cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
KEMUNDURAN BUDAYA BANGSA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.522 KB)

Abstract

       Sangatlah jarang tiga menteri pendidikan berkumpul bersama untuk duduk dan berdialog memperbincangkan masalah yang sangat fundamental, penting dan strategis  tetapi banyak dilupakan orang, yaitu masalah kebudayaan.  Meskipun demikian peristiwa langka ini terjadi juga pada tanggal 22 Februari yang lalu pada forum seminar strategi pembinaan dan pengembangan kebudayaan di Jakarta yang diselenggarakan oleh Ditjen Kebudayaan Depdiknas.       Di dalam forum tersebut satu menteri pendidikan yang masih aktif, Yahya Muhaimin,  serta dua menteri pendidikan  yang sudah mantan masing-masing Daoed Joesoef dan Fuad Hassan  dapat ber-kumpul bersama-sama para pakar, praktisi, pengamat dan penikmat kebudayaan untuk memperbincangkan  bagaimana menyusun strategi pembinaan dan pengembangan kebudayaan nasional Indonesia. Kalau kita berbicara mengenai kebudayaan nasional sudah barang tentu di dalamnya terkandung kebudayaan daerah  yang tersebar di seluruh wilayah tanah air.       Masalah kebudayaan di negara kita  akhir-akhir ini  memang terasa dilupakan orang  meskipun disadari atau tak disadari hampir semua orang  pada setiap harinya selalu berurusan dengan budaya. Ketika ibu-ibu setiap malam  melihat penayangan sinetron di televisi mereka sedang berurusan dengan budaya. Ketika anak-anak melihat tayangan film India yang kaya tarian di televisi mereka juga sedang berurusan dengan budaya.  Ketika bapak-bapak mengayun cangkul di sawah atau menyetir mobil ke kantor mereka itu pun juga sedang bururusan dengan budaya.  Seperti kita ketahui sinetron dan film sebagai karya seni serta cangkul dan mobil sebagai karya teknologi adalah bagian dari budaya.       Lalu, mengapa kebudayaan di Indonesia sekarang ini seperti dilupakan orang? Apakah karena alasan itu orang-orang yang sukar dirayu seperti Pak Daoed Joesoef akhirnya bersedia turun gunung? Entahlah, tetapi mungkin juga begitu.
LIMA KENDALA DAN LIMA "WARNING" BAGI TPI Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.503 KB)

Abstract

       Untuk menghormati berdirinya Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) satu tahun yang lalu, atau tepatnya pada tanggal 23 Januari 1991, maka di harian ini saya pernah menulis tentang perlunya pengembangan media audio-visual (terutama TPI) untuk memperluas jangkauan pelayanan pendidikan di negara kita (Supriyoko, "Dimulainya Televisi Pendidikan Indonesia Hari Ini: Tiga Kendala Siap Mengha-dang", Wawasan: 23/01/91).          Hari ini TPI genap berusia satu tahun. Dalam usianya yang baru "seumur jagung" ini berbagai kritik, saran dan bahkan sinisme masyarakat yang ditujukan kepada TPI seperti tidak henti-hentinya mengalir. Hal ini mengingat kan kita pada hari-hari pertama ketika TPI dilahirkan, yang mana saat itu kritik tajam, saran, dan sinisme juga banyak bermunculan. Kalau waktu itu TPI sering dikepanjangkan sebagai "Televisi Prematur Indonesia" karena program-programnya yang dianggap tidak berbobot, "Televisi Perempuan Indonesia" karena siarannya hanya diikuti kaum hawa di pagi hari, "Televisi Pembantu Indonesia" karena siarannya kebanyakan diikuti oleh para pembantu RT, dsb, hal itu merupakan ekspresi dari berbagai sinisme.          Dalam usianya yang sudah satu tahun sekarang ini pun ternyata berbagai kritik, saran, serta sinisme masih tetap saja bermunculan. Tidaklah mengapa; karena kritik, saran dan sinisme itu justru menunjukkan adanya rasa kecintaan  serta besarnya harapan masyarakat kita terhadap TPI dengan program-programnya.
RENDAHNYA KUALITAS PT KITA (1) Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.958 KB)

Abstract

       Baru-baru ini Asiaweek  telah membuat sensasi akademis dengan memuat daftar 50 perguruan tinggi terbaik di Asia dan Australia, dari peringkat yang paling awal (ke-1) sampai peringkat yang paling bontot (ke-50). Dari belasan perguruan tinggi baik yang diselenggarakan oleh pemerintah (state university) maupun masyarakat (private/indepen-dent university) pada masing-masing negara maka nama-nama yang dicantumkan dalam daftar tersebut merupakan pilihan terbaik.       Untuk menentukan nama-nama  dalam daftar tersebut  digunakan sistem evaluasi kuantitatif dengan cara pengumpulan nilai dari lima komponen;  masing-masing ialah komponen reputasi akademik dengan nilai teoretis 0 s/d 30, sumber daya fakultas 0 s/d 25,  selektivitas ma-hasiswa 0 s/d 20,  sumber daya finansial 0 s/d 15, dan nilai uang 0 s/d 10. Secara teoretis nilai maksimal 100 hanya dapat dicapai oleh per-guruan tinggi yang memiliki kriteria ideal atas kelima komponen itu; makin tinggi pencapaian nilai total pada suatu perguruan tinggi makin tinggi pula kualitas akademiknya;  begitu pula sebaliknya, makin ren-dah pencapaian nilai total pada suatu perguruan tinggi makin rendah pula kualitas akademik perguruan tinggi yang bersangkutan.       Tidak seluruh perguruan tinggi  di Asia dan Australia  dikenakan evaluasi karena dari masing-masing negara hanya diambil beberapa perguruan tinggi yang memang layak untuk dinilai.  Perguruan tinggi yang dianggap kurang bermutu atau kredibilitas akademiknya diragu-kan tidak termasuk dalam daftar yang dinilai secara langsung oleh tim yang sudah dipersiapkan sebelumnya.       Di Indonesia misalnya;  dari 1.300-an perguruan tinggi, PTN dan PTS, yang ada maka lebih dari 95 persen diantaranya sudah gugur lebih dulu karena dipandang tak memiliki kredibilitas akademik yang "menonjol".  Hanya perguruan tinggi yang dianggap baik saja, seperti UGM, UI, ITB, IPB, Undip, Unair, dsb, yang dinilai.
MASALAH DAYA TAMPUNG SMTP DI JAWA TENGAH DAN UPAYA PENINGKATAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.976 KB)

Abstract

       Dari berbagai kelebihan di dalam dunia pendidikan yang diraih oleh Propinsi Jawa Tengah ternyata masih ada pula kekura-ngannya, bahkan kekurangan ini sangat serius, yaitu menyangkut terbatasnya daya tampung SMTP.       Sampai saat ini daya tampung SMTP di  Jawa Tengah masih berkisar pada angka 50%, bahkan ada yang mempredik lebih kecil lagi; artinya dari setiap 100 lulusan SD maka yang beruntung dapat ditampung di SMTP hanya 50 anak saja, atau bahkan kurang dari angka itu.  Lalu yang lain pada kemana? Entahlah ....., untuk tidak menjawab dengan kata-kata yang  kurang  enak dide-ngar: menganggur!       Seorang lulusan SD yang tidak dapat melanjutkan studinya di SMTP tentu dapat kita "hitung" nasibnya; mau melanjutkan studi tidak bisa, mau bekerja belum memiliki keterampilan atau skilled yang cukup.       Daya tampung SMTP yang masih berkisar pada angka 50% tersebut tentunya relatif sangat kecil kalau dibandingkan dengan angka serupa pada daerah lain atau dengan angka serupa untuk tingkat nasional.  Sebagai ilustrasi daya tampung SMTP di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sudah berada di sekitar angka 85%, sedangkan untuk tingkat nasional sudah berada di sekitar angka 65%.
STRATEGI SENTUHAN UNIK Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak strategi yang dipakai untuk unggul dalam persaingan. Ketika pertama kali Primagama, hanya mendapatkan 2 siswa, maka kami berusaha mencari strategi agar mendapatkan siswa yang banyak. Strategi Primagama, ketika itu kita sebut strategi sentuhan unik yaitu mengundang siswa SLTA dengan mengunakan Tes Uji Coba UPA/IPS Terpadu secara gratis. Strategi ini dilakukan, karena ketika itu tes masuk perguruan tinggi negeri akan menggunakan tes IPA/IPS Terpadu.  Primagama merupakan bimbingan tes pertama yang mampu mengadakan ujicoba tes IPA/IPS Terpadu. Karena ujicoba tes IPA/IPS Terpadu baru pertama kali, maka pesertanya banyak. Sebelum tes ujicoba dimulai, kita melakukan promosi kepada peserta, tentang salah satu keunggulan Primagama dibanding Bimbingan Tes lainnya. Dari promosi tersebut terjaring 62 siswa yang mengikuti bimbingan tes Primagama. Strategi sntuhan unik berikutnya adalah Program Jaminan Diterima.   Jaminan diterima, maksudnya adalah jika tidak diterima di Perguruan Tinggi Negeri, tidak membayar, hanya membayar uang pendaftaran Rp.10.000,- dan itulah yang disebut Jaminan Diterima. Ide dari Pak Purdi ini, kita tidak lanjuti dilapangan dengan memasang Customer Service di dua tempat. Tempat pertama di Jalan Kapten Tendean No. 7 langsung ditangani Pak Purdi, dan tempat kedua di Jalan Demangan Kidul No. 92, langsung saya tangani sendiri. Customer servise ditangani oleh yang tahu segala seluk beluk Primagam, dari rumus praktis sampai teknik memprediksi soal yang akan keluar di PTN.  Kita tidak dapat membayangkan, kalau peserta yang ikut Primagama luar biasa banyak. Apalagi setelah terbukti yang masuk Perguruan Tinggi Negeri banyak, yang diumumkan di Harian Kedaulatan Rakyat.             Demikian juga ketika saya mendirikan Pusat Pendidikan Komputer dan Manajemen IMKI, strategi sentuhan unik yang saya lakukan adalah Program Profesi Satu Tahun yang merupakan Pendidikan Komputer yang dilengkapi Pendidikan Manajemen Praktis dan Kewirausahaan. Ketika itu belum ada pendidikan komputer lamanya satu tahun. ?Kalau Anda kursus komputer 1 bulan, atau 3 bulan hanya dapat sedikit, tetapi kalau Anda kursus 1 tahun akan dapat banya? kata saya kepada calon peserta kursus. Ternyata strategi ini manjur.               Ketika saya mendirikan STMIK AMIKOM Yogyakarta pun saya menggunakan stratetgi sentuhan unik. Kelemahan yang saya lihat, Pendidikan di Perguruan Tinggi adalah pendidikan sikap mental. Maka pendidikan di AMIKOM dimulai dari pendidikan sikap mentalnya lebih dahulu. Pendidkan sikap mental ini di AMIKOM dikenal sebagai Pelatihan Super Unggul. Pelatihan ini memadukan model Super Camp dari Bobby De Potter, Achievement Motivation Training dan Pelatihan Emotional Intelegence maupun Spiritual Intelegence. Untuk menjaga sikap mental ini, ketika kuliah mahasiswa diharuskan untuk memakai dasi, akhirnya memunculkan ?Tempat Kuliah Orang Berdasi?. Sedangkan pendidikan pengetahuan dan ketrampilan di lakukan dengan menggunakan fasilitas yang di atas rata-rata, sehingga ?Unggul Dalam Trend Teknologi Informasi?. Disamping itu, konsentrasi yang ditawarkan antara lain Periklanan Televisi, E-Commerce dan Film Kartun. Ternyata Strategi Sentuhan Unik itu, setelah kami tahu bernama Strategi Diferensiasi atau Strategi Positioning.
PENDIDIKAN IPA PERLU PROGRAM MINOR Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN SURYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.729 KB)

Abstract

       Terdapatnya fenomena akademis tentang menurunnya minat masyarakat terhadap bidang studi IPA sudah selayaknya perlu mendapatkan perhatian kita bersama: karena hal ini merupakan masalah yang sangat serius.       Menurunnya minat masyarakat terhadap bidang studi IPA sesungguhnya memiliki mata rantai yang berkesinambungan dengan kemajuan bangsa kita.  Menurunnya peminat program studi IPA pada IKIP dapat menurunkan kualitas dan kuantitas tenaga pendidik lulusan IKIP (dalam berbagai  penelitian ditemukan bukti tentang demikian eratnya hubungan antara minat seorang siswa dengan prestasi belajarnya). Bila kualitas dan kuantitas guru IKIP menurun maka bukan mustahil para siswa SMA pun akan ikut menurun minat dan kualitasnya.       Keadaan tersebut dalam perspektif juga dapat mengakibatkan "krisis" matematikawan, fisikawan,  dan para biolog yang prestasi dan reputasinya sangat diharapkan untuk memajukan negara tercinta ini. Oleh karena kurangnya guru bidang studi IPA dan SMA di negara kita perlu segera dicarikan jalan keluar yang realistis dan operasional.
TRANSPARANSI MANAJEMEN KEUANGAN SEKOLAH Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.73 KB)

Abstract

       Nampaknya persoalan uang di mana saja,  khususnya  di sekolah, memang benar-benar sangat peka. Kekeliruan sedikit saja dalam men-jalankan manajemen keuangan dapat menimbulkan berbagai dampak yang fatal.  Itulah sebabnya para petinggi departemen pendidikan kita, tak terkecuali Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro,  tidak bosan-bosannya berbicara mengenai transparansi dalam menjalankan manajemen keuangan sekolah.       Untuk yang kesekian kalinya  Pak Wardiman selaku menteri pen-didikan berbicara tentang transparansi manajemen keuangan sekolah. Baru-baru ini beliau menganjurkan agar seluruh kepala sekolah dapat menjalankan manajemen keuangan sekolah secara transparan,  hal ini utamanya menyangkut dana yang dikumpulkan dari masyarakat. Pada sisi yang lain beliau juga menghimbau agar pengurus Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) di sekolah tidak hanya membantu mengumpulkan dana saja tetapi juga membantu dalam hal pengelolaan dan penggunaannya.  Sudah barang tentu pengelolaan dan penggunaan yang dilakukan secara transparan (Suara Pembaruan; 15/09/1996).       Apa yang disampaikan  Pak Wardiman tersebut kiranya  memang sangat tepat karena kurangnya transparansi dalam manajemen keuang-an sekolah terbukti telah menyebabkan berbagai reaksi destruktif dari civitas sekolah itu sendiri.  Kasus protes dan mogok belajar yang ter-jadi di beberapa sekolah akhir-akhir ini telah membuktikan terjadinya reaksi destruktif yang dimaksud.       Pada sisi yang lain menteri pendidikan juga menyampaikan pesan Presiden Soeharto agar penarikan sumbangan pendidikan dilakukan secara hati-hati.  Presiden berpesan agar sumbangan pendidikan dila-kukan secara sukarela serta jangan terjadi paksaan karena tidak semua orang tua siswa mampu membayar.  Sumbangan ini hendaknya didasarkan pada musyawarah antara pihak sekolah dan orang tua siswa.
ARAH PENDIDIKAN NASIONAL TAHUN 90-AN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.455 KB)

Abstract

       Tahun 90-an merupakan dasawarsa terakhir menjelang datangnya Era 2000. Di dalam kurun waktu ini terjadi banyak perubahan yang cepat dan dahsyat dalam kehidupan masyarakat,  khususnya di bidang sosial dan budaya. Dari masyarakat yang lebih berkultur lokal menuju masyarakat yang lebih berkultur global.  Perubahan yang cepat dan dahsyat seperti ini menuntut kesiapan masyarakat yang tinggi;  dan se-cara empirik memang terdapat kelompok masyarakat yang mampu mengantisipasi akan datangnya perubahan sehingga mampu pula mem-persiapkan diri,  akan tetapi terdapat pula kelompok masyarakat yang tidak mampu mengantisipasi akan datangnya perubahan sehingga tidak atau kurang siap menerimanya.       Kompetisi atau persaingan merupakan elemen dominan  di dalam kata kunci perubahan itu sendiri; sehingga kesiapan masyarakat dalam menghadapi perubahan sebenarnya dapat diukur sejauh mana mereka dapat mempersiapkan daya saing.      Pendidikan merupakan media yang sangat tepat untuk membangun daya saing,  baik dalam tataran individual maupun kolegial. Hal itulah yang menyebabkan pelaksanaan pendidikan di setiap negara harus di-arahkan pada pembentukan atau pembangunan daya saing manusia. Dengan tanpa daya saing yang memadai maka suatu bangsa tidak mungkin dapat berprestasi di tingkat internasional; bahkan untuk seke-dar bertahan hidup saja bisa-bisa menjadi sulit.       Konvensi umum seperti pun juga berlaku di Indonesia.  Itulah se-babnya pelaksanaan pendidikan nasional Indonesia dalam kurun waktu tahun 90-an lebih diarahkan kepada pembangunan daya saing manusia Indonesia baik secara individual maupun secara kolegial demi kemajuan bangsa dan negara.  Meski demikian ternyata dalam pelaksanaan pendidikan pada masing-masing jenjang (dasar, menengah, dan tinggi) terjadi banyak fenomena yang layak dicatat
CALON PEMIMPINKU (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini ramai-ramainya memilih calon pemimpin. Di sepanjang jalan bertaburan billboard dan spanduk promosi calon-calon pemimpin. Dalam buku At-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, Al-Ghazali memberikan nasihat kepada para pemimpin dengan 10 pokok nasihat yang sangat indah. Nasihat pertama, pemimpin harus mengetahui kedudukan dan pentingnya kekuasaan Sesungguhnya kekuasaan adalah sebagian nikmat dari Allah. Siapa saja yang menjalankan kekuasaan dengan benar, maka ia akan memperoleh kebahagiaan yang tidak ada bandingannya, dan tidak ada kebahagiaan yang melebihi itu. Siapa yang lalai dan tidak menegakkan kekuasaan dengan benar, maka ia akan mendapat siksa karena kufur kepada Allah. ?Keadilan pemimpin satu hari lebih dicintai Allah daripada beribadah tujuh puluh tahun ? sabda Rasulullah. Kedua, senantiasa merindukan petuah para ulama dan gemar mendengarkan nasihat mereka. Hati-hati dengan ulama yang menyukai dunia. Mereka akan memperdayaimu, mencari kerelaanmu untuk mendapatkan apa-apa yang ada di tanganmu berupa hal-hal yang buruk dan haram agar mereka mendapatkan sesuatu dengan maker dan tipu daya. Orang yang berilmu adalah orang yang tidak menginginkan hartamu, dan orang yang senantiasa memberimu wejangan serta petuah. Umar bin Abdul Aziz berkata kepada Muhammad bin Ka?ab al-Qurzhi ?Terangkanlah kepadaku tentang keadilan?. Dia menjawab ?Setiap orang yang usianya lebih tua darimu, jadikanlah sebagai orang tua. Siapa saja yang usianya lebih muda darimu, jadikanlah sebagai anak. Siapa saja yang usianya sama , jadikanlah saudara. Hukumlah setiap orang yang berbuat kesalahan sesuai dengan kadar hukumnya. Satu cambukan kepada orang karena kebencianmu, akan mengantarkanmu ke dalam neraka.? Ketiga, janganlah merasa puas dengan keadaanmu yang tidak pernah melakukan kezaliman. Lebih dari itu, didiklah para pembantu, sahabat, pegawai dan para wakilmu. Janganlah engkau tinggal diam melihat kezaliman mereka, karena sesungguhnya engkau akan ditanya tentang perbuatan zalim mereka sebagaimana akan ditanya tentang perbuatan zalimmu. Umar bin Kaththab menulis surat kepada bawahannya, yaitu Abu Musa al-Asy?ary sebagai berikut : ?Sesungguhnya wakil yang paling berbahagia adalah wakil yang rakyatnya merasa bahagia Sesungguhnya wakil yang paling celaka adalah wakil yang rakyatnya dalam keadaan paling sengsara. Oleh karena itu, mudahkanlah karena sesungguhnya bawahanmu akan mengikuti perilakumu. Perumpamaanmu adalah seperti binatang melihat rumput hijau, kemudian memakannya dalam jumlah banyak hingga gemuk. Ternyata kegemukannya membawa kemalangan karena hal itu membuat dia disembelih dan dimakan manusia.? Keempat, kebanyakan wakil memiliki sifat sombong. Salah satu bentuk kesombongannya adalah bila marah, ia akan menjatuhkan hukuman. Kemarahan adalah perkara yang membinasakan akal, musuh dan penyakit akal. Kemarahan merupakan Seperempat Kebinasaan. Jika amarah mendominasimu, maka engkau harus condong kepada sifat pemaaf dan kembali kepada sifat mulia. Jika hal itu menjadi kebiasaanmu, maka engkau sudah meneladani para nabi dan para aulia. Jika engkau menjadikan kemarahan sebagai kebiasaan, maka engkau serupa dengan binatang buas.Dari Abu Darda? r.a. berkata ? Ya Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang akan memasukkan aku ke dalam surga. Rasulullah bersabda ?Jangan marah, kamu akan masuk surga.? Kelima, sesungguhnya pada setiap kejadian yang menimpa dirimu, engkau mesti membayangkan bahwa engkau adalah salah seorang rakyat, sementara selain dirimu adalah pemimpin. Dengan itu, apa yang tidak engkau ridha bagi dirimu sendiri, tidak pula akan diridhai oleh salah seorang rakyatmu. Jika engkau meridhai mereka dalam apa yang tidak engkau ridhai untuk dirimu sendiri, berarti engkau mengkhianati dan menipu bawahanmu. ?Siapa yang ingin selamat dari panas api neraka dan masuk surga, ketika datang kepadanya kematian-menemukan kesaksian dengan lisannya. Setiap yang dia tidak ridhai bagi dirinya sendiri, maka tidak seorangpun dari rakyatmu meridhainya.
MASALAH BATAS TOLERANSI KETIDAKLULUSAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.841 KB)

Abstract

Seorang siswa sekolah menengah umum pertama, SMP, baru-baru ini mengekspresikan rasa "kekagumannya" lewat media "Pikiran Pembaca" di harian ini.  Rasa "kekaguman" tersebut ditujukan pada sekolah-sekolah swasta pada umum nya yang berhasil menciptakan nilai raport semester VI (Q) yang serba hebat bagi para siswa-siswinya. Pada hal, menurutnya,  NEM siswa-siswi sekolah swasta ketika masuk umumnya rendah (KR: 19/5/89).       Untuk lebih konkritnya siswa SMP tersebut "mampu" menyajikan data nilai Q dari salah satu sekolah swasta yang ujiannya saja menggabung di sekolah lain.         Data yang dipresentasikan sbb: dari 25 siswa sekolah swasta yang ujiannya saja masih menggabung tersebut maka  tidak satu pun yang mendapat nilai Q kurang dari 8 (delapan), artinya seluruh siswa memperoleh nilai 8 ke atas.  Hebatnya lagi, nilai yang serba "aduhai" tersebut berlaku untuk enam bidang studi sekaligus.       Tetapi di bagian akhir tulisannya "penulis kecil" tersebut  memberi komentar terhadap siswa sekolah swasta (25 siswa ybs?) sbb:  "biasanya mereka memperoleh nilai Ebtanas murni yang tidak lebih baik dari NEM siswa sekolah yang digabungi,  bahkan waktu menentukan kelulusan, ada  di antara mereka yang terpaksa dinyatakan tidak lulus. Aneh memang, tapi nyata".

Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2010: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN KOMPAS 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue