cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Deteksi Virus-Virus pada Kentang di Jawa Barat dengan Menggunakan Teknik Molekuler Tri Asmira Damayanti; R Kartika
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n2.2015.p171-179

Abstract

ABSTRAK. Gejala infeksi virus ditemukan bervariasi di sentra pertanaman kentang di Jawa Barat (Rancabali, Pangalengan, dan Bayongbong). Diagnosis virus berdasarkan gejala sulit untuk menentukan identitas suatu virus. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan mendeteksi virus-virus pada tanaman kentang dengan teknik molekuler. Sebanyak 50 sampel daun dikoleksi secara acak dari tanaman kentang yang bergejala di setiap lokasi. Parameter yang diamati adalah gejala, kejadian penyakit, dan runutan DNA virus yang dominan ditemukan. Kejadian penyakit ditentukan dengan uji serologi menggunakan antiserum PVY, PVX, PVS, dan CMV, sedangkan deteksi asam nukleat dilakukan dengan RT-PCR dan perunutan DNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala yang ditemukan bervariasi pada daun kentang, seperti vein clearing, vein banding, rugose, dan malformasi daun. Kejadian penyakit oleh PVY, PVX, PVS, dan CMV di Rancabali berturut-turut adalah 28%, 0%, 0%, dan 28%, di Pangalengan adalah 80%, 24%, 2%, dan 82%, serta di Bayongbong adalah 82%, 0%, 6%, dan 74%. RT-PCR menggunakan primer spesifik PVY dan CMV berhasil mengamplifikasi gen coat protein PVY dan CMV asal Bayongbong masing-masing  berukuran ~800 pb dan ~650 pb. Homologi nukleotida dan asam amino PVY asal Bayongbong terhadap PVY dari negara lain berkisar 89,5–99,7% dan 92,0–100%. Homologi tertingginya yaitu dengan PVY-NTN asal Cina dan Jepang, sedangkan homologi nukleotida dan asam amino CMV asal Bayongbong terhadap CMV asal negara lain berkisar 87,6–96,9% dan 86,9–93,7%. Homologi tertingginya yaitu dengan CMV strain soybean stunt (S) asal Bogor (Indonesia). Kedua strain virus (PVY-NTN dan CMV-S) pertama kali terdeteksi pada kentang di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teridentifikasinya kedua strain virus baru harus dipertimbangkan sebagai pembatas penting produksi kentang di Jawa Barat
Pengaruh Berbagai Sumber Arang dalam Me dia Kul tur In Vi tro terhadap Pertumbuhan Plantlet Oncidium Dyah Widiastoety; Budi Marwoto
Jurnal Hortikultura Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v14n1.2004.p1-5

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh berbagai macam sumber arang terhadap pertumbuhan plantlet anggrekOncidium. Anggrek Oncidium merupakan salah satu jenis anggrek yang disukai konsumen. Budidaya anggrekumumnya menggunakan bibit yang berasal dari kul tur in vi tro. Optimasi me dia dalam kul tur in vi tro sangatdiperlukan untuk meningkatkan kemampuan multiplikasi dan kualitas bibit. Salah satu cara untuk mengoptimasi me -dia in vi tro yaitu dengan pemberian sumber arang aktif. Bahan penelitian yang digunakan adalah plantlet anggrekOncidium Goldiana yang ditumbuhkan dalam me dia Vacin dan Went padat dengan penambahan air kelapa 150 ml/l,sukrosa 20 g/l, dan bubur pisang 50 g/l. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan lima perlakuandan lima ulangan. Perlakuan terdiri atas pemberian sumber arang ke dalam me dia kul tur, yaitu: tanpa arang (kontrol),arang aktif proanalisis 2 g/l, arang aktif teknis 2 g/l, norit 2 g/l, dan arang kayu 2 g/l. Hasil penelitian menunjukkanbahwa pemberian arang aktif proanalisis 2 g/l atau norit 2 g/l ke dalam me dia kul tur dapat meningkatkanpertumbuhan tinggi plantlet, luas daun, jumlah tu nas anakan, dan jumlah akar.The ef fect of var i ous char coal sources in in vi tro cul tureme dia on the growth of Oncidium plantlet. The aim of this ex per i ment was to de ter mine ef fect of var i ous char coalsources on the growth of Oncidium plantlet. Oncidium in one of the fa vour ite or chid gen era. The or chid plan ta tiongen er ally used or chid seed lings from in vi tro cul ture. Me dia op ti mi za tion is a crit i cal to im prove the ca pac ity of seed -ling mul ti pli ca tion and qual ity. One of the meth ods to en rich the me dium was by the use of a char coal. The ma te ri alsused in this re search were Oncidium or chid plantlet that were cul ti vated in VW me dium with the ad di tion of 150 ml/l ofco co nut wa ter, 20 g/l su crose and 50 g/l ba nana pulp. The treat ments were laid in a ran dom ized block de sign with fivetreat ments and five rep li ca tions. The treat ments were the ad di tion of char coal sources into the cul ture me dium, i.e.with out char coal (con trol), 2 g/l proanalisa char coal, 2 g/l tech nic char coal, 2 g/l norit, and 2 g/l wood char coal. The re -sult showed that the use of 2 g/l proanalisa char coal or 2 g/l norit in the cul ture me dia sig nif i cantly in creased growth ofplant height, leaf size, num ber of shoot, and num ber of roots.
Strategi Peningkatan Pemasaran Mangga di Pasar Internasional I.N. Purnama; M. Sarma; M. Najib
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p85-93

Abstract

Mangga merupakan salah satu buah tropis unggulan Indonesia dengan produksi sebesar 2,1 juta ton pada tahun 2011, menempati posisi ketujuh tertinggi di dunia. Namun demikian volume ekspornya masih rendah, yaitu 1,485 ton pada 2011, dengan tujuan utama Timur Tengah dan Singapura. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pemasaran mangga Indonesia, khususnya gedong Gincu dan Arumanis ke pasar internasional dan menyusun strategi rekomendasi bagi peningkatan pemasaran mangga di pasar internasional. Mangga gedong Gincu dan Arumanis dipilih karena keduanya merupakan varietas utama ekspor. Pengumpulan data dilakukan pada Bulan Mei sampai Agustus 2013 melalui observasi dan wawancara menggunakan kuesioner dengan pendekatan SWOT dan AHP kepada responden, masing-masing berjumlah sembilan orang untuk matriks SWOT (strengths, weakness, opportunities, and threats) dan lima orang untuk AHP (analytical hierarchy process). Alat analisis yang digunakan ialah analisis SWOT dan AHP. Hasil perhitungan matriks IFE (internal factor evaluation matrix) diperoleh total skor internal sebesar 2,103 dan matriks EFE (external factor evaluation matrix) dengan total skor sebesar 2,893. Penggabungan hasil dari kedua matriks menempatkan posisi persaingan mangga Indonesia di sel II, yaitu sel tumbuh dan membangun. Rekomendasi prioritas strategi utama untuk peningkatan pemasaran mangga berdasarkan hasil AHP ialah  melakukan standardisasi kebun mangga, peningkatan kerjasama antara eksportir dengan petani, dan pembangunan one stop service untuk  menghasilkan dan menjamin ketersediaan buah berkualitas yang sesuai dengan standar internasional.
Pendugaan Jarak Genetik dan Hubungan Kekerabatan Nanas Berdasarkan Analisis Isozim Sri Hadiati
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n2.2003.p87-94

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui jarak genetik dan hubungan kekerabatan 30 aksesi nanas berdasarkan analisis isozim. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Buah-Solok mulai bulan  September  sampai dengan November 2001. Analisis isozim menggunakan elektroforesis model vertikal dengan gel poliakrilamid dengan lima sistem  enzim (peroksidase,  fosfoglukomutase,  alkohol  dehidrogenase,  malat  dehidrogenase,  dan  sikimat dehidrogenase). Untuk menentukan kemiripan genetik antaraksesi-aksesi nanas digunakan rumus koefisien kemiripan Dice. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat kemiripan genetik paling kecil (0,23) atau jarak genetik terjauh (0,77) terdapat antara aksesi no. 16, 18, 24, 28, 31, 22, 2 (klon queen) dengan aksesi no. 10, 33, 35, 44 (klon merah) dan aksesi no. 3, 30, 32, 46 (klon hijau). Derajat kemiripan genetik terbesar (1,00) atau jarak genetik terdekat (0,00) terjadi antaranggota dalam klon merah, hijau, merah pagar, queen (kecuali no. 11, 17, 7), dan cayenne (kecuali no. 4, 37, 38). Hubungan kekerabatan 30 nomor aksesi terdiri atas empat kelompok pada kemiripan genetik 0,63, yaitu klon merah dan hijau, klon merah pagar, klon queen, dan klon cayenne. Tetua yang berjarak genetik jauh memiliki variabilitas genetik yang luas dan efek heterosis yang tinggi, sehingga peluang mendapatkan varietas unggul dalam persilangan semakin besar. Kata kunci : Ananas comosus, Aksesi; Jarak genetik: Hubungan kekerabatan;Isozim ABSTRACT. The objectives of this research were to determine genetic distance and genetic relationships among the pineapple accessions based on isozyme banding patterns.This research was conducted at Indonesian Fuit Research Institute from September to November 2001. Isozyme was analyzed using polyacrylamide gel electrophoresis with five enzymes (peroksidase, phosphoglucomutase, alcohol dehydrogenase, malate dehydrogenase, and shikimate dehydrogenase). The similarity based on Dice formula was used to determine genetic distance of 30 pineapple accessions. The results showed that the nearest genetic similarity (0.23) or the farthest genetic distance (0.77) was among accessions number of 16, 18, 24, 28, 31, 22, 2 (queen clones) accessions number of 10, 33, 35, 44 (red clones) and accessions of 3, 30, 32, 46 (green clones). The biggest genetic similarity (1.00) or the nearest genetis distance (0.00) was occured on the clones red, green, merah pagar, queen except for 11, 17, 7, and cayenne clone except for no. 4, 37, 38. The 30 pineapple accessions relationship was grouped into four genetic similarity 0.65, of red clone, merah pagar clone, queen clone, and cayenne clone. Parents having for genetic distance indicated wide genetic variability and high heterosis effect so that the hybridization give the big chance for getting superior quality.
Perbaikan Teknologi Produksi Benih Bawang Merah Melalui Pengaturan Pemupukan, Densitas, dan Varietas Gungun Wiguna; Iteu Margaret Hidayat; Chotimatul Azmi
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n2.2013.p137-142

Abstract

Produksi umbi benih bawang merah dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya ketersediaan hara, pengaturan populasi tanaman, dan pemilihan varietas. Pengelolaan hara tanaman, pengaturan densitas, dan pemilihan varietas yang tepat dapat meningkatkan produksi umbi benih bawang merah. Penelitian bertujuan mendapatkan teknologi perbanyakan umbi benih bawang merah dengan mengurangi ukuran umbi dan meningkatkan produksi umbi tanpa mengurangi kualitas umbi sebagai benih. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran (1250 m dpl.) pada Bulan Mei sampai dengan Desember 2009, menggunakan rancangan split-split plot dengan petak utama dosis pemupukan dengan tiga taraf yaitu (1) 200 kg/ha Urea, 200 kg/ha SP36, 200 kg/ha KCl, dan 500 kg/ha ZA (kontrol), (2) 100 kg/ha Urea, 300 kg/ha SP36, 200 kg/ha KCl, dan 250 kg/ha ZA, dan (3) 100 kg/ha Urea, 200 kg/ha SP36, 200 kg/ha KCl, dan 250 kg/ha ZA. Anak petak ialah densitas tanaman, terdiri atas 30 tanaman/m2, 60 tanaman/m2, dan 100 tanaman/m2. Anak-anak petak ialah varietas terdiri atas Bima, Maja, dan Sumenep. Hasil penelitian menunjukkan densitas 100 tanaman/m2 menghasilkan jumlah umbi per plot tertinggi (1.193,68) dan diameter umbi terkecil (14,17 mm). Varietas Bima menghasilkan jumlah umbi per tanaman tertinggi (12,01) dan jumlah umbi per plot tertinggi (1.035,96) dengan diameter terkecil 11,10 mm. Penggunaan varietas Maja pada densitas 100 tanaman/m2 menghasilkan bobot kering tertinggi (3.047,78 g). Untuk menghasilkan jumlah umbi banyak dengan ukuran kecil direkomendasikan agar menanam varietas Bima dengan densitas 100 tanaman/m2 dan untuk menghasilkan bobot kering umbi tinggi direkomendasikan agar menanam varietas Maja dengan densitas 100 tanaman/m2.
Keragaman Genetik dan Heritabilitas Beberapa Karakter Utama pada Kedelai Sayur dan Implikasinya untuk Seleksi Perbaikan Produksi Tri Handayani; Iteu Margaret Hidayat
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v22n4.2012.p327-333

Abstract

Salah satu tujuan seleksi pada kegiatan pemuliaan kedelai sayur ialah produksi polong tinggi. Kegiatan seleksi dalam program pemuliaan membutuhkan keragaman genetik dan heritabilitas yang tinggi dari karakter-karakter produksi.  Penelitian bertujuan mengetahui keragaman genetik dan fenotip, serta menduga nilai heritabilitas beberapa karakter produksi kedelai sayur. Penelitian dilaksanakan di Tawangmangu, Jawa Tengah, dari Bulan Oktober 2011 sampai dengan Januari 2012.  Materi tanaman berupa 12 genotip kedelai sayur yang ditanam di lapangan dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter tinggi tanaman, jumlah cabang per tanaman, jumlah polong per tanaman, berat polong per tanaman, berat per polong, berat polong per plot, dan produksi polong segar memiliki keragaman genetik maupun fenotip yang tinggi.  Nilai duga heritabilitas tinggi dijumpai pada semua karakter kecuali persentase biji keras. Kombinasi keragaman genetik dan nilai duga heritabilitas tinggi dijumpai pada karakter  tinggi tanaman (pada fase R1 dan R5), jumlah cabang per tanaman, jumlah polong per tanaman, berat polong per tanaman, berat per polong, berat polong per plot, dan produksi polong.  Seleksi pada karakter-karakter tersebut dapat dilakukan secara langsung berdasarkan penampilan fenotipiknya di lapangan.  
Evaluasi Beberapa Klon Kentang Asal Stek Batang untuk Uji Ketahanan terhadap Phytophthora infestans Kusmana -
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n4.2003.p220-228

Abstract

Penelitian dilaksanakan di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung 1.400 m dpl mulai bulan No- vember 2000 sampai dengan Maret 2001. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terpisah dengan dua ulangan. Petak utama adalah perlakuan  proteksi  dan non-proteksi  sedangkan sebagai anak petak adalah  21 klon kentang. Setiap petak perlakuan terdiri dari  10 tanaman. Tujuan penelitian adalah  untuk mendapatkan  klon  yang resisten terhadap serangan penyakit busuk daun.   Dihasilkan   12 klon kentang yang resisten terhadap serangan penyakit busuk daun, yaitu ingabire, Lbr-2, Lbr-40, Lbr-18, cruza -148, idiaf 92, I-1085, MF-I, MF-II, biota, denva, dan klon 20 dengan nilai rataan area under diseases progress curve (AUDPC) untuk masing-masing klon berkisar antara  49-581,  sedangkan nilai AUDPC untuk kultivar pembanding (granola) adalah 1873. Rataan potensi hasil tertinggi  berturut-turut dicapai oleh klon ingabire, Lbr-18, I-1085, idiaf-92, LBr-40, MF-II, biota,  klon 20, dan cruza-148 yang berbeda nyata dengan kultivar pembanding (granola). Kata kunci :  Kentang; Resistensi; Klon; Busuk daun ABSTRACT. The experiment was conducted at Cibodas Lembang, Bandung district 1,400 m asl from No- vember  2000  until March 2001. The experimental design used was split  plot  with  two replications. Spray and nonspray were the main plot and 21 potato clones were the subplot. Each treatment plot consisted of 10 plants . The objective of the research was to observe the resistant and high yielding clones.  The results indicated that 12 clones were resistance to late blight they were ingabire, Lbr-2, Lbr-40, Lbr-18, cruza -148, idiaf 92, I-1085, MF-I, MF-II, biota, denva, and clone 20. The area under diseases progress curve (AUDPC) scores for those clones ranged from 49 to 581, whereas, the AUDPC score of granola variety was 1873. The highest yielding clones were obtained from ingabire followed by clones, Lbr-18, I-1085, idiaf-92, LBr-40, MF-II , biota, clone 20, and  cruza-148 were higher than variety control (granola).
Keragaan Karakter Kualitatif Hasil Persilangan Anggrek Phalaenopsis Kristina Dwiatmini
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n4.2013.p291-299

Abstract

Pemanfaatan plasma nutfah untuk mendapatkan klon-klon harapan baru pada anggrek Phalaenopsis, khususnya jenis multiflora dilakukan pada beberapa tahun terakhir. Salah satu cara pemanfaatannya ialah menggunakan plasma nutfah tersebut untuk bahan persilangan, sehingga mendapatkan keragaman genetik karakter anggrek Phalaenopsis. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui keragaan karakter kualitatif dan keragaman warna bunga hasil persilangan anggrek Phalaenopsis. Penelitian dilakukan mulai Bulan September 2005 sampai dengan Desember 2012 di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, dengan ketinggian 1.100 m dpl. Populasi F1 diperoleh dengan melakukan persilangan searah. Biji hasil silangan disebar pada media Vacin & Went (V&W) dan atau Knudson, selanjutnya protokorm yang terbentuk dijarangkan atau disubkultur pada media V&W dan setelah menjadi planlet disubkultur pada media V&W dengan tambahan pisang dan charcoal. Selanjutnya planlet diaklimatisasi pada media pakis cacah, dan bertahap diindividukan sampai menjadi tanaman dewasa. Pengamatan dilakukan terhadap umur panen buah, waktu terbentuk protokorm, waktu aklimatisasi, dan waktu berbunga pertama kali. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada umur panen buah, waktu terbentuknya protokorm, waktu aklimatisasi, dan waktu berbunga pertama kali. Diperoleh keragaman warna, corak, maupun tipe bunga pada persilangan anggrek Phalaenopsis. Implikasi hasil yang diperoleh dari persilangan ini ialah mendapatkan informasi selang waktu dalam setiap tahap persilangan, informasi tetua-tetua yang dapat disilangkan, dan meningkatkan keragaman anggrek Phalaenopsis yang dapat langsung dilepas karena keunggulan yang dimiliki, atau digunakan  sebagai tetua untuk disilangkan lanjut atau disilang balik karena masih diperlukan ter-introgressi-nya karakter unggul yang diharapkan.
Tanggap Pertumbuhan Tanaman Biwa terhadap Berbagai Perbandingan Dosis Pupuk N, P, dan K Fritz H Silalahi; Agustina E Marpaung; Rariska Tarigan
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v21n1.2011.p1-13

Abstract

Buah biwa (Eriobotrya japonica) sangat baik untuk kesehatan tubuh dan dapaat digunakan sebagai bahan baku obat-obatan. Budidaya tanaman biwa di tingkat petani saat ini masih bersifat tradisional, sehingga produksinya masih rendah dan belum dapat memenuhi kebutuhan konsumen. Salah satu penyebabnya ialah keterbatasan informasi mengenai penggunaan pupuk yang efektif dan efisien pada pembudidayaannya. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh pemberian pupuk N, P, dan K pada tanaman biwa. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Tanaman Buah Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl., dengan jenis tanah Andisol, yang dilaksanakan dari bulan Januari sampai dengan Desember 2006. Percobaan menggunakan rancangan  acak kelompok pola faktorial dengan dua ulangan. Perlakuan terdiri atas tiga faktor yakni : N (0, 180, dan 360 kg/ha), P (0 dan 36 kg/ha), dan K (0, 180, dan 360 kg/ha). Hasil penelitian menunjukkan adanya  interaksi NxP dan NxK terhadap pertambahan tinggi tanaman pada umur 6 dan 8 bulan setelah pemberian pupuk pertama.Tidak ada interaksi NxP yang nyata terhadap pertambahan diameter batang, namun ada interaksi NxK yang nyata terhadap pertambahan diameter batang pada umur 4, 6, dan 8 bulan setelah pemberian pupuk pertama. Taraf dosis pupuk N:P:K (360:36:180) kg/ha menghasilkan pertumbuhan vegetatif tanaman biwa (tinggi tanaman, diameter batang, serta jumlah tunas) yang lebih baik dari perlakuan lainnya. Hasil analisis daun biwa memperlihatkan bahwa kandungan hara N, P, dan K   terbesar dalam daun yang ditemukan pada perlakuan dosis pupuk N:P:K (360:36:180) kg/ha. Implikasi dari penelitian ini adalah sebagai pedoman pemupukan pada budidaya biwa. Loquat fruits is very good for human health. Furthermore, it can be used as the raw material for some medicines. Until now the loquat cultivataion is still traditionally practiced by farmers, so its production is still very low and can not fulfill consumers demand. One of the reasons is that the information of effective and efficient fertilization is not available. The objective of the research was to determine the effect of  N, P, and K fertilizers on the growth of loquat. The research was conducted at Berastagi Experimental Fruit Farm, at altitude of 1,340 m asl, with  Andisol soil type, on January to December 2006. A randomized block design was used with two replications. The research consisted of 18 treatments combination with three factors i.e. N (0, 180, and 360 kg/ha), P (0 and 36 kg/ha), and K (0, 180, and 360 kg/ha). The results showed that there were significant interaction effects of NxP and NxK to plant height on 6 and 8 months after the first fertilizer application. The significant interaction effect of NxK was also stem diameter on 4, 6, and 8 months after the first fertilizer application. The  dosage of N:P:K (360:36:180 kg/ha) exhibited better vegetative growth of loquat (plants height, stem diameter, and number of shoots) compared to other treatments. The analysis of loquat leaves indicaated that the content of N, P, and K nutrients on leaves was higher on the fertilizer dosage of N:P:K = 360:36:180 kg/ha  compared to the other fertilizer treatments.Implication of the research is to guide fertilizing on loquat cultivation.
Evaluasi Daya Saing Komoditas Kentang di Sentra Produksi Pangalengan Kabupaten Bandung Adhitya Marendra Kiloes; Apri Laila Sayekti; Muhammad Jawal Anwarudin Syah
Jurnal Hortikultura Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v25n1.2015.p88-96

Abstract

Untuk mengembangkan agribisnis kentang dalam negeri yang mempunyai daya saing tinggi sehingga dapat mengurangi ketergantungan impor, diperlukan adanya dukungan kebijakan dari pemerintah dengan melakukan promosi dan penyampaian informasi yang relevan kepada para pelaku usaha. Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung merupakan salah satu sentra produksi kentang di Indonesia. Daerah ini mampu memasok kentang hingga ke pasar ekspor sehingga  memegang peranan penting bagi daya saing kentang Indonesia di pasar global. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi daya saing kentang di sentra produksi tersebut. Penelitian bersifat eksploratif dengan menggunakan data primer berupa data usahatani serta input dan output produksi kentang sentra produksi Pangalengan, Kabupaten Bandung. Data sekunder dikumpulkan dari BPS, Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Direktorat Jenderal Hortikultura, dan literatur-literatur lain yang menunjang. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan policy analysis matrix (PAM). Dari hasil analisis diperoleh hasil bahwa pada skala usaha rerata per hektar biaya produksi kentang di Pangalengan sebesar Rp50.876.255,00 pada harga privat dan Rp48.270.838,00 pada harga sosial. Keuntungan yang dihasilkan sebesar Rp34.353.294,00 pada harga privat dan Rp18.948.129,00 pada harga sosial. Usahatani kentang di Pangalengan sangat layak untuk diusahakan dengan nilai R/C ratio sebesar 1,68 pada harga privat dan 1,39 pada harga sosial. Usahatani kentang di Pangalengan masih mempunyai keunggulan komparatif dengan nilai DRCR sebesar 0,36 dan kompetitif dengan nilai PCR 0,24. Usahatani kentang tidak lagi memiliki keunggulan kompetitif apabila harga output turun hingga 41% atau harga input naik 87%.

Page 56 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue