Articles
1,492 Documents
Natural Lighting Design Strategies in Library of Mataram University
Alessandra Angelia Putri;
Andika Citraningrum
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Reading room of a library serves as a place to accommodate reading activities. To fulfill its function, a good standard quality of natural lighting is needed. The standard of natural lighting in the library is 300 lux on the work plane, but the reading room in the library of Mataram University which is located in the city of Mataram still does not meet the standards. The research that uses DIALux v.4.13 software aims to find out the right natural lighting design strategies in order to improve lighting quality. The results showed that the change of furniture layout, addition of the opening dimensions, the addition of top lighting, the replacement of transparency values in lighting openings, then shading elements and material changes are added to existing imagery elements with high transparency values to increase the level of lighting at each point and spread light evenly in space.Keywords: Natural Lighting, Library, Design Strategy, Lighting Distribution
STRATEGI DESAIN RUANG LUAR UNTUK PENINGKATAN KUALITAS IKLIM MIKRO DI KAWASAN REKTORAT UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Siela Mara Nabela;
wasiska iyati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Meningkatnya suhu udara pada area perkotaan yang akan berpengaruh langsung terhadap kualitas iklim mikro dan aktivitas manusia. Kota Malang dalam menghadapi hal tersebut mencanangkan Rencana Kota Malang menunju kota hijau (Green city). Universitas Brawijaya sebagai salah satu universitas besar di Kota Malang ikut serta dalam mendukung hal tersebut dengan cara mengeluarkan Rencana Strategis Universitas Brawijaya menuju green campus. Universitas Brawijaya ini mempunyai 74% area terbuka. Kawasan Rektorat merupakan area terbuka terbesar dan menjadi pusat aktivitas. Penelitian ini melalui proses observasi lapangan untuk mendapatkan data visual dan kuantitatif yang diolah menggunakan metode simulasi eksperimental danfdeskriptiffevaluatif. Dari hasil penelitian ini didapat bahwa karakteristik elemen pembentuk ruang luar dan penataan vegetasi akan mempengaruhi iklim mikro pada suatu kawasan. Material penutup tanah yang baik, yakni yang memiliki albedo dan emisivitas yang tinggi, serta roughness yang rendah. Selain itu, kerapatanfdaun yang tinggi, warna daun yang terang juga dapat meningkatkan kualitas iklim mikro. Strategi elemen pembentukfruang luar yang disesuaikan dengan kriteriafmasing-masing elemen dan penataan vegetasi yang ditata rapat (tajuk yang saling bertumpukan) dapat menurunkan suhu udara hingga 2,60C.
RUANG GERAK ANAK AUTIS DI PUSAT LAYANAN AUTIS KOTA MALANG DENGAN PENDEKATAN TEACCH (TREATMENT AND EDUCATION OF AUTISTIC AND RELATED COMMUNICATION HANDICAPPED CHILDREN)
Rizki Nanda Hendra Pramesti;
Rinawati Pudji Handajani
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pusat Layanan Autis (PLA) Kota Malang menerapkan metode pembelajaran structured teaching dengan pendekatan TEACCH dimana terdapat empat komponen penting, yaitu struktur fisik, jadwal, sistem kerja, dan struktur visual. Keempat komponen tersebut saling terkait satu sama lain agar tujuan dalam membantu perkembangan anak autis dapat tercapai. Struktur fisik merupakan langkah awal untuk mendorong minat anak autis. Pengaturan fisik ruang yang baik dapat meminimalkan efek tantrum pada anak autis. Agar fasilitas yang disediakan pemerintah tepat sasaran maka perlu adanya penelitian mengenai ruang gerak anak autis dengan pendekatan TEACCH. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah behavioral mapping berupa person centered mapping, place centered mapping, dan physical trace yang bertujuan untuk mengetahui pola aktivitas, tata letak perabot, dan jejak aktivitas anak autis selama kegiatan terapi. Hasil yang didapatkan adalah anthropometri anak autis dikarenakan anthropometri anak autis berbeda dengan anak normal. Serta besaran ruang gerak anak autis Kelas Intervensi yaitu 9 ruang indoor di PLA Kota Malang.
Persepsi Pengunjung Terhadap Daya Tarik Kawasan Wisata Coban Talun
M. Miftah Luqmanul Hakim;
Jenny Ernawati
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Coban Talun merupakan salah satu kawasan wisata alam yang sedang dikembangkan di Kota Batu, terdapat atraksi wisata alam berupa air terjun dan berbagai atraksi wisata buatan berupa taman tematik. Namun seiring waktu tingkat ketertarikan pengunjung untuk mengunjungi kawasan wisata ini semakin berkurang, hal ini merupakan indikasi bahwa kurangnya daya tarik kawasan wisata Coban Talun menurut persepsi pengunjung. Penelitian ini akan menggali persepsi pengunjung terhadap daya tarik wisata tersebut menggunakan metode survei dengan kuesioner. Untuk mengetahui persepsi pengunjung terhadap setiap elemen daya tarik maka dilakukan metode mean score analysis, kemudian variabel penelitian direduksi dengan menggunakan metode factor analysis, serta untuk mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh signifikan terhadap daya tarik maka dilakukan analisis regresi. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa tingkat ketertarikan pengunjung untuk mengunjungi kawasan wisata Coban Talun termasuk ke dalam kategori “baik” (mean score = 3,66), namun sebenarnya daya tarik tersebut masih dapat ditingkatkan karena masih mendekati titik netral (nilai 3) daripada nilai sangat baik (nilai 5). Tahap reduksi variabel menunjukkan bahwa terdapat 7 faktor yang mendasari daya tarik kawasan wisata Coban Talun dan untuk dapat meningkatkan daya tarik tersebut maka dapat dilakukan perbaikan dan pembenahan pada elemen dari 2 faktor yaitu faktor “estetika, naungan dan atraksi wisata” dan “fasilitas umum”.
Konsep Ruang pada Rumah Abu Keluarga Han berdasar pada Konsep Jìngzǔ dan Feng Shui
Rizka Desi Kuntari;
Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Rumah Abu Keluarga Han merupakan salah satu peninggalan sejarah tertua yang berada pada Chineseche Voorstraat (sekarang Jalan Karet) di Surabaya. Rumah tersebut dibangun atas kepercayaan jìngzǔ, yaitu penghormatan kepada arwah leluhur. Serangkaian prosesi sembahyang yang terjadi pada beberapa ruang di rumah Abu Keluarga Han masih terjaga hingga saat ini. Selain untuk sembahyang, rumah tersebut juga dahulunya difungsikan sebagai tempat tinggal sementara bagi keluarga Han yang baru tiba dari Cina. Perbedaan aktivitas yang terjadi di dalam rumah tersebut membuat penelitian lebih lanjut perlu dilakukan. Bagaimana konsep ruang terbentuk? Bagaimana ruang pada rumah tersebut dapat terbentuk? Bagaimana pengaruh kepercayaan jìngzǔ pada ruang di rumah tersebut? Bagaimana pemisahan fungsi ruang antara aktivitas sembahyang dan aktivitas tinggal yang terjadi di dalam rumah tersebut? Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mencari bagaimana konsep ruang pada Rumah Abu Keluarga Han. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif-induktif dengan pendekatan nauralistik. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep ruang pada Rumah Abu Keluarga Han sangat erat kaitannya dengan konsep Jìngzǔ dan Feng Shui. Konsep Jìngzǔ atau penghormatan kepada leluhur menjadi dasar terbentuknya ruang sedangkan konsep Feng Shui yang bersumber pada kosmologi, Yin-yang, Wu Hsing, serta Element Production & Destruction Cycles menjadi dasar bentuk, tata ruang, orientasi, arah hadap, dan tata letak hingga akhirnya membentuk konsep ruang.
