cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 1,592 Documents
BISNIS DENGAN HATI NURANI (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Untuk mendapat keuntungan berlipat banyak dilakukan dengan mengotak-atik pendapatan dan biaya.  Karena rumus keuntungan adalah pendapatan dikurangi biaya. Langkah pertama yang dilakukan dengan menggenjot pendapatan dengan melakukan pemasaran yang agresif. Pendapatan merupakan perkalian antara harga dengan volume penjualan. Bermacam-macam strategi pemasaran digunakan untuk meningkatkan volume penjualan, mulai dari strategi kepemimpinan biaya secara menyeluruh sampai strategi diferensiasi. Tidak cukup dengan itu ditambah lagi strategi fokus, baik fokus kepemimpinan biaya secara menyeluruh maupun fokus diferensiasi.   Strategi kepemimpinan biaya secara menyeluruh  menonjolkan keunggulan harga dibandingkan pesaing dan   strategi diferensiasi menonjolkan keunggulan produk, personal, pelayanan, saluran dan citra dibandingkan pesaing. Sedangkan untuk mengurangi biaya dengan melakukan efisiensi habis-habisan di segala lini. Bahkan kadangkala lini pada pengembangan sumberdaya manusia, seperti fasilitas pendidikan, pelatihan, tunjangan kesehatan dan sebagaya dipangkas habis. Tetapi justru pemangkasan pada biaya pengembangan sumberdaya manusia yang malah menjatuhkan perusahan itu, karena berpengaruh pada pendapatan perusahaan secara keseluruhan. Hal ini disebabkan jatuhnya semangat bisnis para karyawan. Ada cara lain untuk meningkatkan keuntungan yang berlipat seperti yang dilakukan Ali bin Abi Thalib. “Wahai wanita, apakah kamu mempunyai sesuatu yang bisa dimakan suamimu?” tanya Ali kepada istrinya Fátimah. “Demi Allah aku tidak mempunyai sesuatu sedikitpun, Namur ini ada uang 6 dirham dari hasil upahku memintal bulu. Uang tersebut akan aku belikan makanan untuk Hasan dan Husain” jawab Fatimah. ”Wahai wanita yang mulia, berikan uang 6 dirham itu kepadaku” kata Ali. Fátima lalu memberikan uang 6 dirham itu kepada Ali bin Abi Thalib. Sesudah uang diterima, Ali ke luar rumah dengan maksud membeli makanan untuk kedua  putranya. Tiba-tiba di tengah jalan ia bertemu seorang yang berkata “Siapa yang mau meminjami Allah, Dzat Yang Menguasai dan pasti Dia akan menepati Janji-Nya”. Akhirnya Ali mendekati orang tersebut dengan menyerahkan uang 6 dirham yang dibawanya dari rumah yang sedianya dibelikan makan untuk anaknya. Setelah uang diberikan Ali langsung pulang. Ketika Fátima mengetahui kepulangan suaminya ke rumah tanpa membawa makanan apa-apa, ia terus menangis. Melihat istrinya menangis, Ali langsung bertanya “Wahai wanita mulia, apa yang menyebabkan engkau menangis?”. “Wahai putra paman Rasulullah, aku melihat engkau pulang dengan tanpa membawa makanan sedikitpun” jawab Fátimah. “Wahai wanita mulia, aku telah menghutangkan uang 6 dirham tadi kepada Allah” kata Ali. “Kalau itu yang engkau lakukan aku setuju” kata Fatimah.
PROFIL PENDUDUK LANJUT USIA DI INDONESIA Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.254 KB)

Abstract

       Jumlah  penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia dari  waktu ke waktu meningkat dengan pesat seiring meningkatnya kondisi kesejah-teraan masyarakat. Jumlah lansia di Indonesia meningkat dua kali lipat dibanding dengan kenaikan seluruh penduduk. Pernyataan ini dikemu-kakan oleh Kepala Kanwil Departemen Sosial Provinsi Jawa Barat, Djaemi Sulaeman, dalam seminar "Peningkatan Peran Keluarga Lansia" di Bandung baru-baru ini (Pikiran Rakyat, 5/2/1996).      Sesuai dengan proyeksi PBB/ESCAP, maka jumlah penduduk lan-sia yang berusia 60 tahun ke atas diperkirakan naik dari 9,4 juta jiwa menjadi 16,2 juta jiwa (72 persen) untuk periode tahun 1985 s/d 2000.  Dalam periode yang sama jumlah penduduk Indonesia hanya mening-kat dari 164,6 juta jiwa menjadi 216 juta jiwa (32 persen).  Dari data eksakt ini terlukiskan bahwa peningkatan jumlah lansia memang lebih tajam dibanding dengan peningkatan jumlah penduduk;  bahkan angka peningkatannya ternyata lebih dari dua kali lipat.       Lebih lanjut dikemukakan oleh Pak Djaemi bahwa  dalam rangka menjamin kesejahteraan lansia lahir dan batin maka mereka itu perlu ditangani faktor ketenagakerjaan formal dan informalnya sedini mung-kin, khususnya bagi lansia potensial.  Seperti halnya dengan penduduk usia muda dan dewasa para lansia pun membutuhkan pekerjaan dan penghasilan yang layak tanpa menghambat upaya perluasan kesempat-an kerja bagi kelompok usia yang lebih muda.       Pernyataan  tersebut  kiranya  memang banyak benarnya.  Bahwa para lansia kita perlu pekerjaan dan penghasilan yang layak, utamanya lansia yang potensial, kiranya memang benar juga.  Hanya saja, salah satu problematika yang dihadapi pemerintah dalam usaha menangani para lansia ini ialah terdapatnya hambatan data;  sampai saat ini masih  sulit mendata berapa besar lansia potensial dan lansia nonpotensial.
MENGGAGAS "AKSI KOLEKTIF" MASYARAKAT Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.281 KB)

Abstract

       Ekspose yang baru saja dilakukan  Komisi Nasional (Komnas) Pendidikan di Jakarta,  tepatnya pada 15 November 2001 baru-baru ini, menyajikan sejumlah rekomendasi yang ditujukan kepada para pengambil keputusan,  baik pemerintah pusat,  pemerintah daerah, maupun masyarakat luas. Salah satu rekomendasi yang cukup mena-rik adalah perlu dilakukannya aksi kolektif (collective action) dari masyarakat untuk peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.          Di dalam rekomendasinya mengenai desentralisasi pendidikan, Komnas Pendidikan menyatakan perlu dilakukan aksi kolektif untuk meningkatkan peran masyarakat  dalam penyelenggaraan pendidikan sekaligus  untuk merealisasi  prinsip-prinsip demokrasi pendidikan. Aksi kolektif ini dapat diwujudkan  antara lain  dalam pembentukan dewan pendidikan pada tingkat daerah,  komite di tingkat sekolah, permintaan pertanggungjawaban  kepada para pengelola pendidikan serta kegiatan-kegiatan lain  yang secara konkrit berorientasi pada peningkatan mutu dan pemerataan pendidikan.          Rekomendasi tersebut di atas  didasarkan kepada kesimpulan Komnas Pendidikan  yang menyatakan  bahwa peran dan kepedulian masyarakat di dalam penyelenggaraan pendidikan nasional umumnya masih rendah dan belum terkoordinasi.          Dari hasil pengamatan Komnas Pendidikan  dapat dinyatakan bahwa hampir di seluruh daerah ternyata peran dan kepedulian ma-syarakat dalam penyelenggaraan pendidikan umumnya rendah, pada hal masyarakat merupakan potensi tersendiri apabila bisa dimotivasi dan dikoordinasi  dalam penyelenggaraan pendidikan.  Motivasi dan koordinasi inilah yang belum dapat direalisasi secara maksimal.
LATAR BELAKANG KONSEP LPTK Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN YOGYA POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.821 KB)

Abstract

       Salah satu hasil terpenting dari Rapat Koordinasi Persiapan Penyelenggaraan Pendidikan Prajabatan dan Penyetaraan Guru SD baru-baru ini, di Jakarta, ialah makin "dekat"-nya rencana pemerintah untuk membuka program D2 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk meningkatkan keterampilan profesional para lulusan SPG/SGO yang sampai saat ini masih menganggur.       Niatan  pemerintah kita untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar yang dimulai dari peningkatan mutu para gurunya segera akan direalisasikan;  salah satu caranya adalah dengan menaikkan kriteria pendidikan formal para calon guru-guru baru, dari jenjang SMTA sampai pada jenjang Diploma Dua Tahun (D2).       Berkaitan dengan upaya tersebut maka para lulusan SPG/SGO, yang notabene dipersiapkan akan menjadi guru SD nantinya,  diharapkan dapat memanfaatkan program peningkatan kemampuan profesional melalui LPTK;  meskipun LPTK sendiri nampaknya belum menjanjikan masa depan bagi para lulusannya kelak.
BELAJAR DARI TUKANG BECAK (1) Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Dalam seminar yang diadakan Beritanet.com dalam rangka hari jadi satu tahun, berita online tersebut, diawali dengan rangkaian pidato sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh General Manager PT.Telkom Kandatel Yogyakarta, Ir.Nyoto Priyono,MM. dan Depkominfo, Dr. Ir. Ari Santoso,DEA. Sambutan yang paling menarik menurut saya adalah sambutan berikutnya yang disampaikan oleh Pak Gondowijoyo, pemilik Penerbit Andi dan sekaligus Pimpinan BeritaNET.com. Sambutan Pak Gondo menegaskan pentingnya membangun harkat hidup dan martabat bangsa Indonesia melalui bidang pendidikan. Hidup harus mempunyai nilai bagi masyarakat, kemudian Pak Gondo menceritakan  tentang seorang Ibu yang berasal dari Malang. Ibu tersebut selalu setia pergi ke kantor mengendarai becak, meskipun Ibu tersebut mempunyai mobil. Para tukang becak kenal dengan Ibu tersebut. Tukang becak dekat dengan Sang Ibu tersebut. Hari itu terasa sepi, biasanya Ibu tersebut pagi dengan tukang becak dan sore pulang dari kantor juga dengan tukang becak, tetapi Ibu tersebut tidak kelihatan. Tukang becak menunggu-nunggu, tetapi tidak muncul juga. Tukang becak rindu dengan Ibu tersebut untuk selalu ingin bersamanya, mengobrol mulai dari keluarga sampai pekerjaan. Para tukang becak merasakan dihargai, dimanusiakan, karena biasanya para tukang becak itu merasa dikesampingkan oleh pemerintah atau oleh sebagian kita. Kadangkala digusur, tidak boleh mengendarai becak di jalan tertentu, dilarang keras. Seminggu sudah kerinduan yang dinantikan para tukang becak belum terobati, karena Ibu yang ditunggu-tunggu tersebut belum muncul juga. Para tukang becak memperoleh kabar, ternyata Ibu tersebut menderita sakit. Tidak begitul lama Sang Ibu yang dijadikan tempat berkeluh kesah dan tempat mengoblol tersebut telah dipanggil Pemiliknya, Tuhan Yang Maha Esa. Para tukang becak tersebut merasa kehilangan orang yang selama ini menghargainya. Pada saat pemberangkat menuju pemakaman  terasa sepi, tidak seperti pemekaman orang terkenal yang dihadiri tamu yang bermobil berderet-deret, kadangkala tidak berdoa, tetapi mengobrol kesana kemari, kadang kala mengobrol masalah institusinya, masalah bisnisnya, kadangkala disitulah mereka dapat bertemu kawan selevelnya. Tidak kelihatan para tukang becak, barangkali para tukang becak itu baru mencari rezki untuk dapat menghidupi keluarganya, tetapi saat jenazah diberangkatkan tiba-tiba berdatangan bukan hanya satu tukang becak, tetapi puluhan tukang becak dengan becaknya menghantarkan pemakaman Ibu tersebut. Para tukang becak itu tidak saling mengobrol, tetapi saling menangis, mengenang jasa Ibu tersebut. Meskipun kecil, tetapi sangat membekas di hati para tukang becak. “Ibu memilih naik becak daripada naik mobilny”kata salah seorang tukang becak dengan mata yang berkaca-kaca. “Ibu itu orangnya dermawan “ kata kawannya sambil mengeluarkan airmatanya. “Ibu itu nguwongne tukang becak” kata tukang becak yang lain sambil mengusap air matanya. Selamat jalan “Ibu Tukang Becak” menemui Sang Penciptamu, semoga jasamu tak terlupakan. Kami selalu merindukan lahir Ibu-ibu Tuka Becak sesudahmu. Doa yang sederhana dari para tukang becak. Saya yakin doa itu adalah doa yang dapat menembus langit dan sangat di dengarkan oleh Tuhan Sang Maha Pendengar.
PENDIDIKAN INDONESIA DI MASA KRISIS Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.353 KB)

Abstract

Melihat titel laporan preliminari Bank Dunia tentang pelaksanaan pendidikan di Indonesia yang baru saja dipublikasikan,  Education in Indonesia : From Crisis to Recovery (1998),  banyak orang yang tertegun dan ingin membacanya.  Dengan melihat judulnya saja,  yang mengandung kata-kata krisis,  orang sudah penasaran ingin membaca sesungguhnya apa yang terjadi dalam pendidikan di Indonesia ketika masyarakatnya harus berjuang hidup di tengah-tengah masa krisis.      Nampaknya Bank Dunia memang pandai memilih judul; kata-kata "crisis" (krisis) di dalam judul itu memang sedikit bombastis. Tetapi justru kebombastisan itulah yang membuat penasaran (calon) pembacanya. Di dalam soal ini Bank Dunia memang jago.  Enam tahun lalu lembaga internasional ini mempublikasikan laporan yang bertitel The East Asian Miracle: Economic Growth and Public Policy (1993). Kata-kata "miracle" (ajaib) yang sedikit bombastis di dalam judul itu juga berhasil menarik minat banyak orang untuk membacanya.       Ternyata kemenarikan laporan Bank Dunia itu tidak sebatas pada judul.  Banyak bagian dari isi laporan itu yang menarik untuk disimak dan dicermati lebih lanjut.  Bagaimana Bank Dunia menilai mutu atau kualitas pendidikan di Indonesia cukup menarik disimak; belum lagi dengan komentar dan rekomendasi yang diajukan.  Lebih lanjut diurai pula dampak krisis nasional, khususnya krisis ekonomi, terhadap upa-ya-upaya untuk meningkatkan kualitas.  Sistem komparasi antarnegara yang dikembangkan, misalnya membandingkan durasi belajar siswa SD di Indonesia dengan siswa setingkat di negara-negara maju, cukup menarik untuk diikuti lebih lanjut.       Khususnya menyangkut dampak krisis ekonomi terhadap pelaksa-naan pendidikan di Indonesia, Bank Dunia memberikan penilaian yang tersendiri yang kiranya amat bermanfaat (usefull) dijadikan referensi dalam pembangunan pendidikan nasional di masa-masa mendatang.
SISTEM ANGKA KREDIT DAN KEMAMPUAN PROFESIONAL GURU Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.152 KB)

Abstract

       Kurang lebih satu setengah tahun yang lalu, atau tepatnya tanggal 2 Mei 1989 bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), maka Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara mengeluarkan Surat Keputusannya dengan No: 26/Menpan/1989 tentang angka kredit bagi jabatan guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Dalam dunia "per-SK-an" maka usia satu setengah tahun tergolong sudah cukup berumur.       Dikeluarkannya SK Menpan tersebut di atas  berte-patan dengan "moment" nasional  tentu bukan tanpa maksud sama sekali; adapun maksudnya adalah peringatan hari pen didikan nasional yang penuh memorial tersebut diharapkan menjadi babak baru bagi sistem pendidikan nasional  yang ditandai dengan meningkatnya mutu pendidikan melalui ja-lur peningkatan kemampuan profesional dan prestasi guru.       Benarkah sistem angka kredit tersebut mampu mem-perbaiki nasib para guru?  Jawabnya terdapat dalam Surat Edaran bersama antara Mendikbud dan Kepala BAKN No:57686/MPK/1989 dan No: 38/SE/1989 yang secara eksplisit mene-rangkan bahwa penetapan angka kredit bagi jabatan guru adalah dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu dan prestasi guru.
KRITIK KURIKULUM IKIP Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1992: HARIAN BALI POS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.297 KB)

Abstract

       Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) kini meningkat popularitasnya; hal ini berkaitan dengan adanya rancangan dan realisasi penyempurnaan kurikulumnya. Sebagaimana telah diberitakan pada berbagai media massa maka kurikulum IKIP akan dan sedang mengalami penyempurnaan. "Akan" karena belum semua IKIP di Indonesia telah mengaplikasikan kurikulum baru yang telah disempurnakan, sementara itu konotasi "sedang" karena adanya beberapa fakultas di IKIP yang tahun ini sudah mulai melaksanakan kurikulum baru yang disempurnakan.          Bahwa setiap lembaga pendidikan berhak menyempur-nakan kurikulumnya kiranya memang merupakan sesuatu yang cukup wajar; akan tetapi penyempurnaan kurikulum di IKIP kali ini banyak yang mengomentarinya sebagai tidak cukup wajar, atau setidak-tidaknya mengandung berbagai permasalahan yang perlu diklarifikasi. Hal ini berkaitan dengan kurikulum baru yang dibuat menjadi sangat fleksibel atau luwes; dan demikian fleksibelnya sehingga konon lulusan IKIP nanti bisa saja berprofesi di luar guru atau tenaga kependidikan  dikarenakan kurikulumnya memang su-dah dipersiapkan sedemikian itu.          Mengenai fleksibilitas itulah sesungguhnya yang mendatangkan hujan kritik.  Pada sementara kalangan IKIP sendiri proses penyempurnaan kurikulum tersebut ada yang menyebutnya sebagai proses fleksibilisasi kurikulum; hal ini berkaitan dengan kurikulum baru yang sangat (untuk tidak mengatakan terlalu) fleksibel. Apakah fleksibilisasi kurikulum ini tepat atau tidak,  inilah yang tengah didiskusikan oleh banyak orang sekarang ini.
MENGEMBALIKAN KEJAYAAN SEKOLAH KEJURUAN Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.455 KB)

Abstract

       Meskipun banyak masalah-masalah kependidikan yang sudah mendapatkan jalan keluar, akan tetapi problematika kependidikan di negara kita semakin lama tidak menjadi semakin  sederhana namun justru terasa semakin  kompleks saja.        Kompleksitas permasalahan kependidikan menyangkut berbagai jalur ektremitas,  diantaranya yang cukup dominan adalah jalur kuantitas, kualitas dan relevansitas.       Dari jalur kuantitas berkisar pada masih terbatasnya daya tampung lembaga pendidikan menengah keatas yang menyebabkan banyak warga negara belum sempat mendapatkan pelayanan pendidikan secara memadai. Dari jalur kualitas berkisar pada mutu lulusan lembaga pendidikan yang masih sering disangsikan orang, khususnya para pengguna tenaga kerja.  Sedangkan dari jalur relevansitas berkisar pada masih relatif banyaknya lulusan lembaga pendidikan yang dalam kiprahnya di masyarakat kurang atau bahkan tidak sesuai dengan bidangnya sama sekali.       Sekolah kejuruan (vocasional school) adalah merupakan suatu bagian permasalahan kependidikan di  negara kita yang sampai saat ini belum mendapatkan penyelesaian secara tuntas; baik dari segi kuantitas, kualitas maupun relevansitasnya.
MODAL UANG MILIK ORANG LAIN Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Anda mempunyai ide usaha yang bagus, tetapi tidak punya modal, maka Anda masih dapat memulai usaha dengan kerjasama modal atau modal milik orang lain. Anda mempunyai kawan yang dekat atau relasi yang dekat yang percaya kepada Anda, maka Anda dapat menghubungi mereka dan meyakinkan mereka untuk mendapatkan dukungan modal. Keuntungan dari usaha tersebut dapat dibagi dua atau sesuai dengan perjanjian. Semakin Anda libatkan mereka, semakin besar pula tingkat kepercayaan kepada Anda, yang berarti pula semakin besar modal yang ditanamkan pada usaha yang Anda rintis bersama mereka.Untuk melakukan strategi ini, Anda mulai dari orang paling dekat dan dan yang paling percaya kepada Anda. Setelah itu baru kepada orang yang lebih jauh atau yang relatif kurang percaya kepada Anda. Kejujuran merupakan hal paling utama dalam memulai usaha dengan kerjasama modal. Keterbukaan dan keadilan harus dijunjung tinggi agar mereka percaya kepada Anda. Kepercayaan yang mereka berikan kepada Anda, ibarat mereka menabung. Dari sedikit demi sedikit lama-lama tabungan akan menjadi besar. Demikian halnya kepercayaan, sedikit demi sedikit semakin percaya kepada Anda. Anda dapat memulai bisnis dari uang kepunyaan orang lain. Abed Halim Sinai atau yang nama kecilnya “Awing” menggunakan cara itu. Awing adalah aktivis Pemuda Muhammadiyah, drop out dari Perguruan Tinggi Agama Islam yang giat mencari dana untuk yatim piatu. Untuk mencari dana tersebut Awing berjualan keset, sandal dan kerajinan tangan.  Pengalaman berjualan itu mengasah kreatifitasnya sehingga mempunyai ide untuk mengubah cara orang Gresik membuat dan memasarkan songkok. Perbuatan mulia yang dilakukan Awing membuat Haji Anwar bersimpati. Ia mendapat modal dari pengusaha Gresik terkenal, Haji Anwar senilai Rp. 1 juata pada 1986. Berbekal Modal dari Haji Anwar tersebut, Awing mencoba membuat songkok yang dapat memperbaiki kelemahan dari songkok yang ada,yaitu bahan dasarnya dari kertas karton yang melingkari kepala, lalu dibalut dengan bahan beludru hitam dan dijahit hingga menjadi kopiah. “Tetapi justru itulah titik lemahnya” kata Awing. Awing mencoba membuat kopiah yang kualitas bahan bakunya lebih baik, motif jahitannya lebih rapi dan beludrunya lebih halus. Dengan cara tersebut Awing dapat menjual kopiahnya seharga Rp.40.000,- ketika itu. Kreatifitas Awing tercermin dari produk yang dihasilkan, mulai dari songkok “ber-AC”, songkok tahan air, songkok “Gus”, dan songkok berwarna merah, biru, kuning dan hijau. Songkok ber-AC, idenya berawal dari keluhan Bupati Gresik, ketika ketemu anggota DPRD membuka songkok, lalu mengibas-ngibaskan songkoknya karena merasa kepanasan. Songkok ber-AC buatan Awing ini, bagian ujung depan dan belakang atap kopiah ada ventilasinya dengan memasang kain kasa. Sedangkan songkok tahan air untuk mengatasi kalau hujan sewaktu pulang dari masjid. Songkok “Gus” dibidikkan untuk para kiai dan songkok berwarna merah, biru, kuning dan hijau diperuntukkan partai. Dalam memasarkan songkok, Awing menggunakan pembungkus karton bertuliskan “dijahit dengan mesin berkomputer”. Awing tidak melupakan Haji Anwar yang memodali pertama kalinya. Ia tetap kerjasama dengan Haji Anwar untuk membuka kantor pemasaran di Jakarta, Semarang dan Ujung Pandang. Strategi pemasaran yang handal, mengakibatkan ia dapat melijitkan asetnya ketika itu menjadi sekitar Rp. 6 milyar dan merangkul sekitar 400 perajin. Awing memulai bisnis dengan modal milik orang lain.

Page 50 of 160 | Total Record : 1592


Filter by Year

1982 2010


Filter By Issues
All Issue 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI-MARET 2010 2010: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2010 2010: HARIAN JAWA POS 2010: HARIAN MEDIA PIKIRAN RAKYAT 2010: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2009 2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2009 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SINAR HARAPAN 2009: HARIAN SUARA KARYA 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN KOMPAS 2009: HARIAN MEDIA INDONESIA 2009: HARIAN JAWA POS 2009: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2008 2008: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2008 2008: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2008 2008: HARIAN SUARA MERDEKA 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN KOMPAS 2008: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2008: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2008: HARIAN SINAR HARAPAN 2008: HARIAN JAWA POS 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2007 2007: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2007 2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007 2007: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2007: MAJALAH FASILITATOR 2007: MOZAIK OBITUARI 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN MEDIA INDONESIA 2007: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2006 2006: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2006 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2006 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2006: HARIAN JAWA POS 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA MERDEKA 2006: HARIAN KOMPAS 2006: HARIAN KOMPAS 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN MEDIA INDONESIA 2006: MAJALAH METODIKA 2006: MAJALAH FASILITATOR 2006: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2006: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI JULI - SEPTEMBER 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2005 2005: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2005 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN MEDIA INDONESIA 2005: HARIAN JAWA POS 2005: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2005: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI APRIL - JUNI 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2004 2004: HARIAN REPUBLIKA EDISI OKTOBER - DESEMBER 2004 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN KOMPAS 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN JAWA POS 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: HARIAN MEDIA INDONESIA 2004: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2004: MAJALAH FASILITATOR 2004: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI JULI-SEPTEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI OKTOBER-DESEMBER 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT EDISI APRIL-JUNI 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003 2003: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2003: HARIAN KOMPAS 2003: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: Tabloid Pelajar PELAJAR INDONESIA 2002: HARIAN KOMPAS 2002: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2002: HARIAN SUARA KARYA 2002: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2002: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA KARYA 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN KOMPAS 2001: HARIAN SUARA MERDEKA 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2001: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2001: MAJALAH PUSARA 2001: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA MERDEKA 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 2000: HARIAN MEDIA INDONESIA 2000: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KOMPAS 2000: MAJALAH PUSARA 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: MAJALAH TRANSFORMASI 2000: HARIAN SUARA KARYA 2000: HARIAN SUARA PEMBARUAN 2000: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN KOMPAS 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN SUARA MERDEKA 1999: MAJALAH PUSARA 1999: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN SUARA KARYA 1999: HARIAN REPUBLIKA 1999: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA KARYA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1998: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1998: HARIAN BALI POS 1998: MAJALAH PUSARA 1998: MAJALAH PUSARA 1998: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1998: HARIAN SUARA MERDEKA 1998: HARIAN SRIWIJAYA POS 1998: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN YOGYA POS 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SURYA POS 1997: MAJALAH PUSARA 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1997: HARIAN KOMPAS 1997: HARIAN BERITA NASIONAL 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SRIWIJAYA POS 1997: HARIAN SUARA KARYA 1997: HARIAN BALI POS 1997: HARIAN SUARA MERDEKA 1997: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1996: HARIAN BALI POS 1996: HARIAN BISNIS INDONESIA 1996: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1996: HARIAN YOGYA POS 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN KOMPAS 1996: HARIAN SUARA KARYA 1996: HARIAN BERITA NASIONAL 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1996: HARIAN SURYA POS 1996: HARIAN BALI POS 1996: MAJALAH PUSARA 1996: HARIAN SUARA MERDEKA 1996: MAJALAH SUARA MUHAMMADIYAH 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN JAWA POS 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1995: HARIAN SUARA KARYA 1995: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1995: HARIAN SURABAYA POS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN BERNAS 1995: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1995: HARIAN BALI POS 1995: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN SUARA MERDEKA 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN BALI POS 1994: HARIAN SURABAYA POS 1994: HARIAN PIKIRAN RAKYAT 1994: HARIAN BERNAS 1994: HARIAN SUARA KARYA 1994: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1994: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN SUARA KARYA 1993: HARIAN BALI POS 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1993: HARIAN SURABAYA POS 1993: HARIAN JAWA POS 1993: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1993: HARIAN BERNAS 1993: HARIAN KOMPAS 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN BERNAS 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN BALI POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SURABAYA POS 1992: HARIAN SUARA KARYA 1992: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1992: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1992: HARIAN SUARA MERDEKA 1992: HARIAN WAWASAN 1992: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN WAWASAN 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SUARA KARYA 1991: HARIAN SURABAYA POS 1991: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1991: HARIAN MEDIA INDONESIA 1991: HARIAN BALI POS 1991: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1991: HARIAN BERNAS 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN SUARA MERDEKA 1991: HARIAN YOGYA POS 1991: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SURYA POS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA KARYA 1990: MAJALAH PUSARA 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN YOGYA POS 1990: MAJALAH POPULASI 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1990: HARIAN SUARA MERDEKA 1990: HARIAN SUARA PEMBARUAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN BALI POS 1990: HARIAN WAWASAN 1990: HARIAN KOMPAS 1990: HARIAN MEDIA INDONESIA 1990: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN YOGYA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN SUARA MERDEKA 1989: HARIAN SUARA KARYA 1989: MAJALAH PENDOPO 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN JAWA POS 1989: MAJALAH PUSARA 1989: HARIAN JAWA POS 1989: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1989: HARIAN WAWASAN 1989: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN SUARA MERDEKA 1988: HARIAN WAWASAN 1988: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1988: HARIAN SUARA KARYA 1988: HARIAN SURYA POS 1988: HARIAN KOMPAS 1988: MAJALAH PENDOPO 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN WAWASAN 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN SUARA MERDEKA 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN PRIORITAS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KOMPAS 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SUARA KARYA 1987: HARIAN JAWA POS 1987: HARIAN SURYA POS 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1987: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: MAJALAH ARENA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN JAWA POS 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN PRIORITAS 1986: HARIAN SUARA KARYA 1986: HARIAN SUARA MERDEKA 1986: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MINGGUAN MINGGU PAGI 1985: HARIAN BERITA NASIONAL 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: MAJALAH PUSARA 1985: MAJALAH PUSARA 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1985: HARIAN SUARA MERDEKA 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1984: MINGGUAN MINGGU PAGI 1984: HARIAN MASA KINI 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1984: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: HARIAN MASA KINI 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1983: HARIAN BERITA NASIONAL 1983: MAJALAH PUSARA 1983: MAJALAH MAHASISWA 1983: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT 1982: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT More Issue