cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
MEMBANGUN DENGAN PANCA TEKAD PENERANGAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.822 KB)

Abstract

       Ketika penjajah Belanda mencengkeramkan kuku-kukunya di negara kita, dan ternyata mereka juga sangat jeli untuk memanfaatkan sarana yang sangat potensial untuk menyebar luaskan informasi, siaran radio! Tentu saja saat itu orientasinya pada aspek-aspek politis.       Sebagai misal penguasa Belanda pada tahun 1925 mendirikan stasiun pemancar Bataviasche Radio Vereniging (B.R.V) di Jakarta,  atau pada tahun 1934 mendirikan Nederlands Indishe Radio Omroep Maatchappij (NIROM) yang merupakan perkumpulan radio Belanda.  Tentu saja materi siarannya tidak pernah lepas dari kepentingan politis pihak penjajah.       Disamping materi siarannya dapat dijadikan sebagai sarana komunikasi antar orang-orang Belanda (Nederlander), juga dimaksudkan untuk memberikan pengaruh pada bangsa Indonesia agar supaya timbul konflik ideologis pada masyarakat Indonesia. Tidak diragukan,  sarana yang  potensial dan efektif ini memberikan keuntungan politis yang tidak sedikit bagi pemerintah Belanda waktu itu.       Keadaan ini ternyata telah mampu membangkitkan semangat putra-putri bangsa untuk merintis pemanfaatan broadcasting (siaran) bagi kepentingan bangsa sendiri.
MEMBENAHI PERATURAN PENDIDIKAN KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: MAJALAH PUSARA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.161 KB)

Abstract

       Mengapa  pendidikan nasional Indonesia  berjalan  sangat lamban dan terkesan kurang energi?  Ya, karena banyak peraturan pendidikan yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan alam dan jaman!  Itulah salah satu manifestasi dari "Teori Legalistik" yang dapat kita kembangkan untuk membuat klarifikasi atas berbagai permasalahan menyangkut lambannya perjalanan pendidikan nasional kita.       Seperti sudah kita ketahui dan kita sadari bersama bahwa sesung-guhnya perjalanan pendidikan nasional kita relatif lamban,  baik kalau dibandingkan dengan perjalanan pendidikan di negara-negara manca pada umumnya maupun kalau dibandingkan dengan tuntutan kemajuan masyarakat.      Secara konkret kita bisa membandingkannya dengan tetangga kita yang paling dekat;  Malaysia misalnya.  Sekarang penduduk Indonesia sekitar 200 juta jiwa, sedangkan penduduk Malaysia hanya sepersepuluhnya saja. Meskipun demikian ternyata jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Amerika Serikat (AS) setara dengan jumlah mahasiswa Malaysia.  Padahal, seharusnya jumlah mahasiswa Indonesia mencapai sepuluh kali lipat daripada mahasiswa Malaysia. Sepuluh s/d dua puluh tahun lalu banyak mahasiswa Malaysia yang bersekolah dan menempuh studi lanjut di Indonesia;  misalnya UGM Yogyakarta, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ITB Bandung, IPB Bandung dan UI Jakarta. Sekarang justru banyak mahasiswa Indonesia yang menempuh studi lanjut di Malaysia;  misalnya di Universiti Malaya (UM) Kuala Lumpur, Universiti Pertanian Malaysia (UPM) Selangor, dsb.       Dari ilustrasi konkret tersebut  tergambar jelas betapa lambannya perjalanan pendidikan nasional kita;  dan hal itu tidak dapat dilepaskan dari materi peraturan pendidikan yang oleh banyak kalangan dinilai tidak antisipatif dan tidak lagi produktif.
NILAI GUNA DALAM ISLAM Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"MS Mincho"; mso-font-alt:"?? ??"; mso-font-charset:128; mso-generic-font-family:modern; mso-font-pitch:fixed; mso-font-signature:-536870145 1791491579 18 0 131231 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"MS Mincho"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-ansi-language:EN-GB; mso-fareast-language:JA;} @page Section1 {size:612.1pt 842.0pt; margin:113.7pt 3.0cm 3.0cm 2.3pt; mso-header-margin:35.45pt; mso-footer-margin:35.45pt; mso-gutter-margin:89.85pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --> Prinsip syariah akan menyediakan dasar untuk membuat alokasi, produksi dan distribusi secara adil dan sah. Oleh karena itu, prinsip syariah merupakan penting sekali untuk mengelompokkan kriteria umum yang akan membantu untuk membangun peringkat nilai guna (utility) dari kombinasi yang berbeda dari barang yang dikonsumsi oleh anggota masyarakat Islam. Peta indeference pada keputusan individu didasarkan barangkali dianggap sebagai fungsi kesejahteraan sosial dan moral Islam (Mannan, 1984). Konsep nilai guna dalam Islam merupakan sebuah konsep yang lebih luas daripada konsep nilai guna dalam ekonomi kesejahteraan konvensional. Nilai guna konvensional, hanya mempertimbangkan material semata. Nilai guna dalam Islam dikenal dengan sebutan maslahah, yang dikemukakan oleh Malik bin Anas. Subyek ini diperjelas oleh Ghazali, Ibnu Qayyim, Shatibi, Tufi, Izzudin ibn Abdussalam dan Quraf. Ternyata konsep Maliki ini serupa dengan analisis nilai guna (utility) dari filosof barat seperti Jeremy Bentham dan J.S.Mill (Shiddiq, 1982). Bisa jadi Jeremy Bentham dan J.S.Mill terinspirasi dari Malik bin Anas.  Bentuk maslahah merujuk pada kesejahteraan yang luas dari manusia. Menurut Al-Shatibi, maslahah merupakan kepenilikan atau kekuatan barang atau jasa yang menguasai elemen dasar dan sasaran kehidupan manusia di dunia. Ada lima elemen dasar kehidupan di dunia, yaitu kehidupan (al-nafs), kepemilikan (al-mal), kebenaran (ad-din), kecerdasan (al-aql) dan keturunan (al-nasl). Semua barang dan jasa yang mempunyai kekuatan untuk menaikkan lima elemen dasar ini yang dikatakan mempunyai maslahah dan barang dan jasa yang mempunyai maslahah akan dinyatakan sebagai kebutuhan. Keinginan dalam ekonomi konvensional ditentukan oleh konsep nilai guna sementara kebutuhan dalam Islam ditentukan oleh konsep maslahah (Khan, 1989). Konsep barang juga berbeda dalam Islam. Dalam Islam barang merupakan karunia yang terbaik dari Tuhan pada manusia. Menurut Al-Qur?an barang konsumsi adalah barang yang melambangkan nilai moral dan ideologi mereka (manusia). Dalam Al-Qur?an, barang dinyatakan dalam dua istilah, yaitu al-tayyibat dan al-rizq.  Kata al-tayyibat digunakan 18 kali, sedangkan kata al-rizq digunakan 120 kali dalan Al-Qur?an. Al-tayyibat merujuk pada suatu yang bail, suatu yang murni dan baik, sesuatu yang bersih dan murni, sesuatu yang baik dan menyeluruh serta makanan yang terbaik. Al-rizq   merujuk pada makanan yang diberkahi Tuhan, pemberian yang menyenangkan dan ketetapan Tuhan (Ali, 1975).  Menurut Islam, barang konsumen adalah berdaya guna, materi yang dapat dikonsumsi yang bermanfaat yang bernilai guna yang menghasilkan perbaikan material, moral, spiritual bagi konsumen. Sesuatu yang tidak berdaya guna dan dilarang dalam Islam bukan merupakan barang dalam pengertian Islam. Dalam barang ekonomi konvensional adalah barang yang dapat dipertukarkan. Tetapi barang dalam Islam adalah barang yang dapat dipertukarkan dan berdaya guna secara moral. Kriteria kesejahteraan akan bekerja dalam kondisi untuk memilih di antara proyek-proyek investasi yang berbeda untuk mengalokasikan sumberdaya dengan dasar Syariah secara Islam. Memanglah, sebagian besar kriteria ini tumpang tindih satu dengan yang lainnya.   Meskipun, kriteria yang disebutkan tersebut merupakan kriteria yang hanya indikatif, tetapi tidak yang mendalam. Kriteria kesejahteraan tersebut, antara lain peningkatan ideologi, efisien penggunaan sumberdaya, keadilan dalam distribusi pendapatan, baik secara kolektif, prioritas terhadap kebutuhan yang mendesak, stabilitas, kepastian, keberlangsungan, produktivitas, pertimbangan manusia, universal, etika dan moral (Choudhury, 1991).  
RAHASIA UMUR PANJANG KORAN KR:OBYEKTIVITAS DAN NASIONALISME Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.645 KB)

Abstract

       KA-ER, demikian nama "beken" harian 'Kedaulatan Rakyat' kita yang dengan setia senantiasa siap mengunjungi rumah ke rumah. Dia tidak pernah marah walau dipajang diterik panas sinar mentari, atau dilempar di atas pagar, atau pula diselipkan lewat bawah daun pintu,  atau diletakkan begitu saja di atas lantai hanya sekedar untuk menemui pembaca setianya.       Tanpa terasa kemarin itu,  27 September 1984  usia KR genap 39 tahun. Hanya terpaut selama 41 hari dengan usia kemerdekaan negara kita, dan hanya terpaut selama 16 hari dengan usia RRI sebagai kawan bergumul untuk mengkomunikasikan berita, pesan sekaligus nilai-nilai kepada khalayak.  Walaupun  (barangkali) belum bisa  disebut sebagai  media tulis tertua,  tetapi di negara kita usia yang hampir lima windu ini bisa mengantarkan KR kepada barisan 'koran tua' dan atau 'koran tertua' dengan segala kesenioritasannya.       Banyak koran atau majalah  yang lahirnya hampir bersamaan  de-ngan KR, tetapi banyak pula di antaranya yang gagal mempertahankan diri sehingga tidak dikaruniai umur panjang. Ada yang pindah haluan, memoles misi, mati secara perlahan atau tiba-tiba saja menstop edisi-nya sebagai edisi terbaru sekaligus edisi terakhir tanpa dikompromikan sebelumnya.       Kenapa hal ini dapat terjadi?  Salah satu sebabnya adalah  karena negara kita dikepung lautan sehingga bermacam-macam angin bertiup dari segala penjuru yang menyebabkan sangat sering terjadinya "per-gantian musim".
NASIB SARJANA INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.933 KB)

Abstract

Dalam salah satu seminar nasional  di Jakarta  beberapa hari yang lalu terungkap data  bahwa sekarang ini kita memiliki sarjana teknik alias insinyur sekitar 700 ribu orang. Mereka adalah lulusan perguruan tinggi negeri, PTN, dan perguruan tinggi swasta, PTS, di negara kita.  Sayang sekali  dari jumlah yang banyak ini hampir semuanya tidak mempunyai sertifikat keinsinyuran yang diakui oleh dunia internasional.  Akibatnya, hampir tidak ada di antara mereka yang "layak jual" di pasar internasional.       Implikasinya,  dalam era AFTA yang tinggal beberapa bulan mendatang diperkirakan nasib insinyur kita akan mengenaskan. Di satu sisi insinyur Indonesia tidak laku dijual di negara-negara lain,  dan sisi lain akan membanjir datangnya insinyur asing untuk meng-ambil pekerjaan yang ada di negeri ini.       Sayangnya, menghadapi keadaan yang seperti itu pemerintah kita, yang dalam hal ini departemen pendidikan, belum mengadakan antisipasi secara profesional.  Bahkan terkesan tidak dapat berbuat banyak untuk "menyelamatkan" para insinyur kita.        Lebih sayang lagi, Persatuan Insinyur Indonesia (PII) seba-gai organisasi profesi keinsinyuran  di negara kita  sepertinya juga belum melakukan langkah-langkah yang konkrit. Konon, PII pernah merintis kerja sama dengan "PII" Australia  untuk melakukan sertifikasi internasional terhadap para insinyur kita agar nantinya dapat berkompetisi dengan insinyur manca, tetapi program tersebut belum dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Akhirnya, ke depan nasib insinyur kita masih tidak jelas.
TEKNIK MENCIPTA IDE : MINIMASI Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak yang bertanya kepada saya. Bagaimanakan cara untuk menciptakan ide itu ?. Bagaimana melaksanakan ide tersebut dapat terwujud dalam usaha?. Bahkan kalau perlu, bagaimanakah ide tersebut dapat melambungkan usaha?. Untuk menciptakan ide yang orisinil tidaklah mudah, maka dapat digunakan beberapa teknik?. Salah satu teknik tersebut adalah teknik minimasi. Teknik minimasi selain pengecilan dalam fisik dapat pula pengecilan dalam hal waktu. Honda meraih sukses dengan menggunakan teknik minimasi dalam hal fisik, ketika memasuki pasar Amerika Serikat. Pada saat itu di Amerika Serikat sepeda motor yang ada adalah sepeda motor besar 250 cc dan 350 cc. Awalnya Honda mencoba untuk membuat sepeda motor besar, tetapi mengalami kegagalan. Akhirnya Honda menggunakan teknik minimisasi dengan membuat sepeda motor 50 cc yang disebut Super Cup, yang mengawali kesuksesan Honda. Dalam jangka hanya 5 tahun, satu di antara dua sepeda motor di Los Angeles, bermerek Honda. Pimpinan Sony Akio Morita juga menggunakan teknik minimisasi. Ketika melihat anak-anak muda mendengarkan musik dengan memanggul tape recorder besar di bahunya dibawa kemana-mana, bagaimana kalau dapat diganti dengan tape recorder kecil yang dapat dimasukkan ke dalam saku. Ide tersebut diwujudkan oleh Morita dengan diciptakan Walkman, yang merupakan awal dari kesuksesan perusahaan Sony tersebut. Dari ide minimisasi ini muncul pula dari Sony,  Handycam yang merupakan minimisasi dari kamera video yang besar. Floppy disk yang merupakan minimisasi dari penyimpan data bentuk fisiknya besar, baik berupa magnetic tape maupun magnetic disk. Bahkan dalam masa krisis teknik minimasi ini sangat menguntungkan. Kemasan yang beratnya 1 kg dapat diminimasi misalnya dengan 200 gram atau 100 gram, dengan demikian harganya menjadi lebih murah. Pada masa krisis, faktor harga cukup menentukan konsumen dalam memutuskan membeli suatu produk. Teknik minimisasi juga dapat dilakukan terhadap waktu. Dell Computer yang dahulu waktu yang diperlukan untuk pengetesan jaringan membutuhkan 60- 90 hari dapat dipersingkat menjadi 15 hari. Order PC hanya butuh waktu satu hari dan sistem yang kompleks hanya butuh waktu lima hari. Minimisasi yang dipadukan dengan E-Commerce ini dapat melambungkan Dell kembali dan menjadi penjual PC nomor satu di dunia pada 1999. Sedangkan Citibank menggunakan teknik minimisasi kesalahan dalam proses melayani nasabah. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan Citibank menggunakan sistem sigma. Semakin besar sigma, semakin kecil kesalahannya, begitu juga sebaliknya. Meskipun demikian Citibank juga mengakui, tanpa sumberdaya manusia yang puas tidak akan ada kepuasan pelanggan.
INDUSTRI PANDAI BESI Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.971 KB)

Abstract

Ketersediaan bijih besi dan tembaga dalam jumlah yang banyak di Semenanjung Arabia, pandai besi merupakan kerajinan yang dikerjakan di banyak kota dan desa pada abad keenam dan ketujuh di Hijaz.  Produksi dari kerajianan ini berupa senjata, peralatan, perkakas rumah tangga dan berbagai barang dari besi lainnya, demikian pula peralatan dapur lokal dari tembaga dan pipa dari tembaga. Syair pra-Islam memuji kehebatan pengrajin besi tersebut. Ketika pada awal abad ketujuh, Arab melakukan penaklukan, maka permintaan senjata pada saat itu meningkat secara tajam. Senjata tersebut meliputi pedang, perisai, kepala panah dan peralatan perang lainnya.  Besi juga diimpor dari India dan Persia melalui Basrah, digunakan untuk memproduksi peralatan perang. Pada saat lahirnya Islam, industri kerajinan besi di Hijaz merupakan industri kerajianan rakyat yang menonjol. Tidak kurang dari 30 pandai besi menjalankan bisnisnya pada masa Rasulullah s.a.w. di Khaibar.  Setelah perang Huanain pada 630, seorang budak Romawi yang ahli dalam kerajinan besi, yang bernama Al Azraq bin ?Uqbah al-Thaqafi setelah membelot ke pasukan Muslim dan masuk Islam,namanya menjadi masyhur dalam kerajianan tersebut. Al Azdi melaporkan bahwa dealer besi besar beroperasi di Madina pada saat itu berjalan dengan baik. Hasil kerajinan logam lokal menunjukkan perkembangan yang menonjol. Penaklukan Banu Qurayzah oleh pasukan Muslim pada 626, dilaporkan mendapat rampasan perang 1500 pedang, 2000 tombak, 300 baju besi dan 500 perisai. Tiga ribu tombak juga digunakan dalam perang Hunain pada 630,dalam pertempuran, pasukan Rasulullah s.a.w. menggunakan baju baja yang disediakan oleh safwan bin Umayyah. Al Qur?an memuat hal yang berkaitan dengan baju besi, seperti dalam surat Saba? ayat 11: ?Buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan?.  ?Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat baju besi untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu. Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)?(Al Anbiyaa?:80). ?Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia? (Al Hadiid:25). Putra Nabi Muhammad s.a.w.,Ibrahim setiap hari diasuh oleh istri seorang pandai besi, Abu Sayf. Khabbab bin al-Aratt merupakan seseorang yang spesialis membuat pedang, ia membuat pedang al-?Isa bin Wa?il, kepala suku Banu Jumah. Marzuq al-Sayqal, sebagai ahli penggosok logam dan juga yang menghiasi pedang Nabi Muhammad s.a.w. yang terkenal dengan sebutan Zulfikar. Ibnu Sa?d menceritakan bahwa pedang tersebut berasal dari rampasan perang Badar dari Qurays. Walid bin al-Mughirah, al-`As bin Hisham dan al-Azraq bin `Uqbah al-Thaqafi merupakan pandai besi Arab yang dikenal dalam sejarah. Menurut al-Baladhuri, mereka adalah budak yang telah dibebaskan oleh Nabi Muhammad s.a.w. ketika menduduki Ta?if.
'LINK AND MATCH', PRIMADONA PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.712 KB)

Abstract

       Suatu majalah dwimingguan terbitan Jakarta  edisi hari-hari yang sedang berjalan ini menurunkan tulisan mengenai 'Rapor Akhir Tahun 15 Menteri'; dari menteri yang dianggap sangat berprestasi sampai dengan menteri yang dianggap bermasalah.  Kelimabelas menteri yang "dikupas" dalam tulisan itu antara lain Yogie SM, Ali Alatas, Oetoyo Oesman, Tarmizi Taher, Harmoko, B.J. Habibie, Moerdiono, dsb; tidak ketinggalan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita Wardiman Djojonegoro.       Penekanan penulisan menteri-menteri tersebut bukan  pada sosok pribadinya akan tetapi lebih pada program-program yang dilaksanakan berkait dengan tugas dan tanggung jawabnya.  Ketika sampai giliran Pak Wardiman majalah itu menulis sbb:  "Link and Match atau keter-kaitan dan kesepadanan. Inilah program pendidikan yang dicanangkan Wardiman hampir sejak detik pertama ia diangkat pada 1993. Dan mungkin yang paling kontroversial dari sejumlah kebijakan menteri kelahiran Pamekasan, 62 tahun silam, ini.  Sejak awal, berbagai kritik berlontaran dari pelbagai penjuru".       Secara implisit nampaknya majalah tersebut menilai  bahwa kebijakan Link and Match (LM) merupakan kebijakan pendidikan yang paling populer meski di dalamnya mengandung unsur kontroversial dan banyak kritik.       Bahwa LM merupakan kebijakan pendidikan yang paling populer selama perjalanan tahun 1996 ini,  bahkan sejak Pak Wardiman diper-caya memimpin departemen pendidikan kiranya memang benar. Lebih daripada itu bahkan ada sementara anggota masyarakat kita yang me-nyebut LM sebagai "primadona pendidikan".  Di sisi lain bahwa LM menimbulkan berbagai kritik (dan pujian) kiranya juga benar adanya; namun demikian kalau kebijakan ini dinyatakan bersifat kontroversial memang masih perlu didiskusikan lagi.
STRATEGI PRODUK NABI SAW (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Produk pada dalam Al Qur?an dinyatakan dalam dua istilah, yaitu al-tayyibat dan al-rizq. Kata al-tayyibat digunakan 18 kali, sedangkan kata al-rizq digunakan 120 kali dalan Al-Qur?an. Al-tayyibat merujuk pada suatu yang baik, suatu yang murni dan baik, sesuatu yang bersih dan murni, sesuatu yang baik dan menyeluruh serta makanan yang terbaik. Al-rizq merujuk pada makanan yang diberkahi Tuhan, pemberian yang menyenangkan dan ketetapan Tuhan (Ali, 1975). Menurut Islam, produk konsumen adalah berdaya guna, materi yang dapat dikonsumsi yang bermanfaat yang bernilai guna yang menghasilkan perbaikan material, moral, spiritual bagi konsumen. Sesuatu yang tidak berdaya guna dan dilarang dalam Islam bukan merupakan produk dalam pengertian Islam. Dalam barang ekonomi konvensional adalah barang yang dapat dipertukarkan. Tetapi barang dalam Islam adalah barang yang dapat dipertukarkan dan berdaya guna secara moral (Choudhury, 1991). Dari Abu Daarda r.a., ia berkata, ?Rasulullah s.a.w. bersabda, ?Sesungguhnya rezeki itu akan mencari seorang hamba sebagimana kematian mencarinya.? (HR. Ibnu Hibban, Al Bazzar, dan Arth-Thabrani dan lafazhnya, ?Sungguh rezeki itu akan mencari seorang hamba lebih banyak daripada apa yang dicari oleh ajalnya.? Dari Sa?d bin Abi Waqqash RA, ia berkata, ?Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda, ?Sebaik-baik dzikir adalah yang samar dan sebaik-baik rezeki adalah yang mencukupi.? (HR. Abu Awanah dan Ibnu Hibban). Produk meliputi kualitas, keistimewaan, desain, gaya, keanekaragaman, bentuk, merek, kemasan, ukuran, pelayanan, jaminan dan pengembalian. Kualitas didefinisikan oleh pelanggan. Kualitas merupakan seberapa baik sebuah produk sesuai dengan kebutuhan spesifik dari pelanggan. Dari Jabir r.a., katanya : ?Nabi s.a.w. melarang menjual buah-buahan sebelum masak.? Lalu ditanyakan orang kepada beliau, ?Bagaimanakah buah yang masak?? Jawab Nabi s.a.w. :?Kemerah-merahan, kekuning-kuningan dan dapat dimakan seketika.? (Bukhari).
MELIHAT PERKEMBANGAN PENDUDUK DIY Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.984 KB)

Abstract

       Menurut  Sensus Penduduk Tahun 1990 (SP-1990)  maka  jumlah penduduk DIY tercatat sebanyak 2,91 juta jiwa, sedangkan menurut proyeksi jumlah penduduk DIY tahun ini sebesar 2,95 juta;  angka ini mengalami kenaikan lebih dari 6 persen bila dibanding dengan kondisi tahun 1980 yang banyaknya 2,75 juta jiwa. Secara absolut pertambah-an penduduk DIY memang besar tetapi secara relatif adalah kecil bila dilihat dari angka laju pertumbuhan penduduk (LPP). Untuk periode tahun 1980-1990 LPP DIY per tahun sebesar 0,58 merupakan LPP yang paling rendah di Indonesia.Sebagai komparasi angka LPP secara nasional masih berada pada angka 2,0.       Secara kasus per kasus  bahkan terdapat  dua dati-2 di DIY  yang angka pertumbuhan penduduknya ternyata negatif, yaitu Kabupaten Gunung Kidul (-0,13) serta Kabupaten Kulon Progo (-0,22). Adapun salah satu penyebab negatifnya angka pertumbuhan penduduk ini ialah banyaknya penduduk pada kedua kabupaten tersebut yang bermigrasi secara tetap ke luar wilayahnya ("migrant-out permanent").       Persentase penduduk perkotaan  dari waktu ke waktu juga  selalu naik; kalau tahun 1971 hanya ada 16 persen penduduk yang bertempat tinggal di kota dan tahun 1990 angkanya meningkat menjadi 44 persen maka tahun 1996 ini diprediksi angkanya mencapai sekitar 60 persen.       Dari sisi demografis Provinsi DIY dapat disebut sebagai provinsi yang berani "tampil beda" bila dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain di Indonesia pada umumnya.  Setidak-tidaknya ada tiga indikator demografis yang telah menyebabkan DIY "tampil beda" dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain pada umumnya.  Adapun indikator yang dimaksudkan adalah sbb:  (1) Angka Kelahiran,  (2) Angka Kematian, dan (3) Dinamika Penduduk Kelompok Usia.

Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: MOZAIK OBITUARI 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: MAJALAH PUSARA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue