cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,492 Documents
Eduwisata Budidaya Tambak dengan Pendekatan Arsitektur Berkelanjutan di Kabupaten Sidoarjo Putri, Annida Nisrina; Asikin, Damayanti
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sidoarjo memiliki potensi yang tinggi di bidang perikanan, khususnya budidaya tambak. Budidaya ini menjadi mata pencaharian yang banyak diminati oleh masyarakat. Hasil dari budidaya dapat diolah menjadi nilai tambah bagi industri lokal. Namun, budidaya tambak yang tidak dilakukan secara tepat dapat mencemari lingkungan. Air limbah tambak yang dibuang secara langsung tanpa diolah terlebih dahulu dapat berdampak buruk bagi lingkungan. Kandungan senyawa nitrogen dalam bentuk ammonia dan zat organik dalam air limbah yang berasal dari sisa pakan dan hasil metabolisme ikan dapat menurunkan kualitas air. Di sisi lain, pencemaran tersebut juga dapat terjadi karena kurangnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Perancangan ini mengusung eduwisata budidaya tambak sebagai wadah edukasi dan rekreasi guna mengurangi kerusakan lingkungan. Metode perancangan yang digunakan adalah arsitektur berkelanjutan dan pragmatis dengan mengeksplorasi alternatif desain berdasarkan identifikasi permasalahan. Hasil dari perancangan berupa eduwisata dengan desain tapak yang berkontribusi membentuk iklim yang sehat melalui sirkulasi dan vegetasi, mengelola air hujan, mengelola limbah dengan TPS dan constructed wetland, serta meningkatkan nilai ekonomi melalui fasilitas komersial, desain bangunan yang menerapkan hemat energi, desain ruang yang efisien, dan desain struktur yang tanggap iklim.   Kata kunci: eduwisata, budidaya, pragmatisme, arsitektur berkelanjutan
Penerapan Arsitektur Biofilik dalam Perancangan Art and Creative Center di Kota Batu Prisca, Theresa Vania
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Batu merupakan kota dengan berbagai kesenian dan budaya didalamnya. Banyak sanggar seni di Kota Batu yang sudah terdata memiliki nomor induk kesenian. Kota Batu memiliki wadah-wadah berekspresi seperti galeri seni, sanggar tari, dan sendratari yang digunakan untuk melakukan pameran, pementasan seni pertunjukan, dan tempat para pelaku seni menghasilkan karyanya. Sayangnya, kualitas fasilitas dan mutu dari wadah-wadah tersebut dinilai kurang memadai karena tidak mencukupi kegiatan seni di Kota Batu. Sejalan dengan misi Dinas Pariwisata Kota Batu untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif melalui pembangunan pusat seni dan ekonomi kreatif, dibutuhkannya sebuah wadah yang dapat mewadahi segala bentuk kreativitas para pelaku seni yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi dan rekreasi. Art and creative center ini bertemakan Arsitektur Biofilik yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan dengan suasana baru yang dekat dengan alam dalam mendukung terciptanya ide-ide kreatif bagi para pelaku seni dan pengunjungnya. Fasilitas edukasi seperti workshop dan galeri seni juga terwadahi untuk tetap mewariskan kesenian yang ada di Kota Batu.
Kondisi Termal Cottage Kayu Pada Resort di Tepi Pantai Midodaren Kabupaten Tulungagung Muhammad Faizal Arsyada
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Resort yang berada di tepi Pantai Midodaren Kabupaten Tulungagung memiliki jenis bahan bangunan dengan menggunakan kayu. Secara teori kayu memiliki massa termal yang rendah atau mudah menyerap dan melepaskan kembali panas, sehingga cocok digunakan di iklim tropis yang panas dan lembab. Seiring dengan kondisi iklim di Kabupaten Tulungagung yang cenderung panas, resort tersebut sebagai tempat beristirahat tentu harus memperhatikan kondisi termal penghuni dengan salah satunya memperhatikan kondisi agar terciptanya kondisi termal dalam bangunan resort. Dengan ini ingin diketahui bahwa apakah penggunaan bahan kayu pada resort tersebut sudah dapat menciptakan kondisi termal didalamnya atau belum. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Teknik yang digunakan adalah observasi dan pengukuran data lapangan. Hasil penelitian yang telah dilakukan pada cottage Resort Semilir Pantai Midodaren Kabupaten Tulungagung menunjukkan bahwa saat pengukuran lapangan di dalam bangunan rata-rata yang didapatkan pada pagi-malam telah melewati batas suhu netral. Karena hasil dari pengukuran suhu di dalam bangunan pada pagi-malam melewati ambang atas suhu nyaman tertinggi Kabupaten Tulungagung yaitu melewati 28,16°C. Sedangkan pengukuran suhu di dalam bangunan pada malam-pagi, rata-rata yang didapatkan dari pengukuran tersebut berada dalam ambang batas nyaman yaitu berada pada rentang waktu 23,16°C - 28,16°C. Pemilihan penggunaan material kayu bengkirai dinilai tepat untuk cottage resort semilir. Penggunaan material kayu juga dapat mengontrol penyerapan panas matahari yang akan masuk ke dalam ruangan. Sehingga jika kondisi luar bangunan terasa panas, maka di dalam bangunan akan menciptakan kondisi yang dingin. Begitu juga sebaliknya saat kondisi di luar bangunan dingin, maka dalam penggunaan material kayu sebagai lantai dapat menciptakan kondisi ruang dalam yang hangat.Kata kunci: resort, kondisi termal, kayu
ARSITEKTUR REGENERATIF SEBAGAI SOLUSI PERANCANGAN PENGELOLAAN DAN EDUKASI SAMPAH BERBASIS EKONOMI SIRKULAR DI KAWASAN URBAN JAKARTA TIMUR Permatasari, Galuh Nurhaliza
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Permasalahan persampahan di Jakarta telah mencapai tingkat kritis. Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, timbulan sampah harian mencapai lebih dari 7.700 ton pada tahun 2023, sebagian besar dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang yang kapasitasnya terus menipis (DLH DKI Jakarta, 2023). Ketergantungan pada landfill serta minimnya fasilitas pengolahan skala besar menyebabkan kerusakan ekologis dan sosial yang kian memburuk. Oleh karena itu, diperlukan intervensi arsitektural yang tidak hanya teknis, tetapi juga edukatif, partisipatif, dan regeneratif. Rancangan ini memberikan hasil berupa Pusat Edukasi dan Pengolahan Sampah berbasis ekonomi sirkular dengan pendekatan arsitektur regeneratif. Pendekatan ekonomi sirkular dalam desain ini diwujudkan melalui pengolahan material secara tertutup (closed-loop), pemanfaatan ulang sumber daya, serta perancangan sistem yang mengurangi limbah. Pembangunan fasilitas ini diarahkan untuk menutup siklus sumber daya, meminimalkan dampak lingkungan, serta memulihkan relasi antara ruang dan ekosistem. Dengan pendekatan regeneratif berdasarkan Littman, 2012. Rancangan mengintegrasikan teknologi pengolahan sekaligus menciptakan ruang edukatif terbuka. Berdasarkan pendekatan tersebut, pusat pengolahan dan edukasi sampah ini berpotensi menjadi model infrastruktur kota berkelanjutan. Dengan menutup siklus material, memulihkan ekosistem, dan melibatkan masyarakat, fasilitas ini tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi, tetapi juga berperan dalam mendidik generasi mendatang. Kata kunci: Arsitektur Regeneratif, Sirkuler Ekonomi, Pusat Pengolahan                          Sampah, Pusat Edukasi Sampah   ABSTRACT  The waste problem in Jakarta has reached a critical level. According to the Environmental Agency of DKI Jakarta Province, daily waste generation exceeded 7,700 tons in 2023, most of which is sent to the Bantar Gebang Integrated Waste Treatment Facility (TPST), which is nearing its capacity (DLH DKI Jakarta, 2023). Reliance on landfilling and the lack of large-scale processing facilities have led to worsening ecological and social degradation. Therefore, an architectural intervention is needed—one that is not only technical, but also educational, participatory, and regenerative. This project proposes the design of a Waste Treatment and Education Center based on the principles of the circular economy and regenerative architecture. The circular economy approach is implemented through closed-loop material processing, resource reuse, and systems designed to reduce waste from the source. The facility aims to close resource loops, minimize environmental impacts, and restore the relationship between space and ecosystems through a regenerative design approach based on Littman (2012). The design integrates waste processing technologies while also creating an educational space. Through this approach, the proposed center has the potential to serve as a model for sustainable urban infrastructure. By closing material loops, restoring ecosystems, and engaging the community, the facility delivers environmental, social, and economic benefits while helping to educate future generations. Keywords:  Regenerative Architecture, Circular Economy, Waste Management, Waste Education Center
Perancangan Teater dan Creative Space di Bintaro, Tangerang Selatan dengan Pendekatan Edu-wisata Utomo, Salsabila Rahmandina Aurelly Utomo; Indyah Martiningrum, ST., MT.
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan Teater dan Creative Space ini dilatarbelakangi oleh tergerusnya seni Indonesia dan kurangnya ruang yang memungkinkan publik untuk mengalami proses kreatif. Tema edu-wisata digunakan untuk mendorong pelestarian seni melalui pembelajaran yang interaktif. Metode pragmatisme yang digunakan meliputi tahapan analisis permasalahan desain, eksplorasi serta alternatif, kriteria desain, dan desain skematik. Objek rancangan ini memfokuskan pada desain ruang dalam dan luar yang disesuaikan berdasarkan program aktivitas seni pilihan bagi pengunjung, Perancangan ini diharapkan menjadi fasilitas rekreasi seni yang edukatif, sekaligus menjadi ruang kreatif yang mampu menyatukan interaksi sosial, pelestarian budaya, dan pengalaman seni.
Senior Living dengan Elderly-Friendly Design: Mendukung Kemandirian, Keamanan dan Kesejahteraan Lansia Alyshia, Shahnaz; Dr. Triandriani Mustikawati, ST., MT
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia dan pergeseran pola hidup manusia yang menjadi semakin individualis di Indonesia menimbulkan kebutuhan akan hunian yang aman, nyaman, dan mendukung kemandirian lansia. Melalui observasi langsung pada dua objek sejenis di Jabodetabek, diperoleh hipotesis, konsep dan kriteria desain yang disusun untuk merancang hunian lansia di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) dengan menggunakan pendekatan elderly-friendly design. Hasil observasi menunjukkan bahwa lansia membutuhkan lingkungan dan ruang yang dapat mendorong lansia untuk melakukan aktivitas, ruang interaksi sosial yang nyaman serta jalur sirkulasi yang aman dan tanpa hambatan. Konsep desain pada perancangan mengambil pola aktivitas dan karakterisitik lansia dengan mengintegrasikan empat prinsip utama elderly-friendly design, yaitu keamanan, dukungan, kognisi dan kesejahteraan. Keempat prinsip ini diaplikasikan pada skala tapak, bangunan dan ruang. Tapak terbagi menjadi dua area yang bersifat publik dan privat dan dihubungkan dengan ruang luar yang juga digunakan sebagai area sosial. Massa bangunan dihubungkan dengan sirkulasi yang melingkari tapak pada bagian luar dan dalam untuk kemudahan mobilitas dan pengawasan. Ruang bagi lansia didesain dengan pertimbangan geometri, iklim, penggunaan material dan penyediaan fasilitas pendukung mobilitas dan saat beraktivitas. Melalui desain ini, diharapkan senior living di BSD dapat menjadi hunian yang dapat mendorong kemandirian, keamanan dan kesejahteraan lansia.
Perancangan Convention and Exhibition Centre dengan Pendekatan Biomimikri di Kota Surabaya Anya Kalyca Orlin
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Surabaya, salah satu kota terbesar di Asia Tenggara, memiliki peran penting sebagai pusat ekonomi dan pariwisata. Namun, Surabaya masih kekurangan fasilitas Convention and Exhibition Centre berskala besar yang mampu menampung berbagai jenis kegiatan, sehingga menghambat perkembangan sektor ekonomi dan pariwisata yang terus meningkat. Kondisi iklim tropis yang panas dan lembap menjadi tantangan dalam merancang bangunan yang nyaman dan efisien energi. Digunakan pendekatan arsitektur biomimikri yang terinspirasi dari bentuk daun Patat (Phrynium capitatum), dengan konsep atap bentang lebar tanpa kolom tengah, sehingga menciptakan ruang yang luas, fleksibel, dan multifungsi. Proses desain dilakukan secara pragmatis dengan mengeksplorasi berbagai bentuk yang efisien untuk berbagai elemen arsitektur. Pendekatan ini berfokus pada bentuk organisme dan prinsip bentuk, sehingga perancangan Convention and Exhibition Centre diharapkan mampu menghadirkan fasilitas yang tidak hanya memenuhi kebutuhan ruang berskala besar, tetapi juga mendukung kenyamanan pengguna serta efisiensi energi.   Kata kunci: Convention Centre, Exhibition, Biomimikri, Phrynium capitatum   ABSTRACT   Surabaya,one of the largest cities in Southeast Asia, has an important role as an economic and tourism centre. However, Surabaya still lacks a large scale Convention and Exhibition Centre facility that can accommodate various types of activies, hindering the development of the growing economic and tourism sectors. Hot and humid tropical climate conditions pose a challenge in designing a comfortable and energy efficient building. To answer these challenges, a biomimicry architectural approach inspired by the shape of Patat leaves (Phrynium Capitatum) is used, with the concept of a wide span roof without a central column, thus creating a spacious, flexible and multifunctional space. The design process was carried out pragmatically by exploring various efficient forms for various architectural elements. This approach focuses on the form of organisms and the principles of form, so that the design of the Convention and Exhibition Centre is expected to be able to present a facility that not only meets and needs of large scale space, but also supports user comfort and efficiency.   Keywords: Convention Centre, Exhibition, Biomimicry, Phrynium capitatum
PERANCANGAN MALANG CULTURAL CENTER DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR NUSANTARA KONTEMPORER Pasya, Pampie Radja
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK   Malang Cultural Center merupakan sebuah proyek perancangan pusat kebudayaan yang hadir sebagai respons terhadap semakin menurunnya eksistensi budaya lokal akibat arus globalisasi yang masif di Kota Malang. Kota ini, yang dikenal memiliki kekayaan sejarah, seni, dan tradisi, membutuhkan suatu ruang kolektif yang dapat mengakomodasi berbagai aktivitas budaya serta menjadi titik temu antara generasi masa lalu dan masa kini. Oleh karena itu, bangunan ini dirancang tidak hanya sebagai wadah fisik, melainkan juga sebagai simbol perlawanan terhadap homogenisasi budaya yang kian menguat di era modern. Melalui transformasi nilai lokal dalam ekspresi arsitektur yang modern, bangunan ini diharapkan mampu mengkomunikasikan identitas budaya secara lebih inklusif, progresif, dan komunikatif. Perancangan ini menekankan bagaimana menyediakan suatu fasilitas yang dapat mewadahi Kegiatan kebudayaan, hingga pameran budaya yang dapat menarik perhatian pengunjungnya dengan menerapkan konsep Arsitektur Nusantara Kontemporer pada perancangannya. Pada penerapannya di bangunan konsep tersebut didukung oleh strategi rupa-ruang yaitu rupa global-ruang tradisional, yang bermaksud menciptakan desain rupa bangunan dengan menerapkan konsep yang modern sehingga dapat menarik perhatian semua kalangan terutama generasi muda, namun dalam segi interior ruang tetap menekankan nilai-nilai tradisional, seperti menerapkan ornamen hingga motif tradisional khas Kota Malang.   Kata Kunci: Pusat Kebudayaan, Arsitektur Nusantara Kontemporer, Identitas Lokal, Ruang Publik, Pelestarian Budaya, Kota Malang.   ABSTRACT   Malang Cultural Center is a cultural center design project that emerges as a response to the declining existence of local culture due to the massive wave of globalization in the city of Malang. This city, known for its rich history, art, and traditions, is in need of a collective space that can accommodate various cultural activities and serve as a meeting point between past and present generations. Therefore, the building is designed not only as a physical space but also as a symbol of resistance against the growing cultural homogenization in the modern era. Through the transformation of local values into modern architectural expressions, the building is expected to communicate cultural identity in a more inclusive, progressive, and communicative manner. The design emphasizes how to provide a facility that can accommodate cultural activities and exhibitions capable of attracting visitors by applying the concept of Contemporary Archipelago Architecture (Arsitektur Nusantara Kontemporer). In its architectural application, this concept is supported by a spatial-form strategy, specifically the global-form of traditional space. This approach aims to create a building form with a modern design concept to capture the attention of a wide audience, especially the younger generation, while the interior spaces remain rooted in traditional values by incorporating ornaments and traditional motifs characteristic of Malang City.   Keywords: Cultural Center, Contemporary Archipelago Architecture, Local Identity, Public Space, Cultural Preservation,MalangCity.
Ruang Katarsis Anak Muda: Youth Center dengan Konsep Biophilic di Kota Malang Diva Safira
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan kesehatan mental di kalangan generasi muda, khususnya Gen-Z, mengalami peningkatan signifikan akibat tekanan sosial, akademik, serta kurangnya ruang untuk berekspresi secara sehat. Kota Malang sebagai kota pendidikan belum memiliki ruang publik yang secara khusus mendukung aktivitas katarsis anak muda. Padahal, aktivitas seperti berkumpul, bermain, berekreasi, dan berolahraga bersama terbukti mampu menjaga keseimbangan mental dan emosional. Menanggapi hal ini, dirancanglah Youth Center dengan pendekatan biophilic architecture untuk mendukung pemulihan mental melalui keterhubungan dengan alam. Perancangan bertujuan menciptakan ruang katarsis yang mewadahi kebutuhan sosial, hiburan, olahraga, dan pengembangan diri bagi anak muda. Dengan keterbatasan lahan di kota, desain mengusung konsep bangunan vertikal. Pendekatan dilakukan melalui metode rasionalisme dan studi preseden. Youth center meruapakan hasil dari integrasi aktivitas berkumpul, bersantai dan berolahraga untuk anak muda meluapkan emosi secara positif. Hasil desain berupa Youth Center merupakan implementasi dari pendekatan biophilic, mulai dari massa yang majemuk, kehadiran taman di tengah bangunan, bangunan semi terbuka, ventilasi silang, kehadiran elemen air, serta kehadiran green terracce, dan bentuk massa yang menyurapai elemen alam.  Kata kunci: kesehatan mental, youth center, arsitektur biophilic, ruang katarsis
Konsep Arsitektur Ramah Anak Pada Desain Daycare & Preschool Di Kota Malang Muhammad Ichsan Maulana; Abraham Mohammad Ridjal
Jurnal Mahasiswa Departemen Arsitektur Vol. 13 No. 2 (2025): Jurnal Mahasiswa Arsitektur UB
Publisher : Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan era globalisasi mendorong masyarakat untuk hidup serba cepat, memunculkan tren wanita bekerja dan meningkatnya emansipasi yang menyebabkan kedua orang tua memiliki aktivitas di luar rumah. Hal ini berdampak pada anak usia dini, seperti berkurangnya interaksi dengan orang tua dan meningkatnya kasus speech delay. Kota Malang sebagai kota ramah anak menyediakan berbagai fasilitas anak, seperti taman bermain dan preschool, namun belum semuanya menerapkan prinsip arsitektur ramah anak secara optimal. Penelitian ini bertujuan merancang daycare & preschool yang sesuai dengan kebutuhan serta persepsi anak usia dini dengan pendekatan arsitektur ramah anak. Metode yang digunakan adalah metode empiris melalui observasi langsung terhadap perilaku dan karakteristik anak. Hasil perancangan menerapkan enam aspek ramah anak: kemudahan, keselamatan, kesehatan, kreativitas, kenyamanan, dan keamanan. Perancangan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan fisik yang tidak hanya aman dan nyaman, tetapi juga mendukung tumbuh kembang anak secara motorik, kognitif, sensorik, sosial, dan psikologis dari sudut pandang anak sebagai pelaku utama.   Kata Kunci: arsitektur ramah anak, daycare, preschool, perilaku anak usia dini