cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
Macrozoobenthos Diversities in Ciwulan River, Tasikmalaya Regency, West Java Muhammad Ridwan; Diana Hernawati; Popo Musthofa Kamil
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.02.04

Abstract

Ciwulan River is one of the longest rivers in Tasikmalaya Regency with a diversity of macrozoobenthos as one of the biota contained therein. The purpose of this study was to describe the diversity of macrozoobenthos in The Ciwulan River, Tasikmalaya Regency. This research is important because macrozoobenthos is a component in determining river bioindicators. The method used in this study is exploratory with a purposive sampling technique. Sampling of macrozoobenthos is done using a surber net and measurement of environmental indicators is done in situ at the observation station. Samples of macrozoobenthos were taken from three different stations including upstream Station I (Salawu), middle part II (Sukaraja), and downstream Station III (Cikalong). Data collection was carried out in November 2019-April 2020 in the Ciwulan River, Tasikmalaya Regency. Analysis of the observed data was then calculated relative abundance, cumulative abundance, diversity index, uniformity index, and dominance index. The results showed that the macrozoobenthos were found to have 24 species with 476 individuals/m2 belonging to the gastropod class as many as 21 species with 433 individual/m2, bivalve class two species with 37 individuals/m2 and crustacean class one species with six individuals/m2. Macrozoobenthos that are commonly found are Tarebia granifera Lamarck, 1822 totaling 222 individuals/m2. The highest relative abundance was found in Station I with the Tarebia granifera Lamarck species, 1822 which was 0.65%. and the lowest relative abundance was found in Station II with the species Lymnaea (Radix) rubiginosa Michelin, 1831 and Gyraulus convexiusculus Hutton, 1849 by 0.006%. Cumulative abundance values range from 54-350 individuals/m2. Diversity index values range from 1.02-1.67 with the category of moderate diversity. Uniformity index values ranged from 0.58 to 0.73 with a high category. The dominance index value ranges from 0.33 to 0.47 with the low category. Overall based on environmental parameters and ecological index measurements, the Ciwulan River is classified as not yet polluted and the conditions are suitable for macrozoobenthos life and have a moderate diversity of categories with relatively stable environmental conditions
Studi Keanekaragaman Diatom Epilitik serta Potensinya sebagai Bioindikator Kualitas Perairan Sungai di Coban Tarzan Kabupaten Malang Bayu Agung Prahardika; Widi Muhammad Lutsfi Dwi Styawan
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.02.07

Abstract

Air selalu menjadi kebutuhan penting dalam memenuhi segala aspek kehidupan bagi semua makhluk hidup. Keberadaan sumber daya perairan harus didukung dengan kuantitas yang tercukupi serta kualitas yang baik. Salah satu sumber daya perairan yang sering dimanfaatkan oleh makhluk hidup adalah sungai, terutama aliran sungai yang berasal dari air terjun (coban). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keanekaragaman jenis diatom epilitik serta potensinya sebagai organisme indikator penentu kualitas perairan sungai di Coban Tarzan Kabupaten Malang. Pengambilan sampel diatom epilitik dilakukan dengan metode terpilih (purposive sampling) pada tiga stasiun di perairan sungai Coban Tarzan. Sampel diatom epilitik diambil dari substrat batuan yang terendam air dan tidak lebih dari kedalaman 20 cm. Parameter yang diamati dan diukur antara lain Kepadatan (K), Indeks Keanekaragaman Shannon Wiener (H’), Indeks Dominansi Simpson (C) dan Indeks Tropik Diatom Epilitik. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kepadatan total diatom epilitik yang ditemukan di Coban Tarzan selama penelitian adalah 152.669 ind/cm2, yang terdiri delapan genus (Amphora, Cocconeis, Cymbella, Fragilaria, Gomphonema, Navicula, Nitzschia dan Rhoicosphenia). Sementara itu nilai H’ diatom epilitik di sungai Coban Tarzan menunjukkan tingkat keanekaragaman yang sedang (H’=1,52), sedangkan untuk nilai C menunjukkan tidak ada spesies diatom epilitik yang mendominasi di perairan tersebut (C=0,25). Hasil indeks tropik diatom epilitik menunjukkan perairan sungai Coban Tarzan tergolong memiliki kualitas perairan dengan kategori sedang (mesotrofik).
Analisis Pola Pertumbuhan dan Pendekatan DNA Barcoding untuk Identifikasi Turbo stenogyrus P. Fischer, 1873 (Mollusca: Gastropoda) Dandi Saleky; Simon P.O Leatemia; Thomas F. Pattiasina; Isma Isma; Rosa D. Pangaribuan; Marius A. Welliken; Edy H.P. Melmambessy; Muhammad Dailami
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.02.03

Abstract

Pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman hayati berawal dari pengetahuan tentang ketersediaan sumberdaya, identifikasi, dan sistematika spesies. Banyaknya spesies Turbinidae dengan berbagai bentuk morfologi dan transformasi bentuk menjadikan identifikasi dengan gen COI sangat penting dalam mempercepat pengungkapan identitas spesies. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisis pola pertumbuhan dan mengidentifikasi gastopoda Turbinidae dengan pendekatan DNA barcode. Hasil identifikasi berdasarkan karakter morfologi menunjukkan bahwa genus Turbo yang diamati adalah dari spesies Turbo stenogyrus. Analisis pola pertumbuhan menunjukkan bahwa pola pertumbuhan T. stenogyrus adalah allometrik negatif. Amplifikasi DNA dengan gen COI menghasilkan panjang sekuen DNA 650 bp dengan hasil identifikasi sesuai dengan pengamatan morfologi yaitu Turbo stenogyrus. Berdasarkan analisis filogenetik dan jarak genetik, sekuen DNA yang dianalisis membentuk clade yang sama dengan spesies Turbo stenogyrus dengan jarak genetik terdekat 4,2%. Analisis genetik melalui gen COI sangat baik dan memberi kemudahan dalam identifikasi spesies gastropoda
Pertumbuhan Jenis Invasif Acacia decurrens Willd. dan Pengaruh Naungannya Terhadap Tanaman Restorasi Ramli Ramadhan; Harsanto Mursyid; Dwi Tyaningsih Adriyanti; Joko Triwanto; Nugroho Triwaskitho
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.02.02

Abstract

Erupsi Gunung Merapi pada akhir tahun 2010 telah mengakibatkan kerusakan ekosistem terutama di wilayah Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). TNGM melakukan restorasi pasca letusan dengan membuat demonstrasi plot (demplot) restorasi menggunakan jenis tanaman puspa (Schima wallichii), salam (Syzygium polyanthum), dan gayam (Inocarpus edulis) sebagai tanaman inti restorasi. Di saat yang sama, jenis asing Acacia deccurens yang muncul sejak erupsi tahun 2006 mendominasi dan merubah struktur serta komposisi jenis yang ada di kawasan pasca erupsi tahun 2010. Keberadaan A. decurrens yang melimpah dalam demplot diperkirakan mengganggu pertumbuhan tanaman inti restorasi terutama dari penutupan tajuknya. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik pertumbuhan riap pohon A. decurrens pasca erupsi dan pengaruh naungan tajuk A. decurrens terhadap laju pertumbuhan tanaman restorasi. Demplot dalam penelitian ini menggunakan Rancangan Blok Tidak Lengkap (Incomplete Block Design) dengan total sembilan blok dan masing-masing blok terdiri tiga plot tanaman berbeda, sedang jarak tanam dibuat 4 m x 5 m. Data yang diambil ialah diameter A. decurrens pada berbagai kriteria diameter untuk memperoleh riap pertumbuhan. Data lain yang diukur adalah tinggi dan diameter tanaman restorasipada kondisi ternaung >60% dan tidak ternaung <60%. Data yang diperoleh dianalisis R-statistik menggunakan Wilcoxon-paired test untuk mengetahui pengaruh naungan A. decurrens terhadap pertumbuhan tanaman restorasi. Hasil pengukuran dan analisis menunjukkan bahwa riap rata-rata diameter A. decurrens di dalam demplot sebesar 1,66 cm/tahun. Pada kelas diameter pohon <3,00 cm dan >10,00 cm mengalami perubahan yang cepat dibanding kelas diameter yang lain. Analisis wilcoxon-paired test menunjukkan bahwa tanaman gayam pada pertumbuhan tinggi dan diameter dipengaruhi oleh kondisi naungan. Jenis puspa pertambahan tinggi tidak dipengaruhi oleh kondisi naungan, sedangkan pada pertambahan diameter kondisi naungan memiliki pengaruh. Jenis salam pada kondisi naungan >60% maupun <60% tidak berpengaruh terhadap pertambahan tinggi maupun diameter jenis salam
Penentuan Jenis dan Status Konservasi Pari Layang-Layang yang Didaratkan Di TPI Gunung Lingkas Kota Tarakan Dengan Pendekatan Molekuler Syamsidar Gaffar; Sumarlin Sumarlin; M. Gandri Haryono; Harisna Pidar
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.01.09

Abstract

Pari yang diperdagangkan di Tempat Penampungan Ikan (TPI) Tarakan perlu diketahui jenisnya. Hal ini merupakan langkah awal agar jenis pari yang tergolong dilindungi atau populasinya telah berkurang di alam dapat dihindari untuk diperdagangkan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengungkap spesies pari layang-layang yang diperdagangkan dari TPI Gunung Lingkas, Tarakan, Kalimantan Utara, dengan menggunakan metode pengidentifikasian secara molekuler (DNA barcoding) dan menentukan status konservasinya. Berdasarkan hasil BLAST, sampel teridentifikasi memiliki kemiripan 99,80% dengan spesies Aetoplatea zonura isolate GZON2. Hasil BOLD-IDS juga memberikan persentase kemiripan sebesar 99,8% dengan spesies Gymnura zonura (sinonim A. zonura). Nilai kemiripan >98% menjelaskan bahwa homologi sekuen berada pada tingkat spesies sehingga sampel yang diidentifikasi merupakan G. zonura. Hasil analisis filogenetik dengan menggunakan tiga metode analisis yaitu NJ, ML, dan ME menempatkan sampel ray-T2, G. zonura, dan G. cf zonura konsisten berada pada kelompok yang sama (monofiletik). Artinya, sampel ray-T2 berkerabat dekat dengan G. zonura. Status konservasi G. zonura terkategori vulnerable (vu) di laman IUCN yang berarti spesies ini sedang menghadapi risiko kepunahan di alam sedangkan status pada CITES masih dalam posisi belum terevaluasi.
Diversity and Abundance of Insect in Conventional Apple (Malus sylvestris (L.) Mill) Plantation at Kota Batu, East Java Bayu Kurniawan; RC. Hidayat Soesilohadi
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.03.08

Abstract

Apple is a plant that susceptible toward pests and diseases. Application of pesticide to suppress insect pest population gave negative impact toward natural enemies and insect pollinators. The purpose of this research was to determine the diversity and dominance of insect pests, pollinators, and natural enemies of each phase of apple plant development in conventional plantations in Kota Batu, East Java. This research was conducted in February to May 2016 in each phase of apple growth namely, after defoliation, early flower, late flower, early fruit, and late fruit. Plot size was 10x10 m2 with total 5 plots and total plants in each plot were 60 trees. Collection methods were active collection (hand picking, insect net, and beating tray) and passive collection (yellow trap, pitfall trap, light trap, and stainer trap). Preservation methods used in this research were dry preservatoin and wet preservation. Identification was conducted in Laboratorium of Entomology, Faculty of Biology UGM and Laboratorium Entomology, Zoology Division, Research Centre for Biology Indonesian Institute of Sciences, Cibinong. Data analyzed by using Shannon-Wiener Diversity Index, Simpson Dominance Index and Abundance Formulation. The results showed that total insects that was caught consist of 38 species belong to 9 orders. Diversity index in each phase of apple growth were: after defoliation (0.69), early flower (1.39), late flower (1.86), early fruit (0.66), and late fruit (1.24). Domination index each phase of apple growth were after defoliation (0.50), early flower (0.34), late flower (0.21), early fruit (0.75), and late fruit (0.40). Diversity index of potential insect as pest (1.46), as pollinator (1.29), and as natural enemies (1.18). The highest abundance of insect as pollinator was Apis cerana, as natural enemy was Pantala flavescens, and as pest was Aphis gossypii.Key words: Conventional, diversity of insects, apple plantation, pesticide
Teknologi Penanganan Limbah Cair Industri Pengolahan Susu Sapi Secara Biologis: Artikel Review Novianti Adi Rohmanna; Nurul Azizah; Nur Hidayat
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.02.04

Abstract

Industri susu merupakan salah satu industri penghasil limbah cair yang cukup besar. Pengolahan produk susu untuk setiap produk yang berbeda menghasilkan limbah cair dengan karakteristik yang berbeda pula dan berdampak pada lingkungan. Hal tersebut membutuhkan perhatian lebih terkait penanganan limbah cair yang sesuai. Tujuan dari naskah ini adalah untuk meninjau tentang teknologi penanganan limbah cair industri pengolahan susu secara biologis dari berbagai penelitian yang telah ada. Sumber dan karakteristik limbah cair industri pengolahan susu, opsi penanganan dan teknologi pengolahannya dideskripsikan. Penanganan secara biologis berupa penanganan aerobik dan anaerobik merupakan teknologi penanganan yang umum dilakukan pada limbah cair industri pengolahan susu dengan kelebihan dan kelemahan masing-masing dijelaskan secara detail. Berdasarkan pendekatan tersebut, pengolahan limbah cair pada industri susu lebih efektif dengan metode anaerob
Pemanfaatan Tumbuhan Lokal secara Tradisional dalam Peningkatan Ketahanan Pangan oleh Suku Dayak Iban di Desa Mensiau, Kalimantan Barat Arini, Wahyuningyan; Saputra, Venza Rhoma; Ramadani, Harri
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol. 9 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.01.05

Abstract

Suku Dayak Iban Desa Mensiau merupakan masyarakat asli Kalimantan Barat yang tinggal di daerah penyangga kawasan konservasi, yaitu Taman Nasional Betung Kerihun. Masyarakat tersebut memanfaatkan sumber daya hutan, baik di dalam maupun luar kawasan konservasi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan tumbuhan lokal sebagai bahan pangan oleh suku Dayak Iban Desa Mensiau. Penelitian dilakukan dengan metode wawancara secara mendalam terhadap 40 orang (10%) penduduk Desa Mensiau. Pengetahuan masyarakat mengenai tumbuhan lokal yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan diwariskan secara turun-temurun. Terdapat 17 jenis tumbuhan lokal yang dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Tumbuhan pantu atau ransa (Astrocaryum sp.) paling banyak dimanfaatkan sebagai makanan. Daun, batang muda atau umbut, dan tunas merupakan bagian tumbuhan yang sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan sering diolah dengan cara dimasak sesuai dengan selera. Tumbuhan lokal yang dapat dikonsumsi dipercaya memiliki khasiat sebagai obat sakit perut dan hipertensi. Tumbuh-tumbuhan lokal tersebut dilestarikan oleh suku Dayak Iban Desa Mensiau dengan cara dibudidayakan, terutama jenis sawi hutan, pantu atau ransa, sagu, dan melinjo. Konservasi jenis tumbuhan lokal dan kearifan lokal harus terus dikolaborasikan dan dijaga dalam meningkatkan ketahanan pangan di Indonesia.
Inventarisasi Avifauna Diurnal di Coban Kodok Desa Sukomulyo Kecamatan Pujon Kabupaten Malang Sandra Rafika Devi; Muhammad Asmuni Hasyim; Rizky Mujahidin Mulyono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.03.04

Abstract

Avifauna merupakan kelompok hewan yang mempunyai posisi penting sebagai salah satu kekayaan satwa di Indonesia. Avifauna berperan besar dalam penyebaran benih dan sebagai salah satu bioindikator lingkungan. Penelitian tentang inventarisasi dan distribusi spasial avifauna diurnal di Coban Kodok Desa Sukomulyo Kecamatan Pujon Kabupaten Malang dilakukan pada tanggal 19-20 April 2020 pukul 06.00-08.00 dan 15.00-17.00 WIB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan distribusi spasial avifauna di Coban Kodok.  Penelitian ini menggunakan metode IPA (Indices Ponctuel d'Abondance) di dalam zona pengamatan. Analisis data melalui deskriptif eksploratif dan metode statistik multivariabel yang didasarkan pada Analisis Korelasi (Correspondence Analysis, CA) untuk mengetahui jenis populasi dan distribusi spatial avifauna di Coban Kodok. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada zona 1 (agriladang barat) ditemukan Todiramphus chloris sebanyak dua individu, Apus nipalensis sebanyak dua individu,  Pycnonotus aurigaster sebanyak tiga individu dan Spilopelia chinensis sebanyak dua individu, sedangkan pada zona 2 (agriladang timur) ditemukan Todiramphus chloris sebanyak empat individu, Apus nipalensis sebanyak empat individu, dan Lonchura maja sebanyak empat individu
Genetic Diversity of Dacrycarpus imbricatus At Bukit Tapak, Tabanan, Bali Based on RAPD Marker Made Pharmawati; I Made Anom Sutrisna Wijaya
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.02.09

Abstract

Dacrycarpus imbricatus Blume is a member of the Podocarpaceae family. In Bali, D. imbricatus was found in Bukit Tapak, Tabanan Regency. This species is one of the dominant species in Bukit Tapak. This study aimed to determine the genetic variation of D. imbricatus in Bukit Tapak using molecular markers RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA). The genetic diversity of D. imbricatus needs to be studied to obtain the information used for the conservation of this species. Leaf samples were taken from Bukit Tapak, Candikuning, Baturiti, Tabanan Regency, Bali. DNA was extracted using the CTAB method, followed by extraction using chloroform: isoamyl alcohol. DNA precipitation was carried out using ethanol. RAPD analysis was performed using polymerase chain reaction (PCR) using four primers. PCR products were visualized using agarose gel electrophoresis and ethidium bromide staining. The results showed that the amplified DNA bands ranged from 1 to 5 bands with DNA band sizes ranging from 230 bp - 422 bp. Only OPA4 and UBC106 primers can be used to detect D. imbricatus diversity based on the H, D, and R values. The detected genetic variation is low, as indicated by an average polymorphism of 32.5% and similarities between samples ranging from 0.51 to 1