cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,492 Documents
DESAIN AGROWISATA BUDIDAYA ANGGREK DI KOTA BATU DENGAN PENDEKATAN COMMUNITY BASED TOURISM Jamilah, Putri Farhah
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki potensi besar di sektor pariwisata, termasuk agrowisata. Kota Batu di Jawa Timur mengembangkan agrowisata berbasis pertanian. Desa Sidomulyo yang terkenal dengan budidaya tanaman hias, terutama bunga anggrek. Agrowisata di Desa Sidomulyo akan dirancang dengan pendekatan Community Based Tourism yang melibatkan masyarakat lokal sebagai bagian dari objek wisata. Dengan begitu, petani bunga lokal dapat memperkenalkan budidaya anggrek dan memperoleh manfaat ekonomi secara langsung. Desain agrowisata ini juga menggunakan akan di desain menggunakan metode rasionalisme agar aspek-aspek yang telah diterapkan sebelumnya dapat diterapkan dan dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat setempat.    Kata kunci: Agrowisata, Anggrek, Komunitas, Rasionalisme
One-Stop Wellness Center Dengan Pendekatan Multisensori di Kabupaten Malang Pasha, Valerina
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena meningkatnya tekanan hidup masyarakat urban di Kabupaten Malang berdampak serius terhadap kualitas kesehatan fisik dan mental, seperti meningkatnya tingkat stres, kelelahan emosional, serta penurunan kualitas hidup. Isu yang muncul adalah minimnya fasilitas pemulihan yang menghubungkan aspek fisik, mental, dan emosional dalam satu tempat secara menyeluruh. Fasilitas kesehatan yang ada cenderung bersifat parsial dan belum mempertimbangkan pengalaman sensorik sebagai bagian dari proses penyembuhan. Penelitian ini bertujuan merancang One-Stop Wellness Center dengan pendekatan multisensori sebagai solusi ruang pemulihan holistik. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan intuitionism, melalui observasi tapak dan eksplorasi pancaindra, untuk menangkap fenomena ruang secara utuh. Hasil perancangan menunjukkan bahwa lingkungan multisensori yang memperhatikan elemen visual, auditori, olfaktori, taktil, dan kinestetik mampu menciptakan suasana yang tenang, mendukung pemulihan, dan meningkatkan kesejahteraan psiko-fisik pengguna. Penemuan ini menjelaskan bahwa strategi desain arsitektur yang melibatkan keterlibatan indera secara menyeluruh memiliki pengaruh signifikan terhadap proses penyembuhan. Penemuan ini tidak hanya memperkaya pendekatan desain ruang pemulihan, namun juga memberikan kontribusi baru dalam praktik arsitektur berbasis kesehatan dan kesejahteraan masyarakat urban. Kata kunci : Wellness Center, Multisensori, Intuisi, Kabupaten Malang     The phenomenon of increasing life pressures on the urban population in Malang Regency has serious impacts on the quality of physical and mental health, such as higher levels of stress, emotional exhaustion, and a decline in quality of life. The emerging issue is the lack of recovery facilities that integrate physical, mental, and emotional aspects comprehensively within a single place. Existing health facilities tend to be partial and have not considered sensory experiences as part of the healing process. This study aims to design a One-Stop Wellness Center with a multisensory approach as a solution for holistic recovery spaces. The method used is qualitative with an intuitionism approach, through site observation and sensory exploration, to capture the spatial phenomenon as a whole. The design results show that a multisensory environment that considers visual, auditory, olfactory, tactile, and kinesthetic elements can create a calm atmosphere, support recovery, and improve users' psycho-physical well-being. This finding explains that architectural design strategies involving comprehensive sensory engagement have a significant impact on the healing process. These findings not only enrich the approach to designing recovery spaces but also contribute new insights to health-based architecture practice and the well-being of urban communities. Keywords: Wellness Center, Multisensory, Intuition, Malang Regency
Ecological Low-Tech Architecture pada Pusat Kerajinan Terpadu: Studi Kasus di Pekanbaru Ika, Nurul Tri Kartika
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

  One effort to preserve and develop crafts, which are part of the Malay cultural identity in Pekanbaru, is by designing a craft center that considers environmental and sustainability aspects. This design responds to the condition of urban buildings that tend to neglect local cultural values and comfort. The site is located in the rattan craft area of Pekanbaru City, which has the potential to attract tourists while providing comfort for visitors. The design process began with identifying problems, cultural potential, and the availability of local materials, then analyzed using the theory of Ecological Low-Tech Architecture and precedent studies to produce a contextual design that addresses environmental issues while strengthening cultural identity.   Keywords: craft, Malay culture, sustainability, local materials
STUDENT TRAINING CENTER DI KOTA PEKANBARU DENGAN PENERAPAN PENDEKATAN NEURO-ARCHITECTURE prananda, adelia
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT   Pekanbaru City faces challanges in providing non-academic educational facilities, particularly in sports and cultural arts. This gap affects the holistic development of stuudents. To address this, the Student Training Center is designed as a training facility for students from elementary to higher education levels. The center accommodates training in sports (football, long jump, gymnastics, chess, pencak silat, karate) and cultural arts (guitar, debate, newscasting, monologue, storytelling, pantomime, speech, and innovation. The building design adopt a thematic neuro-architecture approach, integrating elements such as color, curved forms with repeating patterns, natural components, design balance, and active circulation. This aims to create a physical environment that stimulates students’ cognitive, emotional, and social engagement. A pragmatic methodological approach is applied, using trial and erro strategies in mass exploration to develop an architecturally contextual design. This approach emhasizes rational decisios and their real impact on building function and spatial experience. With this startegic and responsive design, the Student Training center is expected to become a purposeful facility that supports structured and continuous development of student’ non-academic achievements in Pekanbaru City.   Keywords: Training Center, Neuro-Architecture, Sports, Cultural Arts
Keberadaan Decision Point pada Simpang Temu CSW ASEAN, Jakarta Selatan Carina Hady; Triandriani Mustikawati
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Simpang Temu CSW ASEAN merupakan bangunan integrasi antar moda yang memiliki kompleksitas layout dan alur sirkulasi sehingga memunculkan tantangan wayfinding bagi penggunanya. Simpang temu ini juga memiliki alur dan jalur sirkulasi yang menciptakan sejumlah titik tempat orang mengambil suatu keputusan (decision point). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberadaan decision point pada Simpang Temu CSW ASEAN. Serangkaian observasi mengungkap bahwa decision point pada Simpang Temu CSW ASEAN muncul secara konstan pada 2 lokasi yaitu didepan elemen sirkulasi vertikal serta ujung-ujung koridor. Penelitian ini juga mengungkap bahwa beberapa decision point yang berdekatan membentuk decision nodes. Adapun perbedaan karakteristik pada setiap decision point berkontribusi pada perilaku wayfinding yang muncul dari pengguna. Geometri ruang yang sulit terdefinisi membuat pengguna sulit menginterpretasikan arah pada signage. Orientasi signage yang tidak sehadap dengan pengguna membuat signage sulit terlihat dan terbaca. Elemen arsitektural pada area sirkulasi menimbulkan hambatan visual (occluding edge). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa desain spasial dan sistem konstruksi Simpang Temu CSW ASEAN berkontribusi besar pada keberagaman karakteristik decision point.
Kontekstual Lingkungan pada Surabaya Creative Hub Elizabeth
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Ekonomi kreatif menjadi salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi yang berbasis kreativitas, ditunjukkan melalui capaian yang meningkat hingga triwulan I tahun 2024. Fasilitas di kota Surabaya untuk mengembangkan produk ekraf masing kurang. Dalam mendesain creative hub, terdapat tiga pilar utama yaitu ekonomi, ekologi, dan masyarakat. Dalam hal ekologi, kota Surabaya menghadapi permasalahan utama yaitu kepadatan bangunan sehingga konsep kontekstual lingkungan digunakan sebagai bentuk respon terhadap lingkungan sekitar pada tapak. Selain itu, paradigma rasionalisme dengan mengambil 1 objek studi preseden yaitu Hayy Jameel. Kontekstual lingkungan yang diterapkan pada desain dapat terlihat pada massa yang berbentuk segiempat; tampilan fasad (material dan warna) dengan material ACP, kaca laminasi, dan secondary skin dengan warna dengan konsep earth tone (abu,cokelat bata, cokelat tua, dan krem); bentuk bukaan; bentuk atap; dan adanya identitas bangunan sebagai ciri khas dari hub ini. Selain itu, kontekstual juga diambil dari aspek budaya dengan penggunaan dudukan lesehan pada interiornya. Pengalaman ruang juga ditonjolkan pada ruang terbuka dimana pengunjung dibawa menuju suasana perkotaan dan festival. Oleh karena itu, dengan berbagai fasilitas yang tersedia dan lokasi yang strategis, Surabaya Creative Hub diharapkan dapat menarik banyak pengunjung serta menjadi sarana kreatifitas dan rekreatif bagi masyarakat di sekitar tapak. Kata kunci: Creative hub, ekonomi kreatif, kontekstual lingkungan, rasionalisme  
Konsep In-Between Space Berdasarkan Gaya Belajar pada Perancangan Ruang Belajar di Malang Fahazri, Fariz Haikal; Indyah Martiningrum
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK     Kota Malang memiliki pertumbuhan jumlah mahasiswa yang begitu cepat, kebutuhan mahasiswa terhadap fasilitas juga semakin bertambah. Salah satu dari kebutuhan fasilitas mahasiswa adalah ruang belajar yang juga merupakan faktor penting terhadap performa akademik mahasiswa. Permasalahan yang muncul adalah ruang belajar yang tersedia saat ini tidak didesain menyesuaikan dengan gaya belajar mahasiswa. Sebagai upaya untuk memperbesar efektivitas ruang belajar, ruang belajar perlu didesain untuk dapat mewadahi berbagai jenis gaya belajar mahasiswa yang secara umum dibagi menjadi tiga, yaitu visual, auditorial, kinestetik, dan gaya belajar gabungan. Metode yang digunakan adalah menggabungkan kebutuhan masing-masing gaya belajar dan dijadikan menjadi zona tertentu dengan konsep In-Between Space. Hasil dari perancangan ruang belajar ini diharapkan dapat mewadahi aktivitas belajar dari berbagai macam gaya belajar.   Kata kunci: In-Between Space, Visual, Auditorial, Kinestetik   ABSTRACT   The city of Malang is experiencing rapid growth in its student population, which increases the demand for student facilities. One of the essential facilities for students is study space, as it plays a significant role in supporting academic performance. However, the current study spaces are not designed to accommodate the diverse learning styles of students. To enhance the effectiveness of study spaces, they need to be designed to support various learning styles, which are generally categorized into three types: visual, auditory, kinesthetic, as well as mixed learning styles. The method used involves combining the needs of each learning style and organizing them into specific zones using the concept of In-Between Space. The result of this study space design is expected to accommodate learning activities across a wide range of learning styles.   Keywords: In-Between Space, Visual, Auditory, Kinesthetic 
Perancangan Youth Digital Hub di Kota Malang dengan Pendekatan Arsitektur Hijau Auvryl Fanya Reditania; Iwan Wibisono
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tranformasi digital pada era industri 4.0 menuntut generasi muda khususnya generasi Z untuk memiliki keterampilan digital yang adaptif. Kota Malang, sebagai kota pendidikan dan pusat ekonomi kreatif, menghadapi tantangan kesenjangan keterampilan digital yang berdampak pada tingginya pengangguran usia produktif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang Youth Digital Hub sebagai ruang edukatif, kolaboratif dan produktif yang berfokus pada pengembangan keterampilan digital. Pendekatan arsitektur hijau diterapkan guna menciptakan bangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Metode strukturalisme digunakan untuk menganalisis pola-pola dari penerapan desain arsitektur hijau pada bangunan preseden. Hasil rancangan mencakup penerapan green roof, pemaksimalan lansekap, sistem panen air hujan, pencahayaan alami, penghawaan alami dan pemanfaatan energi surya.  Kata kunci: Youth Digital Hub, Arsitektur Hijau, Generasi Z, Digitalisasi ABSTRACT Digital transformations in the era of industry 4.0 demands that the younger generation, particularly Generation Z, possess adaptive digital skills. Malang City, as an educational hub and center for the creative economy, faces the challenge of a digital skill gap that contributes to high unemployment among the productive age group. This study aims to design a Youth Digital Hub as an educational, collaborative and productive space focused on the development of digital competencies. A green architecture approaches applied to create an environmentally friendly and sustainable building. The structuralism method is used to analyze patterns from the application of green architectural design in precedent buildings. The design results include the implementation of green roof, landscape optimization, rainwater harvesting systems, natural lighting, natural ventilation and the use of solar energy.  Keywords: Youth Digital Hub, Green Architecture, Z Generation, Digitalisation
Visibilitas Elemen Wayfinding Pada Stasiun Kereta Api Purwokerto Oktavia, Ranti
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wayfinding merupakan proses kognitif dan spasial yang mendukung orientasi serta pergerakan pengguna di lingkungan kompleks, seperti stasiun kereta api. Penelitian ini mengkaji visibilitas elemen lingkungan yang mendukung sistem wayfinding di Stasiun Kereta Api Purwokerto, dengan fokus pada aspek kontras visual, akses visual, dan jarak pandang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi sebagai metode pengambilan data. Analisis deskriptif grafis dilakukan pada elemen lingkungan yang terindentifikasi, baik elemen arsitektural dan non-arsitektural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter spasial bagian bangun stasiun yang berbeda-beda akan mempengaruhi akses visual dan jarak pandang terhadap elemen sehingga berkontribusi pada visibilitas elemen lingkungan pendukung wayfinding. Koridor yang panjang memperbesar jarak pandang, sehingga elemen lingkungan menjadi kurang terlihat. Di sisi lain, penggunaan material transparan menjadikan ruang lebih terang, namun membuat elemen pendukung wayfinding menjadi kurang memiliki kontras visual. Temuan ini menekankan pentingnya pengaturan tata ruang yang memungkinkan akses visual optimal tanpa membuat elemen-elemen lingkungan menjadi tersembunyi, serta pemilihan material yang mampu memberikan kontras visual yang baik pada elemen elemen pendukung wayfinding. Hal ini diperlukan untuk mendukung proses orientasi pengguna secara efisien, mengurangi kebingungan, serta meningkatkan kenyamanan dan keamanan dalam pergerakan dan perpindahan di area stasiun.
The Cultural Playspace: Desain Children Activity Center Ramah Anak Liberty, Muhammad Ruby
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertumbuhan kota Surabaya yang pesat mendorong kebutuhan akan fasilitas pengasuhan dan pendidikan anak usia dini yang terintegrasi dan relevan secara kontekstual, terutama di kawasan padat penduduk seperti Kelurahan Keputih, Sukolilo. Lingkungan ini memiliki potensi tinggi sebagai lokasi fasilitas anak usia dini yang dapat menjawab tantangan urbanisasi serta kebutuhan sosial masyarakat. Perancangan dilakukan dengan mengusung konsep The Cultural Playspace, yaitu pendekatan desain ruang bermain yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat aktivitas fisik anak, tetapi juga sebagai media untuk membentuk, mengekspresikan, dan mereproduksi nilai-nilai sosial dan budaya secara aktif. Desain ini menggunakan pendekatan Child Friendly Environment yang meliputi aspek keselamatan, kenyamanan, kemudahan, kesehatan, dan keamanan, serta dianalisis melalui metode strukturalisme berbasis studi kasus lokal dan internasional. Pendekatan ini menghasilkan rancangan yang adaptif terhadap kebutuhan perkembangan anak secara holistik, serta sensitif terhadap dinamika lokal. Dengan demikian, desain Children Activity Center ini diharapkan tidak hanya fungsional, tetapi juga mampu membangun ruang yang bermakna secara sosial, edukatif, dan kultural bagi anak-anak di lingkungan urban.