Membaca Hierarki Ruang Perempuan pada Masyarakat Budaya Padi Kasepuhan Ciptagelar melalui Boeh
Puji Astutik;
Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Nusantara merupakan wujud dari keberagaman budaya, salah satu budaya yang menunjukan jati diri bangsa Indonesia adalah budaya padi (padi culture) yang dipegang teguh oleh masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Segala aktivitas yang berkaitan dengan padi dan turunannya diperjalankan dengan ritual. Dalam ritual terdapat ruang khusus perempuan yang ditandai oleh busana yang dipakai perempuan. Busana merupakan salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Dalam penelitian ini busana sebagai prasyarat ritual. Busana putih merupakan domain budaya busana yang wajib dipakai ketika melaksanakan ritual yang melakukan kontak langsung dengan pencipta melalui karuhun. Boeh yang dipakai oleh pemimpin ritual di atas kepala menunjukan kehadiran ruang perempuan dan hierarkinya. Penciptaan struktur ruang perempuan tidak terlepas dari konsep sakuren atau fenomena sepasang yang merupakan dasar falsafah masyarakat. Implementasi sakuren pada ruang perempuan berjalan secara koeksistensi sebagai dualisme harmoni. Setiap entitas dalam relasi sakuren memiliki kualitas busana yang berbeda. Kualitas busana inilah yang menunjukan derajat sebuah ritual dan hierarki ruang perempuan. Untuk menemukan relasi sakuren dari domain budaya busana dengan hierarki ruang perempuan, penelitian ini menggunakan metode kualitatif-eksplanatif dengan paradigma empiris. Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap derajat ritual memiliki ketentuan khusus kualitas busana yang dipakai. Kualitas busana yang menghadirkan boeh pada perempuan adalah hierarki tertinggi ruang perempuan. Terbuktinya implementasi sakuren dalam ruang perempuan yang ditinjau dari domain budaya busana yang menentukan hierarki ruang perempuan, maka penelitian ini mampu memperkuat hipotesis yang diujikan dari penelitian terdahulu.
Membaca Hierarki Ruang Perempuan pada Masyarakat Budaya Padi Kasepuhan Ciptagelar melalui Boeh
Puji Astutik;
Susilo Kusdiwanggo
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Nusantara merupakan wujud dari keberagaman budaya, salah satu budaya yang menunjukan jati diri bangsa Indonesia adalah budaya padi (padi culture) yang dipegang teguh oleh masyarakat Kasepuhan Ciptagelar. Segala aktivitas yang berkaitan dengan padi dan turunannya diperjalankan dengan ritual. Dalam ritual terdapat ruang khusus perempuan yang ditandai oleh busana yang dipakai perempuan. Busana merupakan salah satu media yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Dalam penelitian ini busana sebagai prasyarat ritual. Busana putih merupakan domain budaya busana yang wajib dipakai ketika melaksanakan ritual yang melakukan kontak langsung dengan pencipta melalui karuhun. Boeh yang dipakai oleh pemimpin ritual di atas kepala menunjukan kehadiran ruang perempuan dan hierarkinya. Penciptaan struktur ruang perempuan tidak terlepas dari konsep sakuren atau fenomena sepasang yang merupakan dasar falsafah masyarakat. Implementasi sakuren pada ruang perempuan berjalan secara koeksistensi sebagai dualisme harmoni. Setiap entitas dalam relasi sakuren memiliki kualitas busana yang berbeda. Kualitas busana inilah yang menunjukan derajat sebuah ritual dan hierarki ruang perempuan. Untuk menemukan relasi sakuren dari domain budaya busana dengan hierarki ruang perempuan, penelitian ini menggunakan metode kualitatif-eksplanatif dengan paradigma empiris. Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap derajat ritual memiliki ketentuan khusus kualitas busana yang dipakai. Kualitas busana yang menghadirkan boeh pada perempuan adalah hierarki tertinggi ruang perempuan. Terbuktinya implementasi sakuren dalam ruang perempuan yang ditinjau dari domain budaya busana yang menentukan hierarki ruang perempuan, maka penelitian ini mampu memperkuat hipotesis yang diujikan dari penelitian terdahulu.
Tata Ventilasi Pada Ruang Kelas SDK Santa Maria I
Ratih Pradnyasari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
SDK Santa Maria 1 Malang merupakan salah satu wadah dalam dunia pendidikan dasar untuk menuntut ilmu. Pada ruang kelas haruslah tercipta kenyamanan dalam belajar agar meningkatkan konsentrasi siswa, salah satunya adalah dengan kenyamanan termal. Dimana kenyamanan termal dipengaruhi oleh bentuk dan orientasi dari elemen bangunan terutama pada ventilasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi termal berdasarkan tata ventilasi yang terdapat di dalam ruang kelas sehingga didapatkan rekomendasi untuk meningkatkan sirkulasi udara yang cukup untuk kenyamanan termal. Metode pada penelitian ini adalah kuantitatif evaluatif dimana data yang didapat adalah melalui pengukuran dan didukung oleh hasil wawancara pada pengguna ruangan yang selanjutnya dievaluasi untuk memecahkan permasalahan yang ada. Rekomendasi pada penelitian berupa modifikasi rasio ventilasi yang ada, menambahkan shading device, merekomendasi penanaman vegetasi pelindung, penggantian jenis ventilasi yang kurang optimal dalam pengaliran udara, dan menambahkan alat bantu sirkulasi udara berupa exhaust fan yang dapat menurunkan suhu ruangan hingga 3,8% sehingga tercapai kenyamanan termal dalam ruang.
Pengaruh Tipe Jendela Terhadap Kinerja Suhu pada Bangunan Masjid Namira Lamongan
Reddy Dahana Putra Arifin;
Agung Murti Nugroho
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Sebagai bangunan ibadah, masjid merupakan fasilitas umum yang harus memenuhi beberapa syarat kenyamanan dalam menjalankan fungsinya. Diantaranya adalah memenuhi syarat kenyamanan termal. Untuk mendapatkan penghawaan alami yang optimal pada iklim tropis dapat dicapai melalui tipe bukaan jendela yang baik. Masjid Namira Lamongan merupakan bangunan yang menggunakan sistem penghawaan buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa pengaruh dari tipe bukaan alami terhadap kinerja suhu pada ruang dalam masjid. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengukuran dilakukan selama 5 hari pada shalat 5 waktu melalui pengukuran lapangan dengan validasi data melalui simulasi software Autodesk Ecotect Analysis 2011. Simulasi dilakukan dengan 4 jenis jendela yang berbeda berdasarkan alternatif jendela. Kesimpulan yang didapat adalah penurunan suhu dengan modifikasi jendela telah berhasil, namun belum mencapai kondisi nyaman. Alternatif yang terpilih adalah jenis jendela vertical pivoted. Selisih terbanyak suhu modifikasi dengan suhu nyaman 1.54 ºC pada waktu dhuhur.
Karakteristik Spasial dan Visual Bangunan Gedung Hoofdbureau Polrestabes Surabaya
Dyllan Naufal Azmi;
Antariksa Sudikno
Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa Jurusan Arsitektur
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Gedung Hoofdbureau (awalnya Djotangan-Militaire Kazerne) adalah bangunan barak militer yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal tentara kerajaan Hindia Belanda (KNIL) yang didirikan sejak tahun 1828 pada pemerintahan Gubernur Hindia Belanda Jendral Willem Herman Daendels. Gedung tersebut kemudian dijadikan sebagai markas polisi Belanda pada tahun 1928 dan kini termasuk sebagai bangunan cagar budaya di Kota Surabaya. Jika dilihat secara kasat mata gedung Hoofdbureau memiliki keunikan dari cirikhas arsitektur klazzisme yang berkembang di periode 1770 - 1850. Pertumbuhan kota Surabaya yang pesat dikhawatirkan dapat berdampak pada bangunan Gedung Hoofdbureau Polrestabes Surabaya. Oleh karena itu, pengkajian karakteristik spasial dan visual bangunan dirasa penting dalam upaya untuk tetap menjaga keaslian bangunan. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Hasil studi menunjukkan bahwa fungsi ruang bangunan adalah sebagai kantor dan Museum Hidup Polrestabes Surabaya. Hubungan ruang yang terbentuk pada bangunan adalah hubungan ruang dalam ruang. Sirkulasi yang terdapat pada bangunan adalah sirkulasi linier dengan dua akses pintu masuk utama dari timur dan utara bangunan. Terdapat perubahan organisasi ruang yang awalnya terpusat menjadi organisasi ruang terklaster. Secara keseluruhan, orientasi bangunan menghadap ke arah timur yang merupakan akses keluar masuk utama menuju tapak bangunan Gedung Hoofdbureau Polrestabes Surabaya.