cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Pendekatan Fenetik Taksonomi dalam Identifikasi Kekerabatan Spesies Anthurium Martasari, C; Sugiyatno, Agus; Yusuf, H M; Rahayu, D L
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Identifikasi kekerabatan Anthurium koleksi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropikadilakukan menggunakan pendekatan fenetik. Hasil identifikasi kekerabatan ini akan sangat bermanfaat dalam kegiatanpemuliaan Anthurium untuk menghasilkan varietas baru. Sumber data yang digunakan adalah parameter morfologi,organ vegetatif, organ reproduksi, dan polen. Penentuan hubungan kekerabatan Anthurium dilakukan mengikutipetunjuk Sokal dan Michener (1958). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Balai Penelitian TanamanJeruk dan Buah Subtropika, Tlekung Batu dan Laboratorium Biologi Universitas Negeri Malang dari bulan Juni2005 hingga Januari 2006. Dari hasil penelitian diperoleh ciri-ciri umum dan khusus dari masing-masing spesiesAnthurium yang selanjutnya ciri-ciri tersebut dianalisis dan disusun dalam bentuk matriks jumlah pasangan satuantaxonomi operasional (STO). Fenogram dibentuk dari perhitungan koefisien asosiasi matriks. Berdasarkan fenogramdiperoleh 5 kelompok kekerabatan berturut-turut dari yang terdekat sampai yang terjauh. Spesies yang tergabungdalam kelompok pertama (A. ferriense dan A.macrolobim) dan kedua (A. amnicola Dressler. dan A. andraeanumLinden) termasuk berkerabat dekat di mana indeks kesamaannya masing-masing 65 dan 57,1%. Kelompok 3 (A.halmoreii Croat. dan A. jenmanii Engl.), dan kelompok 4 (A. crystallinum Linden & Andre dan A. andicola Liebm.)merupakan pasangan-pasangan yang berkerabat jauh, yaitu dengan indeks kesamaan 53,7 dan 47,8%. Kelompokkelima (A. superbum Madison dan A. correa Croat) merupakan pasangan yang berkerabat paling jauh dengan indekskesamaan 32,8%. Indeks kesamaan antara kelompok 1 dan kelompok 2 sebesar 29%, kelompok 3 dan kelompok 4sebesar 26%, dan indeks kesamaan kelompok 5 terhadap keempat lainnya adalah sebesar 25,3%.ABSTRACT. Martasari, C., A. Sugiyatno, H.M.Yusuf, and D. L. Rahayu. 2009. The Phenetic TaxonomyApproach to Identify Relationship of Anthurium Species. Identification of relationship of Anthurium species,collection from Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute (ICISFRI) was conducted using phenetictaxonomy approach method. The study was very useful to developed new superior variety of Anthurium. The data usedin the study were morphological, vegetative organ, reproductive organ, and pollen parameters. Anthurium relationshipwas defined based on Sokal and Michener method (1958). The research was carried out at both Indonesian Citrusand Subtropical Fruits Research Institute (ICISFRI) Breeding Laboratory and the Biology Laboratory, Malang StateUniversity from June 2005 to January 2006. The general and specific descriptors obtained from the experiment wereanalyzed and arranged in a matrices of STO pair number. Phenogram was created from the calculation of matricescoefficient association. According to the phenogram it was shown that 5 related groups of Anthurium species laid fromnear to far distance based on their relationship. The first group consist of A. ferrience and A. macrolobin, it had a neardistance with group 2 (A. amnicola Dressler. and A. andraeanum Linden) with their similarity index 65 and 57.1%respectively. Group 3 (A. halmoreii Croat and A. jenmanii Engl.), and group 4 (A. crystallinum Linden & Andre andA. andicola Liebm.) had a far distance with similarity index 53.7 and 47.8%. The last group (A. superboom Madisonand A. correa Croat.) was the furthest distance with similarity index 32.8%. The similarity index between first andsecond group, third and fourth group, and the fifth group to others was 29, 26, and 25.3%, respectively.
Teknik Proteksi Silang untuk Pengendalian CMV pada Krisan Rahardjo, I B; Diningsih, E; Sulyo, Y
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Salah satu viru s yang menyerang tanaman krisan adalah CMV. Alternatif pengendalian CMV pada tanaman adalah menggu nakan vaksin CARNA 5. Tuju an penelitian adalah menguj i teknik proteksi silang untuk mengendalikan CMV pada beberapa varietas krisan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Hias Segu nung, Pacet, Cianjur , Jawa Barat, pada bulan Agu stus sampai Desember 2004. Perc obaan menggu nakan rancangan petak terpisah dengan rancangan dasar acak kelompok dengan 3 ulangan. Petak utama adalah 5 varietas krisan, yaitu White Reagent, Town Talk, Dark Fiji, Stroika, dan Revert. Sebagai anak petak adalah perlakuan vaksin dan CMV, yaitu perlakuan tanpa vaksin dan tanpa CMV, perlakuan CMV tanpa vaksin, perlakuan vaksin tanpa CMV, dan perlakuan vaksin dan CMV. Hasil penelitian menunju kkan bahwa tanaman krisan varietas White Reagent, Town Talk, Dark Fiji, Stroika, dan Revert yang diberi perlakuan vaksin dapat memproteksi CMV dengan pertumbuh an tanaman dan hasil bunga yang normal.ABSTRACT. Rahardjo, I.B., E. Diningsih, and Y. Sulyo. 2008. Cross Protection Technique for Controlling CMV on Chrysanthemum. One of viru s attack chry santhemum is CMV. The alternative to control CMV is the use of vacc ine CARNA 5. The objective of the experiment was to test the cr oss protection tech nique for controlling of CMV on several chry santhemum varieties. The experiment was conduc ted in Virology Laboratory of Indonesian Ornamental Plant Research Institute (IOPRI) in Segu nung, Pacet, Cianjur , West Java, from Augu st to December 2004, using a RC BD split-plot design with 3 replications. The main plot was 5 chry santhemum varieties of White Reagent, Town Talk, Dark Fiji, Stroika, and Revert. The subplot was treatments of vacc ine and CMV, i.e. without vacc ine and CMV, CMV only, vacc ine only, and both vacc ine and CMV. The results of the experiment showed that CARNA 5 vacc ine was able to protect chry santhemum varieties of White Reagent, Town Talk, Dark Fiji, Stroika, and Revert from CMV with normal plant growth and produced good flower quality.
Kultivar dan Formula Pupuk pada Pertumbuhan Bunga Potong Anthurium Tedjasarwana, Rahayu; Wuryaningsih, Sri
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bunga potong Anthurium (Anthurium andraeanum Lind.) mempunyai bentuk bunga yang khas sepertitopi, terdiri dari spathe dan spadix dengan warna spathenya yang sangat beragam, dikenal mempunyai kesegaran bungadalam vas yang lama. Penelitian bertujuan untuk memperoleh formula pupuk yang tepat dan kultivar yang baik untukpertumbuhan dan produksi bunga potong Anthurium. Penelitian dilakukan di Rumah Sere Balai Penelitian TanamanHias (Balithi) dengan ketinggian 1.100 m dpl dari bulan Januari sampai Desember 2006. Percobaan menggunakanrancangan acak kelompok pola faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama 2 kultivar, yaitu kultivar Tropical danAvo Orange, sedangkan faktor kedua formula pupuk, yaitu (1) formula anthura sebagai kontrol, (2) formula Balithi1, (3). formula Balithi 2, (4) formula Balithi 3, dan (5) formula Balithi 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwajumlah klorofil, panjang dan diameter spadik, serta diameter tangkai bunga kultivar Tropical nilainya lebih besardibandingkan kultivar Avo Orange, yaitu berturut-turut 63,96 unit; 5,81; 6,77 cm; dan 4,86 mm. Sedangkan kultivarAvo Orange lebih cepat inisiasi bunganya, tangkai bunga lebih panjang dengan produksi bunga lebih tinggi, yaitumasing-masing 45,19 hari, 46,27 cm, dan 19,13 tangkai/petak. Formula pupuk 4 menghasilkan tanaman dengan inisiasibunga tercepat, yaitu 49,36 hari, sedangkan formula pupuk 3 menghasilkan bunga tinggi sebesar 18,0 tangkai/petak.Hasil penelitian memberikan informasi tentang adanya kultivar Anthurium yang produktif dan bermutu baik sertaformula nutrisi yang mudah diperoleh.ABSTRACT. Tedjasarwana, R. and S. Wuryaningsih. 2009. Cultivars and Fertilizer Formulae on the Growthof Anthurium Cut Flower. Anthurium cut flower (Anthurium andraeanum Lind.) has spesific flower form like hatconsist of spathe and spadix with variation on spathe color, and has long vaselife. The objectives of this researchwere to find out fertilizer formula and cultivars of Anthurium to increase the productivity of Anthurium cut flower.The experiment was carried out in a Screenhouse of Segunung Field Trial at Indonesian Ornamental Crops ResearchInstitute (IOCRI) from January to December 2006 at 1,100 m asl. Factorial design with 3 replications was used.The first factor was 2 cultivars of Anthurium cut flower consist of Tropical and Avo Orange. The second factor wasfertilizer formula: (1) Anthura as a control, (2) IOCRI 1, (3) IOCRI 2, (4) IOCRI 3, and (5) IOCRI 4. The resultsshowed that chlorophyl number, length and diameter of spadix, also flower stalk diameter of Tropical variety washigher than Avo Orange, i.e. 63.96 unit; 5.81; 6.77 cm, and 4.86 mm, respectively. On the other hand, Avo Orangeshowed faster flower initiation with flower stalk length and flower production higher than Tropical, i.e. 45.19 days;46.27 cm, and 19.13 flower stalk/plot respectively. Fertilizer IOCRI 4 showed fastest flower initiation (49.36 days)and fertilizer IOCRI 3 indicated the highest on flower production (18.0 flower stalk/plot).
Respons Tanaman Paprika (Capsicum annuum var. grossum) terhadap Serangan Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera:Thripidae) Prabaningrum, Laksminiwati; Moekasan, Tonny Koestoni
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian mengenai respons tanaman paprika terhadap serangan Thrips parvispinus Karny telah dilaksanakan dari bulan Maret sampai Desember 2003 di Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (1.250 m dpl). Tujuannya adalah mengetahui pengaruh waktu penyerangan T. parvispinus terhadap kerusakan tanaman dan kehilangan hasil. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 macam perlakuan, dan tiap perlakuan diulang sebanyak 8 kali. Macam perlakuan yang diuji adalah tanaman yang terserang mulai (a) 2 minggu setelah tanam, (b) 4 minggu setelah tanam, (c) 6 minggu setelah tanam, dan (d) 8 minggu setelah tanam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) serangan trips dapat menurunkan hasil panen paprika secara nyata, (2) serangan T. parvispinus dalam bentuk nimfa maupun imago memiliki pengaruh nyata terhadap penurunan hasil panen paprika, (3) semakin awal terjadinya serangan, semakin tinggi kerusakan tanaman dan penurunan hasilnya, baik secara kualitas maupun kuantitas, (4) tanaman berumur muda atau pada fase vegetatif lebih rentan terhadap serangan trips, dan (5) pengendalian trips pada tanaman paprika harus dilakukan sejak awal tanam.ABSTRACT. Prabaningrum, L. and T.K. Moekasan. 2008. Response of Sweet Pepper (Capsicum annuum var. grossum) to Infestation of Thrips parvispinus Karny (Thysanoptera:Thripidae). The experiment was conducted from March until December 2003 at the Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang. The aim of the study was to determine effect of time of initial infestation on plant damage and yield loss. Four treatments were arranged using randomized complete block design and each treatment was replicated 8 times. The treatments tested were plant infested at (a) 2 weeks after transplanting, (b) 4 weeks after transplanting, (c) 6 weeks after transplanting, and (d) 8 weeks after transplanting. Results showed that (1) thrips infestation could significantly reduce the yield, (2) infestation of both nymph and imago of thrips could significantly decrease the yield, (3) the earlier of plant infested the higher of plant damage and the yield loss, either the quantity or the quality, (4) the young plant or plant in vegetative periode was susceptible to thrips infestation, and (5) control measure of thrips has to be done earliest.
Kalium Sulfat dan Kalium Klorida Sebagai Sumber Pupuk Kalium pada Tanaman Bawang Merah Gunadi, Nikardi
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan untuk mengetahui pengaruh 2 sumber pupuk kalium, yaitu kalium sulfat (K2SO4) dan kaliumklorida (KCl) serta dosis pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian dilaksanakan dilahan petani di Desa Ciledug (12 m dpl.), Cirebon, Jawa Barat dari bulan Juni sampai dengan Agustus 2003. Duasumber pupuk kalium, yaitu kalium sulfat dan kalium klorida ditempatkan sebagai petak utama dan dosis pupuk kalium,yaitu 50, 100, 150, 200, dan 250 kg K2O/ha sebagai anak petak dalam rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh sumber pupuk kalium tidak nyata terhadap parameter pertumbuhan,seperti tinggi tanaman, jumlah tunas, dan bobot kering komponen tanaman. Namun pada saat panen pupuk kaliumberpengaruh nyata. Tanaman yang mendapat pupuk K2SO4 mempunyai hasil umbi kering per tanaman, hasil umbisegar per petak, dan hasil umbi kering per petak yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan tanamanyang diberi pupuk KCl. Penggunaan pupuk kalium sulfat tidak nyata meningkatkan kualitas umbi bawang merahpada saat panen dibandingkan dengan penggunaan pupuk kalium klorida. Pengaruh dosis pupuk kalium terhadapbeberapa parameter pertumbuhan tanaman bawang merah, seperti tinggi tanaman, jumlah tunas per tanaman, jumlahdaun per tanaman, dan juga bobot kering komponen tanaman serta pada saat panen, hasil umbi segar dan umbi keringbaik per tanaman maupun per petak (15 m2) tidak nyata.ABSTRACT. Gunadi, N. 2009. Potassium Sulphate and Potassium Chloride as Sources of Potassium Fertilizeron Shallots. An experiment to determine the effect of 2 sources of potassium fertilizer i.e. potassium sulphate (K2SO4)and potassium chloride (KCl) and the rate of potassium fertilizer on the growth and yield of shallots was conductedat farmer’s field in Ciledug Village (12 m asl.), Cirebon, West Jawa from June until August 2003. Two sources ofpotassium fertilizers i.e. potassium sulphate and potassium chloride were assigned as main plots and the rates ofpotassium fertilizers i.e. 50, 100, 150, 200, and 250 kg/ha were assigned as subplots. The experiment was arrangedin a split plot design with 3 replications. The results indicated that the effect of source of potassium fertilizer was notsignificantly affect the growth parameters such as plant height, shoot number, leaf number, and dry weight of plant.While at harvest, however, the effect was significant. The application of potassium sulphate gave higher dry yieldper plant, fresh yield per plot, and dry yield per plot (15 m2) compared to potassium chloride. The use of potassiumsulphate did not significantly increase the quality of shallot bulb at harvest compared to the use of potassium chloride.The effect of potassium fertilizer rate was not pronounced on some growth parameters and yield of shallots such asplant height, shoot number per plant, and leaf number per plant, total plant dry matter, fresh and dry yield either perplant or per plot (15 m2).
Aplikasi Pestisida Biorasional Agonal 866 untuk Mengendalikan Hama dan Penyakit Bawang Merah Hadisoeganda, A; Widjaja, W
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian aplikasi pestisida biorasional Agonal 866 untuk mengendalikan hama dan penyakit bawang merah dilaksanakan di lahan petani di Rancaekek, (650 m dpl.), Kabupaten Bandung, dari Desember 2001 sampai Maret 2002. Percobaan dirancang dengan rancangan acak kelompok, diulang 4 kali. Perlakuan yang digunakan adalah pestisida biorasional Agonal 866 dan pestisida sintetik, kedua-keduanya diaplikasikan baik secara tungg al terus menerus dan bergiliran untuk mengendalikan hama dan penyakit utama bawang merah. Pestisida biorasional Agonal 866 adalah campuran ekstrak kasar A. indica (8 bagian) + A. nardus (6 bagian) + A. galanga (6 bagian). Prosedur pembuatannya dicantumkan dalam artikel. Perlakuan lain pestisida sintetik adalah campuran Piretroid 25 EC dan Propineb 70 WP 0,2%. Hasil penelitian menunjukk an bahwa pestisida biorasional Agonal 866 yang diaplikasikan baik secara tunggal maupun digilir dengan pestisida sintetik ternyata efikasinya dalam mengendalikan penyakit bercak ungu yang disebabk an A. porri maupun serangan hama S. exigua, setara dan tidak berbeda nyata satu sama lain. Hasil penelitian ini memberikan indikasi kuat bahwa pestisida biorasional Agonal 866 dapat digunakan untuk menggggantikan pestisida sintetik Piretroid 25 EC dan Propineb 70 WP untuk mengendalikan A. porri dan S. exigua pada bawang merah dalam upaya memecahk an masalah pengg unaan pestisida sintetik yang berlebihan dalam pengertian mengurangi kuantum pemberian pestisida sintetik tersebut.ABSTRACT. Hadisoeganda, A.Widjaja, W. 2008. Application of Biorational Pesticide to Control Pests and Diseases of Shallot. Research concerning biorational and synthetic pesticides was conducted in order to reduce the overuse of synthetic pesticide on shallot cultivation. The experiment was carried out at farmer’s field in Rancaekek (elevation 650 m asl) Bandung District, from December 2001 until March 2002. The experiment was laid in a randomized block design, replicated 4 times. The treatments were application of biorational pesticide Agonal 866 and synthetic pesticide, either applied singly or alternately to control the most important pests and diseases of shallot. Biorational pesticide Agonal 866 is simply mixture of the crude extract of A. indica (8 parts) + A. nardus (6 parts) + A. galanga (6 parts), and the synthetic pesticide was a mixture of Pirethroid 25 EC and Propineb 70 WP 0.2%. The results of the experiment indicated that biorational pesticide Agonal 866 either applied singly or alternately with synthetic pesticide was as effective as synthetic pesticide in controlling purple blotch diseases caused by A. porri as well as harmful insect S. exigua. These evident strongly gave indication that biorational pesticide Agonal 866 could replace synthetic pesticide Pirethroid 25 EC and Propineb 70 WP in controlling A. porri and S. exigua on shallot in order to overcome the overuse of synthetic pesticide.
Pewarnaan Kromosom dan Pemanfaatannya dalam Penentuan Tingkat Ploidi Eksplan Hasil Kultur Anter Anthurium Winarto, Budi
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metode pewarnaan Kromosom yang optimal merupakan prasarat penting dalam penentuan level ploidi tanaman hasil kultur anter, termasuk variasi eksplan hasil kultur anter Anthurium. Aplikasi dan modifikasi metode pewarnaan kromosom pada berbagai eksplan dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Hias dari bulan Februari sampai dengan Agustus 2009 untuk mengetahui keragaman dan tingkat ploidi regeneran hasil kultur anter Anthurium. Penelitian bertujuan mendapatkan metode pewarnaan kromosom dan modifikasinya, jenis eksplan dan akar yang sesuai untuk mempelajari tingkat ploidi regeneran hasil kultur anter Anthurium. Bahan yang digunakan ialah kalus, pucuk tunas, dan ujung akar udara. Penelitian terdiri atas tiga kegiatan, yaitu (1) modifikasi metode pewarnaan kromosom, (2) seleksi eksplan yang sesuai untuk pewarnaan kromosom, dan (3) optimasi metode pewarnaan kromosom terseleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ujung akar dan akar yang ditumbuhkan pada medium yang mengandung 1% arang aktif merupakan jenis eksplan dan akar yang sesuai untuk mendapatkan hasil pewarnaan kromosom yang baik. Modifikasi metode pewarnaan kromosom dengan pemanasan ujung akar pada 1N HCl : asam asetat glasial 45% (3:1, v/v) selama 10 menit pada suhu 60oC dan perlakuan aseto-orcein selama 15 menit merupakan metode pewarnaan kromosom yang lebih baik dalam menghasilkan obyek kromosom yang mudah dihitung. Penerapan metode pewarnaan kromosom pada kultur anter Anthurium dapat memisahkan tingkat ploidi regeneran. Pada penelitian ini rasio ploidi regeneran kultur anter ialah 33,5% haploid, 62,7% diploid, dan 5,7% triploid. Metode pewarnaan kromosom yang berhasil dikembangkan dalam penelitian ini sangat bermanfaat dalam pengembangan teknologi haploid pada jenis Araceae yang lain.Optimal chromosome staining method is important pre-requisite in determination of plant ploidy level derived from anther culture, involving varied explants regenerated from Anthurium anther culture. Application and modification of chromosome staining methods on different explants were conducted at the Tissue Culture Laboratory of  Indonesian Ornamental Crops Research Institute from February to August 2009 for determination of the ploidy level of regenerants derived from anther culture of Anthurium. The aim of this research was to determine the chromosome staining method and its modifications, type of explant and root suitable to study the ploidy level of explants derived from anther culture of Anthurium. Callus, shoot tips, and root tips were utilized in the experiment. The research was consisted of three experiments, i.e. (1) modification of chromosome staining methods (2) selection of explants suitable for chromosome staining, and (3) improvement of the selected chromosome staining method. Results of the study indicated that root tips and roots cultured on medium containing 1% active carchoal were the most appropriate explants and the root type in obtaining better chromosome staining results. The modification method with root tip boiled in 1N HCl : 45% of acetic acid glacial (3:1, v/v) for 10 minutes in 60ºC and aceto-orcein treatment for 15 minutes gave appropriate chromosome staining results exhibited clearer chromosome pictures and was easy to be counted. The  application of chromosome staining on anther culture of Anthurium was able to distinguish the ploidy level of regenerants. Ploidy ratio of regenerants derived from anther culture was 33.5% of haploid, 62.7% of diploid, and 5.7% of triploid. Chromosome staining method resulted from the study give high benefit in developing haploid technologies on other Araceae plants.
Efikasi Isolat Cendawan Mikoriza Arbuskula Indigenous Pisang terhadap Nematoda Radopholus similis pada Pisang Ambon Hijau Jumjunidang, =
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Serangan nematoda parasit akar Radopholus similis Cobb merupakan salah satu kendala dalammeningkatkan produksi pisang. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA) adalah simbion obligat yang dapat meningkatkanserapan hara dan ketahanan tanaman terhadap nematoda parasit. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh inokulasibeberapa isolat CMA indigenous terhadap serangan nematoda parasit R. similis pada pisang Ambon Hijau. Penelitiandilakukan di Laboratorium Penyakit dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok, pada bulanFebruari sampai Desember 2004. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan,masing-masing ulangan terdiri dari 2 tanaman. Perlakuan adalah 5 isolat CMA indigenous pisang yang berasal daribeberapa daerah dan 1 CMA campuran koleksi Balitbu, yaitu: CMA asal Batu Sangkar (var.Buai), CMA asal 50 Kota(var. Raja Serai), CMA asal Sawahlunto Sijunjung (var. Udang), CMA asal Padang (var. Kepok), CMA asal PadangPariaman (var. Manis), CMA campuran koleksi Balitbu (Biorhiza 02 G), dan kontrol (tanpa CMA). Varietas pisangyang digunakan adalah Ambon Hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat CMA yang diuji mampumenekan reproduksi R. similis pada tanaman pisang dan dapat mengurangi kerusakan tanaman yang ditimbulkannyadibanding dengan kontrol. Isolat CMA terbaik untuk mengendalikan nematoda R. similis adalah isolat yang berasaldari Padang dan Biorhiza 02 G, karena mampu menekan reproduksi nematoda dan mengurangi kerusakan tanamanpada tingkat yang paling rendah. Isolat CMA yang berasal dari 50 Kota dan Batu Sangkar mampu meningkatkantoleransi tanaman dengan mengurangi kerusakan yang ditimbulkan nematoda pada tingkat yang sama dengan isolatCMA dari Padang dan Biorhiza 02 G. Cendawan mikoriza arbuskula berpotensi digunakan sebagai agensia hayatiuntuk mengendalikan nematoda R. similis pada tanaman pisang.ABSTRACT. Jumjunidang. 2009. Efficacy of Indigenous Arbuscular Mycorrhizae (AM) Isolates of BananasAgainst the Damage Caused by Nematode Radopholus similis. on Banana cv. Ambon Hijau. The incidence of rootparasitic nematode Radopholus similis Cobb is one of the constraints on banana production. Arbuscular mycorrhizaeis obligate symbiont which can increase nutrient uptake and the resistance of plant against parasitic nematodes. Theobjective of this experiment was to determine the effects of inoculation of various indigenous AM isolates to controlR. similis on banana cv. Ambon Hijau. The experiment was conducted at Disease Laboratory and Screenhouse ofIndonesian Tropical Fruit Research Institute at Solok, from February to December 2004. The experiment was arrangedin a randomized block design with 7 treatments and 4 replications. Each treatment consisted of 2 plants. The treatmentscomprised of 5 indigenous AM isolates from several areas of bananas plantation, i.e.; AM from Batu Sangkar (var.Buai), AM from 50 Kota (var. Raja Serai), AM from Sawahlunto Sijunjung (var. Udang), AM from Padang (var.Kepok), AM from Padang Pariaman (var. Manis), one mixed AM of Indonesian Tropical Fruit Research Institutecollection (Biorhiza 02 G), and control. The results showed that all of AM isolates were significantly suppress thereproductive of R. similis on banana and also significantly decrease plant damages caused by that nematode. Thebest AM isolates in controlling R. similis were isolates from Padang and Biorhiza 02 G because they were not onlyable to suppress reproductiveness of nematode, but also decrease plant damages to lowest level. Isolates from 50Kota and Batu Sangkar were able to increase plant tolerance by showing lower damages comparable to AM isolatesfrom Padang and Biorhiza 02 G. Arbuscular mycorrhizae had the potency as biocontrol agent in controlling parasiticnematode R. similis on banana.
Pengaruh Media, Suhu, dan Lama Blansing Sebelum Pengeringan terhadap Mutu Lobak Kering Asgar, Ali; Musaddad, Darkam
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian bertujuan untuk mengetahui media, suhu, dan lama blansing yang optimum sebelum pengeringan terhadap mutu lobak kering. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober sampai November 2004. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen di laboratorium menggunakan rancangan kelompok pola petak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama yaitu media blansing yang terdiri dari (1) air dan (2) uap. Anak petak yaitu kombinasi suhu dan lama blansing yang terdiri dari (1) suhu 65°C selama 15 menit, (2) 65°C selama 30 menit, (3) 75°C selama 10 menit, (4) 75°C selama 20 menit, (5) 85°C selama 5 menit, dan (6) 85°C selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara media dan kombinasi suhu dan lama blansing terhadap rendemen, kadar air, dan vitamin C. Dari uji organoleptik perlakuan yang terbaik adalah media uap pada suhu 75°C selama 10 menit dengan hasil lobak kering yang disukai (nilai 3,73). Lobak kering hasil perlakuan tersebut mempunyai kadar air 8,33%, rendemen 3,75%, rasio rehidrasi 281,67%, dan vitamin C 567,25 mg/100 g.ABSTRACT. Asgar, A. and D. Musaddad. 2008. The Effect of Medium, Temperature, and Blanching Time on the Dried-Radish Quality. The objective of this research was to find out the effect of medium, temperature, and blanching time on the characteristic of dried-radish. Experiment was conducted at Indonesian Vegetables Research Institute from October to November 2004. This research was arranged in a split plot design with 3 replications and followed by Duncant’s test. The main plot was blanching medium, consisted of (1) water and (2) steam. While the subplot was temperature and time of blanching, consisted of (1) 65°C and 15 minutes, (2) 65°C and 30 minutes, (3) 75°C and 10 minutes, (4) 75°C and 20 minutes, (5) 85°C and 5 minutes, and (6) 85°C and 10 minutes. The results indicated that there was interaction between medium and the combination of temperature and duration of blanching. Organoleptics test showed that steam blanching at 75°C for 10 minutes gave the most prefered dried radish (3.73), with moisture content of 8.33%, dry matter of 3.75%, rehydration ratio of 281.67%, and vitamin C of 567.25 mg/100 g.
engaruh Jumlah Cabang per Tanaman terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Paprika Gunadi, Nikardi; Maaswinkel, R; Moekasan, Tonny Koestani; Prabaningrum, Laksminiwati; Subhan, -; Adiyoga, Witono
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia, penelitian tentang pengaruh jumlah cabang per tanaman sangat terbatas dan baru dilakukan pada satu varietas paprika, yaitu cv. Ferrari. Dalam rangka meningkatkan pilihan petani terhadap varietas yang dibudidayakan, penelitian tentang pengaruh jumlah cabang per tanaman pada pertumbuhan dan hasil tiga varietas paprika perlu dilakukan. Penelitian dilaksanakan di Rumah Plastik kayu-metal, Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl.), Jawa Barat dari bulan Juni 2007 sampai dengan Februari 2008. Penelitian menguji dua faktor perlakuan, yaitu (1) jumlah cabang per tanaman dengan dua taraf, yaitu dua dan tiga cabang per tanaman serta (2) varietas dengan tiga taraf yaitu varietas Spider, Chang, dan Athena. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cabang per tanaman berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil paprika. Tanaman paprika dengan sistem tiga cabang menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan sistem dua cabang terutama pada  umur 11 minggu setelah tanam. Tanaman paprika dengan sistem tiga cabang memberikan hasil total dan hasil kelas buah >200 g berturut-turut lebih tinggi  yaitu sebesar 9,3 dan 9,1% daripada tanaman paprika dengan dua cabang. Total hasil varietas Athena dan Spider lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas Chang, tetapi varietas Chang menghasilkan jumlah buah yang lebih banyak dibandingkan dengan dua varietas lainnya. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk pemilihan varietas dan teknik budidaya paprika dalam kondisi rumah plastik di Indonesia.In Indonesia, research on the effect of stem number per plant is very limited and it was conducted only in one sweet pepper variety namely Ferrari. In order to increase the possibility of farmers to choose good cultivated varieties, an experiment needs to be conducted to determine the effect of stem number per plant on the growth and yields of three sweet pepper varieties. This experiment was carried out in the wood-metal plastichouse at the experimental field of the Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), Lembang (1,250 m asl.), West Java from June 2007 to February 2008. Two factor treatments tested were (1) number of stem per plant with two levels i.e. two stems and three stems per plant and (2) varieties of sweet pepper i.e. Spider, Chang, and Athena. The treatment combinations were arranged in a completely randomized block design with three replications. The results indicated that number of stem per plant significantly affected the growth and yield of sweet pepper. The plant height of sweet pepper plants grown with three stems were significantly higher than those with two stems, especially after 11 weeks after planting. The plants grown with three stems per plant gave higher total yield and yield of class >200 g up to 9.3 and 9.1%, respectively than the ones grown with two stems per plant. The total yield and yield of class > 200 g of Athena and Spider were significantly higher than those of Chang. However, Chang yielded more number of fruits compared to Athena and Spider. The results can be used as a recommendation in variety selection and cultivation of sweet pepper grown under plastichouse  conditions in Indonesia.

Page 14 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue