cover
Contact Name
Dinia R Dwijayanti,
Contact Email
biotropika@gmail.com
Phone
+62341-575841
Journal Mail Official
biotropika@gmail.com
Editorial Address
Departemen Biologi FMIPA UB, Jalan Veteran, 65145, Malang, Jawa Timur
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 23027282     EISSN : 25498703     DOI : 10.21776/ub.biotropika.
Biotropika: Journal of Tropical Biology invites research articles, short communication, and reviews describing new findings/phenomena of biological sciences in tropical regions, specifically in the following subjects, but not limited to biotechnology, biodiversity, microbiology, botany, zoology, biosystematics, ecology, and environmental sciences.
Arjuna Subject : -
Articles 544 Documents
Kriopreservasi Mata Tunas Ubi Kayu Lokal Indonesia : Faktor Penentu Keberhasilan Enny Sudarmonowati; Nurhamidar Rahman; N. Sri Hartati
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.01.07

Abstract

Kriopreservasi (penyimpanan dalam suhu -198ºC) merupakan pilihan untuk menyimpan dalam jangka panjang bahan tanaman ubi kayu yang selama ini menggunakan “shoot tips” atau “axilary buds” dari planlet in vitro. Ada beragam faktor yang memengaruhi keberhasilan kriopreservasi. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan regenerasi empat genotip ubi kayu lokal Indonesia (Manggu, Mentega 2, Kristal Merah, dan Nangka) menggunakan mesi ceptode kriopreservasi. Keempat genotip ubi kayu itu diberi perlakuan variasi persentase larutan krioprotektan berbeda (87% gliserol, 5% DMSO atau 10% DMSO sendiri atau dikombinasikan), metode pencairan (thawing), lama penyimpanan dalam nitrogen cair (45 menit atau 3 minggu). Stek mini ubi kayu yang sudah diberi perlakuan tersebut selanjutnya ditumbuhkan pada media regenerasi secara in vitro dengan media MS, di tisu yang dibasahi air atau larutan hara makro MS. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa, daya hidup tertinggi (40%) adalah mata tunas merekah tanpa bagian batang genotip Manggu dan Nangka yang direndam dalam larutan kombinasi 87% gliserol dan 5% DMSO yang dicairkan cepat dalam water bath, dibiakkan pada tisu lembab setelah disimpan dalam nitrogen cair 3 minggu. Penggunaan mata tunas dari batang ubi kayu merupakan yang pertama dan berhasil diregenerasikan menjadi tanaman setelah penyimpanan di tangki nitrogen. Hasil penelitian ini mempermudah dan mempersingkat prosedur kriopreservasi bagian tanaman ubi kayu sehingga dapat mendukung pelestarian plasma nutfah dalam jangka panjang.
Skrining Fitokimia dan Penetapan Kandungan Total Fenolik Ekstrak Daun Tumbuhan Sapu-Sapu (Baeckea frutescens L.) Dewi Septia Ningsih; Henri Henri; Occa Roanisca; Robby Gus Mahardika
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.03.06

Abstract

Tumbuhan sapu-sapu (Baeckea frutescens L.) merupakan salah satu jenis keanekaragaman hayati yang tumbuh dan persebarannya cukup banyak di Indonesia. B. frutescens L diketahui memiliki senyawa metabolit sekunder aktif yang dapat dimanfaatkan sebagai obat, antibakteri, dan antioksidan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada B. frutescens L. Metode yang digunakan adalah ekstraksi dilanjutkan dengan pengujian fitokimia kualitatif yang terdiri dari tujuh pengujian yakni uji fenol, tanin, flavonoid, saponin, alkaloid, steroid dan terpenoid serta pengujian kuantitatif yakni pengujian total fenolik ekstrak B. frutescens L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan persentase bobot rendemen ekstrak daun B. frutescens L. sebesar ekstrak n-heksan 5,39%, ekstrak etil asetat 14,54% dan ekstrak etanol yakni 19,81%. Hasil pengujian fitokimia kualitatif menujukkan senyawa fitokimia yang terkandung di dalam tumbuhan B. frutescens L. yakni pada ekstrak n-heksan hanya terdapat senyawa steroid dan pada ekstrak etil asetat terdapat senyawa fenolik, tanin, flavonoid, dan alkaloid. Selain itu, pada ekstrak etanol terdapat senyawa fenolik, tanin, flavonoid, saponin, steroid, dan alkaloid. Pengujian total fenolik ekstrak daun tumbuhan B. frutescens L. untuk pelarut etil asetat yakni 0,24% dan pelarut etanol yakni sebesar 0,14% dihitung terhadap senyawa fenol asam galat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi untuk penelitian lebih lanjut mengenai pemanfaatan kandungan metabolit sekunder B. frutescens L.
Characterization and Antibacterial Activity of Endophytic Bacteria from Flesh Fruit of the Arecaceae Family Against Antibiotic Resistant Bacteria Escherichia coli Diannita Harahap
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.02.11

Abstract

Bacteria can symbiotic mutualism and synergize with plants in the tissue and do not cause harm to plants. On the other hand, bacteria resistance provides an opportunity to search for antibacterials from natural material without threatening plant biodiversity. The purpose of this study was to characterize and test the antibacterial activity of endophytic bacteria from the fruit of the Arecaceae family against antibiotic-resistant bacteria Escherichia coli. The method used was direct culture on the growth of media in the laboratory by first sterilizing the surface of the flesh of the samples, such as Aren (Arenga pinnata), Coconut (Cocos nucifera), and Sago (Metroxylon sagu). The pure isolates obtained were characterized according to Bergeys Manual for Identification by performing Gram stain, catalase, and coagulase test. The results obtained were five isolates with codes A1, A2, K, S1, and S2 with variation in morphology colonies. Gram staining, catalase, and coagulase verification of the five isolates were groups of Grampositive cocci, catalase-positive, and coagulase-negative bacteria. Based on tests carried out on the characters of the endophytic bacteria, it was obtained a close relationship with the genus Staphylococcus. The results of the inhibitory activity test showed that Staphylococcus sp. K with the highest criteria of 43.26 mm and Staphylococcus sp. A1 with the lowest inhibition criteria with a value of 24.73 mm. Both are categorized as very strong inhibition criteria.
Asosiasi Jenis-Jenis Burung Di Kemantren Kraton, Ngampilan, dan Gondomanan, Kota Yogyakarta Ichsan Luqmana Indra Putra; Nisrina Az-Zahra Nurlaily
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.02.02

Abstract

Asosiasi merupakan hubungan saling ketergantungan antarspesies, seperti asosiasi antarspesies burung. Burung memiliki peran penting serta kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan walaupun di wilayah perkotaan, salah satunya Kota Yogyakarta yang masih banyak terdapat ruang terbuka hijau sehingga dapat menjadi habitat burung. Penelitian ini kemudian menjadi penting dilakukan untuk mengetahui keanekaragaman dan asosiasi antarburung di Kota Yogyakarta. Penelitian dilakukan menggunakan metode Point Count dengan 12 wilayah pengamatan yang tersebar di wilayah Kemantren Kraton, Ngampilan, dan Gondomanan. Pengamatan dilakukan dengan mencatat kehadiran tiap spesies burung, lalu dilakukan analisis nilai keanekaragaman jenis Shannon Wiener dan analisis asosiasi dengan tabel kontingensi 2x2, dilanjutkan dengan uji Chi Square dan analisis asosiasi dengan indeks Ochiai. Selain itu, dilakukan juga penentuan jenis asosiasi yang ditemukan. Hasil yang didapatkan yaitu 26 jenis burung yang ditemukan dari 15 famili. Nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) pada Kemantren Kraton, Ngampilan, dan Gondomanan secara berturut-turut yaitu 2,04, 1,89, dan 1,65. Tujuh pasang burung berasosiasi positif. Asosiasi burung terjadi antara Collocalia linchi dengan Columba livia, Streptopelia chinensis, dan Passer montanus; Columba livia dengan Lonchura leucogastroides, Passer montanus, dan Streptopelia chinensis, dan Streptopelia chinensis dengan Treron vernans. Asosiasi erat sekali terjadi pada pasangan burung Collocalia linchi dengan Passer montanus. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat 26 jenis burung yang dijumpai, dengan nilai indeks keanekaragaman 1,94 yang termasuk kategori sedang, serta terdapat tujuh pasang burung yang berasosiasi positif
The Abundance and Diversity of Grasshopper (Orthoptera) in Batu City, East Java Mufti Abrori; Amin Setyo Leksono; zulfaidah Penata Gama
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.01.03

Abstract

Grasshoppers included in the order Orthoptera in the class of insects. Orthoptera orders are divided into two parts, which a large suborder Ensifera and Caelifera. Most grasshopper species have a role as herbivores and a good protein source for other animals. Grasshopper abundance and diversity of ecosystems are more stable in a low disorder and the other way around. The factors that affect grasshoppers which environmental factors such as the structure of the vegetation, atmospheric temperature, and relative humidity. The purpose of this study to analyze the abundance and diversity of grasshoppers in Batu City, East Java. The research location is in Tahura R. Soerjo Cangar, an agricultural area in Sumbergondo Village, Coban Talun, and Junrejo District. Measurement of biotic and abiotic factors was carried out at the grasshoppers living locations, and then the data were analyzed using the Shannon Wiener Diversity index (H'), Importance Value Index (INP), and Biplot analysis. The results were obtained as 754 individual grasshoppers from the Caelifera suborder. While 201 individuals were found in the Ensifera suborder. The results showed that the highest grasshopper abundance was at the Sumbergondo location, which for the Caelifera. While Ensifera on Tahura R. Soerjo Cangar location had the highest grasshopper abundance. The vegetation area influences abundance and diversity of grasshoppers both in the two suborders. The reduction of the grasshopper's natural habitat harms the survival of the grasshopper. Environmental factors and their characteristics can influence the abundance and diversity of insects, including grasshoppers in a habitat
Optimasi Penyerapan Formaldehid dari Asap Rokok oleh Euphorbia milii Des Moul. dan Sansevieria trifasciata Prain Menggunakan Light Emitting Diode (LED) Merah-Biru Yovita Citra Purwidyasari; Aminatun Munawarti; Dian Siswanto
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.03.02

Abstract

Tanaman hias merupakan agen hayati yang mampu mengurangi polusi udara di lingkungan. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa Euphorbia milii Des Moul. dan Sansevieria trifasciata Prain kurang maksimal dalam menyerap formaldehid dari asap rokok, sehingga penelitian untuk mengoptimasi penyerapan formaldehid perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pembukaan stomata, kandungan glukosa dan klorofil serta efisiensi penyerapan formaldehid dari asap rokok oleh E. milii dan S. trifasciata pada pemberian cahaya LED putih, LED merah-biru dan tanpa LED. Rancangan penelitian adalah rancangan acak lengkap. Tanaman dengan tinggi ± 10-15 cm dan total lebar daun 100 cm2 diberi tiga kondisi pencahayaan yang berbeda selama 15 jam sebagai upaya aklimatisasi. Tanaman dipapar dengan asap rokok hingga konsentrasi formaldehid mencapai 2,5 ppm selama 8 jam di bawah LED putih, LED merah-biru dan tanpa LED. Penyerapan formaldehid diamati dengan selang waktu satu jam. Pengamatan stomata dilakukan menggunakan metode printing, setelah tanaman diberikan paparan asap rokok dan kondisi pencahayaan yang berbeda. Kandungan klorofil ditentukan menggunakan metode spektrofotometri. Kandungan glukosa ditentukan menggunakan metode DNS (asam 3,5-dinitrosalisilat). Data dianalisis dengan uji ANOVA untuk menganalisis kandungan klorofil dan glukosa. Microsoft Excel 2016 digunakan untuk menganalisis persentase pembukaan stomata E. milii dan S. trifasciata pada kondisi perlakuan. Penyerapan formaldehid dari asap rokok selama 8 jam dengan pemberian cahaya LED putih, LED merah-biru dan tanpa LED oleh E. milii masing-masing 44,83%, 34,87%, 54,90% dan oleh S. trifasciata masing-masing 44,93%, 52,96% dan 44,0%. Efisiensi penyerapan formaldehid dan persentase pembukaan stomata E. milii paling tinggi pada kondisi merah-biru sedangkan efisiensi penyerapan formaldehid dan persentase pembukaan stomata S. trifasciata lebih tinggi pada kondisi tanpa LED. Kandungan klorofil E. milii pada pemberian cahaya LED putih, LED merah-biru dan tanpa LED masing-masing adalah 18,94; 9,07; 12,07 mg/L dan S. trifasciata masing-masing 4,09; 4,15; 4,45 mg/L. Kandungan glukosa E. milii dan pada LED putih, LED merah-biru dan tanpa LED masing-masing 553,26; 637,85; 559,10 mg/L serta S. trifasciata masing-masing 258,26; 157,01; 443,68 mg/L. Efisiensi penyerapan formaldehid sejalan dengan pembukaan stomata pada kedua tanaman. Kandungan klorofil E. milii yang diberi cahaya LED merah-biru lebih rendah sedangkan kandungan klorofil S. trifasciata tidak terpengaruh. E. milii dan S. trifasciata pada kondisi gelap memiliki glukosa yang lebih tinggi daripada pada pemberian cahaya LED. Optimasi penyerapan formaldehid dari asap rokok menggunakan pemberian cahaya LED merah-biru hanya berhasil pada E. milii
Evaluation of The Effect of Age of Cultivation of Dumbo Catfish (Clarias gariepinus) on Changes in Pond Water Quality Using Plankton as Bioindicator in Gondosuli Village, Tulungagung Regency Satria Cahya Febriansyah; Catur Retnaningdyah
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.02.07

Abstract

Catfish is a freshwater fish that is widely cultivated but overfeeding causes organic pollution. This study aims to evaluate the water quality profile based on physicochemical and plankton as bioindicators in catfish ponds in Gondosuli Village, Tulungagung Regency. This type of research was ex post facto by monitoring the physicochemical parameters of water and the structure of the plankton community in control ponds, ponds with catfish aged <1 month, 2-3 months, and 3-4 months each with three replications. Water samples for each pond were measured on the physicochemical water quality included water temperature, conductivity, pH, water transparency, DO, BOD, and turbidity. Plankton identified and analyzed to determine community structure (Abundance, Frequency, Relative Abundance, Relative Frequency, Important Value Index) and biotic index (H', TDI, and %PTV) for water quality. The results of measurements of each physicochemical parameter between locations were statistically analyzed inferentially using a different test. The interaction between the plankton community structure and the physicochemical of water quality was analyzed using biplots. The results showed that ponds with the age of catfish ready to harvest had an impact on decreasing water quality. This condition was indicated by the high organic matter pollution reflected by the high BOD, high turbidity levels, and low DO values. Catfish pond waters quality based on the H' value of plankton community showed that organic matter pollution had not yet occurred. Based on TDI values, catfish pond waters were categorized as poor status (hyper eutrophic) and based on the %PTV index in ponds with catfish age 2-3 and 3-4 months were classified as high levels of organic matter pollution. 
Karakter Komunitas Pohon Area Sekitar Sumber Mata Air Di Malang Raya, Jawa Timur Akhmad Fathoni; Fatchur Rohman; Sulisetijono Sulisetijono
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2021.009.01.08

Abstract

Area sekitar sumber mata air merupakan kawasan konservasi yang berfungsi sebagai habitat komunitas pohon tumbuh dan keberadaan pohon berdampak positif bagi keseimbangan ekosistem. Kondisi area sekitar sumber mata air di Malang saat ini sudah banyak beralih fungsi menjadi pemukiman dan pengembangan pariwisata. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu mengetahui kondisi komunitas pohon saat ini dengan melakukan analisis vegetasi yang bertujuan untuk melihat karakter komunitas pohon dan indek keanekaragaman pada kawasan sekitar mata air di Malang Raya Jawa Timur. Metode plot digunakan untuk mengambil data, dengan membagi area menjadi empat stasiun di lima sumber mata air berbeda, yaitu Petirtaan Yai Beji Sari Lowokwaru, Kota Malang; Sumber Sira Gondanglegi, Sumber Wendit Pakis, Sumber Waras Lawang, Kabupaten Malang; dan Sumber Cangar di Kota Batu. Setiap stasiun penelitian dibagi menjadi tiga titik plot hingga total 12 plot dalam satu lokasi penelitian. Pengambilan data dilakukan secara jelajah bebas dimulai dari tepi mata air hingga jarak maksimum ±50m mengelilingi titik mata air. Hasil dari penelitian ini diketahui komunitas pohon yang menjadi penciri sumber mata air dengan nilai INP yang bervariasi di setiap lokasi pengamatan. Berdasarkan INP tertinggi disimpulkan bahwa karakter komunitas pohon yang ditemukan antara lain (Myrta-Moraceae) di Petirtaan Yai Beji Sari; (Meliaceae) di Sumber Sira; (Areca-Meliaceae) di Sumber Wendit; (Melia-Poaceae) di Sumber Waras; dan (Araucariaceae) di Sumber Cangar. Berdasarkan indeks keanekaragaman H' nilai kategori tinggi terdapat di mata air Sumber Waras, sedangkan sumber mata air diamati lainnya memiliki nilai kategori sedang
Pengaruh Keberadaan Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) Terhadap Struktur Komunitas Alga Perifiton Dandy Eka Putra Pagilalo; Sucahyo Sucahyo; Desti Cahyaningrum
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 3 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.03.07

Abstract

Perifiton merupakan salah satu komponen penting bagi ekosistem air yang keberadaannya dipengaruhi banyak faktor, termasuk adanya predator. Ikan Nilem (Osteocilus hasselti) merupakan salah satu predator alami alga perifiton. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh keberadaan Ikan Nilem (O. hasselti) terhadap struktur komunitas perifiton yang ditumbuhkan pada substrat buatan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental terdiri atas empat perlakuan dengan kepadatan O. hasselti sebagai variabel bebasnya. Perlakuan tersebut meliputi perlakuan P1 (dua ikan), perlakuan P2 (empat ikan), perlakuan P3 (delapan ikan), serta perlakuan tanpa ikan sebagai kontrol. Starter perifiton berasal dari danau Rawa Pening, diambil menggunakan plankton net, sedangkan ikan Nilem (O. hasselti) diperoleh dari penjual benih ikan di Salatiga. Data yang diambil meliputi jumlah jenis, jumlah individu tiap jenis, serta identifikasi jenis perifiton dalam sampel substrat. Data tersebut kemudian digunakan untuk menganalisis struktur komunitas perifiton berdasarkan indeks keanekaragaman spesies (H’), indeks keseragaman (e), kepadatan (J1), indeks dominansi (c), serta kekayaan spesies. Hasil perhitungan setiap indeks kemudian dianalisis dengan uji two-way Anova untuk mengetahui signifikansinya. Hasil analisis two way anova menunjukan bahwa jumlah ikan berpengaruh terhadap indeks keanekaragaman alga perifiton dengan nilai rata-rata H’ perlakuan adalah 0,15 dibandingkan dengan H’ kontrol yaitu 0,62. Selain itu, jumlah hari berpengaruh terhadap indeks keseragaman dengan nilai rata-rata e perlakuan 0,18 dan nilai e kontrol adalah 0,39. Sehingga disimpulkan bahwa ikan Nilem (O.hasselti) berpengaruh terhadap struktur komunitas alga perifiton pada substrat buatan, yaitu menyebabkan keanekaragaman rendah. Sejalan dengan hal tersebut, pengamatan hari ke-7 menunjukkan bahwa keberadaan ikan Nilem (O. hassellti) menyebabkan adanya dominasi oleh Trachelomonas sp dan Strombomonas sp.
Pengaruh Gangguan pada Zona Riparian Terhadap Jasa layanan Ekositem Hulu Sungai Brantas Hamdani Dwi Prasetyo; Ari Hayati
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.biotropika.2020.008.02.08

Abstract

Zona riparian memberikan jasa layanan ekosistem dalam mengendalikan pencemaran. Peran vegetasi riparian berperan dalam proses regulasi nutrisi. Kualitas habitat riparian sangat bergantung pada gangguan yang terjadi pada zona riparian. Untuk menentukan kemampuan jasa layanan ekosistem hulu Sungai Brantas berdasarkan kualitas air sungai dan tingkat gangguan habitat. Penentuan kualitas air meliputi pengukuran parameter suhu air, derajat keasaman air (pH), konduktivitas air, oksigen terlarut, debit air, dan kecepatan arus air pada 3 stasiun dengan 3 kali ulangan pada hulu Sungai Brantas. Hasil penentuan kualitas air dianalisis menggunakan indeks Prati. Penentuan tingkat gangguan habitat dianalisis menggunakan indeks naturalness dan indeks hemeroby. Hasil penentuan kualitas air stasiun kedua hulu sungai masuk dalam kategori sangat baik dibandingkan stasiun pertama dan ketiga. Hasil penentuan tingkat gangguan habitat berdasarkan indeks naturalness, stasiun hulu sungai kedua masuk dalam kategori alami karena masih terdapat vegetasi lokal dan keberadaan bangunan tidak dominan serta pencemaran sedikit. Berdasarkan derajat Hemeroby, stasiun hulu sungai pertama dan ketiga masuk dalam kategori euhemerobic yang mana jauh dari kondisi alami, dan stasiun kedua berada ada kondisi mesohemerobic yang merupakan kondisi yang semi alami. Dengan demikian, kualitas stasiun hulu sungai kedua lebih baik dibandingkan dengan stasiun hulu sungai pertama dan kedua.