cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal e-Komunikasi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal e-Komunikasi adalah jurnal versi online yang ditulis oleh mahasiswa dalam rangka mempublikasikan karya skripsinya. Ruang lingkup topik kajian adalah komunikasi massa, komunikasi korporat, human communication, dan komunikasi new media
Arjuna Subject : -
Articles 1,336 Documents
Projected Identity Kedai Jokopi Melalui Akun Instagram @Jo.ko.pi Erika Ivana Mende; Astri Yogatama; Lady Joanne Tjahyana
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Projected identity tumbuh dari corporate identity, sebagai presentasi diri perusahaan melalui komunikasi. Projected Identity sebagai bagian dari corporate identity diharapkan kelak akan menciptakan citra dan kemudian reputasi positif bagi korporat. Projected Identity yang ingin diproyeksikan oleh Jokopi yaitu melalui media sosial Instagram. Dalam Instagram, unggahan- unggahan dari Jokopi sendiri berisi nilai-nilai yang mengandung aspek sosial seperti CSR, unggahan mengenai warga bercerita, soft selling, dan juga hari-hari raya atau hari-hari besar. Menetapkan projected identity yang konsisten merupakan hal yang penting bagi perusahaan, karena hal tersebut yang membedakan suatu perusahaan dengan yang lain dan bagaimana identitas tersebut diproyeksikan. Metode penelitian ini menggunakan analisis isi. Tujuannya untuk mengetahui indikator projected identity melalui unggahan akun instagram @Jo.ko.pi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengkoding 166 unggahan pada akun instagram @Jo.ko.pi. Unggahan yang diteliti berupa post dan video dengan caption yang memuat pesan verbal. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa indikator projected identity banyak menonjolkan indikator authenticity dengan sub-indikator identitas organisasi dan korporat dapat dipercaya.
Efektivitas Penggunaan Rachel Vennya sebagai Celebrity Endorser Yellow Fit Kitchen Obelia Oktaviana; Titi Nur Vidyarini; Felicia Goenawan
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Marketing communication adalah paduan iklan, promosi penjualan, hubungan masyarakat, penjualan personal, dan sarana pemasaran langsung maupun tidak langsung yang digunakan perusahaan untuk mengkomunikasikan nilai pelanggan, dan juga produk perusahaan secara persuasif dan membangun hubungan pelanggan. Dalam Komunikasi pemasaran terdapat banyak cara untuk melakukan pemasaran salah satunya dengan menggunakan bintang iklan atau celebrity endorser. Celebrity Endorser adalah seseorang yang membawa produk untuk menyampaikan pesan kepada audiens. Untuk mengukur efektivitas dari seorang celebrity endorser, dapat menggunakan TEARS yaitu trustworthiness, expertise, attractiveness, respect, dan similarity sebagai pedoman dalam penelitian. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan peneliti adalah dengan menyebarkan kuesioner melalui google form kepada 400 target audience. Subjek pada penelitian ini adalah followers Yellow Fit Kitchen yang mengetahui kolaborasi dan berusia 20 - 34 tahun. Kemudian dijabarkan menggunakan analisis deskriptif. Penulis meneliti sejauh mana efektivitas Rachel Vennya sebagai celebrity endorser Yellow Fit Kitchen. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa Rachel Vennya sebagai celebrity endorser Yellow Fit Kitchen yaitu efektif. Hal ini dapat diketahui dari hasil mean dalam rentang 3≦ x 5≦. Indikator yang paling tinggi pada hasil penelitian ini adalah respect atau dihargai dalam hal penyampaian pesan kolaborasi dan juga dihargai sebagai influencer yang sukses.
Efektivitas Penggunaan Alan Walker Sebagai Celebrity Endorser PUBG Mobile Season 6 Michelle Sunartio; Felicia Goenawan; Chory Angela Wijayanti
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Celebrity endorser merupakan artis atau aktor, atlet, entertainer yang terkenal atau dikenal secara luas oleh masyarakat melalui kesuksesannya untuk memperkenalkan dan mendukung produk atau jasa yang diiklankan atau dipromosikan. Penelitian ini menggunakan indikator khusus yang digunakan untuk menentukan efektivitas dari celebrity endorser yaitu TEARS (Trustworthiness, Expertise, Attractiveness, Respect dan Similarity). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan Alan Walker sebagai celebrity endorser PUBG Mobile season 6 yaitu efektif. Hal ini dilihat dari nilai mean setiap pernyataan indikator TEARS yang berada dalam rentang 3 ≤ x ≤ 5. Hasil dari setiap indikator TEARS juga menunjukkan bahwa indikator attractiveness mengenai daya tarik fisik dari Alan Walker mendapatkan nilai tertinggi.
Tingkat Pengetahuan Masyarakat Surabaya Mengenai Pesan Kampanye Grab Pada Fitur Grab Protect Axl Jevison; Titi Nur Vidyarini; Astri Yogatama
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Grab sebagai perusahan penyedia transportasi umum online, meluncurkan fitur Grab Protect sebagai jawaban dari keresahan masyarakat dalam menggunakan transportasi umum pada masa pandemi COVID-19. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat Surabaya mengenai pesan kampanye Grab pada fitur Grab Protect. Penelitian ini mengacu pada teori komunikasi pesan kampanye dan tingkat pengetahuan. Penelitian ini menggunakan survei online dengan menggunakan skala Guttman. Hasil dari penelitian ini, tingkat pengetahuan masyarakat Surabaya mengenai pesan kampanye Grab pada fitur Grab Protect tergolong tinggi.
Representasi Rasisme dalam film Hairspray (2007) Nathasya Amelia Irawan; Daniel Budiana; Megawati Wahjudianata
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana rasisme direpresentasikan di film Hairspray (2007) yang menceritakan bagaimana seorang murid kulit putih, Tracy, menggunakan ketenarannya di Corny Collins Show untuk mewujudkan integrasi antara orang kulit hitam dan putih di dalam acara tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, dengan jenis penelitian deskriptif. Peneliti menggunakan metode semiotika kode-kode televisi John Fiske yang mengandung tiga tahapan yaitu level realitas, level representasi, dan level ideologi. Setelah menganalisa temuan data melalui tiga tahapan tersebut, peneliti menemukan bahwa dalam level realitas, penampilan orang kulit putih digambarkan sebagai murni dan berkuasa, sedangkan penampilan kelompok orang Yahudi dan Afrika-Amerika digambarkan sebagai kusam dan tidak rapi. Lalu level representasi menunjukkan bahwa ada penggambaran bahwa ras kulit putih merupakan kelompok yang superior melalui sudut kamera dan cara berdialog mereka terhadap orang Yahudi dan orang Afrika-Amerika. Akan tetapi, level realitas dan representasi berubah dengan drastis menuju akhir film. Kelompok Afrika-Amerika digambarkan lebih rapi dan beradab, sedangkan kelompok pelaku rasisme digambarkan sebagai lemah dan tidak berdaya. Film ini juga mengandung ideologi-ideologi, yaitu feminisme dan kapitalisme. Dalam film ini, kapitalisme merupakan ideologi yang mendasari penindasan terhadap ras tertentu, karena kelompok ras yang tertindas digambarkan sebagai kelas pekerja sedangkan kelompok kulit putih digambarkan sebagai kelas elit.
Star Studies: Hwasa Agatha Tiffany Manuhutu; Fanny Lesmana; Megawati Wahjudianata
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui image atau citra apa yang Hwasa intrepretasikan dalam media. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode star studies oleh Richard Dyer, peneliti menemukan image Hwasa sebagai star tidak hanya terikat pada satu image saja dimana Hwasa menampilkan image seksi yang Hwasa konstruksikan sebagai Hwasa di media. Peneliti juga menemukan bahwa citra seorang bintang tidaklah selalu unik, bisa juga biasa. Hwasa banyak menampilkan citra dirinya dan tidak terfokus pada satu citra saja. Hwasa membentuk citra dimana sebagian besar memfokuskan pada standar kecantikan. Hwasa menjadi sumber inspirasi bagi orang sekitarnya dengan standar kecantikan barunya. Seluruh hasil ini diperoleh dari hasil menggali data yang ditemukan dari berbagai sumber media yang hasilnya dapat terbagi menjadi beberapa kategori unsur pengidentifikasian citra yaitu visual, verbal dan nonverbal.
Analisis Isi Brand Personality dalam Inbound Marketing Outclass Indonesia di Instagram Ariel Moses Kurniawan; Astri Yogatama; Titi Nur Vidyarini
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada masa pandemi, indonesia menghadapi tantangan, khususnya dibidang pendidikan. Bersamaan dengan berkembangnya teknologi dan pengetahuan, pendidikan saat ini bukan hanya disekolah namun dimana saja. Oleh karena itu, mulai banyak bermunculan penyedia aplikasi pendidikan untuk mendukung pembelajaran digital di Indonesia. Outclass adalah salah satu startup Indonesia yang menjadi pelaku dalam bisnis ini. Salah satu upaya Outclass dalam memperkenalkan diri mereka adalah dengan strategi inbound marketing. Sebagai salah satu strategi, Outclass juga memperkenalkan kepribadian merek dalam unggahannya di Instagram. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis isi kuantitatif menggunakan uji reliabilitas antar coder yang dijabarkan secara deskriptif. Mengenai tema atau topik dari data yang dikumpulkan oleh peneliti melalui unggahan feed di instagram Outclass Indonesia. Peneliti menemukan bahwa elemen Sincerity merupakan brand personality yang paling menonjol dari setiap unggahan diikuti oleh honest, competence, ruggedness dan terakhir sophistication.
Strategi Self-Presentation Gibran Rakabuming Raka Sebagai Wali Kota Solo Di Akun Instagram @Gibran_Rakabuming Peter Gerids Leonardo Safkaur; Gatut Priyowidodo; Jandy Edipson Luik
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Self-presentation adalah sebuah proses tentang bagaimana seseorang membentuk apa yang orang lain pikirkan ataupun apa yang kita pikirkan tentng diri kita sendiri. Self-presentation dibagi menjadi dua jenis yaitu defensive self-presentation yang memiliki 5 sub-indikator (excuse, justification, disclaimer, self-handicapping, apology) dan juga assertive self-presentation yang terdiri dari 8 sub- indikator (ingratiation, intimidation, supplication, entitlement, enhancement, basking, blasting, exemplification). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui strategi self-presentation Gibran Rakabuming sebagai Walikota Solo dalam akun Instagram @gibran_rakabuming. Penelitian ini mencoba menemukan bagaimana Gibran Rakabuming melakukan presentasi diri selama 100 hari pertama ia menjabat sebagai Walikota Solo mulai tanggal 26 Februari sampai dengan 6 Juni 2021. Latar belakangnya yang merupakan seorang pengusaha dan dinilai minim pengalaman politik membuat Gibran Rakabuming banyak diterpa isu negatif serta dinilai belum mampu memimpin sebagai Walikota. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi kuantiatif dengan melihat dan menganalisis caption Gibran Rakabuming sebanyak 137 postingan Grid. Temuan dari penelitian ini adalah Gibran Rakabuming lebih sering menggunakan strategi assertive self-presentation pada sub-indikator exemplification dimana Gibran Rakabuming sering mengajak orang untuk melakukan sesuatu yang ia inginkan atau hal-hal positif.
Restorasi Citra Maybank Melalui Media Online Tribunnews.com Dan Detik.com Evita Frisdiana Jaya Wardani; Titi Nur Vidyarini; Astri Yogatama
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penggambaran citra Maybank yang terdapat dalam pemberitaan media online Tribunnews.com dan Detik.com pasca tersandung kasus Winda Earl Kehilangan uang 22 Miliar. Pada penelitian ini peneliti menggunakan teori strategi Restorasi Citra, jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan metode analisis isi. Peneliti menganalisis Citra Maybank dalam sampel sebanyak 33 dari Tribunnews.com dan 34 Detik.com Total 67 pemberitaan, Sebagian besar pemberitaan di Tribunnews.com dan Detik.com yaitu pengamat professional dan dari restorasi citra yaitu persentase terbanyak dari Tribunnews.com adalah Accident sedangkan Detik.com adalah Defeasibility.
Representasi Bullying Dalam Film The Greatest Showman Cynthia Andriana Tjitra; Daniel Budiana; Chory Angela Wijayanti
Jurnal e-Komunikasi Vol 10, No 1 (2022): VOL 10, NO 1 MARET 2022
Publisher : Jurnal e-Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana bullying yang terjadi dalam film “The Greatest Showman”. Film The Greatest Showman adalah film yang mengangkat isu bullying yang terjadi pada abad 18. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika John Fiske. Representasi bullying dalam film “The Greatest showman” dapat dilihat dari level kode – kode televisi seperti level realitas, level representasi dan level ideologi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif guna mendeskripsikan tanda dan lambang yang ada pada film The Greatest Showman. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menemukan bahwa bullying ini terjadi karena ada empat hal yaitu bullying terjadi karena adanya perbedaan status sosial, bullying terjadi karena adanya perbedaan fisik, bullying terjadi karena sirkus dianggap sebagai pertunjukkan untuk kalangan bawah dan pengaruh media massa terhadap bullying. Ideologi yang ditemukan dalam penelitian ini adalah Egalitarisme, liberalisme dan kapitalisme.