cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
KELUARGA SEBAGAI PUSAT PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.013 KB)

Abstract

"........ alam keluarga itu adalah suatu tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan sosial juga;  sehingga boleh dikatakan bahwa keluarga itulah tempat pendidikan yang lebih sempurna sifat dan ujudnya daripada pusat lain-lainnya, untuk melangsungkan pendidikan ke arah kecerdasan,  budi-pekerti (pembentukan watak individuil), dan sebagai persediaan hidup kemasyarakatan".                                                 ( Ki Hadjar Dewantara, 1935 )       Ibarat suatu penyakit yang sulit disembuhkan  maka tawuran atau perkelahian pelajar akhir-akhir ini kambuh kembali. Dikota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Medan, dsb, tawuran pelajar telah menjadi konsumsi umum. Perilaku antisosial yang sudah menjadi semacam hobby di kalangan remaja tertentu ini bukan saja mengakibatkan fisik yang babak belur akan tetapi telah menelan korban; calon pemimpin bangsa di masa depan yang mati sia-sia.       Atas kejadian tersebut  dunia wajah pendidikan kita pun  menjadi tercoreng; pimpinan sekolah banyak dikritik dan guru banyak dicerca meskipun berbagai kasus tawuran pelajar tersebut seringkali tidak ada hubungannya langsung dengan sekolah dan guru.       Perilaku antisosial yang melibatkan para remaja sekolah  tersebut nampaknya telah diantisipasi oleh Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hadjar Dewantara.  Melalui teori "Tri Sentra Pendidikan" beliau me-nyatakan bahwa untuk mendidik kaum muda kita secara efektif perlu dikembangkan konsepsi "saling isi" di antara ketiga pusat pendidikan; yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat.  Bila ketiga pusat pendidikan ini dapat berjalan secara simultan dan "saling isi" maka keterdidikan kaum muda kita dapat ditingkatkan, dan berbagai perilaku antisosial di masyarakat akan dapat ditekan.
PERGESERAN SENTRA EKONOMI DAN ANTISIPASI SWASTANISASI PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN SURABAYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.323 KB)

Abstract

       Baru-baru ini bertempat di Kuala Lumpur, Malaysia telah diselenggarakan kongres ke-14 PAPE yang rangkaian acaranya dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan Malaysia, Sulaiman bin Haji Daud, serta ditutup oleh Menteri Kebudayaan, Kesenian dan Pelancongan Malaysia, Sabbaruddin Chik. PAPE adalah kependekan dari Pan Pacific Association of Private School Education merupakan organisasi yang  menghimpun potensi pendidikan swasta negara-negara di pinggiran Laut Pasifik; yaitu Jepang, Republik Korea, Taiwan, Hongkong, Thailand, Malaysia, Indonesia, Australia, New Zealand, Canada, dan sebagainya.          Dua masalah besar yang dibahas dalam kongres ter-sebut adalah masalah-masalah yang bersifat internal dan masalah-masalah eksternal. Masalah internal lebih merupakan konsolidasi bagi organisasi pendidikan tersebut di atas; sedangkan masalah eksternal menyangkut alternatif antisipatif terhadap kemungkinan terjadinya pergeseran sentra ekonomi dari Atlantik ke Pasifik pada awal abad ke-20 mendatang. Seperti diketahui akhir-akhir ini banyak teknokrat, ekonom dan praktisi ekonomi yang memprediksi terjadinya pergeseran sentra ekonomi dari Atlantik ke Pasifik pada tahun 2010-an yang akan datang.          Satu hal yang menarik mengenai konsolidasi dalam tubuh PAPE  adalah adanya usulan dari salah satu anggota agar supaya PAPE segera "go-international"; dalam artian lebih mengiprahkan organisasi ini dalam skala internasio nal dan menjadikannya sebagai organisasi pendidikan yang bisa diikuti oleh negara-negara mana saja tidak terbatas pada negara-negara di kawasan Pasifik.
AKREDITASI DAN BONAFIDITAS PTS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.871 KB)

Abstract

       Hari-hari setelah testing masuk ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) selesai dilaksanakan, maka untuk tahun ini menggunakan pola Sipenmaru, biasanya pembicaraan orang/masyarakat mulai beralih pada PTS, Perguruan Tinggi Swasta.        Motivasi pembicaraannya cukup jelas, demi kelangsungan studi putera-puterinya ke perguruan tinggi --sementara daya tampung PTN semakin terbatas-- maka anggota masyarakat yang berkepentingan dalam hal ini semakin merasa harus mengadakan relasi langsung dengan PTS.  Di lain pihak beberapa PTS makin banyak yang mengetengahkan kebonafiditasannya diatas eksistensi yang kian kokoh.       Kalau saja kita suka berbicara dengan jujur, saat ini kualitas beberapa PTS sudah sangat menonjol bila dibandingkan dengan kualitas PTN tertentu (untuk tidak mengatakan: jauh lebih baik).  Sangat sayang, dan harus diakui pula, bahwa kualitas PTS masih sangat heterogen. Penonjolan kualitas sebuah PTS selalu saja diimbangi oleh degradasi mutu PTS yang lain.       Untuk mengetahui kualitas atau bonafiditas PTS biasanya pembicaraan masyarakat lalu mengarah pada 'status akreditasi', dan tidak sedikit yang memiliki anggapan bahwa status akreditasi adalah satu-satunya tolok ukur.
TIGA RATUS TINGKAT DI SURGA Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam buku Creating Your Own Destiny, Patrick Snow bercerita tetang seorang Indian tua bersama cucunya.   Seorang India tua tersebut memberikan pelajaran hidup kepada cucunya. ?Sebuah pertarungan terus berkecamuk dalam diriku. Pertarungan sengit antara dua ekor serigala? kata Indian tua kepada cucunya. ?Yang satu jahat, dia adalah kemarahan, iri hati, kesedihan, kesombongan, keserakahan, kebohongan, rendah diri, kebanggaan semu, rasa bersalah, tinggi hati dan egoisme. Yang kedua baik, dia adalah kegembiraan, kedamaian, cinta, harapan, rendah hati, ketenangan, keramahan, kedermawanan, empati, kebaikan, kebenaran, memahami perasaan dan iman. Pertarungan serupa berlangsung dalam dirimu, cucuku, juga di dalam diri semua orang? kata India tua. Si cucu berpikir sejenak, lalu bertanya kepada kakeknya ?Kek, serigala mana  yang menang ??. Indian tua itupun menjawab ?Yang kamu beri makan?. Apakah kita memberi makan serigala yang jahat ?. Saya yakin kita akan memberi makan serigala yang baik. Dengan memberi makan serigala yang baik, kita akan dapat menghadapi berbagai persoalan kehidupan, termasuk persoalan bisnis maupun persoalan bencana yang baru berlalu. Memang benar memberi makan serigala yang jahat lebih mudah daripada memberi makan serigala yang baik. Nafsu jahat berupa kemarahan, iri hati, kesedihan, kesombongan, keserakahan, kebohongan, rendah diri, kebanggaan semu, tinggi hati, egoisme dan menyalahkan orang lain merupakan makanan empuk serigala jahat. Ketika kita tertimpa kegagalan, kesulitan ataupun musibah, seperti saat-saat ini kadangkala kita lebih menyukai makanan serigala jahat. Memang musibah gempa saat ini yang kita rasakan sangatlah berat, tetapi jika mampu untuk memakan makanan tersebut maka makanan tersebut merupakan makanan terbaik yang sangat dicintai oleh Allah. Makanan tersebut adalah sabar.  Sebagian besar sabar adalah keharusan menahan diri dari hawa nafsu yang jahat dan terlepas dari pengaruhnya. Dengan sabar memaksa Anda berpikir dan bertindak lebih cerdas. Sabar adalah makanan pahit yang tidak mudah untuk dimakan. Seperti halnya menuntuk ilmu perlu untuk belajar memakan sabar. Mulai dari menahan marah dengan sungguh-sungguh dan pada akhirnya akan menjadi kebiasaan untuk dapat menahan marah. Jika menahan marah sudah menjadi kebiasaan, maka tidak akan pernah lagi kemarahan itu berkobar dan juga apabila terlanjur marah, maka untuk memadamkan marah tersebut tidak terlalu sulit. Seseorang yang mampu makan makanan seperti ini dikatakan mempunyai tabiat sabar, yang akan menjadi pemenang di dunia maupun di akhirat. Dalam kitab Mukasyafatul Qulub, Al-Ghazali menuliskan bahwa ?Barang siapa yang bersabar untuk taat kepada Allah, maka Allah akan memberinya tiga ratus tingkat di surga kelak di hari kiamat. Setiap tingkat seluas jarak di antara langit dan bumi. Barang siapa yang bersabar dalam menghindari larangan-larangan Allah, maka Allah memberinya enam ratus tingkat di surga kelak di hari kiamat. Setiap tingkat seluas jarak antara langit ketujuh dan bumi ketujuh. Dan barang siapa bersabar menghadapi musibab, Allah akan memberinya tujuh ratus tingkat di surga. Setiap tingkat seluas jarak antara Arasy dan bumi?.
SERIBU NADA SEJUTA RASA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (113.253 KB)

Abstract

       Beberapa PTS (Perguruan Tinggi Swasta) yang berdomisili serta beraktivitas di Yogyakarta baru-baru ini telah menerima bantuan dari pemerintah yang hampir seluruhnya berupa bantuan fisik, dari yang bernilai 1 juta rupiah sampai dengan bantuan gedung yang bernilai hampir 75 juta rupiah.         Dalam kasus bantuan tersebut di atas tentu bukan dalam hal besar nilai rupiahnya saja yang harus kita perhatikan, lebih daripada itu yang tidak kalah pentingnya lagi ialah 'besarnya perhatian pemerintah' terhadap Perguruan Tinggi Swasta kita pada umumnya. Dengan demikian adanya semacam slogan bahwa PTS adalah merupakan pasangan PTN dalam memajukan bangsa dan negara akan terealisasi semakin mantab lagi.      Tetapi di balik itu semua ternyata ada satu hal yang amat menarik  dari apa yang telah dikemukakan oleh Dirgutiswa (Direktur Perguruan Tinggi Swasta), Prof. Ir. Soekisno Hadikoemoro, di dalam acara penyerahan bantuan tersebut di kantor Kopertis Wilayah V baru-baru ini.  Beliau mengemukakan bahwa dalam kondisi seperti yang ada saat ini adalah sangat berat untuk melahirkan mahasiswa-mahasiswa dari universitas swasta yang bermutu.       Lebih lanjut kemudian Pak Kisno menunjuk  bahwa jumlah dosen tetap pada PTS serta motivasi mahasiswa untuk memasuki PTS yang dipandang kurang kuat merupakan bagian dari penyebabnya. Hal ini memang menarik untuk kita simak bersama sebab sampai sekarang ini memang masih banyak dari masyarakat kita yang suka 'gebyah uyah' (menggeneralisasi) bahwa mutu mahasiswa PTS tentu dan pasti lebih rendah dibanding mahasiswa PTN, dan berita ini tentu bisa membuat tersenyum di kulum.
LAKSANA SURGA BAGIKU Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

   Dalam bukunya, SQ: Spiritual Intelegence-The Ultimate Intelegence, Danah Zohar dan Ian Marshall menceritakan tentang seorang pengusaha Amerika dan nelayan Meksiko. Pengusaha Amerika itu memuji si nelayan dan bertanya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menangkapnya. Nelayan Meksiko itu menjawab, ?Hanya sebentar?.  Pengusaha Amerikaitu bertanya lagi ?Mengapa Anda tidak tinggal di laut lebih lama agar mendapat ikan lebih banyak??. ?Ikan ini sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya ? jawab si nelayan. ?Tetapi, apa yang Anda lakukan dengan waktu selebihnya?? tanya pengusaha Amerika. Nelayan Meksiko itu menjawab ?Saya tidur larut, memancing sebentar, bermain dengan anak-anak saya, tidur dengan istaya, berjalan-jalan ke desa setiap malam untuk menyesap anggur dan bermain gitar bersama kawan-kawan saya. Saya mempunyai kehidupan yang lengkap dan dan sibuk Senior?. Pengusaha Amerika itu mencemooh, ?Saya seorang MBA lulusan Harvard dan dapat menolong Anda. Anda mestinya menggunakan waktu lebih banyak untuk menangkap ikan. Dengan keuntungan dari situ, Anda dapat membeli perahu yang lebih besar. Dari hasil perahu yang lebih besar Anda dapat membeli beberapa perahu lagi. Pada akhirnya, Anda akan memiliki armada perahu nelayan.  Bukannya menjual tangkapan kepada tengkulak, Anda dapat menjual langsung pada pabrik pengolah ikan, dan akhirnya, Anda bisa membuka usaha pengalengan sendiri. Anda akan mengontrol produk, pemrosesan, dan distribusi. Nantinya, Anda harus meninggalkan desa pantai yang kecil ini dan pindah ke Kota Meksiko, lalu ke Los Angeles, dan akhirnya, ke New York, dan Anda akan menjalankan perusahaan sendiri yang semakin berkembang.? Kemudian nelaya Meksiko itu bertanya ?Tetapi Senior, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk ini??. Pengusaha Amerika itu menjawab ?Lima belas sampai dua puluh lima tahun?. ?Kemudian setelah itu apa, Senior?? tanya si nelayan. Pengusaha Amerika itu tertawa dan berkata bahwa itulah bagian yang paling baik. ?Jika waktunya sudah tepat, Anda akan mensual saham perusahaan lepada masyarakat dan menjadi sangat kaya. Anda akan menghasilkan uang berjuta-juta.? ?Berjuta ?juta Senior. Lalu untuk apa??. Pengusaha Amerika itu berkata ?Lalu, Anda akan pensiun. Pindah ke kota pantai kecil supaya Anda bisa tidur larut, memancing sedikit, bermain dengan anak-anak, menikmati tidur siang bersama istri, berjalan-jalan ke desa di malam hari dan menyesap anggur serta bermain gitar bersama kawan-kawan.? Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, pegusaha Amerika dalam cerita tersebut bodoh secara spiritual, sedangkan nelayan Meksiko itu cerdas secara spiritual. Si nelayan memiliki pemahaman yang cerdas mengenai tujuan hidupnya sendiri yang dianggapnya penting, motivasinya sendiri yang paling dalam. Dia menjalani gaya hidup yang dapat memenuhi kebutuhan dirinya sendiri maupun keluarganya, dia meluangkan waktu untuk hal-hal yang berarti baginya, dia merasa damai, dia terpusat. Sebaliknya pengusaha Amerika itu, anak dari kebudayaan yang bodoh secara spiritual, ambisius, dia harus mencapai sesuatu demi pencapaian itu sendiri, bersentuhan dengan kehidupan yang memberi motivasi yang mendalam, dia telah menyerap cita-cita yang tak bermakna, hanya cita-cita itu dia pelajari di Harvard. Nabi Muhammad SAW peminpin yang cerdas secara spiritual, membagi waktunya menjadi tiga bagian. Sepertiga untuk Tuhannya, sepertiga untuk masyarakat dan sepertiga untuk keluarganya. Dalam rumah tangganya Nabi bersabda ?Rumahku laksana surga bagiku?.
EVALUASI EBTANAS SMU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.538 KB)

Abstract

       Dengan tanpa ada maksud  mengabaikan pelaksanaan Ebtanas  di sekolah-sekolah yang lain, yang dalam hal ini ialah di SD, SLTP, dan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) maka mencermati dan mengevaluasi pelaksanaan Ebtanas pada Sekolah Menengah Umum (SMU) secara lebih seksama memang sangat penting dilakukan. Pelaksanaan Ebtanas SMU yang baru saja selesai dilaksanakan tanggal 6 s/d 9 Mei 1996 yang lalu memiliki nilai yang strategis berkaitan dengan kualitas pendidikan di perguruan tinggi.       Berdasar Peraturan Pemerintah  No.29/1990  tentang  Pendidikan Menengah maka lulusan sekolah menengah umum, yang dalam hal ini SMU, memang lebih disiapkan untuk melanjutkan studinya ke pergu-ruan tinggi;  berbeda dengan lulusan SMK yang lebih disiapkan terjun langsung ke dunia kerja.  Secara empirik lebih dari 85% mahasiswa perguruan tinggi,  baik perguruan tinggi negeri yang diselenggarakan pemerintah maupun perguruan tinggi swasta yang diselenggarakan masyarakat, ternyata berasal dari SMU.       Dari ilustrasi tersebut di atas nampak jelas terdapatnya hubungan kausal-asimetris (asymmetrycal relationship) antara Ebtanas SMU dengan kualitas pendidikan tinggi.  Adapun penjelasannya ialah tinggi rendahnya pencapaian prestasi Ebtanas siswa yang dimanifestasikan dalam pencapaian Nilai Ebtanas Murni (NEM) akan sangat menentukan tinggi rendahnya  kualitas kandidat mahasiswa perguruan tinggi. Sudah barang tentu kualitas mahasiswa perguruan tinggi kita akan  sangat sulit untuk dioptimalisasi apabila kualitas kandidatnya sangat rendah (underqualified).       Pelaksanaan Ebtanas SMU  semakin perlu kita cermati  sekaligus kita evaluasi mengingat secara empirik dari tahun ke tahun senantiasa muncul banyak keluhan (complain) siswa SMU itu sendiri di dalam menjalani Ebtanasnya.
DISIPLIN ANGGARAN PENDIDIKAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1997: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.088 KB)

Abstract

       Seperti kita ketahui anggaran sektor pendidikan  dalam formulasi RAPBN 1997/1998 mengalami kenaikan dibandingkan dengan APBN 1996/1997 yang sedang berjalan sekarang ini;  yaitu dari 3,97 trilyun rupiah naik menjadi 4,67 trilyun rupiah.  Sebagaimana biasanya maka anggaran sektor pendidikan ini harus didistribusi ke berbagai subsektor sekaligus; yaitu subsektor pendidikan umum, subsektor pendidikan luar sekolah dan kedinasan, subsektor kebudayaan nasional dan keper-cayaan terhadap Tuhan YME, serta subsektor pemuda dan olah raga.       Dari subsektor-subsektor pendidikan  tersebut di atas  selanjutnya  masih harus didistribusi lagi ke berbagai alokasi; misalnya anggaran untuk subsektor pendidikan umum masih harus didistribusi ke alokasi pendidikan dasar, alokasi pendidikan menengah, dan alokasi pendidik-an tinggi.        Yang cukup menarik kita cermati dalam  pengalokasian anggaran subsektor pendidikan umum tahun ini adalah pada alokasi pendidikan dasar (dikdas) dan alokasi pendidikan tinggi (dikti).  Anggaran dikdas yang biasanya memang relatif tinggi jumlahnya tahun ini tetap tinggi dan mengalami kenaikan.  Tahun ini anggaran dikdas konon mencapai satu trilyun rupiah lebih setelah tahun ini mencapai 903,8 milyar rupi-ah. Anggaran ini terdiri dari dua sumber, yaitu anggaran rupiah murni dari RAPBN 1997/1998 sebesar 854,4 milyar rupiah dan bantuan luar negeri lebih dari 200 milyar rupiah.       Anggaran dikti juga tidak kalah menariknya; meskipun jumlahnya tak lebih besar dari anggaran dikdas akan tetapi kenaikannya ternyata sangat significance, yaitu dari 603,3 milyar rupiah di tahun anggaran 1996/1997 menjadi 774,8 milyar rupiah untuk tahun anggaran 1997/ 1998 ini. Nilai kenaikan anggaran dikti ini di samping tinggi seperti anggaran dikdas juga tetap 'sangat berarti' bagi pembangunan pendidikan tinggi itu sendiri.
KONTRIBUSI RADIO DALAM DUNIA PENDIDIKAN KITA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.713 KB)

Abstract

Usaha pentrapan aspek-aspek inovasi ini bukan hanya sekedar merupakan konsekuensi logis dari pada pendidikan yang berorientasikan pada kemajuan jaman, tetapi juga karena approach tradisional dan konvensional tak mungkin lagi dapat menanggulangi masalah yang bertambah lama bertambah rumit. Salah satu diantara aspek-aspek inovasi itu ialah penggunaan siaran (broadcasting) dalam pendidikan. Telah lama diidentifikasikan bahwa broadcasting mempunyai potensi yang hebat jika penggunaannya dapat teratur dan terarah.                                    (Menteri P dan K: 2 Jan 1972)       Lima puluh empat hari setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, tepatnya pada tanggal 11 September 1945 negara kita menancapkan tonggak baru dalam dunia pertelekomunikasian dengan dibukanya siaran radio secara resmi. Untuk bisa memanifestasikan cita-cita ini tentu saja segala usaha dan perintisannya telah dilakukan jauh hari sebelumnya.        Tugas utama yang diemban oleh Radio Republik Indonesia (RRI) waktu itu adalah menyampaikan informasi dan 'suntikan psikhologis' kepada masyarakat untuk mempertebal rasa nasionalisme dan perjuangan bangsa, karena sekalipun kemerdekaan sudah diproklamirkan tetapi perjuangan fisik masih sangat diperlukan.  Siaran RRI waktu itu sangat potensial untuk mempertebal dan menggairahkan semangat perjuangan bangsa kita.       Seiring dengan perkembangan jaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi komunikasi yang sangat pesat, maka bidang keradioanpun mengalami kemajuan yang pesat pula.
MAHALNYA RASA AMAN BAGI GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.4 KB)

Abstract

       Pengakuan Panglima Kodam IX Udayana  mengenai masih sering terjadinya,  sampai sekarang ini,  intimidasi bagi para guru dan dokter yang bertugas di Propinsi Timor Timur (Timtim) barangkali sedikit mengejutkan masyarakat Indonesia pada umumnya; baik masyarakat kebanyakan maupun masyarakat berpendidikan termasuk para dokter itu sendiri.  Namun pengakuan seperti itu kiranya sama sekali bukan  barang baru bagi kalangan guru,  khususnya para guru yang bertugas di daerah "rawan" termasuk Timtim.       Seperti kita ketahui baru-baru ini  Panglima Kodam IX Udayana, Adam Damiri, menyatakan dan mengakui bahwa memang sampai saat ini masih sering berlangsung intimidasi terhadap para guru dan dokter yang bertugas di Timtim meskipun hal itu tidak terjadi pada seluruh dokter dan guru.  Dalam realitasnya,  menurut Pak Adam lebih lanjut, Propinsi termuda Indonesia tersebut masih sangat memerlukan jasa dan pengabdian para guru dan dokter untuk membantu meringankan penderitaan masyarakat.       Pengakuan Pak Adam tersebut  menyusul tercetusnya  pernyataan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB-IDI) yang akan segera menarik para dokter yang sedang bertugas di Timtim bila aparat keamanan tidak mampu memberikan perlindungan keamanan secara lebih memadai.  Ketua Umum PB-IDI terpaksa mengeluarkan "ancaman" menyusul terjadinya kasus penganiayaan,  jadi tak sekedar intimidasi,  terhadap dua orang dokter yang sedang menjalankan tugas di RSUD Dili, Timtim.       Memang,  setelah pemerintah  membuka kemungkinan terjadinya pemisahan Timtim dari kedaulatan RI konon banyak anggota masyara-kat prointegrasi mengalami ancaman dan intimidasi.  Bagi masyarakat luar Timtim yang bertugas di Dili dan wilayah lainnya konon ancaman dan intimidasi tersebut sudah sampai pada tindak kekerasan.

Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN KOMPAS 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue