cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Status Hara Fosfat dan Kalium di Sentra Sayuran Dataran Rendah Hilman, Yusdar; Sutapradja, Holil; Rosliani, Rini; Suryono, Y
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Data dasar status hara khususnya P dan K di sentra produksi tanaman sayuran khususnya di dataran rendah lahan kering belum tersedia, sedangkan data tersebut sangat diperlukan sebagai dasar untuk menentukan rekomendasi penggunaan pupuk. Selama ini rekomendasi penggunaan pupuk diperoleh dari percobaan dosis pupuk dan bukan didasarkan pada analisis hara tanah yang bersangkutan dan respons tanaman terhadap penggunaan pupuk sehingga hasil yang diperoleh tidak komprehensif. Informasi status hara P dan K pada sayuran diperoleh dengan membuat peta sebaran status hara P dan K pada beberapa lokasi. Untuk tahap awal, data status hara P dan K tersebut dihimpun dalam peta semidetail dengan skala 1:100.000 di mana setiap cm2 unit peta mewakili areal seluas 25 ha dengan jarak observasi di lapangan setiap 500 m.Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat dari bulan Juli sampai September 2003, menggunakan metode survei. Tujuan penelitian adalah (i) membuat peta status hara P dan K lahan dengan skala 1:100.000 dan (ii) menyediakan data sebaran status hara P dan K di sentra produksi sayuran dataran rendah sebagai informasi dasar dalam pembuatan rekomendasi pupuk P dan K. Hasil pemetaan menunjukkan bahwa luas lahan berdasarkan peta status hara P seluas 1.365,03 ha termasuk kategori sangat rendah, 3.395,37 ha rendah, 21.248,71 ha sedang, dan 13.978,87 ha tinggi, sedangkan peta status hara K adalah 6.337,79 ha termasuk kategori sangat rendah, 12.768,03 ha rendah, 17.243,78 ha sedang, dan 3.638,39 ha tinggi.ABSTRACT. Hilman, Y., H. Sutapradja, R. Rosliani, and Y. Suryono. 2008. The Status of Phosphorus and Potassium Nutrient at Production Centre of Lowland Vegetables.Database of nutrient status of P and K in vegetable production area especially in dry lowland was not available yet, while these data was highly needed as a base for determining recommended dosage for fertilization. Until now, fertilization recommendation on vegetable was merely obtained from fertilizer dose experiment and did not rely on the soil nutrient status and crop response to fertilizer used, so that the results obtained from that experiment was not comprehensive. The study on the status of phosphorus and potassium nutrient in the lowland vegetables was conducted at Bogor, West Java from July to September 2003 using survey method. Information on the nutrient status of P and K in vegetable growing areas in this study can be obtained by making map of P and K distribution. For the first step, information of these P and K status was obtained from semi-detail map at the scale of 1:100.000 where each cm2 of map unit represented the area of 25 ha with the field observation distance of 500 m. The objective of this study was (i) to make the map of P and K nutrient status in lowland vegetable production areas at the scale of 1: 100.000 and (ii) to survey data of P and K nutrient status in lowland vegetable areas as database information in making recommendation of P and K fertilization.Results of mapping indicated that land area based on P nutritional status was categorized as follows:1,365.03 ha very low; 3,395.37 ha low; 21,248.71 ha moderate, and 13,978.87 ha high, while for K nutritional status of 6,337.79 ha very low; 12,768.03 ha low; 17,243.78 ha moderate; and 3,638.39 ha high.
Jenis Suplemen Substrat untuk Meningkatkan Produksi Tiga Strain Jamur Kuping Sumiati, Ety
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Daya hasil jamur kuping (Auricularia spp.) masih perlu diperbaiki. Penelitian bertujuan untukmendapatkan jenis suplemen substrat jamur kuping yang sesuai. Rancangan percobaan menggunakan petak terpisahdengan 3 ulangan. Petak utama strain jamur kuping, yaitu Auricularia sp-7, Auricularia sp-11, dan Auriculariasp-12. Anak petak terdiri atas 12 jenis suplemen substrat, yaitu bekatul beras 10%, tepung jagung 10%, tepungsingkong/tapioka 10%, ekstrak toge 100 g/l, tepung kacang hijau 10%, kaldu daging sapi 10 g/l, air kelapa segar,NPK 15-15-15 0,1 g/l, asam humik /bionature 0,1 ml/l, ZPT Atonik 0,1 ml/l, PPC Multitonik 0,1 ml/l, dedak 10%,dan kontrol (tanpa suplemen). Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang (1.250 m dpl.),Jawa Barat dari bulan Desember 2004 sampai Juli 2005. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pada umumnyaaplikasi suplemen alamiah dan sintetik meningkatkan hasil jamur kuping. Bobot segar jamur kuping yang tertinggiberasal dari Auricularia sp11 yang dibudidayakan pada substrat dengan penambahan suplemen NPK 15-15-15 0,1g/l (827,0 g/kg substrat basah), atau PPC Multitonik 0,1 ml/l (899,9 g/kg substrat basah), dan dari Auricularia sp-12 yang dibudidayakan pada substrat dengan penambahan suplemen kaldu daging sapi (872,3 g/kg substrat basah).Bobot segar jamur kuping tertinggi tersebut diperoleh dalam kurun waktu berproduksi selama 124-146 hari denganpanen sebanyak 21-23 kali.ABSTRACT. Sumiati, E. 2009. The Application of Substrate Supplement to Increase the Productivity of ThreeEar Mushroom Strains. The yield of ear mushroom (Auricularia spp.) was necessary to be improved. The goal ofthis experiment was to find out the proper supplements for substrate of ear mushrooms. A split plot design with 3replications was set up. The main plot was 3 strains of ear mushrooms, viz. Auricularia sp-7, Auricularia sp-11, andAuricularia sp-12. While the subplot was supplements, comprised of 12 kinds of supplements, viz. rice bran 10%,corn flour 10%, cassava flour 10%, extract of mungbean sprouts, mungbean flour 10%, beef extract, fresh coconutwater, NPK (15-15-15) 0.1 g/l, humic acid/bionature 0.1 ml/l, PGR Atonik 0.1 ml/l, essential microelements solution0.1 ml/l , rice hulls 10%, and control (without supplement). Research activity was carried out at Indonesian VegetableResearch Institute in Lembang (1,250 m asl) West Java, from December 2004 to July 2005. Research results revealedthat in general the application of those supplements mentioned could increase ear mushroom productivity. The highestyield was gained from Auricularia sp-11 cultivated on substrate + NPK (15-15-15) 0.1 g/l (827.0 g/kg substrate), orsubstrate+essential microelements Multitonic of 0.1 ml/l (899.9 g/kg substrate), and from Auricularia sp-12 cultivatedon substrate + beef extract (872.3 g/kg substrate). These highest yield was collected within a productive period from124 to 146 days with total harvesting times of 21 to 23.
Pengaruh Ukuran Batang Bawah dan Batang Atas terhadap Pertumbuhan Durian Monthong, Hepe, dan DCK-01 Sudjijo, -
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Sumani, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, mulaibulan Februari sampai dengan Oktober 2007. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh sambung pucuk dariberbagai ukuran batang bawah dengan 3 varietas batang atas durian. Perlakuan terdiri dari berbagai ukuran diameterbatang bawah, yaitu ukuran kecil (KCL= 0,35-0,40 cm), sedang (SDN= 0,45-50 cm), dan besar (BSR= 0,55-60cm). Varietas lokal DCK-01 digunakan sebagai batang bawah, selanjutnya batang bawah tersebut disambung denganmenggunakan batang atas Monthong (MNT), Hepe (HP), dan DCK-01. Batang bawah berasal dari semaian biji durianlokal DCK-01 yang berumur 2 bulan, sedangkan batang atas berasal dari pucuk durian varietas Monthong dan Hepeyang berasal dari koleksi plasma nutfah Balitbu Tropika. Rancangan percobaan menggunakan acak kelompok dengan3 ulangan, setiap perlakuan terdiri dari 10 tanaman. Parameter yang diamati meliputi ukuran diameter sambungan,jumlah tunas yang keluar, jumlah daun, tinggi tanaman, jumlah daun dalam tunas, dan bobot kering akar. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa varietas lokal DCK-01 ukuran sedang (0,45-0,55 cm) dan ukuran besar (0,55-0,60cm) dapat dipergunakan sebagai batang bawah dalam penyambungan dengan batang atas varietas Monthong, Hepe,dan DCK-01. Kompatibilitas penyambungan terbaik terjadi antara batang bawah DCK-01 ukuran besar (0,55-0,60cm) dengan batang atas Hepe menghasilkan diameter sambungan 1,00 cm, jumlah tunas 2,93, tinggi tanaman 32,07cm. Hasil penelitian ini bermanfaat dalam upaya perbaikan sistem perbenihan tanaman durian.ABSTRACT. Sudjijo. 2009. The Influence of Rootstok Sizes on the Growth of Scion Monthong, Hepe, andDCK-01 Durian Varieties. The research was conducted at Sumani experimental field of ITFRI from February toOctober 2007. The objective of this research was to know the influence of rootstock diameter sizes on the growth ofscion of 3 durian varieties. The treatments consist of several diameter sizes of rootstock namely of small sizes 0.35-0.40 cm, medium 0.45-0.50 cm, and big 0.55-0.60 cm. Local variety of DCK-01 was used as rootstock. The rootstockswas grafted on scion of DCK-01, Hepe (HP), and Monthong (MNT). The rootstocks were originally from 2 monthseedlings of local variety DCK-01 meanwhile scions were from germplasm collection of ITFRI. Randomized blockdesign with 3 replications was used in this research, hence, there were 10 plants in each treatments. The parametersobserved were grafting diameter, bud break number, flush number, leaves number, plant height, leaves numberon flush, and root dry weight. The results showed that medium and big diameter size of local variety DCK-01 couldbe used as rootstock on the grafting with Monthong, Hepe, and DCK-01 scion. The best compatibility of graftingwas showed by big diameter size of DCK-01 rootstock (0.55-0.60 cm) on Hepe scion, with grafted diameter 1.00cm, number of flush 2.93 and height of plant 32.07 cm. This research was useful for improving the availability ofdurian seedling.
Keragaan Pertumbuhan, Kualitas Buah, dan Kelayakan Finansial Dua Varietas Cabai Merah Soetiarso, Thomas Agus; Setiawati, Wiwin; Musaddad, Darkam
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cabai merah merupakan komoditas unggulan yang banyak diusahakan petani karena memiliki nilai ekonomis tinggi. Namun demikian, dalam pengusahaannya masih ditemui berbagai kendala, baik kendala teknis maupun ekonomis. Penelitian bertujuan mengkaji keragaan pertumbuhan, kualitas buah, dan kelayakan finansial dua varietas cabai merah (Hot Chili dan Tanjung-2). Penelitian dilaksanakan di lokasi pengembangan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) cabai merah, yaitu di Desa Kawali Mukti, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dari bulan Maret-September 2007. Penelitian dilaksanakan tanpa menggunakan rancangan dan ulangan, dengan luasan 2.500 m2 per perlakuan. Perlakuan yang diuji yaitu penggunaan varietas cabai merah (Hot Chili dan Tanjung-2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hot Chili menunjukkan pertumbuhan tinggi tanaman dan lebar kanopi, serta produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan Tanjung-2. Tingkat kematangan buah Tanjung-2 lebih serempak, waktu panen lebih singkat (10 kali), serta buahnya berwarna merah lebih menarik bila dibuat pasta. Tanjung-2 relatif toleran terhadap serangan trips (Thrips parvispinus), kutudaun (Myzus persicae), dan kutukebul (Bemisia tabaci), namun lebih rentan terhadap penyakit busuk batang (Phytophthora capsici) dan layu bakteri (Ralstonia solanacearum). Dari segi kualitas, dengan ukuran panjang dan diameter buah yang hampir sama, bobot buah Tanjung-2 lebih ringan (8,75 g) dibandingkan dengan Hot Chili (14,02 g), tekstur buah yang lebih lembek (agak lentur) dapat menekan kerusakan selama transportasi, serta lebih mudah untuk digerus. Kadar air buah Tanjung-2 lebih rendah, sehingga  menjadi lebih kental bila dibuat pasta. Secara teknis, produksi Tanjung-2 lebih rendah dibanding Hot Chili. Penggunaan Hot Chili lebih menguntungkan dengan memberikan tingkat pengembalian marjinal sebesar 165,76% dibandingkan dengan Tanjung-2. Produktivitas bukan satu-satunya faktor pendorong adopsi teknologi. Dua faktor lain yang menjadi pertimbangan petani di Kawali-Ciamis dalam mengadopsi teknologi cabai yaitu ketersediaan modal kerja dan umur  panen tanaman.Hot pepper is a priority vegetable crop that is widely grown by farmers because of its high economic value. However, they are some challenging technical and economical constraints that are still being problem for  hot pepper growers. The objective of this study was to assess growth performance, fruit quality and financial feasibility of two hot pepper varieties i.e. Hot Chili and Tanjung-2. The study was conducted in the development area of hot pepper integrated crop management (ICM), Kawali Mukti Village, Kawali Sub-district, Ciamis District of West Java Province, from March to September 2007. This study was an on-farm research without using an experimental design or replication. Each variety was grown on the farm size of 2,500 m2. Results show that Hot Chili has higher plant height, wider canopy and higher yield than Tanjung-2 . However, Tanjung-2 showed more simultaneous fruit maturity, less number of harvests (10 times), and  had more attractive fruit color, especially for chili paste. This variety was also relatively tolerant to thrips (Thrips parvispinus), aphid (Myzus persicae), and white flies (Bemisia tabaci), but more susceptible to stem rot (Phytophthora capsici) and bacterial wilt (Ralstonia solanacearum). In terms of fruit quality, with similar fruit length and diameter, Tanjung-2, had a lighter weight (8.75 g) than Hot Chili (14.02 g) and also softer texture that may reduce fruit damage during transportation and be easier to process. Water content of Tanjung-2 was lower, hence it was thickened more easily if used for paste. Agronomically, the yield of Tanjung-2 was lower than Hot Chili. The use of Hot Chili, however, was more profitable than Tanjung-2, because it exhibited higher marginal rate of return (165.76 %). Yield was not the only factor affecting farmers in technology adoption. Two other factors that had important roles in influencing farmers in Kawali-Ciamis in adopting hot pepper technologies were working capital availability, and plant age (time needed from planting to harvesting).
Faktor-faktor yang Memengaruhi Keputusan Konsumen dalam Mengonsumsi Sayuran Minor (Under-utilized) Katuk Soetiarso, Thomas Agus
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya penggunaan spesies sayuran yang lebih beragam pada dasarnya sejalan dengan perhatian dan kebutuhan yang semakin meningkat berkaitan dengan konservasi biodiversitas dan kecukupan pangan. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi keputusan konsumen dalam konsumsi katuk (Sauropus androgynus). Kegiatan penelitian berupa survai konsumen yang dilaksanakan di Kelurahan Suka Asih, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kotamadya Bandung, Jawa Barat mulai bulan Agustus sampai dengan November 2007. Pemilihan responden ibu rumah tangga sebanyak 50 orang dilakukan secara acak. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Data kualitatif dianalisis menggunakan statistik deskriptif, sedangkan analisis jalur (path analysis) digunakan untuk menguji faktor-faktor yang memengaruhi keputusan konsumen dalam mengonsumsi katuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi konsumen terhadap pengolahan produk, pengetahuan konsumen, kesadaran konsumen terhadap kesehatan, serta persepsi konsumen terhadap ketersediaan produk merupakan faktor-faktor yang paling berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam mengonsumsi sayuran minor katuk.Efforts for the use of more diverse vegetables are in parallel with an increasing attention on biodiversity conservation and food security. This study was aimed to identify factors that may influence consumer’s decision making in consuming star gooseberry (Souropus androgynus), an under-utilized vegetable.  A survey was carried out at Suka Asih Village, Bojongloa Kaler Subdistrict, Bandung, West Java from August to November 2007. Fifty housewife were randomly selected as respondents. A structured questionnaire was used for interviewing respondents in data collection. Data were qualitatively elaborated by using descriptive statistics and quantitatively analyzed by using path analysis. Results show that consumers’ perceptions on how to process the product, knowledge, awareness on health, and perceptions on product availability were the most important factors that influencing consumers’ decision making in consuming under-utilized vegetable star gooseberry.  
Hubungan Dinamika Populasi Tungau Panonychus citri dengan Kandungan Senyawa Atsiri pada Buah Jeruk Manis dan Jeruk Besar Istianto, Mizu
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Panonychus citri adalah salah satu hama jeruk yang secara ekonomis penting di Indonesia. Salah satukunci sukses untuk mengendalikan populasi P. citri adalah memahami interaksi hama ini dengan inangnya. Senyawalimonen dan linalool telah diketahui mempengaruhi biologi dan kemampuan reproduksi tungau P. citri pada kondisilaboratorium. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh kandungan senyawa atsiri kulit jeruk terhadapdinamika populasi P. citri pada kulit buah jeruk di lapangan. Penelitian dilakukan pada pertanaman jeruk besarNambangan di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, dan pertanaman jeruk manis Pacitan di KusumaAgrowisata, Batu, Malang. Waktu penelitian mulai April sampai September 2004. Pengamatan dilakukan terhadapdinamika populasi P. citri dan kandungan senyawa atsiri dominan pada kulit buah jeruk besar dan jeruk manis. Datayang diperoleh dianalisis dengan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan kandungan senyawa limonen danlinalool mempunyai pengaruh kuat terhadap dinamika populasi P. citri. Pada tanaman jeruk manis, pengaruh senyawalimonen dan linalool memberikan nilai adjusted r square yang tinggi, yaitu 0,943 dengan persamaan regresi Y=218,829 - 2,412 X1+ 5,987 X2 (X1=limonen, X2=linalool). Senyawa limonen memberikan efek negatif, sedangkanlinalool memberikan efek positif terhadap P. citri. Pada tanaman jeruk besar, populasi P. citri rendah dan konstandengan kandungan limonen tinggi dan kandungan linalool rendah sehingga efek negatif limonen terhadap P. citrilebih dominan. Hasil penelitian ini dapat memberikan alternatif pengembangan teknologi pengendalian tungau P.citri pada tanaman jeruk melalui manipulasi kandungan metabolit sekunder dalam tanamanABSTRACT. Istianto, M. 2009. Relationship Between Population Dynamic of Panonychus citri and VolatileCompounds on Sweet Orange and Pummelo Fruit. Panonychus citri is one of the important citrus pests in Indonesia.One of the key success for controlling the population of this pest is understanding the relationship between this miteand its host. Previous study showed that limonene and linalool influenced the biology and reproductive capacity of P.citri. The objectives of this research were to understand the relationship between population dynamic of P. citri andfluctuation content of dominant volatile compounds on sweet orange and pummelo. The research was conducted onpummelo orchard in Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute, and sweet orange orchard in KusumaAgrowisata Batu Malang from April to September 2004. Observation was carried out to find out the dynamic of P.citri population and the content of dominant volatile compounds of sweet orange and pummelo. The data obtainedwere analyzed with multiple regression. The results showed that limonene and linalool have highly influence onpopulation dynamic of P. citri. On sweet orange, the effect of limonene and linalool indicated high value at adjustedr square with value of 0.943 with regression equation Y= 218,829 - 2,412 X1+ 5,987 X2 (X1=limonene, X2= linalool).Limonene showed negative effect while linalool showed positive effect to P. citri population. Population of P. citriwas lower and steady on pummelo with higher content of limonene and lower content of linalool, so that negativeeffects of limonene to P. citri were more dominant. These results give an alternative technologies to control P. citripopulation by manipulating secondary metabolite content inside the plant.
Kontaminasi Residu Pestisida pada Cabai Merah, Selada, dan Bawang Merah (Studi Kasus di Bandungan dan Brebes Jawa Tengah serta Cianjur Jawa Barat) Miskiyah, -; Munarso, S J
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Sayuran merupakan salah satu komoditas hortikultura yang rentan terhadap serangan hama dan penyakittanaman. Sehingga penggunaan pestisida tidak dapat dihindari, akibatnya sayuran sering terkontaminasi oleh residupestisida. Aspek mutu dan keamanan pangan merupakan masalah utama dalam produksi dan pemasaran sayuran, yangterkait juga dengan meningkatnya kepedulian konsumen terhadap mutu dan kesehatan. Penerapan teknologi produksidan penanganan pascapanen yang seadanya, penggunaan pupuk serta pestisida yang tidak proporsional telah membawaproduk sayuran Indonesia pada status jaminan keamanan pangan yang rendah dan tingkat kontaminasi yang tinggi.Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen, Bogor dari bulanMei sampai Oktober 2005. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui tingkat kontaminasi residu pestisida yangterdapat pada sayuran. Terdapat 17 residu pestisida yang diujikan pada 3 jenis sayuran, yaitu cabai merah, selada,dan bawang merah yang diperoleh dari petani, pedagang, dan pasar swalayan di Jawa Tengah (Bandungan untuk cabaimerah dan selada, Brebes untuk bawang merah), dan Jawa Barat (Cianjur untuk cabai merah, selada, dan bawangmerah). Analisis residu pestisida menggunakan gas chromathography (GC). Data yang diperoleh diinterpretasikan,didiskripsikan, kemudian dibandingkan dengan standar yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu pestisidagolongan organoklorin lebih dominan, diikuti dengan golongan organofosfat dan karbamat untuk semua jenis sampelsayuran yang diamati baik di tingkat petani, pedagang, dan pasar swalayan. Hasil juga menunjukkan bahwa dari semuajenis sampel sayuran yang diamati, kandungan residu pestisidanya masih dibawah ambang batas maksimum residupestisida (BMR), sehingga relatif aman untuk dikonsumsi. Mengingat sifat pestisida dan tingkat degradasinya yangberbeda, maka diperlukan penanganan residu pestisida lebih lanjut untuk menjamin keamanannya.ABSTRACT. Miskiyah and S. J. Munarso. 2009. Pesticide Residue on Red Pepper, Lettuce, and Shallots “CaseStudy on Bandungan and Brebes (Central Java) and Cianjur (West Java)”. Vegetable is one of horticulturecommodities that susceptible to diseases and pests, hence pesticides application can not be avoided, which causepesticide contamination in the produce. Quality and food safety aspect are the main problem on the production andmarketing of vegetables, this is in connection with increasing consumer concern on quality and health. Minimaltechnology application in the production and post harvest handling, as well as unappropriate application of fertilizerand pesticides, resulted in low quality assurance and high pesticide recidue. The research was conducted at Laboratoryof Indonesian Center for Agriculture Postharvest Research and Development.The aim of the study was to find outthe level of pesticide residue on vegetable. There were 17 pesticides residue tested on 3 kind of vegetables, i.e. redchili, lettuce, and shallots from farmer, trader, and supermarket at Central Java (Bandungan for sample of red chiliand lettuce, and Brebes for shallots) and West Java (Cianjur for red chili, lettuce, and shallots). Pesticide residue wasanalyzed by using gas chromatography (GC). The data were interpreted, descripted, and compared to the standard.Pesticides residues from organochlorine group were more dominant, followed by organophosphate, and carbamatesgroup for all vegetables tested from farmer, trader, and supermarket. The results also showed that pesticide residuesfrom all vegetables tested were lower than maximum residue limit (MRL), hence it was relatively safe for consumption.Since the characteristic of pesticide and its degradation level were varied, pesticide residue handling was neededfor safety assurance.
Perilaku Konsumen terhadap Jeruk Siam di Tiga Kota Besar Di Indonesia Adiyoga, Witono; Setyowati, T; Ameriana, Mieke; Nurmalinda, -
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian diarahkan untuk memperoleh pemahaman tentang perilaku konsumen terhadap jeruk siam asallokal dan impor. Penelitian survai dilaksanakan di 3 kota besar konsumen utama produk hortikultura, yaitu Jakarta(DKI Jaya), Bandung (Jawa Barat), dan Padang (Sumatera Barat) pada bulan Juni-September 2006. Respondenkonsumen adalah 339 ibu rumah tangga yang dipilih secara acak. Alat analisis yang digunakan adalah statistikdeskriptif, analisis conjoint, dan analisis klaster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi jeruk siamsebagian besar konsumen (53,7%) cukup tinggi, yaitu 1-2 kali seminggu. Perkiraan tren peningkatan konsumsi jeruksiam 25-75% dalam 5 tahun ke depan juga dipersepsi oleh 61,3% responden. Segmentasi a priori berbasis peubahdemografis mengindikasikan agar strategi pengembangan jeruk siam lebih diarahkan untuk segmen konsumen/pasaryang memiliki karakteristik: usia 30-39 tahun, pendidikan lebih tinggi dari SLTA, ibu rumah tangga bekerja, jumlahanggota keluarga 3-4 orang, jumlah anggota keluarga dewasa 1-2 orang, jumlah anggota keluarga balita 1-2 orang,dan total pengeluaran antara Rp. 2.500.001,00-Rp. 5.000.000,00/bulan. Atribut rasa dipersepsi konsumen sebagaiatribut paling penting (urutan 1), sedangkan atribut harga/kg dipersepsi sebagai atribut dengan urutan kepentinganterendah (urutan 8). Sementara itu, segmentasi a priori berbasis preferensi mengidentifikasi jeruk siam ideal dengankarakteristik: rasa manis, berserat banyak, kandungan air banyak, dan harga Rp. 4.000,00-Rp. 6.999,00/kg. Segmenkonsumen ini menempatkan atribut kandungan air sebagai faktor terpenting (49,52%), dan berturut-turut diikutioleh rasa (23,32%), harga per kg (16,15%), serta serat buah (11,01%). Analisis tanggap konsumen secara umummengindikasikan bahwa konsumen memberikan tanggapan lebih positif terhadap atribut produk jeruk siam impordibandingkan dengan jeruk siam lokal. Label impor cenderung dipandang sebagai salah satu atribut produk yangmerepresentasikan kualitas, dependabilitas, dan reliabilitas, terutama pada saat informasi tersedia dan upaya promosimengenai jeruk siam lokal relatif terbatas. Secara implisit, hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan impor jeruksiam tidak saja dihela oleh intervensi dan akses pasar (kebijakan), namun juga oleh permintaan konsumen.ABSTRACT. Adiyoga, W., T. Setyowati, M. Ameriana, and Nurmalinda. 2009. Consumer Behavior on Tangerinein Three Big-Cities in Indonesia. This study was aimed to obtain understandings with regard to consumer behaviortoward both local tangerine and imported tangerine. Consumer surveys were carried out in 3 big cities in Indonesia(Jakarta-DKI Jaya, Bandung-West Java, and Padang-West Sumatera) from June to September 2006. Respondents ofthese surveys were 339 household-moms who were randomly selected. Descriptive statistics, conjoint analysis, andcluster analysis were used for data elaboration. The results showed that there was a quite high consumption frequency(1-2 times a week) indicated by 53.7% respondents. Most respondents (61.3%) also expect an increasing tangerineconsumption trend of 25-75% in the next 5 years. A priori segmentation on the basis of demographic variablesindicated that the market development of tangerine was more toward market segment that has characteristics suchas: 30-39 years old, higher than high school education, employed household-mom, 3-4 persons family member, 1-2persons adult family member, 1-2 persons of ≤ 5 years old family member, and total expenditure of Rp. 2,500,001.00-Rp. 5,000,000.00/month. Taste was perceived as the most important attribute (1st rank) while price was consideredthe least important (8th rank). A priori segementation on the basis of consumer preference has identified an idealtangerine that has characteristics such as: sweet taste, high fiber, high water content, and price of Rp. 4,000.00-Rp.6,999.00/kg. This consumer segment considers water content as the most important factor (49.52%) contributes tothe preference, and subsequently followed by taste (23.32%), price (16.15%), and fruit fiber (11.01%). In general,consumers provide more positive opinions regarding some attributes of imported tangerine as compared to thoseof local tangerine. Consumers tend to perceive import label as one of the product attributes that represents quality,dependability, and reliability, especially when available information and promotion efforts of local tangerine wererelatively limited. This result implies that the increasing import of tangerine was not only driven by foreign marketintervention and market access (trade policy), but also by consumer demand.
Mekanisme Ketahanan Terinduksi oleh Plant Growth Promotting Rhizobacteria (PGPR) pada Tanaman Cabai Terinfeksi Cucumber Mosaik Virus (CMV) Taufik, M; Rahman, A; Wahab, A; Hidayat, S H
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dapat digunakan untuk menekan insiden penyakitmelalui mekanisme induksi ketahanan secara sistemik atau menghasilkan hormon tumbuh. Tujuan penelitian adalahmengetahui mekanisme ketahanan terinduksi pada tanaman cabai yang terinfeksi cucumber mosaik virus (CMV)dengan mengukur akumulasi asam salisilat (SA) dan peroksidase, deteksi CMV dengan teknik RT-PCR, dan analisispola protein tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi PGPR dapat mereduksi insiden penyakit padatanaman yang terinfeksi CMV. Aplikasi PGPR secara signifikan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman cabaidan mengurangi insiden penyakit meskipun terinfeksi oleh CMV. Campuran isolat PG 01 dan BG 25 menghasilkanpertumbuhan tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Insiden penyakit yang ditunjukkanpada cabai yang diberi perlakuan campuran PG 01 dan BG 25 serta isolat BG 25 yang diberikan secara tunggalmencapai 8,33%, sementara insidensi penyakit pada cabai yang diberi isolat PG 01 secara tunggal mencapai 16,67%.Akumulasi SA dan peroksidase terjadi lebih tinggi pada tanaman cabai yang diaplikasi dengan PGPR. Teknik PCRmenggunakan primer spesifik berhasil mengamplifikasi genom CMV. Pola pita protein total tanaman yang diuji tidakberbeda dengan kontrol.ABSTRACT. Taufik, M., A. Rahman, A. Wahab, and S.H. Hidayat. 2010. Induced Resistant Mechanism byPlant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) on Pepper Plants Infected By Cucumber Mosaic Virus (CMV).Plant growth promoting rhizobacteria can suppress disease intensity through systematical induction resistance or yieldhormone of growth regulator. The purpose of this research was to determine the mechanism of induced resistance CMVinfected chilli plants by measureing accumulate salicylated acid (SA), peroxidase (reverse transcriptase-polymerasechain reaction) (RT-PCR) and banding patterns of plant protein. The results showed that the application of PGPR canreduce of disease incidence pepper plants that was infected by CMV. Application PGPR can significantly improveplant growth and reduce the occurence of CMV infection symptoms. Mixture of isolates PG 01 and BG 25 gave betterresponse of plant growth compared to other treatments. The occurence of the disease on infected chilli plants treatedwith isolates mixture of PG 01 and BG 25, and single isolate of BG 25 was 8.33%, while the application of singleisolate of PG 01 caused the desease intensity up to 16.67%. The accumulation of salicylates acid and peroxydasewas higher in the chilli plants applied by PGPR. The technique of RT-PCR was able to detect CMV using spesificprimers. No difference of total protein band patterns between tested plants and control.
Kajian Teknis dan Ekonomis Sistem Tanam Dua Varietas Cabai Merah di Dataran Tinggi Soetiarsi, Thomas Agus; Setiawati, Wiwin
Jurnal Hortikultura Vol 20, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengkaji kelayakan teknis dan ekonomis sistem tanam monokultur dan tumpangsaridua varietas cabai merah di dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian TanamanSayuran Lembang, dari bulan September 2006 sampai dengan Februari 2007. Penelitian menggunakan perlakuanyang terdiri atas dua faktor, yaitu varietas cabai merah (Hot Chili dan Tanjung-2) dan sistem tanam (monokulturcabai merah dan tumpangsari cabai merah + kubis), seluas 2.500 m2/perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwasistem tanam tumpangsari antara cabai merah dengan kubis tidak memengaruhi pertumbuhan tanaman cabai merah.Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang menyerang pertanaman cabai merah selama percobaan berlangsungadalah gangsir, trips, kutukebul, kutudaun, layu bakteri, dan antraknos. Varietas Tanjung-2 terbukti relatif lebih tahanterhadap serangan OPT dibandingkan dengan varietas Hot Chili, serta mampu menekan kerusakan tanaman hingga50%. Secara teknis, hasil produksi varietas Tanjung-2 (monokultur dan tumpangari) lebih rendah dibanding HotChili. Secara ekonomis, penggunaan varietas Hot Chili yang ditumpangsarikan dengan kubis adalah yang palingmenguntungkan, dengan tingkat pengembalian marjinal yang lebih besar dari satu (>1) dan paling tinggi (458,95%)di antara perlakuan yang lain. Dengan diperolehnya teknologi sistem tanam cabai merah spesifik lokasi dataran tinggiyang secara teknis dapat diterapkan dan secara ekonomis menguntungkan, maka secara sosial akan mempunyaipeluang tinggi untuk diadopsi oleh petani.ABSTRACT. Soetiarso, T. A. and W. Setiawati. 2010. Technical and Economical Studies on Two Hot PepperVarieties Planting Systems in Highland Areas. The research was conducted to assess the technical and economicalfeasibility of two hot pepper varieties planting systems i.e. monoculture and intercropping in highland areas. It wascarried out in IVEGRI’s experimental garden from September 2006 to February 2007. The treatments used in theresearch consisted of two factors. The first factor was hot pepper varieties (Hot Chili and Tanjung-2) and the secondone was planting systems (monoculture of hot pepper and intercropping of hot pepper + cabbage). The results showedthat hot pepper intercropped with cabbage did not affect the growth of hot pepper. Some important pests and diseasesattacking hot pepper were crickets, thrips, bemisia, myzus, bacterial wilt, and anthracnose. Tanjung-2 was relativelymore resistant to pests and diseases than Hot Chili, and reduces of plant damage up to 50%. Agronomically, the yieldof Tanjung-2 as monocropped or intercropped was lower than Hot Chili. Compared to the other treatments, the use ofHot Chili variety intercropped with cabbage was the most profitable option economically. The marginal returns forthis option was greater than one (>1) and the highest (458.95%). The results suggest that the specifically-designedhighland hot pepper planting systems was not only technically feasible, but also economically viable. Hence, it hasgreat potential to be socially accepted and adopted by farmers as the end-users.

Page 12 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue