cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Perilaku Petani Sayuran dalam Menggunakan Pestisida Kimia Ameriana, M
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penggunaan pestisida kimia di tingkat petani sayuran diindikasikan dalam jumlah yang berlebih, sementara hal tersebut sangat berbahaya baik bagi lingkungan maupun manusia. Berkaitan dengan masalah di atas telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengkaji perilaku petani tomat dalam menggunakan pestisida kimia serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai dengan Juli 2004 di sentra produksi tomat Kecamatan Pangalengan dan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung, mengunakan metode survei. Jumlah petani responden yang diwawancara adalah 156 orang. Penentuan lokasi penelitian (kecamatan dan desa) dilakukan secara sengaja berdasarkan luas areal tanam terbesar, sedangkan pemilihan petani responden di setiap desa dilakukan dengan metode acak berlapis berdasarkan luas lahan garapan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan uji statistik analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku petani tomat dalam menggunakan pestisida kimia dipengaruhi oleh (1) persepsi petani terhadap risiko, semakin tinggi persepsi petani terhadap risiko maka semakin tinggi kuantitas pestisida kimia yang digunakan, (2) persepsi petani tentang ketahanan kultivar tomat terhadap OPT, semakin rendah ketahanan suatu kultivar semakin tinggi kuantitas pestisida kimia yang digunakan, serta (3) pengetahuan petani tentang bahaya pestisida, semakin rendah pengetahuan petani semakin tinggi kuantitas pestisida yang digunakan.ABSTRACT. Ameriana, M. 2008. Farmer’s’s Behavior in Using Chemical Peststicide on Vegetablble. The use of chemical pesticides at the vegetable farmer’s level has been indicated to be excessive, and it was hazardous to environment and human health. This study was aimed to assess the tomato farmer’s behavior in using chemical pesticides and factors that may influence this behavior. A survey was carried out on June-July 2004 on tomato production centers, Lembang and Pangalengan, Bandung District. There were 156 respondents (farmers) interviewed in this study. Research location (subdistrict and village) were selected purposively based on the largest tomato planted area. Respondents were selected by using stratified random sampling, based on their farm size. Data were analyzed by using descriptive statistics and path analysis. The results showed that tomato farmer’s behavior was influenced by (1) farmer’s perception on risks, the higher the risk perception the higher the quantity of chemical pesticide used, (2) farmer’s perception on cultivar resistance to tomato pests, the lower the cultivar resistance the higher the quantity of chemical pesticide used, (3) farmer’s knowledge on the danger of pesticides, the lower the knowledge, the higher the quantity of chemical pesticide used.
Aktivitas Antijamur Minyak Atsiri terhadap Penyakit Antraknos Buah Pisang di Penyimpanan pada Kondisi Laboratorium Istianto, Mizu; Eliza, -
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Antraknos yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. merupakan penyakit penting yang menyerangbuah pisang pada penyimpanan. Teknologi yang direkomendasikan untuk mengendalikan penyakit ini adalah denganpenerapan perlakuan panas dan penggunaan fungisida. Teknologi alternatif yang mempertimbangkan keamanankonsumen dan lingkungan sangat diperlukan untuk menggantikan penggunaan fungisida. Tujuan penelitian adalahmengevaluasi aktivitas antijamur beberapa minyak atsiri yang diekstrak dari daun kayu manis, sereh wangi, dankulit jeruk besar terhadap penyakit antraknos. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman BalaiPenelitian Tanaman Buah Tropika pada suhu ruang mulai dari bulan Januari sampai Mei 2007. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa minyak atsiri mampu menekan perkembangan miselium jamur Colletotrichum sp.. Minyakatsiri yang diekstrak dari daun kayu manis mempunyai nilai penghambatan tertinggi (65-72%) terhadap pertumbuhanmiselium Colletotrichum sp., diikuti oleh nilai penghambatan minyak atsiri sereh wangi (62-64%), dan kulit jerukbesar (14-19%). Hasil ini menunjukkan bahwa minyak atsiri mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkansebagai teknologi alternatif yang mempertimbangkan keamanan konsumen dan lingkunganABSTRACT. Istianto, M. and Eliza. 2009. Antifungal Activity of Essential Oils Against Anthracnose Disease onBanana Fruit During Storage at Laboratory Conditions. Anthracnose, caused by Colletotrichum sp., is importantdisease attacking banana fruit during storage. The technologies recommended to control anthracnose were fungicideand heat treatment application. Alternative technologies that considered safe to consumer and environment areneeded to replace the use of fungicides. The aim of this experiment was to evaluate antifungal activity of essentialoils extracted from Cinnamomum burmanni, Cymbopogon nardus, and Citrus grandis against anthracnose disease.The experiment was conducted in the Plant Protection Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute atroom temperature from January to May 2007. The results showed that essential oils was able to suppress the growthof Colletotrichum sp’s mycelial. Essential oil extracted from C. burmanni had highest inhibition value (65-72%) tothe mycelial growth of Colletotrichum sp., followed by C. nardus (62-64%), and C. grandis (14-19%). This resultsindicated that essential oils had good potential to be developed as alternative technology to control anthracnose diseaseconsidering the consumer and environment safety.
