cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
Pertumbuhan Larva Lalat Tentara Hitam (Hermetia illucens) dengan Pemberian Pakan Susu Kedaluwarsa dan Alpukat Intan Josefin Purba; Ida Kinasih; Ramadhani Eka Putra
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.01.10

Abstract

Larva lalat tentara hitam (LLTH) (Hermetia illucens) dapat mengonsumsi berbagai limbah organik untuk menghasilkan biomassa yang kaya akan kandungan protein dan lemak. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji dari aplikasi LLTH pada produk pangan olahan yang sudah kedaluwarsa, hal yang relatif belum banyak diteliti di Indonesia terutama terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan dari LLTH. Produk yang diujikan adalah susu bubuk instan dengan pakan ayam komersial sebagai kontrol dan alpukat sebagai pembanding produk yang umum digunakan sebagai pakan LLTH. Pada penelitian ini, 200 ekor larva berusia 7 hari menjadi sampel uji pada tiga kelompok tersebut. Pakan diberikan setiap 3 hari (200 mg/larva/hari) hingga 50% dari larva telah bermetamorfosis menjadi prepupa. Pengambilan data terkait berat tubuh dan tingkat kematian dilakukan bersamaan dengan waktu penggantian pakan. Saat prepupa bermetamorfosis menjadi pupa, setiap individu ditempatkan pada botol vial terpisah untuk proses identifikasi jenis kelamin dan masa hidup. Data pada kelompok susu kedaluwarsa dan kontrol menunjukkan rata-rata berat akhir larva lebih tinggi (0,11 gram berbanding 0,12 gram), proporsi lalat dewasa yang lebih banyak betina (♂:♀, 90:94 dan 90:98), waktu pertumbuhan larva hingga pupa lebih singkat (keduanya memiliki waktu yang sama yaitu 34 hari), dan total masa hidup lalat lebih pendek (57,3 hari berbanding 54,8 hari) lebih baik dibandingkan kelompok alpukat. Sementara itu, kelulushidupan larva tertinggi tercatat pada kelompok kontrol diikuti dengan kelompok yang mendapatkan pakan alpukat (98,5%) dan susu kedaluwarsa (96,5%). Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa susu kedaluwarsa dapat digunakan sebagai pengganti pakan ayam dalam pengembangan sistem produksi larva BSF yang lebih berkesinambungan
Pengetahuan Lokal Penduduk Sumenep Tentang Cemara Udang (Casuarina equisetifolia L.) Wisanti Wisanti; Novita Kartika Indah; Eva Kristinawati Putri
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.01.01

Abstract

Kabupaten Sumenep merupakan salah satu wilayah distribusi cemara udang,terutama di pesisir pantai utara Pulau Madura. Penduduk Pantai LombangSumenep dikenal sebagai pembudidaya cemara udang. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengetahuan lokal penduduk Sumenep tentang tanaman cemara udang. Penelitian menggunakan metode survei eksploratif dengan pendekatan partisipatif responden. Responden sebanyak 100 orang dipilih melalui purposive sampling. Teknik pengumpulan data melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner semi terstruktur terdiri dari 20 pertanyaan yang terkait demografi dasar, pengetahuan lokal, dan pengetahuan kegunaan tanaman. Area penelitian mencakup empat lokasi yaitu Pantai Lombang, Pantai Cemara Indah, Pantai Slopeng dan Kota Sumenep. Data yang diperoleh berupa nilai persepsi, apresiasi, dan kegunaan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai persepsi penduduk Sumenep baik dipantai maupun di kota termasuk kategori baik (77,6%) sampai dengan sangat baik (100%) yaitu pada pengenalan, manfaat, dan cara budidaya cemara udang. Penduduk pantai memberikan apresiasi lebih baik dibandingkan penduduk kota ditinjau dari aspek pemanfaatan, budidaya, dan pemeliharaan cemara udang. Cemara udang dinilai kegunaannya oleh penduduk Sumenep sebagai penyejuk lingkungan dan tanaman perindang. Pengetahuan lokal yang menarik dari cemara udang adalah klasifikasi berdasarkan karakteristik morfologi yang bersifat diskontinyu, sehingga menghasilkan empat kelompok yaitu dhungsèng, kerbuy, palè’ mèrah, dan palè’ potè’.
Identifikasi Ikan Hasil Tangkapan Nelayan di Pantai Timur Pananjung Pangandaran Kartiawati Alipin; Nining Ratningsih; Retnaningtyas Siska Dianty
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.02.05

Abstract

Kawasan Pantai Pangandaran merupakan kawasan wisata dan penangkapan ikan bagi nelayan. Hasil tangkapan nelayan terdiri dari berbagai spesies ikan. Untuk mengetahui hasil tangkapan nelayan tersebut perlu dilakukan identifikasi spesies ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi spesies ikan berdasarkan struktur morfologis dan morfometrik. Metode penelitian yang dilakukan yaitu pengamatan secara morfologis dan morfometrik menggunakan sampel ikan masing-masing tiga ekor jenis ikan yang mewakili ikan terbanyak pada hasil tangkapan nelayan. Berdasarkan hasil identifikasi jenis ikan yang paling banyak dari hasil tangkapan nelayan didapat spesies ikan laut Kembung (Rastrelliger brachysoma) yang memiliki ekor berwarna kuning; ikan Talang (Scomberoides tol) yang memiliki corak keperakkan di sepanjang tubuh; dan ikan Kakapasan (Geres punctatus) yang memiliki bentuk mulut superior yang khas. Berdasarkan pengukuran morfometrik terdapat spesies ikan yang memiliki ukuran paling besar yaitu ikan laut Kembung (R. brachysoma) dengan panjang total 25,1 cm dan berat rata-rata 215 g. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan nelayan di Pantai Timur Pananjung Pangandaran berdasarkan hasil identifikasi terdapat tiga jenis ikan yang paling dominan untuk itu perlu dilakukan pemeliharaan kawasan agar memungkinkan berbagai jenis ikan dapat berkembang biak.
Jenis dan Kekerabatan Kupu-Kupu (Lepidoptera) di Taman Hutan Raya Sulawesi Tengah Moh Sabran; Rocky RT Lembah; Wahyudi Wahyudi; Hamzah Baharuddin; Manap Trianto; Samsurizal M Suleman
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.01.06

Abstract

Jenis dan hubungan kekerabatan kupu-kupu erat kaitannya dengan pelestarian dan pemanfaatan sumber daya hayati di Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis dan kekerabatan kupu-kupu (Lepidoptera) di Taman Hutan Raya Sulawesi Tengah. Pengambilan sampel kupu-kupu menggunakan sweeping net dengan metode purposive sampling pada tiga lokasi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbeda yaitu Vatutela, Kawatuna, dan Poboya. Sampel kupu-kupu yang diperoleh di lokasi penelitian selanjutnya diidentifikasi di Laboratorium Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Tadulako. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 97 spesies dari lima famili kupu-kupu, yaitu Papilionidae (14 spesies), Pieridae (16 spesies), Nymphalidae (46 spesies), Lycanidae (15 spesies), dan Hesperiidae (6 spesies). Sampel penelitian yang digunakan untuk analisis hubungan kekerabatan adalah 23 spesies dari lima famili kupu-kupu yang mendominasi pada lokasi penelitian. Karakter yang diamati meliputi 32 karakter. Analisis hubungan kekerabatan dihitung menggunakan indeks kesamaan Sorensen, selanjutnya diolah menggunakan perangkat lunak Multivariate Statistical Package (MVSP). Hubungan kekerabatan terdekat yaitu antara spesies Appias ithome dan A. zarinda yang didukung dengan indeks similaritas di atas 0,90 dan hubungan kekerabatan terjauh terjadi antara spesies Bibasis sp. dengan spesies lainnya yang berasal dari famili Hesperiidae yang didukung dengan indeks similaritas di bawah 0,7.
Identifikasi Keanekaragaman dan Pola Sebaran Hama Kutu Putih dan Musuh Alaminya pada Tanaman Singkong (Manihot esculenta) di Kabupaten Banyuwangi Fitri Nurmasari
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.03.05

Abstract

Keberlanjutan produksi singkong dalam waktu beberapa tahun terakhir ini terancam dengan adanya invasi kutu putih. Beberapa spesies diantaranya adalah Phenacoccus manihoti, Paracoccus marginatus, dan Ferrisia virgata. Kutu putih singkong merupakan hama baru yang berpotensi menjadi ancaman di pertanaman khususnya tanaman singkong. Salah satu upaya pengendalian hama kutu putih pada tanaman singkong adalah dengan menggunakan musuh alaminya yaitu parasitoid, predator dan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman hayati dan pola persebaran kutu putih serta keberadaan musuh alaminya pada tanaman singkong. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2018 di Kabupaten Banyuwangi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sepuluh lokasi di Kabupaten Banyuwangi ditemukan dua spesies kutu putih yaitu P. marginatus dan F. virgata, ditemukan satu spesies predator kutu putih jenis Lacewing hemerobius spp
Behavior of Lutung Budeng (Trachypithecus auratus) in Adinuso Forest Batang District Central Java Rizki Fitrawan Yuneldi; Fibria Kaswinarni
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.02.10

Abstract

Lutung Budeng (Trachypithecus auratus) is an endemic primate of Indonesia, especially Java, Bali, and Lombok, which is vulnerable. This study aimed to determine the behavior of Lutung Budeng in the Adinuso Subah forest, Batang Regency. The study was conducted from January to December 2019. Lutung Budeng behavior is observed directly in the field using the roaming or exploration method. The equipment used were the digital singlelens reflex camera of the Canon EOS 650 D, telephoto tamron 70-300 mm, tripod, Sony handycam HRD- PJ410, compass, and Nikon Binocular A211 16x50 mm. The recorded vocal of Lutung Budeng was analyzed using Audacity. The data observed were the behavior of moving places, feeding, grooming, resting, playing, and vocalization. The data obtained were analyzed by means of descriptive qualitative. The results showed that in the Adinuso forest, the feeding behavior of Lutung Budeng did not interact with visitors or humans to get feed. Lutung Budeng more often feeds young leaves. It can be concluded that the behavior of Lutung Budeng in Adinuso Subah forest, Batang Regency is relatively the same as the behavior of Lutung Budeng in general. The behavior of Lutung Budeng in the Adinuso forest includes moving places, feeding, resting, grooming, vocalization, and playing.
Potensi dan Efektivitas Salmonella Typhimurium Hasil Rekayasa Genetika Sebagai Terapi Antikanker Glioblastoma Muhamad Ananda; Fiska Ivana Pratami Putri Tokede; Srigika Natalia Boru Ginting; Rani Nurlina Tifen; Delfania Apang Madao; Ellen Nur Endah Pangesti; Wahyu Irawati
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.02.01

Abstract

Kanker adalah penyakit mematikan karena perkembangan sel yang abnormal sehingga tidak terkendali oleh tubuh. Penyakit kanker telah menyerang laki-laki maupun perempuan dengan jenis kanker berbeda, seperti kanker paru-paru, kolorektum, kanker serviks. Pengobatan kanker terdapat beberapa cara salah satunya terapi. Pengobatan ini banyak diimplementasikan di beberapa jenis kanker, termasuk kanker otak, yaitu glioblastoma. Penelitian beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pendekatan terapi dengan bakteri Salmonella Typhimurium berhasil memproduksi enzim antikanker, dan mensekresikan antigen sekaligus antibodi spesifik kanker untuk mengobati penyakit ini. Penulisan ini bertujuan mengkaji potensi dan efektivitas Salmonella Typhimirium sebagai agen terapi antikanker melalui rekayasa genetika galur gen VN20009 yang dilemahkan. Pengkajian dilakukan secara kualitatif dengan memaparkan secara deskriptif melalui kajian literatur. Hasil kajian menunjukkan bahwa Salmonella Typhimurium merupakan bakteri Gram negatif, fakultatif anaerob, dan bersifat motil. Bakteri ini berikatan secara spesifik pada sel-sel kanker dengan mentransferkan RNA onkogen serta menghambat pertumbuhan sel kanker. Pengembangan bakteri Salmonella menjadi kandidat terapi sebagai strategi terapi utama dalam pengobatan kanker karena spesifik menargetkan sel kanker sehingga menghambat pertumbuhannya dan meningkatkan kelangsungan hidup penderita kanker. Hasil kajian menunjukkan bahwa Salmonella Typhimurium memiliki prospek yang menjanjikan untuk penyembuhan penyakit kanker serta menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya dalam pengembangan dan pemanfaatan Salmonella Typhimurium sebagai antikanker.
Composition & Ecological Role of Soil Macrofauna in Selorejo and Punten Citrus Farming, Malang - East Java Fitria Karinasari; Zulfaidah Penata Gama; Amin Setyo Leksono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.01.02

Abstract

Conventional citrus crop farming is a citrus farming system that uses citruscultivation techniques with maximum use of chemicals material to support asustainable agricultural system. Indicators of environmental quality can be known from the composition and ecological role of fauna, one of which is soil macrofauna. This research aims to investigate the diversity and community structure of the soil macrofauna and to identify its role in citrus farming at Selorejo, Dau and Punten Villages, Bumiaji, Malang Regency. This study is a descriptive exploratory study in order to study soil macrofauna capturing at each location for three times. The observation method of soil macrofauna used pitfall traps and hand shorting methods. All data were tabulated used Microsoft Excel. Abiotic factor measurements for two locations have a no different value in each sampling plot. The composition of soil macrofauna is obtained from the important value index (IVI) and the Shannon-Wiener diversity index (H'). Soil macrofauna was obtained from two locations as many as 21 families with the highest importance value index (IVI), namely Formicidae. The results showed that Selorejo citrus farming consists of predator 46%, herbivorous 25%, decomposer 11%, scavenger 7%, and others 11%, while in Punten citrus farming consists of 55% predator, 10%herbivorous,15% decomposer,5% scavenger, and others 15% 
Microalgae Diversities in Different Depths of Sendang Biru Beach, Malang East Java Yustika Aulia Rahma; Getrudis Wihelmina; Sugireng Sugireng; Tri Ardiyati
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.03.01

Abstract

Sendang Biru beach is a one of the coastal area located in Sumbermanjing Wetan, Malang, East Java-Indonesia. As a sea tourism, there are another residents activities such as fishing, fish landing and auction in Malang. That activities can caused pollution on the Sendang Biru aquatic environment. The research aim were to describe the water quality of Sendang Biru aquatic environment based on phytoplankton diversity. This research used several data collection techniques, that were microalgae sampling technique and measurement of physical and chemical water quality. Phytoplankton found in Sendang Biru Beach consists of 47 genus that are genus from seven divisions, Bacillariophyta, Chlorophyta, Cyanophyta, Euglenophyta, Dinophyta, Chrysophyta and Charophyta. The most abundant phytoplankton while having the Indeks Nilai Penting (INP) at the edge zone is the genus Oscillatoria sp. (the abundance is 4368000 Ind/L and INP 26,288). In the central and inner zones are both dominated by Coscinodiscus sp. (The abundance of center zone 4992000 Ind/L and INP 30,499; the abundance of inside zone is 9464000 Ind/L and INP 40,773). The level of diversity of phytoplankton in the three area of Sendang Biru beach are 2,297 in the edge zone; 2,37 in the central zone, and 1,8 in the inner zone. The pollution status of Sendang Biru beach can be classified as polluted moderately based on diversity index value on three different zone in the Sendang Biru Beach.
Hubungan Antara Keanekaragaman Tanaman Pekarangan Dengan Pola Sosial Budaya Masyarakat Setempat Handika Dwi Prasetyo; Abdul Rahman Singkam; Hilman Fauzi; Muhammad Izzudin Al Qosam
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.02.06

Abstract

Pekarangan merupakan ruang terbuka hijau yang berada di antara rumah atau gedung dan difungsikan sebagai lahan untuk menanam. Pekarangan dapat juga difungsikan sebagai tempat konservasi keanekaragaman hayati. Struktur tanaman pekarangan biasanya dipengaruhi faktor iklim, edafik, dan sosial budaya masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan keanekaragaman tanaman pekarangan terhadap pola budaya masyarakat setempat. Pengumpulan data dilakukan melalui identifikasi spesies tanaman di lahan pekarangan dan penentuan nilai indeks kepentingan setiap spesies yang ditemukan. Pengambilan data dilakukan pada tiga daerah dengan pola budaya yang berbeda yaitu di Pematangsiantar untuk Suku Batak, di Ciracas Jakarta Timur untuk Suku Betawi, dan di Cibadak Sukabumi untuk Suku Sunda. Analisis data dilakukan dalam bentuk perhitungan nilai indeks keanekaragaman spesies Shannon-Wiener, indeks kemerataan (evenness), dan indeks kepentingan budaya (ICS). Hasil analisis menunjukkan nilai indeks keanekaragaman spesies tertinggi terdapat di Cibadak sebesar 2,48 sedangkan nilai kemerataan spesies tertinggi adalah di Ciracas dengan nilai sempurna yaitu 1. Nilai ICS tertinggi pada masing-masing lokasi adalah cokelat di Pematangsiantar dengan nilai 72, pepaya, jambu bol, dan mangga di Cibadak dengan nilai 21, dan kelapa di Ciracas dengan nilai 18. Spesies tanaman yang ditemukan di ketiga lokasi umumnya adalah tanaman budidaya, buah-buahan dan perkebunan. Fungsi tanaman pekarangan di Pematangsiantar terutama sebagai sumber pendapatan tambahan, di Cibadak sebagai sumber makanan tambahan, sedangkan di Ciracas terutama sebagai penghias rumah atau tempat berteduh.