cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Tanggap Empat Varietas Paprika (Capsicum annuum var. Grossum) terhadap Jumlah Cabang Berbeda di Dataran Tinggi Lembang, Jawa Barat Nikardi Gunadi
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p67-80

Abstract

(Response of Four Sweet Pepper (Capsicum annuum var. Grossum) Varieties to Different Stem Number Per Plant Grown in the Highland of Lembang, West Java)Pada saat ini, beberapa varietas paprika baru telah tersedia sebagai pilihan alternatif petani. Setiap varietas paprika mempunyai tipe pertumbuhan dan kapasitas masing-masing dalam memproduksi buahnya. Di Indonesia, penelitian tentang pengaruh jumlah cabang per tanaman baru dilakukan pada beberapa varietas saja tetapi pada varietas paprika lainnya belum dilakukan.Penelitian dengan tujuan mengetahui tanggap empat varietas paprika (Capsicum annuum var. Grossum) terhadap jumlah cabang berbeda telah dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl.), Jawa Barat dari bulan April sampai bulan Desember 2010. Dua faktor perlakuan yang dicoba pada penelitian ini, yaitu (1) jumlah cabang per tanaman (dua, tiga, dan empat cabang), dan (2) varietas (Spider, E 41.9560, Zamboni, dan Inspiration). Kombinasi perlakuan tersebut diatur dengan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cabang per tanaman berpengaruh nyata terhadap hasil paprika dan tanaman paprika dengan tiga cabang per tanaman memberikan hasil total dan kelas buah >200 g tertinggi yang berbeda nyata dengan tanaman paprika dengan dua dan empat cabang per tanaman. Rerata hasil total paprika dengan tiga cabang per tanaman ialah 19% lebih tinggi daripada dengan dua cabang per tanaman dan 15% lebih tinggi daripada dengan empat cabang per tanaman. Pada kelas buah >200 g, tanaman paprika yang ditanam dengan tiga cabang per tanaman berturut-turut 16% dan 19% lebih tinggi daripada tanaman paprika yang ditanam dengan dua dan empat cabang per tanaman. Hasil paprika tidak berbeda nyata di antara keempat varietas yang dicoba dan rerata hasil total paprika pada percobaan ini ialah 12,05 kg/m2. Rerata bobot buah varietas E 41.9560 tertinggi yang berbeda nyata dibandingkan dengan rerata bobot buah ketiga varietas lainnya. Rerata bobot buah yang tertinggi kedua ditunjukkan oleh varietas Zamboni, kemudian diikuti oleh varietas Inspiration dan Spider. Rerata bobot buah dari varietas E 41.9560, Zamboni, Inspiration, dan Spider berturut-turut 250, 231, 220, dan 205 g. Hasil penelitian ini merekomendasikan bahwa apabila yang diinginkan buah dengan ukuran besar maka varietas E 41.9560 atau Zamboni yang ditanam, sedangkan bila yang diinginkan buah dengan ukuran sedang maka varietas Spider atau Inspiration yang ditanam. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai rekomendasi untuk pemilihan varietas dan teknik budidaya paprika dalam kondisi rumah plastik di dataran tinggi.KeywordsCapsicum annuum var. Grossum; Jumlah cabang; Varietas; HasilAbstractAt present, several new sweet pepper varieties are available as the alternative options for farmers. Each variety has its own characters in terms of growth type and the capacity of fruit production. In Indonesia, research on the effect of number of stems per plant were carried out only on limited varieties and not yet on the new varieties. An experiment with the aims at determining the response of four sweet pepper (Capsicum annuum var. Grossum) varieties to different stem number per plant was conducted at the field experiment of Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), Lembang (1,250 m asl.), West Java from April to December 2010. Two factor treatments were determined i.e. (1) number of stem per plant (two, three, and four stems), and (2) varieties (Spider, E 41.9560, Zamboni, and Inspiration). The treatment combinations were arranged in a randomized complete block design with three replications. The results indicated that the number of stem per plant significantly affected total yields and plants grown with three stems per plant gave highest total yields and yield of class >200 g as compared to plants grown with two and four stems per plant. In average, the total yields of plants grown with three stems per plant were 19% higher than those of plants grown with two stems per plant and 15% higher than those of plants grown with four stems per plant. In class >200 g, plants grown with three stems per plant gave 16% and 19% higher yields than plants grown with two and four stems per plant, respectively. In this experiment, the total yields were not significantly different between varieties and in average the total yields were 12.05 kg/m2. Mean fruit weight of E 41.9560 was significantly highest compared to those of other varieties. The second highest of mean fruit weight was indicated by Zamboni, followed by Inspiration and Spider. Mean fruit weight of E 41.9560, Zamboni, Inspiration, and Spider were 250, 231, 220, and 205 g, respectively. The results suggest that to obtain relatively big size fruit, E 41.9560 or Zamboni is recommended, however, in order to obtain relatively medium size fruit, Spider or Inspiration is recommended. The results can be used as a recommendation in variety selection and growing technique of sweet pepper grown under plastic house.
Peningkatan Potensi Hasil Varietas Galur Murni Cabai Dengan Memanfaatkan Fenomena Heterosis di Dataran Tinggi Pada Musim Kemarau Rinda Kirana; Carsono N; Y Kusandriani; Liferdi Liferdi
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p10-15

Abstract

Perakitan varietas hibrida telah terbukti mampu meningkatkan potensi hasil, sehingga dapat menjadi salah satu strategi peningkatan produktivitas untuk menjaga stok pangan sebagai antisipasi peningkatan jumlah penduduk. Penelitian bertujuan menguji daya hasil dan karakter penting lainnya dari cabai hibrida dengan tetua dan beberapa varietas galur murni sebagai pembanding. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat pada Bulan Mei sampai dengan Oktober 2013. Tata letak penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok terdiri atas 10 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas tiga tetua (Tanjung-2, Lembang-1, dan GI), empat hibrida (H1=Tanjung-2 x GI, H2=GI x Tanjung-2,  H3=Lembang-1 x GI, dan H4=GI x Lembang-1), serta tiga varietas galur murni sebagai pembanding (Ciko, Tit Super, dan Kencana). Hasil per hektar cabai hibrida lebih baik dibandingkan tetua dan pembanding. H1 dan H2 merupakan hibrida yang memiliki nilai heterosis lebih dari 70% dengan hasil per hektar mencapai lebih dari 30 t/ha. Selain memiliki karakter hasil per hektar yang tinggi, keunggulan hibrida H1 dan H2 ialah berumur genjah serta memiliki ukuran buah yang sesuai dengan preferensi konsumen rumah tangga.
Uji Kelayakan Teknis dan Finansial Penggunaan Pupuk NPK Anorganik pada Tanaman Kentang Dataran Tinggi di Jawa Barat Nana Sutrisna; S Suwalan; I Ishaq
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n1.2003.p67-75

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung pada musim kemarau 2001. Lokasi penelitian termasuk lahan dataran tinggi dengan ketinggian 1.400 m dari permukaan laut dengan jenis tanah andosol. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kandungan unsur hara beberapa jenis pupuk alternatif NPK anorganik dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan, produksi, dan pendapatan usahatani kentang sebagai dasar penyusunan  rekomendasi teknologi penggunaan  pupuk  alternatif. Percobaan  menggunakan  rancangan  acak kelompok dengan delapan perlakuan dan empat ulangan. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa tanah di lokasi penelitian memiliki ketersediaan unsur N rendah, namun P2O5 dan K2O tinggi, serta pH tanah agak rendah (5,2). Hasil analisis hara dari beberapa jenis pupuk alternatif NPK anorganik menunjukkan bahwa kandungan unsur N, P2O5, dan K2O yang tertera pada label/kemasan tidak sesuai dengan hasil analisis di laboratorium. Dari 10 jenis pupuk yang diuji hanya 30% yang unsur N-nya sesuai, 40% unsur P2O5  sesuai,  dan 50% unsur K2O-nya yang sesuai. Pengaruh penggunaan pupuk NPK anorganik terhadap tinggi tanaman dan jumlah tunas tidak berbeda nyata dengan kontrol, namun pupuk NPK 20-9-9 dapat meningkatkan produksi  umbi sebesar 13,34% dari rata-rata produksi di tingkat petani. Pupuk NPK 20-9-9 pada tanaman kentang memberikan tingkat pengembalian marginal tertinggi, yaitu 1,74 (174%), sehingga paling menguntungkan dibandingkan perlakuan lainnya dan layak untuk direkomendasikan. Kata kunci : Solanum tuberosum; Pupuk anorganik; Kentang; Lahan dataran tinggi; Pertumbuhan; Hasil. ABSTRACT. The research of NPK fertilizers usage was carried out on dry season of 2001 in Alamendah village, Rancabali, Bandung. The experimental location was 1,400 meters above sea level and of andosol soils. The objective of the study was to investigate the composition of several NPK anorganic fer- tilizers and the effects on growth, yield, and profit for potato farming as the basis for technical recommendations re- garding the usage. The experimental was randomized block design with eight treatments and four replications. The soil analysis results showed that the plots were low in nitrogen availability while P2O5 and K2O levels were quite high. The investigation revealed that the stated compositions of nitrogen, phosphorus, and potassium on the respective la- bels were not in accordance with the results of laboratory analysis. Among ten fertilizers tested, the number actually containing the stated levels of nitrogen, phosphorus, and potassium were 30, 20, and 40% respectively. Plant height and number of shoots/plant were not significantly different from the control for any of the alternative fertilizers NPK anorganic used. The use of fertilizer NPK 20-9-9 showed an average yield increase of 13.34% over typical farmer pro- duction methods. The increase in yield was one of the main factors resulting in a marginal return of 174% for fertilizer NPK 20-9-9 as well. Form these results it appears the fertilizer NPK 20-9-9 may be recommended for potato farming in West Java.
Penerapan Ambang Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Budidaya Bawang Merah dalam Upaya Mengurangi Penggunaan Pestisida TK Moekasan
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n1.2012.p47-56

Abstract

Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) merupakan satu faktor pembatas dalam budidaya bawang merah di dataranrendah. Untuk mengatasi masalah tersebut, petani bawang merah menggunakan pestisida secara intensif. Keadaan tersebutmenyebabkan biaya produksi meningkat dan usahatani bawang merah menjadi tidak efisien. Salah satu upaya untuk mengurangipenggunaan pestisida ialah dengan penerapan ambang pengendalian OPT. Percobaan penerapan ambang pengendalian OPT padabudidaya bawang merah dilakukan di Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (± 5 m dpl.) pada bulan April sampaidengan Juli 2009. Tujuan penelitian ialah mengetahui pengaruh penerapan ambang pengendalian terhadap pengurangan penggunaanpestisida. Dua macam perlakuan diaplikasikan pada penelitian ini, yaitu (A) penerapan ambang pengendalian OPT (Spodopteraexigua, Liriomyza sp., dan Alternaria porri) dibandingkan dengan (B) pengendalian OPT dengan sistem kalender aplikasi pestisidatiap 3 hari sekali. Percobaan dilakukan dengan metode petak berpasangan dan setiap perlakuan diulang enam kali. Bawang merahvarietas Bima Curut ditanam pada petak perlakuan seluas 37,5 m2. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penerapan ambangpengendalian dapat mengurangi jumlah penyemprotan insektisida sebesar 43,75% dan fungisida sebesar 87,50%, volume semprotpestisida sebesar 52,83% dengan hasil panen tetap tinggi (36,40 t/ha). Teknologi ambang pengendalian tersebut secara ekonomilayak untuk diadopsi karena dapat meningkatkan pendapatan bersih dan mengurangi biaya penyemprotan dibandingkan denganteknologi pengendalian OPT sistem kalender.ABSTRACTPests and diseases are two of the limiting factors in shallotscultivation in the lowland areas. To overcome pest and disease problems, shallots farmers generally use pesticides intensively. Thesecircumstances led the increase of production costs and the inefficient on shallots cultivation. One effort to reduce using pesticide useis by applying the control threshold of pests and diseases. The experiment of the control threshold of pests and diseases on shallotscultivation was carried out in Kersana Subdistrict, Brebes District, Central Java (± 5 m asl.) in April until July 2009. This experimentaimed to determine the effect of control threshold on reduction of using pesticide. Two kind of treatments were applied, namely(A) the use of control threshold (Spodoptera exigua, Liriomyza sp., and Alternaria porri) compared with (B) with the calendarsystem via application of pesticides every 3 days. The study was conducted using paired comparison method and each treatment wasrepeated six times. Treatment plot size was 37.5 m2. The shallots variety planted was Bima Curut. The result showed that the controlthreshold could reduce insecticide and fungicide application by 43.75 and 87.50% respectively; spraying volume 52.83% with yieldremain high (36.40 t/ha). Implementation of the control threshold, was economically feasible to be adopted because it can increasenet revenues and reduce costs of pesticide compared with the calendar system of pests control, routinely applied every 3 days.
Pengaruh Larutan Pulsing dalam Pengemasan dan Pengangkutan Bunga Mawar Potong Dwi Amiarsih; Yulianingsih -; Wisnu Broto; Sjaifullah -
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n3.2003.p272-278

Abstract

Penggunaan larutan pulsing bunga sebelum pengemasan dan pengangkutan sangat berguna untuk menggantikan sumber karbohidrat, melindungi tangkai bunga dari serangan mikroorganisme penyebab penyumbatan, menjaga kualitas bunga tetap prima, dan dapat memperpanjang masa kesegaran bunga setelah pengangkutan. Penelitian bertujuan mendapatkan larutan pulsing dalam pengemasan dan pengangkutan bunga mawar potong varietas kiss guna memperpanjang masa kesegaran setelah pengangkutan. Bunga mawar potong kiss dipanen di Sukabumi dengan tingkat kemekaran 0-10%, kemudian direndam dalam larutan pulsing (AgNO3 20 ppm + gula pasir 5% + asam sitrat 320 ppm selama 16 jam). Selanjutnya bunga mawar dikemas dalam wadah ( berisi masing-masing larutan holding; akuades dan dikemas kering) dan diletakkan dalam karton berukuran 78 x 20 x 8 cm berkapasitas 20 tangkai bunga mawar potong. Sebagai kontrol bunga tanpa direndam dalam larutan pulsing. Setelah bunga dikemas, kemudian diangkut dengan mobil pendingin (5o-10oC) dan tanpa pendingin (27o-30oC) selama 20 jam. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan pengemasan dengan akuades selama pengangkutan 20 jam merupakan perlakuan yang terbaik dengan masa kesegaran bunga mencapai 9 hari dan persentase kemekaran bunga mencapai 100%. Perlakuan tersebut dapat mempertahankan kualitas bunga tetap prima dan dapat memperpanjang masa kesegaran bunga setelah pengangkutan. Kata kunci: Mawar; Pengemasan; Larutan perendam; Suhu pengangkutan; Mempertahankan mutu ABSTRACT. Dipping the lower portion of flower stems in the solution containing sugar and germicides before packaging and transportation was to supply carbohydrate and prevented the plugging of flower stems by microbial growth. Furthermore, in was prolonged the periode of flowers vaselife and kept flower quality af- ter transportation. The objective of the study was to find out both of proper pulsing solution, packaging and transporta- tion to keep the prime quality of flower cut Rose c.v. Kiss. The flowers were harvested from the field when the flowers was at 0-10% bud opening stages and then they were pulsed with solution of AgNO3 20 ppm + sugar 5% + citric acid 320 ppm for 12 hours. Each the flower was placed in the vials containing aquades; holding solution) and put them in the boxes (78 x 20 x 8 cm) with capacity 20 inflorescences. All treated cut flowers were transported for 20 hours with carchamber with temperature of 5o-10oC and 27o-30oC. The experiment was arranged on a completely randomized de- sign with three replications. The results indicated that wet packaging with aquades during 20 hours transportation was the best treament which prolonged vaselife until 9 days and kept the enflorescence up to 100% bud opening. By ap- plying those treatment, the periode of flowers vaselife could be extended and quality after transportation could be maintained.
Studi Penyiapan Akar Berkualitas untuk Uji Kromosom dan Penggandaan Kromosom Planlet Hasil Kultur Anter Anthurium Budi Winarto
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n3.2013.p203-217

Abstract

Pengakaran berkualitas yang sesuai untuk uji kromosom dan penggandaan kromosom merupakan masalah kritikal dalam pengembangan teknologi kultur anter Anthurium. Penelitian bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh media dan arang aktif dalam mempersiapkan akar berkualitas yang sesuai untuk uji kromosom dan (2) pengaruh konsentrasi dan waktu aplikasi kolkisin terhadap keberhasilan penggandaan kromosom. Studi penyiapan akar berualitas dan penggandaan kromosom planlet hasil kultur anter Anthurium telah dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca, Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari Bulan Februari sampai September 2009. Pembentukan akar berkualitas yang sesuai untuk uji kromosom dipengaruhi oleh media pengakaran dan penambahan arang aktif. MP-7 [medium Winarto-Teixeira (WT) tanpa hormon yang ditambah 1% arang aktif] merupakan medium induksi pembentukan jumlah dan kualitas akar terbaik dengan 4,5 akar per tunas dan 83% nya ialah akar yang sesuai untuk uji kromosom. MPH-1 [Murashige dan Skoog (MS) yang ditambah 0,2 mg/l N6-benzylaminopurin (BAP) dan 0,02 mg/l asam asetat naftalen (NAA)] merupakan medium pengakaran tunas haploid yang sesuai untuk induksi pembentukan akar hingga 2,5 akar per tunas. Konsentrasi kolkisin 0,25% dengan 7 hari waktu aplikasi dan 0,05% dengan 10 hari periode aplikasi merupakan perlakuan yang sesuai untuk mendapatkan tanaman haploid ganda dengan persentase yang tinggi yaitu 80 dan 76,5% secara berurutan. Ini berarti 19–20 tanaman haploid ganda diperoleh dengan perlakuan tersebut. Hasil penelitian ini sangat bermanfaat terutama dalam mempersiapkan akar berkualitas yang sesuai untuk uji kromosom dan mendapatkan tanaman haploid ganda yang optimal melalui perlakuan kolkisin. 
Penentuan Metode Terbaik Uji Fosfor untuk Tanaman Tomat pada Tanah Inceptisols L Izhar; A D Susila; B S Puswoko; A Sutandi; I W Mangku
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n2.2012.p139-147

Abstract

ABSTRAK.  Fosfor merupakan salah satu hara penting tanah dan aplikasi hara tersebut pada konsentrasi yang sesuai sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tomat. Penelitian tentang studi analisis fosfor tanah dan aplikasi pupuk fosfor pada budidaya tomat pada tanah Inceptisols dilakukan di Kebun Percobaan dan Rumah Kaca di Cikabayan, Institut Pertanian Bogor, dari bulan Maret sampai dengan November 2010. Tujuan penelitian ialah untuk mendapatkan  metode  ekstraksi  fosfor tanah yang terbaik guna menentukan dosis pupuk fosfor pada budidaya tomat  pada tanah Inceptisols. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan pemberian pupuk fosfor pada beberapa tingkat dosis yaitu  0X, ¼ X, ½ X, ¾ X, dan 1X, di mana nilai X ialah 368,5 kg/ha P2O5 dengan empat ulangan. Perlakuan pemupukan fosfor diterapkan pada 6 bulan sebelum penanaman tomat. Analisis korelasi dilakukan antara kandungan P tanah dan pertumbuhan tanaman yang ditanam di dalam rumah kaca menggunakan media inkubasi berasal dari tanah yang diberi perlakuan dan dianalisis. Uji  fosfor  tanah menggunakan lima metode ekstraksi, yaitu metode Bray I (NH4F 0,03 N + HCl 0,025 N, nisbah 1:7); Bray II (NH4F 0,03 N + HCl 0,10 N ); Mehlich I (HCl 0,05 N + H2SO4 0,025 N); Morgan Wolf (NaC2H2H3O2.3H2O; pH 4,8); dan Truogh [HCl 0,10 N + (NH4)2SO4; pH 3]. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara pengaruh perlakuan pupuk P terhadap parameter  tinggi tanaman,  jumlah daun, dan diameter batang tomat. Bobot segar biomassa dan bobot kering tomat juga menunjukkan  perbedaan pengaruh yang signifikan antarperlakuan. Nilai korelasi terbaik ditunjukkan oleh metode pengekstrak Mehlich I melalui parameter bobot kering dan bobot basah relatif tanaman. Dengan demikian, metode uji P tanah yang menggunakan Mehlich I dapat digunakan sebagai metode ekstraksi yang paling tepat untuk menganalisis unsur hara fosfor dengan koefisien korelasi 0,88, sehingga metode Mehlich I dapat diusulkan sebagai rekomendasi pemupukan P pada budidaya tomat pada tanah Inceptisols (nilai r = 0,89).  ABSTRACT. Izhar, L, Susila, AD, Purwoko, BS, Sutandi, A,  and  Mangku, IW. 2012. Determination of the Best Method of Soil P Test for Tomato (Lycopersicon esculentum Mill. L) on Inceptisols Soil. Phosphorus is one of important soil elements and application of the element in suitable concentration give high effect on tomato growth. A study on phosphorus analysis and its application for recommendation of soil fertilization of tomato cultivation on Inceptisols soil was conducted at the field and Greenhouse of Cikabayan, Bogor Agricultural University, from March to November 2010. The objective of this research was to obtain the best extraction method of soil-P test for determining phosphorus nutrient required for tomato cultivation on Inceptisol soil. Rate of phosphorus of 0X, ¼ X, ½ X, ¾ X, and 1X, where X was 368.5 kg/ha P2O5 with four replications, was applied in the study. The treatments were applied 6 months before planting date. The research was arranged in randomized complete block design. Analysis of correlation between soil-P and plant growth based on data collected from the plants grown in the greenhouse using incubation media in treated-soil was  analyzed. Soil-P test was carried out by using five extraction methods i.e. Bray I (HCl 0,025 N + NH4F 0.03), Bray II (NH4F 0.03 N + HCl 0.10 N), Mehlich I (HCl 0.05 N + H2SO4 0.025 N), Morgan Wolf (NaC2H2H3O2.3H2O; pH 4.8), and Truogh [HCl 0.10 N + (NH4)2SO4; pH 3]. The results showed that there were significant differences among the treatments of P fertilizer on the variables of plant height, leaf number, and stem diameter of tomato. Biomass fresh and dry weight of tomato also showed significantly different between the treatments applied. The highest correlation was shown on Mehlich I extraction reagent between plant dry and fresh weight. It means that, this P-nutrient extraction method was the most appropriate in determining phosphorus nutrient for tomatoes on Inceptisols soil with a coefficient correlation of 0.88. Mehlich I can also be used to develop a comprehensive phosphorus fertilizer recommendation for tomato cultivation on Inceptisols soil (r value = 0.89).
Pengaruh Mutagen Etil Metan Sulfonat Terhadap Regenerasi Tunas pada Dua Genotip Manggis Asal Purwakarta dan Pandeglang Warid Ali Qosim; Yuyun Yuwariah; J S Hamdani; M Rachmadi; S M Perdani
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p9-14

Abstract

Tanaman manggis termasuk tanaman apomik. Pemuliaan mutasi dapat meningkatkan keragaman genetik pada tanaman manggis. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pembentukan tunas dua genotip manggis akibat perlakuan beberapa konsentrasi etil metan sulfonat (EMS) yang berbeda. Percobaan dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran sejak bulan September 2012 – Februari 2013. Eksplan manggis yang digunakan adalah biji manggis asal Purwakarta (A) dan Pandeglang (B). Percobaan ditata dalam rancangan acak lengkap (RAL). Konsentrasi EMS terdiri atas 0; 0,05; 0,1; 0,15; dan 0,2% digunakan sebagai perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regenerasi tunas pada eksplan dua genotip asal Purwakarta dan Pandeglang memiliki respons yang berbeda akibat perlakuan mutagen EMS. Pada perlakuan a3 (genotip asal Purwakarta pada EMS 0,1%) menghasilkan waktu muncul tunas lebih cepat dan jumlah tunas per eksplan paling tinggi, sedangkan perlakuan b4(genotip asal Pandeglang pada perlakuan EMS 0,15%) memiliki nilai paling tinggi pada karakter tinggi tunas. Perlakuan a5(genotip asal Purwakarta pada EMS 0,2 %) merupakan perlakuan paling baik pada karakter jumlah pasang daun
Pengaruh Perangkap Likat Kuning, Ekstrak Tagetes erecta, dan Imidacloprid Terhadap Perkembangan Vektor Kutukebul dan Virus Kuning Keriting Pada Tanaman Cabai Merah Neni Gunaeni; Wiwin Setiawati; Yeni Kusandriani
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n4.2014.p346-354

Abstract

Penyakit virus kuning keriting disebabkan oleh virus Gemini merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman cabai merah. Virus ini menjadi penting pada tanaman cabai karena tanaman inang alternatifnya banyak dan vektor pembawanya yaitu serangga Bemisia tabaci yang polyfag dan selalu ada pada setiap musim. Usaha pengendalian yang banyak dilakukan para petani saat ini yaitu pengendalian terhadap vektor virus dengan menggunakan insektisida yang dilakukan secara rutin dan terjadwal. Alternatif cara pengendalian yang efektif yaitu aman bagi lingkungan dan harganya relatif murah. Cara pengendalian penyakit virus tular kutukebul dapat dilakukan melalui penekanan populasi vektor virus. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan cara pengendalian penyakit virus kuning keriting dan populasi vektor virus yang efektif dan ramah lingkungan serta pengaruhnya terhadap hasil tanaman cabai. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang dengan ketinggian 1.250 m dpl. dan tipe tanah Andosol pada bulan Juni sampai Desember 2010. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan empat ulangan dan tujuh perlakuan untuk mengendalikan kutukebul yaitu (1) perangkap likat kuning, (2) ekstrak nabati Tagetes erecta konsentrasi 12,50%, (3) insektisida berbahan aktif imidacloprid 0,02%, (4) kombinasi perangkap likat kuning + ekstrak nabati tagetes, (5) kombinasi perangkap likat kuning + bahan insektisida imidacloprid, (6) kombinasi tagetes + imidacloprid, (7) kombinasi perangkap likat kuning + ekstrak nabati tagetes + bahan aktif imidacloprid, dan (8) tanpa perlakuan (kontrol). Varietas cabai yang digunakan adalah Lembang-2. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perlakuan (perangkap + tagetes + imidacloprid), (tagetes + imidacloprid), dan (perangkap + imidacloprid) berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman, dapat menekan vektor, insiden, dan intensitas gejala virus kuning keriting serta hasil panen dibandingkan perlakuan tunggal dan kontrol (tanpa perlakuan) sebesar 15,56–21,61%. Implikasi dari penelitian ini diharapkan dapat mengurangi bahan kimia pertanian dan pemanfaatan sumberdaya alam (nabati) untuk menekan perkembangan vektor kutukebul dan virus kuning keriting pada tanaman cabai merah.
Daya Tumbuh Tanaman Jeruk Kalamondin Hasil Perbanyakan Via Somatik Embriogenesis In Vitro pada Batang Bawah JC Nirmala Frianti Devy; Arri Sugiyanto; Farida Yulianti
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n3.2011.p214-224

Abstract

Perbanyakan tanaman buah dengan metode sambung pada produk in vitro telah banyak dilakukan. Pada tanaman jeruk, batang bawah merupakan hal penting karena sistem perakaran yang lebih baik dan ketahanan terhadap penyakit akar dibandingkan batang atas komersial.  Penelitian penyambungan in vitro dan ex vitro jeruk Kalamondin hasil perbanyakan somatik embriogenesis (SE) pada batang bawah JC dilakukan di Laboratorium Somatik Embriogensis dan Rumah Pembibitan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), pada Januari – Desember 2010. Penyambungan dilakukan pada dua kondisi, yaitu (1) kondisi in vitro, yaitu embrio dan planlet Kalamondin disambungkan pada planlet JC dan (2) ex vitro atau kondisi lapangan, yaitu batang atas jenis embrio dan planlet disambungkan pada batang bawah JC dengan perlakuan tiga macam, yaitu planlet JC hasil perbanyakan  SE berumur 4 dan 8 bulan setelah aklimatisasi, serta semaian biji umur 8 bulan.  Masing-masing kegiatan disusun secara rancangan acak kelompok dan rancangan acak lengkap faktorial dengan tiga ulangan dengan unit percobaan masing-masing empat tanaman.  Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa daya tumbuh tanaman jeruk hasil sambungan antara Kalamondin (Citrus mitis Blanco) hasil perbanyakan SE pada batang bawah JC secara ex vitro lebih baik dibanding in vitro. Pada kegiatan in vitro,  sampai dengan umur 10 bulan setelah penyambungan, persentase sambungan yang tidak jadi (mati) dipengaruhi oleh jenis batang atas yang digunakan, di mana penggunaan planlet sebagai batang atas menyebabkan persentase kematian lebih tinggi dibandingkan penggunaan embrio.  Pada penyambungan ex vitro, tidak ada interaksi antara perlakuan batang bawah dengan batang atas pada semua parameter pengamatan, dengan tinggi tanaman hasil sambung pada umur 10 bulan rerata mencapai 53,7 cm. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa hasil perbanyakan jeruk melalui SE, baik berupa embrio kotiledonari maupun planlet dapat difungsikan sebagai batang atas dan tumbuh dengan memuaskan bila disambungkan dengan batang bawah jeruk secara ex vitro.The fruit plant propagation by grafting method of product in vitro has been documented already.  The using of a rootstock is a very important thing in citrus propagation industry.  Besides of its better root system, it has an important role on preventing root diseases attack where scion part relatively more susceptible.  The research of the Calamondin derived from somatic embryogenesis (SE) propagation that grafted in vitro and ex vitro on JC rootstock grafting was conducted in Somatic Embryogenesis Laboratory and Nursery House of Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute (ICISFRI) from January to December 2010.  This research using both embryos and plantlets of citrus cv. Calamondin derived from SE propagation in vitro as stocks and JC as rootstock, respectively. The grafting was done on the two conditions, (1) in vitro i.e. the stock was grafted on the JC plantlet and (2) field condition i.e. the stock plant was grafted on to three treatments rootstock ( 4 and 8 months acclimated SE plant and 8 months age-seedling of JC).  The activities were arranged as randomized block design and factorial rondomized complete design respectively, with three replications with four plants for each experimental unit.  The results showed that the growth of citrus cv. Calamondin (Citrus mitis Blanco) derived from SE propagation on JC rootstock at ex vitro activity better than in vitro activity.  At in vitro activity, up to 10 months after grafting, percentage of death grafting influenced by type of stock, where the used of plantlets as stock causing more death grafting than embryo.  At another activity, there was no interaction between treatment effect with the combination rootstock and stock treatment for all parameters, with plants height average reached 53.7 cm. From this research, we could make a conclusion that the product of propagation via somatic embryogenesis technique, both cotyledonary embryos and plantlets, could be used as a stock that would growth satisfactory if they grafted on the citrus rootstock ex vitro.

Page 57 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue