameriana
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n1.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penggunaan pestisida kimia di tingkat petani sayuran diindikasikan dalam jumlah yang berlebih, sementara hal tersebut sangat berbahaya baik bagi lingkungan maupun manusia. Berkaitan dengan masalah di atas telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengkaji perilaku petani tomat dalam menggunakan pestisida kimia serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Juli 2004 di sentra produksi tomat Kecamatan Pangalengan dan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, mengunakan metode survei. Jumlah petani responden yang diwawancara adalah 156 orang. Penentuan lokasi penelitian (kecamatan dan desa) dilakukan secara sengaja berdasarkan luas areal tanam terbesar, sedangkan pemilihan petani responden di setiap desa dilakukan dengan metode acak berlapis berdasarkan luas lahan garapan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan uji statistik analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku petani tomat dalam menggunakan pestisida kimia dipengaruhi oleh (1) persepsi petani terhadap risiko, semakin tinggi persepsi petani terhadap risiko maka semakin tinggi kuantitas pestisida kimia yang digunakan, (2) persepsi petani tentang ketahanan kultivar tomat terhadap OPT, semakin rendah ketahanan suatu kultivar semakin tinggi kuantitas pestisida kimia yang digunakan, serta (3) pengetahuan petani tentang bahaya pestisida, semakin rendah pengetahuan petani semakin tinggi kuantitas pestisida yang digunakan.ABSTRACT. Ameriana, M. 2008. Farmer’s’s Behavior in Using Chemical Peststicide on Vegetablble. The use of chemical pesticides at the vegetable farmer’s level has been indicated to be excessive, and it was hazardous to environment and human health. This study was aimed to assess the tomato farmer’s behavior in using chemical pesticides and factors that may influence this behavior. A survey was carried out on June-July 2004 on tomato production centers, Lembang and Pangalengan, Bandung District. There were 156 respondents (farmers) interviewed in this study. Research location (subdistrict and village) were selected purposively based on the largest tomato planted area. Respondents were selected by using stratified random sampling, based on their farm size. Data were analyzed by using descriptive statistics and path analysis. The results showed that tomato farmer’s behavior was influenced by (1) farmer’s perception on risks, the higher the risk perception the higher the quantity of chemical pesticide used, (2) farmer’s perception on cultivar resistance to tomato pests, the lower the cultivar resistance the higher the quantity of chemical pesticide used, (3) farmer’s knowledge on the danger of pesticides, the lower the knowledge, the higher the quantity of chemical pesticide used.
Studi Pembuatan Antiserum Poliklonal untuk Deteksi Cepat Virus Mosaik Mentimun pada Krisan Indiarto Budi Rahardjo; Agus Muharam; Yoyo Sulyo
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n2.2005.p%p

Abstract

Virus mosaik mentimun merupakan salah satu patogen penting pada berbagai tanaman hortikultura, termasuk tanaman krisan. Untuk mengetahui secara dini infeksi virus pada tanaman, maka perlu dikembangkan metode deteksi cepat. Penelitian ini bertujuan mendapatkan antiserum poliklonal untuk deteksi cepat virus mosaik mentimun pada krisan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dari bulan April sampai Desember 2000. Antiserum terhadap CMV pada tanaman krisan telah dihasilkan dengan cara penyuntikan virus murni CMV pada kelinci dengan konsentrasi setiap penyuntikan sebesar 1 mg/ml. Antiserum yang diuji terdiri dari enam periode pengambilan darah. Pengujian menggunakan metode ELISA tidak langsung. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dari enam kali pengambilan darah ternyata bereaksi positif, yaitu dengan adanya konsentrasi antibodi dalam darah meningkat. Antiserum juga dapat digunakan untuk mendeteksi langsung terhadap ekstrak daun krisan yang terinfeksi CMV. Kepekaan antiserum tertinggi pada pengambilan darah ke empat dan ke enam dengan konsentrasi 1/100 dan 1/500 terhadap pengenceran sampel 1/10 dan 1/100. Study on developing of polyclonal antiserum for rapid detection of cucumber mosaic virus on chrysanthemum. Cucumber mosaic virus is one the major pathogens on some horticulture crops, including chrysanthemum. A rapid detection method should be developed to support the evaluation of initial infection of the virus in plants. The objective of this experiment was to obtain polyclonal antiserum to CMV on chrysanthemum for rapid detection. The experiment was conducted in Virology Laboratory of Indonesian Ornamental Plants Institute in Segunung from April to December 2000. A polyclonal CMV antiserum had been produced by injections of purified CMV into rabbits with concentration 1 mg/ml each injections. The antiserum from six bleeding periods were tested. An indirect ELISA method was used to determine the sensitivity of the antiserum. Results indicated that six bleeding periods had positive reaction, with concentration of the virus antibodies increased gradually from the first to the sixth bleedings. The antiserum can also be directly used to detect CMV from infected chrysanthemum plants. The highest antiserum sensitivity were the fourth and sixth bleedings with concentration 1/100 and 1/500 to sample dilution 1/10 and 1/100.
Penampilan Fenotipik Tujuh Spesies Jamur Kuping (Auricularia spp.) di Dataran Tinggi Lembang Dini Djuariah; E Sumiati
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 3 (2008): September 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v18n3.2008.p%p

Abstract

ABSTRAK. Jamur kuping (Auricularia spp.) merupakan salah satu jamur edibel komersial yang merupakan komoditas sayuran bernilai ekonomi tinggi serta merupakan sumber devisa. Tujuh spesies jamur kuping berasal dari berbagai tempat dievaluasi hasil dan kualitasnya di dataran tinggi Lembang. Penelitian dilakukan di laboratorium dan di rumah jamur (kumbung) sejak bulan Juli-Desember 2004, menggunakan rancangan acak kelompok yang diulang 3 kali. Hasil evaluasi memperlihatkan bahwa Auricularia sp.-7 dari BP2APH-Kaliurang memiliki produktivitas lebih tinggi dibandingkan 6 spesies jamur kuping lainnya.ABSTRACT. Djuariah, D. and E. Sumiati. 2008. Phenotypic Performance of Seven Species Auricularia spp. in Lembang Highland. Auricularia spp. is one of edible commercial mushroom which have high economic value and as a source of foreign exchange for the government. Seven species of Auricularia spp. were evaluated for their yield and quality in Lembang highland. Research was conducted in the laboratory and mushrooms house from July until December 2004, using completely randomize block design with 3 replications. The results showed that Auricularia sp.-7 from BP2APH-Kaliurang Yogyakarta significantly gave the highest yield among 6 species.
Analisis Daya Hasil, Mutu, dan Respons Pengguna terhadap Klon 380584.3, TS-2, FBA-4, I-1085, dan MF-II Sebagai Bahan Baku Keripik Kentang Rofik Sinung Basuki; - Kusmana; Ahmad Dimyati
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 3 (2005): September 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v15n3.2005.p%p

Abstract

Penelitian bertujuan mendapatkan klon kentang olahan yang cocok sebagai bahan baku keripik yang dapat diterima oleh industri sekaligus disukai petani dan konsumen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAK dengan empat ulangan 30 tanaman per plot. Waktu penelitian tahun 2001-2003. Penelitian partisipatif dilakukan bersama petani, pemasok, agroindustri, dan industri rumah tangga serta dilakukan juga penelitian partisipatif preferensi konsumen. Jumlah klon yang diuji pada penelitian partisipatif sebanyak 12 klon kentang olahan baru ditambah tiga varietas pembanding. Penelitian partisipatif dilakukan di Pangalengan (Jawa Barat), Banjarnegara (Jawa Tengah), dan Tosari Bromo (Jawa Timur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon 380584.3, TS-2, FBA-4, I-1085, dan MF-II dikategorikan tahan terhadap serangan penyakit busuk daun dan nematoda bengkak akar (Meloidogyne spp.). Hasil yang dicapai pada 10 lokasi penelitian adalah klon 380584.3 (33,5 t/ha), TS-2 (22,4 t/ha), FBA-4 (28,1 t/ha), I-1085 (25,3 t/ha), dan MF-II (30,1 t/ha). Berdasarkan penerimaan pengguna, klon FBA-4, TS-2, dan MF-II cocok sebagai bahan baku industri besar keripik, sedang klon 380584.3 dan I-1085 cocok untuk industri kecil dan menengah.Analysis of yield potency, quality, and user acceptance of potato clones 380584.3, TS-2, FBA-4, I-1085, and MF-II as raw material for chips. The aim of the research is to obtain potato clones as raw material for chips which preferred by agroindustry, farmers and consumers. Statistical used was RCBD with four replications. A plot consisted of 30 plants. The multy location trials started from 2001 until 2003. Participatory research done with farmers, supplier, agroindustry, homeindustry, and consumers preferences. Number clones tested in participatory plot were 15 clones including three varieties check. Participatory plot were carried out at Pangalengan (West Java), Banjarnegara (Central Java), and Tosari, Bromo (East Java). The results showed that clones 380584.3, TS-2, FBA-4, I-1085, and MF-II were tolerant to late blight and root knot nematodes (Meloidogyne spp.). Tuber yield obtained for clones 380584.3 (33.5 t/ha), TS-2 (22.4 t/ha), FBA-4 (28.1 t/ha), I-1085 (25.3 t/ha), and MF-II (30.1 t/ha). According to the user, clones TS-2, MF- II, and FBA-4 were suitable as raw material for chip industry, whereas clones 380584.3 and I-1085 were selected by small industry.
Uji Metode Inokulasi dan Kerapatan Populasi Blood Disease Bacterium pada Tanaman Pisang - Rustam
Jurnal Hortikultura Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v17n4.2007.p%p

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan menguji beberapa metode inokulasi dan kerapatan populasi blood disease bacterium (BDB) dalam menimbulkan penyakit darah pada tanaman pisang. Metode inokulasi yang diuji adalah pelukaan akar, tanpa pelukaan akar, injeksi bonggol, dan masing-masing dengan kontrol. Sementara itu, kerapatan populasi BDB yang diuji adalah 107, 106, 105, 104, 103 cfu/ml, dan kontrol. Hasil penelitian metode inokulasi BDB menunjukkan bahwa metode inokulasi injeksi dan metode inokulasi pelukaan akar mampu menimbulkan insidensi penyakit 100%. Metode inokulasi injeksi bonggol dapat menimbulkan gejala penyakit darah dengan masa inkubasi lebih cepat dibandingkan dengan metode inokulasi pelukaan akar. Hasil penelitian kerapatan populasi BDB menunjukkan bahwa kerapatan populasi BDB 104-107 mampu menimbulkan gejala penyakit darah dengan insidensi penyakit 20, 40, 60, dan 100% masing-masing untuk kerapatan populasi BDB 104, 105, 106, dan 107 cfu/ml.ABSTRACT. Rustam. 2007. Inoculation Methods and Inoculum Densities Tests of Blood Disease Bacterium on Banana. An experiment was conducted to test of inoculation methods and inoculum densities of blood disease bacterium (BDB) on banana under a glasshouse condition. Inoculation methods of BDB tested were root wounding, root without wounding, corm injection, and control. Inoculum densities of BDB tested were 107, 106, 105, 104, 103 cfu/ml and control. The results showed that corm injection and root wounding were gave similar disease incidence (100%). The incubation phase was faster for corm injection method than root wounding method. Inoculum densities of 104, 105, 106, 107 cfu/ml of BDB could develope disease incidence of 20, 40, 60, and 100% , respectively.
Potensi Insektisida Nabati dalam Mengendalikan Aphis gossypii pada Tanaman Gerbera dan Kompatibilitasnya dengan Predator Menochilus sexmaculatus Dedi Hutapea; Indijarto Budi Rahardjo; Budi Marwoto; Rudy Soehendi
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p75-86

Abstract

(The Potential of Botanical Insecticides to Control of Aphis gossypii on Gerbera and its Compatibility with Menochilus sexmaculatus)Kutu daun Aphis gossypii diketahui dapat menghambat peningkatan produksi gerbera. Upaya pengendalian hama ini masih mengandalkan penggunaan insektisida sintetik. Namun, pada beberapa kasus, praktik pengendalian hama tersebut seringkali kurang efektif. Insektisida nabati merupakan salah satu teknik pengendalian ramah lingkungan yang dapat mengatasi permasalahan tersebut. Penelitian ini bertujuan menguji keefektifan formulasi insektisida nabati ekstrak daun suren (Toona sinensis) dan bunga piretrum (Chrysanthemum cinerariaefolium) dalam pengendalian A. gossypii pada tanaman gerbera serta kompatibilitasnya dengan Menochilus sexmaculatus. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Februari sampai November 2017. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 12 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan ekstrak bunga piretrum dan daun suren serta campuran keduanya (Formula I, Formula II, Formula III) diuji keefektifannya terhadap nimfa A. gossypii pada tanaman gerbera koleksi plasma nutfah nomor 01200002. Pengujian dilakukan pada dua taraf konsentrasi 0,35% dan 0,40% (w/v) dengan metode semprot serangga dan residu pada daun. Uji kompatibilitas insektisida nabati terhadap M. sexmaculatus dilakukan dengan metode semprot serangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan insektisida nabati memiliki aktivitas insektisida, namun hanya perlakuan konsentrasi 0,40% yang menunjukkan persentase kematian tertinggi hama target. Penyemprotan langsung insektisida nabati pada nimfa A. gossypii lebih efektif dibandingkan dengan residu pada daun gerbera. Perlakuan Formula III 0,40% menunjukkan mortalitas tertinggi, dan keefektifannya setara dengan imidakloprid dalam mengendalikan kutu daun di rumah kaca. Ekstrak insektisida nabati uji kompatibel dengan M. sexmaculatus, sementara imidakloprid bersifat toksik terhadap keduanya. Dengan demikian, penggunaan imidakloprid untuk pengendalian kutu daun pada tanaman gerbera perlu dibatasi.KeywordsGerbera jamesonii; Aphis gossypii; Chrysanthemum cinerariaefolium; Toona sinensis; Predator CoccinellidaeAbstractAphis gossypii is known as one of the most damaging aphid species in gerbera production. The botanical insecticide is one of the environmentally-friendly control techniques to overcome this pest. The objective of research was to examine the effectiveness of the botanical insecticide from Toona sinensis leaf and pyrethrum flowers extract to control gerbera aphids and its compatibility with Menochilus sexmaculatus. The research was conducted at Segunung Research Station from February to November 2017, using a Randomized Completed Design with 12 treatments and three replications. Extract of Toona leaf, and pyrethrum flowers, and mixture of both (Formula I, Formula II, Formula III) were tested for its effectiveness against A. gossypii nymphs on gerbera. Testing was arranged at two concentration levels of 0.35% and 0.40% (w/v) by insect spraying and leaf residual methods. The compatibility test against M. sexmaculatus was worked by using the insect spraying method. The results showed that all botanical insecticide had insecticidal activity, but only a concentration of 0.40% showed the highest target pests mortality. Direct spraying of A. gossypii is more effective than residue on the leaf. The Formula III 0.40% showed the highest mortality and equal to imidacloprid for controlling aphids in greenhouses. The botanical insecticide extract was compatible with M. sexmaculatus, while imidacloprid was toxic them both.
Kelayakan Usahatani Bawang Putih di Berbagai Tingkat Harga Output (Feasibility of Garlic Farming at Various Price Levels of Output) Adhitya Marendra Kiloes; nFN Hardiyanto
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n2.2019.p231-240

Abstract

Indonesia selama ini mengimpor sebanyak 95% bawang putih konsumsi, namun direncanakan bahwa Indonesia harus dapat berswasembada bawang putih pada tahun 2021. Untuk itu dilaksanakan upaya perluasan tanam mulai dari penggunaan dana APBN, penanaman oleh importir, maupun penanaman secara swadaya petani yang akan membutuhkan benih bawang putih dalam jumlah banyak. Dengan alasan terbatasnya jumlah benih bawang putih dan meningkatnya permintaan untuk penanaman maka harga benih bawang putih di tingkat petani melonjak naik sehingga perlu dibuat aturan mengenai harga bawang putih agar semua pemangku kepentingan dapat saling mendapatkan keuntungan. Penelitian ini bertujuan merekomendasikan harga bawang putih yang layak sesuai dengan harga pasar dan keuntungan petani. Data yang digunakan berupa data primer input dan output usahatani yang dikumpulkan dari 86 orang petani di tiga sentra produksi bawang putih yang selama ini konsisten menanam bawang putih, yaitu Lombok Timur, Magelang, dan Temanggung. Data sekunder berupa data Upah Minimum Kabupaten (UMK) diperoleh dari BPS untuk membandingkan dengan keuntungan usahatani yang diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga jual yang layak untuk bawang putih konsumsi adalah Rp15.000,00/kg dan untuk benih sebesar Rp53.000,00/kg. Apabila harga jual kurang dari harga tersebut maka keuntungan usahatani akan lebih rendah dari UMK sehingga tidak akan menarik untuk petani.KeywordsBawang putih; Biaya usahatani; Harga jual; UMKAbstractIndonesia for long years has been importing as much as 95% of the consumption of garlic, but it is planned that Indonesia should be able to self-sufficient in garlic in 2021. Therefore, efforts are made to expand planting, starting from the use of national budget funds, planting by importers, as well as planting independently farmers who will need seeds garlic in large quantities. Due to the limited amount of garlic seeds and the increasing demand for planting, the price of garlic seeds at the farmer level soared. Regulations should be made regarding the price of garlic so that all stakeholders can benefit from each other. This study aims to recommend the price of decent garlic according to market prices and farmers’ profits. The data used in the form of farm input and output primary data collected from 86 farmers in three centers of garlic production that have consistently planted garlic, namely East Lombok, Magelang, and Temanggung. Secondary data in the form of District Minimum Wage data was obtained from Statistics Indonesia (BPS) to compare with farm profits obtained. The results of the study show that the reasonable selling price for garlic consumption is IDR 15,000/kg and for seeds of IDR 53,000/kg. If the selling price is less than this price, the farming profit will be lower than the District Minimum Wage so that it will not be attractive to farmers.
Aplikasi Berbagai Konsentrasi Giberelin (GA3) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kailan (Brassica oleracea L.) pada Sistem Budidaya Hidroponik nFN Riko; Sitti Nurul Aini; Euis Asriani
Jurnal Hortikultura Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v29n2.2019.p181-188

Abstract

[Application of Various Concentrations of Gibberellin (GA3) on Kailan (Brassica oleracea L.) Growth with Hydroponic Cultivation System]Giberelin adalah zat pengatur tumbuh yang banyak digunakan untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman, termasuk pada tanaman kailan yang banyak dikonsumsi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh zat pengatur tumbuh giberelin dan konsentrasinya yang optimal terhadap pertumbuhan tanaman kailan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret - Mei 2019 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi, Universitas Bangka Belitung. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan giberelin konsentrasi (0 ppm, 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80 ppm, dan 100 ppm) diulang empat kali. Pemberian giberelin dilakukan dengan cara perendaman benih sebelum tanam dan dilakukan penyemprotan pada tanaman kailan yang dilakukan dua kali dalam seminggu, dimulai 7 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan giberelin dengan konsentrasi 100 ppm memberikan hasil yang tinggi pada tinggi tanaman, diameter batang, luas daun, bobot segar tajuk, dan bobot kering tajuk, dengan persentase kenaikan produksi sebesar 50% dibandingkan kontrol.KeywordsKailan; Giberelin; HidroponikAbstractGibberellin are plant growth regulators that are widely used to stimulate plants growth and development, including widely consumed Brassica oleracea L. plants. The aims of study to determine the effect of gibberellin and its concentration on growth. The research was conducted in March until May 2019 at experimental garden of the Faculty of Agriculture, Fisheries and Biology, Bangka Belitung University. The experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD) with the treatment were concentrations of gibberellin (0 ppm, 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80 ppm, and 100 ppm) with four replication. Gibberelin applied by soaking the seeds before planting and spraying the plants twice a week starting 7 days after planting. The results showed that the application of 100 ppm gibberellins gives the best results on plant height, stem diameter, leaf area, canopy fresh weight, and canopy dry weight, with a percentage increase in production by 50% compared to control.
Pengaruh Aplikasi Vermikompos terhadap Pertumbuhan, Kandungan Hara serta Hasil Tanaman Selada Hijau (Lactuca sativa L.) pada Budidaya Tanpa Tanah [Effect of Vermicompost Application on Growth, Nutrient Uptake, and Yield of Green Lettuce (Lactuca sativ)] Nurhidayati, nFN; Machfudz, Masyhuri; Rahmawati, Nisma Ula Shoumi
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n2.2020.p115-124

Abstract

Budidaya tanpa tanah pada dekade terakhir ini semakin berkembang seiring dengan munculnya beberapa permasalahan budidaya tanaman konvensional di lahan pertanian. Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh aplikasi vermikompos padat dan cair terhadap pertumbuhan, kandungan hara, dan hasil tanaman selada hijau dengan jumlah tanaman per pot yang berbeda. Penelitian ini merupakan percobaan pot di rumah plastik yang menggunakan kultur substrat campuran cocopeat, zeolit, pasir dan vermikompos sebagai sumber nutrisi. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Faktor I adalah macam aplikasi vermikompos (padat, padat+cair,dan cair) dan Faktor II adalah jumlah tanaman per pot (satu, dua, dan tiga tanaman per pot). Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi vermikompos padat memberikan pertumbuhan tinggi tanaman (22,73 cm), jumlah daun (8,81), dan luas daun tanaman (974,76 cm2) tertinggi. Kandungan hara tertinggi terdapat pada aplikasi vermikompos padat dengan rata-rata masing-masing sebesar N= 4,39%, P=0,77% dan K=9,07%. Penanaman tiga tanaman per pot cenderung memberikan kandungan hara terendah pada ketiga metode aplikasi vermikompos. Namun, bobot segar biomassa dan hasil ekonomis tertinggi diperoleh pada aplikasi vermikompos padat dengan tiga tanaman per pot masing-masing sebesar 122,22 g dan 111,77 g. Hasil ini menunjukkan bahwa aplikasi vermikompos padat dan tiga tanaman per pot dapat disarankan untuk budidaya tanpa tanah tanaman selada hijau.KeywordsVermikompos; Pertumbuhan; Serapan hara; Hasil tanaman seladaAbstractThis study was a pot experiment in a plastic house using substrates culture and vermicompost as a source of plant nutrients. The purpose of this study was to test the effect of the application of vermicompost on growth, nutrient content and yield of green lettuce with different number of plants per pot. This experiment used a factorial randomized block design. The first factor was kinds of vermicompost application. The second factor was number of plant per pot. The research results showed that the application of solid vermicompost had the highest growth and nutrient uptake in plant height (22.73 cm), number of leaves (8.81) and leaf area (974.76 cm2) as well as an average of N = 4.39%, P = 0.77% and K = 9.07%. The treatments of solid+liquid vermicompost and liquid vermicompost alone, three plants per pot tend to provide the lowest nutrient uptake. However, the highest fresh weight of biomass and marketable yield was obtained in the application of solid vermicompost with three plants per pot by 122.22g and 111.77g, respectively. These results suggest that the application of solid vermicompost and three plants per pot is recommended in soilless culture for green lettuce plants.
Pengaruh Aplikasi Pupuk Mikotricho pada Budidaya Bawang Merah dengan Pengurangan Dosis Pupuk N-P-K (The Effect of Mikotricho Fertilizer Application on Shallots Cultivation by Reducing the N-P-K Dose) Eny Rokhminarsi; Darini Sri Utami; nFN Begananda
Jurnal Hortikultura Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v30n1.2020.p47-56

Abstract

Bawang merah termasuk sayuran bumbu yang dibutuhkan oleh masyarakat dan harganya bersifat fluktuatif sehingga diperlukan kecukupan produksi untuk mendukung kestabilan harga. Kecukupan produksi dapat tercapai melalui pemanfaatan lahan marjinal seperti Ultisol yang masih luas dan perbaikan teknik budidaya, di antaranya melalui aplikasi pupuk Mikotricho. Tujuan penelitian adalah mengkaji pupuk Mikotricho dengan pengurangan dosis N-P-K terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian berupa percobaan lapang di lahan Ultisol menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama, dosis pupuk Mikotricho, yaitu 10 g, 30 g, dan 50 g/tanaman, faktor kedua, pengurangan dosis N-P-K berupa Urea, SP-36, KCl, dan ZA, yaitu 0, 25%, dan 50% dari rekomendasi. Hasil penelitian menunjukkan, aplikasi pupuk Mikotricho meningkatkan jumlah daun (11,4%) dan bobot tanaman segar (49,1%) bawang merah secara linier positif dengan dosis terbaik 50 g/tanaman. Hasil umbi/rumpun dan per petak efektif (0,64 m2) dosis pupuk Mikotricho, 10 g, 30 g, dan 50 g/tanaman tidak berbeda. Pengurangan dosis N-P-K dari rekomendasi berpengaruh terhadap jumlah anakan dan bobot segar tanaman bawang merah dengan efek linier negatif, namun pengurangan 25% dosis N-P-K dapat dipilih. Pengaruh interaksi pupuk Mikotricho dengan pengurangan dosis N-P-K terjadi pada kehijauan daun dan luas daun. Pemberian pupuk Mikotricho dosis 10 g hingga 30 g/tanaman dengan pengurangan dosis N-P-K 25% hingga 50% dari rekomendasi meningkatkan kehijauan daun dan luas daun bawang merah. Implikasi dari penelitian ini adalah diperlukan sosialisasi pemanfaatan pupuk Mikotricho pada budidaya tanaman bawang merah atau tanaman sayuran lain untuk mengurangi pemakaian pupuk sintetik dan perlu dukungan industri pembuatan pupuk Mikotricho.KeywordsMikoriza; Trichoderma; N-P-K; Bawang merah; Lahan marginalAbstractShallots are a spice vegetable needed by the community. Adequacy of production can be achieved through the use of Ultisols with application of Mikotricho fertilizer. The aim of this research was to study the Mikotricho fertilizer with a reduced dose of N-P-K on growth and yield of shallots. The research was a factorial RCBD with three replications. The first factor, namely 10 g, 30 g, and 50 g/plant Mikotricho fertilizer dose, the second factor, namely 0, 25%, 50% N-P-K reduction of the recommendation.The results showed that Mikotricho fertilizer increased the number of leaves (11.4%) and fresh plant weight (49.1%) of shallots, the best dose of 50 g/plant. The yield bulbs/clump and per plot (0.64 m2) 10 g, 30 g, and 50 g Mikotricho fertilizer were not different. The 25% reduction in the N-P-K can be chosen to the number of tillers and fresh weight of shallots plants. Apply of Mikotricho fertilizer 10 g until 30 g/plant with a reduction in the N-P-K of 25% until 50% increases leaf greenish and leaf area. The implication was that socialization of Mikotricho fertilizer in cultivation of shallots or other vegetable crops to reduce the use of synthetic fertilizers and needs the support of the Mikotricho fertilizer manufacturing industry.

Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue