cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Persepsi dan Preferensi Konsumen terhadap Atribut Produk Beberapa Jenis Sayuran Minor Soetiarso, Thomas Agus
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengidentifikasi persepsi konsumen terhadap atribut produk sayuran minor sesuaidengan preferensinya. Penelitian survai konsumen dilaksanakan di Kotamadya Bandung, Jawa Barat pada bulanJuni-Agustus 2006. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja, sedangkan pemilihan responden ibu rumah tanggasebanyak 49 orang dilakukan secara acak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan kuesionerterstruktur. Pada penelitian ini komoditas sayuran minor (under-utilized/indigenous) yang dipilih adalah paria, seladaair, oyong, leunca, dan kemangi. Preferensi konsumen terhadap atribut kualitas sayuran minor dianalisis dengan teknikperingkat (ranking) dan diuji dengan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sayuran kemangi dan oyonglebih disukai konsumen daripada paria, leunca, dan selada air. Konsumen relatif jarang memanfaatkan kelima jenissayuran minor tersebut, yaitu satu kali sebulan atau lebih. Dua kendala utama dalan konsumsi sayuran minor adalahterbatasnya variasi menu masakan untuk selada air, oyong, dan kemangi, dan rasa yang kurang enak untuk paria danleunca. Secara umum konsumen menempatkan atribut kemudahan memperoleh di pasar pada urutan pertama dalammengonsumsi kelima jenis sayuran minor tersebut, dan berturut-turut diikuti oleh rasa, kemultigunaan (sebagai obat),gizi, daya simpan, dan harga. Sementara itu, preferensi konsumen terhadap atribut kualitas kelima jenis sayuran minorsesuai urutan pertimbangannya dalam memilih atau membeli adalah: (1) paria: panjang sedang (20 cm), diameterbuah sedang (5 cm), permukaan buah bergerigi sedikit-banyak, bentuk buah lurus, kekerasan buah sedang, warnadaging putih kehijauan, daging tebal, rasa agak pahit, dan jumlah biji sedikit, (2) selada air: warna daun hijau muda,ukuran tangkai sedang, jumlah daun/tangkai sedang-banyak, kekerasan daun renyah, dan rasa agak manis, (3) oyong:warna kulit hijau muda, panjang sedang (30 cm), diameter sedang (5 cm), kekerasan buah sedang, bentuk buah lurus,warna daging putih, serta jumlah biji sedikit, (4) leunca: warna buah hijau muda, ukuran buah sedang, kekerasan buahrenyah, jumlah buah/tangkai banyak, dan rasa manis, (5) kemangi: warna daun hijau muda-tua, ukuran daun sedang(diameter 3,5 cm), jumlah daun/tangkai sedang-banyak, bau/aroma sedang-menyengat, tidak ada bunga, dan jumlahcabang/tangkai banyak. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai dasar untuk memperbaiki atribut sayuran minorsesuai dengan preferensi konsumen serta upaya untuk meningkatkan potensi ekonomis komoditas tersebut.ABSTRACT. Soetiarso, T. A. 2010. Consumer’s Perception and Preference on Product Attributes of SomeUnder-utilized (Minor) Vegetables. The study was aimed to identify consumer’s perception on some under-utilized(minor) vegetables product attributes that reflected their preferences. A consumer survey was carried out in Bandung,West Java from June to August 2006. Survey location were purposively selected, while 49 household mothers wererandomly chosen. Data were collected through interviews by using a structured questionnaire. Minor vegetablesincluded in this study were bitter gourd, water cress, ridged gourd, night shade, and basil. Consumer preferenceson product attributes of minor vegetables were analyzed by using a ranking technique and tested with Chi-square.Results indicated that basil and ridged gourd were more preferred by consumers than bitter gourd, night shade,and water cress. Those five minor vegetables were rarely consumed once a month or more by consumers. Twomain constraints of the low consumption as perceived by consumers were limited menu variation for water cress,ridged gourd, and basil and taste was not good for bitter gourd and night shade. In general, consumers consideredthe easiness to obtain the minor vegetables in the market as the most important product attribute and subsequentlyfollowed by taste, multi-usage (for medicine), nutrition, storage life, and price. Meanwhile, consumer preferences onproduct attributes for each minor vegetables were as follow: (1) bitter gourd: medium length (20 cm), medium fruitdiameter (5 cm), less to much serrated of fruit surfaces, straight fruit shape, medium fruit hardness, greenish-whiteflesh color, thick flesh, less bitter, and less number of seeds, (2) water cress: light green leaf color, medium size ofbranch, medium to much number of leaves/branches, crispy leaves, and slightly sweet, (3) ridged gourd: light greenskin color, medium length (30 cm), medium diameter (5 cm), medium fruit hardness, straight fruit shape, white fleshcolor and less number of seeds, (4) night shade: light green fruit color, medium fruit size, crisp fruit hardness, muchnumber of fruits/branches and sweet taste, (5) basil: light to dark green leaves, medium leaf size (diameter 3.5 cm),medium to much number of leaves, medium to strong aroma, no flower, and much number of branches. Resultsof this consumer survey may be used as a preference-based feedback for improving the product attibutes of minorvegetables to increase their economic potentials.