Penekanan Hayati Penyakit Layu Fusarium pada Subang Gladiol Wardhana, Dian Wisnu; Soetnto, Loekas; Utami, D S
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan agensia hayati terbaik dalam menekan intensitasserangan Fusarium oxysporum f.sp. gladioli in planta melalui perlakuan subang gladiol. Penelitian dilakukan diRumah Kasa Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, dari bulan Agustus 2005 sampaiJanuari 2006. Antibiotika 2,4-diasetilfloroglusinol (Phl), Bacillus subtilis, serta Trichoderma harzianum isolat jahe danginseng digunakan dalam penelitian ini, dengan kontrol fungisida benomil dan air hangat. Percobaan menggunakanrancangan acak kelompok dengan 8 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antagonis yangpaling baik dalam menekan penyakit layu Fusarium in planta adalah T. harzianum isolat jahe dengan masa inkubasi,intensitas penyakit, dan jumlah populasi, masing-masing sebesar 64,13 HSI, 15,55%, dan 20 upk/g tanah atauberpotensi menurunkan intensitas penyakit 83,34%. Selain itu, T. harzianum isolat jahe paling baik memengaruhitinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah subang dan akar, bobot basah batang dan daun, bobot kering batang dandaun, masing-masing 111,950 cm, 6,625 helai, 31,963 g, 39,338g, dan 6,075g. Panjang tangkai bunga dan jumlahfloret per tangkai bunga paling baik ditunjukkan oleh perlakuan antibiotika Phl, yaitu masing-masing 83,33 cm dan6,13 floret per tangkai bunga.ABSTRACT. Wardhana, D.W., L. Soesanto, and D.S. Utami. 2009. Biological Suppression of Fusarial Wilt onGladiolus Corms. The research was aimed to find out the best biological agent in suppressing Fusarium oxysporum f.sp.gladioli in planta on gladiolus corms. This research was carried out at the Screenhouse of Agricultural Faculty, JenderalSoedirman University, Purwokerto from August 2005 up to January 2006. Antibiotic of 2,4-diacetylphloroglucinol(Phl), Bacillus subtilis, Trichoderma harzianum isolated from ginger and ginseng were used with benomyl and warmwater as control. Randomized block design was used with 8 treatments and 4 replications. Results of the researchshowed that the best antagonist in suppressing the disease was T. harzianum ginger isolate with incubation period,disease intensity, and number of late population of 64.13 days after inoculation, 15.55%, and 20 cfu/g soil, respectively,or potentially decrease the disease up to 83.34%. The ginger isolate was the best isolate to improve crop height, leafnumber, corm and root fresh weight, leaves and stalk fresh weight, and leaves and stalk dry weight of 111.950 cm,6.625 sheet, 31.963 g, 39.338 g, and 6.075 g, respectively. The best flower stalk length (83.33 cm) and floret numberper stalk (6.13) were obtained from the use of antibiotic Phl treatment.
Studi Pendasaran Sistem Usahatani Tanaman-Ternak pada Ekosistem Dataran Tinggi di Jawa Barat Adiyoga, Witono; Suherman, R
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kegiatan penelitian ini merupakan studi pendasaran yang dilaksanakan di daerah dataran tinggi Jawa Barat (Lembang: Desa Cibodas dan Suntenjaya, Pangalengan: Desa Pulosari dan Margamulya, dan Ciwidey: Desa Lebakmuncang dan Panundaan) pada bulan Mei-Oktober 2003. Responden di setiap lokasi ditentukan berdasarkan kriteria bahwa responden bersangkutan melakukan usahatani tanaman-ternak. Rincian jumlah responden di masing-masing lokasi adalah sebagai berikut. Lembang 40 orang, Pangalengan 45 orang, dan Ciwidey 44 orang. Hasil penelitian menunjukkan adanya beberapa komoditas sayuran yang sama diusahakan hampir di semua lokasi, misalnya kubis, tomat, dan kentang. Jika pada waktu tertentu terjadi kelebihan pasokan untuk komoditas tersebut akibat tidak adanya koordinasi pengaturan produksi, maka harga akan turun secara drastis. Informasi pola tanam setahun menunjukkan dominasi pemilihan sistem pertanaman monokultur. Kisaran produktivitas minimal dan maksimal yang cukup lebar secara tidak langsung tidak saja memberikan gambaran adanya keragaman intensitas penggunaan input, tetapi juga inefisiensi penggunaan input antarusahatani. Fluktuasi harga dan insiden hama penyakit dipersepsi sebagai 2 kendala terpenting usahatani sayuran. Jenis ternak yang dominan diusahakan adalah sapi perah. Sebagian responden juga mengusahakan ternak yang dikategorikan sebagai komoditas ternak sekunder, misalnya domba dan kelinci. Estimasi produktivitas sapi perah di ketiga sentra menunjukkan bahwa produktivitas sapi perah di Pangalengan sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas sapi perah di Lembang dan Ciwidey. Penghitungan kelayakan finansial memberikan gambaran bahwa pengusahaan 3 ekor sapi perah usia pedet dan 2 ekor sapi perah usia danten dikategorikan layak secara finansial. Peternak responden menganggap kualitas pakan, insiden penyakit, dan ketersediaan modal merupakan 3 kendala utama usaha ternak. Indikator kontribusi memberikan gambaran bahwa pengusahaan ternak memberikan kontribusi yang lebih dominan terhadap pendapatan rumah tangga tani di Lembang dan Ciwidey. Sementara itu, pengusahaan sayuran memberikan kontribusi yang lebih dominan terhadap pendapatan rumah tangga tani di Pangalengan. Petani mengusulkan perbaikan metode pengendalian hama penyakit, cara dan dosis pemupukan, serta pemilihan/penggunaan benih berkualitas untuk semua komoditas sayuran utama. Petani menghendaki adanya pemutakhiran teknologi yang dapat meningkatkan produktivitas usahatani secara nyata. Untuk sapi perah, perbaikan komponen teknologi yang diusulkan petani adalah komponen teknologi peningkatan produksi dan kualitas susu, pembuatan pakan, sanitasi kandang, dan pengendalian penyakit.ABSTRACT. Adiyoga, W. and R. Suherman. 2008. A Baseline Study of Crop-livestock System in West Java Highland Ecosystem. A baseline study was carried out in West Java highland areas (Lembang: Cibodas and Suntenjaya Village, Pangalengan: Pulosari and Margamulya Village, and Ciwidey: Lebakmuncang and Panundaan Village) from May to October 2003. Respondents were those who grew vegetables and raised livestock simultaneously. Number of respondents selected were as follow: Lembang 40 respondents, Pangalengan 45 respondents, and Ciwidey 44 respondents. The results showed that some major vegetables, such as cabbage, potato, and tomato were grown in all production centers. Without any production regulation, the probability of excess supply that may decrease the price drastically was quite high. Yearly cropping pattern showed the domination of monocropping system. Wide gap between minimum and maximum yield provide an indirect indication that there was not only caused by wide variation in input-use intensity, but also inefficiency in input allocation among vegetable farms. Price fluctuation and pest and disease incidence were the most 2 important constraints in vegetable farming. Livestock dominantly raised in highland areas were dairy cow. Some respondents also raised goats and rabbits as secondary livestock. Productivity of dairy cows in Pangalengan was slightly higher than that in Lembang and Ciwidey. Feasibility analysis indicated that raising 3 cows (less than 18 months old) and 2 cows (more than 18 months old) was financially viable. Respondents perceived that feed quality, disease incidence and capital availability were the most 3 important constrains in dairy cows farming. Some indicators suggest that dairy cows farming contributed more dominantly to the household income in Lembang and Ciwidey. Meanwhile, the vegetable farming provided a more dominant contribution to the household income in Pangalengan. Farmers proposed the need for some improvements in pest and disease control, fertilization and selection or use of good quality seeds for all important vegetables. Implicitly, farmers asked for the most updated technology to increase their farm productivity significantly. For dairy cows, some improvements needed were techniques to increase milk production and quality, to prepare feeds, to improve cage sanitation, and to control disease.
Sumber Inokulum, Respons Varietas, dan Efektivitas Fungisida terhadap Penyakit Karat Putih pada Tanaman Kris Suhardi, -
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian untuk mengetahui peranan bibit sebagai sumber inokulum, respons varietas krisan, serta intervalpenyemprotan fungisida dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Hias. Survai kesehatan bibit dilakukan di lahan petanipenghasil bibit krisan pada bulan Juli 2002. Penelitian di rumah plastik untuk mengetahui respons varietas krisanserta efektivitas penyemprotan fungisida, dilakukan dari bulan Juli-September 2002. Hasil penelitian menunjukkanbahwa bibit merupakan sumber inokulum bagi penyakit karat pada tanaman krisan. Pada tanaman individual, baik dirumah plastik maupun rumah kaca, perkembangan penyakit karat tertekan. Kultivar Phuma White relatif lebih tahandibanding cv. Reagent Ungu dan cv. Town Talk. Fungisida benomil (benzimidazol) belum menunjukkan keefektifanuntuk pengendalian penyakit karat pada tanaman krisan (Puccinia horiana).ABSTRACT. Suhardi. 2009. Inoculum Source, Variety Response, and Fungicide Efficacy to Rust Disease ofChrysanthemum. Studies to evaluate the role of cutting as an inoculum source, variety resistance, and fungicideapplication interval were done at Indonesian Ornamental Crops Research Institute. Survey of cutting health wascarried out at farmer’s fields as seed producer on July 2002. A study under plastichouse to evaluate the response ofsome cultivars and determine the efficacy of fungicide applications was carried out from July-September 2002. Theresults indicated that cuttings were the inoculum source of rust on chrysanthemum. On individual plant, both underplastic and glasshouse, the development of white rust was suppressed. Phuma White cultivar relatively more resistantthan cv. Reagent Ungu and cv. Town Talk. Benomyl (benzimidazole) fungicide was not effective yet in controllingchrysanthemum white rust (P. horiana).
