cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02161192     EISSN : 25414054     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian (J.Pascapanen) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian pascapanen pertanian. Jurnal ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 258 Documents
Efektivitas Antimikroba Ekstrak Kulit Manggis Terhadap Beberapa Bakteri Kontaminan (S. Aureus, Salmonella Sp dan E.Coli) Ermi Sukasih; Tati Sukarti; Wisnu Broto
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v8n1.2011.32-38

Abstract

Penggunaan formalin sebagai pengawet bahan pangan asal hewani masih sering dijumpai di pasaran khususnya pasar tradisional, Formalin merupakan senyawa kimia berbahaya yang tidak termasuk dalam golongan Bahan Tambahan Pangan (BTP) yang dapat digunakan sebagai pengawet, sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan konsumen. Bahan pengawet yang aman dan efektif sebagai alternatif untuk mengawetkan bahan pangan asal hewani perlu dieksplorasi. Kulit manggis mengandung golongan senyawa polifenol (flavonoid dan ianin) bersifat antimikroba, sehingga dapat berfungsi sebagai pengawet makanan maupun biofarmaka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antimikroba ekstrak kulit manggis terhadap beberapa bakteri kontaminan seperti S. aureus, Salmonella sp dan E. coli. Empat jenis eksirak kulit manggis diuji pada ketiga bakteri pada konsentrasi 10,20,30,40 dan 50%, dengan menggunakan metode kertas cakram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit manggis memiliki aktifitas positif pada mikroba S. aureus dan E. coli. namun menunjukkan aktifitas negatif terhadap Salmonella sp. Ekstrak kulit manggis dengan metode maserasi kering pelarut etanol (ekstrak C) dan pelarut aquadcst dan asam sitrat (ekstrak D) menunjukkan aktivitas positif yang lebih luas daripada ekstrak kulit manggis dengan mctode maserasi basah pelarut etanol (ekstrak A) dan pelarut aquadest dan asam sitrat (ekstrak B). Kulit manggis yang di ekstrak dengan aquadest (ekstrak B dan D) sedikit lebih efektif terhadap penghambatan bakteri gram negatif (E. 'coli) dan positif (S. aureus), sementara itu ekstrak kulit manggis yang diekstrak dengan ethanol hanya efektif menghambat bakteri gram positif (S. aureus). Ekstrak kulit manggis dengan maserasi kering dengan pelarut aquadest (ekstrak D) mempunyai daya hambat terbesar terhadap E. coli dengan zona diameter 24,5 mm. Nilai penghambatan minimum senyawa antimikroba dari ekstrak kulit manggis terhadap E. coli berkisar antara 0.38 hingga 0,40%, sementara terhadap S. aureus adalah 0,14 hingga 1,45%. Antimicrobial Effectiveness of Mangosteen Pericarp Extract Against Several Contaminant Bacteria (S. aureus, Salmonella sp and E. coli).To date formaldehyde is still commonly used as a preservative for animal products, especially those sold in traditional markets. In fact, formaldehyde is highly toxic to humans and not approved as a food additive. Therefore, potential and safe alternatives to formalydehyde are required. Mangosteen pericarp contains bioactives which have antimicrobial activities. The present study was aimed at investigating the antimicrobial effectiveness of mangosteen pericarp extract against S. aureus, Salmonella sp and E. coli. The antimicrobial effectiveness of four types of mangosteen pericarp extracts at concentrations of 10. 20, 30, 40 and 50% were evaluated using the paper disc method. The result showed that mangosteen pericarp extract showed antibacterial activity against S. aureus and E. coli, but not against Salmonella sp. The extracts produced through dry maceration showed stronger antibacterial actvities than those produced by wet maceration. The aqueous extracts of mangosteen pericarp were effective in inhibiting E. coli (gram negative bacteria) and S. aureus (gram positive bacteria), while the ethanolic extracts showed an inhibitory effect against S. aureus only. Extraction using dry maceration method and distilled water as the solvent produced extracts with the widest inhibition zone against E. coli (24.5mm in diameter). The minimum inhibitory concentrations (MIC) of mangosteen pericarp extract against E. coli and S. aureus were about 0.38-0.40%, and 0.14-1.45%, respectively.
Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Koagulan Terhadap Fraksi Protein Terkoagulasi dan Tekstur Curd Kedelai (Glycine max) Dahrul Syah; Rizal Fahmi; Dadang Supriatna; RH. Fitri Faradilla
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v8n2.2011.56-63

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengaruh jenis koagulan pada berbagai konsentrasi terhadap fraksi protein curd yang dihasilkan serta korelasinya terhadap tekstur. Koagulan yang digunakan yaitu CaSO4. 2H2O dan CH3COOH pada konsentrasi 0,015 N, 0,03 N dan 0,045 N. Fraksi protein curd didapat dengan fraksinasi Osborne dan dianalisis lebih lanjut dengan metode sodium dodecyl sulfate - polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE). Fraksi protein yang didapat dari fraksinasi Osborne yaitu albumin. globulin, prolamin, dan glutelin. Tekstur Curd kedelai dianalisis secara objektif dengan texture profile analysis (TPA) yang mencakup kekerasan, elastisitas, kohesivitas, dan gumminess. Dari hasil penelitian diketahui bahwa proses pengolahan kedelai menjadi curd menyebabkan penurunan konsentrasi fraksi protein albumin dan globulin yang signifikan. sebaliknya konsentrasi fraksi protein glutelin meningkat secara drastis. Pada konsentrasi koagulan 0.045 N. terdapat variasi pola pita fraksi protein SDS-PAGE pada kedua jenis curd(CaS04.2H20  dan CH,COOH). Jenis dan konsentrasi koagulan juga diketahui berpengaruh nyata terhadap profil tekstur objektif curd (p=0,05).Terdapat korelasi yang signifikan antara kadar fraksi protein terhadap profil tekstur objektif curd CaS04.2H2O. Sebaliknya, tekstur objektif curd CH3COOH kurang dipengaruhi oleh kadar fraksi protein. Effect of Coagulant Type and Concentration Toward Coagulated Protein Fraction and Soy Curd Texture (Glycine max] The aims of this research were to explore the effect of coagulant type and coagulant concentration on curd protein fraction. curd texture, and the correlation between these variables. Coagulants used were CaSO4. 2H2O and CH3COOH with 0.0 I5 N, 0.03 N, and 0.045 N concentration. Curd protein fractions were obtained by Osborne fractionation and was further analyzed using sodium dodecylsulfate acrylamide gel electrophoresis (SDS­ page) method. The protein obtained were albumin, globulin. prolamin, and glutelin. Curd textures that include hardness, elasticity, cohesiveness, and gumminess were analyzed by texture profile analysis (TPA). The result showed that conversing soybean to be curd caused decreasing of albumin and globulin concentration significantly. In contrast, glutelin concentration was increasing significantly. There were variations of protein fraction pattern of band SDS-PAGE between two type of curd (CaSO4. 2H2O and CH3COOH) in 0.045 N. Types and concentrations of coagulant were also influenced significantly to curd texture profile (p=0.05). There was a significant corelation between protein fraction content on objective texture profile of CaSO4. 2H2O curd. On the other hand the objective texture profile of CH3COOH curd was not influenced by protein fraction content.
Perbaikan Sifat Pati Ubi Jalar (Ipomoea Batatas L) Dengan Heat Moisture Treatment dan Aplikasinya Pada Pembuatan Beras Ubi Jalar Sri Widowati; nFN Suismono; N.E. Suyatma; H.A. Prasetia
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v8n1.2011.1-10

Abstract

Kendala dalam pemanfaatan pati ubi jalar pada pembuatan beras ubi jalar yaitu rendahnya sifat viskoelastik bahan sehingga tekstur produk olahan yang dihasilkan cenderung rapuh. Perbaikan sifat viskoelastik pati dapat dilakukan dengan Heat Moisture Treatment (HMT). Tujuan penelitian ini untuk memperoleh pati dengan profil viskositas pasta yang lebih tahan terhadap pengadukan dan panas serta memiliki sifat fleksibilitas gel yang cocok ketika didinginkan schingga dapat digunakan pada pembuatan beras ubi (rasbi). Pembuatan rasbi dilakukan dengan menggunakan tepung ubi jalar dari varietas Cangkuang, Sukuh dan Narito serta pari ubi jalar dari varitas sukuh dengan dan tanpa HMT (pati alami). Modifikasi pati ubi jalar varietas Sukuh dengan HMT dilakukan pada 80-100°C selama 2-4 jam. Proses pembuatan rasbi meliputi pembutiran, pengukusan dan pengeringan. Hasil penelitian menunjukkan pati HMT terpilih diperoleh dari pemanasan pada 80°C selama 4 jam. Pati tersebut memiliki viskositas breakdown terendah 0 BU dan viskositas setback 30 BU. Entalpi gelatinisasi pati HMT terpilih (125, I 0 J/g) lebih tinggi dibandingkan pada pati alami (85,12 J/g). HMT menginduksi terjadinya gelatinisasi parsial sehingga tidak mengakibatkan terjadinya perubahan mikrostruktural pati. Oleh karenanya secara fisik tidak ditemukan perbedaan nyata karakteristik tekstur rasbi berbahan baku pati alami maupun HMT. Namun, penggunaan pati HMT berpengaruh nyata pada penurunan nilai KPAP, penurunan daya rehidrasi dan peningkatan waktu tanak rasbi. Improvement Of Sweet Potato (Ipomoea Batatas L) Starch Characteristics Using Heat Moisture Treatment And Its Application To Sweet Potato Rice ProcessingThe constraint on application of sweet potato starch to sweet potato rice making is its poor viscoelastic properties, which make the texture tends to be brittle. Viscoelastic properties can be improved by Heat Moisture Treatment (HMT). The aim of this research was to obtain sweet potato starch with good pasting properties, more resistant against stirring and heat, and proper gel flexibility for sweet potato rice making. Sweet potato rice was made from sweet potato flour of Cangkuang, Sukuh and Narito varieties, and from sweet potato starch of Sukuh variety with and without HMT process. HMT of Sukuh sweet potato starch was done at 80-IOO°C for 2-4 hours. Sweet potato rice making included granulation, steaming and drying. The results showed that the selected HMT starch was produced after heating at 80°C for 4 hours and it showed the lowest breakdown viscosity (0 BU) and setback viscosity of 30 BU. Gelatinization enthalpy value of HMT starch (125.10 J/g) was higher than that of native (non-HMT) starch (85.12 J/g). HMT induced partial gelatinization, so that it did not change the microstructure of starch. For that reason, the textural properties of sweet potato rice made from HMT and native starches were insignificantly different. However, the application of HMT starch resulted in significant reduction in cooking loss and rehydration, but significant increase in cooking time.
Edible Coating Berbasis Pati Sagu dan Vitamin C Untuk Meningkatkan Daya Simpan Paprika Merah (Capsicum Annum Var. Athena) nFN Miskiyah; nFN Widaningrum; Christina Winarti
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v8n1.2011.39-46

Abstract

Paprika merah berpotensi dalam perdagangan baik pasar lokal maupun ekspor. Paprika merah mempunyai daya simpan terbatas, sehingga diperlukan teknologi penanganan pascapanen untuk mempertahankan kesegarannya. Salah satunya adalah penggunaan edible coating. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh penggunaan edible coating berbasis pati sagu dan asam askorbat pada paprika merah selama penyimpanan. Rancangan penelitian yaitu rancangan acak lengkap pola faktorial yang terdiri dari 3 faktor, yaitu faktor A:konsentrasi vitamin C (A0:0%;  A1:0,5%; dan A2:1,0%); faktor B:lama pencelupan (B1 =3 menit dan B2=5 menit); dan faktor C:suhu penyimpanan (C1 :20°C dan C2:8°C). Parameter yang diukur susut bobot, warna, dan kekerasan yang dilakukan setiap tiga hari sekali, serta vitamin C dan kadar air yang dilakukan seminggu sekali. Pengamatan dilakukan hingga paprika mengalami kerusakan, Adapun parameter kerusakan yang dimaksud adalah kisut, adanya kapang, dan lepasnya hagian batang. Hasil menunjukkan bahwa kombinasi 3 perlakuan penelitian yaitu konsentrasi asam askorbat, lama pencelupan, dan suhu penyimpanan hanya berpengaruh terhadap susut bobot. Sedangkan suhu mampu mempertahankan kekerasan dan warna paprika merah. Penambahan asam askorbat efektif untuk meningkatkan kandungan Vitamin C paprika merah selama penelitian. Sehingga berdasarkan hasil analisis terhadap seluruh parameter yang diamati, maka kombinasi perlakuan asam askorbat 0,5%, lama pencelupan 3 menit, dan suhu penyimpanan pada 8°C memberikan hasil terbaik. Edible Starch Coating with Vitamin C to Prolong the Storage Life of Red Paprika (Capsicum annum var. Athena).Red paprika is highly marketable locally and internationally. However, it has a limited storage life and hence it requires appropriate postharvest treatments to maintain its freshness during storage and distribution. The aim of this study was to investigate the influence of edible starch coating with vitamin C (ascorbic acid) on quality and storage life of red paprika. The present study was arranged in a completely randomized design with three types of treatments, (a) concentration of vitamin C (0%, 0.5%, and 1.0%), (b) dipping time (3 min and 5 min), and (c) storage temperature (20°C and 8°C). Weight loss, color, and hardness of treated red paprika was determined every three days, while vitamin C and moisture content were determined weekly. The experiment and observation were stopped when red paprika decayed. The result showed that combination of the three treatments (concentration of ascorbic, dipping time, and storage temperature) influenced the weight loss, but not the other quality parameters. The storage temperature applied could maintain the color and hardness of red paprika. The addition of ascorbic acid increase vitamin C content of red paprika. The best quality and storage life of red paprika was obtained when the edible starch coating was applied with 0.5% ascorbic acid, 3 min dipping time, and 8°C storage temperature.
Teknologi Pengolahan Roti Kering Substitusi Tepung Sukun Ira Mulyawanti; nFN Hernani; nFN Febriyezi; Sri Widowati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v8n2.2011.64-71

Abstract

Tepung sukun dapat dimanfaatkan  sebagai alternatif  unruk mensubstitusi  terigu dalam pembuatan  roti. Namun  karena tepung  sukun tidak mengandung  gluten, maka penggunaannya  dalam roti tidak dapat 100% dan untuk memperbaiki  penerimaan  organoleptik  roti substitusi  tepung  sukun,  perlu diolah  lebih lanjut menjadi  roti kering.  Penelitian  dilakukan  untuk mengetahui  pengaruh  substitusi terigu dengan tepung sukun (10%,20%,30%) dan jenis lemak (shorthening, margarin, mentega)  yang digunakan  terhadap karakteristik roti kering yang dihasilkan.  Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa penambahan  tepung  sukun berpengaruh  nyata terhadap  volume spesifik dan sifat fungsional  roti kering.  Perbandingan  tepung sukun dengan terigu 10:90 menghasilkan  roti kering dengan karakteristik kimia dan fisik yang tidak berbeda nyata dengan penggunaan  terigu  100%, yaitu dengan kadar lernak 9,0%, protein  14,30%, kadar air 5,36%, volume spesifik  3,66 ml/g, amilosa  16,57%, pati terlarut65,15%, dan daya cerna pati 77,58%.  Secara organoleptik,  panelis menyukai  produk roti kering substitusi  tepung sukun 10% dengan kriteria suka untuk rasa, warna, aroma, penampakan  dan kesukaan keseluruhan.  Jenis lemak berpengaruh  terhadap kandungan  lemak, protein, aktivitas air, dan tingkat penerimaan  roti kering. Penggunaan mentega menghasilkan  roti kering terbaik dengan kandungan  lemak 8,4%, protein  15,48%, dan air 6,08%. Secara organoleptik  panelis menyukai  penggunaan  mentega  dengan  kriteria  suka pada rasa, warna,  aroma,  penampakan, dan kesukaan  keseluruhan.  Dengan demikian,  tepung sukun dapat mensubstitusi  terigu sebanyak  10% untuk menghasilkan  roti kering yang baik. Processing Technology of Rusk with Breadfruit Flour Substitution.Breadfruit flour is a potential  substitute  for wheat  flour in bread making.  However,  since breadfruit flour does not contain gluten, complete  substitution  of wheat flour with breadfruit flour in bread is impossible  and to improve sensory characteristics of bread with breadfruit flour substitution re-baking  is required  to produce rusk. This study was conducted to investigate  the effect of partial substitution of wheat flour with breadfruit  flour (10%,20%,30%) and type of fat (shortening, margarine, butter) on physico­ chemical  characteristics and sensory  acceptability  of rusk. The results showed that substitution  of wheat flour with breadfruit  flour significantly  influenced  the specific  volume  and functional  properties  of rusk. The physico-chemical characteristics of rusk made from 10% breadfruit  flour substitution,  which were fat 9.0%, protein  14.30% and moisture 5.36%, specific volume 3.66 ml/g, amylose 16.57%, soluble starch 65.15%,  and starch digestibility  77.58%,  were insignificantly different  from those of rusk made from 100% wheat flour. The type of fat used influenced  the fat and protein  contents,  water activity,  and sensory  acceptability of rusk. The use of butter produced  the best rusk which contained  fat 8.4%, protein  15.48%, and moisture  6.08%. In general, sensory panelists  liked the taste, color, flavor, appearance  and overall characteristics  of rusk made from 10% breadfruit  flour substitution  with the use of butter. The results suggest that breadfruit  flour could substitute  10% of wheat flour in production  of rusk with acceptable  physico-chemical and sensory  characteristics.
Aplikasi Asap Cair dan Gel Lidah Buaya (Aloe Vera L.) Untuk Memperpanjang Masa Simpan Buah Pepaya Slamet Budijanto; Sriani Sujiprihati; Dini Rizkyah; Sulusi Prabawati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v8n1.2011.11-18

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan anti fungi asap cair dan pelapisan gel lidah buaya dalam memperpanjang masa simpan buah pepaya. Penelitian dilakukan dengan rnenggunakan Rancangan Kelornpok Lengkap Teracak (RKLT) dua faktor. Faktor pertama perlakuan perendaman asap cair dan faktor kedua perlakuan pelapisan gel lidah buaya. Hasil penelitian perlakuan asap cair dapat menekan laju respirasi sedangkan perlakuan lainnya tidak dapat menghambat laju respirasi. Semua perlakuan tidak menurunkan susut bobot, dan padatan total terlarut (PTT). Perlakuan yang diberikan dapat memperpanjang masa simpan selama dua sampai tiga hari, dan dapat memperlambat pelunakan buah pepaya. Perlakuan asap cair, pelapisan gel lidah buaya dan kombinasi asap cair dan pelapisan gel lidah buaya sangat berpengaruh pada kesukaan panelis dalam menilai penampilan, aroma, rasa, tekstur dan warna daging buah pepaya. Buah pepaya yang diberi perlakuan pelapisan gel lidah buaya mempunyai mutu sensori yang lebih baik. . Liquid Smoke and Aloe vera Gel Application for Extending Shelf Life of PapayaThe aim of this research was to study the effect of liquid smoke and Aloe vera gel in extending shelf life of papaya fruit. This study used Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors. The first factor was liquid smoke. The second factor was of coating (C). comprising: without coating (Co) and with coating using Aloe vera gel (Cl). The result showed that liquid smoke treatment could suppressed the respiration rate significantly that the others could not. All of treatment did not influence to fruit weight loss and total solute solid. However, these treatments significantly extended self life for two to three days and delayed fruit softening. Moreover, the sensory analysis revealed that liquid smoke treatment resulted in significant fruit performance Improvement, and Aloe vera gel treatment significantly enhanced fruit flavor, smell, texture and color. Consumers preferred papaya fruit with Aloe vera gel coated treatment.
Sistem Penunjang Keputusan Untuk Menentukan Kelas Mutu Jagung Dengan Menggunakan Teknologi Pengolahan Citra Digital dan Jaringan Syaraf Tiruan Agus Supriatna Soemantri; nFN Abubakar
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n1.2010.53-63

Abstract

lndustri pangan dan pakan yang menggunakan jagung sebagai bahan bakunya saat ini berkembang dengan pesal. Namun perkembangan industri tersebut belum diimbangi dengan jaminan kualitas bahan bakunya. Saat ini penilaian mutu jagung masih dilakukan secara konvensional oleh para ahli yang sudah berpengalaman, namun cara seperti ini memiliki kelemahan seperti (1) adanya faktor subyektivitas yang menyebabkan bias di antara satu pengamat dengan pengamat lainnya; (2) adanya kelelahan fisik bila pengamat bekerja terlalu lama sehingga hasil pengamatan tidak konsisten; serta (3) waktu yang diperlukan untuk pengamatan relatif lebih lama. Sehubungan dengan permasalahan di atas, maka diperlukan suatu cara untuk mengidentifikasi mutu jagung yang cepat, akurat dan mudah dioperasikan, sehingga meningkatkan efisiensi kerja dalam pengkelasan mutu jagung. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sistem penunjang keputusan untuk menentukan kelas mutu jagung, menggunakan teknologi pengolahan citra digital dan jaringan syaraf tiruan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi pengolahan citra digital telah mampu membangkitkan data numerik berupa karakteristik fisik citra jagung. Karakteristik citra jagung yang berupa nilai R,G,B dan HSI menunjukkan nilai yang spesifik dan rata-rata nilainya tidak tumpang tindih sehingga sangat memudahkan dalam proses trainingnya, demikian juga pada karakteristik fisik citra yang berupa nilai luas, keliling dan panjang dari masing-masing butir jagung memiliki nilai yang spesifik. Model Jaringan Syaraf Tiruan yang dikembangkan adalah model backprogcuion dengan 10 layer input, 20 hidden layer dan 4 layer output menghasilkan bobot tertinggi pada training ke 40000 dengan nilai akurasi sebesar 98%, terdiri dari 100 % butir utuh, 98 % butir rusak, 98 % butir pecah dan 96 % butir berjamur, Sedangkan pada proses validasi menghasilkan akurasi sebesar 92 %, terdiri dari 97 % butir utuh, 94 % butir rusak, 88 % butir pecah dan 87 % butir berjamur. Sistem penunjang keputusan yang telah dibuat selanjutnya dapat diimplementasikan dalam bentuk CD untuk memudahkan pengguna.Decision Support System For Determining The Quality Of Corn By Using Digital Image Processing And Artificial Neural NetworkFood and feed industries that use corn as main raw material are growing rapidly. However, industrial development is not supported with the quality of raw material. Currently grain quality assessment is done conventionally by a experienced assessor and it has some weaknesses such as: (I) subjectivity factor that causes different result among analysts; (2) physical exhaustion when the analysts work too long resulted in inconsistend results and (3) need longer observation. In relation to these problem, a method for identifying the quality of corn fastly, accurately and easily operated is required to create the efficiency of identification of the physical quality of corn. This research was aimed to creating a decision support system for determination the quality grade of corn using was digital image processing technology and artificial neural network. The results showed that digital image processing was able to generate numerical data such as physical properties of corn. Image characteristics of corn such as R, G, Band HSI showed unique values and un overlapped averages facilitating the training process, as well as determining the physical properties such as area value, circumference and length of each grain of corn. A backprogation model of Artificial Neural Network model was developed 10 input layers, 20 hidden layers and 4 output layers. The highest results was obtained from the 40000'h training with and the accuracy of 98%, consisting of 100% whole grain, 98% damaged grains, 98% broken grains and 96 % moldy grain. While the validation process produced 92% accuracy, consisting of 97% whole grain, 94% damaged grains, 88% broken grains and 87% moldy grain. Decision support systems that have been developed can be further implemented in the form of CDs, for easy use
Aplikasi Tepung Jewawut (Pennicetum Glaucum) Dan Whey Tahu Untuk Memberikan Nilai Tambah Snack Bar Fransiska R Zakaria; Stephanie Wijaya; Yadi Haryadi; Ridwan Thahir; nFN Suismono
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n2.2010.103-109

Abstract

Snack bars dengan kandungan gizi dan antioksidan sekarang ini sangat diminati masyarakat pekerja elit karena selain praktis juga dapat memberikan dampak yang baik bagi kesehatan. Tepung jewawut, air tahu dan daging kelapa telah dikenal sebagai sumber zat gizi dan komponen bioaktif. Tujuan penelitian ini adalah menggunakan jewawut (Pennisetum glaucum) dan air tahu untuk membuat snack bars dengan rasa unik serta nilai gizi dan antioksidan yang tinggi sehingga dapat diterima dengan baik oleh konsumen. Dalam penelitian ini diperoleh enam formulasi snack bars dengan komposisi tepung jewawut, daging kelapa parut kering dan air tahu yang berbeda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keenam formulasi yang diperoleh tidak mempunyai rasa dan tekstur yang berbeda berdasarkan uji organoleptik. Aktivitas antioksidan yang tertinggi terdapat pada formula yang mengandung air tahu dan tepung jewawut yang tertinggi. Fomula dengan kandungan air tahu yang tertinggi mengandung serat pangan yang tertinggi juga. Sedangkan formula yang memiliki aktivitas antioksidan tertinggi mempunyai kadar serat yang terendah. Dengan demikian, disimpulkan babwa formula dengan kadat serat total dan aktivitas antioksidan optimum adalah formula dengan rasio tepung jewawut : daging kelapa sebesar 1: 1 dengan penambahan air tahu 40%. Formula ini mengandung serat pangan total 10,93%, kapasitas antioksidan setara 7,85 mg vitamin C per/100g. Formula ini juga mengandung kalsium 1574,17ppm, Fe 53,33 ppm, dan Zn 22,43 ppm. The Usage of Barley Flour (Pennicetum Glaucum) and Tofu Whey for Increasing the Biological Value of Snack Bar.Snack bars with beneficial nutritional and antioxidant content are considered desirable, especially in bringing good impact for better health. Pearl millet flour, tofu whey and coconut flesh are known for their nutritive and bioactive compound value. The aim of this study was to utilize pearl millet (Pennisetum glaucum) and tofu whey in producing snack bar with unique taste, good nutrition and antioxidant, and high consumer acceptability. There were six formulations of snack bar from two different variables combination, which were the ratio of pearl millet flour to desiccated coconut and percentage of tofu whey. The results showed that all formula snack bars have no significant difference in preference of taste and texture based on organoleptic test. The highest activity of antioxidant was on the formula which contained the highest amount of tofu whey and pearl millet flour. Formula which contained the highest amount of tofu whey had the highest dietary fiber. However, the formula that had the highest antioxidant activity had the lowest total dietary fiber. Based on the results, the best formula with the optimum total dietary fiber and antioxidant activity was the formula with 1:1 ratio of pearl millet flour to desiccated coconut and 40% tofu whey as it had 10.93% total dietary fiber and antioxidant capacity 7.85 mg vitamin C equivalent/100g. This formula also had 1574.17 ppm of calcium, 53.33 ppm of iron, and 22.43 ppm of zinc.
Optimasi Proses Metanolisis Dalam Minyak Jarak Pagar (Jatropha Curcas L) Dengan Metode Permukaan Respon Niken Harimurti; Djajeng Sumangat; Winda Haliza; nFN Risfaheri
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n1.2010.16-22

Abstract

Minyak jarak pagar mempunyai nilai kalor total yang tidak berbeda jauh dengan nilai kalor total bahan bakar minyak konvensional. Namun, viskositas minyak jarak pagar kasar yang tinggi menyulitkan penggunaannya secara langsung sebagai bahan bakar. Untuk menurunkan nilai viskositas minyak nabati ini, dilakukan proses transesterifikasi dengan metanol sehingga dihasilkan metil ester dari asam-asam lemaknya. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kondisi optimum nisbah molar metanol terhadap minyak dan waktu reaksi transesterifikasi dalam memproduksi metil ester. Optimasi menggunakan Metode Permukaan Respon dengan rancangan komposit pusat faktorial penuh 22 Nisbah metanol terhadap minyak jarak (x1) dan waktu reaksi (X2) berada dalam selang 4,4<X1<6,6 dan 60<X2 <10. Reaksi transesterifikasi menggunakan katalis KOH 0,5% dari bobot minyak jarak pagar. Reaksi berlangsung dalam ketel berpengaduk 600 rpm pada suhu 60°C. Perlakuan optimum ditentukan dari karakteristik optimum metil ester yang dihasilkan. Karakterisasi meliputi kadar metil ester (persentase rendemen metil ester), viskositas kinematik dan bilangan asam. Kondisi optimum proses transesterifikasi dicapai pada nisbah molar metanol terhadap minyak jarak pagar sebesar 6,6:1 dan waktu reaksi 60 menit. Pada kondisi optimum tersebut, kadar metil ester, viskostas kinematik, dan bilangan asam masing-masing berkisar 99,192%, 4,167cSt, dan 0,112 mg KOH/g minyak. Secara umum, hasil analisis permukaan respon tersebut telah memenuhi standar mutu biodiesel (SNI 04-7102-2006). Optimization Of Methanolysis Of Jatropha Curcas L Crude Oil Applying Response Surface MethodologyJatropha oil possesses total calorific value which is not significantly different from conventional petroleum diesel. However, its high viscosity makes it difficult to be used directly as fuel. The oil has to be converted into methyl ester through methanolysis (transesterification) process before it could be used effectively to substitute diesel fuel. The aim of this research was finding the optimum condition of the methanol molar ratio to oil and reaction time (duration of transesterification process) on the methyl ester yield and the characteristics of methyl ester especially viscosity and acid number. Optimization was conducted using Response Surface Method. Factors tested in this experiment were molar ratio of methanol to jatropha oil (5:1 and 7:1), and reaction times (50 minutes and 120 minutes). Transesterification process was conducted at 60°C in a reactor equipped with stirrer 600 RPM using KOH 0.5% of oil volume as catalyst. Parameters observed were methyl ester content (indicating percent of methyl ester yield), kinematic viscosity and acid number. Optimum conditions was achieved at molar ratio 6.6: I and reaction time 60 minutes. At these optimum points, the characteristics of methyl ester were as follow: percentage of methyl ester yield 99.192%, kinematic viscosity 4.167cSt and acid number 0.112 mg KOH/g oil. These values met the Indonesian National Standard of biodiesel (SNI 04-7102-2006).
Efektivitas Starter Kering Bakteri Asam Laktat Terhadap Mutu Dadih Sapi Yang Dihasilkan Sri Usmiati; Ermi Sukasih; Sri Yuliani
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v7n2.2010.64-74

Abstract

Penyediaan starter kering bakteri asam laktat dalam pembuatan susu fermentasi mempunyai beberapa keunggulan antara lain mempermudah penanganan dan distribusi, menghindarkan kontaminasi, serta berdaya simpan relatif lebih lama. Salah satu jenis susu fermentasi tradisional lndonesia asli Sumatera Barat adalah dadih yang dibuat secara tradisional menggunakan susu kerbau tanpa starter. Ketersediaan susu kerbau yang makin terbatas perlu dicari alternatif penggantinya antara lain dengan susu sapi yang tersedia relatif melirnpah di beberapa wilayah Indonesia, dengan modifikasi susu skim dan agar-agar sebagai bahan pengisi untuk dapat menghasilkan dadih dengan karakteristik mirip dadih susu kerbau. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efektivitas starter kering bakteri asam laktat dengan metode pengeringan semprot (spray drying) melalui pengamatan karakteristik dadih susu sapi yang dihasilkan. Penelitian didesain menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial, dengan faktor pertama adalah kombinasi starter kering BAL (A1= L. bulgaricus :L.casei (1:1); A2 = L. bulgaricus : L.casei (1:2), dan A3 = S. thermophillus: L. casei (1:2); dan faktor kedua adalah konsentrasi starter kering BAL (B1 = 2 g atau 4% b/v, dan B2 = 3 g atau 6% b/v ke dalam 150 mL susu hasil pemekatan), masing-masing diulang tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dadih susu sapi terbaik adalah menggunakan starter kering kombinasi Streptococcus thermophilus : Lactobacillus casei = 1:2 sebanyak 6% b/v atau 3 g dengan karakteristik memiliki nilai total asam tertitrasi tertinggi (0,038%), kadar air terendah (77,11 %), viskositas yang baik (240,0 cP), total mikroba yang tinggi (1,5x I 011 cfu/mL), kadar protein sebesar 4,2%, dan kadar lemak sebesar 4,89%, dengan tingkat kesukaan yang lebih baik terhadap sensori warna dan rasa. Effectivity of Dried Starter of Lactic Acid Bachteria on the Quality of Cow's DadihUsage the dry starter of lactic acid bacteria for producing fermented milk has some advantages that are ease handling and distribution, avoid contamination, and prolong the storage time of product. One kind of traditional fermented milk in Indonesia original from West Sumatera is dadih which is made of traditionally by using buffalo milk spontaneous fermentation. The limited availability of buffalo milk needs are effort to substitute it, for example the usage of cow's milk which is abundant, modified by skim milk and agar as filler to provide raw material for dadih which has similar characters to buffalo's dadih. This research aims to determine the effectiveness of dry starter of lactic acid bacteria which is produced by spray drying method through the observation of the characteristic dadih of cow's milk produced. Design of research was factorial; the first factor were combination dry starter of lactic acid bacteria (three combinations: Lactobacillus bulgaricus : Lactobacillus casei (1:1); Lactobacillus bulgaricus : Lactobacillus casei (1:2), and Streptococcus thermophillus : Lactobacillus casei (1:2), and the second factor were concentration of dry starter of LAB (two levels of two g (4% w/v) and three g (6% w/v) into 150 mL concentrated cow's milk), each has three replicate. Results of research showed that cow's milk dadih using dry starter of combination of Streptococcus thermophilus Lactobacillus casei = 1:2 for 3 g (6% b/v), it was characterized by highest titrable acidity (0.038%), lowest water content (77.11%), viscosity similar to dadih (240.0 cP), high total microbes (1,5x I 011 cfu/mL), protein content of 4.2% and fat content of 4.89% with better of hedonic value of color and taste of product.

Filter by Year

2004 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 18, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 18, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 17, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 16, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Journal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian More Issue