Penyakit Layu Fusarium Pada Tanaman Pisang di Provinsi NAD: Sebaran dan Identifikasi Isolat Berdasarkan Analisis Vegetative Compatibility Group -, Edison; -, Riska; Hermanto, Catur
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penyakit layu yang disebabkan oleh cendawan Fusarium  oxysporum f. sp. cubense (Foc) merupakan penyakit paling berbahaya pada tanaman pisang. Untuk mendapatkan teknik pengendalian yang tepat, maka informasi tentang distribusi dan karakter biologi patogen tersebut perlu diketahui. Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi penyakit layu Fusarium di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan varietas pisang yang diserangnya serta mengidentifikasi isolat  Foc berdasarkan analisis vegetative compatibility group (VCG). Survei dan pengumpulan sampel tanaman pisang terserang penyakit dilakukan pada bulan Januari 2007 dan Juli 2008. Isolasi dan pemurnian isolat dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman, Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika Solok pada bulan Februari 2007 dan Agustus 2008. Analisis VCG dilakukan di Departement of Primary Industry, Plant Pathology Section, Indooroopilli Australia dan Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika sejak bulan Juli 2007 sampai bulan Juli 2009. Tester VCG berjumlah 17 nomor yang berasal dari Department of Primary Industry, Plant Pathology Section, Indooroopilli Australia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit layu Fusarium ditemukan di semua lokasi pengamatan di Provinsi NAD pada empat varietas pisang, yaitu Barangan (AAA), Raja (AAB), Kepok (ABB/BBB), dan Siem (ABB). Dari 50 isolat Foc yang dikoleksi terkelompok ke dalam dua VCG, 37 isolat (74%) termasuk dalam VCG 01213/16 (Tropical Race 4), ditemukan pada tiga varietas (Barangan, Kepok, dan Raja), sembilan isolat masuk VCG 01218 (Ras 1) ditemukan hanya pada varietas Siem, sedangkan VCG empat isolat yang menyerang pisang varietas Siem belum ditemukan. Foc VCGs 01213/16 (TR4) paling dominan ditemukan di Provinsi NAD, baik dari jumlah, sebaran lokasi, maupun ragam varietas yang diserangnya. Data ini menginformasikan bahwa pengembangan tanaman pisang di Provinsi NAD harus dilakukan secara selektif serta mempertimbangkan langkah-langkah preventif dan pengendalian yang tepat.ABSTRACT. Jumjunidang, Edison, Riska, and Hermanto, C 2012. Fusarium Wilt Disease on Banana in NAD Province: Distribution and Identification of Isolates through Vegetative Compatibility Group Analysis. Wilt disease caused by Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) is the most dangerous pathogen on banana. Knowledge of the distribution and biological characters of the pathogen is very important to arrange an effective control technique. The objectives of this study were to reveal distribution of Fusarium wilt disease in Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Province and infected banana varieties as well as to identify of Foc isolates with vegetative compatibility group (VCG) analysis Survey and collection of samples of infected banana plants in NAD Province were carried out in January 2007 and July 2008. Isolation and purification of the isolates with single spore techniques were done at Plant Protection Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute (ITFRI), Solok in February 2007 and August 2008. Vegetative compatibility group analysis was performed at Department of Primary Industry, Plant Pathology Section, Indooroopilli Australia and Plant Protection Laboratory of ITFRI from July 2007 to July 2009. Seventeen VCG testers were originated from Department of Primary Industry, Plant Pathology Section, Indooroopilli Australia. The results showed that Fusarium wilt disease was found in all surveyed locations in NAD Province on four banana varieties, i.e. Barangan (AAA), Raja (AAB), Kepok (ABB/BBB), and Siem (ABB). Fifty isolates of the pathogen Foc have been collected and grouped into two VCGs, 37 isolates (74%) were grouped into VCG 01213/16 (Tropical Race 4) attacking three varieties (Barangan, Kepok, and Raja), nine isolates were clustered into VCG 01218 (Race 1) attacking Siem variety only, and the other four isolates from Siem variety had not been identified yet.  Foc VCG 01213/16 (TR4) was very dominant in NAD Province, in terms of numbers, location, and distribution of attacked varieties. These findings inform that the development of banana plants in the NAD province should be done selectively and consider both preventive measures and appropriate controls.
Teknologi Haploid Anyelir: Studi Tahap Perkembangan Mikrospora dan Seleksi Tanaman Donor Anyelir Kartikaningrum, Suskandari; Purwito, A; Watimena, G A; Marwoto, Budi; Sukma, D
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan teknologi haploidisasi merupakan salah satu terobosan yang diharapkan mampu mempercepat kebangkitan industri florikultura di Indonesia. Teknologi tersebut dapat menghasilkan tanaman homozigot murni atau tanaman haploid ganda. Tujuan penelitian ialah (1) mengetahui tahap perkembangan bunga, mikrospora, dan viabilitasnya, (2) mendapatkan medium inisiasi yang potensial untuk kultur anter atau mikrospora anyelir. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dan Laboratorium Microtechnique, Departemen Agronomi, Institut Pertanian Bogor, mulai September 2009 sampai dengan Oktober 2010. Bahan tanaman yang digunakan ialah lima genotip Dianthus chinensis. Pengamatan mikrospora dengan pengecatan menggunakan DAPI dan FDA, seleksi medium inisiasi, dan tanaman donor dilakukan dalam penelitian ini. Penelitian ini menghasilkan lima genotip D. chinensis yang memiliki kecepatan anthesis yang relatif sama, yaitu berkisar antara 14-16 hari, mempunyai ciri-ciri spesifik, yaitu adanya perubahan warna anter pada fase perkembangan kuncup bunga yang sama dan pada genotip V11, V13, dan V15 yang memiliki ukuran mikrospora bervariasi. Jumlah mikrospora per anter terbanyak ditemukan pada genotip V11, yaitu 30.400. Rasio tahap perkembangan mikrospora berubah sejalan dengan perubahan tahap perkembangan kuncup bunga dengan persentase late-uninucleate tertinggi (44,64%) pada saat kuncup bunga mencapai ukuran antara 1,31 dan 1,51 cm, dan belum ada perubahan warna anter. Viabilitas mikrospora berkisar antara 40-60% dan persentase tertinggi ditunjukkan oleh genotip V11. Fase perkembangan mikrospora T3 (ukuran kuncup 1,31-1,50 cm, warna anter putih) berpotensi untuk pengujian lebih lanjut. Medium inisiasi yang dipilih ialah medium M2 dan M5 yang akan diuji lebih lanjut. Genotip V11 ditetapkan sebagai tanaman donor utama, sedang genotip lain yang berpotensi yaitu V13 dan V15. Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai langkah awal pembuatan protokol kultur anter tanaman anyelir.The development of haploid technology is one of the breakthrough innovation to fasten the revival of floriculture industry in Indonesia. Homozygous double haploid plants can be produced through this technology. The aims of this research were to determine (1) flower development stage, microspores, and survival, (2) isolation techniques and medium having the potential for initiation of anther or microspores culture of carnation. The study was conducted at the Tissue Culture Laboratory, Indonesian Ornamental Crops Research Institute, Segunung, and the Microtechnique Laboratory, Department of Agronomy, Bogor Agricultural University, from September 2009 to October 2010. Five genotypes of Dianthus chinensis were used in this study. Periodically observations of anther morphology, DAPI and FDA staining, selection of medium, and donor plants were done in this research. The results showed that the D. chinensis genotypes tested had relatively the same growth speed of anther ranged from 14 to 16 days, special characteristics in color change of anther of the flower bud stage development of the same genotype and variation of microspore size among the genotypes V11, V13, and V15. The highest number of microspores per anther was presented in genotype V11 (30,400). The ratio of microspore developmental stage changed in line with flower bud development stage with the highest percentage of late-uninucleate (44.64%) at flower bud size between 1.31 to 1.51 cm, and there was no change in color of anther. Microspore viability ranged between 40 and 60%, and the highest percentage shown by genotype V11. Microspore development phase of  T3 (bud size 1.31-1.50 cm, white anther color) had potential for further testing. The selected initiation media were M2 and M5, which will be examined further. Genotype V11 designated as a major donor plant, while the other potential genotypes were V13 and V15. The results of this study are useful as a first step to develop anther culture protocol on carnation.
Daya Hasil Tomat Hibrida (F1) di Dataran Medium Purwti, Ety
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai November 2006, di dataran medium Banyuresmi,Kabupaten Garut pada jenis tanah Latosol dengan ketinggian 550 m dpl. Tujuan penelitian ialah mengevaluasi 16genotip tomat hibrida (F1). Materi terdiri atas 16 genotip hibrida, 11 genotip di antaranya berasal dari Balai PenelitianTanaman Sayuran. Rancangan penelitian menggunakan acak kelompok dengan 2 ulangan dan 20 tanaman/plot. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa genotip IVEGRI 06-05 mencapai hasil tertinggi (56,6 t/ha) tetapi tidak berbeda nyatajika dibandingkan dengan varietas Marta (49,25 t/ha) sebagai kontrol, yang merupakan varietas tomat terbanyakditanam oleh petani di daerah Garut. Produksi terendah dicapai oleh genotip IVEGRI 06-01 (40,10 t/ha) dan Blts05-08 (40,0 t/ha) berbeda nyata jika dibandingkan dengan genotip IVEGRI 06-02, 06-03, 06-05, varietas Idola, danSpirit. Kekerasan buah berkisar dari sangat keras (nilai 3,3) sampai agak lunak (nilai 4,5), meskipun demikian buahyang paling keras (nilai 3,3) ialah genotip IVEGRI 06-01 dan varietas Marta. Demikian juga daya tahan simpanbuah kedua genotip ini adalah yang paling lama (24 hari).ABSTRACT. Purwati, E. 2009. Yield Potential of Tomato F1 Hybrid in Medium Land. Sixteen hybrids of tomatogenotypes (F1) were tested, and 11 out of them were hybrid genotypes from Indonesian Vegetable Research Institute(IVEGRI). The research was conducted in Banyuresmi, Garut District, West Java, at Latosol soil type with an altitudeof 550 m asl., from July to November 2006. Randomized complete block design with 2 replications and 20 plants perplot were used for field evaluation. The results indicated that IVEGRI 06-05 genotype gave the highest yield (56.60t/ha) but it was not significantly different to Marta variety (49.25 t/ha) as control. The lowest yields were shown byboth IVEGRI 06-01 (40.10 t/ha) and Blts 05-08 (40.0 t/ha), which were significantly different with IVEGRI 06-02,06-03, 06-05, Idola, and Spirit. In general fruit firmness ranges from hard to soft (value 3.3 – 4.5). However IVEGRI06-01 genotype and Marta’s variety indicated the highest hardness (value 3.3) and the longest selflife (24 days).
Kemangkusan Nematoda Entomopatogen Steinernema carpocapsae terhadap Hama Penggerek Umbi/Daun (Phthorimaea operculella Zell.) Kentang Uhan, T S
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari patogenisitas nematoda Steinernema carpocapsae terhadap larva Phthorimaea operculella di rumah kaca. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Kabupaten Bandung mulai Agustus 2003-Agustus 2004. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Pengujian dilakukan menggunakan metode kertas saring dan penyemprotan. Perlakuan yang diuji yaitu 4 macam tingkat kepadatan populasi nematoda S. carpocapsae (200, 400, 800, dan 1.600 JI/ml), insektisida pembanding, dan kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode kertas saring dengan kepadatan S. carpocapsae 800 JI/ml pada 144 jam setelah aplikasi, efektif dalam mengendalikan larva P. operculella pada tanaman kentang di rumah kaca dengan mortalitas 100%, sedangkan pada metode penyemprotan dengan kepadatan S. carpocapsae 800 dan 1.600 JI/ml pada 144 jam setelah aplikasi dengan mortalitas 97,5 dan 100% berturut-turut.ABSTRACT. 2008 Effctivit Uhan, T.S. 2008. The Effectivity of Steinernema carpocapsae Against Pototatoto Tuber Mototh (Phthorimaea operculella Zell.).The objective of this research was to find out the pathogenicity of Steinernema carpocapsae nematodes Lembang strains on mortality of Phthorimaea operculella on potato plant in the greenhouse. The experiment was carried out in the Laboratory of Pest and in the Greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, Bandung, at 1,250 m asl, from August 2003 to August 2004. The experiment was arranged in a randomized block design with 6 treatments and 4 replications. Testing was done by using filter paper method and spraying method. The treatments were 4 level density of S. carpocapsae nematodes (200, 400, 800, and 1,600 JI/ml), one insecticide as comparison, and control. The results showed that filter paper method with density of S. carpocapsae 800 JI/ml at 144 hours after application was effective to control larvae of P. operculella on potato plant in a greenhouse with mortality of 100%, while spraying method with density of S. carpocapsae 800 and 1,600 JI/ml at 144 hours after application caused mortality 97.5% and 100% of P. operculella, respectively
Uji Daya Gabung dan Tipe Aksi Gen pada Buah Pepaya Sukartini, -; Budiyanti, Tri
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui daya gabung umum dan daya gabung khusus, efek dayagabung umum, dan tipe aksi gen pada karakter berat buah, rasio panjang/diameter buah, tebal daging buah, dan nilaipadatan total terlarut (PTT) buah pepaya. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sumani Balai Penelitian TanamanBuah Tropika Solok pada bulan Januari sampai Desember 2002. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acakkelompok, dengan 2 hibrida F1 sebagai perlakuan dan ulangan sebanyak 7 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwapada karakter berat buah, tebal daging buah, dan nilai PTT, penampilan hibrida pepaya dapat diramalkan berdasarkandaya gabung umum. Tipe aksi gen yang mempengaruhi karakter berat buah adalah aditif dan dominan lebih. Sedangkanpada karakter tebal daging buah dan nilai PTT dipengaruhi oleh aksi gen dominan. Varietas Wonosobo dapat digunakanuntuk perakitan hibrida pepaya dengan buah yang lebih berat dan daging buah tebal. Selain itu, untuk memperolehhibrida pepaya yang mempunyai rasa manis dapat digunakan varietas Meksiko.ABSTRACT. Sukartini and T. Budiyanti. 2009. Combining Capacity Test and Gene Action Type of PapayaFruit. The aims of this research was to know the general and specific combining capacity, the effect of generalcombining capacity, and gene action type of fruit weight, length/diameter fruits ratio, flesh thickness, and totalsolube solid (TSS) value. The research was done at Sumani Research Station of Indonesian Tropical Fruit ResearchInstitute from January until December 2002. Randomized block design was used which 2 F1 hybrids as treatmentand 7 replications. The results showed that characters of fruit weight, flesh thickness, TSS value, and appearance ofpapaya hybrid could be forecasted base on general combining capacity. Gene action type which influence fruit weightwere additive and over dominant. However, flesh thickness and TSS value characters were influenced by dominantgene action. Wonosobo variety could be used to develop new variety with more fruit weight and flesh thickness onpapaya hybrid. Whereas Mexico variety could be used to obtain sweet taste papaya hybrid.
Regenerasi Beberapa Kultivar Kentang dan Transformasi Kentang dengan Gen RB melalui Agrobacterium tumefaciens Listanto, E; Watimena, G A; Armini, N M; Sinaga, M S; Sofiari, Eri; Herman, M
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans (Mont.) de Barymerupakan salah satu penyakit yang merusak tanaman dan memengaruhi hasil umbi kentang. Salah satu usahauntuk mengendalikan penyakit ini, yaitu dengan menggunakan kultivar tahan yang dapat dirakit melalui rekayasagenetik. Penelitian ini terdiri atas 3 kegiatan, yaitu studi regenerasi, transformasi gen RB ke dalam Agrobacteriumtumefaciens, dan transformasi kentang dengan gen RB. Penelitian dilakukan untuk mengetahui regenerasi beberapakultivar kentang, keberhasilan transfer gen RB ke dalam A. tumefaciens, dan melakukan transformasi kentang dengangen RB melalui A. tumefaciens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar Merbabu dan Atlantik memilikikemampuan regenerasi yang tinggi dan menghasilkan tunas sebanyak 30,6 dan 22,8. Dari semua kultivar yang diuji,Granola paling sensitif terhadap kanamisin pada konsentrasi 50 mg/l dan dipilih sebagai bahan transformasi. PlasmidpCLD04541 berhasil ditransfer ke dalam A. tumefaciens. Koloni A. tumefaciens yang tumbuh pada media LB yangdiberi antibiotik tetrasiklin dan rifampisin menunjukkan keberadaan plasmid pCLD04541 yang mengandung genRB. Hasil transformasi terhadap 5.347 eksplan ruas batang Granola diperoleh 50 transforman yang positif terdeteksioleh polymerase chain reaction (PCR) mengandung gen RB. Keberadaan gen RB ditunjukkan dari hasil amplifikasiujung-N dengan ukuran fragmen sebesar 619 bp dan ujung-C dengan ukuran fragmen sebesar 840 bp.ABSTRACT. Listanto, E., G. A. Wattimena, N. M. Armini, M. S. Sinaga, E. Sofiari, and M. Herman. 2009.Regeneration on Some Potato Cultivars and Potato Transformation with RB Gene Through Agrobacteriumtumefaciens. Late Blight on Potato, Incited by Phytophthora infestans (Mont.) de Bary is a devastating disease affectingtuber yield. One of the efforts to control this disease is by using resistance cultivar that can be bred through geneticengineering. This experiment consisted of 3 activities those were to study the regeneration of several potato cultivarsand to transform RB gene into A. tumefaciens and to do Agrobacterium-mediated transformation on potato using RBgene. The results showed that Merbabu and Atlantic cultivars had the highest regeneration capacity which produced30.6 and 22.8 shoots. Granola has the most sensitive variety to kanamycine on 50 mg/l concentration, therefore thiscultivar had been chosen for transformation material. Colonies of A. tumefaciens that grew on LB media containingtetracycline and rifampicine antibiotics indicated bearing pCLD04541 plasmid carrying RB gene. The results oftransformation on 5,347 internode explants of Granola produced 50 transformants that were positively detected byPCR for RB gene. Polymerase chain reaction product of RB gene were detected by the occurrence of 2 amplificationproducts, 619 bp for N-term and 840 bp for C-term.
Efektivitas Aplikasi Kombinasi Steinernema carpocapsae dan Biopestisida Bacillus thuringiensis terhadap Mortalitas Crocidolomia pavonana F. pada Tanaman Kubis di Rumah Kaca Uhan, T S; Sulastrini, I
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Percobaan dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang dari bulan Oktober sampai Desember 2006. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi Steinernema carpocapsae dan Bacillus thuringiensis terhadap mortalitas larva Crocidolomia pavonana pada tanaman kubis di rumah kaca. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Faktor pertama yaitu S. carpocapsae dengan 4 taraf yaitu 0, 400, 800, dan 1.600 JI/tanaman sedangkan faktor kedua yaitu konsentrasi B. thuringiensis dengan 3 taraf yaitu 0, 0,1, dan 0,2 g/100 ml. Hasil percobaan menunjukkan bahwa S. carpocapsae dan B. thuringiensis lebih baik apabila digunakan dengan cara dicampurkan daripada digunakan secara tunggal dalam mengendalikan larva C. pavonana, karena dapat menyebabkan mortalitas lebih tinggi daripada secara tunggal. Kombinasi 400 JI/tanaman S. carpocapsae dengan 0,1 g/100 ml B.thuringiensis menyebabkan mortalitas larva 53,33%, kombinasi 800 JI/tanaman S. carpocapsae dengan 0,1 g/100 ml B. thuringiensis menyebabkan mortalitas 66,67%, dan kombinasi 1.600 JI/tanaman dengan 0,1 g/100 ml B. thuringiensis menyebabkan mortalitas 90%. Sedangkan mortalitas tertinggi adalah pada perlakuan kombinasi 1.600 JI/tanaman S. carpocapsae dengan 0,2 g/100 ml B. thuringiensis menyebabkan mortalitas 100% pada pengamatan 96 jam setelah aplikasi.ABSTRACT. Uhan, T.S. and I. Sulastrini. 2008. Effectivity of Mixture of Steinernema carpocapsae and Bacillus thuringiensis Application on the Mortality of Crocidolomia pavonana F. on Cabbage in the Greenhouse. A greenhouse experiment was conducted at the Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang from October to December 2006. The aim of this study was to observe the effffect of difffferent concentrations of S. carpocapsae and B. thuringiensis mixture which is effffective against C. pavonana larvae. The experiment was arranged in a factorial randomized block design with 2 factors and 3 replications. The first factor was the population density of S. carpocapsae, with 4 levels: 0, 400, 800, and 1,600 JI/plant, while the second factor was the concentration of B. thuringiensis, with 3 levels: 0, 0.1, and 0.2 g/100 ml. The results showed that S. carpocapsae and B. thuringiensis were much better than that of control C. pavonana if they were applied in mixture rather than applied in single treatment. Combination of 400 JI/plant S. carpocapsae with 0.1 g/100ml B. thuringiensis caused 53.33% mortality of C. pavonana larvae; 800 JI/plant S. carpocapsae with 0.1 g/100 ml caused 66.67% mortality of C. pavonana; and 1,600 JI/plant S. carpocapsae with 0.1 g/100 ml caused 90% mortality of C. pavonana. The highest mortalitity (100%) was showen by the treatment of 1.600 JI/plant of S. carpocapsae mixed with 0.2 g/100 ml B. thuringiensis at 96 hours after application.
Pengaruh Varietas dan Sistem Tanam Cabai Merah terhadap Penekanan Populasi Hama Kutu Kebul Setiawati, W; Udiarto, B K; Soetiarso, T A
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kutu kebul, Bemisia tabaci merupakan hama penting pada tanaman cabai merah di Indonesia. Penggunaan varietas tahan dan sistem tanam merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi serangan B. tabaci. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh berbagai varietas cabai merah dan sistem tanam terhadap serangan B. tabaci pada tanaman cabai merah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran dari bulan Juli 2004-Maret 2005. Rancangan penelitian yang digunakan adalah petak terpisah dengan 4 ulangan. Sebagai plot utama adalah varietas cabai merah (Taro, TM-99, Hot Beauty, Hot Chili, Keriting Lembang, dan Tanjung-2). Sebagai anak petak adalah sistem tanam (monokutur, tumpangsari cabai dan kubis, dan tumpangsari cabai dan tomat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas cabai merah yang paling disukai oleh B. tabaci adalah varietas Taro dan yang kurang disukai adalah varietas Hot Chili. Tumpangsari antara cabai merah dengan kubis dan tumpangsari antara cabai merah dengan tomat ternyata dapat menekan populasi B. tabaci, masing-masing sebesar 60,72 dan 25,24% dibandingkan dengan sistem tanam monokultur. Pada varietas tanaman yang disukai (Taro) kerusakan tanaman yang diakibatkan oleh B. tabaci dapat mencapai 29,51% pada sistem tumpangsari, sedangkan pada sistem tanam monokultur dapat mencapai 30,18%. Hasil panen monokultur lebih tinggi dibandingkan dengan tumpangsari. Hasil panen tertinggi didapat oleh varietas Hot Chili (16,86 t/ha) dan yang terendah adalah Keriting Lembang (6,35 t/ha). Varietas Hot Chili mempunyai produksi tertinggi dibandingkan dengan varietas lainnya dan merupakan varietas terbaik bila ditumpangsarikan dengan kubis ataupun tomat dan kurang disukai oleh B. tabaci.ABSTRACT. Setiawati, W., B.K. Udiarto, and T.A. Soetiarso. 2008 Effect of Varieties and Cropping System Against the Tobacco Whitefly on Hot Pepper. The ect of Varieties and Cropping System Against the Tobacco Whitefly on Hot Pepper. The tobacco whitefly, B. tabaci is an important insect affecting hot pepper production in Indonesia. The use of resistant varieties and cropping system are alternative to minimize this pest. The studies was designed to find out the difference in performance among 6 selected hot pepper varieties against B. tabaci and to assess the effect of cropping system against B. tabaci population. This research purposes were to examine fundamental component of any IPM program, the interaction between the crop cultivar, the pest, and the control strategies. The study was conducted at the field of Indonesian Vegetable Research Institute from July 2004 to March 2005. Split plot design with 4 replications was used in this experiment. Varieties was used as a main plot, while cropping system was used as a subplot. The results showed that Taro variety was the most preferred by B. tabaci, while Hot Chili was the least preferred. Multiple cropping between hot pepper-cabbage, and hot pepper-tomatoes can reduced population of B. tabaci on hot pepper at rate of 60.72 and 25,24% respectively compare to monoculture. Damage caused by B. tabaci was the highest on Taro variety, i.e. 29.51% on multiple cropping and 30.18% on monoculture. The yield was higher in monoculture than multiple cropping. The highest yield was obtained from Hot Chili (16. 86 t/ha) while Keriting Lembang gave the lowest yield (6.35 t/ha). The use of tolerant varieties and adoption of proper cultural practices can reduce population of B. tabaci. Hot Chili variety also gave the highest yield in the multiple cropping, either with tomato or cabbge.
Daya Hasil Beberapa Klon Kentang di Garut dan Banjarnegara Sofiari, Eri
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini merupakan suatu rangkaian kegiatan untuk memenuhi syarat kecukupan lokasi untukpengajuan pelepasan varietas baru. Penelitian dilaksanakan di Cikajang-Garut dan Batur-Banjarnegara. Jumlahklon yang diuji sebanyak 11 ditambah 4 varietas pembanding yaitu Granola, Atlantik, Repita, dan Balsa. Rancanganpercobaan yang digunakan ádalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Populasi tanaman per plot 30 tanaman. Penelitianbertujuan mendapatkan klon kentang unggul di Garut dan Banjarnegara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klonyang adaptif untuk Garut adalah KS-9, KS-10, dan KS-11, sedangkan Banjarnegara adalah KS-4, KS-6, KS-9, danKS-11 dengan potensi hasil masing-masing klon lebih dari 18 t/ha. Untuk hasil gorengan terbaik ditampilkan olehklon KS-1, KS-3, KS-6, KS-8, dan KS-11.ABSTRACT. Sofiari, E. 2009. Yield Trial of Potato Clones at Garut and Banjarnegara. This experiment was aseries of activities to fulfil numbers of locations of field trial for variety released. The experiment was conducted inCikajang-Garut and Batur-Banjarnegara. A total of 11 clones and 4 varieties of potato were used. The experiment waslaid in a randomized complete block design with 3 replications and consisted of 30 hills per plot. The objective of theresearch was to determine the highest productivity clones suited in Garut and Banjarnegara. The results indicated thathigh productivity clones suited in Garut were obtained from clones KS-9, KS-10, and KS-11, while in Banjarnegarawere KS-4, KS-6, KS-9, and KS-11 which had productivity more than 18 t/ha. The best potato chip quality wereobtained from clones KS-1, KS-3, KS-6, KS-8, and KS-11.

Page 13 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue