cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Kompatibilitas Minyak Serai dengan Predator Menochilus sexmaculatus untuk Pengendalian Vektor Penyakit Virus Kuning Setiawati, Wiwin; Murtiningsih, Rini
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan insektisida kimia sintetis secara intensif di lapangan dapat mengurangi populasi musuh alami, sehingga mengakibatkan populasi hama meningkat. Bemisia tabaci merupakan salah satu hama penting pada tanaman cabai merah yang dapat menyebabkan kerusakan langsung dengan cara menghisap cairan tanaman dan tidak langsung menularkan penyakit virus kuning. Cara pengendalian yang ramah lingkungan merupakan faktor penting dalam menekan kehilangan yang diakibatkan oleh serangan B. tabaci. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kompatibilitas insektisida nabati yang berasal dari minyak serai dengan predator Menochilus sexmaculatus dalam menekan populasi B. tabaci. Penelitian dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran mulai bulan Juni sampai dengan Desember 2009. Penelitian menggunakan metode pencelupan (dipping method)  untuk kutukebul, film kering (dry film), dan odor effect untuk predator M. sexmaculatus. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok terdiri atas enam perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang digunakan ialah enam konsentrasi minyak serai yaitu 5.000, 4.000, 3.000, 2.000, 1.000, dan 0 ppm sebagai kontrol. Untuk menentukan nilai LC50 dan LT50 digunakan analisis Probit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi minyak serai pada konsentrasi 2.000-5.000 ppm efektif menekan populasi nimfa B. tabaci instar I dan II, sedangkan untuk instar III dan IV pada konsentrasi 3.000-5.000 ppm dengan nilai penekanan sebesar 92-98% bila dibandingkan dengan kontrol. Nilai LC50 untuk nimfa B. tabaci instar I-IV berturut-turut sebesar 1.266,48, 1.755,81, 2.305,46, dan 2.343,59 ppm.  Pada konsentrasi 2.000 ppm, LT50 minyak serai  untuk nimfa B. tabaci ialah sekitar 2,95 hari setelah perlakuan. Minyak serai yang aman untuk larva predator M. sexmaculatus ialah pada konsentrasi 1.000 ppm bila diaplikasikan secara kontak dan 1.000-2.000 ppm bila diaplikasikan sebagai odor effect. Minyak serai pada konsentrasi 1.000-5.000 ppm aman terhadap imago M. sexmaculatus. Konsentrasi 2.000 ppm minyak serai merupakan konsentrasi yang sesuai diaplikasikan sebagai insektisida alami untuk pengendalian B. tabaci, aman dan kompatibel dengan  predator M. sexmaculatus. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa minyak serai dan M. sexmaculatus memiliki potensi dalam mengendalikan B. tabaci pada cabai.There is a tendency of diminishing  the number of natural enemies caused by utilization of non-selective insecticides that lead to serious consequences for pest population dynamics. Bemisia tabaci is an extremely polyphagous pest that causes direct damage and can act as a viral vector on hot peppers causing yellow virus disease. The activity of natural enemies can be exploited by employing propers conservation and augmentation techniques. Natural enemies might play roles to control of  B. tabaci on hot peppers. The study was conducted in the Laboratory and Screenhouse of IVEGRI from June to December 2009. The objective of this study was to determine compatibility of citronella oil with M. sexmaculatus to control B. tabaci. Dipping methods, dry film, and odor effect were used in this study. Randomized completely block design with six treatments and four replications was used in this study. The treatments were citronella oils at different consentration 5,000, 4,000, 3,000, 2,000, 1,000, and 0 ppm as a control and stages of B. tabaci (1st, 2nd, 3rd, and 4th instars) and M. sexmaculatus. Probit analysis was used to ditermine LC50 and LT50 value. The results indicated that  citronella oils at concentration of 2,000-5,000 ppm was effective to control nymphs of B. tabaci at 1st and 2nd instar , while 3,000-5,000 ppm for 3rd and 4th instar. The first two nymphal stages were more susceptible to citronella oil compared to the third and fourth nymphal stage. LC50 value for first to fourth nymphal stage was 1,266.48; 1,755.81; 2,305.46, and 2,343.59 ppm respectively. The LT50 occurred at 2.95 days in all instar stages.  Menochilus sexmaculatus  predators were  highly susceptible to the essential oil vapours and the selective toxicity ratio varied depending on the methods and stages. Citronella oil at 1,000-2,000 ppm was compatible with M. sexmaculatus larvae on odor effect and 1,000 ppm on dry film method. Menochilus sexmaculatus adult more tolerant to citronella oil compared to larvae stage at concentration 1,000-5,000 ppm. Concentration 2,000 ppm of citronella oil was the appropriate concentration applied as bioinsecticide for B. tabaci, safety and compatibility for M. sexmaculatus. Based on the study known citronella oil and M. sexmaculatus  had potential to be incorporated in controlling B. tabaci  on hot peppers.
Penentuan Paket Teknologi Budidaya Bawang Merah di Dataran Rendah dan Medium melalui Pendekatan Analisis Model Indeks Komposit Suwandi, -; Moekasan, Tonny Koestoni
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Percobaan dilaksanakan di dataran rendah (Kramat, Tegal, Jawa Tengah), dan di dataran medium (Rancaekek, Jawa Barat). Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan paket teknologi usahatani bawang merah yang cocok untuk dataran rendah dan dataran medium melalui pendekatan analisis model indeks komposit. Perlakuan yang diteliti terdiri dari 2 faktor, yaitu faktor A: 5 varietas bawang merah (No. 86, No. 88, No. 22, No. 33, dan var. Menteng untuk pelaksanaan di dataran medium dan kultivar Kuning di dataran rendah), faktor B: 3 jenis paket teknologi budidaya bawang merah. Rancangan percobaan yang digunakan petak terpisah dengan 3 ulangan. Analisis yang digunakan ragam data gabungan dan ragam data individual, serta model indeks komposit analisis faktor. Hasil analisis menunjukkan bahwa varietas bawang merah yang sebaiknya direkomendasikan untuk dataran rendah Kramat, Tegal adalah kultivar Kuning, dan perpaduan komponen teknologinya adalah paket teknologi T3. Varietas bawang merah yang sebaiknya direkomendasikan untuk dataran medium Rancaekek adalah varietas Menteng, Klon No. 33 dan Klon 88 dengan paket teknologi T1. Budidaya bawang merah di dataran medium menghasilkan rerata susut bobot umbi lebih kecil dibandingkan di dataran rendah.ABSTRACT. Suwandi, R. Rosliani, and T.K. Moekasan. 2008. Determrmination of Shallot Cultivation Techchnologygy Package at Low and Medium Elevation Thr ough Analysis of Composite Index Model. The experiment was conducted at low elevation (Kramat, Tegal, Central Java), and at medium elevation (Rancaekek, West Java). The objectives of the experiment was to find out the appropriate cultivation technology package of shallot at low and medium elevation through analysis of composite index model. The treatment consisted of 2 factors of A: 5 varieties of shallot (No.86, No. 88, No. 22, No. 33, and var. Menteng/Majalengka for medium elevation and var. Kuning for low elevation), factor B: 3 kinds of cultivation technology package of shallot. Experimental design used was split plot with 3 replications. Analyses were done using combination data variance analysis, individual data variance analysis and composite index model of factor analysis. The results showed that the best recommended variety of shallot for low elevation at Kramat, Tegal was var. Kuning, and the cultivation technology package was T3. While the best recommended variety of shallot for medium elevation were var. Menteng, Clone No. 33, and Clone no. 88, and the cultivation technology package was T1. Cultivation of shallot at medium elevation gave lower bulb weight-lost than at low elevation.
Segmentasi Konsumen Kentang, Bawang Merah, dan Cabai Merah Berdasarkan Peubah Sosio-Demografis dan Kepentingan Kriteria Produk Adiyoga, Witono
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi segmen-segmen konsumen kentang, bawang merah, dan cabai merah berdasarkan peubah sosio-demografis dan persepsi tentang kepentingan kriteria produk. Penelitian survai dilaksanakan di tiga kota besar konsumen utama sayuran, yaitu Jakarta (DKI Jaya), Bandung (Jawa Barat), dan Padang (Sumatera Barat) pada bulan Juni sampai dengan September 2006. Responden terdiri dari 335 konsumen kentang, bawang merah, dan cabai merah yang dipilih secara acak. Alat analisis yang digunakan ialah statistik deskriptif, tabulasi silang, dan analisis klaster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk kentang, dua peubah sosio-demografis (pendidikan dan pengeluaran) dan 11 peubah kriteria produk (kesegaran, rasa, kebersihan, nilai gizi, tidak mengandung residu pestisida, penampakan luar, tidak ada tanda busuk, harga, kemasan, label produk, dan  kenyamanan tempat pembelian) berpengaruh nyata terhadap perbedaan karakteristik segmen konsumen kentang. Jumlah segmen konsumen kentang yang dianggap paling sensible (pantas/masuk akal) ialah tiga segmen (segmen 1=120 orang, segmen 2=12 orang, dan segmen 3=203 orang). Berdasarkan komposisi tersebut, pemasar/petani kentang disarankan agar lebih mengarahkan strategi pemasarannya ke segmen 3. Untuk bawang merah, tiga peubah sosio-demografis (pendidikan, pekerjaan, dan pengeluaran) dan 13 peubah kriteria produk (kesegaran, kebersihan, nilai gizi, tidak mengandung residu pestisida, penampakan luar, tidak ada tanda busuk, harga, warna, aroma, label produk, produk lokal, produk impor, dan  kenyamanan tempat pembelian) berpengaruh nyata terhadap perbedaan karakteristik segmen konsumen bawang merah. Jumlah segmen konsumen bawang merah yang dianggap paling sensible ialah dua segmen (segmen 1=113 orang dan segmen 2=222 orang). Komposisi anggota klaster tersebut menyarankan kepada pemasar/petani bawang merah agar lebih mengarahkan strategi pemasarannya ke segmen 2. Untuk cabai merah, empat peubah sosio-demografis (pendidikan, pekerjaan, pengeluaran, dan frekuensi memasak sendiri) dan 11 peubah kriteria produk (kesegaran, rasa, kebersihan, nilai gizi, tidak mengandung residu pestisida, penampakan luar, tidak ada tanda busuk, harga, warna, label produk, dan kenyamanan tempat pembelian) berpengaruh nyata terhadap perbedaan karakteristik segmen konsumen cabai merah. Jumlah segmen konsumen cabai merah yang dianggap paling sensible ialah tiga segmen (segmen 1=152 orang, segmen 2=2 orang, dan segmen 3=181 orang). Komposisi anggota klaster tersebut menyarankan kepada pemasar/petani cabai merah agar lebih mengarahkan strategi pemasarannya ke segmen 3 dan 1. Penelitian lebih lanjut perlu mempertimbangkan pencantuman peubah kriteria produk secara lebih terinci dan spesifik.The objective of this study was to identify market or consumer segments of potato, shallots, and hot peppers based on socio-demographic variables and the importance of product criteria. Consumer surveys were carried out in three big cities of vegetable main consumer in Indonesia i.e. Jakarta (DKI Jaya), Bandung (West Java), and Padang (West Sumatera) from June to September 2006. Respondents of these surveys were 335 potato, shallots, and hot peppers consumers who were randomly selected. Descriptive statistics, cross tabulations, and cluster analysis were used for data elaboration. Results show that for potato, two socio-demographic variables (education and expenditures) and 11 product criteria variables (freshness, taste, cleanliness, nutrient value, no pesticide-residue, appearance, no blemishes, price, packing, product label, and convenient purchasing place) were significantly contributing to the separation of the potato clusters. Three clusters are identified as the most sensible subgroup for potato consumer segments i.e. segment 1=120 cases, segment 2=12 cases, and segment 3=203 cases. Based on this composition, potato marketers/farmers were suggested to focus on segment 3 for implementing their marketing mix strategy. For shallots, three socio-demographic variables (education, employment, and expenditures) and 13 product criteria variables (freshness, cleanliness, nutrient value, no pesticide-residue, appearance, no blemishes, price, color, aroma, product label, local product, imported product, and convenient purchasing place) were significantly contributing to the separation of the shallots clusters. Two clusters were identified as the most sensible subgroup for shallots consumer segments i.e. segment 1=113 cases and segment 2=222 cases. Based on this composition, shallots marketers/farmers are suggested to focus on segment 2 for implementing their marketing mix strategy. For hot peppers, four socio-demographic variables (education, employment, expenditures, and self-cooking frequency), and 11 product criteria variables (freshness, taste, cleanliness, nutrient value, no pesticide-residue, appearance, no blemishes, price, color, product label, and convenient purchasing place) were significantly contributing to the separation of the hot peppers clusters. Three clusters were identified as the most sensible subgroup for hot peppers consumer segments i.e. segment 1=152 cases, segment 2=2 cases, and segment 3=181 cases. Based on this composition, hot peppers marketers/farmers were suggested to focus on segment 3 and 1 for implementing their marketing mix strategy. Further study needs to consider involving more detailed and more specific product criteria variables.
Preferensi Konsumen terhadap Anggrek Phalaenopsis, Vanda, dan Dendrobium Nurmalinda, -; Kartikaningrum, Susukandari; Hayati, Nur Qomariyah; Widyastoety, Diah
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian preferensi konsumen dapat membantu pemulia dalam menentukan arah dan tujuan penelitian pemuliaan terkait dengan pemenuhan kebutuhan konsumen terhadap varietas unggul baru yang akan dihasilkan. Tujuan penelitian ialah untuk mengidentifikasi preferensi konsumen terhadap anggrek Phalaenopsis, Vanda, dan Dendrobium. Survei dilakukan terhadap 21 responden Phalaenopsis dan 32 responden Vanda, serta uji preferensi konsumen (100 panelis) anggrek Phalaenopsis, Vanda, dan Dendrobium dalam peragaan di arena Pameran Hortikultura Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta pada Juli-November 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi konsumen terhadap atribut kualitas anggrek Phalaenopsis, Vanda, dan Dendrobium  ialah bunga berbentuk bulat, warna putih untuk Phalaenopsis dan Vanda, serta warna hijau untuk Dendrobium, diameter bunga berukuran sedang, motif bunga tidak berpola (polos), jumlah kuntum bunga sedang (10-15 kuntum), serta jumlah kuntum bunga yang mekar 70-80%. Selain itu ketahanan simpan bunga lebih dari 10 hari. Implikasi dari penelitian ini ialah bahwa untuk merakit varietas-varietas baru yang diinginkan konsumen, perlu memperhatikan atribut-atribut preferensi yang diinginkan konsumen, seperti bentuk, warna, diameter, motif, jumlah kuntum per tangkai, serta ketahanan simpan bunga yang lebih lama.Consumer’s preference research can help the breeders in giving direct and goal their breeding activity in conjunction to fullfil consumer’s needs of new superior plant varieties. The objectives of this study were to identify consumer’s preference on Phalaenopsis, Vanda, and Dendrobium orchid. This study was conducted using survey method through collecting data of 21 respondents of Phalaenopsis, 32 respondents of Vanda, and flower display method through interviewing 100 panelists of Dendrobium, Phalaenopsis, and Vanda during Horticulture Exhibition at Beautiful Indonesian Miniature Park (TMII)  Jakarta on July till November 2006. The results showed that consumer’s preferences of Phalaenopsis, Vanda, and Dendrobium were the plant having rounded flower, white color for Phalaenopsis and Vanda, green color for Dendrobium,  medium diameter, plain color,  medium number of flower bud of 10-15 flower buds per stem, 70-80% bloomed-flower, and vaselife more than 10 days. Implication of this research was better that in producing new superior varieties the breeders shall take into consideration the  consumer’s needs in keeping with the preference attributes such as shape, color, diameter, patern, number, and vaselife of flower buds.
Pengaruh Beberapa Ekstrak Tanaman terhadap Bercak Hitam dan Embun Tepung pada Tanaman Mawar Varietas Pertiwi Rahardjo, Indiarto Budi; Suhardi, -
Jurnal Hortikultura Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Kendala pada budidaya tanaman mawar di antaranya adalah penyakit tanaman, seperti penyakit bercak hitam dan embun tepung.  Salah satu alternatif pengendalian penyakit tanaman adalah penggunaan fungisida botani. Tujuan penelitian adalah mengetahui efektivitas ekstrak tanaman terhadap bercak hitam (Marssonina rosae) dan embun tepung (Oidium sp.) pada tanaman mawar. Percobaan dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung (1.100 m dpl.), dari bulan April 2002 sampai Maret 2003. Perlakuan penelitian ini adalah kontrol (tanpa perlakuan), kencur (Kaempferia galanga), arang sekam, temu lawak (Curcuma xanthorriza), nyiri (Xylocarpus granatum), nimba (Azadirachta indica), kunyit (Curcuma domestica), temu putih (Curcuma zedoaria), temu hitam (Curcuma aeruginosa), jahe (Zingiber officinale), pinang (Areca catechu), bratawali (Tinospora tuberculata), teh (Thea sinensis), pinus (Pinus merkusii), onje (Phaeomeria speciosa), dan lengkuas (Languas galanga). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dan diulang 5 kali. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak tanaman yang efektif terhadap bercak hitam sebelum terjadinya infeksi adalah arang sekam, daun teh, jahe, kencur, temu lawak, daun nyiri, daun nimba, dan temu hitam. Ekstrak tanaman yang efektif dapat menurunkan intensitas serangan embun tepung adalah daun nimba, temu hitam, jahe, onje, teh, kencur, dan lengkuas. Perlu ada uji lanjut efikasi ekstrak tanaman terhadap bercak hitam dan embun tepung pada tanaman mawar.ABSTRACT. Rahardjo, I.B. and Suhardi. 2008 The Effect of Several Plant Extracts on Black Spot and Powdery Mildew of Rose Pertiwi Variety. One of the constraints on rose plant cultivation was disease infection, especially black spot and powdery mildew. The alternatives to control the diseases was the use of botanic fungicide. The objective of the experiment was to determine the effffectiveness of plant extracts to control black spot (Marssonina rosae) and powdery mildew (Oidium sp.) on rose. The experiment was conducted in the Greenhouse of Indonesian Ornamental Plant Research Institute (1,100 m asl.), from April 2002 to March 2003. The treatments were control (no treatment), galingale (Kaempferia galanga), rice coal, wild ginger (Curcuma xanthorriza), Xylocarpus granatum, neem (Azadirachta indica), turmeric (Curcuma domestica), Curcuma zedoaria, Curcuma aeruginosa, ginger (Zingiber officinale), areca nut (Areca catechu), Tinospora tuberculata, tea (Thea sinensis), pinus (Pinus merkusii), torch ginger (Phaeomeria speciosa), and galanga (Languas galanga). A complete randomized design with 5 replications were used. The results of the experiment showed that plant extracts which effffective to control black spot before infection occured were rice husk charcoal, tea leaves, ginger, galingale, wild ginger, Xylocarpus granatum, neem leaves, and Curcuma aeruginosa. While plant extracts which effffectively decreased powdery mildew intensity were neem leaves, Curcuma aeruginosa, ginger, torch ginger, tea, galingale, and galanga. Futher study is needed to verify the efficacy of plant extract to control black spot and powdery mildew on roses.
Analisis Anggaran Parsial Rakitan Komponen Teknologi Pengelolaan Tanaman Kentang secara Terpadu di Dataran Tinggi Sembiring, Asma; Rosliany, Rini
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem produksi kentang intensif menggunakan bahan kimia sintesis telah melipatgandakan hasil, namun memberi dampak negatif terhadap lahan dan menyebabkan resistensi hama dan penyakit. Salah satu upaya mengatasinya ialah dengan pertanian ramah lingkungan menggunakan limbah organik sebagai pupuk dan kombinasi perlakuan subsoiling, solarisasi, serta tumpangsari tanaman kentang, dan tagetes sebagai pengganti pestisida. Penelitian ini bertujuan membandingkan penggunaan paket teknologi budidaya kentang secara terpadu di dataran tinggi berdasarkan teknologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) (cara pengolahan tanah, pemupukan, dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan) dengan teknologi petani. Penelitian lapangan  dilakukan di lahan petani di Desa Ciburial Lembang dari bulan Mei sampai dengan September 2009. Perlakuan terdiri atas teknologi Balitsa dan teknologi petani yang dirancang berdasarkan hasil survei terhadap 24 responden petani kentang di Pangalengan, Garut, dan Lembang pada bulan April 2009. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan teknologi Balitsa tidak menghasilkan produksi yang lebih tinggi daripada teknologi petani, namun dapat menghemat biaya tenaga kerja, pupuk kandang, pupuk buatan, dan pestisida. Meskipun dalam penerapannya teknologi Balitsa membutuhkan biaya cukup besar untuk solarisasi, subsoiling, penanaman tagetes, penggunaan feromon sex, dan perangkap kuning, namun secara keseluruhan biaya yang dikeluarkan dengan teknologi petani lebih besar dibandingkan teknologi Balitsa dengan besar biaya masing-masing Rp536.735,21 dan Rp494.327,58. Analisis budget parsial penerapan teknologi Balitsa untuk luasan 100 m2 memberikan keuntungan tambahan sebesar Rp10.447,63 atau Rp1.044.763/ha. Hasil studi mengindikasikan perlunya pelaksanaan ulang penelitian serupa dengan skala yang lebih luas agar konsistensi hasil penelitian ini dapat dibuktikan dan ke depan teknologi ini dapat dimanfaatkan oleh petani untuk mengurangi biaya input produksi kentang. The objective of the study was to compare the IVEGRI’s potato integrated crop management to farmers’ practices. An on-farm trial was carried out in Ciburial Village of Lembang from May to September 2009. Potato integrated crop management components assembled in Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI) was compared to simulated farmers’ practices. Farmers’ practices were derived from averaging the result of a prior farm survey to 24 potato farmers in Pangalengan, Garut, and Lembang. Results showed that IVEGRI’s technology does not provide a higher yield as compared to farmers’ practices. Even though the IVEGRI’s technology spends some additional costs for subsoiling, trap crop (Tagetes), sex pheromone, and yellow trap, but its total cost was still slightly lower thant of farmers Rp494,327.58 and Rp536,735.2 per m2 respectively. Partial budget analysis indicates that the IVEGRI’s technology provides additional net income as much as Rp10,447.63 per 100 m2 or Rp1,004,763 per ha. This study indicates a need to conduct similar research in a larger scale to seek for its consistency.
Penekanan Penyakit Akar Gada pada Tanaman Kubis melalui Perlakuan Tanah Pembibitan Cicu, -
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Kebun Instalasi Penelitian Tanaman Hias Cipanas (ketinggian 1.100 m dpl)dan di Laboratorium Mikologi, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogordari bulan Sep tem ber 2001 hingga Maret 2002. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan tanahpembibitan terhadap penekanan penyakit akar gada pada tanaman kubis. Rancangan percobaan yang digunakanadalah acak kelompok yang diulang tiga kali dan uji jarak berganda duncan taraf 5% digunakan untuk mengetahuiperbedaan pengaruh perlakuan. Perlakuan terdiri atas tanah pembibitan tanpa perlakuan solarisasi dan pupukkandang, tanah pembibitan dengan solarisasi, tanah pembibitan dengan pupuk kandang ayam, tanah pembibitandengan solarisasi dan pupuk kandang ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tanah pembibitan hanyadengan pupuk kandang ayam dan perlakuan tanah pembibitan dengan solarisai dan pupuk kandang ayam dapatmengurangi keparahan penyakit akar gada di lapangan sebesar 12,4-20,5% dan meningkatkan produksi kubis sebesar58,6-85,8%.Sup pres sion of clubroot dis ease on cab bage by seed bed treat ments. The experimentwas con ducted at Cipanas Or na men tal Plants Re search Sta tion (at el e va tion 1,100 m asl) and Lab o ra tory of My col ogy,De part ment of Plant and Dis eases, Fakulty of Ag ri cul ture, Bogor Ag ri cul tural Uni ver sity from Sep tem ber 2001 toMarch 2002. The ob jec tive was to eval u ate the ef fect of seed bed treat ments on clubroot dis ease of cab bage caused byPlasmodiophora brassicae Wor. This ex per i ments was laid in a ran dom ized block de sign with three rep li ca tions andDMR test at level 5%. The treat ments were: seed bed with out chicken ma nure and solarization, seed bed withsolarization, seed bed with chicken ma nure, and seed bed with solarization and chicken ma nure. The re sults showedthat seed bed treat ments with chicken ma nure only and seed bed treat ment with chicken ma nure and solarization couldde creased the infestation of clubroot disease about 12,4-20,5% and in creased cab bage pro duc tion about 58.6-85.8%re lated to the changes of soil microflora pop u la tions on cab bage seed ling rhizosphere due to or ganic amend ment(chicken ma nure) and soil solarization.
Pengaruh pH Me dia terhadap Pertumbuhan Plantlet Anggrek Dendrobium Widiastoety, Dyah; Kartikaningrum, Suskandari; Purbadi, -
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Me dia sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman anggrek. Me dia dasar yangumum digunakan dalam kul tur in vi tro adalah yang mengandung unsur hara makro dan mikro, sukrosa, vi ta min, asamamino, zat pengatur tumbuh, dan persenyawaan organik lainnya. Penyerapan bahan-bahan yang terdapat dalam me diatersebut ke dalam sel tanaman dipengaruhi oleh konsentrasi dan pH me dia. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui kisaran pH me dia pada pertumbuhan plantlet anggrek den dro bium. Metodologi yang digunakan adalahrancangan acak kelompok dengan delapan perlakuan pH dan empat ulangan. Tingkat pH yang diteliti adalah 4,6; 4,8;5,0; 5,2; 5,4; 5,6; 5,8; dan 6,0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran pH terbaik terdapat pada kisaran 4,8 – 5,2untuk pertumbuhan tinggi plantlet, luas daun, jumlah daun, jumlah tu nas anakan, panjang akar, dan jumlah akar.Aplikasi dari penelitian ini dapat meningkatkan pertumbuhan plantlet anggrek den dro bium.The ef fect of me dia pH on the growth ofdendrobium orchid plantlet. Me dia plays a crit i cal role on the growth and de vel op ment of or chid. Ba sic me dia com -monly used in in vi tro cul ture con tains macro and mi cro nu tri ents, su crose, vitamine, amino acid, growth reg u la tor andother or ganic com pound. Ab sorp tion of nu tri ents is af fected by con cen tra tion and me dia pH. The aim of this ex per i -ment was to find out the ef fect of me dia pH on the growth of den dro bium or chid plantlet. The treat ments were laid inran dom ized block de sign with eight treat ments and four rep li ca tions. The treat ments were me dia pH, i.e.: 4,6; 4,8;5,0; 5,2; 5,4; 5,6; 5,8; and 6,0. The re sults showed that me dia pH be tween 4,8-5,2 was the best for the per for mance ofplantlet in term of plant height, leaf size, leaf num ber, shoot num ber, root length, and root
Preferensi Ngengat Citripestis sagitiferella terhadap Minyak Atsiri Tiga Varietas Jeruk Muryati, -; Trisyono, Y A; Witjaksono, -
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi ngengat Citripestis sagitiferella terhadap minyakatsiri yang diekstrak dari tiga varietas jeruk (manis pacitan, besar nambangan, dan siem). Buah jeruk yang digunakansebagai materi untuk ekstraksi diambil dari Batu, Malang (untuk jeruk manis dan siem) dan Magetan (untuk jerukbesar) pada bulan Juli 2001. Minyak atsiri jeruk diperoleh dengan metode destilasi uap air. Ngengat C. sagitiferellayang digunakan untuk perlakuan diperoleh dengan mengumpulkan larva yang menyerang jeruk manis di Batu Malangpada bulan Oktober 2001, kemudian buah yang terserang dibawa ke laboratorium Ilmu Hama Tumbuhan FakultasPertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta untuk dipelihara sampai menjadi ngengat. Ngengat yang barumuncul kemudian digunakan untuk uji preferensi menggunakan olfaktometer yang berbentuk Y dan terbuat daritabung kaca py rex. Untuk mengetahui komposisi senyawa kimia dari minyak atsiri jeruk, dilakukan deteksimenggunakan kromatografi gas dan kromatografi gas-spektrofotometri massa. Hasil penelitian menunjukkan bahwangengat C. sagitiferella tertarik pada minyak atsiri dari ketiga varietas jeruk. Tingkat preferensi C. sagitiferellatertinggi adalah terhadap minyak atsiri dari jeruk manis, dan selanjutnya jeruk besar dan siem. Minyak atsiri yangdiekstrak dari jeruk manis yang berumur 6 bulan lebih menarik ngengat C. sagitiferella dibandingkan yang berumur 2bulan.The pref er ence of Citripestis sagitiferella mothsto vol a tile com pounds of three cit rus va ri et ies. The ob jec tive of this re search was to de ter mine the pref er ence ofC. sagitiferella moths to vol a tile com pounds ex tracted from three cit rus va ri et ies (pacitan sweet or ange, nambanganpom elo, and siem or ange). Citrus fruits were taken from Batu, Malang (sweet or ange and siem or ange) and Magetan(pom elo) in July 2001. The vol a tile com pounds were ob tained through a steam distilation method. The lar vae of C.sagitiferella were col lected from dam aged sweet or ange (Batu, Malang) in Oc to ber 2001, and brought to the lab o ra -tory for sub se quent de vel op ment. Newly emerged moths were used in this study. The pref er ence tests were car ried outus ing a Y shape olfactometer. The GC and GC-MS were used to de tect the com po nents of vol a tile com pounds. There sults showed that C. sagitiferella moths at tracted to vol a tile com pounds ex tracted from all cit rus va ri et ies tested,with sweet or ange was found to be the most pref er a ble, fol lowed by pom elo and siem or ange. Fur ther more, the vol a tilecom pounds ex tracted from 6 months (af ter fruit set ting) sweet or ange was more at trac tive for C. sagitiferella mothsthen the 2 months (af ter fruit set ting) or ange fruit.
Seleksi Ketahanan Klon-Klon Harapan Gladiol terhadap Fusarium oxysporum f. sp. gladi oli Nuryani, Wakiah; Badriah, Dedeh Siti; Sutater, Toto; Silvia, Evy; Muhidin, -
Jurnal Hortikultura Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan klon harapan gladiol yang tahan terhadap layu fusarium.Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok pola faktorial. Faktor (1) klon-klon harapan gladiol, terdiri dari96212/168; 96210.2/20; 96215/49; 96203.2/14; 9607.2/129; 96215/202; 96215/122; 96204/69; 96213/109;96210.1/170; hol land merah; dan 621-1. Faktor (2) kerapatan inokulum F. oxysporum, terdiri dari 0 sel konidia/gtanah; 104 sel konidia/g tanah; 108 sel konidia/g tanah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa gladiol dengan nomorklon 96215/49; 623-1 dan 96213/109 merupakan klon harapan gladiol yang pal ing tahan terhadap layu F. oxysporumf. sp. dan klon 9612/168 merupakan klon yang pal ing rentan.Re sponse of glad i o lus prom -is ing clones to Fusarium oxysporum f. sp. glad i oli. The aim of the ex per i ment was to ex am ine the re sis tance of glad i -o lus clones to fusarium wilt. Fac to rial randomized block de sign was used in the ex per i ment. The first fac tor wasglad i o lus prom is ing clones, con sist of 96212/168; 96210.2/20; 96215/49; 96203.2/14; 9607.2/129; 96215/202;96215/122; 96204/69; 96213/109; 96210.1/170; hol land merah; 621-1. The sec ond fac tor was den sity of inoculum F.oxysporum, con sist of nill conidia/g soil; 104 cells conidia/g soil; and 108 cells conidia/g soil. The re sults showed thatthe glad i o lus clone num ber 96215/49; 623-1 and 96213/109 were the most re sis tant to Fusarium oxysporum f. sp.glad i oli and clone num ber 9612/168 was the most susceptible.

Page 25 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue