cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,474 Documents
Post Disaster Co-Housing dengan Pendekatan Community Resilience di Kabupaten Lumajang Wiyono, Nabila
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ancaman tidak terduga yang disebabkan oleh bencana alam memiliki dampak kerusakan dan kerugian yang besar bagi kehidupan manusia serta lingkungan sekitarnya. Kabupaten Lumajang merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang rentan terhadap bencana alam, salah satunya letusan gunung berapi Semeru yang memerlukan upaya relokasi akibat kerusakan yang ditimbulkan. Salah satu dampak relokasi adalah isolasi sosial yang menyebabkan terganggunya kesehatan mental yang menyebabkan terputusnya kekerabatan dan interaksi sosial antar masyarakat terdampak (disconnect social network). Oleh karena itu, diperlukan upaya rekoneksi sosial dan membangun ketahanan komunitas jangka panjang salah satunya melalui Co-Housing.  Co-housing dirancang menggunakan perspektif pascabencana dengan pendekatan community resilience, sehingga membentuk lingkungan tinggal kolaboratif yang inklusif dan memberdayakan masyarakat lokal. Metode perancangan dilakukan dengan pendekatan rasionalisme berbasis studi preseden dan analisis kebutuhan pengguna, serta mempertimbangkan kondisi geografis dan sosial budaya lokal. Hasil perancangan post disaster co-housing berupa hunian jangka menengah hingga panjang yang mengelaborasikan prinsip dan kriteria community resilience ke dalam aspek tapak, bangunan, dan ruang pada desain. Melalui perancangan ini diharapkan hunian dapat meningkatkan keterikatan sosial, rasa memiliki, dan kemampuan adaptif masyarakat terhadap ancaman bencana di masa mendatang.
TAWANG RASA: LINGKUNGAN KONTEMPLASI UNTUK MEDITASI DI KARANGANYAR Mardiah, Astrid
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan lingkungan kontemplasi di Karanganyar, Jawa Tengah, adalah respons terhadap fenomena krisis spiritual yang melanda masyarakat modern. Krisis ini ditandai dengan perasaan hampa dan terasing dari Tuhan, yang disebabkan oleh pola hidup materialistik dan berorientasi pada efisiensi. Tujuan perancangan ini untuk menciptakan ruang inklusif yang memfasilitasi introspeksi, refleksi, dan pemulihan, tanpa terikat pada dogma agama tertentu. Perancangan ini menggunakan pendekatan bridging dan fenomenologi. Bridging menempatkan napas sebagai elemen vital yang berfungsi sebagai jembatan untuk menyatukan jiwa dan raga, sehingga menciptakan harmoni antara kesadaran fisik dan spiritual. Fenomenologi digunakan untuk memahami esensi genius loci dari Kabupaten Karanganyar dan Kecamatan Tawangmangu, yang dikenal dengan warisan agraris dan spiritualitasnya. Hasil perancangan menciptakan sebuah desain yang mengintegrasikan kriteria fungsional dengan estetika. Kriteria fungsional mencakup zonasi ruang yang memandu pengguna melalui sebuah perjalanan transformatif, mulai dari area komersial, kemudian menuju zona lahir, sadar, jiwa, dan diakhiri pada zona kedamaian. Pada sisi estetika, desain memanfaatkan elemen-elemen alami seperti pencahayaan, ventilasi, dan material organik untuk menciptakan suasana yang menenangkan dan mendukung praktik pernapasan. Keberlanjutan ruang dipertimbangkan dengan penggunaan material ramah lingkungan dan zonasi yang melindungi area sensitif. Tawang Rasa hadir sebagai solusi arsitektural yang tidak hanya mewadahi kebutuhan spiritual, tetapi juga memperkuat kembali hubungan harmonis antara manusia, alam, dan diri batin.   Kata kunci: Lingkungan kontemplasi, meditasi, napas, fenomenologi  
Interaksi Waktu dan Ruang dalam Ruang Kosong: Mengalami Senthong Tengah Melalui Experience Space Saniyya Zahra Nabila; Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi pengalaman ruang senthong tengah dalam rumah tradisional Jawa melalui pendekatan kualitatif-deskriptif dengan strategi autoetnografi. Analisis dilakukan pada senthong tengah di tiga bangunan, yaitu Dalem Yudhanegaran, Dalem Bupati Kanjengan Surakarta, dan Omah UGM. Studi ini menunjukkan bahwa ruang kosong dalam senthong tengah tidak hanya bersifat fisik, melainkan menghadirkan atmosfer spiritual dan kultural yang kuat, yang dapat dipahami melalui pengalaman multisensorik. Temuan mengarah pada konsep tan wadhag, yaitu ruang yang meskipun secara visual tampak kosong, justru mengandung makna tersirat yang mengungkap keterhubungan manusia dengan nilai-nilai yang lebih dalam. Variasi pengalaman pada masing-masing lokasi dan waktu juga menciptakan sense of place yang unik. Temuan ini memperkaya pemahaman filosofis terhadap arsitektur Jawa serta memberikan kontribusi terhadap studi arsitektur berbasis pengalaman dan pelestarian warisan budaya.   Kata kunci: pengalaman ruang, kekosongan, autoetnografi, arsitektur Jawa
PENERAPAN KONSEP RHIZOMA DALAM DESAIN KONSERVASI LEBAH Pangestu, Deaprilia Putri
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Kepunahan Holosen, atau kepunahan massal keenam, telah berlangsung sejak 10.000 SM, dengan manusia sebagai pemicu utamanya. Berbeda dengan kepunahan sebelumnya yang alami, fenomena ini menimbulkan dampak berantai, termasuk penurunan drastis populasi serangga global. Riset dari Biological Conservation (2019) menunjukkan lebih dari 40% spesies serangga menurun dalam 40 tahun terakhir, dengan laju kepunahan delapan kali lebih cepat daripada vertebrata. Hilangnya habitat, pestisida, perubahan iklim, polusi, spesies invasif, dan patogen menjadi faktor penyebab utama yang mengancam ekosistem. Lebah, sebagai penyerbuk utama, sangat krusial bagi pertanian dan ketahanan pangan global, bertanggung jawab atas penyerbukan sekitar 75% tanaman berbunga. Sayangnya, populasi lebah terus menurun, seperti yang dilaporkan dalam Status and Trends of Wild Bees in Europe (2015), menyoroti pentingnya tindakan konservasi. Perancangan ini bertujuan menerapkan konsep rhizoma Deleuze pada desain SARANG, menciptakan ruang regeneratif yang memenuhi kriteria konservasi lebah yang mendukung keanekaragaman hayati sebagai upaya mencegah kepunahan massal keenam. Pendekatan post-strukturalisme dengan prinsip rhizoma menolak hierarki dan linearitas, menekankan keterhubungan non-linear dan multipolar. Hasilnya adalah sistem konservasi lebah yang inovatif, adaptif, dan terintegrasi teknologi, menjawab tantangan konservasi lebah secara holistik serta mendukung keberlanjutan ekosistem dan ketahanan pangan di masa depan.    Kata kunci: kepunahan massal keenam, konservasi lebah, rhizoma, post-strukturalisme  ABSTRACT   The Holocene extinction, or the sixth mass extinction, has been ongoing since 10,000 BCE, primarily triggered by human activity. Unlike previous natural extinction events, this phenomenon creates significant ripple effects, including a drastic decline in global insect populations. Research from Biological Conservation (2019) indicates that over 40% of insect species have decreased in the last 40 years, with extinction rates for insects eight times faster than vertebrates. Habitat loss, pesticide use, climate change, pollution, invasive species, and pathogens are key factors threatening ecosystems. As primary pollinators, bees are crucial for global agriculture and food security, responsible for pollinating approximately 75% of flowering plants. Unfortunately, bee populations are continually declining, as reported in Status and Trends of Wild Bees in Europe (2015), underscoring the urgent need for conservation efforts.This design aims to apply Deleuze's rhizome concept to the SARANG design, creating a regenerative space that meets bee conservation criteria. This supports biodiversity as a measure to prevent the sixth mass extinction. The post-structuralist approach, with its rhizomatic principles, rejects hierarchical and linear structures, emphasizing non-linear and multipolar connections. The result is an innovative, adaptive, and technologically integrated bee conservation system that holistically addresses current bee conservation challenges while supporting ecosystem sustainability and future food security.     Keywords: sixth mass extinction, bee conservation, rhizome, post-structuralism     
Integrasi Desain Waterfront dan Olfaktori Untuk Ruang Publik Edukasi Rempah di Surabaya Zafira, Kishi
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Surabaya, sebagai kota pelabuhan historis dalam jalur perdagangan rempah Nusantara, mengalami keterputusan kultural akibat modernisasi. Penelitian ini merancang ruang publik edukatif berbasis rempah dengan pendekatan multisensori, mengintegrasikan desain waterfront dan elemen olfaktori untuk mengoptimalkan pengalaman inderawi, khususnya penciuman. Melalui observasi tapak, studi literatur, dan eksperimen desain, dihasilkan lima zona tematik yang memanfaatkan angin laut untuk menyebarkan aroma rempah secara alami. Penelitian ini memberikan sumbangan dalam wacana arsitektur olfaktori dengan menawarkan strategi desain ruang publik yang mengaitkan kembali warisan budaya rempah dengan pengalaman spasial sebagai sarana pelestarian budaya dan penguatan identitas lokal.
Adaptive Reuse Menara Cakrawala sebagai Solusi Unit Hunian bagi Kalangan Menengah di Jakarta nazahah, najwa
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Adaptive reuse merupakan pendekatan pemanfaatan kembali bangunan lama secara berkelanjutan, didorong oleh keusangan bangunan baik dari segi usia maupun relevansi fungsi. Salah satu bentuk keusangan tersebut muncul akibat perubahan pola kerja seperti work from home, yang mengurangi kebutuhan ruang kantor fisik. Menara Cakrawala di Jakarta mengalami kondisi serupa dan berpotensi dikonversi menjadi hunian bagi kalangan menengah yang kesulitan mengakses hunian layak di pusat kota. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan strategi studi kasus, menganalisis potensi adaptasi Menara Cakrawala sebagai hunian. Analisis dilakukan melalui pendekatan User–Place–System, teori Shearing Layers, standar Time-Saver for Housing, preferensi pengguna kelas menengah, serta strategi adaptasi menurut Sally Stone. Hasilnya menunjukkan bahwa karakteristik pengguna membutuhkan hunian yang strategis, efisien, dan terjangkau; lokasi bangunan memiliki konektivitas tinggi; serta sistem bangunan menunjukkan tingkat adaptabilitas flexible pada lima lapisan (site, skin, services, space plan, stuff). Rekomendasi akhir berupa konversi sebagian gedung menjadi 184 unit hunian (124 co-living, 60 1-bedroom) dengan fasilitas penunjang dan sebagian area komersial tetap dipertahankan. Pendekatan ini menunjukkan potensi adaptive reuse sebagai solusi hunian layak dan berkelanjutan di Jakarta. Kata kunci: adaptive reuse, hunian, kalangan menengah 
PERANCANGAN CO-HOUSING MILENIAL DENGAN BERABASIS PARTISIPATORI DI SURABAYA Donita, Syadiva Kyla
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Krisis keterjangkauan hunian di kota besar seperti Surabaya berdampak pada generasi milenial, yang mengalami kesulitan memiliki rumah pribadi akibat harga tinggi, backlog perumahan, dan standar kualitas hunian yang rendah.. Merespons permasalahan ini, konsep co-housing hadir sebagai solusi melalui pendekatan arsitektur partisipatori yang kolaboratif dan inklusif. Co-housing menawarkan ruang-ruang komunal yang mendorong interaksi sosial serta partisipasi aktif antar penghuni, namun tetap mempertahankan privasi masing-masing individu atau keluarga. Pendekatan partisipatori dipilih karena sejalan dengan karakter generasi milenial yang terbuka dan kolaboratif. Untuk memastikan perancangan berbasis kebutuhan nyata, digunakan pula strategi desain empiris Walter Wallace, yang menekankan hubungan antara teori, observasi, dan analisis sistematis. Hasil perancangan menunjukkan bahwa integrasi partisipasi pengguna dan metode empiris menghasilkan hunian yang fungsional dan terjangkau.. Model ini berpotensi menjadi prototipe pengembangan hunian berkelanjutan, terutama dalam konteks kolaborasi sosial dan efisiensi ruang kota.   Kata kunci: hunian milenial, co-housing, arsitektur partisipatori, interaksi sosial, desain empiris, Surabaya   ABSTRACT   The housing affordability crisis in major cities like Surabaya has significantly impacted the millennial generation, who struggle to own private homes due to high prices, a housing backlog, and low housing quality standards. In response to this issue, the co-housing concept emerges as a solution through a participatory architectural approach that is both collaborative and inclusive. Co-housing offers communal spaces that encourage social interaction and active participation among residents, while still maintaining the privacy of individuals or families. The participatory approach is chosen because it aligns with the open and collaborative nature of the millennial generation. To ensure the design responds to real needs, Walter Wallace’s empirical design strategy is also employed, emphasizing the relationship between theory, observation, and systematic analysis. The design results demonstrate that integrating user participation with empirical methods leads to housing that is both functional and affordable. This model has the potential to serve as a prototype for future housing developments, particularly in fostering social collaboration and optimizing urban space efficiency.   Keywords: Millennial housing, co-housing, participatory architecture, social interaction, empirical design, Surabaya
Perancangan Chocolate Centre berbasis Sustainable Design di Kecamatan Glenmore Tasya, Ilabila Adinda
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PERANCANGAN CHOCOLATE CENTRE BERBASIS SUSTAINABLE DESIGN DI KECAMATAN GLENMORE   Ilabila Adinda Tasya1 dan Andika Citraningrum2   1Mahasiswa Program Sarjana Arsitektur, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya 2Dosen Departemen Arsitektur, Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Alamat email penulis: ilatasya@student.ub.ac.id   ABSTRAK   Kecamatan Glenmore di Banyuwangi memiliki potensi besar sebagai pusat produksi kakao Edel, varietas kakao premium bernilai tinggi. Namun, pengembangan sektor pengolahan kakao di wilayah ini masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk minimnya inovasi, fasilitas edukatif, dan keterlibatan masyarakat. Penelitian ini merancang Glenmore Chocolate Centre sebagai pusat edukasi dan inovasi berbasis prinsip desain berkelanjutan. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan desain strukturalisme dengan analisis pola (pattern analysis), serta prinsip sustainable design menurut Jong-Jin Kim. Hasil rancangan mencakup fasilitas interaktif seperti museum, ruang produksi, laboratorium eksperimen, dan ruang multisensorik yang mendukung pengalaman bean-to-bar. Elemen desain berfokus pada konservasi energi dan air, penggunaan material daur ulang, serta kenyamanan visual dan termal. Dengan pendekatan ini, Glenmore Chocolate Centre diharapkan menjadi katalisator dalam memperkuat ekosistem industri kakao lokal secara sosial, ekonomi, dan ekologis.   Kata kunci: desain berkelanjutan, kakao, arsitektur edukatif, Glenmore   ABSTRACT   Glenmore District in Banyuwangi holds significant potential as a center for Edel cocoa, a premium and high-value variety. However, development in the cocoa processing sector remains hindered by limited innovation, educational infrastructure, and community engagement. This study proposes the design of Glenmore Chocolate Centre as an educational and innovation hub based on sustainable design principles. The methodology integrates structuralist design and pattern analysis, aligned with Jong-Jin Kim's sustainable design framework. The design includes interactive facilities such as a cocoa museum, production workshops, experimental laboratories, and multisensory spaces supporting the bean-to-bar concept. Key sustainable features include energy and water conservation, the use of recycled materials, and optimization of thermal and visual comfort. This approach aims to transform Glenmore Chocolate Centre into a catalyst for strengthening the local cocoa industry ecosystem in social, economic, and environmental dimensions.   Keywords: sustainable design, cocoa, educational architecture, Glenmore
Mitigasi Kebakaran Pada Permukiman Padat Penduduk : Studi Kasus Kawasan Bareng Kota Malang Alatas, Mutiara Aulia; Sufianto, Heru
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Permukiman padat di kawasan perkotaan Indonesia menjadi tantangan serius dalam upaya penanggulangan risiko kebakaran. Kondisi seperti keterbatasan akses jalan, tingginya kepadatan bangunan, serta minimnya infrastruktur mitigasi menjadikan kebakaran sebagai ancaman signifikan, baik terhadap keselamatan jiwa maupun keberlanjutan sosial ekonomi masyarakat. Kota Malang, sebagai kota besar di Indonesia, turut mengalami eskalasi insiden kebakaran, dengan 112 kejadian tercatat pada tahun 2023 dan meningkat menjadi 129 kasus pada 2024. Salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi adalah Kelurahan Bareng, yang memiliki karakteristik lingkungan dengan kepadatan bangunan ekstrem, aksesibilitas rendah, dan kurangnya fasilitas pemadam kebakaran seperti hidran dan jalur evakuasi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat risiko kebakaran di wilayah tersebut dan menyusun strategi mitigasi adaptif yang relevan dengan kondisi lokal. Pendekatan yang digunakan melibatkan analisis skoring berdasarkan parameter kerentanan, termasuk kepadatan bangunan, jenis material konstruksi, lebar jalan, dan ketersediaan sumber air. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan landasan bagi penyusunan strategi penanggulangan kebakaran yang kontekstual dan aplikatif di kawasan perkotaan padat, serta mendorong penguatan kebijakan tata ruang berbasis mitigasi bencana. Kata kunci: kebakaran, permukiman padat, mitigasi bencana, risiko kebakaran
Strategi Desain Arsitektur Lifestyle Center dengan Material Daur Ulang di Setiabudi, Jakarta Selatan Aulia, Radita
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jakarta Selatan merupakan kawasan urban dengan aktivitas tinggi dan kepadatan fungsi, yang menimbulkan permasalahan terkait limbah konstruksi dan konsumsi ruang komersial. Penelitian ini bertujuan merancang sebuah lifestyle center dengan pendekatan keberlanjutan melalui penggunaan material daur ulang, serta menyatukan fungsi retail, ruang publik, dan edukasi dalam satu kawasan. Metode yang digunakan meliputi studi literatur, studi preseden, analisis tapak, hingga pemrograman arsitektur untuk menghasilkan konsep perancangan. Konsep utama menekankan pada integrasi antara ruang terbuka publik dan massa bangunan komersial, dengan sirkulasi yang terbuka dan fleksibel. Material daur ulang diaplikasikan sebagai elemen arsitektural nyata yang memberikan nilai edukatif sekaligus solusi terhadap isu limbah. Hasil rancangan berupa bangunan enam lantai dengan basement, memiliki zonasi tenant, foodcourt, taman publik, co-working space, dan education hub yang tersebar pada lanskap. Perancangan ini diharapkan dapat menjadi contoh pendekatan arsitektur yang kontekstual, adaptif terhadap isu lingkungan urban, serta mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan material bekas secara arsitektural.