Pengaruh Pemupukan dan Tumpangsari antara Tomat dan Kubis terhadap Populasi Bemisia tabaci dan Insiden Penyakit Virus Kuning pada Tanaman Tomat Setiawati, Wiwin; Gunaeni, Neni; Subhan, -; Muharam, Agus
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pola tanam sayuran secara tumpang sari telah dimanfaatkan secara meluas di sentra-sentra produksi  sayuran di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemupukan dan tumpangsari antara tomat dan kubis terhadap populasi Bemisia tabaci dan serangan penyakit virus kuning yang disebabkan oleh virus gemini pada tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 dpl.) dari bulan Juni sampai dengan Oktober 2008. Rancangan yang digunakan ialah acak kelompok pola faktorial dengan empat ulangan. Dua faktor perlakuan yang diuji, yaitu (1) dosis pupuk (N 180 kg/ha + P2O5 150 kg/ha + K2O 100 kg/ha,  N 168 kg/ha + P2O5 146,5 kg/ha + K2O  145 kg /ha, serta  N 210 kg/ha + P2O5 183,125 kg/ha + K2O 181,25 kg/ha) dan (2) cara tanam (monokultur tomat dan tumpangsari tomat dengan kubis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan dosis pupuk yang tinggi dan tanaman tomat yang ditanam secara monokultur dapat meningkatkan populasi kutukebul dan serangan penyakit virus kuning dibandingkan dengan dosis pupuk yang lebih rendah. Penggunaan dosis pupuk yang tinggi tidak berpengaruh nyata terhadap peningkatan produksi tomat. Penggunaan dosis pupuk N 168 kg/ha + P2O5  146,5 kg/ha + K2O 145 kg/ha dan tumpangsari tomat dengan kubis dapat direkomendasikan sebagai komponen teknologi PHT untuk pengelolaan hama B. tabaci dan penyakit virus kuning pada tanaman tomat.The intercropping planting technique is widely implemented in vegetable production centers in Indonesia. The research on the application of different doses of fertilizers (N, P, and K) and the planting technique of tomato and cabbage  on B. tabaci and the yellow disease caused by gemini virus was carried out at the Indonesian  Vegetables Research Institute from June to October 2008. The objective was to determine the effect of different doses of fertilizers (N, P, and K) and tomato-cabbage intercropping on the population densities of B. tabaci and incidence of gemini virus on tomato.  A factorial randomized block design with two factors and four replication was used in the experiment. Two treatments factor were tested i.e.  (1) different doses of fertilizers (N 180 kg/ha + P2O5 150 kg/ha + K2O 100 kg/ha,  N 168 kg/ha + P2O5 146,5 kg/ha +  K2O 145 kg/ha, and  N 210 kg /ha +  P2O5 183,125 kg/ha + K2O 181,25 kg/ha), and (2) planting techniques (monoculture and tomato-cabbage intercropping). The result indicated that heigher doses of fertilizers resulted in higher population of whitefly per leaf and yellow virus symptoms on tomato compared to lower doses. Higher amounts of fertilizers did not significantly affect tomato yield. It is suggested that the dose of  N 168 kg/ha + P2O5 146,5 kg/ha + K2O 145 kg/ha, and the tomato-cabbage intercropping technique can be incorporated into the IPM program, especially for the management of  whitefly and gemini virus on tomato.
Identifikasi Variabilitas Genetik Wani Bali (Mangifera caesia Jack.) dengan Analisis Penanda RAPD Rai, I Nyoman; Wijana, G; Semarajaya, C G A
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Wani Bali (Mangifera caesia Jack.) merupakan salah satu tanaman buah-buahan tropika tergolong kerabat mangga. Citarasa Wani Bali disukai konsumen karena daging buahnya memiliki aroma khas, rasanya manis, enak, dan daging buahnya tebal. Terdapat banyak kultivar Wani Bali dengan sifat spesifik buahnya masing-masing, tetapi secara genetik belum diketahui variabilitasnya. Penelitian ini betujuan mengidentifikasi variabilitas genetik Wani Bali dengan analisis penanda random amplified polymorphic DNA (RAPD). Penelitian dilakukan mulai bulan Februari sampai Desember 2006, berlokasi di seluruh sentra produksi Wani Bali di Bali. Pelaksanaan terdiri atas 3 tahap, yaitu (1) survei kultivar dilanjutkan dengan identifikasi karakter daun, bunga, dan buah, (2) pengumpulan sampel untuk analisis RAPD (biji dari kultivar yang telah diidentifikasi ditanam dalam polibag di rumah plastik, setelah bibit berumur 6 bulan, 5-6 lembar daunnya dipanen untuk sampel), dan (3) analisis penanda RAPD, dilakukan di Laboratorium Biomolekuler dan Immunologi, Unit Penelitian Bioteknologi Perkebunan, Bogor. Berdasarkan karakter buahnya (bentuk, rasa, ukuran, dan warna kulit) teridentifikasi 22 kultivar Wani Bali, tetapi kultivar-kultivar tersebut tidak dapat dibedakan satu dengan yang lainnya berdasarkan habitus pohon, sifat percabangan, serta karakter daun dan bunga. Variabilitas genetik Wani Bali dianalisis dengan RAPD dengan keanekaragaman mencapai 43% terdiri atas 3 kelompok. Satu-satunya kultivar yang secara genetik sangat berbeda dengan yang lainnya adalah Wani Bali Ngumpen (kultivar tanpa biji) ditemukan di Desa Bebetin, Kabupaten Buleleng. Kultivar-kultivar yang berasal dari kabupaten yang sama dan atau pada 2 kabupaten yang berdekatan mengelompok pada kelompok yang sama, kecuali Wani Bali Ngumpen asal Desa Bebetin, Buleleng.ABSTRACT. Rai, I.N., G. Wijana, and C. G. A. Semarajaya. 2008. Identification of Genetic Variability of Wani Bali (Mangifera caesia Jack.) Using RAPD Analysis Marker. Wani Bali is one of tropical fruit which belongs to genus mangifera. Consumer prefers the fruit due to the specific flavor, sweet and delicious taste, and the thickness of edible pulp. There are many cultivars of Wani Bali with specific character. However, genetic variability has not been specified. The research was aimed to identify the genetic variability by random amplified polymorphic DNA (RAPD) marker. The research was conducted from February to December 2006, located at centrals of Wani Bali in Bali. It consisted of 3 steps (1) surveying of cultivars and identification of their leaf, flower, and fruit characters, (2) collecting sample for RAPD analysis (seed of identified cultivars grown in polybag at plastichouse and after 6 months seedling, 5-6 leaves were collected as sample), and (3) analyzing RAPD, which was conducted at Biomolecular and Immunology Laboratory, Research Unit of Plantation Biotechnology, Bogor. The results revealed that according to the fruit character (shape, taste, size, and skin color of fruit) had been identified 22 cultivars, but among cultivars could not be specified by plant shape, branch type, leaf and flower characters. There are 3 groups at 43% variability according to genetic variability of Wani Bali which was analyzed by RAPD. The sole cultivar genetically significantly different among the cultivars is Wani Bali Ngumpen (seedles cultivar) from Bebetin, Buleleng District. The cultivars that were planted at the same regency and/or at 2 neighbouring regencies genetically were clustered in 1 group, excluding Wani Bali Ngumpen from Bebetin, Buleleng District.
Pengaruh Cara Tanam dan Metode Pinching terhadap Pertumbuhan dan Produksi Bunga Potong Anyelir Wuryaningsih, S; Budiarto, K; Suhardi, -
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Anyelir merupakan salah satu tanaman penghasil bunga potong yang sangat penting dalam agribisnis florikultura di Indonesia. Peningkatan permintaan terhadap bunga potong ini menuntut perbaikan kualitas proses produksi yang menyangkut aplikasi teknik budidaya yang diharapkan meningkatkan produktivitas dan efisiensi pada skala usahatani. Perbaikan teknik budidaya ini antara lain perbaikan cara tanam (tata letak dan kerapatan tanaman) dan metode pinching. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui pengaruh tata letak dan kerapatan tanaman serta metode pinching terhadap pertumbuhan dan produksi bunga potong anyelir. Penelitian dilakukan di bawah kondisi rumah plastik di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dari bulan September 2004 hingga Agustus 2005.  Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola split-split plot dengan 3 ulangan. Petak utama adalah tata letak tanaman, yaitu zig-zag dan lurus dalam barisan. Anak petak adalah kerapatan tanaman, yaitu 25 dan 36 tanaman/m2. Sedangkan yang bertindak sebagai anak-anak petak adalah metode pinching, yaitu tunggal, 1½, dan piching ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tata letak tanaman dalam bedengan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi bunga anyelir. Tunas lateral lebih banyak tumbuh pada kerapatan tanaman yang lebih renggang. Namun demikian jumlah tanaman per satuan luas lebih banyak pada kerapatan tanaman yang lebih padat berkontribusi lebih nyata terhadap total produksi bunga. Perlakuan metode pinching yang diterapkan hanya berpengaruh pada jumlah tunas lateral dan panjang tangkai bunga yang dihasilkan. Metode pinching ganda memberikan jumlah tunas lateral dan panjang tangkai yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan metode 1½ dan pinching tunggal, namun tidak nyata pada parameter pertumbuhan dan parameter reproduktif yang lain.ABSTRACT. Wuryaningsih, S., K. Budiarto, and Suhardi. 2008. The Effects of Cultural Practices and Pinching Methods on the Growth and Flower Production on Carnation. Carnation is one of the important cut flowers in Indonesian floriculture trade. The demand of this commodity has increased significantly up to this moment. Improvement of cultural practices is needed to make the business more efficient and profitable. The research was conducted to find out the effect of plant arrangement, plant density, and method of pinching on growth and flower production of carnation. The experiment was carried out under plastichouse conditions at Segunung Research Station, Indonesian Ornamental Crops Research Institute from September 2004 to August 2005. A split-split plot randomized completely block design with 3 replications was used. The main plot was plant arrangements, namely zig-zag and straight in row pattern. The subplot was planting densities of 25 and 36 plants/m2, while the sub-subplot was pinching methods, namely single, 1½, and double pinching. The results of the experiment showed that the growth and flower production of carnation were not influenced by plant arrangement. Number of axillary buds was increased with less planting density. However, due to the higher number of plants per unit area, the number of harvested flowers was higher in the treatment of 36 plants/m2. Compared to 1½ and single pinching methods, double pinching only gave higher number of axillary buds and stalk length, but was not significant affect other growth and reproductive parameters.
Analisis Kelayakan Teknis dan Ekonomis Teknologi Budidaya Bawang Merah dengan Benih Biji Botani dan Benih Umbi Tradisional Basuki, Rofik Sinung
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kelayakan teknis dan ekonomis teknologi budidaya bawangmerah menggunakan benih biji botani dibandingkan dengan benih umbi tradisional. Percobaan dilakukan di lahan petanidi Brebes, ketinggian + 8 m dpl, dengan jenis tanah Aluvial, pH = 6,7, pada musim kemarau dari bulan April sampaidengan Agustus 2008. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuanyang dicoba adalah 13 macam perlakuan, terdiri dari 10 perlakuan pengaturan kerapatan tanaman dari benih bijibotani (TSS) varietas Tuk Tuk dan Hibrida dengan mengkombinasikan faktor jarak tanam, jumlah bibit ditanam perlubang, serta asal persemaian bibit, dan 3 perlakuan benih umbi menggunakan varietas lokal Bima Curut yang dibelidari toko dan asal petani serta varietas impor Tanduyung yang dibeli dari toko sebagai pembanding. Analisis budgetpartial digunakan untuk menilai kelayakan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan TSS layaksecara teknis karena dapat meningkatkan hasil sampai 2 kali lipat dibanding penggunaan benih umbi tradisional danlayak secara ekonomis karena dapat meningkatkan pendapatan bersih antara 22-70 juta rupiah per ha dibanding benihumbi tradisional. Penggunaan TSS varietas Tuk Tuk yang memberikan tingkat hasABSTRACT. Basuki, R.S. 2009. Analysis of Technical and Economical Feasibility of Shallots Cultivation fromTrue Shallot Seed and Traditional Bulb Seed. Experiment was conducted in farmer’s field in Brebes (altitude + 8 masl, Aluvial soil type and pH = 6.7), from April to August 2008. The experiment was arranged in a randomized blockdesign with 3 replications. The total of 13 treatments was applied, consisted of 10 treatments of plant population ofTSS of Tuk Tuk and Hibrida varieties by combining plant spacing, number of seedling per hole, and source of seedling,and 3 control treatments of traditional bulb seed, i.e. local variety of Bima Curut bought from store and from farmer,and imported variety of Tanduyung. Budget partial analysis was used to measure the economical feasibility. Results ofthe research showed that the use of TSS was technically feasible because it increased the yield of shallots 2 times ascompared to bulb seed, and economically feasible because it increased the net income from 22 to 70 million IDR/haas compared to bulb seed. The highest yield and net income from TSS as compared to bulb seed was obtained byplanting single seedling of TSS with population of 150 plants per m2.
Virulensi Isolat Fusarium oxysporum f. sp. cubense VCG 01213/16 pada Pisang Barangan dari Varietas Pisang dan Lokasi yang Berbeda Jumjunidang, -; Hermanto, Catur; Riska, -
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Analisis genetik  isolat-isolat  cendawan Fusarium  oxysporum f. sp. cubense (Foc) VCG 01213/16 penyebab penyakit layu pada tanaman pisang menunjukkan adanya keragaman yang nyata. Penelitian bertujuan mempelajari keragaman virulensi isolat-isolat yang terkelompok dalam VCG 01213/16, berasal dari berbagai daerah dan varietas pisang yang berbeda.  Penelitian dilakukan di Laboratorium Penyakit dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) Solok, dari bulan Maret sampai dengan Juni 2009. Rancangan yang digunakan ialah acak kelompok dengan 10 perlakuan dan tiga ulangan, masing-masing perlakuan terdiri atas 10 tanaman. Perlakuan terdiri atas 10 isolat Foc VCG 01213/16 yang berasal dari varietas pisang dan lokasi berbeda. Tanaman uji ialah benih pisang Barangan hasil perbanyakan kultur jaringan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat keragaman virulensi 10 isolat Foc VCG 01213/16 yang dinilai dari perbedaan masa inkubasi, persentase serangan, dan indeks keparahan penyakit pada bonggol dan daun pisang Barangan. Sembilan isolat Foc yang diuji mempunyai virulensi yang tinggi. Masa inkubasi berkisar antara 13,98 dan 16,80 hari, persentase serangan 93,33-100%, dan indeks keparahan penyakit pada bonggol dan daun masing-masing berkisar 3,46-5,35 dan 4,68-5,41. Isolat Foc VCG 01213/16 yang berasal dari Jabung-Lampung Timur dan diisolasi dari pisang varietas Ambon Kuning (isolat F) menunjukkan virulensi yang relatif lebih rendah dibanding sembilan isolat  Foc lainnya dengan masa inkubasi 30,27 hari, indeks keparahan penyakit pada bonggol dan daun masing-masing sebesar 2,14 dan 3,76.  Hasil penelitian ini bermanfaat dalam memberikan informasi tentang biologi F. oxysporum f. sp. cubense sebagai dasar untuk penyusunan teknik pengendalian yang tepat.Genetic analysis of isolates of the Fusarium oxysporum f. sp. cubense (Foc) that are grouped in VCG 01213/16, as the causal agent of wilt disease in banana plants showed a considerable variation. This research aimed to study the variation in virulence of isolates that are grouped in VCG 01213/16 from different varieties of banana and regions. The study was conducted in the Protection Laboratory and the Screenhouse of Indonesian Tropical Fruit Research Institute (ITFRI) Solok, from March to June 2009. A randomized block design was used in this research with 10 treatments and three replications. Each treatments consisted of 10 banana plants. The treatment was 10 Foc isolates belonging to VCG 01213/16 originating from different varieties of banana and locations. Barangan plantlets produced from tissue culture propagation were used as the planting material. The results showed that there were high variations in virulence among 10 Foc isolates in VCG 01213/16 based on variables of the incubation period, percentage of wilt, and disease severity index on corm and leaves of Barangan variety. Nine of the 10 Foc isolates tested were highly virulent isolates. The incubation period ranged from 13.98 to 16.80 days, the percentage of wilt from 93.33 to 100%, and the disease severity index of corm and leaves ranged from 3.46 to 5.35 and from 4.68 to 5.41, respectively. The Foc VCG 01213/16 isolates originated from Jabung, East Lampung and from Ambon Kuning variety (isolate F) shown relatively low virulence than others isolates that the incubation period was 30.27 days and the disease severity index on the corm and leaves was 2.14 and 3.76, respectively. This result provides useful information on biology of F. oxysprum f. sp. cubense to find out the best control method of the pathogen.

Page 15 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue