cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,166 Documents
Analisis Fenotipik Progeni Tiga Galur Tomat Transgenik Partenokarpi di Fasilitas Uji Terbatas (Phenotypic Analysis on Progenies of Three Transgenic Parthenocarpy Tomato Lines in Biosafety Containment) Pardal, Saptowo Jumali; Purnamaningsih, Ragapadmi; Lestari, Endang Gati; Slamet, nFN
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n1.2016.p21-30

Abstract

Kebutuhan masyarakat akan buah tomat konsumsi dan untuk industri cenderung kian meningkat setiap tahunnya, sedangkan produksi tomat masih rendah. Hingga kini, produksi tomat nasional masih sangat rendah,yaitu 992.780 ton sehingga belum mencukupi kebutuhan pasar yang mencapai 1.230.000 ton. Beberapa upaya telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan produksi tomat, tetapi masih menemui beberapa masalah di lapangan. Perakitan varietas unggul tomat produktivitas tinggi dan tanpa biji (seedless) sangatlah diharapkan guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri. Partenokarpi merupakan fenomena terjadinya pembentukan buah tanpa melalui proses penyerbukan dan atau pembuahan. Teknologi partenokarpi dapat digunakan untuk meningkatkan produksi tomat melalui peningkatan pembentukan buah (fruits setting) dan buah tanpa biji. Perakitan galur tomat partenokarpi melalui rekayasa genetik telah dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen). Enam puluh galur (event) tomat transgenik T0 yang membawa gen DefH9-iaaM telah dihasilkan dan tiga galur di antaranya, yaitu OvR#14-4, OvM2#10-1, dan OvM2#6-2 telah terpilih sebagai galur terbaik berdasarkan karakter partenokarpinya. Galur tomat transgenik ini selanjutnya dievaluasi lebih lanjut secara molekuler dan fenotipik di rumah kaca dan rumah kasa fasilitas uji terbatas (FUT). Hasil analisis molekuler menunjukkan bahwa semua galur tomat transgenik yang diuji masih membawa gen DefH9-iaaM. Hasil evaluasi awal terhadap tiga galur tomat transgenik secara fenotipik juga menunjukkan sifat partenokarpi, yaitu meningkatnya jumlah buah, berat buah, dan berkurangnya jumlah biji (seedless). Analisis fenotipik lebih lanjut terhadap progeni ketiga galur tersebut pada percobaan ini menunjukkan adanya ekspresi fenotipik dari gen DefH9-iaaM, di mana galur OvR#14-4 memiliki ekspresi fenotipik partenokarpi lebih baik daripada galur OvM2#10-1 dan OvM2#6-2.KeywordsTomat; Rekayasa genetik; Gen partenokarpi; Galur transgenik; Analisis fenotipikAbstractThe demand of tomato fruits for daily consumption and industry materials tend to increase annually, while the tomato production is still low. Up till now, the national tomato production was still low (992,780 ton) so that it’s not enough to fulfill the market demand (1,230,000 ton). Many effort have been conducted by the government in order to increase the tomato production, but there were still many contrains in the field. The development of elite tomato cultivars is very urgent in order to suffice the public and industrial demand. Parthenocarpy is a phenomenon that fruits can be produced without pollination and fertilization. Parthenocarpy technology can be used to increase tomato productivity through increasing the fruit setting and seedless fruits. The development of transgenic parthenocarpy tomato cultivars was conducted through genetic engineering at Central Research for Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD). Sixty transgenic T0 tomato lines which contain DefH9-iaaM gene were produced. Those transgenic tomato lines were then further evaluated by molecular and phenotypic in biosafety containment. Molecular analysis showed that all tomato lines were still contained DefH9-iaaM gene. The phenotypic analysis showed parthenocarpy phenotypic, such as increasing fruits number, fruits weight, and decreasing seeds number. Further phenotypic analysis on progeny of those lines in this experiments showed the phenotypic characters of the parthenocarpy gene. Line OvR1#14-4 had better parthenocarpy characters than that of lines OvM2#10-1 and OvM2#6-2.
Peningkatan Mutu Bunga dan Produktivitas Dua Kultivar Sedap Malam dengan Pemupukan N, P, dan K A Wasito; R Tedjasarwana
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n3.2003.p177-181

Abstract

Penelitian bertujuan mengetahui tanggap kultivar sedap malam terhadap pemberian beberapa kombinasi dosis pupuk dalam rangka peningkatan produktivitas dan mutu bunga. Penelitian dilaksanakan di Cianjur dari bulan September 1998 sampai dengan bulan Juli 1999. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan.  Dua kultivar, yaitu kultivar berbunga tunggal dan berbunga ganda sebagai  faktor pertama  dan tujuh kombinasi dosis pupuk inorganik (N, P2O5, dan K2O) sebagai faktor kedua. Didapatkan bahwa keragaan tumbuh dan hasil bunga  kultivar bunga berpetal  ganda  lebih adaptif dibandingkan dengan kultivar bunga berpetal tunggal. Kombinasi dosis pupuk inorganik dengan N tertinggi (40 g/m2/tahun), menampakkan keragaan yang paling baik dan berbeda nyata dengan beberapa kombinasi di bawahnya sepanjang diimbangi dengan  jumlah unsur P dan K. Kata kunci:  Polianthes tuberose; Kultivar; Pemupukan; Produktivitas bunga; Kualitas bunga. ABSTRACT. The objective of this experiment was to evaluate response of two cultivars P. tuberose treated with several inorganic fertilizer dosages application. Experiment was conducted in Cianjur from September 1998 until July 1999. A factorial randomized block design with three replications was used in this experiment. The first factor consisted of two cultivars meanwhile the second factor com- prised of seven dosages inorganic fertilizers ( N, P2O5, and K2O) compositions. The results indicated that  the double petals cultivar was significantly more adaptive compared to those of single petal cultivar.  Dosage of   N inorganic fertilizer applications up to 40 g/m2/year gave significantly different  compared to that below  dosages.
Preferensi Kumbang Daun Phyllotreta striolata Fab. (Coleoptera : Chrysomelidae) Terhadap Berbagai Tanaman Cruciferae dan Upaya Pengendaliannya Dengan Menggunakan Insektisida Klorpirifos Hadis Jayanti; Wiwin Setiawati; Ahsol Hasyim
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 3 (2013): September 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n3.2013.p235-243

Abstract

Phyllotreta striolata Fab. (Coleoptera : Chrysomelidae) merupakan salah satu hama penting pada berbagai jenis tanaman dari famili Cruciferae, Amaranthaceae, Chenopodiaceae, Convolvulacea, dan Fabacea. Kehilangan hasil yang diakibatkannya dapat mencapai 20 – 50% bahkan 100% bila serangan terjadi pada saat tanaman masih muda. Di Indonesia, sampai saat ini belum ada insektisida yang terdaftar untuk mengendalikan P. striolata. Tujuan penelitian untuk mengetahui (1) preferensi P. striolata pada berbagai tanaman Cruciferae seperti sawi putih, sawi hijau, pakcoy, kubis bunga, brokoli, dan kubis, (2) keefektifan insektisida klorpirifos 400 g/l terhadap P. striolata, serta (3) kehilangan hasil yang diakibatkan P. striolata. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium, Rumah Kasa, dan Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, sejak Bulan Maret sampai dengan Agustus 2011. Metode yang digunakan untuk uji preferensi ialah metode choice dan nonchoice. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok. Perlakuan terdiri atas enam jenis kubis-kubisan dan diulang empat kali. Perlakuan yang digunakan untuk uji keefektifan ialah empat konsentrasi insektisida klorpirifos 400 g/l serta kontrol dan diulang lima kali. Pengamatan dilakukan terhadap populasi P. striolata, kerusakan tanaman, dan hasil panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P. striolata lebih memilih tanaman pakcoy, sawi putih, dan sawi hijau sebagai makanan, tingkat kerusakan pada tanaman terpilih berkisar antara 13,75 – 100%, tanaman kubis merupakan tanaman yang paling tidak disukai oleh P. striolata, aplikasi insektisida klorpirifos 400 g/l pada konsentrasi 1.500 ppm dan 2.000 ppm paling efektif dalam menekan serangan P. striolata, dan mampu mempertahankan hasil panen sawi putih tertinggi masing-masing sebesar 22,87 dan 26,99 t/ha. Insektisida klorpirifos 400 g/l dapat digunakan untuk mengendalikan P. striolata pada tanaman sawi putih dan dapat menekan kehilangan hasil sebesar 49,61 – 79,37%.
Teknik Penanaman Benih Bawang Merah Asal True Shallot Seed di Lahan Suboptimal (Planting Method of Seedling of Shallot from True Shallot Seed in Suboptimal Land) Gina Alya Sopha; Muhammad Syakir; Wiwin Setiawati; nFN Suwandi; Nani Sumarni
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n1.2017.p35-44

Abstract

Keberhasilan produksi umbi  bawang merah dengan menggunakan TSS (True Shallot Seed) di lahan sub optimal tergantung banyak faktor, antara lain umur benih, kerapatan tanaman dan dosis pupuk N. Tujuan penelitian adalah menghasilkan umur benih, kerapatan tanaman, dan dosis pupuk N yang tepat untuk pertumbuhan tanaman dan hasil umbi bawang merah asal TSS yang optimal. Penelitian lapangan dilakukan di lahan sub optimal Subang-Jawa Barat (100 m dpl) dengan jenis tanah Latosol Merah Kuning, dari bulan Juli sampai Oktober 2013. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial, dengan tiga ulangan dan tiga faktor perlakuan. Faktor pertama (A):  Umur benih di persemaian, terdiri atas: a, = 4 minggu setelah semai, a2 = 5 minggu setelah semai, dan a3 = 6 minggu setelah semai. Faktor kedua (B): Kerapatantanaman, terdiri atas: b1 = 150 tanaman/m2 dan b2 = 100 tanaman/m2. Faktor ketiga (C): Dosis pupuk N, terdiri atas: Cl = 150 kg N/ha, C2=225 kg N/ha, dan C3 = 300 kg N/ha.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman  (tinggi  tanaman  dan  jumlah  daun)  dipengaruhi  oleh  umur  benih,  tetapl  tidak dipengaruhi oleh  kerapatan dan  dosis  pupuk  N. Umur benih 6 minggu setelah 'sernat memberikan tinggi tanaman paling tinggi dan jumlah daun paling banyak. Bobot umbi basah per tanaman tidak dipenqaruhi oleh umur benih, kerapatan tanaman dan dosis pupuk N. Namun bobot umbi basah per petak dipengaruhi oleh kerapatan tanaman. Makin rapat tanaman (150 tanaman/m2) makin tinggi hasil bobot umbi basah per petak. Bobot umbi kering eskip per tanaman dan bobot umbi kering esktp per petak, serta susut bobot umbi dipengaruhi oleh interaksi umur benih dan kerapatan tanaman. Umur benih 6  minggu dengan kerapatan 150 tanaman/rrr  menghasilkan bobot umbi kering eskip per tanaman (11,417 g/tanaman) dan bobot umbi kering eskip per petak  (2,433 kg/2.4 rrr')  paling tinggi, serta susut bobot umbi paling rendah (33,63%). Kombinasi umur benih, kerapatan tanaman dan dosis pupuk N yang menghasilkan bobot umbi basah dan bobot kering eskip tertinggi adalah umur biblt 6 minggu setelah semai, kerapatan tanaman 150 tanarnan/m' dan dosis 225 kg N/ha, yaitu  masing­masing sebesar 4,195 kg/2,4m2 dan  2,80 kg/2,4 m2. Penggunaan benih asal TSS dapat digunakan sebagai alternatif dalam budidaya bawang merah.  KeywordsAllium ascalonicum; True shallot seed; Umur benih; Kerapatan tanaman; Pupuk nitrogenAbstractSuccess of shallot cultivation by using true shallot seed (TSS) on suboptimal land is dependent upon the planting method of seedling, among others seedling age, plant density, and N fertilization. The objective of this experiment was to find out the proper seedling age, plant density and N dosage for producing shallot bulb from TSS. The field experiment was conducted in lowland of Subang West Java (100 m asl.) with Yellow Red Latosol soil type, from July to October 2013. A randomized block design, with three replications and three treatment factor was used in this experiment. The first factor was seedling ages (4, 5, and 6 weeks after sowing), the second factors was plant densities (150 and 100 plants/m2), and the third factor was N fertilizer dosages (150, 225, and 300 kg N/ha). The results showed that the plant growth (plant height and leaf number) from TSS was affected by seedling ages, but it was not affected by plant densities and N dosages. The highest plant height and the highest leaf number was from seedling age of 6 weeks after sowing. The fresh bulb weight per plant was not influenced by seedling ages, plant densities, and N dosages. But, the effect of plant densities was significantly different on fresh bulb weight per plot. The plant density of 150 plants/m2 gave the higher fresh bulb weight than the plant density of 100 plants/m2. The escape dry bulb weight per plant and per plot and also losses of bulb weight were siginficantly affected by the interaction between seedling ages and plant densities. The highest escape dry bulb weight per plant (11.417g/plant) and per plot (2.433 kg/2.4 m2), and the lowest lose weight of bulb (33.63) was obtained by the seedling age of 6 weeks after sowing and plant density of 150 plants/m2. The combination treatment of 6 weeks seedling age + 150 plants/m2 + 225 kg N/ha gave the highest fresh bulb yield (4.195 kg/2.4 m2) and the highest escape dry bulb yield (2.80 kg/2.4 m2). The application of shallot seedling from TSS can be used as alternative technology in shallot production.
Pengaruh Suhu Penyimpanan dan Jumlah Perforasi Kemasan Terhadap Karakteristik Fisik dan Kimia Brokoli (Brassica oleracea var. Royal G) Fresh-Cut Ali Asgar
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n1.2017.p127-136

Abstract

[The Effect of Storage Temperatures and Perforations on Physical and Chemical Characteristics of Fresh-Cut Broccoli (Brassica oleracea var. Royal G)]Fresh-cut adalah perlakuan dengan membuang bagian yang tidak dikonsumsi pada sayuran dan buah-buahan dengan dikupas, atau dipotong sehingga 100% produk dapat digunakan untuk kemudian dikemas dan didistribusikan kepada konsumen dalam kondisi nutrisi, flavor dan kesegaran yang masih terpelihara. Fresh-cut atau pengolahan minimal dalam bentuk potongan segar merupakan alternatif untuk mempercepat dan mempermudah proses pengolahan, meningkatkan keamanan dan kualitas, memperluas distribusi, dan mengurangi limbah sampah yang dapat mencemari lingkungan. Dalam mempertahankan mutu brokoli fresh-cut selama penyimpanan disarankan untuk menggunakan kemasan dan penyimpanan pada suhu dingin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan suhu penyimpanan dan jumlah perforasi yang memberikan efek paling baik pada kualitas segar brokoli potongan. Penelitian ini dilakukan dari bulan April sampai Juli 2014 di Laboratorium Fisiologi Hasil, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (BALITSA) di Lembang. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial. Faktor pertama adalah suhu penyimpanan, yaitu : 5ºC dan 10°C. Faktor kedua adalah jumlah perforasi, yaitu : 0,5% dan 1% dan tiap perlakuan diulang sebanyak 6 kali. Hasil penelitian terpilih adalah perlakuan brokoli yang disimpan pada suhu 5oC dengan jumlah perforasi 0,5%. Jumlah lubang perforasi yang berlebihan  mengakibatkan kebusukan pada brokoli.KeywordsFresh-cut brokoli; Karakteristik; Suhu penyimpanan; PerforasiAbstractFresh-cut is a treatment for vegetable of fruit by removing the part that is not consumed peeling or cutting so that 100% of the products can be used for later packaged and distributed to the consumer in a state of nutrition, flavor, and freshness are preserved. Fresh-cut or minimal processing in the form of fresh cuts is an alternative to accelerate and simplify processing, improve security and quality, expand distribution, and reduce waste that can pollute the environment. In maintaining the quality of fresh-cut broccoli during storage is recommended to use the packaging and storage at cold temperature. The purpose of this study was to determine the storage temperatures and the number of perforations that provide the best effect on the quality of fresh- cut broccoli. This research was conducted from April to July 2014 in the Laboratory of Postharvest, Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI) at Lembang. The research used randomized block design with factorial pattern. The first factor was the storage temperature 5ºC and 10°C. The second factor was number of perforations 0,5% and 1%. Each treatment was repeated six times. The result of selected study was broccoli stored at 5°C with a number of perforations of 0.5%. Excessive number of perforated holes caused broccoli to be rot.
Pengaruh Penambahan Pupuk Hayati dan PPC Terhadap Keberhasilan Pembuahan Mangga Podang di Luar Musim (Effect of Biofertilizer and Liquid Fertilizer on Off-Season Podang Mango Fruiting Success) Yuniastuti, Sri; Purbiati, Titiek
Jurnal Hortikultura Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v26n2.2016.p207-216

Abstract

Mangga Podang dengan warna buah kuning kemerahan dan rasa manis segar merupakan salah satu komoditas buah unggulan Kabupaten Kediri. Tanaman mangga tersebut umumnya berbuah setahun sekali dengan masa panen yang singkat (Oktober – Desember) dan ini menyebabkan ketersediaan buah melimpah dengan harga yang murah. Oleh karena itu perlu diupayakan pengaturan pembuahan di luar musim supaya memperpanjang periode panen dengan mempercepat awal musim buah dan memperlambat akhir musim buah sehingga harga dapat dikendalikan. Penelitian dilaksanakan tahun 2012 di Kabupaten Kediri dengan rancangan acak kelompok yang terdiri dari enam perlakuan dan empat ulangan. Semua tanaman diaplikasi menggunakan zat pengatur tumbuh paklobutrazol pada bulan Februari, pemupukan dan pengendalian OPT sesuai rekomendasi. Manajemen yang dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan pembuahan di luar musim adalah perlakuan kombinasi antara penambahan pupuk hayati, mikro, dan ZPT dengan dua interval pemberian, yaitu (A) kontrol, (B) pupuk hayati (mikoriza), dan (C) PPC unsur mikro, aplikasi 1 minggu sekali, (D) PPC unsur mikro, aplikasi 2 minggu sekali, (E) PPC unsur mikro+ZPT, aplikasi 1 minggu sekali, dan (F) PPC unsur mikro+ZPT, aplikasi 2 minggu sekali. Aplikasi paklobutrazol pada mangga Podang yang dibarengi dengan pengelolaan secara intensif (pengendalian OPT, penambahan unsur hara makro, dan mikro) dapat meningkatkan hasil buah dan memperpanjang masa panen mulai bulan Agustus sampai Desember. Aplikasi PPC 1 minggu sekali dan 2 minggu sekali baik yang mengandung ZPT maupun tidak dapat meningkatkan hasil panen sebanyak 98%. Rerata buah yang dapat dipanen sebelum panen raya mencapai 38,2%. Perpanjangan masa panen dan peningkatan hasil buah berdampak meningkatkan pendapatan petani.KeywordsPembuahan; Mangga Podang; Luar musimAbstractPodang mango with yellow, reddish coloration and sweet, refreshing taste is one of the Kediri’s featured fruit commodities. It’s usually bears its fruit once a year within short period (October- December), causes yield overflow and reduces price. This demands off-season fruiting control to prolong harvesting period by hastening fruit-bearing season beginning and slowing its end to help control their price. Assessment were done on 2012 in Kediri Regency with randomized block design consist of six treatments and four repeats. All plants are given growth regulator, paklobutrazol, on February, with fertilization and pest control based on recommendation. To increase off-season fruiting success rate, combined treatment of biofertilizer, micro-fertilizer, and growth regulator application are managed with two application interval, which is: (A) control, (B) biofertilizer (mycorrhizae), (C) micro-elements liquid fertilizer, once a week (D) micro-elements liquid fertilizer, twice a week, (E) micro-elements liquid fertilizer + growth controller, once a week, and (F) micro-elements liquid fertilizer + growth controller, twice a week. Paklobutrazol application followed by intensive management (pest control, macro, and micro fertilization) on Podang Mango could increase yield and lengthen harvesting period from August to December. Liquid fertilizer application once and twice a week, whether followed by growth controller or not, could increase yield up to 98%. Fruit could be harvested before great harvest were about 38.2%. Prolongation of harvest period and increase in yield will result in increase of farmers’ income.
Kelas Benih Kentang (Solanum tuberosum L.) Berdasarkan Pertumbuhan, Produksi, dan Mutu Produk [Seed Class Potatoes Based on Growth, Production, and Quality Products (Solanum tuberosum L.)] Djoko Mulyono; M. Jawal Anwarudin Syah; Apri Laila Sayekti; Yusdar Hilman
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n2.2017.p209-216

Abstract

Sistem perbenihan kentang yang ada saat ini terdiri atas lima kelas benih, yaitu G0, G1, G2, G3, dan G4. Kelas benih G0 sampai G3 merupakan benih sumber, sedangkan kelas benih G4 merupakan benih sebar. Banyak penangkar, petani maupun stakeholder lainnya berpendapat bahwa proses produksi benih kentang dari kelas G0 sampai G3 cukup lama sehingga penyediaan benih untuk kentang konsumsi (G4) tidak dapat dilakukan secara cepat. Kegiatan penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat produktivitas kentang masing-masing kelas benih G0 sampai G4 agar dapat direkomendasikan sebagai kelas benih untuk kentang konsumsi. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Margahayu Balitsa Lembang dari bulan September sampai November 2012 menggunakan rancangan acak kelompok dengan enam perlakuan, yaitu kelas benih (G0, G1, G2, G3, G4, dan kontrol) dan empat ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan tanaman, produksi, dan mutu produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kentang yang berasal dari kelas benih G3 menghasilkan produksi dan kelas umbi A dan B yang tertinggi sehingga cocok untuk benih sebar. Untuk peningkatan produksi ternyata kelas benih yang lebih tinggi (G0 dan G1) memiliki peningkatan produksi dan menghasilkan umbi kelas C dan D yang lebih tinggi daripada kelas benih di bawahnya sehingga cocok dikategorikan sebagai benih sumber.KeywordsKentang; Pertumbuhan; Produksi; Kelas benihAbstractPotato seed systems that exist today consists of five seeds classes, namely G0, G1, G2, G3, and G4. G0 to G3 seed is the source seed, while classes G4 seed was extension seed. Many breeders, farmers and other stakeholders argue that the process of seed production from G0 to G3 class was too long so that the supply of potatoes seeds for consumption (G4) could not be carried out faster. Research was conducted to determine the level of productivity of each class of potato seed G0 to G4 to be recommended as a seed class for potato consumption. The reseach was conducted at Margahayu Experimental Garden of Indonesian Vegetable Research Institute Lembang from September–November 2012 in randomized block design with six treatments : seed class (G0, G1, G2, G3, G4, and control) with four replications. The parameters observed were plant growth, production, and product quality. Hence, it can be concluded that potatoes derived from G3 class was quite suitable for extension seeds. The higher the seed class (G0 and G1) the higher the increasing rate and it produced higher number of C and D tuber grade.
Uji Daya Hasil Tujuh Genotipe Cabai Rawit pada Ekosistem Dataran Tinggi Pangalengan, Jawa Barat (Yield Trial of Seven Genotypes of Chili in Highland Ecosystem in Pangalengan, West Java) nFN Kusmana; Yenni Kusandriani; Diny Djuariah
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n2.2017.p147-154

Abstract

Cabai rawit merupakan salah satu sayuran utama petani di dataran tinggi, karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat dengan mudah ditanam secara tumpang gilir dengan komoditas sayuran lainnya. Tujuan pengujian adalah mengetahui daya hasil genotipe-genotipe harapan cabai rawit pada agroekosistem dataran tinggi di Pangalengan. Pengujian menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak, dengan empat ulangan. Bahan pengujian terdiri dari empat genotipe harapan cabai rawit yang merupakan koleksi plasma nutfah Balai Penelitian Tanaman Sayuran, yaitu CRM 01, CRM 02, CRM 03, dan CRM 04 serta tiga varietas pembanding, yaitu Hot Seed, Patra, dan Bara. Pengujian dilakukan di Desa Gunung Cupu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, 1.500 m dpl. Waktu pengujian bulan Maret sampai dengan Desember 2014. Data yang diamati meliputi data morfologi tanaman dan produktivitas hasil. Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan karakter fenotipik antartujuh genotipe yang diuji. Genotipe CRM 03 menampilkan potensi hasil yang tertinggi (9,64 ton/ha), dengan karakter buah muda berwarna putih dan buah tua berwarna merah oranye. Genotipe CRM 03 dan genotipe Bara sangat cocok ditanam di dataran tinggi Pangalengan karena memiliki potensi hasil yang tinggi, yaitu CRM 03 mencapai 9,64 ton/ha sementara varietas pembanding Bara 8,76 ton/ha. Genotipe CRM 03 diharapkan akan menjadi varietas unggul baru cabai rawit yang mempunyai produktivitas tinggi dan cocok ditanam di Pangalengan dan akan mendongkrak produktivitas cabai rawit di Pangalengan dan daerah lainnya yang mempunyai agroekologi mirip dengan dataran tinggi Pangalengan.KeywordsCabai rawit (Capsicum sp.); Genotipe; Hasil; Dataran tinggiAbstractChili (Capsicum sp.) is the main vegetable for farmers in the highland because it has high economic value and can be grown intercrop with others vegetables. The objective of the research was to test advanced genotypes of chili on yield under ecosystem highland of Pangalengan. The experimental design was randomized complete block design with four replications. Four genotypes of chili that were CRM01, CRM 02, CRM 03, and CRM 04 derived from advanced genotype from Indonesian Vegetables Research Institute and three varieties as comparison (Hot seed, Patra, and Bara) were used for treatments. The trial was conducted at Pangalengan, Bandung District, West Java Province, 1.500 m above sea level. The experiment was conducted since March until December 2014. Data observed was plant morphology and yield productivity. The result showed that was different phenotypic among the seven genotypes tested. CRM 03 Genotype was showed highest yielding (9.64 ton/ha), which has fruit character white and red orange for young and mature fruit. CRM 03 genotypes as well as variety of Bara was suitable to be grown in highland of Pangalengan due to high yielding. Yield obtained from CRM 03 was 9.64 ton/ha, whereas, Bara was 8.76 ton/ha. CRM 03 genotype hopefully can be released as a new variety with high yielding and adapted for Pangalengan and others locations similar to Pangalengan.
PenerapanTeknologi Input Luar Rendah Pada Budidaya Cabai Merah untuk Mengurangi Penggunaan Pupuk dan Pestisida Sintetik (Implementation of Low External Input Technology for Chili Pepper Cultivation to Reduce Fertilizer and Synthetic Pesticide) Wiwin Setiawati; Agus Muharam; Agus Susanto; Evita Boes; Abdi Hudayya
Jurnal Hortikultura Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v28n1.2018.p113-122

Abstract

Penggunaan input produksi yang tinggi seperti pupuk dan pestisida pada budidaya cabai merah merupakan ancaman yang serius terhadap kesehatan dan lingkungan. Salah satu teknologi alternatif yang semakin sering dijajagi penerapannya adalah teknologi low external input technology (LEIT). Kelebihan teknologi LEIT adalah menggunakan bahan agro kimia secara benar, tepat waktu, dosis dan cara sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, baik pencemaran tanah, air dan udara, produksi tetap tinggi, secara ekonomi menguntungkan dan aman untuk dikonsumsi. Beberapa teknologi yang dapat digunakan dalam teknologi LEIT di antaranya penggunaan kompos untuk mengurangi pupuk buatan, sistem polikultur, dan penutup tanah dengan kacang - kacangan. Tujuan penelitian adalah menghasilkan LEIT pada budidaya cabai merah dengan memanfaatkan sumber daya hayati (SDH) domestik yang dapat mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida sintetik serta ramah lingkungan mulai dari pengendalian input, pengendalian proses dan quality control. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang dari bulan Maret sampai November 2014. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang diuji adalah kombinasi dari varietas, bahan organik dan NPK, sistem tanam dan pengendalian OPT serta teknologi konvensional sebagai pembanding. Hasil menunjukkan bahwa penerapan LEIT (30 ton kompos PKSTT, NPK 625 kg/ha, penggunaan ATECU berdasarkan ambang pengendalian, biopestisida BPP pegunungan pada saat berbunga dan tumpangsari antara cabai merah dan buncis tegak) memberikan hasil terbaik untuk budidaya cabai merah ramah lingkungan. Penerapan teknologi LEIT tersebut dapat menekan penggunaan pupuk NPK sebesar 37,5%, penggunaan pestisida 50 – 60%, produksi tetap tinggi (9,49 ton/ha), meningkatkan pendapatan 27,71%, aman terhadap predator M. sexmaculatus dan ramah lingkungan.KeywordsCapsicum annuum; LEIT; Ramah lingkunganAbstractChili pepper cultivation reliance on synthetic-chemical fertilizers and pesticides is having serious impacts on health and the environment. Low external input technology (LEIT) was one of technology which recently can be applied. It does not mean the elimination of these materials. Yields are maintained through greater emphasis on cultural practices, IPM, and utilization of on-farm resources and management such as legume cover crops, cropping system and compost can supply the total nitrogen requirements, biopesticide to reduce the use of the chemical pesticide. These technology reduced environmental degradation, maintain agricultural productivity, promote economic viability in both the short and long term and maintain stable rural communities and quality of life. The objectives were to produce LEIT on the chili pepper cultivation that using biological resources which can reduce the need for domestic fertilizers and synthetic pesticides safe for consumption and environmentally friendly from the input control, control process, and quality control. The goal of this experiment was to support the implementation of product safety and increase biodiversity, especially in useful life (parasitoids and predators). The research conducted at Indonesian Vegetables Research Institute, Lembang from March to November 2014. Randomized block design consisting of nine treatments and three replications was used. Organic materials, compost, NPK doses, cropping systems and the use of insecticides were used as treatments. The results showed that application of LEIT such as the use of compost 30 ton/ha, NPK 625 kg/ha, application of ATECU insecticide based on control threshold, application of mountain biopesticide at flowering and intercropping between chili pepper and bean were the best treatments for environmentally friendly of chili pepper cultivation. This technology was able suppress the use of NPK fertilizer at 37.5%, the use of pesticides 50-60%, production remains high (9.49 ton/ha), increase demand (27.71%), safe for M. sexmaculatus predator, and environmentally friendly.
Budidaya Kubis di Dalam Rumah Kasa Dalam Upaya Menekan Serangan Hama (Cultivation of Cabbage in the Netting House in Order to Reduce Pests Infestation) Laksminiwati Prabaningrum; Tonny Koestoni Moekasan
Jurnal Hortikultura Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v27n1.2017.p87-94

Abstract

Salah satu kendala dalam budidaya kubis ialah serangan hama utama yaitu ulat daun kubis  Plutella xylostella dan ulat krop kubis Crocidolomia binotalis. Penggunaan penghadang fisik atau rumah kasa sedang dikembangkan sebagai alternatif cara pengendalian selain menggunakan insektisida. Informasi mengenai sejauh mana pengaruh penggunaan rumah kasa terhadap serangan hama-hama tersebut pada budidaya kubis di Indonesia masih terbatas. Oleh karena itu  penelitian untuk menguji kemampuan rumah kasa dalam mencegah serangan hama kubis dilakukan di Kebun Percobaan Margahayu (1250 m dpl.), Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang, dari bulan Desember 2014 sampai April 2015. Penelitian disusun menggunakan petak berpasangan dengan dua macam perlakuan, yaitu budidaya kubis di dalam rumah kasa (A) dan budidaya kubis di lahan terbuka (B). Tiap  perlakuan diulang sebanyak empat kali. Aplikasi insektisida dilakukan jika populasi hama telah mencapai ambang pengendalian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan rumah kasa mampu menekan populasi ulat daun kubis dan kerusakan tanaman oleh serangan ulat krop kubis, sehingga dapat mengurangi jumlah aplikasi insektisida sebesar 62,50%, dengan hasil panen lebih tinggi sebesar 13,75% dan kualitas krop kubis tetap tinggi.KeywordsKubis (Brassica oleracea var. capitata); Plutella xylostella; Crocidolomia binotalis; Aplikasi insektisidaAbstractInfestation of key pests, Plutella xylostella and Crocidolomia binotalis is one of constraints in cabbage cultivation. The use of netting house is being developed as an alternative tactic for controlling the pests. Information of effect of netting house in cabbage cultivation in Indonesia is limited. Therefore the experiment to test the potency of netting house to reduce pests infestation was conducted at Margahayu Research Garden (1,250 m asl.), Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang, from December 2014 until April 2015. The experiment was arranged using paired comparison with two treatments and each treatment was replicated four times. The treatments tested were: (A) cabbage cultivation in the netting house and (B) cabbage cultivation in open field. The construction of the netting house made from metal with 2.5 m high. The roof made from the screen with specification of R10-215TrM3-80 mesh 36 with 58 holes/cm2, and the wall with specification of R2-C225TrM2-70 mesh 66 with 127 holes/cm2. Insecticide was applied if the pest population reached the control threshold. The result showed that compared with cabbage cultivation in open field, cabbage cultivation in the netting house: (1) was able to reduce population of P. xylostella larvae and plant damage due to C. binotalis, so that number of insecticide application was reduced by 62.50%, (2) increased the yield by 13.75%, and (3) produced high quality cabbage crop that showed by dietary fibre of 0.88% and density of crop of 3.89 mm/second/100 g.

Page 76 of 117 | Total Record : 1166


Filter by Year

1999 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue